Tampilkan postingan dengan label Walisongo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Walisongo. Tampilkan semua postingan

Sunan Bonang: Wali Songo yang Menyebarkan Islam Melalui Seni dan Kebudayaan



Ybia Indonesia - Sunan Bonang, yang memiliki nama asli Raden Makhdum Ibrahim, adalah salah satu tokoh Wali Songo yang paling dikenal karena kecerdasan strateginya dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Tuban dan sekitarnya. Lahir sekitar tahun 1465, beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.

Warisan dakwahnya yang paling ikonik bukan hanya melalui lisan, tetapi melalui seni dan kebudayaan yang menyentuh hati masyarakat.


Dakwah Melalui Seni Gamelan

Kisah Sunan Bonang yang paling terkenal adalah kepiawaiannya dalam mengubah corak gamelan Jawa yang saat itu sangat kental dengan nuansa Hindu-Budha.

- Pencipta Alat Musik: Beliau memodifikasi bentuk gamelan dan menciptakan instrumen yang disebut Bonang (sejenis gong kecil).

- Gending Jawa: Beliau menciptakan gending-gending (lagu) yang liriknya disisipi ajaran tauhid. Lagu yang paling legendaris hingga saat ini adalah Tombo Ati.

- Filosofi Suara: Konon, saat Sunan Bonang memainkan gamelannya, suaranya mampu memikat warga untuk berkumpul. Setelah mereka berkumpul, barulah beliau menyelipkan ajaran Islam dengan cara yang sangat lembut dan tanpa paksaan.


Karomah dan Pertemuan dengan Sunan Kalijaga

Salah satu fragmen sejarah yang paling populer adalah peran Sunan Bonang dalam "menaklukkan" Raden Said (Sunan Kalijaga). Dikisahkan bahwa Raden Said yang saat itu menjadi perampok budiman (Lokajaya) mencoba membegal Sunan Bonang. Namun, Sunan Bonang menunjukkan kesaktiannya dengan mengubah buah kolang-kaling menjadi emas. Hal ini membuat Raden Said sadar bahwa harta duniawi tidak ada artinya dibandingkan ilmu spiritual. Di bawah bimbingan Sunan Bonang-lah, Raden Said akhirnya bertapa dan kelak menjadi anggota Wali Songo yang hebat.


Karya Sastra: Suluk Wujil

Selain seni musik, Sunan Bonang adalah seorang intelektual yang menulis banyak karya sastra. Salah satu yang paling fenomenal adalah Suluk Wujil. Kitab ini berisi dialog antara Sunan Bonang dengan muridnya yang bernama Wujil, membahas tentang:

- Pencarian jati diri.

- Makna ibadah yang sesungguhnya.

- Hakikat ketuhanan.


Warisan Spiritual

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525. Makamnya di Tuban hingga kini menjadi pusat ziarah yang tak pernah sepi. Beliau mengajarkan kita bahwa menyampaikan kebenaran tidak harus dengan kekerasan, melainkan bisa melalui keindahan seni yang selaras dengan kearifan lokal.

Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga hingga Wafatnya

 



Ybia Indonesia - Sunan Kalijaga merupakan salah satu anggota Wali Songo yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Said.

Merupakan sosok Wali Songo yang berdakwah di wilayah Demak, Jawa Tengah, yuk kenali sejarah kisah hidup Sunan Kalijaga berikut ini.


Sejarah Hidup Sunan Kalijaga

Dalam ebook Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI oleh Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida', menuliskan bahwa Sunan Kalijaga merupakan putra dari Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta (Raden Sahur) daan Dewi Nawangrum.

Tahun kelahiran Sunan Kalijaga belum bisa dipastikan. Namun, menurut buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu Basuki, Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450 M. Diperkirakan, masa hidup Sunan Kalijaga mencapai 100 tahun.

Sunan Kalijaga suka melakukan perjalanan. Dalam perjalanan tersebutlah, beliau akhirnya bertemu dengan Sunan Bonang hingga menjadi muridnya.

Beliau juga dikenal sebagai orang yang ahli dalam berbagai bidang. Sunan Kalijaga memiliki ilmu seperti politik, arsitektur, ahli strategi perjuangan (militer), ahli kesenian, dan mubalig.

Dikutip dari modul Kemdikbud Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas IV oleh Faesal Ghozaly. Sunan Kalijaga terkenal dengan cara dakwahnya yang menggunakan kesenian dan kebudayaan.

Dalam berdakwah, beliau menggunakan kesenian dan kebudayaan rakyat setempat, seperti melalui wayang kulit dan tembang suluk. Lagu atau tembang suluk Llir ilir dan Gundul-gundul Pacul juga dianggap sebagai hasil karya seni Sunan Kalijaga.

Dalam ebook bertajuk Wali Sanga Menguak Tabir Kisah hingga Fakta Sejarah karya Masykur Arif, semasa hidupnya, saat berusia 20 tahunan Sunan Kalijaga dikabarkan pernah menikah dengan putri dari Sunan Ampel yang saat itu berusia 50 tahunan.

Sementara menurut keterangan lain, Sunan Kalijaga menikah dengan Retna Siti Jainab, yang merupakan saudara dari Sunan Gunung Jati. Di perkawinannya ini, ia memiliki putra bernama Pangeran Panggung.

Versi lain juga mengatakan Sunan Kalijaga menikahi Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Dengan Dewi Sarah, Sunan Kalijaga dikaruniai 3 anak, yakni raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Sofia, dan Dewi Rukayah.


Kenapa Bisa Dijuluki Sunan Kalijaga?

Dikutip dari ebook Mengungkap perjalanan Sunan Kalijaga karya Jhony Hadi Saputra, julukan Sunan Kalijaga konon diambil dari sebuah nama dusun di Cirebon, yakni dusun Kalijaga. Pasalnya, Sunan Kalijaga pernah tinggal dan bersahabat dengan sunan Gunung Jati.

Oleh sebab itu, masyarakat Cirebon akhirnya menghubung-hubungkan hal tersebut untuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya. Namun, klaim masyarakat Cirebon tersebut kurang memiliki argumentasi.

Pendapat lain juga ada dari kalangan Kejawan (Jawa Mistik), yang mengaitkan nama Kalijaga dengan hobi berendam di sungai (kali), sehingga seperti seolah mirip orang yang sedang 'jaga kali'.

Riwayat Kejawen lain juga muncul karena Sunan Kalijaga pernah disuruh oleh Sunan Bonang untuk bertepi di kali selama 10 tahun. Ini menjadi pendapat yang paling populer.


