Tampilkan postingan dengan label ulama kharismatik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama kharismatik. Tampilkan semua postingan

Abuya Dimyati: Ulama Kharismatik dari Banten



Ybia Indonesia - Abuya Dimyati, yang lebih dikenal dengan KH. Muhammad Dimyati al-Bantani, adalah seorang ulama kharismatik dan tokoh sufi terkemuka asal Pandeglang, Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1920 dan wafat pada 3 Oktober 2003 bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H dalam usia 78 tahun.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok alim yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius melalui bimbingan berbagai ulama besar di Nusantara. Beliau memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), sehingga mendapat julukan “Mbah Dim” atau “Si Kitab Banyak”.

Beliau juga merupakan seorang mursyid dalam Tarekat Syadziliyah, yang membimbing para murid dalam kehidupan spiritual dan pengamalan tasawuf. Abuya Dimyati mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Cidahu, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di wilayah Banten.

Melalui pesantren ini, beliau mencetak banyak santri yang mendalami ilmu agama dengan pendekatan tradisional yang kuat. Di samping mengajar, beliau juga menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya Minhaj al-Istifa, Al-Hadiyyah al-Jalaliyyah, dan Bahjah al-Qalaid, yang mencerminkan kedalaman ilmu serta pemikirannya.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 011 Abuya Dimyati Cidahu Banten

KH. Muhammad Romli Tamim: Ulama Kharismatik dari Rejoso Jombang



Ybia Indonesia - KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan, Madura, sebagai putra dari KH. Tamim Irsyad. Beliau dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan menimba ilmu agama kepada ayahnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, dan KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang disegani dan memiliki kealiman dan ketawadhu'an yang tinggi. Beliau turut mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dan dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dengan dedikasi besar dalam dakwah, pendidikan, dan amalan spiritual, KH. Muhammad Romli Tamim meninggalkan warisan keilmuan dan tradisi yang terus hidup di tengah umat hingga wafat pada 6 April 1958.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 042 KH. Muhammad Romli Tamim Rejoso Jombang

KH. Dimyati Rois: Ulama Kharismatik dan Tokoh Nahdlatul Ulama



Ybia Indonesia - KH. Dimyati Rois, akrab disapa Mbah Dim, adalah seorang ulama kharismatik asal Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Beliau menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).


Latar Belakang & Pendidikan

Mbah Dim lahir di Brebes pada 5 Juni 1945. Beliau menempuh pendidikan di berbagai pesantren ternama seperti Pondok Pesantren APIK Kaliwungu dan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.


Pengasuh Pesantren

Mbah Dim merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadhilah di Jagalan, Kaliwungu, Kendal.


Peran di Nahdlatul Ulama

Mbah Dim dikenal sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, yang bertugas memilih Rais Aam PBNU.


Kematian

Mbah Dim wafat pada 10 Juni 2022 di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, pada usia 77 tahun.


Informasi Terkait

Putra beliau, H. Alamudin Dimyati Rois (Gus Alam), yang merupakan anggota DPR RI dari Fraksi PKB, juga telah berpulang pada 6 Mei 2025. Beliau meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kecelakaan lalu lintas di ruas Tol Pemalang-Batang. Jenazah Gus Alam dimakamkan di samping makam ayahnya di kompleks pesantren Alfadhlu 2 di Kendal. 

Abuya Muhtadi: Ulama Kharismatik dari Banten yang Disegani



Ybia Indonesia - Abuya Ahmad Muhtadi bin Abuya Muhammad Dimyathi, atau dikenal sebagai Abuya Muhtadi, adalah sosok ulama kharismatik yang disegani masyarakat Indonesia, khususnya di Banten. Beliau lahir pada 28 Jumadil Awwal 1374 Hijriyah atau bertepatan pada 26 Desember 1953 Masehi di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Abuya Muhtadi dikenal sebagai ulama yang wara' zuhud, dan sering disebut sebagai pakunya Banten dan dijuluki gurunya para kiyai. Banyak pengakuan dari para kiyai, khususnya di Kabupaten Pandeglang, mengatakan bahwa jika tidak ada beliau, maka di tanah Banten ini akan sepi sekali.


Karomah Abuya Muhtadi

1. Dikenal Sebagai Gurunya Para Kiyai: Abuya Muhtadi bukan hanya mengajar santri-santrinya, bahkan para kiyai dari berbagai daerah berdatangan kepada beliau untuk menimba ilmu, merujuk kitab-kitab klasik, serta meminta berkahnya.

2. Menguasai 12 Fan Ilmu: Kapasitas keilmuan Abuya Muhtadi memang tidak diragukan lagi. Beliau pernah ditawari oleh Raja Salman untuk menjadi mufti di Arab Saudi, namun beliau menolaknya dengan halus.

