Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Biografi Singkat KH. Mahfudz Amin: Pendiri Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih

 


Ybia Indonesia - KH. Mahfudz Amin bin Tuan Guru H.M. Ramli bin Tuan Guru H. Muhammad Amin adalah putra pertama dari sembilan bersaudara, pasangan Tuan Guru HM. Ramli dan Hj. Sabariah. Beliau dilahirkan di Pamangkih pada malam selasa tanggal 23 rajab 1332 H bertepatan tahun 1914 M di rumah orang tuanya. Beliau diasuh dan dibesarkan langsung di bawah pengawasan kedua orang tua beliau sehingga menjadi orang yang mulia dan berjasa di tengah-tengah kehidupan.

Beliau pertama kali dididik dan dibesarkan di tengah – tengah keluarga yang taat beragama, sebab orang tua beliau yang bernama H. Muhammad Ramli adalah ulama berpengaruh dan dikenal mempunyai ilmu agama yang dalam. Tidak heran kalau di Pamangkih, orang tua dari Tuan Guru HM. Ramli yaitu Tuan Guru H. Muhammad Amin dikenal dengan sebutan Tuan Guru Besar, sedangkan Tuan Guru HM Ramli dikenal dengan julukan Tuan Guru Tuha, karena di tangan beliaulah kata putus dalam berbagai persoalan, baik yang menyangkut bidang agama maupun problem sosial kemasyarakatan lainya.

Dalam usia 6 tahun, beliau sudah selesai belajar Al Qur’an tahap pertama, di bawah pengajaran langsung orang tua beliau. Pendidikan formal beliau tempuh di Volk School selama tiga tahun di Pamangkih yang kemudian dilanjutkan Vervolk School selama dua tahun di Desa Banua Kupang. Selain itu beliau tidak pernah belajar di sekolah formal lainnya.

Untuk selanjutnya beliau menempuh pendidikan non formal berupa pengajian agama yang diberikan oleh orang tua beliau sendiri di samping mengikuti pengajian dengan Tuan Guru H. Hasbullah bin H. Abdurrahim di dekat Masjid Jami Pamangkih. Selain itu beliau juga belajar dengan Tuan Guru H. Muhammad Ali Bayanan dan Tuan Guru H. Muchtar di Desa Negara Kab. Hulu Sungai Selatan.

Pada tahun 1938 M, saat berusia 24 tahun sesudah beliau menikah dengan seorang perempuan yang bernama Saudah, puteri dari tuan guru H.M Arsyad di Desa Kali Baru Kec. Batu Benawa Kab. HST. Pada tahun itulah oleh mertua beliau, Mahfudz Amin beserta isteri diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji seraya memperdalam ilmu pengetahuan agama. Karena mertua beliau menilai bahwa KH. Mahfudz Amin mempunyai cita cita yang tinggi, bahkan pada waktu itu KH. Mahfudz Amin dapat menjawab satu pertanyan dari beliau yang sebelumnya pertanyaan itu oleh mertua beliau tidak ditemukan jawabannya.


Selama belajar dan menuntut ilmu di Makkah, guru - guru beliau antara lain:

1. Tuan Guru HM. Ramli

2. Tuan Guru H. Hasbullah bin H. Abdurrahim

3. Tuan Guru H. Muhammad Ali Bayanan

4. Tuan Guru H. Muchtar

5. Syeikh Yasin al-Fadani

6. Syeikh Abu Bakar Putra Sulaiman

7. Syeikh al-‘Allamah Abdul Qadir al-Mandili

8. Al-‘Allamah asy- Syeikh H. Muhammad Anang Sy’arani

9. Syeikh Abdurrahman, Kelantan

10. Syeikh Muhammad Nuh, Kelantan

11. Syeikh Muhammad Ahyad putra Idris alBughuri

12. Syeikh Abdul Kaliq, Perak, Malaysia

13. Syeikh KH. Abdul Jalil al-Maqdisi

14. As-Sayyid Alawy putra Sayyid Abbas al-Maliki

15. As-Sayyid Amin Kutbi

16. Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath

17. Syeikh Mukhtar, Ampenan


Dalam suasana serba sulit KH. Mahfuz Amin tetap tegar melaksanakan misinya, yaitu mengembangkan pendidikan agama Islam. Dibawah kepemimpinannya warga desa Pamangkih berhasil mendirikan “Pondok Pesantren Ibnul Amin” pada tanggal 11 Mei 1958 di desa tersebut. Usahanya tersebut mendapat dukungan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat, diantaranya adalah Tuan Guru H. Abdulmajid, H. ramli, H. Umar, H. Mukhtar, Rustam, Efendi, dan beberapa yang lainnya.

Pondok Pesantren yang bernama “Ibnul Amin", nama ini diambil dari nama kakek beliau yang bernama Tuan Guru H.M Amin. Disamping sebagai tafaulan ( kesan yang baik ) dari makna Al Amin itu sendiri yaitu jujur dan dipercaya, dengan harapan mudah-mudahan generasi yang dididik di Ibnul Amin menjadi generasi yang jujur dan dipercaya.

Beliau wafat pada Ahad, 21 Dzulhijjah 1415 H/21 Mei 1995, dan dimakamkan di pemakaman umum Pamangkih, berdampingan dengan orang tua beliau KH. Muhammad Ramli. 

Biografi Abah Anom, Ulama dan Walliyullah dari Tasikmalaya



Ybia Indonesia - Abah Anom, yang juga dikenal sebagai Syech Ahmad Shahibul Wafa Tajul 'Arifin, adalah seorang Ulama dan Walliyullah terkemuka di Indonesia. Beliau lahir pada tanggal 1 Januari 1915 di kampung Godebah, Surayalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Abah Anom meninggal pada tanggal 5 September 2011 dalam usia 96 tahun.


Silsilah Nasab Abah Anom

Abah Anom adalah salah satu Ulama keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hasan. Berikut adalah silsilah nasab Abah Anom:

- Sayyid Syaikh Ahmad Shahibulwafa Tajul 'Arifin bin Sayyid Syekh 'Abdulloh Mubarok

- bin Sayyid Nur Muhammad (Eyang Upas)

- bin Sayyid 'Ali Alhusaini

- putra pasangan Sayyid Ibrohim Arrof'i dan Sayyidah Ummi Hafshoh binti Sayyid Sirruddin

- bin Sayyid Sirrojuddin bin Sayyid Ahmad Izzuddin bin Sayyid Aziz Mubarok

- bin Sayyid Fathurrohman bin Sayyid 'Abdulwafa bin Sayyid Miftahulwahhab

- bin Sayyid Hasbi Ashshidiqi bin Sayyid Hasan Mufadhol bin Sayyid Abu Bakar Atstsaqolani

- bin Sayyid Ibrohim Yahya bin Sayyid Muhammad Sya'roni bin Sayyid Abu 'Abdulkarim

- bin Sayyid Musthofa Al akhyar bin Sayyid 'Abdulhakim bin Sayyid 'Abdulloh Maslul

- bin Sayyid Hasan Ghifari bin Sayyid Hamdan Muhammad Alghifari bin Sayyid Ibrohim

- bin Sayyid Hamzah Nur Said bin Sayyid Nur Muhammad 'Abdul'afwa bin Sayyid Isma'il

- bin Sayyid Abu Fadhil Maulana R.a Sayyid Musa Alfatani bin Sayyid Said Al Anshori

- bin Sayyid Ibrohim bin Sayyid Utsman Ali Hasan bin Sayyid Muhammad bin Sayyidina Hasan Assibthi

- bin Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW


Riwayat Pendidikan Abah Anom

Abah Anom memulai pendidikannya pada tahun 1923-1928 di Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis pada usia 8 tahun. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi, Tasikmalaya.


Perjalanan Spiritual Abah Anom

Abah Anom dikenal sebagai Mursyid Tariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sebuah tarekat yang memiliki pengaruh besar dalam dunia spiritual Islam di Indonesia. Beliau memiliki peran penting dalam mengembangkan dan menyebarkan ajaran Islam di masyarakat.

Dengan demikian, Abah Anom telah meninggalkan warisan yang besar dalam bidang keagamaan dan spiritual di Indonesia. Beliau akan selalu diingat sebagai seorang Ulama dan Walliyullah yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.

Biografi Sunan Gresik



Ybia Indonesia - Biografi Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim perlu dikenali umat Islam. Nama Sunan Gresik diberikan karena ia bermukim di Gresik dan menyiarkan ajaran Islam dari daerah tersebut. Sunan Gresik juga dimakamkan di desa Gapura di Kota Gresik.

Biografi Sunan Gresik tentu diawali dengan nama asli atau sebutannya. Maulana Malik Ibrahim dikenal pula dengan sebutan Maulana Maghribi, Syeck Maghribi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik. Sunan Gresik adalah keturunan Ali Zainal Abidin, cicit Nabi Muhammad SAW.

Dalam deretan nama-nama Sunan/Wali di Jawa Beliau adalah wali tertua. Ia datang ke Jawa untuk menyebarkan Agama Islam pada zaman Majapahit (TH. 1379 M). Sunan Gresik bermukim di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal 822 H, bertepatan dengan 8 April 1419 M, dan dimakamkan di desa Gapura kota Gresik.

Ada perbedaan pendapat terkait asal usul biografi Sunan Gresik ini, ada pendapat yang menyatakan ia berasal dari Turki dan ada pendapat lain menyatakan berasal dari Kashan sebuah tempat di Persia (Iran) sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya.

Sunan Gresik adalah seorang ahli tata negara yang menjadi penasehat raja, guru para pangeran, dan juga dermawan terhadap fakir miskin. Makamnya banyak diziarahi masyarakat hingga sekarang. Ia dianggap sebagai penyiar Islam pertama di tanah Jawa, sehingga dianggap sebagai Ayah dari Wali Songo.

Biografi Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki




Ybia Indonesia - Sayid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani dilahirkan di Kota Mekah pada tahun 1946 masehi atau bertepatan 1365 Hijriah, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kaya akan ilmu dan ibadah. Ayahnya, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, adalah seorang ulama terkenal di Hijaz yang juga menjadi guru agama di Makkah. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki belajar ilmu agama dari ayahnya dan ulama terkemuka lainnya di Makkah.

Pada usia tujuh tahun, beliau sudah menghafal Al-Qur’an, dan pada usia 15 tahun, beliau mampu menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Beliau kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar di Kairo, di mana beliau meraih gelar tertinggi dalam studi hadis.

Beliau juga menguasai ilmu fiqih dari empat mazhab dan tinggal di wilayah yang mayoritas mengikuti mazhab Hambali. Meskipun beliau bermazhab Maliki, beliau dengan mudah menyesuaikan diri dengan santri yang mayoritas bermazhab Syafi’i. Dikenal sebagai “anak dari 4 mazhab”, beliau menguasai keempat mazhab Ahlussunnah Wal Jamaah dengan baik.

