Tampilkan postingan dengan label sufistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sufistik. Tampilkan semua postingan

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik) "Kepintaran Spiritual, Tingkatan Tertinggi Kepintaran"

 


Oleh: ki alit Pranakarya 

Dulu, orang menganggap kepintaran intelektual (IQ) adalah segalanya. Dapat menjamin kehidupan manusia menjadi lebih maju, makmur, dan tenteram. Namun, kenyataannya, kepintaran ini tidak cukup untuk membuat seseorang sukses menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial.

Ybia Indonesia - IQ tinggi tidak dapat digunakan secara efektif tanpa adanya kepintaran emosional (EQ). Yaitu, kepintaran yang memberi kesadaran mengenai perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain.

Kepintaran ini memunculkan empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. EQ merupakan persyaratan dasar agar seseorang dapat menggunakan IQ secara efektif

Benarkah demikian? Final Kah hipotesis tersebut? Ternyata tidak.
IQ dan EQ saja masih kurang. IQ dan EQ-secara tunggal maupun ganda-ternyata tak cukup dapat menjelaskan kompleksitas kepintaran manusia, juga kekayaan jiwa serta imajinasinya.
Diluar dua kepintaran itu, ada kepintaran lain yang tidak ‘linier’ (IQ), atau ‘menyesuaikan diri dengan orang lain’ (EQ)", serta berdiri menentang arus. Ini adalah kepintaran yang mencari jalan untuk menemukan arti dan nilai-nilai dalam kehidupan.

Caranya dengan mencari dan menciptakan visi serta tujuan hidup, dengan melakukan perubahan-perubahan kreatif. Mereka menjuluki "Q" ketiga ini sebagai SQ (Spiritual Intelligence) atau kepintaran spiritual.
 
SQ = Kepintaran Jiwa
 
Kepintaran spiritual (SQ) sebagai "kepintaran yang bertumpu pada bagian dalam diri seseorang, yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar." Inilah kepintaran yang dapat digunakan anak bukan hanya untuk meresapi nilai-nilai yang ada, tapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Kepintaran spiritual adalah kemampuan anak dapat menempatkan tindakan dan hidup dalam konteks yang lebih luas, dan lebih dinamis. Kelak, kepintaran ini, dapat membuat anak Anda dapat menilai bahwa suatu tindakan atau jalan hidup tertentu lebih berarti dibanding yang lain.

Kepintaran spiritual adalah tingkatan tertinggi dari semua kepintaran. Kepintaran ini dapat digunakan untuk memvisikan berbagai kemungkinan yang belum terwujud dan mentransformasikan cara hidup yang metodis. Anak dengan kepintaran ini konon menjadikan kesadaran jiwa sebagai dasar keberadaan atau kekuatan kreatif. Pendeknya, kepintaran spiritual merupakan kepintaran jiwa.

Untuk mengembangkan kepintaran spiritual, kita terlebih dulu harus menggali sifat dasar spiritualitas. Yakni segala sesuatu yang ‘bukan fisik’, melainkan emosi dan karakter.

Spiritualitas juga mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya, mencari sesuatu di luar sana yang tidak diketahui (something out there that are unknown). Termasuk di sini adalah energi, semangat, keberanian dan tekad. Jadi, menumbuhkan kepintaran ini sama artinya mengembangkan kualitas di atas.

Spiritualitas ada dalam hati dan pikiran setiap manusia di manapun mereka berada. Baik hati dan pikiran. Karena ia adalah area kesadaran tertinggi, maka semua orang punya spiritualitas.

Namun, seperti halnya emosi, spiritualitas mempunyai derajat bervariasi, baik kedalaman maupun perwujudannya. Spiritualitas dapat hadir dalam berbagai dimensi; disadari atau tidak disadari, dikembangkan atau tidak dikembangkan, sehat atau sakit. canggih atau sederhana, bermanfaat atau justru berbahaya.

Seringkah orang mendefinisikan spiritualitas dalam konteks ketuhanan, individu / tokoh panutan, atau alam. Padahal pintar spiritual tidak selalu terkait dengan hal tersebut. Bisa saja orang yang tak beragama tapi memiliki kepintaran spiritual tinggi. Sedangkan yang lebih religius justru sebaliknya. Inilah yang kadang memberi tantangan tersendiri dalam mengembangkan kepintaran spiritual.

Jadi, bagaimana gambaran orang yang pintar secara spiritual? Anak yang santun, pandai menghargai orang lain, mampu berterimakasih, rendah hati, welas asih, cinta sesama, dan dapat mengontrol keadaan sesuai nilai-nilai yang dipercayainya menunjukkan tingginya spiritualitas seseorang. Inginkah buah hati Anda demikian?
  
IQ, EQ, dan SQ
 
Ada sebuah contoh sederhana mengenai kaitan IQ, EQ, dan SQ, dan alasan kenapa manusia perlu SQ. Komputer, misalnya, memiliki IQ tinggi karena mengetahui aturan dan melakukan sesuatu tanpa salah.

Sementara, banyak hewan yang punya EQ tinggi karena mereka mampu mengenali situasi yang ditempatinya dan tahu cara menanggapi situasi tersebut dengan tepat. Namun baik komputer maupun hewan tidak pernah bertanya ‘mengapa’ mereka dapat seperti itu. Komputer dan hewan hanya bekerja ‘di dalam batasan’ yang sudah dibuat.

Pada manusia :

Pintar Spiritual memungkinkan manusia ‘bermain dengan batasan’ untuk memainkan ‘permainan tanpa batas’.

Pintar Spiritual memberi manusia moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku diikuti pemahaman dan cinta. Kemampuan untuk melihat kapan cinta dan pemahaman itu tiba pada batasannya.

Pintar Spiritual, memiliki daya ubah ‘saya yang mengarahkan situasi.` Berbeda dengan pintar emosional yang berpandangan ; ‘situasi mengarahkan saya.`

Pintar Spiritual, dapat membuat orang mengajukan pertanyaan- pertanyaan; "Siapakah saya?", "Mengapa saya di sini?", "Apa yang paling berarti dalam hidup ini buat saya?"

Pintar Spiritual juga dapat bisa membantu seseorang menemukan hikmah tersembunyi dari cinta, kegembiraan, stres, dan pasang surut kehidupan sehari-hari.

Pintar spiritual menciptakan kesadaran terhadap Tuhan, kepada sesama, kepada alam, dan kehidupan. Kepintaran spiritual membuka hati, menyinari pikiran, dan menginspirasikan jiwa, menghubungkan psikologi manusia kepada yang mendasari kehidupan.

Kepintaran spiritual adalah kepintaran yang bertumpu pada bagian dalam diri seseorang, yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar.
Semoga tulisan ini bermanfaat,
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 
Pendiri & Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), "Memahami Makna Perjalanan Spiritual"

 



Ybia Indonesia - Telah lama makna Spiritual di salah artikan sebagai sesuatu yang Irasional, Kolot, Uka-uka, horor dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia Perdukunan.