3. Mengetahui Pekerjaan Seseorang: Abuya Muhtadi memiliki kemampuan untuk mengetahui pekerjaan seseorang tanpa diberitahu.

4. Mengetahui Niat dan Pikiran Seseorang: Beliau juga memiliki kemampuan untuk mengetahui niat dan pikiran seseorang tanpa diberitahu.

Demikianlah beberapa fakta karomah dari Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyati Banten. Hingga kini, keberadaan Abuya Muhtadi sangat diakui oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Banten. 

KH Zainuddin: Ulama Kharismatik dari Mojosari, Nganjuk



Ybia Indonesia - KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan. Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari.


Kehidupan dan Kepribadian

Kiai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan. Ia memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan beliau. Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap ia membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam.


Kisah-Kisah Karomah

Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan. Salah satu contoh kisah karomahnya adalah ketika beliau meminta Jazuli, salah satu muridnya, untuk pulang ke Mojosari. Jazuli kemudian menjadi ulama besar dan dikenal sebagai Kiai Jazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Ploso, Kediri.


Pelajaran Hidup

Kisah hidup Kiai Zainuddin mengajarkan kita tentang pentingnya istiqomah, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan. Beliau juga menunjukkan bahwa dengan kesederhanaan dan keikhlasan, kita dapat mencapai kedudukan yang tinggi di mata Allah. 

KH Bisri Mustofa: Ulama Kharismatik dan Pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin

 



Ybia Indonesia - KH Bisri Mustofa adalah ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu santri kesayangan Syekh Muhammad Kholil Bangkalan. Beliau adalah orator ulung, penulis produktif, dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin.


Biografi Singkat

- Beliau dikenal sebagai politisi Nahdlatul Ulama (NU) dan anggota Konstituante.

- Penyusun tafsir Al-Ibriz yang berbahasa Jawa.

- Ayah dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).


Dakwah Humanis

- KH Bisri Mustofa dikenal dengan pendekatan dakwah yang humanis, sering menggunakan humor, dan mampu menyampaikan materi berat dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat.

- Banyak masyarakat yang senang karena terhibur dengan penyampaian nya.


Doa dan Harapan

Semoga kita semua di berikan limpahan berkah nya, dan semoga kita semua tambah cinta pada Allah, Rosulullah, Auliya', ulama', dan Sholihin, amin ya rabbal alamin. 

Aang Nuh Gentur: Ulama Kharismatik dengan Karamah dan Jiwa Perjuangan

 


Ybia Indonesia - Aang Nuh Gentur, yang memiliki nama asli KH. Abdullah Haq Nuh, adalah seorang ulama kharismatik dari Cianjur, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang "nyentrik" dan memiliki banyak karamah (keistimewaan), serta dikenal sebagai ahli hikmah (ilmu kebatinan Islam).


Silsilah dan Latar Belakang

Aang Nuh adalah putra dari ulama besar tanah Pasundan, Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi (Mama Gentur), pendiri Pondok Pesantren Gentur di Warungkondang, Cianjur. Garis keturunannya bersambung hingga ke Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), salah satu waliyullah penyebar Islam di Jawa Barat. Beliau memiliki saudara yang juga menjadi ulama, seperti Aang Baden (Mama Hajji Hidayatullah) dan Aang Eyeh (Mama Hajji Rohmatullah).


Karakter dan Keilmuan

Berbeda dengan ayahnya (Mama Gentur) yang dikenal sangat alim dalam ilmu fiqih dan kitab kuning secara formal, Aang Nuh dikenal dengan gaya yang lebih "jawara" dan eksentrik. Beliau masyhur sebagai ulama yang menguasai ilmu hikmah dan kanuragan. Sosoknya sangat disegani tidak hanya oleh santri, tetapi juga oleh para jawara dan masyarakat umum.


Kisah Karamah (Keistimewaan)

Dalam tradisi lisan masyarakat Cianjur dan santri, terdapat banyak kisah mengenai karamah atau kelebihan luar biasa yang dimiliki Aang Nuh, di antaranya:


- Kisah di Monas: Terdapat kisah masyhur di mana beliau pernah menaiki puncak Tugu Monas (atau tempat tinggi lainnya) tanpa alat bantu, yang membuat aparat keamanan saat itu kebingungan.

- Kebal Senjata: Pada masa perjuangan melawan penjajah (Jepang dan Belanda), beliau dikisahkan memiliki kekebalan terhadap peluru dan senjata tajam.

- Menaklukan Jin: Beliau juga dikenal memiliki kemampuan spiritual untuk menundukkan gangguan makhluk halus.


Perjuangan Kemerdekaan

Aang Nuh juga tercatat memiliki peran dalam masa perjuangan kemerdekaan. Beliau pernah menjadi komandan militer (pasukan Hizbullah/Sabilillah) di wilayah Cianjur pada masa pendudukan Jepang (sekitar tahun 1943-1944), memimpin para santri dan pemuda dalam mempertahankan tanah air.


