Tampilkan postingan dengan label Alfaqier Gus Endro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alfaqier Gus Endro. Tampilkan semua postingan

Fisika Kuantum Berdzikir

 


Fisika Kuantum Berdzikir 

Bagian ke 1

Ybia Indonesia - Tubuh kita ini ada 3 unsur penting yang harus kita rawat. Ketiga unsur ini harus bekerja bersama-sama agar melahirkan manusia paripurna, manusia yang lengkap. Ketiga unsur itu adalah hati, otak dan badan. 

Otak butuh asupan gizi seperti pendidikan dan ilmu pengetahuan, pun dengan badan perlu asuman gizi yaitu dengan makan dan minum. Asupan gizi bagi hati adalah dengan dzikir atau mengingat akan adanya Allah.

Dalam berdzikir ada beberapa macam bentuk penerapannya. Ada yang sedang berdagang sambil berdzikir, melukis, belajar dll. Ahli tasawuf mengelompokkan terdapat 2 jenis dzikir yaitu :

DZIKIR JAHAR 

Dzikir Jahar (nyata); Dzikir Jahar dilakukan mulut dengan menyebut-nyebut bacaan (lafazh); Istighfar, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dll.

“ Sesungguhnya bergemuruhnya suara orang berdzikir saat usai shalat fardhu betul-betul terjadi di masa Rasulullah s.a.w. Aku dapat mengetahui orang sudah usai shalat (berjamaah di masjid Nabi) ketika kudengar suara dzikir itu “. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad).

DZIKIR KHAFIY

Dzikir Sirri (rahasia); Dzikir Sirri tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ur (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta Allah SWT saja yang dapat mengetahuinya.

Dalam Dzikir Sirri, orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Didalam qalbunya tumbuh rasa cinta, dalam keadaan diam dan tidak berbunyi selalu mengingat akan adanya Allah tanpa diketahui oleh siapapun. Dalam diri selalu sadar kalau ada dan selalu bersama Allah sehingga hanya kebaikan yang dilakukan.

 Fisika Kuantum (Bioenergi) Zikir 

Hubungan zikir dan fisika energi disebut Bioenergi,yaitu energi zikir hidup terus-menerus mengalir menyusup ke dalam struktur anatomis dari suatu anatomi dan fisiologi tubuh pezikir dan masuk juga ke dalam sistem atmosfir di sekitar pezikir.

Dalam pelaksanaan zikir yang terjadi dalam prosesnya adalah fisika klasik (newtonian) yaitu fisika mekanika/ biomekanika dan fisika kuantum (fisika einstein).

Dalam konsep dasar  fisika biomekanika, dimana setiap benda yang bergerak atau diam di dalam tubuh pezikir akan memiliki/ mengeluarkan energi/ bioenergi.

Fisika quantum / kuantum menurut Stephen Hawking adalah suatu unit terkecil yang gelombangnya bisa memancarkan atau menyerap energi. Pengertian kuantum bagi orang awam adalah sebuah blok pembangun. Misalnya cahaya dibentuk oleh foton, listrik dari pelepasan elektron, gravitasi dari graviton dan semua bentuk energi lain. Semuanya itu akan dibentuk dari quantum dan tidak bisa lagi diuraikan menjadi lebih kecil lagi (quanta).

Jika pergerakannya lambat, maka benda itu masih terlihat wujud aslinya dan energi yang dikeluarkan kasar sebaliknya jika pergerakannya cepat dan sangat cepat terlebih lagi melebihi kecepatan cahaya.

Cahaya adalah gelombang elektromagnet yg tidak memerlukan medium untuk merambat. Kecepatan cahaya sekitar 299.792 km/detik. 

Cahaya adalah energi dahsyat bagi manusia. Dengan energi itu, manusia mampu mencapai tingkat kemuliaan, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemakmuran hidup yg tinggi.

Dengan energi cahaya, manusia mampu mengingat masa lalu, melihat masa kini, dan memprediksi masa yg akan datang.