Stigma yang muncul disebagian besar masyarakat tersebut diakibatkan dari kurangnya pencerahan tentang Spiritual terhadap masyarakat, banyaknya tayangan televisi yang melenceng kan makna spiritual, dan tingkat pendidikan pada masyarakat yang masih jauh dari pemerataan.

Ditambah lagi banyak Oknum yang mengaku pejalan Spiritual, atau yang mengaku seorang Spiritual terjebak  dalam pusaran DELUSI, HALUSINASI DAN ILUSI, Seperti:
- Mengaku dan mengklaim serta memproklamirkan dirinya Satria Piningit, Ratu Adil, King of king, mengaku titisan raja Nusantara, titisan Ratu Kidul, titisan Soekarno dll.

- Berburu harta Karun, Harta gudang Goib, mengklaim dirinya pemegang aset Dana Amanah Nusantara / Dana Amanah Nusantara (Coletral).

- Berburu barang Uka-uka, Samurai Jepang yang harganya triliunan rupiah, berburu tokek, berburu Bambu Petuk, MD, RB, BK, dll.
- Mengaku mampu menarik uang Goib atau harta Karun dll.

Semua nya ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Spiritual, bukan bagian dari Spiritual yang sebenarnya.
Hati-hati itu bentuk pembodohan, modus penipuan, Virus Delusi, ilusi dan Halusinasi.
Spiritual palsu, KW 5!

Berbalik 180 derajat dengan makna sebenarnya dari Spiritual.  Bahwa spiritual adalah: Mencerdaskan, Mencerahkan dan mendewasakan.
Spiritualitas merupakan energi puncak yang menggerakkan diri seseorang dalam melangkah. Ia adalah sumber motivasi tertinggi yang membuat seseorang lebih Arif-bijak dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Spiritual adalah inti dari kehidupan manusia. Spirit, Ruh atau Ruhani

Pendakian/Perjalanan Spiritual adalah: Perjalanan Ruhani atau perjalananan kedalam diri,  dengan melakukan pembersihan hati serta untuk mencari ketenangan batin, sehingga mampu mengenal dirinya dan mengenal akan Tuhannya.

Apa sejatinya arti dari perjalanan spiritual? Sederhananya adalah tentang kembalinya sang diri kepada karakter sebagai spirit yang serba murni, jernih, tanpa batas. Dalam sudut pandang lain, perjalanan spiritual adalah tentang upaya merealisasikan kesadaran spiritual : dimana kita bisa memandang realitas dengan pengertian dan kebijaksanaan yang mengalir dari esensi diri, spirit, atau jiwa sejati kita.   

Buah dari tuntasnya perjalanan spiritual adalah hidup yang serba selaras, memiliki pandangan jauh ke depan (Visioner), terealisasinya Rancangan Agung sebagai manusia, dan dengan nyata sang diri bisa merasakan kesukacitaan dan kedamaian sejati.  

Ini adalah tentang merealisasikan kehidupan surgawi: hidup yang indah karena disadari setiap detiknya merupakan manifestasi dari kasih yang paling murni.

Langkah pertama dari proses menuju ketuntasan perjalanan spiritual adalah menyadari keberadaaan diri sejati, spirit, Sukma/jiwa Sejati atau roh rudus sebagai realitas Tuhan di dalam diri. 
Laku spiritual adalah upaya penyatuan sepenuhnya dengan Sang Diri Sejati ini.
Penyatuan paripurna hanya terjadi saat diri benar-benar jernih energinya, nalar dan tubuh pengetahuannya, emosinya dan tubuh karmanya.   
Saat kita membiarkan ketidakmurnian diri dalam bentuk apapun, maka sebenarnya kita telah berbelok dari jalan spiritual.

Pada titik inilah perlunya evaluasi yang akurat, untuk membuat kita mengerti sejauh mana kemurnian jiwa kita, sejauh mana pula tingkat kemenyatuan kita dengan Sang Diri Sejati. 
Perlu ditegaskan, bahwa hanya menjadi tahu tentang terminologi spiritual dan bisa mengungkapkan kata-kata yang terkesan bijaksana, bukanlah indikator kemajuan dalam perjalanan spiritual.

Ada banyak cara untuk mengevaluasi diri dalam hal kemajuan spiritual. Kita tinggal memilih cara yang cocok. 
Seorang guru atau pembimbing spiritual yang telah matang pada umumnya punya cara untuk membantu seorang pembelajar mengetahui capaian dirinya, dan membuat mereka tahu ada di jalur yang tepat atau sedang keliru jalan.

Kemenyatuan paripurna dengan Diri Sejati adalah fondasi untuk fase perjalanan spiritual berikutnya yaitu penyatuan paripurna dengan Allah SWT,  Tuhan yang Maha Tunggal.
Inilah kondisi Suwung: realitas Sang Sumber pada tingkatan yang semakin tinggi. 

Perjalanan spiritual yang sesungguhnya, adalah meniti setiap detik kehidupan dan terus menerus menumbuhkan kesadaran sehingga kita mengerti akan kasunyatan, kenyataan, tentang diri kita sendiri maupun hidup yang melingkupi kita. 
Ia adalah proses panjang untuk keluar dari perangkap ilusi yang salah satu bentuknya adalah  konsep dan keyakinan yang memenuhi pikiran kita.

Perjalanan spiritual membawa pelakunya untuk semakin mengerti tentang misteri  Alam semesta beserta kehidupan didalamnya. Semakin mengerti serta merasakan keberadaan Tuhan.

Apa yang didapatkan manusia saat menyelami kasunyatan diri dan kasunyatan yang melingkupinya me-
lalui Dzikir,  berkhalwat,  Uzlah,  tirakat atau melalui berbagai teknik meditasi akan menggenapi apa yang bisa diungkap para ilmuwan di berbagai bidang. 
Sementara
sains membawa manusia untuk mengurai kasunyatan pada
tataran fisik yang bisa dijangkau pancaindra dan instrumen-
instrumen untuk meluaskan jangkauan pancaindra.
Spiritualitas membawa pada penyaksian berbagai kasunyatan
metafisik.
Hal yang belum bisa dinyatakan ada oleh pendekatan
sains justru bisa dinyatakan ada lewat pendekatan spiritualitas.
Spiritualitas menekankan pendayagunaan rasa dalam diri manusia yang belum dikenal di dunia sains.

Inilah yang dalam perbendaharaan spiritualitas la dikenal sebagai rasa sejati. Inilah perangkat nonfisik yang ada di relung jiwa manusia, di ujung pangkal aliran napas manusia yang berfungsi untuk mengetahui keberadan dan
kasunyatan melalui sistem deteksi getar.

Pejalan spiritual yang mendayagunakan rasa sejatinya dapat memasuki kesadaran spirit atau kesadaran roh.
Kesadarannya tidak lagi dibatasi hasil kerja otak yang mengolah
masukan data dari panca indra atau instrumen-instrumen perluasan jangkauan pancaindra, seperti mikroskop atau teleskop.
Juga melampaui kesadaran hasil kerja otak yang mengungkapkan berbagai model kasunyatan melalui perhitungan matematis.