Perjalanan belajar beliau membawanya ke berbagai negara di dunia Islam, di mana beliau mendapatkan banyak wawasan dan ijazah dari lebih dari 200 ulama terkemuka. Pada tahun 1431 Hijriah, beliau dianugerahi gelar Profesor oleh Universitas Al-Azhar sebagai penghargaan atas kontribusinya dalam penyebaran ilmu syariat.

Beliau juga produktif dalam menulis kitab-kitab dari berbagai cabang ilmu dan berhasil mencetak banyak murid dari berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 2004, beliau wafat pada usia 60 tahun dan dimakamkan di dekat pusara istri Nabi Muhammad, Sayyidah Siti Khadijah, di Pemakaman Ma’la Mekah Al Mukarramah.

keluarga Beliau memang menorehkan tinta emas dalam rangkaian sanad keilmuan para ulama nusantara. Ayahnya, Sayyid Alawi adalah guru  dari ulama sepuh nusantara yaitu Kiai Hasbiyallah Klender, Kiai Abdullah Faqih Langitan, Kiai Maimun Zubair Sarang.

Ayah Sayyid Alwi atau kakek Beliau yaitu Sayyid Abbas bin Abdul Aziz, adalah guru dari Kiai Hasyim Asyari(Pendiri NU), Kiai Abdul Malik bin Ilyas, dan para ulama besar Nusantara lainya.

Karya Tulis di berbagai bidang studi


Aqidah


Mafahim Yajib an Tusahhah

Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus

At-Tahzir min at-Takfir

Huwa Allah

Qul Hazihi Sabeeli

Sharh ‘Aqidat al-‘Awam


Tafsir


Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an

Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la

Al-Qawa’id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran

Hawl Khasa’is al-Quran


Hadits


Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif

Al-Qawa’id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadits

Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi

Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik


Sirah


Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil

Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah

‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif

Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah

Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah

Zikriyat wa Munasabat

Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra


Usul


Al-Qawa’id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh

Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh

Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari’ah al-Islamiyyah


Fiqh


Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha

Shawariq al-Anwar min Ad’iyat al-Sadah al-Akhyar

Abwab al-Faraj

Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar

Al-Husun al-Mani’ah

Mukhtasar Shawariq al-Anwar


Lain-lain:


Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)

Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)

Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)

Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da’wah ila Allah (Teknik Dawah)

Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)

Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)

Al-Muslimun Bayn al-Waqi’ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)

Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)

Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)

Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)

Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)

Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)

Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk dia, As-Sayyid Abbas)

Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa dia, As-Sayyid Alawi)

Al-Tali’ al-Sa’id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

Biografi, KH. Syaerozie Abdurrohim dan Silsilah Nasab




Ybia Indonesia - KH. Syaerozie dilahirkan pada tanggal 05 Dzulhijjah 1353 H, bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1935 M, di desa Kalisapu Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Lahir dari keluarga religius, nasab kedua orang tuanya menyambung hingga Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, merupakan Wali Songo dan ulama besar di tanah Jawa.   

Ayahnya bernama KH. Abdurrohim, ulama kharismatik juga pengasuh pondok pesantren Kepuh Palimanan Kabupaten Cirebon. Begitu pula ibunya, bernama Nyai Hj. Khairiyah adalah perempuan penyabar yang selain berprofesi sebagai ibu rumah tangga, juga aktif mendampingi suaminya dalam mendidik para santri.

Sedangkan kakeknya bernama Mbah Kiai Junaid, adalah seorang ulama sufi, mursyid thoriqoh Syathariyah sekaligus pendiri pondok pesantren Kepuh Palimanan Cirebon. Beliau juga di kenal sebagai ulama yang produktif menulis karya ilmiyah. Setidaknya, terdapat lima karya tulis yang dihasilkan oleh Mbah Kiai Junaid bin Kiai Nursaman bin Kiai Zaenudin. Tulisan-tulisan beliau mencakup bidang ilmu Fiqih, Tafsir & Tasawuf.

Silsilah Nasab :

Silsilah nasab KH. Syaerozie dari jalur Ayah adalah: KH. Syaerozie bin KH. Abdurrohim Kepuh bin Kiai Junaid Kepuh bin Kiai Nursaman Kragian Marikangen bin Kiai Zaenudin Kragilan bin Kiai Kamaludin bin Muhammad Syatariyah bin Pangeran Wijaya Raja Zaenuddin bin Pangeran Jayadikarta bin Pangeran Martawijaya Syamsudin bin Pangeran Abdul Karim Girilaya bin Pangeran Dzulkifli Sedang Gayam bin Pangeran Mas Muhammad Panembahan Ratu bin Pangeran Panembahan Sedang Kemuning bin Pangeran Pasarean Muhammad Arifin bin Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 

Silsilah nasab KH. Syaerozie dari jalur Ibu adalah : KH. Syaerozie bin Nyai Hj. Khairiyah binti KH. Ma’shum bin Mbah Kyai Musmina Keputon bin Mbah Muallama Ki Gede Bendungan bin Mbah Zaenudin Akbar Pengaringan bin Abdullah bin Muhammad Sholeh bin Ahmad Arya Wetan bin Maulana Abul Ma’ali bin Abul Mafakhir bin Maulana Nasrudin bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanudin Banten bin Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.      

Jalur Nasab ke Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya : KH. Syaerozie bin KH. Abdurrohim bin Mbah Kyai Junaid bin Mbah Kyai Nursaman Kragilan Marikangen bin Mbah Zaenudin Kragilan bin Nyai Maryam bin Nyai Khalimah bin Kyai Abdurrohim bin Syaikh Abdul Latif Kajen Plumbon bin Syaikh Faqih Ibrohim Talaga Majalengka bin Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya.  (Pada titik Syaikh Abdul Latif Kajen Plumbon, silsilah KH. Syaerozie Abdurrohim menyambung nasab dengan Syaikh Hasanudin Jatira pendiri Pesantren Babakan Ciwaringin, di mana Syaikh Hasanudin Jatira adalah cicit dari ke Syaikh Abdul Latif Kajen Plumbon).        

Jalur Nasab ke Syaikh Pasiraga Depok Cirebon : KH. Syaerozie bin Kyai Abdurrohim bin Mbah Kyai Junaid bin Nyai Mariah bin Mbah Kyai Hammad bin Buyut Nengsi bin Buyut Sawo bin Syaikh Pasiraga Depok Cirebon. 

Jalur Nasab ke Syaikh Tolabudin Kalisapu : KH. Syaerozie bin Nyai Khairiyah bin Nyai Qudisyah bin Kyai Jahuri Kalisapu bin Syaikh Tolabudin Kalisapu. 

Jalur Nasab Ke Buyut Muji Tengah Tani : KH. Syaerozie bin Nyai Khairiyah bin Nyai Qudisyah bin Kyai Jahuri Kalisapu bin Nyai Afiyah binti Buyut Muji Tengah Tani.

Jalur Nasab ke Syaikh Abu Soleh Pangeran Tjes: KH. Syaerozie bin Nyai Khairiyah bin Nyai Qudsiyah bin Nyai Fatimah Bin Ratu Ender Utari bin Pangeran Muna Sumareja bin Syaikh Abu Soleh Pangeran Tjes.     

Sejak kecil Kiai Syaerozie hidup bersama kedua orang tuanya di Kalisapu Gunung Jati tanah kelahiran, hingga menginjak usia 3 tahun, beliau pindah ke desa Kepuh kecamatan Palimanan kabupaten Cirebon. Perpindahan ini seiring dengan tuntutan kedua orang tuanya yang harus meneruskan aktivitas Kiai Junaid (Kakek KH. Syaerozie), sebagai pengasuh pesantren Kepuh Palimanan. 

Anak kedua dari delapan bersaudara ini, pada masa kanak-kanak, terlihat lebih menonjol dari teman-teman seusia. Ini dilihat dari berbagai hal, diantaranya sikap supel dalam bergaul, semangat tinggi dalam menjalankan riyadhoh, kemampuan dalam memainkan seni Islami dan kemampuan menguasai kitab kuning seperti kitab Al Ajurumiyah dan Safinah An Najah. 

Riwayat Pendidikan :

Pada masa kecil, Kiai Syaerozie hidup di bawah pengawasan kedua orang tuanya. Di sini, beliau mulai belajar agama dan dididik untuk menjadi anak yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip akhlaqul karimah (budi pekerti). 

Mula-mula, beliau belajar Al Qur’an, kemudian belajar ilmu-ilmu keIslaman lainnya, seperti akidah, fikih, Nahwu dan Shorof (tata bahasa arab). Beliau belajar kitab-kitab kuning seperti Aqidatul Awam, Safinatun Najah, Fathul Qarib, al Ajurumiyah dan Al Amrithi di bawah bimbingan ayahnya di pondok pesantren Kepuh Palimanan.

Di antara kawan-kawannya yang mengaji pada KH. Abdurrohim, Syaerozie dibilang sebagai anak yang cerdas, sebab, pada usia 14 tahun, beliau sudah mampu menghafal Nadzom Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab level tinggi). Ini prestasi yang tidak pernah diraih oleh kawan-kawan seangkatannya ketika belajar pada KH. Abdurrohim. Pada usia itu pula, Syaerozie mampu memberikan pengajaran kitab-kitab kuning kepada kawan- kawan seusianya.

Di samping belajar agama, beliau juga mengikuti pendidikan sekolah rakyat (SR) saat itu kepala sekolah Pak Nadriyah. Namun, di sekolah ini, tampaknya Syaerozie kurang mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya ketat dalam mengawasi pendidikan anaknya, kurang begitu antusias terhadap keinginan anaknya untuk mengikuti sekolah SR. Hanya saja, beliau merengek tetap lanjut sekolah, Syaerozie akhirnya diizinkan dan mampu menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat hingga tamat. 

Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon di bawah asuhan KH. Amin Sepuh, KH. Muhammad Sanusi, KH. Abdul Hannan, KH. Masduki Ali dan Masyaikh Babakan lainnya. Di pesantren ini, Kiai Syaerozie mempelajari kitab-kitab kuning yang belum pernah beliau pelajari dari ayahnya. Sebuah pesantren tertua di Jawa Barat yang didirikan oleh Syaikh Hasanuddin (Kiai Jatira), yang secara nasab, mbah buyut Kiai Syaerozie bernama Kiai Nursaman Kragilan Marikangen, bertemu nasab dengan Syaikh Hasanudin Jatira pendiri pesantren Babakan Ciwaringin. (lihat silsilah nasab di atas).    

Belum puas mendalami ilmu-ilmu agama, Kiai Syaerozie kemudian melanjutkan studi ke pondok pesantren Lasem Rembang Jawa Tengah di bawah asuhan Syekh Masduqi (Mertua Rois Am PBNU KH. Miftahul Akhyar). Dengan kegemaran membaca, wawasan keilmuannya mulai tampak berkembang. beliau mampu menggubah teks narasi kitab Mughni Labib ke dalam bentuk syair. Kemampuan dalam ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghoh inilah membuat beliau selalu di puji oleh gurunya.