Dengan fenomena yg digambarkan di atas maka wujud bendanya pun tidak tampak wujud aslinya dan bioenergi fisika yg dikeluarkan pun semakin besar dan tidak tampak oleh mata kepala kita.

Seiring dengan pezikir yg melafazhkan zikir ismu zat Alloh…Alloh dari mulai perlahan / lambat dan seterusnya cepat, sangat cepat dan jumlah nya pun sangat banyak dan berulang-ulang sehingga standard minimalnya 70.000 X  dengan duduk minimalnya 3 jam bertahap sehari semalam maka yang dilafazhkan pezikir memiliki kekuatan yg sangat dahsyat.

Seperti yang tercantum dalam firman Alloh dalam Q.S. Thaha ayat 14, 

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ


Innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa'budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku".


Selanjutnya juga dinyatakan dalam firman Alloh dalam surat Ali Imran ayat 41, 


قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ ۝٤١


qâla rabbij‘al lî âyah, qâla âyatuka allâ tukalliman-nâsa tsalâtsata ayyâmin illâ ramzâ, wadzkur rabbaka katsîraw wa sabbiḫ bil-‘asyiyyi wal-ibkâr

"Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau tidak (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari.”

Begitu juga dalam surat Al – Muzzammil ayat 8:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ۝٨


wadzkurisma rabbika wa tabattal ilaihi tabtîlâ

"Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati".


Serta surat Al – A’raaf ayat 205:


وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ ۝٢٠٥


wadzkur rabbaka fî nafsika tadlarru‘aw wa khîfataw wa dûnal-jahri minal-qauli bil-ghuduwwi wal-âshâli wa lâ takum minal-ghâfilîn

"Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah".

Dalam Hadis Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Sollollohu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Alloh berfirman, Berzikirlah kepada-Ku sejenak setelah ashar dan shubuh, niscaya Aku akan mencukupi kalian diantara keduanya.”

Oleh karena zikir itu sendiri adalah sebuah bioenergi dan bernilai kuantum maka kondisi pezikir tersebut saat berzikir telah melaksanakan loncatan pemercepat (accelarator) yang disebut fisika kuantum bioenergi. Dari peristiwa demikian maka zikir Alloh sebagai fisika kuantum bioenergi menjadi suatu daya intensitas yang terus menerus ada dan kontinyu mengalir menyusup sampai ke dalam mikro dan nano struktur anatomis yang memiliki dampak fisiologis terhadap tubuh yang dilalui dalam proses zikir. Selanjutnya dapat segera memancarkan dan menghubungkan energinya ke semua arah sel-sel tubuh beserta seluruh aspek diluar tubuh pezikir yang dilaluinya (environment sekitarnya).

Sebagai gambaran skematik umum dalam analogi proses zikir yang dilakukan pezikir adalah:

Benda termasuk kalimah zikir Alloh tersusun atas ===> Biomolekul kemudian tersusun atas ===> Atom-Atom dan seterusnya tersusun atas ===> Partikel-partikel penyusun yang terdiri atas ===> quanta-quanta yang memiliki ===> Bioenergi dan terakhir memiliki potensi awal (inert potential)===> Gelombang Bioelektromagnetik.


Bersambung

Alfaqier Gus Endro

Mengenal Diri Sendiri

 


Ybia Indonesia - Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhamad al-Ghazali dalam kitab Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan bahwa mengenal diri (ma‘rifatun nafs) adalah kunci untuk mengenal Allah. 

Logikanya sederhana: diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah? 

Imam al-Ghazali mengutip hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya). 

Dalam Surat Fusshilat ayat 53 juga ditegaskan: 


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى؟ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.” 

Tentu saja yang dimaksudkan Imam al-Ghazali di sini lebih dari sekadar pengenalan diri secara lahiriah: seberapa besar diri kita, bagiamana anatomi tubuh kita, seperti apa wajah kita, atau sejenisnya. Bukan pula atribut-atribut yang sedang kita sandang, seperti jabatan, status sosial, tingkat ekonomi, prestasi, dan lain-lain. Lebih dalam dari itu semua, yang dimaksud dengan “mengenal diri” adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Di sini kita diantarkan untuk memilah, mana yang bersifat hakiki dalam diri kita dan mana yang tidak. 