Dengan kesadaran spirit atau kesadaran roh yang berbasis pada rasa sejati, manusia bisa menyelami kasunyatan
jagat raya dalam dimensi yang paling halus. Tergantung pada tingkat kematangan jiwa dan talentanya, kasunyatan jagat raya tersaji bagi para pejalan spiritual dalam beragam
dimensi. Maka terungkaplah pernyataan mengenai nyawa, jiwa, dan roh sebagai fenomena mikrokosmos (jagat cilik
selaku buah perjalanan spiritual.

Terungkap pula kasunyatan
pada makrokosmos (jagat ageng), berada di alam atas (bawana luhur).
Tentu saja, terungkap juga kasunyatan mengenal Tuhan sebagai sumber dari segala keberadaan Kasunyatan.

Kasunyatan di atas belum bisa sepenuhnya dinyatakan "benar" melalui pendekatan sains. Meskipun demikian, saat ini semakin dimungkinkan terjadinya persinggungan atau keselarasan antara sains dan spiritualitas.
#kap sejak belia percaya tidak ada perbedaan antara sains dan spiritualitas.
Jadi, #kaP percaya bahwa saat belajar astronomi, biologi ekologi, fisika, dan kimia, #kaP pikir itu hanyalah nama yang
kita berikan untuk mata pelajaran. Tapi pada akhirnya, kita memahami mekanisme akan kekuatan yang lebih tinggi.

Manusia satu-satunya makhluk eksistensialis, yang posisinya fluktuatif, bisa turun-naik martabat dan maqam-nya di sisi Tuhan. Karena itu manusia sesung­guhnya selalu melakukan perjalanan spiritual.

Dalam Al-Qur’an disebutkan: Dan sesungguhnya Kami jadi­kan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan­nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
Mere­ka itu sebagai binatang ternak, bahkan mere­ka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.al-A’raf/7:179).

Dalam ayat lain dikatakan: "sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan." (Q.S. al-Najm/53:3-12).

Kedua ayat di atas terdapat isyarat betapa pentingnya manusia melakukan perjalanan spiritual (spiritual journey) guna meningkatkan martabatnya.

Perlunya anak manusia menem­puh perjalanan suci juga telah diisyaratkan da­lam ayat: Maka apakah mereka tidak mengem­bara di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mer­eka dapat mendengar? Karena sesungguh­nya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S.al- Haj/22:46).

Lebih tegas lagi disebutkan dalam ayat: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu mengem­baralah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendus­takan (rasul-rasul). (Q.S. Ali ‘Imran/3:137).

Begitu pentingnya memikirkan perjalan­an spiritual ini maka Allah Swt mengingatkan kita dalam suatu kalimat bertanya: Maka ke manakah kalian akan pergi? Itu tiada lain han­yalah peringatan bagi semesta alam. (Q.S. al- Takwir/81:26-27).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup ini sebuah pengembaraan, yaitu perjalanan untuk kembali ke pangkuannya (Inna lillah wa inna ilaihi raji’un). Di dalam me­nempuh pengembaraan hidup ini, di dalam se­tiap pengabdian dalam shalat kita selalu mem­baca ayat dalam surah al-Fatihah, yang wajib dibaca pada setiap rakaat: Ihdinas shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta ‘alaihim, gair al-magdhub 'alaihim waladh dhalin (Tun­jukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat/Q.S. al-Fatihah/1:6-7).

Kalangan ulama ('arifin) membagi jenjang perjalanan spiritual itu kepada beberapa ta­hap atau tingkatan.
Ibnu ‘Arabi dalam Fush­ush al-Hikam-nya menyebutkan ada tiga tahap pengembaraan spiritual:
- Al-sair al-tsalatsah, yaitu pengembaraan menuju Allah.
- Al-sair ila Allah, yaitu pengembaraan di dalam Allah.
- Dan Al-sair fi Allah, yaitu pengembaraan dengan Allah ke­pada Allah untuk mencapai kesempurnaan (al-sair bi Allah ila Allah li al-takmil).

Semoga bermanfaat,
Wassalamualaikum. Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 
Penggagas/ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturrahmi Spiritual Nusantara).
Pembimbing Spiritual (Spiritual Advisor).
Guru Besar seni pernapasan (Bioenergi), Kumbang Ciremai.
Mentor tentang kepemimpinan (Leadership), dan Motivator RIESQ.
Peneliti Sejarang Peteng serta penggagas Rekontruksi Sejarah Nusantara dan Dunia.
Aktivis Sosial, Pecinta Alam dan pemerhati lingkungan.
Konsultan Management, Konsultan Administrasi Perusahaan, Konsultan Pertambangan, Konsultan Politik dan Ilmu Pemerintahan.

Foto: Andy Djava 

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), "Indera Ke-7"

 



Oleh: ki alit Pranakarya 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali sayidina Muhammad

"Jika Indera Keenam itu kemampuan ketajaman intusi, maka Indera ketujuh telah melampaui di atas itu (kasyaf)"

Ybia Indonesia - Manusia memiliki lima panca indra: sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecap.

Organ penginderaan saling berinteraksi untuk mengirimkan pesan ke otak, hingga dapat membantu manusia mengerti dan memahami lingkungan sekitar.

Selain lima indra tersebut, manusia juga memiliki indra lainnya, yaitu indera ke enam dan ketujuh.

Setiap manusia dalam menunjang sukses hidupnya dilengkapi dengan akal, hati dan lima indera.

Pengunaan indera lihat, dengar, rasa, bicara dan gerak adalah kemampuan dasar yg memungkin orang dapat bergerak dan berbuat.

Kelima indera dasar itu telah menjadikan manusia dapat melahirkan budaya, (cipta, rasa dan karsa) yang menjadi warisan bagi kehidupan sebagaimana dicatat sejarah kehidupan dan perjalanan hidup manusia.

Manusia individu terus berganti, sesuai hukum kehidupan, namun budaya tetap berjalan dan bersambung.

Budaya manusia itu kolektivitas dari semua hasil indrawi yang ditorehkan manusia, sejak zaman pra sejarah sampai kontemporer.

Dalam perkembangan  wacana filsafat manusia sudah lama disebut bahwa manusia tertentu bukan hanya memiliki 5 indera, akan tetapi punya indera ke enam.

Indera keenam itu diartikan sebagai bentuk dari capaian kecerdasan yang melebihi empiris (pengalaman) dan rasionalis (kecerdasan kausality). 

Indera ke-6 itu diasosiasikan dgn kelebihan yang betsifat inner (kemampuan batini)  dalam menyelesaikan problema.

Indera keenam sering dilekatkan pada orang yg dalam memberikan pandangan dan atau mengambil keputusan yg rumit dengan cepat, akurat dan tidak menyisakan masalah lainnya.

Artinya kemampuan indera keenam adalah melebihi kapasitas empiris, dan rasio, ia bisa menerjemahkan suara hati dalam keputusan yang tepat.