Berkat ketekunannya mendalami ilmu- ilmu Islam sewaktu belajar pada ayahnya di pondok pesantren Kepuh dan guru-gurunya di pondok pesantren Babakan Ciwaringin, Kiai Syaerozie di pesantren Lasem Rembang Jawa Tengah sudah dianggap sebagai sosok santri yang telah menguasai ilmu gramatika Arab (Nahwu-Shorof), Kaidah Fiqih, Ushul Fiqih dan Balaghoh.

Karena itu, dalam jeda waktu singkat, Kiai Syaerozie sudah diberi kesempatan oleh Syekh Masduqi Lasem untuk mengabdi pada pesantren dengan menjadikannya sebagai pengurus pondok, beliau juga diberi kesempatan untuk mengajar sejumlah santri. 

Di pesantren ini, hasrat untuk menguasai sumber rujukan penting yang selalu dipakai oleh kalangan pesantren dalam bidang tafsir, kitab Tafsir Jalalain karya Syaikh Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi mulai tumbuh dalam diri Kiai Syaerozie. Beliau dengan tekun mempelajarinya sekaligus menghafalkannya. 

Kondisi ini pula yang mendorong Kiai Syaerozie melanjutkan studinya ke pondok pesantren Sarang Rembang. Konon, keinginannya melanjutkan belajar ke pondok pesantren Sarang Rembang adalah mengaji dan mengabdi pada masyaikh Sarang saat itu KH. Imam Kholil Syuaib, KH. Ahmad Syuaib, KH. Zubair Dahlan dan Masyayikh Sarang Rembang lainnya.  

Selain itu, lingkungan pesantren Sarang Rembang yang menerapkan pola hubungan terbuka antara santri dan masyarakat membuat Kiai Syaerozie tidak hanya mendapatkan pengalaman intelektual belaka, melainkan juga pengalaman berinteraksi sosial dengan masyarakat. Di sini, beliau dididik bergaul secara langsung dengan masyarakat.

Karakter supel dan gemar membantu tanpa pamrih membuat Kiai Syaerozie mendapatkan tempat tersendiri di tengah masyarakat Sarang Rembang. Mereka menganggap Kiai Syaerozie sebagai pengayom sekaligus mediator antara santri dan masyarakat. 

Di antara mata rantai keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Syaerozie adalah jalur Lasem dan Sarang Rembang. Jalur Lasem, Kiai Syaerozie berguru pada Syaikh Masduqi Lasem yang mempunyai guru bernama Syekh Umar bin Hamdan Al Maky.

Syekh Umar bin Hamdan adalah murid dari Abu Bakar Syatha. Sedangkan Abu Bakar Syatha mempunyai guru bernama Ahmad Zaini Dahlan murid Utsman Hasan Al Dimyathi. Beliau adalah murid Abdullah Khajazi As Syarqowi. Abdullah Khajazi mempunyai guru bernama Muhammad Salim Al Khafani.

Al Khafani mempunyai guru bernama Muhammad bin Muhammad Ad Diry murid Syibromilisi yang belajar pada Ali Khalabi. Sedangkan Ali Khalabi adalah murid dari Ali Az Ziyadi. Dan Al Ziyadi murid dari Yusuf Al Aramiyuni yang berguru pada Jalaluddin Al Suyuthi yang menyambungkan keilmuannya dari seorang mufassir bernama Syaikh Jalaluddin Al Mahalli.

Sedangkan mata rantai keilmuan dari jalur Sarang sebagai berikut : Kiai  Syaerozie berguru pada Mbah Kiai Imam Kholil Syuaib, Kiai Ahmad Syuaib dan Kiai Zubair Dahlan. Para pengasuh Pesantren Sarang ini berguru pada Syekh Umar bin Hamdan Al Maky, kemudian ke atasnya sama seperti jalur keilmuan Lasem.

Setelah tamat mesantren di Sarang Rembang, Kiai Syaerozie tidak kembali ke kampung halaman. Beliau kembali mengais ilmu ke pondok pesantren Babakan Ciwaringin, dengan tujuan tabarrukan (ngalap berkah) sebagaimana dikenal dalam tradisi pesantren. Baginya, pondok pesantren Babakan Ciwaringin sangat lekat di hati, di mana mbah buyut Kiai Syaerozie bernama Kiai Nursaman bin Kyai Zaenudin Kragilan Marikangen termasuk sifat keponakan dari Syaikh Hasanudin Jatira pendiri pesantren Babakan Ciwaringin (lihat silsilah nasab di atas).    

Di pesantren ini pula Kiai Syaerozie dinikahkan dengan seorang putri gurunya, KH. Abdul Hannan bin Kyai Thoyib yang bernama Nyai Hj. Tasmi’ah. Kemudian bersama istrinya, beliau membangun keluarga sederhana dan dikaruniai tujuh orang putra dan putri, dua orang perempuan dan lima laki-laki. Di desa Babakan kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon ini pula, bersama istrinya, KH. Syaerozie Abdurrohim merintis lembaga pendidikan bernama pondok pesantren putra putri Assalafie.  

Ngaji Bersama Santri

Dalam mengasuh santri putra putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, Kiai Syaerozie Abdurrohim bersama Istri lebih mengedepankan aspek tafaquh fiddin (pembekalan ilmu Agama). Dengan penuh kesabaran dan ketekunan beliau mendaras kitab-kitab fikih, kaidah fikih, ushul fikih, tafsir, hadits, tasawuf, nahwu dan shorof bersama para santri. 

Di antara aktivitas pengajian beliau di pesantren adalah usai sholat Subuh (pagi hari), Kiai Syaerozie mendaras kitab Tafsir, kemudian ba’da sholat Ashar beliau mengaji kitab akidah, fikih dan hadits. 

Kemudian sebagai salah seorang dewan Pendiri Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS) dan Madrasah Al Hikamus Salafyah Putri (MHSP) Babakan Ciwaringin, beliau juga mempunyai jadwal mengajar Qowa’idul I’rob (ilmu Nahwu), Qowa’idul Fiqhiyah (ilmu Kaidah Fikih) dan ilmu Tasawuf. 

Ketika tiba bulan suci Romadhon, di Pesantren Babakan Ciwaringin terdapat tradisi ngaji pasaran (kajian kitab kuning sekali khatam), dalam momentum ini Kiai Syaerozi Abdurrohim rutin membaca kitab Tafsir Jalalain, kitab Dalail Khoirot dan Kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab-kitab ini selalu beliau ijazahkan lengkap dengan sanadnya kepada para santri yang mengikuti pengajian pasaran Romadhon. 

Khusus pengajian Pasaran ini, waktu pembacaan hanya 15 hari terhitung dari tanggal 1 hingga 15 Romadhon. Peserta pengajian pasaran Romadhon selalu membludak, datang dari berbagai pesantren di pulau Jawa, mereka antusias mengiktui pengajian Tafsir Jalalain, Dala’il Khoirot dan Ta’limul Muta’allim yang diampu oleh Kiai Syaerozie Abdurrohim hingga beliau wafat pada tahun 1421 H / 2000 M. Sepeninggal beliau, pembacaan kitab-kitab ini dilanjutkan oleh putra beliau KH. Azka Hammam Syaerozie dan KH. Yasif Maemun Syaerozie.   

Riwayat Organisasi :

Selain menghabiskan waktu untuk mendidik santri di pesantren dan ceramah di berbagai daerah, Kiai Syaerozie juga dikenal aktif berorganisasi. Beliau tercatat pengurus di organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Majlis Ulama Indoensia (MUI) dan organisasi lokal jam’iyah Istoghotsah pesantren Babakan.

Di Nahdlatul Ulama, organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia ini, beliau beberapa kali menjadi tim perumus komisi diniyah bahtsul masa’il Muktamar NU, seperti pada Muktamar NU ke- 27 (Situbondo, 1984), Muktamar NU ke-28 (Krapyak, 1989) dan Muktamar NU ke-29 (Cipasung, 1994). Bahkan, beliau sempat menjadi ketua tim perumus saat Muktamar NU di Situbondo.

Pengalaman di organisasi NU tingkat daerah, beliau pernah duduk di salah satu jajaran pengurus Tanfidziyah. Sebagai anggota dewan Syuriah PCNU kabupaten Cirebon dan PWNU propinsi Jawa Barat. Selain itu, beliau juga termasuk deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Cirebon. 

Sedangkan di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), lembaga yang menaungi seluruh pesantren Nahdlatul Ulama, beliau pernah menjadi pengurus di bawah kepemimpinan RMI saat itu KH. Sahal Mahfudz. Selain di NU, Kiai Syaerozie Abdurrohim  juga aktif di MUI (Majlis Ulama Indonesia) kabupaten Cirebon. 

Adapun kegiatan di organisasi lokal, di antaranya sebagai salah seorang pendiri jam’iyah Istighotsah pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Sebagai pendiri dan penggerak jamiyah Istighotsah di Masjid Al Karomah Depok Cirebon, beliau juga menjadi penasehat beberapa organisasi sosial kemasyarakatan di Cirebon dan Jawa Barat.  

Karya Ilmiyah:

Selain aktif mendidik santri dan masyarakat melalui pondok pesantren, melalui ceramah-ceramah di berbagai daerah, beliau juga dikenal sebagai sosok Kiai yang produktif menulis.

Seluruh karya tulisnya menggunakan bahasa Arab. Padahal secara pendidikan, beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di negara Arab manapun, di antara karyanya adalah kitab Bad’ul A dib nadzom dari kitab Mughni Labib (ilmu grametikal Arab), kitab Syarh Al Luma’ (ilmu ushul fikih), Khulashoh Fi Ilmi Al Mustholah (Ilmu Hadits), Abyat As Salaf (gubahan sya’ir), Rasa’il Fil Adab Az Ziyaroh (Etika Ziaroh Kubur), dll.

Menurut Dr. KH. Amin Maulana salah seorang santri Kiai Syaerozie yang juga Ketua RMI-PWNU Jawa Barat, bahwa pada tahun 90 an kitab Bad’ul Adib karya Kiai Syaerozie pernah ditelaah oleh Grand Syaikh Al Azhar, hasilnya beliau sangat terkagum dengan karya Kiai Syaerozie yang notebene didikan ulama Nusantara tidak pernah mengenyam pendidikan di negara Arab. 

Kesaksian Santri & Masyarakat :

Banyak sekali keistimewaan almaghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim yang pernah disaksikan oleh para santri dan orang-orang dekatnya. Di antaranya adalah sikapnya yang sangat penyabar, tahan uji, tekun dan tulus. 