Wafat Sunan Kalijaga

Sejatinya, tidak ada keterangan pasti waktu Sunan Sunan Kalijaga wafat. Namun, menurut sejarawan Sunan Kalijaga wafat sekitar tahun 1580 M, karena sakit.

Terdapat perbedaan dua pendapat tentang lokasi makam Sunan Kalijaga. Ada yang menyebut makamnya di Demak, Jawa Tengah dan ada juga menyebutkan berada di Cirebon, Jawa Barat, karena dulu beliau pernah tinggal di Cirebon semasa hidupnya.

Bagi mereka yang yakin Sunan Kalijaga dimakamkan di Cirebon, mereka mengatakan bahwa makam beliau yang di Demak hanyalah benda-benda peninggalan Sunan Kalijaga saya.

Namun, dari kedua pendapat tersebut, umumnya masyarakat berziarah ke makam Sunan Kalijaga yang berada di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak.

Biografi Sunan Gresik



Ybia Indonesia - Biografi Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim perlu dikenali umat Islam. Nama Sunan Gresik diberikan karena ia bermukim di Gresik dan menyiarkan ajaran Islam dari daerah tersebut. Sunan Gresik juga dimakamkan di desa Gapura di Kota Gresik.

Biografi Sunan Gresik tentu diawali dengan nama asli atau sebutannya. Maulana Malik Ibrahim dikenal pula dengan sebutan Maulana Maghribi, Syeck Maghribi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik. Sunan Gresik adalah keturunan Ali Zainal Abidin, cicit Nabi Muhammad SAW.

Dalam deretan nama-nama Sunan/Wali di Jawa Beliau adalah wali tertua. Ia datang ke Jawa untuk menyebarkan Agama Islam pada zaman Majapahit (TH. 1379 M). Sunan Gresik bermukim di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal 822 H, bertepatan dengan 8 April 1419 M, dan dimakamkan di desa Gapura kota Gresik.

Ada perbedaan pendapat terkait asal usul biografi Sunan Gresik ini, ada pendapat yang menyatakan ia berasal dari Turki dan ada pendapat lain menyatakan berasal dari Kashan sebuah tempat di Persia (Iran) sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya.

Sunan Gresik adalah seorang ahli tata negara yang menjadi penasehat raja, guru para pangeran, dan juga dermawan terhadap fakir miskin. Makamnya banyak diziarahi masyarakat hingga sekarang. Ia dianggap sebagai penyiar Islam pertama di tanah Jawa, sehingga dianggap sebagai Ayah dari Wali Songo.

9 Semboyan Filsafat Walisongo dalam Berdakwah



Ybia Indonesia - 9 (sembilan) Semboyan Filsafat Wali Songo dalam Berdakwah 


1. SENJOTONE KALIMOSODO

Kemana-mana Hanya Membawa Kalimosodo Isi Kalimat Syahadat  Yaitu Dzikir;

لا اله الا الله

Laa ilaaha illallooh,,, Beserta Isi Dari Kalimah Itu Yaitu ISMU DZAT (Dzikir Khofi)


2. DIGDOYO TANPO AJI

Walau pun Di Marahi, Di Usir, Di Caci Maki Bahkan Di Fitnah Tetapi Mental nya Teguh, Dan Tidak Pernah Sakit Hati, Justru Wali Songo Sangat Mencintai Orang² Yang Membenci nya, Karena Orang Yang Membenci nya Itu Masih Belum Faham Dan Juga Masih Belum Mendapatkan Hidayah.

Wali Songo: "Teu Medal Sila Upama Kapanah".

Maksud nya Yaitu: Tidak Pernah Tersinggung Dan Marah Walau Di Sakiti Dan Di Benci, Selalu Berjaya Walau pun Tanpa Kesaktian, Karena Mereka Hanya Berpegang Teguh Kepada Allah SWT, Aji Pasrah Lan Tawakkal Billah.


3. MABUR TANPO LAR

(Terbang Tanpa Sayap)

Pergi Ke Daerah Nan Jauh Walau pun Tanpa Sebab Yang Nampak, Maksud nya Secara Dzahir Adalah:

Setiap Pepatah Kata²nya Selalu Jadi Buah Bibir Masyarakat Sampai Ketempat Jauh, Berbekas Di Hati Umat.

Secara Batin Adalah Ruh Qudsy Wali Songo Sukmane Urip Lan Bisa Hadir Di Setiap Tempat.


4. MIETIK TANPO SUTANG

 (Meloncat Tanpa Kaki)

Pergi Ke Daerah Yang Sulit Di Jangkau Seperti Gunung-gunung Dan Juga Tanpa Sebab Yang Kelihatan.

ITIHAD Manungguling Semesta Alam , Ana Sirra - Ana Ingsun, Puser Jagat Qutubul Alamin.


5. NGLURUK TANPO WADYO BOLO

Berdakwah Dan Berkeliling Ke Daerah Lain Tanpa Membawa Pasukan, Tetapi Dengan nya Membawa Kasih Sayang Yang Tulus Penuh Kelembutan, Welas Lan Asih Yang Akan Di Terima Oleh Setiap Orang Di Setiap Daerah.


6. TARUNG TANPO TANDING

Selalu Mengajak Orang Lain Supaya Memerangi Nafsu nya Sendiri, Tidak Pernah Berdebat, Bertengkar Atau Berselisih Faham, Selalu Toleransi Dan Menghormati Semua Ke Yakinan.

Tidak Ada Yang Menandingi Cara Kerja Dan Hasil Kerja Dari Pada Mereka Ini Yang Begitu Luwes.

Bir-Ruh, Bil-Lisan, Bil-Hal.


7. MENANG TANPO NGESORAKE

Menang Tanpa Pernah Merendahkan Orang Lain, Mengkritik Dan Membanding-bandingkan, Mencela Orang Lain Bahkan Tetap Berbaik Sangka, Selalu Melihat Orang Lain Dari Sisi Kebaikan nya.

Ketika Bayan Di Depan Tidak Pernah Mencaci Maki Dengan Kasar, Tetapi Begitu Lemah Lembut Dan Santun Sehingga Jadi Rahmat Bagi Seluruh Alam.