Pengusaha sukses yang awalnya miskin, pejabat rendah lalu melejit, akademisi dengan karya best seller lalu menjadi referen luas, pemimpin yg mendapat dukungan luas dan berhasil membawa perubahan signifikan adalah contoh mereka yg dikatakan memiliki piranti tambahan ( value added) berupa indra keenam.


Indera Ke-7 Core Value Insan (Mukasyafah)

Melebihi dari indera keenam kini sudah pula dilansir core value (inti nilai) yang melekat pada diri orang-orang pilihan apa yg dinamakan dengan indera ketujuh.

Indera ketujuh adalah bentuk pencapaian yang  hanya bisa didapatkan oleh mereka  yang dapat memaksimalkan potensi insaninya.

Indera ketujuh dalam sistim ruhani Islam dinamakan mata batin. Indikasi indera Ke-7 itu dapat dinamakan kasyaf. Keterbukaan mata hati dalam menilai dan menentukan sikap adalah tanda nyata orang yang efektifnya indra ketujuh seseorang.

Perlu dipahami bahwa ketersedian sumberdaya insani yang kuat dan memiliki indera ke-6 dan Ke-7 adalah modal bagi pengembangan budaya maju dan bermartabat.

Beberapa pendapat mengatakan juga, bahwa Indra ke-7 adalah kemampuan membaca gerakan masa depan, lima sampai sepuluh tahun yang akan datang.
Dengan mengetahui gelagat masa depan, seorang seseorang akan lebih sigap mengambil sejumlah langkah berani, tegas, teguh.

Indra ke-7 ini bisa meraba adanya peluang yang patut dikembangkan. Dan bisa meraba adanya bahaya yang tidak kasat mata yang perlu dihindari.

Kita semua sepakat bahwa seorang yang kasyf adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui hal-hal gaib baik tentang dirinya maupun diluar dirinya, yang telah terjadi atau yang akan terjadi

kasyf adalah penyingkapan atau pengetahuan langsung dari Allah setelah seorang pejalan Spiritual (sufi) berhasil melampaui tahap dzauq.

Dzauq, yaitu rasa yang diterima oleh hati atau bathin. Seperti rasa tenteram karena merasa nikmat (ladzat) dalam berdzikir, shalat, dan lain sebagainya. 
Dzauk merupakan cita rasa yang merupakan sebuah pengalaman spiritual langsung. Dzauq merupakan tahapan atau lebih tepatnya, haal (kondisi spiritual) pertama dalam pengalaman pengungkapan diri Allah (tajalli).
Rasa ini diperoleh dari perjalanan rohani dalam berbagai maqamat, serta berbagai perilaku dzikir dari seorang sufi (pendaki atau pejalan Spiritual).

Dari dzauq, perjalanan Spiritual seorang sufi terus diarahkan pada kemenyatuan (larut dalam Keesaan).

Kasyf merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan tentang Hakikat diungkapkan pada hati seorang sufi (Pejalan Spiritual) dan kekasih yang mencintai Allah.

Dengan sifat rahmat-Nya, Allah memberikan kepadanya sebuah Pengungkapan diri Allah. Tidak hanya menambah pengetahuannya tentang Allah, melainkan juga menambah kerinduannya yang menggelora dalam lautan cintanya kepada Allah.

Disinilah seorang sufi (Pejalan Spiritual) sampai pada sebutan Ahl al-kasyf wa al-wujud (Kaum Penyingkap dan Penemu). Dalam penyingkapan itulah mereka menemukan dan bertemu Allah. 

Kasyaf adalah salah satu karamah atau kelebihan yang diberikan Tuhan kepada hamba-hambaNya yang dikasihiNya.
Apa yang ingin disebut di sini adalah kasyaf yang dianugerahkan Tuhan kepada kekasihNya atau waliNya.

Kasyaf merupakan cahaya yang menghantarkan para salik (Pejalan Spiritual) untuk sampai kepada Allah.
Dia buka penghalang/hijab pandangan bagi mereka, dan menghilangkan sebab-sebab yang tersurat dari diri mereka, sebagai hasil dari Mujahadah, Khalwat dan Zikir yang mereka lakukan.

(Al-Ghazali berkata, “sesungguhnya kesucian hati dan penglihatannya dapat dicapai dengan zikir. Dan ini tidak akan boleh dilakukan kecuali orang-orang yang bertaqwa. Taqwa adalah pintu zikir, zikir adalah pintu Kasyaf dan Kasyaf adalah pintu kemenangan terbesar yaitu bertemu dengan Allah”

Walaupun tidak dinafikan, ada kasyaf yang didapati oleh orang awam, kasyaf seperti itu bisa saja menipu dan merusakkan diri mereka.
Kasyaf itu jika tidak dipimpin dan dijaga, niscaya menjadi istidraj kepada mereka.

Bagi wali Allah, hal-hal kasyaf sebenarnya telah dijanjikan Tuhan sebagaimana dalam sebuah hadis qudsi,

Allah berfirman yang maksudnya: Orang yang mendekatkan diri kepadaKu, mengerjakan yang fardhu dan yang sunat, sehingga Aku cinta kepada mereka lalu Aku menjadi pendengaran mereka dan Aku menjadi penglihatan mereka.

Kasyaf yang dianugerahi dan dikaruniai para wali Allah ini ada banyak bagiannya, seperti berikut:

1) Kasyaf Mata:
Mata dapat melihat alam mawara-ul-maddah atau disebut sebagai alam yang indah atau boleh disebutkan sebagai alam di luar kebendaan.
Di sini, mata dapat melihat perkara-perkara ghaib seperti malaikat, jin dan syaitan.

2) Kasyaf Telinga:
Kasyaf telinga disebut juga hatif.
Telinga mampu mendengar benda-benda yang ghaib. Mendengar suara tetapi tidak nampak wujudnya, seperti ada suara dari jin yang soleh, malaikat atau waliullah.

Suara itu adakalanya membawa berita gembira, ada kalanya berita yang negatif.

Tujuannya ialah, Allah hendak memberikan Isyaroh kepada orang yang mendapatnya.
Kalau berita itu berita gembira, akan mengabarkanya. Sebaliknya, kalau berita itu berita duka, juga akan mengabarkannya.
Oleh karena itu, orang-oran yang memiliki kemampuan ini akan tahu terlebih dahulu, sekurang-kurangnya dia boleh bersiap menghadapi ujian itu.
Atau dia boleh mengelak/menghindari dari pada bahaya itu.

3) Kasyaf Mulut:
Tuhan beri kepada orang itu, lidahnya "tajam’ seperti doanya dikabul atau apa yang dia sebut terjadi, apa yang diucapkan menjadi kenyataan.

Juga, di mana saja dia memberi kuliah, nasihat, mengajar, berdakwah dan sebagainya, ia mudah diterima masyarakat dan cepat mengubah hati mereka. Akhirnya berubah lah sikap masyarakat.

Karomah seperti ini biasanya dikaruniakan kepada pemimpin dan para ulama, serta  Penasehat Spiritual (Spiritual Advisor).