Setelah sekian lama belajar di pesantren Babakan Ciwaringin, Kiai Syaerozie mendapat isyarat (petunjuk) melalui mimpi agar pergi ke Lasem Rembang Jawa Tengah, tepatnya di pesantren Al Islah yang diasuh oleh Syaikh Masduqi (Mertua Rois Am PBNU KH. Miftahul Akhyar). Pada saat yang sama, konon Syaikh Maduqi Lasem juga bermimpi kedatangan seorang santri yang ciri-cirinya ada pada diri Kiai Syaerozie. Bisa disimpulkan bahwa antara guru dan murid saat itu sudah ada kontak batin, keduanya mempunyai petunjuk yang sama, walaupun belum bertemu secara fisik.

Sebelum Kiai Syaerozie diambil menantu oleh Almaghfurlah KH. Abdul Hannan - salah seorang pengasuh pondok pesantren Babakan Ciwaringin - ada isyarat (petunjuk) yang dirasakan oleh calon mertuanya tersebut. Pada suatu malam, KH. Abdul Hannan berkeliling melihat kamar para santri yang sedang istirahat (tidur), beliau melihat di dalam salah satu kamar ada cahaya yang terpancar dari wajah salah seorang santri. Karena malam yang sangat gelap, beliau hanya menandai kain sarung santri tersebut dengan memberi ikatan pada ujungnya. Kemudian pada keesokan harinya, beliau menanyakan kepada para santrinya siapa yang saat bangun tidur ujung sarungnya terdapat ikatan, ternyata santri tersebut adalah Kiai Syaerozie. 

Sekitar tahun 1985 ada wali santri bernama H. Daud asal Sumedang datang ke pesantren Assalafie untuk menjemput anaknya yang sedang sakit parah. Karena waktu sudah maghrib, wali santri tersebut menginap di kamar anaknya dan berencana pulang keesokan hari. Ketika malam jam 1.30 Pak Daud terbangun dan kaget melihat Kiai Syaerozie duduk membaca do’a di samping anaknya yang sakit parah, kemudian beliau langsung keluar begitu saja. Keesokan harinya anak Pak Daud sudah kembali sehat, akhirnya tidak jadi dibawa pulang.  

Kealiman Kiai Syaerozie bukan hanya di bidang ilmu agama saja, akan tetapi dalam disiplin keilmuan lainnya juga, di antaranya bidang konstruksi bangunan. Hal ini dibuktikan dengan bangunan seluruh asrama pesantren adalah merupakan hasil arahan dan desain beliau sendiri. “Kiai Syaerozie faham betul pola konstruksi, semua sarana dan prasarana pesantren Assalafie adalah hasil desain beliau, kami para santri  yang mengerjakannya”, menurut kesaksian KH. Amin Baejuri (Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat), di antara santri Kiai Syaerozie yang saat itu aktif di bidang pembangunan pesantren. 

Ustadz Syahroni santri asal Kalianda Lampung Selatan adalah di antara khodim ndalem rumah Al Maghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim mesantren di Assalafie Babakan Ciwaringin pada periode 1996 – 2000 M. Dia pernah diberi pesan khusus oleh Al Maghfrulah KH. Syaerozie beberapa hari sebelum beliau wafat, pesannya adalah : “Saat kamu boyong (selesai mesantren pulang ke kampung halaman), pekerjaan akan menghampirimu”. Benar saja, beberapa saat setelah dia menetap di kampung halaman, dia diterima sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara), padahal sebelumya sama sekai tidak pernah terbayang menjadi seorang ASN. 

Jasad Almaghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim masih utuh walaupun sudah dikebumikan selama kurang lebih 3 (tiga) tahun. Hal ini terkuak ketika istri beliau Ny. Hj. Tasmi’ah Abdul Hannan wafat pada tahun 2003 (tiga tahun setelah wafatnya KH. Syaerozie), sang istri akan dikuburkan tepat di sebelah pusara suami. Pada saat liang lahat digali, tanpa sengaja terbukalah liang lahat makam KH. Syaerozie dan terlihat jelas jasad beliau utuh terbungkus kain kafan dan mengeluarkan bau yang sangat harum, kejadian ini disaksikan oleh banyak orang, baik masyarakat, santri maupun alumni, di antara yang menyaksikan adalah KH. Fathulloh Sholihin (Pengasuh Pesantren Babakan), Ust. Muhammad Fihri (Santri asal Cirebon), beberapa alumni dan para penggali kubur.  

Kalam Wejangan :

Di antara wejangan almaghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim yang disampaikan kepada para santri maupun masyarakat adalah sbb : 

“Santri Kudu Bisa Ifadah Lan Istifadah” (santri harus bisa memberikan manfaat dan mengambil manfaat). “Niat Ta’lim Ngilangi Kebodohan, Luru Ridho’e Gusti Alloh Lan Syi’ar Agama Islam” (belajar untuk menghilangkan kebodohan, mendapat ridho Allah dan syiar Agama). “Wiridane Santri Iku Maca Qur’an Lan Nderes Pelajaran” (wiridan untuk santri membaca al Qur’an dan muthalaah pelajan). “Pragat Mondok Kudu Dueni Kesibukan, Aja Thoma” (selesai mesantren harus punya aktivitas usaha, agar tidak tamak). “Dadi Wong Kudu Loman, Aja Kagetan” (jadilah orang dermawan, tidak mudah tersinggung). “Santri Kudu Kendel” (santri harus pemberani). 

Wafat dan Penerus :   

KH. Syaerozie Abdurrohim wafat pada hari Rabu tanggal 10 Rabi’ul Akhir 1421 H bertepatan dengan tanggal 12 Juli 2000 M. Beliau dikebumikan di komplek makbaroh keluarga besar KH. Abdul Hannan Babakan Ciwaringin. 

Adapun putra putri KH. Syaerozie Abdurrohim dan Nyai Hj. Tasmi’ah Abdul Hannan adalah sebagai berikut : 1- Nyai Hj. Surotul Aini Syaerozie (istri KH. Ahmad Mufid Dahlan), 2- KH. Azka Hammam Syaerozie, 3- KH. Yasif Maemun Syaerozie, 4- Nyai. Hj. Ila Mursilah Syaerozie (istri KH. Lukman Hakim), 5- KH. Aziz Hakim Syaerozie, 6- KH. Abdul Muiz Syaerozie, 7- KH. Arwani Syaerozi. 

Demikian biografi almaghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim, muassis pondok pesantren putra putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, dimana kiprah beliau dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan sangat besar.  

Beliau adalah seorang Kiai dengan ribuan santri dan puluhan ribu alumni tersebar di berbagai daerah di Nusantara,  mampu menyatukan kealiman secara nasab (keturunan) dan kasb (pendidikan), mensinergikan ilmu dan amal, syari’at dan hakikat, untuk kemaslahatan dunia dan akhirat, ila ruhi al Maghfurlah KH. Syaerozi Abdurrohim, al fatihah.

Biografi KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta

 



Ybia Indonesia - Mbah KH. Munawwir Krapyak Ulama Ahlul Quran Besar Nusantara di Masanya - Apabila kita berbicara mengenai ulama nusantara yang ahli al-Quran maka tidak bisa dilepaskan dengan sosok KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta. Nama beliau telah tercatat dengan menggunakan tinta emas dan abadi dalam hati para penghafal dan pecinta al-Quran di bumi pertiwi ini. Nama beliau harum semerbak mewangi dan telah menghantarkan ribuan para penghafal al-Quran menjadi orang-orang yang siap lahir batin menjadikan al-QUran sebagai pedoman dan wirid hidup mereka. Lalu bagaimanakah sebenarnya perjalanan hidup KH. Munawwir krapyak ini? Pada kesempatan kali ini admin majelis walisongo akan membagikan sekilas mengenai biografi beliau yang sangat indah ini semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman dimanapun anda berada. 

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad

Cucu Seorang Pejuang Besar

Sosok KH. Munawir Krapyak tidak bisa lepas dari kebesaran nama Kyai Hasan Bashari atau lebih dikenal dengan Kyai Hasan Besari. Kyai Hasan Besari adalah merupakan ajudan pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam usaha penumpasan penjajah di muka bumi pertiwi ini. 

Pada waktu hidupnya, Kyai Hasan Besari ini critanya ingin menjadi seorang ulama yang hafal al-Quran dan karenanya beliau melakukan riyadhah dan berusaha keras lahir batin untuk menghafal al-Quran. Namun beliau suatu ketika mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi ahli al-Quran adalah anak cucu beliau. Demikian pula anaknya yang bernama KH. Abdullah Rosyad yang juga berjuang dengan riyadhah dan kedisiplinan tinggi untuk menghafal al-Quran. Bahkan ketika di tanah suci Makkah selama 9 tahun beliau riyadhah untuk menghafalkan al-Quran, namun beliau mendapatkan ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak cucunya.

Di kemudian hari KH. Abdullah Rosyad ini memiiki sebelas orang anak dari empat orang istri. Dari kesebelas orang anak ini salah satunya adalah KYai Haji Muhamad Munawwir yang merupakan anak beliau dari buah pernikahan beliau dengan salah satu istri bernama Nyai Khadijah dari Bantul, Yogyakarta.

Belajar Ilmu Agama 

Sejak kecil, KH. Munawir telah mendapatkan gemblengan pendidikan agama yang sangat ketat dari ayahnya sendiri yaitu KH. Abdullah Rosyad. Bahkan saking ketatnya beliau dituntut untuk bisa khatam dalam waktu seminggu sekali. Sang ayah dengan semangat besar senantiasa memberikan suntikan semangat dan dukungan baik materi maupun imateri pada beliau. Saking semangatnya, sang ayah akan memberikan hadiah sebesar Rp. 2,50 jika dalam satu minggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan al-Quran sekali. Padahal uang segitu di masa beliau cukup banyak untuk bisa digunakan membeli sesuatu. Dan memang pada akhirnya target khatam seminggu sekali dapat dilaksanakan oleh Munawir kecil dengan sangat baik, dan bahkan terus berlangsung secara istiqamah walaupun beliau tidak mendapatkan hadiah uang itu lagi.