8. MULYO TANPO PUNGGOWO

Di Muliakan, Di Sambut, Di Hargai, Di Perhatikan, Walau pun Mereka Sebelum nya Bukan Pejabat, Bukan Sarjana Ahli Tetapi Hanya Manusia Biasa Yang Sudah Mengenal Diri nya Dan Mengenal Tuhan nya ( Marifat ) Yang Menjadikan Dakwah Sebagai Maksud Dan Tujuan nya Untuk Menggapai Ridha Allah SWT.


9. SUGIH TANPO BONDO

Mereka Akan Merasa Kaya Dalam Hati nya. Keinginan Bisa Ke Sampaian Terutama Ke Inginkan Menghidupkan Sunnah Nabi, Bisa Terbang Ke Sana Kemari Dan Keliling Dunia Melebihi Orang Terkaya.

BERKELAS ITU BUKAN TENTANG KEHIDUPAN MU YANG MAPAN, BERKELAS BUKAN KARENA PENAMPILAN MU YANG MEWAH.

KAMU AKAN TERLIHAT BERKELAS KETIKA ETIKA, ADAB, PERILAKU MU, DAN SOPAN SANTUN MU DALAM MENGHARGAI DAN MENGHORMATI ORANG LAIN.

Itulah di antaranya 9 semboyan falsafat wali songo dalam berdakwah.

Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya bisa menginspirasi untuk kita semua dalam menjalani hidup


والله سبحانه وتعالى اعلم بالصواب


Al Fatihah..



Walisongo dan Pendekatan Dakwah. dari Pendidikan, Tradisi, dan Seni



Ybia Indonesia - Disepanjang sejarah Islam di Indonesia, Wali Songo dikenal sebagai tokoh-tokoh agama yang berkontribusi besar pada penyebaran Islam di tanah Jawa dan wilayah sekitarnya. Mereka menyebarkan dakwah mereka ke seluruh Jawa dan tetap mengabdi di sana hingga akhir hayatnya.

Dalam bahasa Jawa, Wali Songo berarti wali yang sembilan, menandakan jumlah para wali yang ada sembilan. Namun ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah turunan dari bahasa Arab tsana yang berarti mulia.

Setiap Walisongo memiliki pendekatan dakwah unik untuk mencapai misinya. Ada yang berkaitan dengan pendidikan, tradisi, dan bahkan seni.

Strategi Walisongo berhasil yang membuat masyarakat Jawa secara bertahap menerima agama Islam dan belajar tentang Islam dari Wali Songo. Banyak dari mereka akhirnya memilih mengucap dua kalimat syahadat. (*)

"Lir Ilir" Sunan Kalijaga. Lirik, Artinya dan Makna yang Terkandung

 


Ybia Indonesia - "Lir Ilir" Sunan Kalijaga beserta Lirik dan Artinya (sholawat Jawa)

Lirik Lagu Lir-ilir

Lir-ilir, lir-ilir

Tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten

anyar

Cah angon-cah angon penekno blimbing

kuwi

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh

dodotiro

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing

pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo

mengko sore

Mumpung padhang rembulane,

mumpung jembar kalangane

Yo surako… surak iyo…


Arti Lirik Lagu Lir-ilir

Bangunlah, bangunlah

Tanaman sudah bersemi

Demikian menghijau bagaikan pengantin

baru

Anak gembala, anak gembala panjatlah

(pohon) belimbing itu

Biar licin dan susah tetaplah kau panjat

untuk membasuh pakaianmu

Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di

bagian samping

Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti

sore

Mumpung bulan bersinar terang, mumpung

banyak waktu luang

Ayo bersoraklah dengan sorakan iya


Makna yang terkandung lagu Lir-ilir adalah sbb:

Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. 

Semua tergantung kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. 

Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya. 

Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa Pakaian yang dimaksud adalah pakaian taqwa kita. 

Sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.

Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan iya.

Mengenal Kompleks Makam Sunan Gunung Jati

 


Ybia Indonesia - Tokoh utama yang dimakamkan di komplek makam Gunung Sembung adalah Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Selain itu juga terdapat makam-makam Sultan Cirebon beserta kerabatnya dan juga para leluhur Cirebon.

Kompleks makam Gunung Sembung dibangun pada tahun 1400 Saka yang ditandai dengan candra sengkala “SIRNA TANANA WARNA TUNGGAL”. Di depan komplek makam terdapat alun-alun. Di tengah alun-alun terdapat pohon beringin. Sisi barat ditanami pohon munggur, sedangkan pada sisi utara terdapat pohon sawo kecik dan tanjung. Di halaman alun-alun ini terdapat dua bangunan yaitu MANDE MANGU atau MANDE TEPASAN yang berada di sisi barat dan Pendopo Ringgit yang berada di timur. Bangunan Mande Mangu dibuat pada tahun 1402 Saka yang ditandai dengan candrasengkala “SINGA KARI GAWE ANAKE”. Menurut tradisi bangunan tersebut merupakan hadiah dari Ratu Nyawa anak Raden Patah dari Demak yang menikah dengan Pangeran Bratakelana anak Sunan Gunung Jati. Pangeran Bratakela meninggal di laut ketika dalam pelayaran dari Demak ke Cirebon.

Gerbang utama untuk memasuki komplek makam ada dua berbentuk gapura candi bentar. Dua gerbang tersebut dinamakan Gapura Kulon dan Gapura Wetan. Gerbang yang dipakai untuk umum adalah yang berada di timur (Gapura Wetan). Memasuki halaman pertama di sisi kanan terdapat Sumur Jati. Di sebelah kiri gerbang berderet tiga bangunan yaitu Mande Cungkup Danalaya, berada di bagian timur, di bagian tengah ruang Museum merupakan tempat penyimpanan benda-benda milik Sunan Gunung Jati. Benda-benda tersebut merupakan pemberian dari negara luar diantaranya 10 guci dari Cina masa dinasti Ming. Di sebelah selatan Kong Museum adalah bangunan Mande Cungkup Trusmi.

Memasuki pintu gerbang kedua di sebelah kanan terdapat beberapa padasan untuk mengambil air wudhu bagi peziarah. Di sebelah kiri terdapat bangunan Pendopo Soka yang fungsinya untuk tempat istirahat bagi tamu yang akan ziarah. Di sebelah selatan bangunan ini terdapat Siti Hinggil. Selanjutnya di sebelah selatan Siti Hinggil terdapat bangunan Mande Budi Jajar atau Mande Pajajaran, yang dibuat pada tahun 1401 Saka (1479 M) yang ditandai dengan candrasengkala “Tunggal Boya Hawarna Tunggal”. Bangunan ini merupakan hadiah dari Prabu Siliwangi kepada Pangeran Cakrabuana atau Walasungsang. Mande Pajajaran berdenah bujur sangkar dengan ukuran 9, 80 x 9,80 m. Tinggi bangunan 6,80 m dan memiliki tiang 8 buah. Pada bagian atas tiang, antara balok tarik dan tiang, terdapat ornament dengan pola hias kembang persegi. Di bagian ujung atas dan bawah tiang dihias ukiran motif tumbuhan.