Serentetan pertanyaan sederhana namun sangat kompleks. Butuh perenungan diri untuk menjawab satu persatu pertanyaan tersebut. Jawabannya mungkin sudah sangat kita hafal, tapi belum tentu mampu kita resapi sehingga menjiwai keseluruhan aktivitas kita. Untuk mengenali diri sendiri, Imam al-Ghazali penjelasan dengan menyebut bahwa dalam diri manusia ada 3 jenis sifat: (1) sifat-sifat binatang (shifâtul bahâ’im),(2) sifat-sifat setan (shifâtusy syayâthîn),(3) sifat-sifat malaikat (shifâtul malâikah). 

1.Sifat-sifat binatang

Seperti banyak kita jumpai, binatang adalah makhluk hidup dengan rutinitas kebutuhan bilogis yang sama persis dengan manusia. Mereka tidur, makan, minum, kawin, berkelahi, dan sejenisnya. Manusia pun menyimpan kecenderungan-kecenderugan ini, dan bahkan memiliki ketergantungan yang nyaris tak bisa dipisahkan. Watak-watak tersebut bersifat alamiah dan dalam konteks tertentu dibutuhkan untuk mempertahankan hidup. 

Kebahagiaan hewani adalah ketika ia kenyang, mampu memuaskan hasrat dirinya, atau sanggup mengalahkan lawan untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri atau paling banter untuk keluarganya. 

2. Sifat-sifat Setan

Setan adalah representasi keburukan. Ia digambarkan selalu mengobarkan kejahatan, tipu daya, dan dusta. Demikian pula orang-orang yang memiliki sifat setan. 

Kebahagiaan setan adalah tatkala berhasil mengelabuhi yang lain atau memproduksi keburukan.

3.Sifat-sifat malaikat 

Sifat-sifat yang senantiasa menerungi keindahan Allah, memuji-Nya, dan mentaati-Nya secara total.

manusia yang tergolong dalam derajat yang mulia sebagaimana derajatnya para malaikat.

Menurut Imam al-Ghazali, orang-orang yang termasuk dalam kategori ini senantiasa berbuat baik dengan sesama manusia, tidak hanya berbuat baik, mereka juga senantiasa memberikan kebahagian kepada sesama. Tidak hobi menyakiti orang lain, juga tidak suka berperilaku menyimpang kepada orang lain.

Golongan manusia seperti inilah yang disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan yang termasuk “Manzilatul kirâm al-bararah minal malâikah”, yakni golongan manusia yang sikapnya setara dengan golongan malaikat yang saleh.

Kebahagiaan malaikat ialah saat diri kian mendekat kepada Allah dan semua aktivitas merupakan cerminan dari kedekatan itu.

 Ma‘rifatun Nafs

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhamad al-Ghazali dalam kitabnya Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan Bahwa Mengenal Diri (ma‘rifatun nafs) Adalah Kunci Untuk mengenal Allah. 

Logikanya sederhana: Diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah? Imam al-Ghazali juga mengutip hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya).

Dalam Surat Fusshilat ayat 53 juga ditegaskan:


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى؟ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.”

Tentu saja yang dimaksudkan Imam al-Ghazali di sini lebih dari sekadar pengenalan diri secara lahiriah: seberapa besar diri kita, bagiamana anatomi tubuh kita, seperti apa wajah kita, atau sejenisnya. Bukan pula atribut-atribut yang sedang kita sandang, seperti jabatan, status sosial, tingkat ekonomi, prestasi, dan lain-lain. Lebih dalam dari itu semua, yang dimaksud dengan “mengenal diri” adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar:

Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?