Setelah dirasa cukup belajar kepada sang Ayah, KH. Munawir kecil kembali meneruskan perjalanan thalabul ilminya kepada para ulama besar baik itu ulama nusantara maupun ulama timur tengah. Adapun ulama nusantara yang pernah menjadi tempat beliau nyantri dan menimba ilmu adalah sebagai berikut:

Syaikh Abdurrahman Watucongol, Magelang

Syaikh Sholeh Darat, Semarang

Syaikh Kholil Bangkalan, Madura

Syaikh Abdullah, Kanggotan Bantul

Pada tahun 1888 masehi beliau melanjutkan rihlah thalabul ilminya ke tanah suci,dan di sana beliau belajar kepada para ulama besar setempat, diantaranya kepada:

Syaikh Syarbini

Syaikh Abdullah Sanqara

Syaikh Ibrahim Huzaimi

Syaikh Mukri

Syaikh Abdus Syakur

Syaikh Musthofa

Syaikh Yusuf Hajar, yang merupakan guru beliau dalam qiraah sab'ah

 Suatu ketika KH. Munawwir pernah bertemu dengan nabiyullah Khidir alaihis salam dan mendapatkan doa secara langsung dari beliau. Ceritanya, beliau di masa thalabul ilminya di tanah suci sedang dalam suatu perjalanan dari makkah menuju Madinah. Di suatu tempat di Rabigh beliau berumpa dengan seorang pak tua yang tidak beliau kenal. Pak tua tersebut kemudian mengajak berjabat tangan dan lantas  mendoakan beliau semoga beliau menjadi seorang hafidzul quran wa hamilul quran sejati. Menurut Syaikh Arwani Amin, Kudus, orang tua yang menjabat tangan dan mendoakan KH. Munawwir itu adalah Nabiyullah Khidir Alaihis Salaam.

Riyadhah KH. Munawir dalam Menghafal dan Menjaga al-Quran

KH. Munawir merupakan sosok ulama yang sangat tekun dan istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan al-Quran. Terkait dengan usaha beliau menjaga hafalan al-Quran maka beliau melakukan riyadhah yang sangat ketat dan sulit untuk ditiru oleh generasi sekarang ini. Beliau pernah melakukan riyadhah yaitu harus mengkhatamkan al-Quran sebanyak satu kali setiap 7 hari 7 malam. Riyadhah ini beliau lakukan selama 3 tahun. Setelah itu beliau meningkatkan kualitas riyadhahnya dengan cara mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari 3 malam sekali. Hal ini dilakukan selama 3 tahun. Setelah itu ditingkatkan lagi riyadhahnya dengan mengkhatamkan al-Quran 1 hari 1 malam sekali selama tiga tahun juga. Terakhir, beliau tingkatkan riyadhahnya dengan membaca al-Quran selama 40 hari tiada henti. 

Adapun waktu yang biasa beliau gunakan untuk mewiridkan al-Quran adalah setiap selesai shalat ashar dan setiap bakda subuh. Selain itu, dimanapun beliau berada baik di rumah maupun sedang bepergian, senantiasa beliau itu tidak pernah lepas dari mewiridkan al-Quran. Walaupun beliau seorang hafidz al-Quran sejati, namun beliau masih saja sering terlihat menggunakan mushaf untuk dibaca karena memang seperti itulah cara seorang hafidz al-Quran dalam menjaga hafalannya, jangan mentang-mentang sudah hafal kemudian meninggalkan mushaf suci al-Quran. Itu merupakan kesombongan yang tidak boleh ada sedikitpun dalam diri para penghafal al-Quran.

Beliau secara istiqamah mengkhatamkan al-Quran seminggu sekali tepatnya pada hari kamis sore beliau melakukan khataman al-Quran. Amalan ini beliau lakukan sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga beliau wafat. 

Apabila KH. Munawir sedang menghadapi peristiwa ataupun masalah yang menyangkut umat/santri, maka beliau biasanya segera mengumpulkan para santri untuk berdoa bersama. Biasanya beliau memerintahkan para santri untuk bersama-sama mewiridkan shalawat nariyah sebanyak 4444 kali dan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali. 

Sosok KH. Munawir merupakan sosok yang amat istiqamah dalam beribadah. Lebih-lebih terkait ibadah shalat fardhu, maka beliau senantiasa menggunakan awal waktu untuk melaksanakannya. Begitu pula dengan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib juga tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau juga merupakan ulama yang senantiasa melanggengkan shalat sunnah witir, shalat sunnah isyraq, shalat sunnah dhuha, dan shalat sunnah tahajud. Beliau juga sangat menekankan pentingnya untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua, ulama dan kaum muslimin yang telah lebih dahulu wafat dan bertabarukkan dengan mereka. Bahkan saking pentingnya, beliau mewajibkan para santri untuk istiqamah ziarah kubur setiap kamis sore. 

Di mata beliau, seorang penghafal al-Quran yang sejati adalah sebagai berikut:

Senantiasa bertakwa kepada Allah ta'ala

Mampu shalat tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaan surahnya

Beliau sangat mengagungkan al-Quran dan mushaf suci al-Quran. Beliau termasuk orang yang sangat ketat dalam hal ini, hingga beliau hanya akan memberikan undangan haflah khotmil quran kepada orang-orang yang kalau memegang mushaf al-Quran senantiasa dalam keadaan suci dari najis dan hadats.

Ulama Besar yang Penuh Kesederhanaan

Sosok KH. Munawwir juga merupakan sosok yang terkenal rapi dan bersih serta senantiasa menampilkan kesederhanaan hidup. Beliau senantiasa menggunakan imamah dan penutup kepala seperti sorban, peci, maupun kedua-duanya. Kalau berpakaian maka beliau menggunakan pakaian yang bersih, suci, dan sederhana, seperti jubah, sarung, serban senantiasa bersih. Apabila bepergian beliau menggunakan jasnhitam, serban hijau, sarung dan alas kaki. 

Beliau tidak pernah makan hingga kenyang, terlebih di waktu bulan ramadhan, maka beliau berbuka dan sahur ala kadarnya, cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Hal ini tentu saja akan bermanfaat bagi tubuh, karena mengonsumsi makanan dengan wajar akan menjadikan tubuh sehat dan proporsional, berbeda apabila terlalu kenyang maka akan menjadikan tidak bersemangat, mengantuk, dan pada akhirnya tidak bisa istiqamah beribadah kepada Allah. 

Keluarga KH. Munawwir Krapyak

KH. Munawwir Krapyak hidup di tengah-tengah keluarga besar beliau yang ahli al-Quran. Beliau memiliki lima orang istri yang mana istri ke lima beliau nikahi sesudah wafatnya istri beliau yang pertama. Dan berikut ini adalah nama-nama istri beliau:

Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta

Nyai Haji Sukistiyah, Wates, Yogyakarta

Nyai Salimah, Wonokromo, Bantul, Yogyakarta

Nyai Rumiyah, Jombang, Jawa Timur

Nyai Khodijah, Knggotan, Gondowulung, Bantul, Yogyakarta

Dari Nyai Raden Ajeng Mursydah ini beliau memiliki lima orang putra putri, yaitu:

Abdullah Siroj, wafat saat masih kecil

Khodijah, wafat pada saat masih kecil

Umatulloh, wafat pada saat masih kecil

KH. Raden Abdullah Afandi

KH. Raden Abdul Qadir Munawwir (lahir sabtu legi, pukul 17.00 WIB, tanggal 11 Dzulqa'dah 1338 H/24 Juli 1919 Masehi. Dari putra bungsu beliau inilah nantinya lahir seorang ulama besar, ahli al-Quran, hafidzul Quran, hamilul Quran di masa ini, yaitu Romo KH. Raden Muhammad Najib  bin Romo KH. Raden Abdul Qadir bin KH. Munawwir Krapyak, yang sekarang menjadi pengasuh utama Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Silsilah Sanad al-Quran Qiraah Imam Ashim dari Riwayat Hafs dan Thariq Ubaid bin al-Shabbah

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Hajj Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Karim al-Hajj Umar al-Badri, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ismail, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad Ar-Rasyidi, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Musthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Hijazi, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Ali bin Sulaiman al-Manshuri, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Sulthan al-Muzaahi, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Saifuddin Athaillah al-Fadholi, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah  Syakhadzah al-Yamani, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Al-Allamah Nashiruddin Ath-Thablawi, dari

Sayyidi Asy-Syaikh Zakariyya al-Anshari, dari

Sayyidi Al-Imam Ahmad As-Suyuthi, dari

Sayyidi al-Imam Abul Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Masyhur (yang terkenal) dengan nama Syaikh al-Jazairi, dari

Sayyidi al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq al-Mishri  asy-Syafi'i, dari

Sayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Syuja' bin Salim, bin Ali bin Musa al-Abbasi al-Mishri, dari

Sayyidi al-Imam Abul Qasim asy-Syathibi al-Andalusi asy-Syafi'i, dari

Sayyidi al-Imam Abul Hasan Ali bin Hudzail, dari

Sayyidi al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Najah al-Andalusi, dari

Sayyidi al-Imam al-Hafidz Abu Amr Usman bin Said ad-Dani, dari

Sayyidi al-Imam Abul Hasan Thahir, dari

Sayyidi al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dari

Sayyidi al-Imam Abu Muhammad Ubaid bin Ash-Shabah bin Shabih al-Kufi, dari

Sayyidi al-Imam Abu Amr Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi, dari 

SAYYIDI AL-IMAM 'AASHIM BIN ABI AL-JUNUD, dari

Sayyidi Al-Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Rabi'ah as-Salma, dari

Sayyid Usman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, dari Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'Anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dari Sayyidina Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu 'Anhu, dari

Sayyidina Wa Maulana Wa Habibina Rasulillah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa 'Alaa aalihi wa Shahbihi Wa Baraka Wa Sallam, dari

Robbul Alamain, Allah Yang Maha Esa melalui perantara malaikat Jibril Alaihis Salaam. 

Murid-Murid Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Yogyakarta

Mbah Munawir dan Para Putra serta Menantu

Selama berdakwah dan menyebarkan ilmu agama, Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir telah menghasilkan murid yang menjadi ulama besar di masanya dan penerus perjuangan dakwah islamiyahnya. Diantara sekian banyak murid beliau yang kemudian menjadi penerus perjuangan dakwah beliau adalah sebagai berikut:

Sayyidi Asy-Syaikh Arwani Amin, Kudus, Seorang ulama besar nusantara yang juga ahli Quran mumpuni

Sayyidi Asy-Syaikh Zuhdi, Nganjuk, Kertosono,

Sayyidi Asy-Syaikh Umar, Ponpes al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Sayyidi Asy-Syaikh Badawi, Kaliwungu, Semarang

Sayyidi Asy-Syaikh Noor, Tegalarum, Kertosono

Sayyidi Asy-Syaikh Umar Sholih, Kempek, Cirebon

Sayyidi Asy-Syaikh Murtadha, Buntet, Cirebon

Sayyidi Asy-Syaikh Muntaha, Pesantren al-Asyariyyah, Kalibeber, Wonosobo

Sayyidi Asy-Syaikh Ma'sum, Gedongan, Cirebon

Sayyidi Asy-Syaikh Abu Amar, kroya

Sayyidi Asy-Syaikh Syathibi, Kyangkong, Kutoarjo

Sayyidi Asy-Syaikh Suhaimi, Ponpes Tamrinus Shibyan, Benda, Bumiayu

Sayyidi Asy-Syaikh Hasbullah, Wonokromo, Yogyakarta

Sayyidi Asy-Syaikh Anshor, Pepedan, Bumiayu

Sayyidi Asy-Syaikh Muhyiddin, Jejeran, Yogyakarta

Sayyidi Asy-Syaikh Mahfudz, Purworejo

dan lain sebagainya

Karomah Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Diantara berbagai macam karamah yang dimiliki oleh KH. Munawir krapyak adalah beliau mampu menghafal keseluruhan al-Quran yang 30 juz hanya dalam jangka waktu 70 hari. Sebagian riwayat lainnya mengatakan hanya 40 hari. Kisahnya, ketika beliau sampai di tanah suci dan belajar ilmu agama di sana, beliau menulis surat kepada sang ayah yang isinya minta restu karena ingin menghafal al-Quran. Namun sang ayah belum mengizinkannya dan berniat akan mengirimkan surat balasan. Namun belum sempat surat balasan dikirim, sang ayah sudah mendapatkan surat kedua dari KH. Munawwir yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah terlanjur hafal 30 juz. 