4) Kasyaf Akal:
Mendapat ilmu yang bermacam-macam yang Allah karuniakan pada seseorang terus jatuh ke hatinya.
Ini terjadi tanpa dia belajar, tanpa membaca, tanpa mentelaah dan tanpa berguru. Dinamakan juga ilham atau ilmu laduni (Multi Talenta).

Agar tidak terkeliru, perlu diingat orang yang hendak dapat ilmu laduni itu, dia mestilah memaham ilmu Syariat dulu.

5) Kasyaf Hati:
Dinamakan juga firasat. Inilah kasyaf yang tertinggi daripada kasyaf-kasyaf yang disebutkan tadi.

Biasanya dikaruniakan kepada pemimpin. Itupun tidak banyak kerana Allah dikaruniakan hanya kepada pemimpin-pemimpin yang sangat soleh, yang sangat sabar menanggung ujian yang begitu berat ditimpakan kepada mereka.

Kasyaf hati ialah: rasa hati atau gerakan hati yang tepat lagi benar.
Dia mampu memahami mazmumah dan pengetahuan yang bermacam-macam yang kadang-kadang kita tidak mengerti.
Memiliki Kecerdasan di atas yang genius.

Termasuk juga memiliki kemampuan dapat membaca diri seseorang.

Nabi pernah bersabda, “Hendaklah kamu takuti firasat orang mukmin karena dia melihat dengan pandangan Allah”. Apa yang dimaksudkan dengan firasat itu ialah kasyaf hati.

Orang yang mendapatnya dapat memimpin dirinya dan dapat memimpin orang lain.

Kesimpulannya adalah orang-orang memiliki kemampuan Indera Ketujuh adalah orang-orang yang Kasyaf (telah terbuka hujan atau tabir,  terbuka sesuatu yang ghaib melalui mata hati).

Kemampuan Indera ketujuh dimiliki oleh orang-orang yang Waskita, yang mampu membaca masa depan atau memiliki pandangan jauh ke depan (Visioner).

Kemampuan Indera ke-tujuh adalah orang-orang memiliki kecerdasan diatas rata-rata orang yang Genius. Sehingga orang yang memiliki kemampuan Indera ketujuh adalah orang-orang yang memiliki Daya Cipta, inovasi dan gagasan yang brilian.

Semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 
Insiator/ketua umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), "Thariqah sebagai Solusi di Era Globalisasi"

 



Oleh: ki alit Pranakarya 

Ybia Indonesia - Dari segi bahasa thariqah berasal dari bahasa arab thariqah  yang artinya jalan, keadaan, aliran dalam garis sesuatu.
Secara harfiah thariqah berarti jalan yang terang, lurus yang memungkinkan sampai pada tujuan dengan selamat.

Di kalangan Muhaddisin thariqah digambarkan dalam dua arti:
Pertama menggambarkan sesuatu yang tidak dibatasi terlebih dahulu (lancar), dan kedua didasarkan pada sistem yang jelas dibatasi sebelumnya.

Selain itu thariqah juga diartikan sekumpulan cara –cara yang bersifat renungan, dan usaha inderawi yang mengantarkan pada hakikat, atau sesuatu data yang benar.

Jika dikaji asalnya, tasawuf berasal dari kata sufi yang berarti suci. Maksudnya, seorang sufi adalah orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama, dengan satu tujuan yaitu berjumpa dengan Allah (berada sedekat mungkin dengan Allah). 

Tasawuf juga berasal dari kata ahl al-suffah, diambil dari istilah sebuah pelana yang dijadikan Rasulullah SAW sebagai bantal ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah.

Pendapat lain mengatakan bahwa  tasawuf berasal dari kata shaf. Makna shaf ini dinisbahkan kepada orang yang ketika shalat selalu berada di barisan paling depan, sehingga ia mendapat kemuliaan. 

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shaufanah, yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu banyak yang tumbuh di padang pasir di tanah Arab, dan pakaian orang sufi berbulu-bulu seperti ini sebagai lambang kesederhanaannya. Pendapat mengatakan bahwa asal kata tasawuf adalah suf berarti bahwa kain yang dibuat dari bulu wol. Kaum sufi menggunakan wol kasar untuk pakaiannya sebagai lambang kesederhanaan. 
 
Konkretnya, tasawuf berarti moralitas-moralitas yang berazaskan Islam. Artinya, bahwa pada prinsipnya tasawuf bermakna moral dan semangat Islam.

Apa yang menjadi Karakteristik tasawuf? Pada dasarnya tasawuf dan semua alirannya memiliki obsesi kedamaian dan kebahagiaan spiritual yang abadi, kemudian tasawuf merupakan pengetahuan langsung melalui tanggapan intuisi dengan menyingkirkan tabir penghalang, sehingga ia akan merasakan realitas (Tuhan) serta dalam tasawuf juga ada statement bahwa adanya peleburan diri dengan kehendak tuhan melalui fana, yaitu peleburan diri dengan tuhan dalam realitas tunggal.

Bagaimana dengan tarekat? Tarekat juga banyak berkembang dikalangan umat islam. Tidak sedikit lembaga-lembaga kajian yang beraliran tarekat. 

Apa itu tarekat? Tarekat  berasal dari bahasa Arab “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, atau aliran. 

Tarekat merupakan suatu organisasi sufi yang dipimpin oleh seorang Syaikh atau Mursyid yang memiliki zikir, tata cara dan upacara ritual tersendiri yang disepakati bersama. 

Biasanya para pengikut, terikat pada aturan dan keharusan untuk setia dengan melakukan bai’at. Tarekat mulai berdiri pada abad 3 dan 4 hijriah.

Apa Hubungan Tasawuf dengan Tarekat? Ketika kita membahas tentang tasawuf, akan ditemukan suatu pembahasan mengenai tarekat, hal ini merupakan jalan yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Apakah persamaan tasawuf dan tarekat? Jawabannya adalah:

Yang pertama; keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan melakukan ibadah ditambah dengan tata cara zikir, dan bacaan wirid tertentu. 

Yang kedua; materi yang diajarkan seorang Syaikh kepada pengikutnya hampir sama dengan materi yang diajarkan oleh seorang sufi, bedanya dalam tarekat untuk sampai pada pengalaman rohani, seseorang dibimbing oleh seorang Syaikh (pemimpin). Sedangkan dalam tasawuf, untuk sampai pada pengalaman rohani, hanya mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan orang lain. 

Yang ketiga; Tarekat merupakan bagian dari tasawuf. Jika kita membahas masalah tasawuf, akan kita temui bagian khusus yang mengulas seputar tarekat beserta rentetannya. 

Yang keempat; Tasawuf dicapai secara perorangan, dengan pemaknaan diri serta kesadaran sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sedangkan tarekat dilakukan dengan usaha bersama di bawah bimbingan Syaikh untuk mencapai tujuan.  