Di sini kita diantarkan untuk memilah, mana yang bersifat hakiki dalam diri kita dan mana yang tidak. Serentetan pertanyaan sederhana namun sangat kompleks. Butuh perenungan diri untuk menjawab satu persatu pertanyaan tersebut. Jawabannya mungkin sudah sangat kita hafal, tapi belum tentu mampu kita resapi sehingga menjiwai keseluruhan aktivitas kita.

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa diri manusia layaknya sebuah kerajaan yang terbagi dalam 4 struktur pokok: (1) jiwa sebagai raja, (2) akal sebagai perdana menteri, (3) syahwat sebagai pengumpul pajak, dan (4) amarah sebagai polisi.

Syahwat memiliki karakter untuk menarik manfaat, kenikmatan, dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ia befungsi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu. Amarah berfungsi melindungi dari berbagai ancaman atau mudarat, karenanya ia identik dengan karakter berani, cenderung kasar dan keras. Keduanya penting untuk kehidupan manusia. 

Dengan Syahwat manusia tahu akan kebutuhan makan, misalnya; dengan amarah, ia mengerti akan perlunya membela diri ketika serangan mengancam. Namun syahwat dan amarah harus didudukkan di bawah kendali akal dan tentu saja di bawah raja. Apabila syahwat dan amarah menguasai akal/nalar maka kerajaan terancam runtuh. Sebab susunan “kekuasaan” tak terjalan menurut kontrol seharusnya. 

Syahwat yang di luar kendali akal dan jiwa akan memunculkan sifat-sifat buruk seperti rakus atau tamak.

Amarah yang tak terkendali akan menimbulkan kebencian dan kecurigaan berlebihan sehingga muncul sikap-sikap membabi buta dan semena-mena.  

Akal pun mesti berada di bawah kendali jiwa atau hati (qalb). 

Akal memang memiliki potensi yang istimewa: berpikir, berimajinasi, menghafal, dan lain-lain. Bila ia bertindak liar maka potensi akal untuk menjadikan manusia sebagai tukang tipu daya atau semacamnya sangat mungkin. 

Kalau kita pernah mendengar kalimat “orang pintar yang gemar minterin (memperdaya) orang lain” maka itu tak lain akibat akal bertolak belakang dengan nurani alias tak berada dalam naungan jiwa yang bersih.

 Untuk mencapai jiwa yang berkuasa utuh, Imam al-Ghazali menekankan adanya perjuangan keras dalam olah rohani (mujâhadah) demi proses pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs. 

Jiwa yang jernih akan memicu munculnya cahaya ilahi yang memberi petunjuk manusia akan jalan terbaik bagi langkah-langkahnya.

 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا 

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (muhajadah) untuk untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-'Ankabut: 69) 

Semoga kita termasuk orang-orang yang lebih banyak belajar mengenali diri sendiri, ketimbang menilai orang lain, untuk menggapai kebahagiaan hakiki.

Alfaqier Gus Endro

Kunci Ketenangan dan Kelapangan Hati

 



Ybia Indonesia - Kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan. Salah satu cara meraihnya ialah dengan menciptakan keadaan hati yang tenang dan lapang. 

Allah SWT berfirman dalam (QS. Asy-Syu’ara: 87-89). 


وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، يَوْمَ لا يَنْفَعُ مالٌ وَلا بَنُونَ ، إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ   

Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Melalui ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang selamat di akhirat adalah orang yang membawa hati yang bersih. Bersih dari kesyirikan kepada Allah, bersih dari sifat-sifat tercela, serta bersih dari berbagai penyakit hati. 

Selain itu, hati yang bersih juga merupakan sarana untuk meraih ketenangan dan kelapangan hati. Maka kunci-kunci meraih ketenangan hati inilah perlu diraih.  

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Sebagaimana kita ketahui, taat kepada Allah merupakan salah satu sifat orang yang beriman dan bertakwa. Sementara orang yang beriman dan bertakwa sangat dicintai oleh Allah. 