Memasuki halaman ketiga melewati Gerbang Weregu, selanjutnya melalui koridor menuju bangsal Pekemitan. Bangsal ini terbagi dua bagian di sebelah timur disebut Paseban Kraman dan yang di sebelah barat disebut Paseban Bekel. Bangsal ini merupakan tempat para pengurus komplek makam menerima para peziarah. Para peziarah selanjutnya harus berbelok ke kiri melewati koridor hingga sampai ke halaman khusus untuk para peziarah. Di sekitar halaman peziarah banyak terdapat makam-makam kerabat kesultanan baik dari Sultan Kasepuhan maupun Kanoman. Di halaman ini juga banyak terdapat hiasan tempel piring porselen dan beberapa tempayan porselin. Kebanyak berasal dari Cina. Para peziarah melakukan prosesi ziarah hanya sampai di sini. Untuk ziarah ke makam Sunan Gunung Jati cukup diwakili hingga di Lawang Pesujudan yang berada di sebelah utara halaman.

Di sebelah timur halaman ini terdapat bangunan yang disebut Gedong Raja Sulaeman. Gedung ini dibangun oleh Sultan Sepuh ke-9. Dinding bangunan dihias tempelan piring porselen dari Eropa dan Cina. Di sebelah barat halaman peziarah terdapat bangunan yang dinamakan Pelayonan atau Mande Layon. Di sebelah barat bagian ini terdapat komplek makam khusus yang berpagar kayu. Salah satu makam di halaman ini adalah makam Nio Ong Tin  atau disebut juga dengan nama Nyai Rara Sumanding.

Di sebelah selatan terdapat gerbang yang disebut Lawang Krapyak. Di sebelah utara terdapat gerbang menuju halaman berikutnya yang disebut Lawang Pesujudan atau Siblangbong. Lawang Krapyak dan Lawang Pesujudan merupakan dua dari sembilan pintu gerbang yang berada pada satu garis lurus dari selatan ke utara hingga sampai ke makam Sunan Gunung Jati di bagian puncak gunung.


Kesembilan pintu gerbang tersebut adalah :

1) Gapura Kulon

2) Lawang Krapyak

3) Lawang Pesujudan atau Siblangbong

4) Lawang Ratnakomala

5) Lawang Jinem

6) Lawang Rararoga

7) Lawang Kaca

8) Lawang Bacem

9) Lawang Teratai. 

Gapura Kulon, hanya dibuka pada waktu Syawalan dan itu hanya dipakai untuk keluarga Sultan. Lawang Krapyak dibuka setiap malam Jumat Kliwon sesudah acara tahlil. Demikian juga Lawang Pesujudan dibuka hanya pada malam Jumat Kliwon sesudah tahlil, tetapi hanya peziarah yang mendapat ijin dari Sultan yang boleh memasuki halaman berikutnya.

Petugas yang mengurus kompleks makam berada dalam satu sistem organisasi. Seluruh aktivitas berada di bawah koordinator Ki Jeneng. Beliau mengkoordinir 120 staf. Ki Jeneng dibantu 4 orang asisten senior yang disebut Bekel Sepuh atau Bekel Tua dan 8 orang asisten yunior yang disebut Bekel Anom. Selanjutnya terdapat 108 asisten pelaksana yang disebut Wong Kraman. Para petugas ini merupakan keturunan Patih Keling yaitu seorang pembantu Sultan yang berprofesi sebagai pelaut. Struktur organisasi pengelola komplek makam tersebut mengandung makna bahwa Bekel Sepuh dan Bekel Anom merupakan simbol Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Wong Kraman yang berjumlah 108 mengikuti sistem organisasi dalam pelayaran.

Setiap dua minggu terjadi pergantian petugas. Dalam satu kelompok, Ki Jeneng dibantu 2 orang bekel tua dan 2 bekel anom. Di Paseban Kraman terdapat 12 orang kraman yang bertugas penuh selama 2 minggu. Kraman yang 12 hanya bertugas seminggu sebab jumlahnya ada 108 orang yang dilakukan secara bergilir. Baik Jeneng, Bekel Tua, Bekel Anom, maupun Kraman serta penghulu selain punya tugas mengurus makam juga sewaktu dapat membantu tugas-tugas khusus di keraton atas perintah  kedua Sultan Kasepuhan dan Kanoman. Dalam menjalankan tugasnya mereka mengenakan pakaian adat yaitu memakai iket, baju kampret warna putih dan tapih.

Di kompleks Makam Sunan Gunung Jati terdapat beberapa tingkat dan gedung yang terdiri dari beberapa makam sesuai masa para pendahulu. Di bawah ini susunan gedung dan makam yang terdapat di dalam nya:

Gedung Jinem

1. Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati

2. Tubagus Paseh/Fadillah Khan/Falatehan

3. Nyi Mas Rarasantang/Nyi Mas Syarifah Mudaim

4. Nyi Mas Khuraisin/Nyi Gede Sembung

5. Nyi Mas Pakungwati/Nyi Gede Tepasari

6. Pangeran Dipati Carbon

7. Pangeran Bratakelana

8. Pangeran Pasarean

9. Ratu Mas Nyawa

10. Ratu Wanawati

11. Pangeran Dipati Ratu

12. Ratu Raja Wulung Ayu

13. Pangeran Dipati Agung

14. Ratu Raja Agung

15. Pangeran Sendang Lemper

16. Putra Tubagus Paseh

17. Putra

18. Putra

Kompleks Mbah Kuwu Carbon

1. Pangeran Walangsungsang/Mbah Kuwu Carbon/Pangeran Cakrabuana

2. Sayid Abdurahman/Pangeran Panjunan

3. Sayid Syarifudin/Pangeran Kejaksan

4. Putri Nyi Ong Tien/Nyi Mas Rara sumanding


Kompleks Ki Gede Bungko

1. Ki Gede Sembung/Gegeden Kalisapu

2. Pangeran Tuban

3. Pangeran Sendang Jayaning Laut

4. Pangeran Puyuman/Ki gede Bungko


Kompleks Panembahan Ratu

1. Pangeran Dipati Wirasuta

2. Sultan Panembahan Ratu/Sultan II Cirebon

3. Ratu Mas Gelampok/Nyi Mas Ratu Pajang

4. Pangeran Suryamajanegara

5. Ki Surapati Nenggala/Dipati Keling


Kompleks Pangeran Sendang Garuda

1. Pangeran Manis/Ki Penanggapan

2. Ratu Sekarwangi

3. Pangeran Jipang

4. Ratu Sandrawati

5. Raden Pandan

6. Raden Sepet

7. Pangeran Kagok

8. Pangeran Magrib

9. Pangeran Sindang Garuda


Gedung Sultan sepuh Awal

1. Pangeran Wanaon

2. Pangeran Dipati Agung

3. Pangeran Dipati Ageng

4. Nyi Mas Ratu Sewu

5. Pengeran Dipati Permadi

6. Sultan Raja Syamsudin/Sultan Sepuh Awal

7. Guti Ayu Wedaling Asri


Gedung Sultan Gusti

1. Pangeran Dipati Anom Ngalenggah

2. Pangeran Nata Carbon

3. Ratu Dalem Kencanawungu

4. Sultan Muhammad Badridin/Sultan Kanoman Awal

Gedung Sultan Komarudin

1. Sultan Muhammad Komarudin

2. Ratu Dalem Nurul Lintang


Gedung Panembahan Anom

1. Panembahan Ratu Sesangkan

2. Nyi Mas Ratu Sesangkan

3. Panembahan Mas Carbon

4. Nyi Mas Ratih Ria

5. Nyi Mas Giri Carbon


Gedung Sultan Mandurareja

1. Pangeran Dipati Raja Kesumah

2. Sultan Muhammad Mandurareja

3. Sultan Muhammad Abusoleh Alimudin

4. Pangeran Dipati Kedaton

5. Pangeran Dipati Rama Menggala

6. Pangeran Dipati Keprabon

7. Pangeran Gusti

8. Ratu Dalem sekar Kedaton

9. Pangeran Kesumahdiningrat

10. Pangeran Werak


Gedung Gedhong Malang

1. Sultan Raja Tajul Arifin

2. Pangeran Dipati Tohpati

3. Pangeran Temenggung

4. Pangeran Sebrang

5. Pangeran Natareja

6. Nyi Mas Ratu Natareja

7. Sultan Raja Jaenudin

8. Ratu Raja Wulung Ayuntiarsih

9. Pangeran Raja Ningrat

10. Pangeran Raja Kidul

11. Ratu Raja Wulung Ayu

12. Ratu Siti Khodijah

13. Pangeran Dipati Adiwijaya

14. Ki Mudin Jamiril

15. Ki Wisesa

16. Pangeran Wijayanegara

17. Pangeran Kesumaningrat

18. Ratu Endangsari

19. Ratu Kesimpar

20. Pangeran Baureksa


Gedung Sultan Nurus

1. Pangeran Wangsa Kertayasa

2. Pangeran Dipati Rama Menggala

3. Pangeran Dipati Eyang Suwargi

4. Pangeran Dipati Nayaka

5. Ratu Dalem Rosma Kencana Furi

6. Sultan Muhammad Nurbuat

7. Sultan Muhammad Zulkarnaen

8. Ratu Dalem Raja Wulung Ayu

9. Ratu Dalem Agustina

10. Sultan Muhammad Nurus

11. Pangeran Sukma Gianti


Gedung Sultan Matangaji

1. Sultan Raja Saefudin Matangaji

2. Gusti Ayu Kesuma Ningrat

3. Pengeran Dipati Ugawa

4. Pangeran Arya Carbon

5. Pangeran Selang

6. Pangeran Hadibrata


Gedung Sultan Sena

1. Sultan Sena Muhammad Zaenuddin

2. Gusti Ayu Raja Ratna

3. Pangeran Dipati Rajaningrat

4. Pangeran Dipati Suryaningrat


Gedung Kadipaten

1. Ki Khotib Madlain

2. Pangeran Dipati Suryamenggala

3. Pangeran Dipati Arya Kulon

4. Pangeran Dipati Arya Kidul

5. Pangeran Sendang Blimbing

6. Pangeran Dipati Anom Carbon

7. Pangeran Dipati Wiranegara

8. Pangeran Dipati Wirasuta

9. Nyi Mas Ratu Demang

10. Nyi Mas Ratu Winaon

11. Pangeran Purabaya (ada diluar gedung)


Gedung Sultan Jamaludin

1. Sultan Sepuh Raja Jamaludin

2. Gusti Ayu Ratnawulan

3. Pangeran Wijayakarta

4. Pangeran Tumenggung

5. Pangeran suryaningrat

6. Pangeran Giri Pamungkas

7. Pangeran Demang

8. Pangeran Arya Carbon

9. Ratu Arya Carbon

10. Ratu Ayu Raja Widianingsih

11. Panembahan Pati Tohpati

12. Ratu Ganjarpati

13. Pangeran Giri Panata

14. Pangeran Wanatapati

Gedung Nyi Mas Rarakerta

1. Nyi Mas Ratu Rengsari

2. Nyi Ma Ratu Dampo

3. Nyi Mas Ratu Medangsari

4. Nyi Mas Ratu Rarakerta

5. Nyi Mas Ratu Pamuji

6. Nyi Mas Ratu Kirana

7. Pangeran Dipati Awangga (ada diluar gedung)


Kompleks Nyi Gede Babadan

1. Pangeran Jakalelana

2. Pangeran Sukmalelana

3. Nyi Gede Babadan/Nyi Mas Selangkring

4. Nyi Mas Tanjungsari


Gedung Sultan Raja Suleman

1. Pangeran Dipati Natahing Carbon

2. Pangeran Adiwinata

3. Pangeran Dipati Ragahingsukma

4. Ratu Raja Wulandari

5. Ratu Kencana

6. Sultan Sepuh Raja Suleman

7. Sultan Sepuh Raja Hasanudin

8. Sultan Sepuh Raja Syamsudin

9. Sultan Sepuh Raja Ningrat

10. Sultan Sepuh Raja Jamaludin Aluda

11. Sultan Sepuh Rajaningrat

12. Ratu Ratna Sawiji

13. Ratu Rata Kesumaning Ayu

14. Pangeran Dipati Suryanegara

15. Pangeran Angkawijaya

16. Pangeran Antasena

17. Pangeran Ngalaga

18. Pangeran Wisnu Hain

19. Ratu Raja Wulangkencana

20 Ratu Raja Antarwulan


Nama-nama Pintu bagian dalem urutan dari atas

1. Pintu Gusti

2. Pintu Bachem

3. Pintu Kacha

4. Pintu soko

5. Pintu Pandan

6. Pintu Gandok

7. Pintu Pesujudan (tempat para penziarah umum)

8. Pintu Dalem Keraton

9. Pintu Beling

10. Pintu Penganten


Beberapa pintu lain nya yang terletak di komplek Makam

