Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

5 Keistimewaan Ibadah Umroh yang Tidak Ada di Ibadah Lain

 



Ybia Indonesia - Umroh sering disebut sebagai Haji Kecil. Namun di balik itu, Allah SWT menyimpan keistimewaan luar biasa bagi siapa saja yang terpanggil ke Baitullah.


1. Menjadi Tamu Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan orang yang berumroh adalah tamu Allah.” (HR. Baihaqi)

Betapa mulianya, saat di Tanah Suci, Anda adalah tamu langsung yang diundang oleh Allah. Doa-doa tamu Allah insyaAllah dikabulkan.


2. Penghapus Dosa di Antara Dua Umroh

_“Antara umroh yang satu dan umroh lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari & Muslim)_

Setiap langkah thawaf, setiap sai, adalah proses penyucian diri. Pulang umroh, insyaAllah bersih seperti bayi yang baru lahir.


3. Dijauhkan dari Kemiskinan

Banyak yang takut umroh karena biaya. Padahal Rasulullah menjanjikan sebaliknya.

_“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi.” (HR. Tirmidzi)_

Umroh tidak membuat miskin, justru membuka pintu rezeki dan keberkahan.


4. Pahala Sholat Berlipat Ganda

Sholat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali lipat dibanding masjid lain. Sholat di Masjid Nabawi 1.000 kali lipat. Ini hanya bisa didapatkan saat Anda berumroh.


5. Ibadah yang Penuh Ketenangan Hati

Saat di depan Ka'bah, semua masalah dunia seolah hilang. Tangisan taubat, doa-doa panjang, dan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Di sanalah hati benar-benar menemukan Tuhannya.

Umroh bukan soal mampu, tapi soal dimampukan. Ketika niat sudah Lillah, Allah akan mudahkan jalannya.

Semoga Allah segera memanggil kita semua ke Baitullah.


Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid

Travel Umroh & Haji Amanah – Lillah Amanah Berkah

Pusat Pendaftaran Umroh & Haji Terpercaya

Doa Orang Tua untuk Anak yang Akan Berangkat Umroh




Ybia Indonesia - Dengan linangan air mata bahagia, orang tua mengiringi kepergian anaknya menuju Baitullah.

Tangan menengadah, doa tulus dipanjatkan: "Ya Allah, lancarkanlah perjalanan anakku, sehatkan badannya, mabrurkan umrohnya, dan kembalikan ia dengan selamat."

Tak ada doa yang paling mustajab selain doa orang tua. Restu dan ridho mereka menjadi bekal paling berharga, menguatkan langkah kaki di Tanah Suci.

Selamat jalan, anakku. Doa Ayah dan Ibu menyertaimu hingga kembali.



Manfaatkan Harta di Saat Hidup untuk Sedekah



Ybia Indonesia - Harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan. Ia tidak akan kita bawa mati, kecuali apa yang telah kita sedekahkan di jalan Allah.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, jangan menunggu nanti untuk berbuat baik. Karena ajal tidak pernah menunggu kita siap.

Sedekah yang kita keluarkan hari ini akan menjadi naungan di akhirat, menjadi cahaya di alam kubur, dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Manfaatkan harta selagi masih di tangan, selagi masih ada kesempatan. Karena harta terbaik bukanlah yang disimpan, melainkan yang diinfakkan untuk kebaikan.



Istiqomah di Majelis Ilmu Setiap Rabu



Ybia Indonesia - Alhamdulillah, setiap hari Rabu Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid rutin menggelar pengajian mingguan.

Kegiatan ini menjadi ikhtiar kita bersama untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan membuat setiap jamaah betah berlama-lama di majelis ilmu.

Yuk, istiqomahkan langkah menuju kebaikan. Hadiri pengajian rutin setiap Rabu di Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid. 



Wisata Religi: Menikmati Wisata Sambil Menguatkan Iman



Ybia Indonesia - Wisata tidak selalu tentang keindahan alam atau kemegahan kota. Ada wisata yang tak hanya menyegarkan mata, tetapi juga menyejukkan hati dan menguatkan iman, yaitu wisata religi.

Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid mengajak jemaah untuk merasakan wisata yang berbeda. Mengunjungi makam para wali, masjid-masjid bersejarah, dan tempat-tempat penuh hikmah, menjadi sarana untuk mengenang perjuangan dakwah dan meneladani akhlak orang-orang sholeh.

Wisata religi mengajarkan kita bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga proses mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari setiap situs yang dikunjungi, ada pelajaran, ada doa, dan ada keberkahan yang bisa dibawa pulang.