Secara terminology, berdasarkan dari berbagai sumber klasik maupun kontemporer, thariqah juga dapat dimaknai sebagai ”suatu sistem hidup bersama dan kebersamaan dalam keberagaman sebagai upaya spiritualisasi pemahaman dan pengalaman ajaran Islam menuju tercapainya ma’rifatullah.

Pandangan ki alit Pranakarya thariqah ialah jalan yang harus ditempuh seorang sufi dalam tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan. 
Pendapat lain mengatakan thariqah adalah perjalanan hidup yang harus ditempuh di antara mahkluk dan khaliq.

Dalam ilmu tashawuf juga dikatakan bahwa syari’at itu merupakan peraturan, thariqah itu merupakan pelaksanaan sedangkan haqiqoh merupakan keadaan dan ma’rifat merupakan tujuan yang terakhir.

Dengan memperhatikan berbagai pendapat di atas, kiranya dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan thariqah adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seorang sufi yang didalam nya berisi amalan ibadah dan lainnya yang bertemakan menyebut nama Allah dan sifat-sifatnya disertai penghayatan yang mendalam.

Amalan dalam thariqah ini ditujukan untuk memperoleh hubungan sedekat mungkin (secara rohaniah) dengan Tuhan.

Ada juga yang memberikan definisi bahwa Thariqah adalah suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik (orang yang meniti kehidupan sufistik) , dalam rangka membersihkan jiwanya sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Metode ini semula dipergunakan oleh seorang sufi besar dan kemudian diikuti oleh murid – muridnya sebagaimana madzhab – madzhab dalam bidang fiqih dan firqah – firqah dalam bidang kalam pada perkembangan berikutnya membentuk suatu jam’iyah organisasi yang disebut thariqah.

Bangunan agama Islam dibagi menjadi tiga konsep yang berdiri saling menopang secara utuh, al imân, al islâm, dan al ihsân.
Dimensi Ihsan, menjadi penyempurna. Tanpanya, dua dimensi yang lain akan cukup namun takkan pernah paripurna.

Tasawuf & Thariqoh menegaskan diri untuk mengasah penyempurnaan tersebut. 
jika Ihsan tersebut ialah buah pencapaian (maqam), maka tasawuf & Thariqoh adalah jalan sekaligus guide ke sana. 
Sehingga selain memetakan posisi dan tujuan beragama, oleh tangan para sufi, tasawuf juga merumuskan teori-teori praktikum yang diperlukan.

Ada sebuah teori bahwa pencapaian seorang muslim setidaknya bisa dipetakan menjadi tiga perjalanan penting, yaitu syariat, hakikat, dan makrifat.

Dalam tasawuf dikenal pula istilah Thariqah (tarekat), yang merujuk pada identifikasi perguruan spiritual.

Perkembangan tarekat tasawuf di banyak kawasan dan negara, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan spiritual pemeluk agama. 
Di Indonesia sendiri, tarekat amatlah banyak. Dan peran para ulama sufi dari tarekat tersebut amatlah besar dan sanggup mewarnai corak keberagamaan umat.

Zaman modern ditandai dengan kemakmuran material, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serba mekanik dan otomatis. Banyak fasilitas hidup ditemukan mulai dari sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, alat transportasi, alat komunikasi, sarana hiburan dan sebagainya. 

Yang pada kenyataannya, segala kemudahan, kesenangan dan kenyamanan lahiriah yang diberikan oleh materi, ilmu dan teknologi pada taraf tertentu menimbulkan kebosanan, tidak membawa kebahagiaan umat manusia, bahkan banyak membawa bencana. Hal itu disebabkan ada "Sesuatu yang tercecer" dalam pandangan orang modern. 

Abad modern sebagai abad teknokalisme sangat mengabaikan harkat kemanusiaan yang paling mendalam, yaitu bidang kerohanian.

Manusia modern telah dilanda kehampaan spiritual. Kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat rasionalisme tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai transendental, suatu kebutuhan vital yang hanya bisa digali dan berasal dari yang benar-benar mutlak dan berisi amanat yang harus dilaksanakan, sedangkan dunia beserta isinya dan apa yang dihasilkan oleh manusia bersifat nisbi.
Penyakit lain dari dunia modern adalah paham sekularisme, suatu paham yang menjauhkan benda dari makna spiritualnya.

Di sini tasawuf -tarekat dengan ajaran rohani dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. tasawuf-tarekat ibarat nafas yang memberikan hidup, yang memberi semangat pada seluruh struktur Islam baik dalam perwujudan sosial maupun intelektual. Tarekat sebagai organisasi yang tersusun baik dalam masyarakat Islam, yang mempunyai pengaruh kuat dan mendalam atas seluruh struktur kemasyarakatan.

Sebagai akibat dari sikap hipokrit yang berkepanjangan maka manusia modern mengidap kekeringan jiwa antara lain berupa: (a) Kecemasan, 
(b) Kesepian, 
(c) Kebosanan, 
(d) Perilaku menyimpang, dan
(e) Psikosomatis.

Sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, manusia menyadari adanya problem yang mengganggu jiwanya. Oleh karena itu, sejarah manusia juga mencatat adanya upaya mengatasi problem tersebut. 
Pada masyarakat Barat Modern atau masyarakat yang mengikuti peradaban Barat yang sekuler, solusi yang ditawarkan untuk mengatasi problem kejiwaan itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi, dalam hal ini kesehatan mental (Mental Health). 

Sedangkan pada masyarakat Islam, karena mereka (kaum muslimin) pada awal sejarahnya tidak mengalami problem psikologis seperti yang dialami oleh masyarakat Barat, maka solusi yang ditawarkan lebih cenderung bersifat religious spiritual, yakni tasawuf atau akhlak. Keduanya menawarkan solusi bahwa manusia itu akan memperoleh kebahagiaan pada zaman apapun jika hidupnya bermakna. 
Pertanyaan yang timbul ialah bagaimana hidup bermakna pada zaman modern itu.

Di sinilah kehadiran tasawuf & Thariqah benar-benar merupakan solusi yang tepat bagi manusia modern, karena tasawuf Islam memiliki semua unsur yang dibutuhkan oleh manusia, semua yang diperlukan bagi realisasi kerohanian yang luhur, bersistem dan tetap berada dalam koridor syariah.

Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. 
Ia bisa dipahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. 
Ia bisa diamalkan oleh setiap Muslim, dari lapisan social maupun tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yaitu Ka’bah dan secara rohaniah mereka berlomba-lomba menempuh jalan tarekat melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang satu, Allah SWT.

Sejauh ini, kita memahami bahwa tasawuf hanya sebagai sarana pendekatan diri manusia kepada Allah SWT melalui segala jenis ritme ibadah seperti taubat, zikir, iklhas, zuhud, dan lain-lain. 
Tasawuf dicari orang lebih untuk sekedar mencari ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia, ditengah orkestrasi kehidupan duniawi yang tak memiliki arah dan tujuan pasti. 
Tasawuf menjadi sangat penting, karena menjadi fondasi dasar dalam upaya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tasawuf diibaratkan bagaikan “magnet”. Dia tidak menampakkan diri ke permukaan, tapi mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk apa saja. 