1. Pintu Terathe (Terletak di Makam Nyi Putri Cina)

2. Pintu Kanoman (Terletak di dekat sumur Kanoman)

3. Pintu Mregu (terletak di tempat orang Cina berziarah)

4. Pintu Krapyak (Terletak di tempat Kraman)

5. Pintu Panglubar (Pintu pertama tamu masuk/Alun-alun)

Tulisan Arab gundul berbahasa Cirebon yang terdapat di setiap pilar di kompleks Makam sunan Gunung Jati Cirebon antara lain:

"Setuhune iku menusa njaluka karo Pangerane kelawan madep tur khusyu, Pangerane arep nyumbadani iku panjaluke manusae kelawan ngilmu kang den lakoni...."


Semoga Bermanfaat

Sunan Giri

 


Ybia Indonesia - Sunan Giri

1. Syeh Wali Lanang

Di Awal abad 14 M. Kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu. Salah sorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan ada sebagian yang memeluk agama Budha.

Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya, pasalnya putri mereka satu-satunya telah jatuh sakit selama beberapa bulan. Sudah diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang putri belum sembuh juga.

Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda pegebluk atau wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad Tanah Jawa esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka cita, dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.

Sang Prabu hampir putus asa penyakit yang diderita putrinya. Dewi Sekardadu hanya terbaring di kamarnya, makin hari tubuhnya makin susut, tinggal kulit pembalut tulang. Tanda putri itu masih hidup hanyalah adanya nafas lemah yang masih keluar masuk dari hidungnya. Sepasang matanya tetap terpejam dan wajahnya pucat pasi, hampir seperti mayat.

“Kanda Prabu ……” ujar permaisuri. “Apakah Kanda tega membiarkan anak kita satu-satunya ini terus dalam keadaan begini ?”

“Apa maksudmu Dinda ?” sahut Prabu Menak Sembuyu. “Bukankah aku sudah berusaha mendatangkan semua ahli pengobatan di negeri ini. Bahkan belum lama berselang telah mendatangkan tabib terkenal dari Pulau Dewata. Kurangkah usahaku itu?”

“Bukan, bukan begitu maksudku Kanda ......”

“Lalu apa maumu ?”

“Buatlah sayembara,” kata permaisuri. “Siapa yang dapat menyembuhkan putri kita akan kita beri hadiah, kalau perlu kita ambil sebagai menantu.”

Prabu Menak Sembuyu terdiam beberapa saat. Pada akhirnya dia setuju atas saran istrinya. Segera dia perintahkan mahapatih kerajaan Blambangan yaitu Patih Bayul Sengara untuk mengumumkan bahwa siapa yang dapat menyembuhkan penyakit putrid Dewi Sekardadu akan dijodohkan dengan putrinya itu. Dan siapa dapat mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka akan diberi separo dari wilayah kerajaan Blambangan.

Sayembara disebar di hampir pelosok negeri. Sehari, dua hari, seminggu bahkan berbulan-bulan kemudian tak ada seorangpun yang menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti sayembara itu.

Permaisuri makin sedih hatinya. Prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur istrinya dengan menugaskan Patih Bayul Sengara untuk mencari pertapa sakti guna mengobati penyakit putrinya.

Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Bayul Sengara berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa biasanya tinggal di puncak atau lereng-lereng gunung, maka kesanalah Patih Bayul Sengara mengajak pengikutnya mencari orang-orang sakti.

Berhari-hari mereka menempuh perjalanan, masuk hutan keluar hutan, naik dan turun gunung. Pada suatu ketika mereka bertemu dengan seorang Resi bernama Kandabaya.

Untuk membuktikan bahwa Resi Kandabaya itu memang sakti, maka sengaja sang patih memerintahkan para prajuritnya menyerang dan mengeroyok Sang Resi dengan senjata terhunus.

Sepuluh orang maju serentak menyerang sang Resi yang sedang duduk terpekur dalam semedi. Resi itu seperti tak menghiraukan adanya bahaya yang mengancam dirinya. Sepasang matanya masih terpejam. Tapi begitu sepuluh orang itu mendekat kearahnya dalam jarak dua langkah tubuh mereka tiba-tiba terpental sejauh sepuluh tombak, tubuh mereka terjerembab ke tanah, senjata mereka terlepas dari tangan dan mereka meringis kesakitan tanpa dapat bergerak untuk bangun lagi.

Patih Bajul sengara kaget mengetahui hal itu. Tapi dia masih penasaran. Diam-diam dia mencabut kerisnya. Sang Resi masih duduk bersila, sepasang matanya masih terpejam, Seperti tak terusik oleh perilaku Patih Bajul Sengara dan anak buahnya.

“Ssssst !” tiba-tiba Patih Bajul Sengara melempar kerisnya. Tepat kearah jantung sang Resi. Bukan sekedar lemparan biasa, melainkan lemparan seorang Mahapatih kerajaan Blambangan yang tentu juga memiliki kesaktian tinggi. Dan memang, lemparan keris itu disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.

Ujung keris itu meleset ke arah sang Resi, hampir saja menyentuh dada Sang Resi. Namun tiba-tiba keris itu membalik, melesat ke arah Patih Bajul Sengara. Patih Bajul Sengara melengak, secepat kilat dia merundukkan badan. Keris itu melesat di atas tubuhnya. Menghantam sebatang pohon sawo.

“Jresss !” keris itu terbenam ke batang pohon sawo yang cukup besar, tinggal gagangnya saja yang tampak. Patih Bajul Sengara hampik tak berkedip menyaksikan gagang kerisnya itu.

Belum lagi hilang rasa terkejutnya Sang Patih, dilihatnya batang pohon sawo itu mengeluarkan asap dan kulit pohon itu menjadi hitam. Tak lama kemudian buah dan pohon sawo itu rontok, berguguran ke tanah.

Serta merta Patih Bajul Sengara menjatuhkan diri, berlutut didepan sang Resi. Resi Kandabaya masih dalam sikap semula. Duduk bersila dengan mata terpejam. Seperti tak pernah terjadi suatu apa.