Mari berwisata dengan hati, agar liburan tak hanya menyenangkan, tapi juga menenangkan jiwa.



Silaturahmi: Kunci Keberkahan dan Panjang Umur



Ybia Indonesia - Silaturahmi bukan sekadar tradisi bertemu dan berjabat tangan, tetapi ia adalah ibadah yang bernilai besar di sisi Allah SWT. Dengan silaturahmi, hati menjadi lembut, rezeki dilapangkan, dan umur diberkahi.

Di Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, silaturahmi menjadi napas dalam setiap kegiatan. Baik dalam pengajian rutin, manasik umroh, maupun pertemuan antar jemaah, semua dirangkai dengan niat untuk saling mengenal, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim).

Maka, jangan pernah lelah untuk menjaga silaturahmi. Karena dari silaturahmi, lahir persaudaraan. Dari persaudaraan, hadir keberkahan.



Berfoto di Momen Manasik Umroh: Bukan Sekadar Foto, Tapi Kenangan Menuju Baitullah



Ybia Indonesia - Manasik umroh adalah gerbang awal sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci. Di momen inilah para calon Tamu Allah dibekali ilmu, diluruskan niatnya, dan dipersatukan hatinya.

Maka tak heran jika banyak jemaah yang mengabadikan momen manasik dengan berfoto bersama. Bukan sekadar untuk koleksi di media sosial, tetapi sebagai tanda syukur, bukti keseriusan, dan kenangan indah awal perjalanan menuju Baitullah.

Setiap senyum yang terekam adalah doa. Setiap foto bersama adalah saksi bahwa kita pernah berjuang bersama untuk meraih ridho Allah.

Semoga foto-foto ini menjadi pengingat, bahwa kita pernah dipanggil Allah, dan semoga panggilan itu berbuah menjadi umroh yang mabrur.



Pengajian Rutin Rabu, Menjaga Hati dan Menguatkan Ukhuwah



Ybia Indonesia - Setiap hari Rabu, aula Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid kembali dipenuhi jamaah. Pengajian rutin pekanan ini menjadi wadah untuk menimba ilmu, memperbaiki hati, dan mempererat tali silaturahmi.

Dengan menghadirkan para asatidz, jamaah diajak untuk mengkaji Al-Qur'an, hadits, dan fikih kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Suasana pengajian berlangsung khidmat, penuh antusias, namun tetap hangat dan kekeluargaan.

Lebih dari sekadar kajian, pengajian Rabu ini menjadi oase di tengah kesibukan. Di sinilah kita saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mendoakan, dan saling menguatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari istiqomahkan langkah untuk hadir di majelis ilmu, karena dari sinilah keberkahan itu bermula.



Doa Bersama Sebelum Keberangkatan, Menguatkan Hati Menuju Baitullah

 


Ybia Indonesia - Sebelum bus bergerak meninggalkan kantor Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, seluruh jemaah umroh berkumpul melingkar untuk melaksanakan doa bersama.

Suasana seketika menjadi hening dan khusyuk. Dipimpin langsung oleh ustadz pembimbing, doa dipanjatkan dengan penuh harap agar Allah SWT memberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan dalam setiap perjalanan, dari Sukabumi hingga Tanah Suci dan kembali lagi ke tanah air.

Para jemaah mengaminkan dengan mata berkaca-kaca, sebagian menundukkan kepala, sebagian mengangkat tangan tinggi-tinggi. Di momen itu, semua menitipkan keluarga yang ditinggalkan, menitipkan hajat dan doa-doa yang akan dipanjatkan di depan Ka'bah nanti.

Doa bersama ini bukan sekadar tradisi, tapi menjadi bekal spiritual paling utama. Karena kami sadar, tanpa pertolongan Allah, perjalanan suci ini tidak akan pernah terlaksana. Dengan doa, hati menjadi tenang, langkah menjadi ringan, dan niat menjadi semakin lurus hanya karena Allah.

Bismillah, dengan doa kita berangkat, dengan doa pula kita berharap kembali dengan umroh yang mabrur.



Kumandang Adzan Sebelum Berangkat, Panggilan Hati Menuju Baitullah

 



Ybia Indonesia - Ada momen yang begitu menggetarkan hati sebelum keberangkatan jemaah umroh Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, yaitu saat kumandang adzan berkumandang.

