Tampilkan postingan dengan label Pangeran Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangeran Hidayatullah. Tampilkan semua postingan

Wasiat Pangeran Hidayatullah: Perjuangan yang Tak Pernah Berakhir

 


Ybia Indonesia - Pangeran Hidayatullah, salah satu pahlawan Banjar, mengumpulkan panglima-panglimanya di sebuah goa yang mampu menampung sekitar 1000 pasukan. Di antaranya ada 4 panglima sektor dan panglima lainnya, yaitu:

1. Pangeran Antasari (Tengah)

2. Pangeran Aminullah (Timur)

3. Demang Lehman (Barat)

4. Tumunggung Jalil (Banua Lima)

Pangeran Hidayatullah berkata, "Aku hendak mendapati mamaku yang lagi sakit keras. Aku baduaja lawan adingku Pangeran Abdullah karena aku akan menyamar pakaian biasa."

Pangeran Hidayatullah juga berkata, "Bapirasat jika terjadi sesuatu dengan diriku, maka aku bapasan lawan bahagian ikam teruskan perjuangan kita. Mengusir bangsa kafir nang manjajah kita, sesuai dengan tekat kita dan keyakinan kita: INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI ROBBIL ALAMIN."

Itu kata yang terakhir diucapkan oleh Pangeran Hidayatullah kepada panglima-panglimanya yang setia dengan Kerajaan Banjar.

Maka berangkatlah Pangeran Hidayatullah dengan adiknya Pangeran Abdullah, menaiki rakit bambu menuju Astambul. Di tengah perjalanan, antara Pengaron dan Matraman, beliau dikepung dan disergap, dan ditembaki di atas rakit bambu yang beliau naiki. Di atas air, beliau mampu merapat ke darat dan melawan, dan akhirnya gugurlah tertembak adik beliau Pangeran Abdullah di Kampung Bamban Badarah, antara Pengaron dan Matraman.

Dan akhirnya, Pangeran Hidayatullah tertangkap, dan beliau meminta kepada penghianat dan Kompeni Belanda untuk membawa jasat adiknya untuk dimakamkan di Martapura dekat dengan makam ayahnya, Sulthon Abdurrahman di Pasayangan.


Ini cerita langsung Pangeran Hidayatullah dengan anak cucunya. 

Pangeran Hidayatullah dan Jubah Kuning dari Datu Pamaton



Ybia Indonesia - Pangeran Hidayatullah, salah satu pahlawan Banjar, memiliki kisah yang sangat menarik. Pada saat pecah perang Banjar pada 28 April 1859, istana Kesultanan Banjar di Martapura dikepung oleh kompeni penjajah Belanda dan antek-antek penghianat kerajaan. Mereka berhasil menguasai Martapura dan merebut Kesultanan Banjar.

Pangeran Hidayatullah sebagai Sulthon Banjar memerintahkan kepada pengikutnya dan beberapa panglima pasukan yang setia padanya untuk meninggalkan Martapura dan menuju Gunung Pamaton untuk membuat benteng pertahanan. Di kaki gunung, mereka membuat pos-pos penjagaan untuk mengawasi pasukan musuh.

Namun, pos-pos pertahanan Pangeran Hidayatullah diserang oleh pasukan Belanda. Banyak pasukan Belanda yang berguguran dan kocar-kacir dipukul mundur oleh panglima Pambakal Intal dan Panglima Tumunggung Gamar.

Setelah pertempuran, Pangeran Hidayatullah dan panglimanya berunding membahas serangan balasan pasukan Belanda. Saat itu, terdengar suara seseorang meminta Pangeran Hidayatullah dan panglimanya untuk naik ke puncak Gunung Pamaton.

Di puncak gunung, Pangeran Hidayatullah melihat seseorang duduk di singgasananya. Orang tersebut memberikan baju kebesarannya berwarna kuning dan memakaikan kepada Pangeran Hidayatullah. Orang tersebut berpesan, "Hai cucuku, ini tempatku, ini wilayahku, ini kerajaanku. Maka carilah tempat yang lain."

Pangeran Hidayatullah berjanji siap melaksanakan pesan orang tersebut. Setelah mengenakan pakaian kebesaran itu, beliau dikawal oleh pasukan gaib ke mana pun Pangeran Hidayatullah pergi, menjumpai panglima-panglimanya di seluruh Banua Lima dengan mudahnya.

Kompeni Belanda sempat dibuat bingung dengan kemampuan Pangeran Hidayatullah yang seolah-olah ada di mana-mana dalam waktu bersamaan. Mereka memberi gelar Pangeran Berjubah Kuning kepada Pangeran Hidayatullah.