Tampilkan postingan dengan label Ulama NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama NU. Tampilkan semua postingan

Ulama NU Punya Sejarah yang Akurat

 


Ketika Nabi Khidir Memberi Kitab Kepada Gus Miek

Ybia Indonesia - KH. Hasyim Sholeh merupakan salah satu Kyai Ponorogo yang disegani. Ada kisah menarik ketika beliau menunaikan ibadah haji. Seperti pada umumnya jama’ah Haji sewaktu akan pulang ke Indonesia, Kyai Hasyim berdo’a dihadapan Ka’bah, tiba-tiba disampingnya muncul sosok orang tua berpakaian putih wangi menitipkan lima jilid kitab kepada Kyai Hasyim untuk diberikan kepada Hamim Djazuli al-Jawi, nama yang belum pernah dikenal dan didengar oleh Kyai Hasyim pada waktu itu. Ajaibnya, setelah menitipkan kitab tersebut kepada Kyai Hasyim orang tua tadi langsung menghilang.

Ketika dalam perjalanan pulang dari Mekkah, Kyai Hasyim menyempatkan diri untuk membaca seluruh isi kitab, tapi ada dua jilid kitab yang tidak faham sama sekali.

Selama perjalanan itu, Kyai Hasyim berusaha mencari informasi dan menanyakan setiap orang yang ditemui tentang sosok Hamim Djazuli al-Jawi hingga beliau tiba di rumah Ponorogo.

Konon, Kyai Hasyim mencari Hamim Djazuli Al-Jawi selama tiga bulan, dari Ponorogo sampai wilayah Jawa Tengah.

Tak lama berselang terdengarlah informasi tentang sosok yang bernama Hamim Djazuli tepatnya di daerah Kediri. Uniknya ada dua nama Hamim Djazuli, yang pertama berasal dari daerah Pare dan yang kedua daerah Ploso Mojo Kediri.

Kemudian Kyai Hasyim menuju daerah Pare menemui orang yang bernama Hamim Djazuli, ternyata ia adalah Petani Sawah. Selanjutnya Kyai Hasyim langsung melanjutkan perjalanan ke Pondok Ploso. Sebelum masuk daerah Ploso, Kyai Hasyim berniat melaksanakan sholat Isya’, lantaran jarum jam menunjukkan jam 20.00 malam. Beliau pun mampir di Musholla.

Sesampainya di teras Musholla, Kyai Hasyim kaget sebab teras itu digunakan orang-orang bermain Domino. Salah satu dari empat pemain domino itu juga terkesiap sambil melihat Kyai Hasyim berjalan menuju Musholla.

Kyai Hasyim membatin “Musholla koq digawe main kartu domino” selesai sholat, Kyai Hasyim menuju Ploso untuk berkunjung ke rumah Hamim Djazuli Al-Jawi, beliau ditemui santri ndalem (khodam ndalem). Kyai Hasyim diberitahu oleh khodam itu bahwa Gus Miek pulang ke rumah biasanya mendekati waktu sholat subuh.

Kyai Hasyim menunggu kedatangan Hamim Djazuli Al-Jawi, tiba-tiba dari kejauhan datanglah sosok orang yang menutupi wajahnya dengan kain sarung. Tatkala berhadapan dengan Kyai Hasyim, penutup wajah berupa sarung itu dibuka, orang itu tersenyum sambil melangkah masuk rumah. Kyai Hasyim terperanjat bukan main, beliau menggumam “lho orang ini kan yang tadi main domino di teras Musholla?!”.

Akhirnya, dua sosok hebat ini bertatap muka dalam sebuah ruangan. Gus Miek menemui Kyai Hasyim tepatnya di ruang tamu seraya mengucap “Alhamdulillah Kyai Gede Ponorogo ndugi” (Kyai Besar Ponorogo datang). Untuk kesekian kalinya Kyai Hasyim terkejut dengan sapaan “Kyai Ponorogo”. Padahal Kyai Hasyim tidak pernah sekalipun bertemu, apalagi berkenalan dengan Gus Miek. Bahkan masyarakat Mayak Ponorogo belum pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan “Kyai Gede Ponorogo”.

Kemudian Kyai Hasyim menceritakan kronologi mulai awal hingga akhir. Gus miek mendengarkan tutur kisah Kyai Hasyim dengan seksama sambil tersenyum, Gus Miek pun mengucapkan alhamdulillah berulang kali.