Adzan yang dikumandangkan bukan sekadar penanda waktu, tapi sebagai simbol bahwa kita akan segera memenuhi panggilan Allah SWT. Panggilan yang tidak semua orang mendapatkannya, namun Allah pilih kita untuk menjadi Tamu-Nya di Tanah Suci.

Saat suara adzan menggema, seketika suasana menjadi hening dan haru. Air mata tak terasa menetes, hati bergetar penuh rindu kepada Ka'bah, kepada Rasulullah SAW, kepada tempat dimana doa-doa diijabah.

Adzan ini juga menjadi pengingat, bahwa perjalanan umroh adalah perjalanan ibadah, perjalanan untuk kembali kepada Allah. Mari kita berangkat dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik sepulang dari Tanah Suci.

Semoga lantunan adzan yang mengiringi keberangkatan ini menjadi awal yang berkah, dan setiap langkah kita menuju Baitullah dicatat sebagai pahala. Aamiin Ya Rabbal Alamin.



Tausyiah Pembekalan Jemaah Umroh, Kuatkan Niat dan Luruskan Hati Sebelum ke Tanah Suci

 


Ybia Indonesia - Sebelum keberangkatan, jemaah umroh Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid selalu mendapatkan tausyiah dan pembekalan dari ustadz pembimbing. Ini menjadi momen penting untuk menguatkan niat dan meluruskan hati sebelum menjadi Tamu Allah.

Dalam tausyiahnya, ustadz mengingatkan bahwa umroh bukan sekadar perjalanan wisata religi, tapi ibadah yang membutuhkan keikhlasan. Luruskan niat hanya karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau sekadar ikut-ikutan. Dengan niat yang benar, setiap langkah, lelah, dan air mata selama di Tanah Suci akan bernilai ibadah.

Ustadz juga berpesan agar jemaah menjaga adab selama di Tanah Suci, memperbanyak sabar, menjaga lisan dari keluh kesah, serta memperbanyak dzikir, doa dan istighfar. Karena di tempat mustajab, setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan Allah.

Selain itu, tausyiah juga berisi motivasi agar sepulang umroh, jemaah tidak kembali menjadi pribadi yang sama, tapi menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih peduli kepada sesama. Itulah tanda umroh yang mabrur.

Dengan adanya tausyiah ini, jemaah diharapkan berangkat dengan bekal ilmu, bekal hati, dan bekal iman yang kuat. Semoga Allah mudahkan langkah kita semua menuju Baitullah. Aamiin.



KH Muhammad Thoifur Mawardi: Ulama Kharismatik Purworejo, Pengayom Umat dan Penjaga Moral Bangsa



Ybia Indonesia - Nama lengkap beliau adalah KH Muhammad Thoifur Mawardi. Lahir di Purworejo, tanggal 8 Agustus 1955 dan meninggal dunia di usia 70 tahun. Abah Thoifur–begitu beliau biasa dipanggil-adalah putra dari KH R. Mawardi, seorang ulama yang juga dikenal di Purworejo. Dari jalur ayahnya, KH Thoifur masih termasuk dzurriyyah KH R. Imam Maghfuro, seorang tokoh besar Karesidenan Kedu, sekaligus memiliki ikatan darah dengan trah Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram.


Masa Kecil Dan Pendidikan Awal

Sejak kecil, KH Thoifur dikenal tekun dalam menuntut ilmu agama. Pendidikan dasar agama diperoleh dari lingkungan keluarga, kemudian melanjutkan pengembaraan intelektualnya di beberapa pesantren besar Jawa. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Sugihan, Kajoran, Magelang untuk menimba ilmu dasar kitab kuning, fiqh, dan ilmu alat. Kemudian di Pondok Pesantren Lasem, Rembang untuk memperdalam ilmu syariah, hadits, dan tasawuf, sekaligus berinteraksi dengan tradisi pesantren pesisir yang kental dengan semangat dakwah.


Perjalanan Ilmu di Tanah Suci

Pada tahun 1976, beliau berangkat ke Makkah dan mondok di Ma’had Rushaifah di bawah bimbingan Al-‘Allamah Al-Habib Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, seorang ulama besar yang dikenal sebagai ahli hadits internasional. Selama 12 tahun (1976–1988) beliau bermukim di Makkah, mengkaji kitab-kitab induk Islam, terutama hadits, sirah nabawiyyah, dan tasawuf. Dari sanalah beliau dikenal memiliki penguasaan yang sangat luas hingga dijuluki “kitab berjalan” oleh rekan ulama dan habaib.