Saat berusia 10 tahun, KH. Munawwir berangkat untuk mondok nyantri kepada Sayyidi Asy-Syaikh Kholil Bangkalan, Madura. Sesampainya di sana, saat iqamah shalat selesai dikumandangkan, tiba-tiba saja Kyai Kholil tidak bersedia menjadi imam. Beliau kemudian berkata, "Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. Munawir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qiraat."

Mbah KH. Said Gedongan Cirebon (kakek KH. Mahrus Aly Lirboyo) sering mengirim uang kepada KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta ketika mondok di Makkah, padahal beliau berdua tidak saling kenal. Hal tersebut didasarkan atas kekaguman Mbah Said saat mendengar kabar bahwa ada orang Jawa yang rela susah payah mondok di Makkah demi menghafal Qur’an.

Ketika Mbah Munnawwir pulang ke tanah air, beliau segera mencari alamat Mbah Said untuk bersilaturrahmi dan mengucapkan terima kasih. Dan di Cirebon pada saat yang sama, Mbah Said menginstruksikan kepada santri-santrinya untuk segera wudlu. Dan beliau berkata: “Kalo memang Kyai Munawwir wali, maka hari ini beliau akan datang ke sini. Dan santri yang tidak punya wudlu dilarang salaman dengan orang suci.” Subhanalloh, Mbah Munawwir hari itu juga datang di Gedongan Cirebon.

Beberapa tahun kemudian, melihat potensi & kemampuan Mbah Munawwir, Keraton Jogja mengangkat beliau menjadi seorang qodli (hakim). Disamping menjadi qodli, beliau juga membuka pengajian di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak jamaah pengajian beliau sehingga tempat yang tersedia tidak lagi muat. Hingga akhirnya Mbah Said memberikan sebidang tanah wakaf kepada Mbah Munawwir yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Krapyak.

Sosok Mbah Munawwir yang terkenal sebagai pembawa Qur’an ke Tanah Jawa tidak lepas dari figur ayahanda beliau yang bernama KH. Abdulloh Rosyad. Pada waktu muda, Mbah Rosyad punya keinginan kuat untuk menghafal Qur’an. Itu dibuktikan, ketika beliau menghafal dibarengi dengan riyadloh/ tirakat berendam di sungai (mungkin agar tidak ngantuk). Berkali-kali beliau melakukan tirakat tersebut dan suatu hari, beliau mendengar suara: “Hafalkan semampumu, karena itu bagianmu. Dan tidak usah berkecil hati, kamu akan diberi keturunan yang ahli Qur’an.” 

Karomah lainnya adalah terkait dengan Kyai Aqil Sirodj dari Kempek Cirebon. Tatkala beliau masih berusia delapan tahun, beliau belum bisa mengucapkan bunyi huruf R dengan jelas. Namun setelah meminum air bekas cucian tangan KH. Munawir sebagain sarana tabarukan, langsung saja beliau dapat mengucapkan bunyi huruf R dengan sangat jelas. 

KH.R. Abdul Qadir Munawir: Putra KH. Munawir

Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH Moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu Mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.

Adalah KH. Abdullah Anshar dari Gerjen, Sleman. Tatakala beliau mengetahui wafatnya Mbah Munawir, beliau menangis sejadi-jadinya dan mengatakan kalau sudah tidak kerasan lagi hidup di dunia fana ini tanpa adanya Mbah Munawir. Akhirnya, dengan izin Allah, setelah pulang ke rumah, beliau langsung menyusul pulang ke rahmatullah.

Karomah lainnya adalah KH. Moenawir Mampu menghatamkan Al-Quran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH Moenawir itu mampu Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi Makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Huffadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.

Wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawwir Krapyak

Tak ada manusia yang abadi selamanya hidup di alam raya ini. Begitu pula dengan KH. Munawwir Krapyak juga pada akhirnya harus menghadapi salah satu takdir ilahi yaitu kematian. Setelah berjuang menyebarkan dakwah islam dan mencetak generasi qurani selama puluhan tahun, beliau kemudian sakit selama kurang lebih 16 hari. Pada awalnya sakit yang beliau rasakan hanyalah sakit ringan, namun makin lama makin parah, dan tiga hari terakhir sangat parah hingga beliau tidak bisa tidur. Selama beliau sakit itu, selalu berkumandanglah bacaan surah Yasin sebanyak 41 kali yang dibaca oleh jamaah pengajian dan para santri secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lainnya menyusul, demikian tidak ada putusnya.

KH.R. Najib Abdul Qadir: Pengasuh Ponpes Krapyak Saat ini

Akhirnya, Mbah Munawir Krapyak meninggal bakda jumat tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 masehi, di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ketika menghembuskan nafas beliau yang terakhir, beliau ditunggui oleh salah seorang putri beliau yang bernama Nyai Jamalah. Setelah dikafani, shalat jenazah pun diadakan sebagai bentuk doa dan penghormatan bagi beliau. Lantaran banyak pelayat yang datang dan mendoakan maka shalat jenazah dilakukan bergiliran hingga berpuluh-puluh kali. Imam Shalat jenazah kala itu diantaranya adalah Sayyidi Asy-Syaikh Ma'shum (Suditan Lasem), Sayyidi Asy-Syaikh Manshur (Popongan, Klaten), Sayyidi Asy-Syaikh Raden Asnawi (Bendan, Kudus), dan lain sebagainya.

Setelah wafatnya Sayyidi Asy-Syaikh Munawir Krapyak, perjuangan beliau diteruskan oleh murid-murid dan putra putri beliau.  Sebelumnya almarhum KH. Munawir berwasiat agar keluarga yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah 2 orang putra dan 4 orang menantu. Namun karena beberapa udzur, maka perjuangan pesantren peninggalan beliau dikawal oleh tiga tokoh keluarga beliau yang amat terkenal dan merupakan ulama besar nusantara di masanya, yaitu:

Sayyidi Asy-Syaikh Romo KH. Raden Abdullah Afandi, yang merupakan putra beliau dari Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, yogyakarta. Beliau ditunjuk khusus untuk menangani pengajian al-Quran dan menngurusi hubungan pesantren dengan masyarakat luar pesantren. Beliau wafat pada tanggal 1 januari tahun 1968 Masehi.

Sayyidi Asy-Syaikh Raden Abdul Qadir, putra KH. Munawir dari buah pernikahannya dengan Nyai Raden Ajeng Mursyidah, Kraton, Yogyakarta. Di masa kepemimpinan beliau, pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dihimpun dalam satu wadah yakni madrasah Huffadz, yang dibantu oleh KH. Mufid Masud (menantu KH. Munawir), Kyai nawawi (menantu KH. Munawwir), dan KH. Hasyim Yusuf (Nganjuk).

Sayyidi Asy-Syaikh Ali Ma'shum (menantu KH. Munawir asal Lasem, suami dari Nyai. Hajah Hasyimah). Mbah Ali, begitu beliau dipanggil, telah membantu perjuangan dakwah pesantren Krapyak sejak tahun 1943 masehi. Dalam penyelenggaraannya, beliau menerapkan beberapa sistem pengajian,yakni sistem madrasi (klasik) dan sistem kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan pengajian individual atau dikenal dengan sistem sorogan. Mbah Ali Ma'shum wafat pada tahun 1989 masehi dan pernah menjadi orang nomor 1 dalam jam'iyyah nahdlatul ulama. 

Demikianlah sekelumit biografi agung Sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari. Semoga bisa bermanfaat dan kita bisa mendapatkan pelajaran berharga yang dapat ditemui dalam diri seorang penghafal dan penjaga serta pengamal al-Quran al-karim. 

 dari buku yang berjudul "Manaqibus Syaikh: KH. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta" yang diterbitkan oleh Majelis Ahlein (keluarga besar Bani Munawwir) Pesantren krapyak, Keluaran tahun 1975 masehi.


Muhammadun makmuri aziz

Biografi Shulthonul Auliya Syekh Abdul Qodir Al Jailani

 


Ybia Indonesia - Sayid Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani dilahirkan di Naif, Jailani Irak pada tanggal 1 bulan Romadhon, tahun 470 Hijriyah, bertepatan dengan 1077 Masehi.

Riwayat Keluarga

Beliau baru menikah pada usia 51 tahun. Kendati demikian beliau dikaruniai banyak keturunan, yaitu 20 putera dan 20 puteri dari empat orang istri. 


Nasab

Nasab dari Ayah

Sayyid Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani ayahnya bernama : Abu Sholeh Janki Dausat, putra Abdullah, putra Yahya az-Zahid, putra Muhammad, putra Daud, putra Musa at-Tsani, putra Musa al-Jun, putra Abdulloh al-Mahdi, putra Hasan al-Mutsanna, cucu Nabi Muhammad saw. putra Sayyidina 'Ali Karromallohu Wajhahu.


Nasab dari Ibu

Sayyid Abdul Qodir Jaelani ibunya bernama : Ummul Khoer Ummatul Jabbar Fathimah putra Sayyid Muhammad putra Abdulloh asSumi'i, putra Abi Jamaluddin as-Sayyid Muhammad, putra al-Iman Sayid Mahmud bin Thohir, putra al-Imam Abi Atho, putra sayid Abdulloh al-Imam Sayid Kamaludin Isa, putra Imam Abi Alaudin Muhammad al-Jawad, putra Ali Rido Imam Abi Musa al-Qodim, putra Ja'far Shodiq, putra Imam Muhammad al-Baqir, putra Imam Zaenal Abidin, putra Abi Abdillah al-Husain, putra Ali bin Abi Tholib Karromallohu wajhah.


Wafat

Beliau wafat pada tanggal 11 Rabiul Akhir tahun 561 Hijriyah bertepatan dengan 1166 Masehi, pada usia 91 tahun. Beliau dikebumikan di Bagdad, Irak.


Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

Masa Menuntut Ilmu

Syeikh Abdul Qadir Jailani dalam usia 18 tahun beliau sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Beliau menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Guru-Guru Beliau

Syeikh Abdul Qadir Jailani menimba ilmu hadits dan meriwayatkan dari: 

Abu Ghalib Muhammad Ibn al-Hasan al-Baqillani 

Abu Bakar Ahmad Ibn al-Muzhaffar 

Abu ar-Rahim Ali Ibn Ahmad Ibn Bayan 

Abu Muhammad Ja’far Ibn Ahmad al-Sarraj 

Abu Saad Muhammad Ibn Abd al-Malik Ibn Hasyisy 

al-Hafizh Abu al-Ghana'im Muhammad Ibn Ali al-Tursi

Abd al-Qadir Ibn Muhammad Ibn Abu Yusuf 

Abu utsman lsma’il Ibn Millahlan Abu al-Barakat Hibat Allah ibn Muhammad, 

Abu al-Husain Abd al-Haqq Ibn Abd al-Khaliq ibn yusuf 

Abu al-‘Izz Muhammad Ibn Abu Bakar

Syeikh Abdul Qadir Jailani belajar fikih dari:


Al Qadli Abu sa’id al-Mubarak Ibn Ali al-Makhzumi, 

‘Ali Abu al Khaththab al Kalwazani, 

Abu al-Wafa Ali Ibn ‘Uqail, serta 

Abu al-Hasan Ibn al Fara’.

Ilmu adab (etika spiritual) diperoleh Syeikh Abdul Qadir Jailani dari: 

syekh Abu Zakariyya al Tabrizi, 

Syekh Ahmad al-Dabbas al-Zahid dan dibimbing suluk olehnya, 

Syekh Yusuf Ibn Ayyub al-Zahid ketika masuk Baghdad di masa-masa akhir hayatnya, 

Taj al- ‘Arifin Abu al-Wafa.


Mengasuh Madrasah

Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jilani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada Syeikh Abdul Qadir Jailani, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Penerus Beliau

Anak-anak Beliau


Anak-anak beliau yang menjadi penerus beliau menjadi ulama adalah:


Syeikh Abdul-Wahab

Syeikh Abdul-Razzaq

Syeikh Abdul-Aziz

 Syeikh Isa

Syeikh Musa

 Syeikh Yahya

 Sheikh Abdullah

 Syeikh Muhammad 

Syeikh Ibrahim.

   

Murid-murid Beliau

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti:

Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam

Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

 as-Suhrawardi


 Karya   Karya-karya Beliau


Karya-karya beliau dibukukan adalah:

Tafsir Al Jilani

al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,

Futuhul Ghaib.

Al-Fath ar-Rabbani

Jala' al-Khawathir

Sirr al-Asrar

Asror Al Asror

Malfuzhat

Khamsata "Asyara Maktuban

Ar Rasael

Ad Diwaan

Sholawat wal Aurod

Yawaqitul Hikam

Jalaa al khotir

Amrul muhkam

Usul as Sabaa

Mukhtasar ulumuddin


Karomah.


Mampu Terbang Di udara dan memandang Lauh Mahfudz


Salah satu Karomah beliau sangat mencengangkan adalah  ketika beliau  mampu melayang layang terbang di udara.  Hal ini sama seperti riwayat yang dikatakan oleh syekh Hafash . Selain itu ketika matahari terbit dipagi hari, matahari selalu memberi ucapan  sama kepada Syeikh Abdul Qadir Jailani. Allah SWT juga memberikan sebuah keajaiban kepadaSyeikh Abdul Qadir Jailani agar mampu memandang Lauh Mahfudz yang berada di atas langit. Syeikh Abdul Qadir Jailani juga makrifat/ bisa mengetahui dan membedakan mana orang yang berkepribadian jahat dan baik. Hal luar biasa ini sungguh pantas beliau dapatkan karena beliau adalah sosok waliyullah yang faqih dan wara.


Mendidik Jin & Makhluk Ghaib

Kedalaman ilmu agama yang beliau miliki, tak sedikit kejadian ghaib yang selalu dialami oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani. Dahulu pernah beliau bermukim di wilayah padang pasir tandus selama dua puluh lima tahun.  Sering sekali Syeikh Abdul Qadir Jailani di ikuti oleh makhluk ghaib sebangsa jin di wilayah itu. Bagi orang biasa tentu mungkin akan merasa takut bila setan-setan akan datang mengganggu. Namun berkat keagungan Allah, Syeikh Abdul Qadir Jailani mampu mengajari ilmu agama kepada jin/ setan itu. Jin itu didik beliau agar bisa beriman dan mengenal tuhannya yaitu Allah SWT. Subhanallah.


Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani Mengembalikan Wanita Yang Diculik Bangsa Jin


Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani, berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.

Maka Syeikh Abdul Qadir Jailani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ”

Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar.

Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat itu dan melaksanakan arahanSyeikh Abdul Qadir Jailani itu. Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang cuba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan.

Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya. Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”

Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-JilaniSyeikh Abdul Qadir Jailani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama Syeikh Abdul Qadir Jailani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya.

Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu.

Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”

Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapaknya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala.

Ada seorang perempuan datang menghadap Syeikh Abdul Qodir mengantarkan anaknya untuk berguru pada beliau, untuk mempelajari ilmu suluk, Syeikh Abdul Qadir Jailani memerintahkan agar si anak harus belajar dengan tekun mengikuti cara-cara orang salaf dan ditempatkan di ruang kholwat.

Beberapa hari kemudian si ibu selaku orang tua murid datang menengok anaknya dan dilihat tubuh anaknya itu menjadi kurus, makannya hanya roti kering dan gandum. Si ibu kemudian masuk ke ruang Syeikh Abdul Qadir Jailani dan melihat di hadapannya tulang-tulang sisa makanan daging ayam yang sudah bersih. Ibu itu berkata :"Menurut penglihatan saya Tuan Syeikh makan dengan makanan yang serba enak. Sedang anak saya badannya kurus karena makanannya hanya bubur gandum dan roti kering, untuk hal itu apa maknanya sehingga ada perbedaan?".

Mendengar pertanyaan itu lalu Syeikh Abdul Qadir Jailani meletakkan tangannya di atas tulang-belulang ayam sambil bekata QUUMII BI IDZNILLAHI TA'ALA ALLADZI YUHYIL 'IDZOMA WA HIYA ROMIIM

(berdirilah dengan idzin Alloh yang menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur).

Lalu berdirilah tulang-belulang itu menjadi ayam kembali sambil berkokok :

Syeikh Abdul Qadir Jailani berkata pula kepada orang tua anak itu : "Kalau anakmu dapat berbuat seperti ini, maka ia boleh makan seenaknya asal yang halal".

Ibu itu merasa malu oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani dan mohon maaf atas prasangka yang buruk. Dengan keyakinan yang bulat, ibu itu menyerahkan anaknya kepada beliau untuk dididik.


Berjalan Secepat Kilat

Dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah bercerita tentang kondisi aneh yang beliau alami. Dahulu pernah beliau melakukan sebuah perjalanan Panjang di padang pasir daerah Baghdad. Tiba-tiba hal mengejutkan terjadi pada diri beliau, dalam kondisi tidak sadarkan diri beliau lari dengan kencangnya hanya dalam waktu satu jam perjalanan saja. Rasa aneh lantas terasa ketika beliau tiba-tiba telah sampai di daerah Syastar. Secara akal hal ini tidaklah mungkin terjadi dikarenakan jarak kota Baghdad dan syastar umumnya hanya bisa ditempuh selama dua belas hari perjalanan. Namun karena keajaiban Allah, Syeikh Abdul Qadir Jailani bisa menempuhnya hanya dalam masa 1 jam saja.

Karomah Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani Berada di Banyak Tempat Dalam Waktu Bersamaan

Diriwayatkan pada suatu hari di bulan Romadhon, Syeikh Abdul Qadir Jailani diundang berbuka puasa oleh murid-muridnya sebanyak tujuh puluh orang di rumahnya masing-masing. Mereka berkeinginan agar Sang guru berbuka puasa dirumahnya. Mereka tidak mengetahui bahwa diantara mereka masing-masing mengundang Syeikh Abdul Qadir Jailani untuk berbuka puasa pada waktu yang bersamaan. Tiba waktunya berbuka puasa bertepatan Syeikh Abdul Qadir Jailani berbuka puasa di rumah beliau, detik itu pula rumah muridnya yang tujuhpuluh orang itu masing-masing dikunjunginya dan berbuka puasa tepat dalam waktu yang bersamaan.

Peristiwa ini di kota Baghdad sudah masyhur terkenal di kalangan masyarakat, dan sudah menjadi bibir masyarakat dalam setiap pembicaraan dan pertemuan.


Untaian Nasehat

Berikut nasehat-nasehat beliau:

1. Sesungguhnya bencana terhadapmu bukan untuk menghancurkan mu melainkan sesungguhnya akan menguji mu, mengesahkan kesempurnaan imanmu dan menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu.

2. Orang itu dikatakan dekat dengan Allah selama dia meluangkan waktunya untuk berdzikir setiap hari.

3. Wahai muridku, jangan jadikan apa yang kamu makan dan minum, yang kamu pakai, yang kamu nikahi dan berkumpul dengannya sebagai tujuan dan cita-cita. Semuanya adalah dorongan hasrat dan hawa nafsu.

4. Bersopanlah yang baik terhadap-Nya dan terhadap makhluk-Nya. Sedikitlah berbicara yang tidak berguna bagimu.

5. Orang-orang yang meninggalkan amal dalam keadaan berilmu, ilmu itu akan melupakanmu dan berkahnya hilang dari hatimu. Wahai orang-orang yang bodoh! seandainya kamu mengetahui-Nya niscaya kamu mengetahui siksaan-siksaan-Nya.

6. Dunia boleh saja di tanganmu atau berada disakumu untuk engkau simpan dan pergunakan dengan niat yang baik. Tetapi jangan meletakkannya didalam hati. Engkau boleh menyimpannya diluar pintu (hati), tetapi jangan memasukkannya ke dalam pintu. Karena hal itu, tidak akan melahirkan kemuliaan bagimu.

7. Wahai hamba Allah, yang disebut kerja keras itu bukan terletak pada kekesatan pakaianmu dan makananmu, kerja keras adalah terletak pada sikap zuhud hatimu.

8. Sabar adalah suatu ketentuan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban, selain itu sabar adalah suatu kekuatan.

9. Janganlah kamu menjadi orang yang berlisan syukur, tetapi hatimu berpaling dari hak yang datang kepadamu, memang demikianlah kebanyakan orang.

10. Lelah itu selama kamu berkemauan untuk menuju dan berjalan kepada-Nya.

11. Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.