Kyai Hasyim lalu menyerahkan kelima jilid Kitab (yang diberikan Orang tua Misterius di Mekkah) kepada Gus Miek. Kemudian Gus Miek berkata: “tiyang sepuh ingkang kepanggih lan titip kitab 5 jilid dateng panjenengan niku sejatine Nabi Khidir.”

Gus Miek menyerahkan 3 jilid kitab kepada Kyai Hasyim sambil menuturkan “niki damel panjenengan” (ini untuk anda) dan “dua jilid damel kulo” (2 jilid untuk saya).

Mungkin itu sebabnya Kyai Hasyim tidak paham isi dua jilid kitab itu, mengingat Kyai Hasyim belum “maqom”nya untuk mempelajari 2 jilid kitab yang diperuntukkan Gus Miek. Selanjutnya, Kyai Hasyim pun meminta barokah do’a kepada Gus Miek.

Singkat kisah, bibarokati Kyai Hasyim menyerahkan kitab serta dibarengi doa dari Gus Miek, kini pondok pesantren Darul Huda Mayak.


Al Fatihah 

KH. Zubair Umar Al-Jailani, Kiai Tawadhu’ yang Masyhur Sampai ke Timur Tengah




Ybia Indonesia - KH. Zubair Umar Al Jailani merupakan ulama karismatik Indonesia mashur dalam bidang ilmu falak dan astronomi. Kyai Zubair merupakan ulama yang lahir di Padangan Kabupaten Bojonegoro. Tepatnya, 16 September 1908 M bertepatan 20 Sya’ban 1326 H (Fahmi Ali, 2015). Kiai Zubair Umar merupakan ulama intelektual Nahdlatul Ulama yang pernah menjabat sebagai rektor IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo) serta bagian dari Syuriah PBNU pada saat Rais Aam PBNU dijabat oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Tak hanya ahli dalam bidang falak, Kiai Zubair Umar juga menguasai persoalan fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadis dan ilmu alat. Kiai Zubair Umar dikenal sebagai pribadi yang berbudi pekerti luhur yang menjadi teladan oleh keluarga, murid dan masyarakat, “Beliau dikenal dengan sifatnya yang sangat tawadhu, sangat menghormati dan menghargai siapa saja, tak terkecuali santrinya sendiri dan saya sangat merasakan hal itu.” Ujar Slamet Hambali selaku santri Kiai Zubair.

Perjalanan Pendidikan Kiai Zubair Umar 

Sejak usia 8 tahun, K.H. Zubair Umar Al-Jailani mengawali pendidikannya di Sekolah Diniyah Madrasatul Ulum  pada 1916 sampai 1921. Kemudian, beliau melanjutkannya ke banyak Pondok di Indonesia, dimulai dari Pondok Pesantren Tremas, Pacitan dan Pondok Pesantren Simbangkulon yang diasuh oleh Kiai Amir Idris (w. 1938) pada 1925-1926. Pada 1926 hingga 1929, Kiai Zubair Umar Al-Jailani nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang dan berguru kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari serta ilmu favorit beliau berupa ilmu falak. (Coolis Noer, 2017).

Selesai mondok di beberapa pesantren di tanah air, Kiai Zubair melanjutkan studinya ke luar negeri. Diawali dengan Kiai Abd. Fatah yang menjabat sebagai Kepala Desa Reksosari, Salatiga, memohon kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk memberikan salah satu muridnya. KH. Hasyim Asy’ari menyetujui permintaan itu, tetapi syaratnya Kyai Zubair harus menimba ilmu kembali. Setelah  sepakat, Zubair diserahkan kepada Kiai Abdul Fattah dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Zainab. Sesudah itu, Kiai Abd. Fatah memberangkatkan Zubair ke tanah suci Mekah untuk haji dan menimba ilmu bersama istrinya. Sebab kealimannya dalam bidang ilmu falak, beliau ditunjuk sebagai pengajar ilmu falak di Al-Azhar, Kairo pada 1931-1935. Pada tahun 1935, Kiai Zubair menyudahi pendidikannya dan pulang ke Indonesia. Kiai Zubair menetap di desa Reksosari, tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Zainab.

Buah Pemikirannya

Kiai Zubair menuliskan beberapa gagasannya dalam bentuk kitab klasik bernama Al-Khulashotul Wafiyah yang diterbitkan pada tahun 1937. Kitab karya Mbah Zubair ini dijadikan pedoman dalam ilmu falak oleh banyak ulama serta para astronom yang bertempat di Indonesia serta Tanah Arab dalam mengetahui penentuan perhitungan awal serta akhir dari beberapa bulan hijriah seperti Ramadhan dan Syawal. Kitab karya Mbah Zubair, diterima menjadi kitab rujukan yang sangat lengkap, simpel namun detail dibanding beberapa kitab falak contohnya Matlaus Said, Durrul Matslub dan Tashiilul Mitsasaal.