Dalam kehidupan modern yang serba materi, tasawuf bisa dikembangkan ke arah yang konstruktif, baik yang menyangkut kehidupan pribadi maupun sosial. 
Ketika suatu masyarakat sudah terkena apa yang disebut penyakit alinasi (keterasingan) karena proses pembangunan dan modernisasi, maka pada saat itulah mereka butuh pedoman hidup yang bersifat spiritual yang mendalam untuk menjaga integritas kepribadiannya.

Terdapat sejumlah alasan tentang sebab-sebab meningkatnya masyarakat modern terhadap tasawuf, sebagai berikut:

Pertama, salah satu ciri kehidupan masyarakat modern ialah terlalu mengandalkan kekuatan akal dan fisik, atau hanya mengakui sesuatu yang masuk akal dan tampak dalam pandangan, yang selanjutnya melahirkan paham rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, hedonisme, dan pragmatisme. 
Paham yang demikian sangat merugikan keutuhan manusia sebagai makhluk yang selain memiliki pancaakal dan pancaindra, juga memiliki hawa nafsu, al-nafs, qalb, fu’ad, ruh, sirr, dzauq, dan lainnya. 

Berbagai potensi rohaniah ini sesuatu yang real yakni ada yang sesungguhnya, sebagaimana juga akal dan fisik. 
Akibat dari keadaan hidup yang hanya mengutamakan akal dan pancaindra ini, maka manusia menjadi robot, dan mesin yang kehilangan keutuhannya. 
Akibat keadaan yang demikian, manusia menjadi tidak utuh, merasa terasing, kesepian, rapuh, tidak punya pilihan dan pegangan hidup yang kukuh, yakni nilai-nilai spiritual yang berasal dari Allah SWT. Untuk menyelamatkan keadaan yang demikian perlu ajaran tasawuf.

Kedua, masyarakat modern yang bergerak dalam bidang jasa dan industri dengan berbagai aneka ragamnya semakin memerlukan nilai-nilai spiritual yang dapat memberikan bekal dan pegangan yang kukuh bagi usahanya itu. 

Menjadi sufi di masa modern saat ini tidak mesti dengan cara pergi bertapa ke gunung, atau mengisolasi diri ke tempat yang sunyi, atau membiarkan hidup miskin dan sengsara. 
Pandangan tasawuf yang demikian itu kini telah diganti dengan pandangan tasawuf yang transformatif dan integrated, yaitu nilai-nilai tasawuf seperti kesederhanaan, kejujuran, keikhlasan, kehati-hatian, kesabaran, keteguhan dalam prinsip, kepercayaan yang teguh pada Tuhan. 

Keyakinan pada janji Tuhan dan nilai-nilai ajaran tasawuf lainnya ternyata sangat dibutuhkan dalam mengelola berbagai usaha bisnis di zaman modern.

Ketiga, ajaran selalu dekat dengan Allah SWT. Sebagaimana yang diajarkan dalam tasawuf dan kesungguhan dalam membersihkan diri dari dosa serta kesungguhan mencari keridhaan Allah SWT. Saat ini ternyata juga digunakan dalam proses penyembuhan berbagai penyakit. 

Masyarakat modern saat ini sudah mulai sadar, bahwa di antara penyakit ada yang penyebabnya karena hubungan yang tidak baik dengan Tuhan. Oleh karena itu, proses penyembuhannya dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. sebagaimana yang diajarkan dalam tasawuf.

Keempat, bahwa jumlah orang yang gelisah, pikiran kacau, stres, dan gejala penyakit kejiwaan lainnya saat ini makin banyak jumlahnya. 
Keadaan jiwa yang demikian itu menyebabkan produktivitas kerjanya menurun dan ketenteraman hidup makin terancam. 

Masyarakat modern yang demikian itu makin membutuhkan sentuhan ruhani dan pencerahan spiritual yang dapat mengembalikan kehidupannya menjadi lebih nyaman, tenang, tenteram, damai, dan harmonis yang selanjutnya amat dibutuhkan guna meningkatkan produktivitasnya.

Masyarakat modern ditandai oleh lima hal, yakni:

Pertama, berkembangnya mass culture. 
Kedua, tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak manusia menuju perubahan masa depan. 
Ketiga, tumbuhnya berpikir rasional, sebagian besar kehidupan umat manusia ini semakin diatur oleh aturan-aturan rasional. 
Keempat, tumbuhnya sikap hidup yang materialistik. 
Kelima, meningkatnya laju urbanisasi.

Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. 
Terdapat sejumlah alasan tentang sebab-sebab meningkatnya masyarakat modern terhadap tasawuf, di antaranya bahwa ajaran tasawuf yang menekankan kedekatan pada Tuhan, mengenal, dan mencintainya, yang sangat diperlukan untuk mengimbangi kecenderungan manusia terhadap masalah-masalah yang bersifat duniawi dengan segala akibatnya. 

Tasawuf berusaha mengendalikan manusia agar tidak diperbudak oleh dunia yang fana yang akan menjerumuskannya.

Thariqah Mu'tabaroh:
Yang dimaksud Thariqah Mu'tabaroh adalah aliran thariqah yang memiliki sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau menerima dari Malaikat Jibril AS. Dan Malaikat Jibril AS dari Allah SWT.
Sedang Thariqah Ghairu Mu'tabarah adalah aliran thariqah yang tidak memiliki kriteria seperti tersebut diatas.

Berikut Nama-nama Tarekat/ Thoriqoh Mu'tabaroh :
1. Rumiyyah                               
2. Rifaiyyah                                
3. Sa’diyyah                               
4. Bakriyyah                               
5. Justiyyah                                 
6. Umayyah                             
7. Alawiyyah                              
8. Abasiyyah
9. Zainiyyah
10. Dasuqiyyah
11. Akbariyyah
12. Bayumiyyah
13. Malamiyyah
14. Ghoibiyyah
15. Tijaniyyah
16. Uwaisiyyah
17. Idrisiyyah
18. Samaniyyah
19. Buhuriyyah
20. Usyaqiyyah
21. Kubrowiyyah
22. Maulawiyyah
23. Jalwatiyyah
24. Baerumiyyah
25. Ghozaliyyah
26. Hamzawiyyah
27. Haddadiyyah
28. Matbuliyyah
29. Sumbuliyyah
30. ‘Idrusiyyah
31. Utsmaniyyah
32. Syadliliyyah
33. Sya’baniyyah
34. Kalsyaniyyah
35. Khodliriyyah
36. Syathoriyyah
37. Khalwatiyyah
38. Bakdasiyyah
39. Syuhrowardiyyah
40. Thoriqoh Ahmadiyyah
41. ‘Isawiyyah Ghorbiyyah
42. Turuqi Akabiril – Auliyyak
43. Qodiriyyah wa-Naqsyabandiyyah
44. Kholidiyyah wa-Naqsyabandiyyah
45. Haqqaniah wa Naqsyabandiyah
46. Ahli Muzalamatil-Qur’an was-SunnahWadaailil Khoiroti Wata’limi-Fathil Qoribi Au-Kifayatul-Awami.