Wafat

Aang Nuh Gentur wafat pada tahun 1990. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Gentur, Warungkondang, Cianjur, berdekatan dengan makam ayahnya, Mama Gentur. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi peziarah yang ingin bertawassul dan mengenang jasa-jasanya.

Catatan Penting: Sering terjadi kebingungan antara Aang Nuh Gentur (KH. Abdullah Haq Nuh) dengan KH. Abdullah bin Nuh (ulama Bogor pendiri Ponpes Al-Ghazali). Keduanya adalah tokoh yang berbeda, meskipun sama-sama ulama besar yang berasal dari Cianjur dan memiliki hubungan kekerabatan/keilmuan. Aang Nuh Gentur lebih dikenal dengan sisi hikmah dan jawara-nya di Warungkondang, sedangkan KH. Abdullah bin Nuh dikenal sebagai ulama intelektual dan sastrawan bahasa Arab di Bogor. 

Mama Gentur: Ulama Besar Karismatik dari Cianjur



Ybia Indonesia - Mama Gentur atau nama lengkapnya Al-Alim Al-Allamah Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi adalah seorang ulama besar karismatik dari Cianjur, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai "Maha Guru" bagi para ulama di Tatar Sunda karena banyaknya murid beliau yang kemudian menjadi kiai besar dan mendirikan pesantren-pesantren berpengaruh di Jawa Barat dan Banten.


Kelahiran dan Silsilah

Lahir di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur, sekitar tahun 1837 M (pertengahan abad ke-19). Nama kecil beliau adalah Adun, yang kemudian berganti menjadi Ahmad Syathibi setelah menunaikan ibadah haji. Beliau adalah putra ketiga dari Mama Haji Muhammad Sa'id dan Hj. Siti Khodijah. Garis keturunannya bersambung hingga ke Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), salah satu wali besar di tanah Jawa.


Pendidikan dan Guru

Mama Gentur adalah sosok pengelana ilmu yang gigih. Beliau menuntut ilmu ke berbagai pesantren, antara lain:

- Mama Kholil (Bangkalan, Madura): Salah satu gurunya yang masyhur.

- Syekh Shoheh (Bunikasih, Cianjur).

- Syekh Muhammad Adzro'i (Bojong, Garut).

- Mekkah: Beliau sempat bermukim di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Dikisahkan saat di Mekkah, beliau saling bertukar ilmu dengan ulama asal Bawean (Mama Gentur mengajarkan ilmu Mantiq, sementara ulama Bawean mengajarkan Qira'at).


Kiprah dan Karya

Sepulangnya dari menuntut ilmu, beliau mengasuh Pesantren Gentur di Warungkondang, Cianjur. Beliau sangat ahli dalam berbagai fan ilmu, terutama Ilmu Alat (Nahwu, Shorof, Balaghah, Mantiq) dan Fiqih. Beliau menulis sekitar 80 kitab (dalam bahasa Arab dan Sunda), beberapa karya terkenalnya antara lain:


- Sirojul Munir (Fiqih)

- Tahdidul 'Ainain (Fiqih)

- Al-Mukadimah (Ilmu Tauhid)

- Berbagai Nadzom (syair ajar) dalam ilmu Nahwu dan Shorof yang masih dipelajari santri hingga kini.


Karakter dan Teladan

Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat Wara' (berhati-hati) dan Zuhud (sederhana). Salah satu kisah masyhur tentang kesederhanaannya adalah kebiasaan makannya yang hanya nasi putih dicocol garam, meskipun beliau sering dijamu makanan mewah oleh orang-orang kaya atau pejabat. Beliau tidak ingin terbuai oleh kenikmatan duniawi.


Murid-Murid Terkenal

Banyak murid beliau yang menjadi "paku bumi" Jawa Barat, di antaranya:

- Mama Sempur (Syekh Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta)

- Mama Cimasuk (Garut)

- Mama Abdullah bin Nuh (Bogor)


WAFAT

Mama Gentur wafat pada hari Rabu, 14 Jumadil Akhir 1365 H (sekitar 15 Mei 1946 M). Makamnya di Gentur, Warungkondang, Cianjur, hingga kini selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dan santri dari berbagai daerah. 

Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi: Ulama Kharismatik dari Banten yang Mengemban Amanah Dakwah dan Ilmu



Ybia Indonesia - Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi Di antara deretan ulama besar Banten, nama Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi menempati posisi istimewa. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik, pewaris sanad keilmuan pesantren klasik, serta sosok yang menjaga keseimbangan antara kedalaman ilmu, keteguhan akhlak, dan keteduhan dakwah.

KH Abuya Muhtadi Dimyathi adalah Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu. Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiro'ah ia tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan Ilmu Al-Qur'an Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll.

Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :


قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى


Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :


ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم طاغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة


Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.