Karomah & Kisah Spiritual

Kiai Thoifur dikenal bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena karomah dan keistimewaan spiritualnya. Beberapa kisah yang terkenal antara lain:

Ahli mimpi bertemu Rasulullah SAW : beliau dikenal kerap mendapatkan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Bahkan banyak orang datang meminta doa agar dimudahkan bertemu Nabi melalui beliau.

Kisah “Bi’ru Thoifur” (Sumur Thoifur) : saat di Rushaifah Makkah, beliau bermimpi didatangi Rasulullah SAW yang memerintahkan menggali tanah di lokasi tertentu. Setelah digali, benar-benar keluar sumber air yang kemudian menjadi sumur utama bagi para santri hingga kini. Sumur ini dikenal sebagai “Bi’ru Thoifur”.

Cinta Hadits Dan Sirah : Karena kecintaannya pada hadits dan kisah Rasulullah, beliau sering menekankan agar umat Islam memperbanyak membaca hadis supaya lebih mengenal Nabi. Dengan begitu, akan lebih mudah menghadirkan Rasulullah dalam mimpi.


Kiprah di Purworejo

Sepulang dari Makkah tahun 1988, beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Purworejo. Pesantren Daarut Tauhid berkembang pesat, kini memiliki ribuan santri serta lebih dari sepuluh cabang di wilayah Purworejo dan sekitarnya. Selain membina santri, KH Thoifur aktif berdakwah di masyarakat. Beliau dikenal sering hadir di berbagai majelis pengajian, tidak hanya di Purworejo tapi juga di luar daerah. Melalui pengajarannya, KH Thoifur menjadi penghubung sanad keilmuan dari ulama-ulama Nusantara dengan ulama Haramain, khususnya melalui Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.


Peran Nasional & Politik

Meskipun dikenal zuhud dan lebih menekuni dunia pesantren, KH Thoifur juga memberi pengaruh dalam ranah sosial-politik, khususnya melalui nasihat spiritual kepada tokoh nasional. Dalam suatu pertemuan di Makkah, beliau menyampaikan kepada Cak Imin bahwa jodohnya adalah Anies Baswedan. Ungkapan ini kemudian menjadi kenyataan pada Pilpres 2024 ketika keduanya berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden. Beliau berpesan agar para tokoh tidak saling menjelekkan, tetap istiqamah, dan menjaga ukhuwah umat Islam. Sikap ini mencerminkan beliau sebagai penjaga moral bangsa.


Warisan & Pengaruh

KH Thoifur Mawardi dikenal sebagai sosok alim, kharismatik, sederhana, dan penuh kasih kepada umat. Warisan beliau meliputi:

- Pondok Pesantren Daarut Tauhid dengan ribuan santri dan cabang.

- Sanad keilmuan hadits dan tasawuf yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Sayyid Muhammad Al-Maliki.

- Keteladanan dalam keistiqamahan ibadah, zuhud, dan cinta Nabi.

- Pengaruh spiritual dan politik, yang menjadikannya sosok ulama pengayom sekaligus rujukan moral.

KH Muhammad Thoifur Mawardi adalah permata ulama dari Purworejo yang menggabungkan keilmuan mendalam, sanad bersambung ke Haramain, karomah spiritual, dan keteladanan akhlak. Beliau bukan hanya guru bagi santri-santri di pesantren, tetapi juga guru bangsa, yang menanamkan pentingnya persatuan, cinta Rasulullah, serta istiqamah dalam dakwah.


Diolah dari berbagai sumber (Website Desa Krandegan)

Profil Kiai Abdul Manan: Ulama Besar Banyuwangi yang Alim dan Rendah Hati



Ybia Indonesia - Kiai Abdul Manan, seorang ulama besar dari Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal karena kesalehan, kealiman, dan kerendahan hatinya. Perjalanan hidupnya penuh dengan dedikasi untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam.

Lahir pada 1870 di Kediri, Mbah Manan (sebutan akrabnya) menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Jawa Timur, termasuk di bawah asilnya Kiai Nawawi dan Kiai Kholil Bangkalan. Ia juga menimba ilmu di Mekkah selama 9 tahun. Setelah kembali ke Indonesia, Mbah Manan aktif mengajar dan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thullab di Sumberberas, Banyuwangi.

Mbah Manan dikenal sebagai kiai yang alim dan sakti, namun tetap rendah hati. Ia sering menyerahkan tugas mengajar kepada santri senior dan hanya turun langsung untuk mengajar kitab-kitab penting seperti Al-Hikam dan Tafsir Al-Jalalain. Kisah-kisah tentang kesaktiannya, seperti saat memberikan jimat kayu rotan untuk melawan keganasan PKI di tahun 1965, menunjukkan pengaruh besarnya di masyarakat.