Semoga bermanfaat, 
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 
Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), "Nafsu"

 



Oleh: ki alit Pranakarya 

Ybia Indonesia - Nafsu merupakan suatu keinginan manusia akan sesuatu. Pada dasarnya wajar saja manusia memiliki keinginan akan sesuatu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Nafsu secara etimologi berarti jiwa. 
Adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq: nafsu adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Adapun pengertian hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan tubuh kita seperti makanan, minum, dan kebutuhan biologis lainnya,

Nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain. 
Hawa nafsu inilah yang mengakibatkan pengaruh buruk/negatif bagi manusia.

Beberapa pendapat mengatakan nafsu berarti: keinginan, kecendrungan, dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan perbuatan entah itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.

Pandangan ki alit Pranakarya, nafsu adalah dorongan yang menarik manusia ke bumi/tarikan bumi.
Manusia itu memiliki dua tarikan yang saling berlawanan, yaitu: tarikan langit dan tarikan bumi. Tarikan langit adalah tarikan malaikat dan tarikan bumi adalah tarikan binatang atau juga kerendahan.

Tarikan langit dan tarikan bumi ini mengisyaratkan jika manusia menuruti tarikan langit maka ia telah menyucikan jiwanya. Sebaliknya, jika manusia menuruti tarikan bumi maka ia telah mengotori jiwanya. 
Dengan demikian manusia dapat mencapai posisi lebih tinggi daripada malaikat dan juga dapat lebih rendah daripada binatang.

Dari pengertian di atas dapatlah kita menarik sebuah kesimpulan, nafsu adalah bagian dari jiwa kita yang mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan baik itu tindakan yang menyebabkan kita menjadi sukses maupun tindakan yang menyebabkan kita menjadi orang yang gagal.

Setiap dari kita pasti sibuk melakukan sesuatu, sibuk belajar, sibuk bekerja, atau juga sibuk melamun. Semua kesibukan yang kita lakukan itu semua karena dorongan nafsu. 
Karena nafsu lah kita melakukan sesuatu.

Adapun nafsu ada 7 tingkatan sebagai berikut:

1. Nafsu Amarah:
Nafsu ini adalah nafsu yang paling mudah menjerumuskan manusia kedalam panasnya api neraka. 
Orang yang memiliki nafsu ini tentu tidak kenal dengan yang namanya akhirat. Orang ini senang melakukan perbuatan yang dilarang asalkan dirinya bisa merasa senang dengan perbuatannya itu. Nafsu ini telah dijelaskan dalam surat yusuf :
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". ( Yusuf 53)

Mereka yang memiliki nafsu amarah mudah putus asa jika diuji oleh Allah SWT. Maka dari itu mereka berlomba-lomba melakukan perbuatan dosa untuk membuat dirinya senang.

2. Nafsu Lawwamah:
Nafsu ini tingkatannya lebih tinggi daripada nafsu amarah. 
Orang yang berada pada tahap nafsu lawwamah ini sudah tau antara perbuatan yang dilarang dan amal kebajikan. 
Saat jatuh pada kejahatan dia masih merasa puas namun disisi lain ia menyesali perbuatannya itu. 
Dia Kadang ia berbuat baik dan setelah itu akan kembali melakukan perbuatan dosa lagi. Orang yang seperti ini masih belum bisa dijamin masuk surga.

3. Nafsu Mulhamah:
Orang yang berada pada tingkatan ini apabila hendak melakukan amal kebajikan terasa berat. Namun dalam keadaan bermujahadah dia berbuat kebaikan-kebaikan karena ia sudah mulai takut pada kemurkaan Allah dan pedihnya api Neraka. 
Bila berhadapan dengan kemaksiatan, hatinya masih rindu dengan maksiat. 
Namun ia masih dapat melawan dengan membayangkan nikmatnya berada di Syurga. 
Dia sudah mengenal penyakit-penyakit yang berada dalam hatinya. Seperti: iri hati, dengki, syirik, dll.

Tapi dia masih belum bisa melawan. Bila penyakit-penyakit hati ini sudah tidak ada lagi, ia akan rasa satu kenikmatan baru dalam hatinya dan akan merasa benci dalam melakukan kejahatan. 
Dan pada saat itu dia telah meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik lagi yaitu nafsu Muthmainnah.

4. Nafsu Muthmainnah:
Orang yang berada dalam tingkatan ini sudah dijamin masuk surga. 
Sesuai dengan yang terkandung dalam surat Al-Fajr ayat 27-30 : 
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Syurga-Ku”.

Orang yang berada dalam tingkatan ini senantiasa dijauhkan dari rasa cemas dan gelisah atas segala ketetapan Allah SWT dan selalu merasa sejuk hatinya, tenteram jiwanya, jika dia bisa melakukan suatu amal kebajikan. Hatinya senantiasa rindu pada Allah SWT.

5. Nafsu Radhiah:
Sifat dari nafsu ini adalah dia selalu menganggap yang makruh itu haram, dan yang sunat ia anggap itu kewajiban. 
Jika ia tidak melaksanakan apa yang disunat kan, ia merasa berdosa. Baginya takdir baik atau buruk adalah sama saja. 
mereka tidak peduli dengan urusan yang berbau dunia, karena hati mereka hanya pada Allah dan ridho atas segala keputusan yang Allah berikan kepadanya.

6. Nafsu Mardhiyah:
Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan nafsu radhiyah. 
Yang istimewa pada tingkatan ini adalah Bukan hanya orang pada tingkatan nafsu ini yang sangat mencintai Allah SWT, tapi Allah SWT juga sangat mencintainya. 
Dia buat Allah SWT cinta padanya dengan melaksanakan apa yang di sunatkan dan tidak melaksanakan sebuah dosa walaupun sekecil jarum di lautan.

Sesuai dengan Hadist Qudsi :
“Senantiasa hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku cinta padanya. Maka apabila Aku telkah mencintainya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, perkataannya yang dengannya ia berkata, jadilah Aku tangannya yang dengannya ia berbuat, jadilah Aku kakinya yang dengannya ia melangkah, dan akalnya yang dengannya ia berpikir”

7. Nafsu Kamilah:
Tingkatan yang ketujuh ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia yang suci dan sempurna. 
Yang terpelihara dari perbuatan tercela dan Allah selalu mengawasi dan membimbingnya.

Untuk meraih nafsu dari level yang paling bawah hingga level diatasnya dibutuhkan waktu yang bertahun-tahun hingga Allah SWT yakin akan usahanya.

Untuk itu marilah kita tak terkecuali saya sendiri berlomba-lomba untuk meningkatkan level nafsu kita hingga ke tingkat yang lebih tinggi agar kita semua ditempatkan oleh Allah SWT di taman surganya yang tak dapat dilukis oleh panca indera kita karena keindahannya. 
Amiin…

Dari berbagai sumber 

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.
ki alit Pranakarya 
Pendiri/Ketua FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).