Tampilkan postingan dengan label malam 1000 bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malam 1000 bulan. Tampilkan semua postingan

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag.29) "Menjemput Malam 1000 Bulan"



Oleh: Ki alit Pranakarya 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. 

Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. 

Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. 

Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. 

Anugerahkan padaku memandang-Mu. 

Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. 

Jangan palingkan wajah-Mu dariku. 

Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu 

wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin"


Ybia Indonesia - Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. 

Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan.

Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa.

Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. 

Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. 

Tuhan berfirman, ''Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.''

Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. 

Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. 

Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin)


Kerendahan Hati

Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh.

Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ''Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.'' Nabi yang mulia berkata, "Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya."

Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, "Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?" Ia menjawab, "Benar."

Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. "Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk," katanya.

Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, "Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat."

Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, "Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.''

Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati.

Bersujud Lah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. 

Jalaluddin Rumi bercerita. Alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.-


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag. 25) "Pencerahan Spiritual Malam 1000 Bulan"




Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Puncak spiritual bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Kita selama menjalani ibadah puasa paling tidak sudah berbuat sesuatu hingga bisa hadir sebagai seorang tamu di malam Lailatul Qadar

Ybia Indonesia - Berpuasa, mengekang hawa nafsu, berzikir kepada Allah, memperbanyak doa, dan memperbanyak membaca al-Quran, semua ini merupakan persiapan sehingga pada malam Lailatul Qadar kita bisa menghadirinya sebagai seorang tamu dalam jamuan rahmat Allah. 

Selama perjamuan itu, kita harus bertaubat, bertekad untuk kembali, dan beristighfar, kita harus memohon rahmat dari Allah, meminta kebahagiaan untuk diri kita, untuk saudara-saudara seiman, untuk kaum Muslim, (dan hal yang lebih penting) kita harus memohon perbaikan diri.”

Menghidupkan malam Lailatul Qadar akan bermakna ketika manusia benar-benar tersadar di malam itu, yakni memiliki kehidupan spiritual dengan cara mengingat Allah Swt. Manusia dianggap hidup ketika hati mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi. 

Malam Lailatul Qadar merupakan sebuah kesempatan untuk mengingat Allah sepanjang malam, menyatakan taubat, dan memohon ampunan.

Lailatul-qadar adalah satu momen yang sangat dinantikan kedatangannya oleh umat Islam pada setiap bulan Ramadan. 

Secara harfiah, Lailatul-qadar berarti malam penentuan atau malam kepastian. 

Jika kata qadr  dipahami sebagai sama asalnya  dengan kata takdir. Akan tetapi, ada juga yang mengartikan lailatul-qadar dengan malam kemaha-kuasaan, yakni kemaha-kuasaan Allah.

Jika kata qadr dipahami sebagai sama asalnya dengan al-Qadir, yang artinya Yang Mahakuasa, yakni salah satu sifat Allah. Alquran juga menyebutnya dengan lailatun-mubaraqah,  malam penuh berkah, penuh hikmah.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

(innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn)

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan".

Surat Ad Dukhan, ayat 3


Secara literal Lailatul Qadr (LQ) berasal dari dua kata, yaitu lailah dan qadr.  

Lailah dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang (nahar).

Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, kesepian, keheningan, kesyahduan, kerinduan, dan kedamaian.

Ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi, dan kedalaman cinta (mahabbah).

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan keliru, yang kemudian amat disesalinya. 

Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. 

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas.

Berangkat dari kesadaran itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. 

Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. 

Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. 

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang.

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. 

Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. 

Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan..

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. 

Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). 

Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Termasuk didalamnya memiliki rasa empati terhadap sesama.

Jika kesadaran Spiritual ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

 (Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr).


Lailatul qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. 

Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar.

Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. 

Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak ternilai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini.

Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. 

Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. 

Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama. Ataupun dengan agama tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga.

Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang.

Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Membicarakan lailatul qadar dalam diskursus metafisika justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosila kemasyarakatn kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. 

Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.

Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. 

Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berrdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah berkholwat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. 

Hal ini eperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab, malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. 

Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Bercermin dari pengalaman nabi Saw tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti lalilatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil keamasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan budaya kehidupan kita yang lebih baik. 

Lebih dari itu Lailatul qadar adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. 

Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat, sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaikai dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani.

Manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki prilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan ini, menuju indifidu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Semoga kita semua menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.29), "Menjemput Malam 1000 Bulan"




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. 

Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. 

Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. 

Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. 

Anugerahkan padaku memandang-Mu. 

Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. 

Jangan palingkan wajah-Mu dariku. 

Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu 

wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin"

Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. 

Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan.

Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa.

Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. 

Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. 

Tuhan berfirman, ''Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.''

Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. 

Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. 

Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin)

Kerendahan Hati

Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh.

Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ''Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.'' Nabi yang mulia berkata, "Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya."

Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, "Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?" Ia menjawab, "Benar."

Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. "Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk," katanya.

Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, "Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat."

Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, "Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.''

Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati.

Bersujud lah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. 

Jalaluddin Rumi bercerita. Alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujud lah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Maha Tinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunnahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.-


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb

ki alit Pranakarya 

Inisiator/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H 2023 (Bag. 25), "Pencerahan Spiritual Malam 1000 Bulan"




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ybia Indonesia - Puncak spiritual bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Kita selama menjalani ibadah puasa paling tidak sudah berbuat sesuatu hingga bisa hadir sebagai seorang tamu di malam Lailatul Qadar. 

Berpuasa, mengekang hawa nafsu, berzikir kepada Allah, memperbanyak doa, dan memperbanyak membaca al-Quran, semua ini merupakan persiapan sehingga pada malam Lailatul Qadar kita bisa menghadirinya sebagai seorang tamu dalam jamuan rahmat Allah. 

Selama perjamuan itu, kita harus bertaubat, bertekad untuk kembali, dan beristighfar, kita harus memohon rahmat dari Allah, meminta kebahagiaan untuk diri kita, untuk saudara-saudara seiman, untuk kaum Muslim, (dan hal yang lebih penting) kita harus memohon perbaikan diri.

Menghidupkan malam Lailatul Qadar akan bermakna ketika manusia benar-benar tersadar di malam itu, yakni memiliki kehidupan spiritual dengan cara mengingat Allah Swt. Manusia dianggap hidup ketika hati mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi. 

Malam Lailatul Qadar merupakan sebuah kesempatan untuk mengingat Allah sepanjang malam, menyatakan taubat, dan memohon ampunan.

Lailatul-qadar adalah satu momen yang sangat dinantikan kedatangannya oleh umat Islam pada setiap bulan Ramadan. 

Secara harfiah, Lailatul-qadar berarti malam penentuan atau malam kepastian. 

Jika kata qadr  dipahami sebagai sama asalnya  dengan kata takdir. Akan tetapi, ada juga yang mengartikan lailatul-qadar dengan malam kemaha-kuasaan, yakni kemaha-kuasaan Allah.

Jika kata qadr dipahami sebagai sama asalnya dengan al-Qadir, yang artinya Yang Mahakuasa, yakni salah satu sifat Allah. Alquran juga menyebutnya dengan lailatun-mubaraqah,  malam penuh berkah, penuh hikmah.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

(innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn)

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan".

Surat Ad Dukhan, ayat 3

Secara literal Lailatul Qadr (LQ) berasal dari dua kata, yaitu lailah dan qadr.  

Lailah dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang (nahar).

Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, kesepian, keheningan, kesyahduan, kerinduan, dan kedamaian.

Ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi, dan kedalaman cinta (mahabbah).

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan keliru, yang kemudian amat disesalinya. 

Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. 

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas.

Berangkat dari kesadaran itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. 

Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. 

Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. 

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang.

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. 

Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. 

Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan..

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. 

Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). 

Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Termasuk didalamnya memiliki rasa empati terhadap sesama.

Jika kesadaran Spiritual ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

 (Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr).

Lailatul qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. 

Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar.

Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. 

Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak ternilai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini.

Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. 

Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. 

Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama. Ataupun dengan agama tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga.

Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang.

Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Membicarakan lailatul qadar dalam diskursus metafisika justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosial kemasyarakatan kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. 

Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.

Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. 

Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah bersholawat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. 

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab, malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. 

Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

 Bercermin dari pengalaman nabi Saw tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti Lailatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil kemasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan budaya kehidupan kita yang lebih baik. 

Lebih dari itu Lailatul qadar adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. 

Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat, sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaiki dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani.

Manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki perilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan ini, menuju individu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Semoga kita semua menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan.

Semoga bermanfaat


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).