Sebab menggunakan epoch (mabda’ atau ringkas) Mekkah maka kitab ini tentu masyhur dan para ulama Tanah Arab pun ikut menggunakannya. Sedangkan di Tanah Air, banyak pondok pesantren dan universitas yang mengkaji serta menyediakan jurusan ilmu falak dan dijadikan sebagai kitab rujukan yang terkenal hingga saat ini (Coolis Noer, 2017).

Kiprah Bagi Masyarakat

Kepulangan beliau setelah melanglang buana mencari ilmu baik nyantri di pondok di tanah air maupun Timur Tengah disambut baik oleh masyarakat sekitar. Tugas-tugas keilmuan dan kemasyarakatan yang pernah beliau emban antara lain sebagai hakim pada tahun 1945-1947 dan 1947-1951 yang bertempat di Pengadilan Negeri Salatiga serta hakim Kabupaten Semarang di Salatiga, Pemimpin KUA Karesidenan Pati (1954-1956), Kepala Mahkamah Islam Tinggi bertempat di Surakarta (1962-1970).

KH. Zubair Umar Al-Jailani beberapa kali ditunjuk menjadi bagian penting organisasi yang ada saat itu seperti kepala Nahdlatul Ulama Semarang pada 1945, kepala Masyumi Salatiga dan Semarang 1946, pemimpin Kiai-Barisan Sabilillah kabupaten Semarang saat masa revolusi kemerdekaan dari penjajahan Belanda, Rais Syuriah Partai NU cabang Kabupaten Semarang dan Salatiga tahun 1952-1956, Rais Syuriah NU provinsi Jawa Tengah (1956-1970), serta anggota Syuriah PBNU yang dipimpin oleh KH. Abd. Wahab Hasbullah (1967-1971).

Pendiri Berbagai Institusi dan Rektor IAIN Walisongo

Berawal dari Kampus IAIN Salatiga yang merupakan bagian dari IKIP NU atau Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama yang bertempat pada bangunan kuliah dari Yayasan Pesantren Luhur. IKIP NU hanya dalam waktu setahun langsung bertransformasi melahirkan Fakultas baru berupa Tarbiyah IAIN Walisongo, kemudian bertransformasi kembali menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. KH. Zubair Umar Al-Jailani pada waktu itu ditunjuk sebagai dosen hingga naik menjadi rektor IAIN Walisongo (kini UIN Walisongo) dimulai dari tahun 1970 sampai 1972. Pada masa jabatannya itu, beliau mencetuskan program studi baru ilmu falak yang selaras dengan bidang keilmuannya.

Selain itu, masih terdapat lembaga yang muncul berkat pemikirannya serta masih eksis sampai sekarang contohnya SD dan SMP Al Azhar Salatiga yang merupakan institusi di bawah naungan Yayasan Pesantren Luhur, MTs NU serta SMK Diponegoro yang berada di bawah Yayasan Imarotul Masajid wal Madaris serta Pendidikan Guru Agama yang berganti nama menjadi MAN Salatiga. Selain lembaga di atas, terdapat Pondok Pesantren Joko Tingkir Salatiga yang sekarang tinggal petilasannya saja.

Wafat dan Karomah Kiai Zubair Umar Al Jailani

Wafatnya KH. Zubair Umar Al Jailani terjadi pada hari Senin, (10/12/1990 M) atau 24 Jumadiil Awwal 1411 H pada usia ke 82 tahun. Makam beliau berada di tempat pemakaman masjid Al Atiq Kauman Salatiga. Pada tahun ke delapan setelah beliau wafat, terjadi banjir besar yang menerjang merusak area pemakaman KH. Zubair Umar Al-Jailani. Kejadian itu berdampak pada kerusakan makam yang cukup parah hingga nampak jasad beliau. Setelah itu, makamnya direnovasi dan terlihat bahwa kafan serta jasadnya masih utuh dan bersih seperti pada awal pemakamannya, sedangkan papan makam disekitar makamnya telah rusak. Setelahnya, jenazah Kiai Zubair dimakamkan dengan tidak dimandikan kembali. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Maulana Misbahul Fuadi, Mahasantri Besongo angkatan 2019 dan mahasiwa jurusan Metematika Murni (tulisan disarikan dari berbagai sumber)