Apa pun hajat dan keinginannya akan dipenuhi. Apapun masalah yang dihadapinya akan diberikan jalan keluar. Bahkan ia akan dilimpahi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Termasuk hatinya akan selalu dilapangkan di setiap keadaan. Sebagaimana firman Allah mengenai jaminan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.  


وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga." (QS. Ath-Thalaq: 2-3).        

Itulah janji Allah bagi siapa pun hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya.  

2. Berdzikir dan Selalu Mengingat Allah SWT

Lebih luas lagi, selain dzikir dengan asma dan sifat-sifat-Nya, kategori dzikir di sini mencakup dzikir mengingat kekuasaan, ciptaan, dan aturan-aturan-Nya, ancaman-ancaman-Nya, serta tanda-tanda kebesaran-Nya.   

Selain menjadi sebab turunnya ketenangan hati, dzikir mengingat Allah juga menjadi sebab selamatnya diri dari melanggar larangan-larangan-Nya. 

Bayangkan saat kita berkeinginan untuk melakukan maksiat kepada Allah, kemudian segera mengingat Allah, niscaya kita akan mengurungkan keinginan itu. Pasalnya kita merasa takut terhadap siksa dan ancaman-Nya.    

Artinya, alangkah baiknya dan memang semestinya hati kita selalu mengingat Allah. Kapan pun dan di mana pun. Baik dzikir dengan lisan, dengan hati, maupun dengan keduanya. Baik secara jahar atau suara keras maupun secara sirr atau suara pelan.   

Adapun jaminan Allah bagi orang yang selalu berdzikir kepada Allah sudah dijelaskan dalam Al-Quran:


أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

 “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tentram,” (QS. Ar-Ra'd: 28). 

3. Bertaubat dan Berserah Diri kepada Allah

Setiap manusia pasti berbuat dosa dan kesalahan. Obatnya adalah bertaubat kepada Allah. Orang yang berdosa kemudian bertaubat ibarat orang yang kotor kemudian mandi. Hal itu harus segera dilakukan, jangan menunggu dosa itu berkarat dan berakibat mengeraskan hati.    

Selain bertaubat, jika kita ingin tenang dan lapang hati harus berserah diri kepada Allah. Apa pun yang datang dari-Nya, kita terima dengan keikhlasan. Berprasangka baiklah kepada Allah. Sebab, di balik sesuatu yang kurang kita senangi, ada rahasia besar dan kebaikan yang hendak Allah berikan. 

Ingatlah apa pun yang diberikan Allah kepada hamba-Nya pasti baik. Sebab, kurang baik itu hanya menurut pandangan mata kita.    


وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ   

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). 


4. Memperdalam Ilmu Allah

Tak bisa disangkal, sempitnya hati kita akibat kurangnya ilmu Allah dalam hati kita. Maka salah satu kunci penting meraih ketenangan hati adalah mendalami ilmu-ilmu-Nya. 

Mengapa demikian? Sebab, dengannya hati kita akan tenang dan terang dari gelapnya kebodohan. Karena itu, selagi ada waktu, tuntutlah ilmu Allah. Perdalamlah ilmu Allah, niscaya hati kita akan lapang dan terang. Ingatlah ilmu itu cahaya yang selalu menerangi pemiliknya sekaligus menuntunnya ke jalan keselamatan. 

5. Selalu Menolong Sesama

Orang yang selalu menolong kesulitan orang lain, maka akan ditolong oleh Allah. Siapa saja yang membukakan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. 

Tidak dipungkiri etika mendapat pertolongan orang lain, hati kita menjadi senang. Maka itu pula yang dialami orang lain saat ditolong oleh kita. Rasulullah SAW bersabda:


مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ، كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ 

 “Siapa saja yang menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya. Siapa saja yang membukakan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan membukakan satu kesulitannya pada hari kiamat” (HR. Ahmad).     

Oleh sebab itulah kebaikan yang ditebar akan kembali kepada diri, dengan membuka jalan untuk kesulitan orang lain, niscaya kesulitan kita pada hari kiamat akan dibukakan oleh Allah SWT.


Alfaqier Gus Endro