Mbah Manan wafat pada 1972, meninggalkan warisan keilmuan dan spiritualitas yang terus hidup di kalangan masyarakat Banyuwangi dan pesantren-pesantren yang didirikannya.

Kisah KH. Nur Durya Walangsanga: Weruh Sadurunge Winarah



Ybia Indonesia - KH. Nur Durya Walangsanga adalah salah satu kyai yang dianugerahi Allah SWT kemampuan melihat sebelum terjadi (weruh sadurunge winarah). Beliau dapat melihat yang tersurat dari yang tersirat, sehingga banyak peristiwa yang dapat diprediksi sebelum terjadi.

Suatu ketika, Haji Samsuddin dan istrinya yang berasal dari Tegal hendak melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Mereka sowan ke kediaman KH. Nur untuk meminta doa dan berkah. KH. Nur hanya berkata, "Mau haji? haji Singapura?" tanpa ekspresi sedikit pun. H. Samsuddin tidak mengerti maksud perkataan KH. Nur, namun akhirnya mereka membatalkan rencana pergi haji tahun itu.

Setelah beberapa tahun, H. Samsuddin baru menyadari bahwa perkataan KH. Nur adalah sebuah prediksi bahwa mereka tidak dapat menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Baru pada tahun-tahun setelahnya mereka bisa menunaikan ibadah hajinya.

KH. Nur juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak cinta dunia. Beliau selalu menjaga wudhunya dan melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan, beliau selalu melaksanakan shalat Subuh dengan menggunakan wudhu shalat Isya, menandakan bahwa setiap malam beliau tidak pernah tidur, namun bermunajat dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.

Setelah tinggal selama 50 tahun di Desa Walangsanga, KH. Nur pergi untuk mengasingkan diri demi bisa mendekatkan diri pada Allah SWT di Lereng Gunung Sembung.



Abuya Dimyati: Ulama Kharismatik dari Banten



Ybia Indonesia - Abuya Dimyati, yang lebih dikenal dengan KH. Muhammad Dimyati al-Bantani, adalah seorang ulama kharismatik dan tokoh sufi terkemuka asal Pandeglang, Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1920 dan wafat pada 3 Oktober 2003 bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H dalam usia 78 tahun.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok alim yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius melalui bimbingan berbagai ulama besar di Nusantara. Beliau memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), sehingga mendapat julukan “Mbah Dim” atau “Si Kitab Banyak”.

Beliau juga merupakan seorang mursyid dalam Tarekat Syadziliyah, yang membimbing para murid dalam kehidupan spiritual dan pengamalan tasawuf. Abuya Dimyati mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Cidahu, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di wilayah Banten.

Melalui pesantren ini, beliau mencetak banyak santri yang mendalami ilmu agama dengan pendekatan tradisional yang kuat. Di samping mengajar, beliau juga menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya Minhaj al-Istifa, Al-Hadiyyah al-Jalaliyyah, dan Bahjah al-Qalaid, yang mencerminkan kedalaman ilmu serta pemikirannya.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 011 Abuya Dimyati Cidahu Banten

KH. Muhammad Romli Tamim: Ulama Kharismatik dari Rejoso Jombang



Ybia Indonesia - KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan, Madura, sebagai putra dari KH. Tamim Irsyad. Beliau dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan menimba ilmu agama kepada ayahnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, dan KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang disegani dan memiliki kealiman dan ketawadhu'an yang tinggi. Beliau turut mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dan dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dengan dedikasi besar dalam dakwah, pendidikan, dan amalan spiritual, KH. Muhammad Romli Tamim meninggalkan warisan keilmuan dan tradisi yang terus hidup di tengah umat hingga wafat pada 6 April 1958.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 042 KH. Muhammad Romli Tamim Rejoso Jombang

KH. Shonhaji Chasbullah: Guru Thariqah Gus Dur yang Sederhana



Ybia Indonesia - KH. Shonhaji Chasbullah, yang lebih dikenal dengan Mbah Jimbun Kebumen, adalah seorang ulama kharismatik yang lahir sekitar tahun 1916 M. Beliau belajar agama di beberapa pesantren, termasuk Pesantren Lerap, Pesantren Jetis, dan Pesantren Sumolangu, serta melanglang buana ke berbagai pesantren lainnya.