“Ampun …… ampunilah kekurangajaran hamba,” ujar Patih Bajul Sengara dengan terbata-bata.

Tak ada reaksi dari sang Resi.

Tiba-tiba ada seekor merpati putih hinggap di depan sang Resi. Merpati itu meletakkan selembar daun lontar yang dijepit di paruhnya. Dan sesaat kemudian merpati itu mengeluarkan bunyi. (mbekur istilah Jawanya). Aneh, sang Resi kemudian membuka sepasang matanya setelah mendengar suara si merpati. Sang Resi tersenyum dan segera mengelus-elus sayap merpati.

“Terima kasih Pethak ………” ujar sang Resi.” Sekarang kau boleh bermain-main atau beristirahat sesukamu.”

Merpati itu mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengerti apa yang diucapkan sang Resi. Kemudian dia mengepakkan sayapnya, terbang ke sebuah pohon kenari tak jauh dari Padepokan Resi Kandabaya.

Sang Resi segera mengambil daun lontar yang diletakkan merpati tadi. Dia seperti tak menghiraukan adanya Patih Bajul Sangara yang membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai Padepokan.

“Ampun ......... ampunilah kekurangajaran dan kelancangan hamba menganggu ketenangan Bapa Resi ......... “ Demikian ucap Patih Bajul Sengara.

Resi Kandabaya masih tak menghiraukan sang patih. Dia sedang asyik membaca gurat-gurat berbentuk tulisan di daun lontar yang dipegangnya. Sesudah membaca tulisan di daun lontar, sang Resi bangkit berdiri. Berjalan kearah sepuluh prajurit yang menggeletak kesakitan tanpa dapat bergerak. Hanya dengan beberapa kali tepukan pada bagian-bagian tertentu di tubuh para prajurit itu maka kesepuluh anak buah Patih Bajul Sengara dapat bergerak lagi dan rasa sakit di sekujur tubuh mereka telah hilang. Serta merta sepuluh orang itu menjatuhkan diri berlutut didepan sang Resi.

Tapi Resi itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia berjalan kearah Padepokan tempatnya bersemedi tadi. Tapi kali ini dia tidak duduk bersemedi melainkan tegak didepan Patih Bajul Sengara.

Memang hebat dan sopan caramu bertamu kemari hai Patih Bajul Sengara !” tegur sang Resi.

“Ampun bapa Resi ......... hamba harus yakin bahwa orang yang hendak mintai pertolongan memang benar-benar mumpuni.” ujar Patih Bajul Sengara.

“Ya, aku sudah tahu hal itu,” tukas sang resi. “Kau hendak memintaku mengobati penyakit sang putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah pagebluk dari Blambangan atas perintah Prabu Menak Sembuyu!”

“Mohon ampun Bapa Resi, memang demikianlah adanya kedatangan hamba kemari.”

“Tapi kau salah alamat Patih ! Wabah penyakit itu sudah dikehendaki Dewata Agung. Aku tak mampu mengusirnya, juga tak mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu.

“Tapi ……… hamba mohon petunjuk ……… “ kata Patih Bajul Sengara, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mumpung bisa bertemu dengan tokoh seperti Resi Kandabaya dia harus memperoleh hasil, setidak-tidaknya dia harus mendapatkan keterangan bagaimana cara mengobati atau mendapatkan orang yang mampu mengobati Dewi Sekardadu.

Resi Kandabaya seperti mengerti apa yang tersirat di hati Patih Bajul Sengara. Sesudah menarik nafas panjang karena kesal melihat sikap sang Patih diapun berkata, “Baiklah Patih, aku akan memberimu petunjuk. Pada saat itu hanya ada satu orang yang mampu menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu sekaligus mengusir wabah penyakit dari seluruh wilayah Blambangan. Tapi ……”,

Resi Kandabaya tidak meneruskan ucapannya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Patih Bajul Sengara. Sang Patih makin menundukkan mukanya, tak ada keberanian baginya untuk bertatap muka dengan Resi yang terbukti sangat sakti itu. “Apapun yang terjadi, hamba ……… juga Gusti Prabu Menak Sembayu takkan peduli asal Dewi Sekardadu sembuh dari sakitnya.” ujar Patih Bajul Sengara untuk menghapus keraguan Resi Kandabaya.

“Benarkah? Tapi aku tidak yakin,” sahut sang Resi.” Akan terjadi sesuatu di luar perhitunganmu dan hal itu akan membakar hatimu. Tapi baiklah, kalau kau ingin mengetahui orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu. Ikutilah merpati putih itu terbang.

Tapi ku peringatkan, jangan kau mencoba bersikap kurang ajar kepada orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu itu. Dan apapun syaratnya yang diajukannya hendaknya kau dan Prabu Menak Sembuyu meluluskan nya.”

“Segala pesan Bapa Resi akan hamba perhatikan baik-baik.”

Sekarang sudah hampir malam, beristirahatlah di Padepokan ini. Besok pagi kalian boleh berangkat menuju gunung Selangu. Merpati putih akan mengantarmu hingga ke tempat tujuan.”

Demikianlah, Patih Bajul Sengara dan anak buahnya malam itu bermalam di Padepokan Resi Kandabaya. Esok harinya mereka sudah bersiap-siap berangkat ke gunung Selangu.

“Sampaikan salam perdamaian kepada pertapa di gunung Selangu itu.” Pesan Resi Kandabaya sebelum Patih Bajul Sengara meninggalkan Padepokan.

“Pesan Bapa Resi akan hamba sampaikan,” jawab Patih Bajul Sengara penuh hormat.

Perjalanan ke gunung Selangu memakan waktu yang cukup lama. Walau mereka naik kuda pilihan tapi pada tengah hari barulah mereka sampai di gunung Selangu. Mereka terus mengikuti arah merpati putih terbang menuju suatu tempat. Ketika jalanan semakin naik, maka mereka menambatkan kudanya dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Akhirnya merpati penunjuk jalan itu berhenti didepan sebuah goa. Saat itu hari mulai gelap. Tapi ada suatu keanehan, dari dalam goa itu memancar sinar terang, sebuah cahaya yang mampu menerangi tempat sekitarnya .

Patih Bajul Sengara memerintahkan para prajurit pengiring untuk menunggu di luar goa. Dia sendiri segera berjalan memasuki goa itu. Makin ke dalam makin terang cahaya yang memancar itu.