12. Jika dunia dan akhirat datang melayanmu, dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu tuhanmu dan menetap lah di dalamnya. Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti "buah pikiran".

13. Terkadang kamu meminta pertolongan kepada-Nya dengan menentang-Nya.

14. Penyesalan: perbaikilah hatimu, karena jika hati telah baik, segala tingkah lakumu akan menjadi baik.

15. Kefakiran adalah tidak punya sesuatu yang di butuhkan, dan jika tidak membutuhkan sesuatu maka dinamakan kaya.

16. Janganlah kamu takut kepada makhluk dan janganlah kamu berharap kepada mereka, kerana hal itu menunjukkan betapa lemahnya imanmu. Hendaklah engkau istiqamah dalam cita-citamu, sehingga engkau memperolehi ketinggian, kerana Allah SWT akan memberimu sesuatu yang layak dengan cita-citamu, dengan kebenaran dan keikhlasan mu. Bersungguh-sungguhlah engkau, songsong dan kejarlah, kerana sesuatu itu tidak akan datang kepadamu begitu sahaja, tanpa berusaha memperolehinya, sedangkan engkau mempunyai kewajiban untuk melakukan amal kebaikan sebagaimana engkau diwajibkan untuk mencari rezeki.

17. Jadikanlah akhiratmu sebagai modalmu dan jadikan duniamu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang masih tersisa maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu.

18. Berpikirlah, bahwasanya sesuatu yang kamu cintai di dunia ini tidak akan kekal selamanya. Tidak abadi dan pasti fana. Jika kamu telah menyadari hal ini, maka kamu tidak akan melupakan-Nya walaupun sekejap.

19. Wahai anak! Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Dan jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil maka lakukanlah. Kamu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah.

20. Nasihatilah dirimu terlebih dahulu barulah kemudian menasihati orang lain. Kamu harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah kamu menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki.

21. Orang yang zuhud itu berpuasa dari makan dan minum, sedangkan orang yang arif itu berpuasa tanpa diketahui.

22. Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu yang kurang baik, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.

23. Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing². Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.


Lahum Al Fatihah.

Maqbaroh Shulthonul Aulia' kanjeng Syekh Abdul Qodir Al Jailani r.a.

Bagdhad Iraq.


Wallahu a'lam. 

Semoga bermanfaat. 

Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani



Ybia Indonesia - Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Atau dikenal juga dengan Sayyid Abdul Qadir dilahirkan di Naif, di kawasan daerah Jailan, Persia. Ia dilahirkan pada bulan Ramadhan 470 H, kurang lebih bertepatan dengan tahun 1077 M. Ayahnya bernama Abi Shalih Abd Allah Janki Dusti, seorang yang taat kepada Allah dan mempunyai garis keturunan dengan Hasan RA. Ibunya adalah Umm al-Khayr Fatimah binti Abi Abd Allah al-Sawma’i yang bergaris keturunan dengan Husain RA.

Tidak mengherankan jika bayi calon sufi ini sejak lahir sudah memiliki keunikan tersendiri. Menurut penuturan ibunya, bayi Abdul Qadir selama bulan suci Ramadhan tidak pernah menyusu pada siang hari. Ia baru menyusu bila waktu maghrib telah tiba. Tumbuh dan menetap di kota kelahirannya hingga berusia delapan belas tahun, ia kemudian menimba ilmu di Baghdad dan menetap di kota ini hingga wafat. Selanjutnya Jailani menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nama atau jati diri tokoh sufi ini, yakni Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani.

Pendidikan agama yang pertama digoreskan pada diri syeikh sufi ini adalah kecintaan pada Al-Qur’an. Belajar membaca Al-Qur’an dan mendalami kandungannya pada Abu al-Wafa Ali ibn Aqli dan Abu al-Khattab Mahfuz al-Kalwadzani. Kedua ulama ini berasal dari kalangan Mazhab Hambali.

Syeikh Abdul Qadir Jailani mempelajari hadits Nabi dari beberapa ulama hadits terkenal pada zamannya. Salah satunya adalah Abu Ghalib Muhammad ibn al-Hasan al-Balaqalani. Adapun pendalaman ilmu fiqihnya dilakukan pada ulama fiqih Mazhab Hambali, seperti Abu Sa’d al-Mukharrami. Sedangkan bidang bahasa dan sastra dipelajari dari Abu Zakarya ibn Ali al-Tibrizi. Sementara itu, di bidang tasawuf diambilnya dari Hammad al-Dabbas.

Syeikh Abdul Qadir mulai memimpin majelis ilmu di Madrasah Abu Sa’d al-Mukharrami di Baghdad sejak Syawal 521 H. Sejak itu namanya harum sebagai seorang sufi yang zuhud. Majelis yang diselenggarakan di madrasah ini penuh sesak dengan pengunjung yang haus mencari ilmu dan pencerahan ruhani. Madrasah itu pun diperluas, namun tetap tidak dapat menampung hadirin. Akhirnya majelis atau forum ilmiah itu diadakan di beberapa masjid di luar kota Baghdad. Setiap Syeikh datang memberikan nasihat, yang hadir bisa mencapai tujuh puluh ribu orang. Beliau menjadi sufi yang menyejukkan umat dan menjadi sumber mata air ruhani yang terus memancarkan kehidupan batin.

Murid-murid Syeikh dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan.

Pertama, mereka yang hanya datang untuk mengikuti forum pengajian yang dibimbingnya. Golongan ini tidak terus-menerus hidup bersama Syeikh.

Kedua, mereka yang hidup bersama Syeikh dalam waktu yang cukup lama. Golongan ini menjalani kehidupan intelektual dan keruhanian di bawah bimbingan Syeikh.

Syeikh mendapat beberapa gelar kehormatan. Pertama, di belakang namanya sering dilengkapi dengan sebutan Muhyl al-Din wa al-Sunnah. Sebutan ini secara bahasa berarti tokoh yang menghidupkan agama dan Sunnah Nabi. Melekat dengan gelar tersebut beliau juga mendapat gelar kehormatan Mumit al-Bid’ah, yakni tokoh yang gigih menghapuskan bid’ah atau penyimpangan di dalam agama dari berbagai perbuatan yang tidak sejalan dengan Sunnah Nabi.

Syeikh juga mendapat gelar kehormatan al-Imam al-Zahid, pemimpin yang bersikap zuhud dalam kehidupan dunia. Gelar ini mencerminkan reputasinya sebagai tokoh sufi yang memandang dunia dan kehidupan ini sebagai modal untuk meningkatkan kualitas ruhani, meraih nilai keabadian, dan mendapatkan kehidupan ukhrawi. Dunia bukan tujuan pokok dalam hidup, bukan ujung dalam perjalanan dan bukan pula segalanya. Syeikh berkata, “layanilah Tuhanmu dengan sepenuh hati, maka dunia akan melayanimu.”

Syeikh juga sering dipanggil dengan gelar kehormatan al-Arif al-Qudwah. Secara bahasa gelar ini berarti seorang yang patut menjadi teladan. Gelar ini mencerminkan tingkat kesufian Syeikh yang sudah mencapai maqam Arif bi Allah, yakni posisi sangat mengenal Tuhannya. Syeikh juga mendapatkan gelar kehormatan Sultan al-Awliya’, pemimpin para wali.

Sebelum tahun 521 H, atau sebelum beliau berusia 51 tahun, beliau belum menampakkan dirinya kepada khalayak ramai dan tidak perpikir untuk menikah, karena menurutnya berkeluarga akan menghambat seseorang dalam perjalanan menuju Allah. Setelah berusia 51 tahun beliau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW menikah dengan empat orang wanita yang baik dan taat kepadanya. Dari perkawinan tersebut beliau dikaruniai anak sebanyak empat puluh sembilan orang; laki-laki sebanyak dua puluh tujuh dan lainnya wanita.

Empat orang putranya menjadi orang-orang yang terkenal karena pelajaran dan ilmunya. Mereka itu adalah: Syeikh Abdul Wahhab, putra sulung. Ia mempunyai ilmu yang luas dan dalam. Ia diberi kewenangan menjaga madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Setelah ayahnya wafat, dialah yang memberikan ajaran dan fatwa tentang syariat Islam. Ia memegang suatu jabatan di dalam negara dan menjadi seorang yang sangat terkenal. Putra berikutnya adalah Syeikh Isa, seorang guru hadits dan ahli fiqih yang agung. Ia adalah seorang pengarang puisi dan juru penerang yang baik, di samping seorang penulis buku-buku sufisme. Ia tinggal dan wafat di Mesir. Berikutnya, Syeikh Abdul Razzaq, seorang alim dan hafizh hadist. Seperti halnya ayahnya, ia juga terkenal dengan kejujuran dan kebenaran serta di dalam kesufian dan popularitasnya di Baghdad. Keempat adalah Syeikh Musa, seorang alim ulama yang ulung. Ia pindah ke Damaskus dan meninggal dunia di sana. Melalui Syeikh Isa, tujuh puluh ajaran ayahnya dalam buku Futuhul Ghaib sampai kepada kita. Sedangkan Abdul Wahab adalah sumber dua ajaran terakhir dalam buku itu. Ia hadir ketika ayahnya terbaring sakit, sebelum kembali ke Rahmatullah.

Adapun Syeikh Musa, ada dinyatakan di akhir buku itu, di dalam ajaran ketujuhpuluh sembilan dan kedelapan puluh. Dalam dua ajaran terakhir, ada disebutkan dua putranya yang hadir ketika ayahnya akan berpulang, yaitu Abdul Razzaq (nomor tiga) dan Abdul Aziz.

Setelah Wali Allah ini tutup usia pada 10 Rabiul Akhir 561 H dalam usia 91 tahun, anak-anak dan murid-muridnya mendirikan suatu organisasi yang bertujuan menanamkan ruh ke-Islaman yang sejati dan membetulkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah umat manusia. Organisasi ini disebut ‘Thariqah Qadiriyyah’, yang hingga hari ini terkenal dengan keteguhannya di dalam memegang syariat Islam. Thariqah inipun telah memberikan andil yang besar kepada Islam. Ada tiga ajaran dan nasehatnya yang terkenal di seluruh dunia, yang paling agung adalah Futuhul Ghaib, yang kedua Fathul Rabbani, yaitu kumpulan enam puluh delapan ajaran yang disusun pada 545 - 546 H. Sedangkan, yang ketiga adalah qashidah atau puisi yang menceritakan peranan dan keberadaan Aulia Allah, yang menurut istilah sufisme dinamakan Qasidatul Ghautsiyyah.

والله أعلم بالصواب


Sumber:

Syaikh Abdul Qadir Jailani, Kunci Tasawuf Menyingkap Rahasia Kegaiban Hati (Terjemahan dari buku asli Futuhul Ghaib), Penerbit Husaini, Bandung (1985)

Tim UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Tasawuf, Penerbit Angkasa, Bandung (2008)