Mbah Jimbun dikenal sebagai guru thariqah Gus Dur dan memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Beliau tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, tetapi lebih fokus pada amal shaleh. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah tentang pentingnya kesederhanaan dan selalu bersama Allah.

Beliau wafat pada hari Senin 17 Maret 2008 M. sekitar pukul 17.00 WIB, dalam usia 92 tahun, dan dimakamkan di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 030 KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen

K.H. Mahfudz Siroj: Ulama Kharismatik dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso



Ybia Indonesia - K.H. Mahfudz Siroj adalah seorang ulama kharismatik yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, dan menjadi bagian dari keluarga besar masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri. Beliau menikah dengan Nyai Hj. Badriyah Djazuli, putri dari pendiri pesantren tersebut, KH. Ahmad Djazuli Usman.

K.H. Mahfudz Siroj lahir pada tahun 1939 dan wafat pada hari Minggu Legi, 12 Juli 2009, bertepatan dengan 19 Rajab 1430 H. Beliau dikenal sebagai sosok kiai yang tenang, penuh adab, dan sangat dihormati oleh para santri maupun masyarakat.

Beliau memiliki peran penting dalam membimbing santri serta menjaga tradisi keilmuan salaf agar tetap lestari. Salah satu pesan yang sering dikenang dari beliau adalah tentang pentingnya adab, yang harus tumbuh dari dalam hati.

Dengan kepribadiannya yang lembut dan penuh keteladanan, K.H. Mahfudz Siroj meninggalkan kesan mendalam serta menjadi figur yang terus dikenang dalam tradisi pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 043 KH. Mahfudz Siroj Ploso Kediri

Kiai Abd. Adzim Sidogiri: Takbiratul Ihram yang Menggetarkan



Ybia Indonesia - Kiai Abd. Adzim Sidogiri adalah seorang kiai yang sangat disiplin dalam menjaga waktu salat. Beliau membawa tiga jam untuk perbandingan dan memukul bel kloning untuk menentukan waktu salat yang tepat. Masyarakat Sidogiri sangat menghargai ketepatan waktu salat Kiai Abd. Adzim, sehingga mereka berpegang pada waktu beduk Sidogiri.

Kiai Abd. Adzim tidak pernah salat di akhir waktu, bahkan jika ada tamu, beliau tidak segan-segan meninggalkannya untuk salat berjamaah di masjid. Sebelum salat, beliau duduk terlebih dahulu sekitar 15 menit, kemudian berdiri langsung takbir, "Allâhu Akbar!". Konon, saat takbiratul ihram, kaca-kaca dan dinding di masjid bergetar.

Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih menjelaskan bahwa getaran itu disebabkan oleh istighrâq, yaitu di hati meniadakan selain Allah. Kiai Abd. Adzim mengharuskan santri berjamaah lima waktu, dan beliau tidak segan-segan mengejar santri yang tidak mengikuti salat berjamaah.

Suatu ketika, Kiai Abd. Adzim mengejar santri yang sedang mengambil mangga sambil berteriak, "Salat, salat, salat!!". Santri-santri itu lari pontang-panting, mengambil wudu, dan pergi ke masjid. Anehnya, Kiai Abd. Adzim sudah mengimami satu rakaat ketika mereka tiba di masjid.

Sumber: buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri (1)" diterbitkan oleh 'Sidogiri Penerbit'

Biografi KH. Tubagus Muhammad Falak: Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah

 


Ybia Indonesia - KH. Tubagus Muhammad Falak, yang dikenal dengan sebutan Mama Falak Pagentongan, adalah seorang kiai dan mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang lahir pada tahun 1842 di Sabi, Pandeglang, Banten. Beliau berasal dari keluarga kiai pesantren dan keturunan keluarga kesultanan Banten.

Mama Falak mendapatkan pendidikan agama Islam dari orang tuanya, KH. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisyn, sejak kecil. Beliau kemudian memperdalam pengetahuannya di Cirebon dan beberapa ulama Banten. Nama "Falak" di belakang namanya diberikan oleh gurunya, Sayyid Affandi Turki, karena kecerdasan dan kemampuan beliau dalam menguasai ilmu falak.

Mama Falak dikenal luas sebagai pemimpin rohani dalam gerakan sufi dan mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang mengambil ijazah langsung dari Syekh Abdul Karim Banten. Beliau sangat aktif dalam melakukan kegiatan dakwah dan syiar Islam di daerah Bogor dan sekitarnya.


Sumber: Majelis Ta'lim Al Munawwarah