Akhirnya sepasang mata Patih Bajul Sengara terbelalak heran, ternyata cahaya itu bukan berasal dari sebuah lampu atau benda melainkan berasal dari tubuh seorang berjubah putih yang sedang bersujud di tanah. Seluruh tubuh dan pakaian orang itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Ingat pesan Resi Kandabaya maka Patih Bajul Sengara tidak berbuat macam-macam yang justru akan membahayakan dirinya sendiri. Dengan bersabar dia menunggu orang itu bersujud kemudian duduk bertafakur. Setelah selesai barulah Patih Bajul Sengara menyapanya.

“Saya Patih Bajul Sengara, datang kemari dengan membawa pesan alam perdamaian dari Resi Kandabaya,” ujar sang Patih.

Aku terima salam Resi Kandabaya,” ujar pertapa itu. “Sudah lama aku bersahabat dengan Resi Kandabaya walaupun hanya melalui selembar daun lontar yang diantar oleh merpati sang Resi.”

Patih Bajul Sengara lalu mengutarakan maksud kedatangannya menemui sang pertapa. Pertapa itu mengangguk –anggukkan kepala mendengar penjelasan sang Patih. “Sebelum aku menyatakan kesanggupanku terlebih dahulu kuperkenalkan diriku ini, “kata pertapa itu. “Namaku Maulana Ishak, berasal dari negeri Pasai. Aku bersedia mengobati Dewi Sekardadu dan sekaligus mengusir wabah penyakit dari Blambangan dengan syarat bahwa Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya masuk agama Islam. Dan rakyat Blambangan bersedia mendengar nasehatku.”

Barangkali inilah hal-hal yang termasuk di luar perhitunganku, demikian bisik hati sang Patih. Soal pindah agama dia tidak berani memberi keputusan. Untuk itu dia harus menghadap sang Prabu lebih dahulu. Maka diapun berpamit kepada Syekh Maulana Ishak untuk pulang ke istana Blambangan, menyampaikan persyaratan yang diajukan pertapa itu.

“Ya, ada baiknya anda berunding dengan Prabu Menak Sembuyu lebih dahulu,” kata Syekh Maulana Ishak.

Terpaksa Patih Bajul Sengara kembali ke Blambangan dan menyampaikan persyaratan yang diajukan Syekh Maulana Ishak kepada Prabu Menak Sembuyu.

Tentu saja sangat berat bagi sang Prabu untuk melepaskan agama lama yang terlanjur diyakini selama bertahun-tahun, namun demi rasa kasih sayangnya pada Dewi Sekardadu, maka dia terpaksa memenuhi syarat yang diajukan Syekh Maulana Ishak. Patih Bajul Sengara diperintahkan menjemput Syekh Maulana Ishak. Sesampainya di goa gunung Selangu, Patih Bajul Sengara dipersilahkan berangkat ke Blambangan lebih dahulu. Syekh Maulana Ishak akan menyusul kemudian.

Tetapi betapa terkejut Patih Bajul Sengara ketika sampai di istana Blambangan. Ternyata Syekh Maulana Ishak sudah datang lebih dahulu. Bahkan sang Prabu Menak Sembuyu menegur keterlambatan sang Patih.

Sadarlah sang Patih, bahwa Syekh Maulana Ishak itu benar-benar pertapa sakti yang mumpuni. Dia yang menempuh perjalanan naik kuda masih dikalahkan dengan Syekh Maulana Ishak yang datang ke istana Blambangan hanya berjalan kaki.

Tiga malam Syekh Maulana Ishak melakukan tirakat untuk mengobati Dewi Sekardadu. Di malam keempat, sesudah melaksanakan shalat sunnah hajat ditiupkan wajah sang putri tiga kali. Seketika sang putri membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Seluruh isi istana gembira menyaksikan hal itu terlebih permaisuri dan Prabu Menak Sembuyu.

Prabu Menak Sembuyu menepati janjinya. Syekh Maulana Ishak diambil menantu. Dijodohkan dengan Dewi Sekardadu. Sambil menunggu keadaan tubuh Dewi Sekardadu supaya benar-benar pulih seperti sedia kala, Syekh Maulana Ishak berkeliling ke seluruh negeri Blambangan untuk memberikan nasehat dan memudarkan pengaruh pagebluk yang melanda rakyat Blambangan.

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Maulana Ishak akhirnya diketahui bahwa rakyat Blambangan sangat ceroboh dalam menjaga kebersihan dan kesehatan mereka. Makanan sehari-hari mereka banyak yang mengandung racun dan penyakit, cara mereka buang hajat disembarang tempat dan mereka jarang mandi atau membersihkan tubuh mereka.

Setelah Maulana Ishak memberikan penyuluhan merawat kesehatan dan membersihkan diri serta lingkungan tempat tinggal. Dan nasehat itu dilaksanakan maka banyaklah rakyat Blambangan yang sembuh dari sakitnya.

Hanya beberapa orang yang penyakitnya tergolong berat terpaksa mendapat perawatan khusus dari Syekh Maulana Ishak. Dan semuanya berhasil disembuhkan seperti sedia kala.

Tibalah pada hari yang ditentukan, pernikahan Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishak dilaksanakan. Upacara diselenggarakan dengan penuh meriah. Karena Syekh Maulana Ishak bukan hanya berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu melainkan juga mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka dia juga diangkat sebagai raja muda atau Adipati. Mendapat kekuasaan separo dari wilayah kerajaan Blambangan, sesuai dengan janji yang diucapkan oleh Prabu Menak Sembuyu sendiri.

Menurut Babad Tanah Jawi, dalam upacara pernikahan yang diselenggarakan itu sudah terjadi ketegangan antara Syekh Maulana Ishak dengan pihak keluarga kerajaan. Yaitu disaat jamuan makan dikeluarkan. Ternyata makanan yang dihidangkan kepada Syekh Mulana Ishak kebanyakan adalah terdiri dari daging binatang haram, seperti babi hutan, harimau, ular, kera dan lain-lain.

Posisi Syekh Mulana Ishak pada saat itu sungguh sulit sekali. Kalau dia tidak mau menyantap hidangan itu nantinya disangka bersikap sombong dan menghina Prabu Menak Sembuyu. Jika disantap dagingnya terdiri dari hewan yang diharamkan agama Islam, maka diapun berdoá kepada Allah, memohon jalan keluar yang terbaik.

Sesuai berdoa terjadilah sesuatu diluar dugaan. Daging-daging binatang haram yang sudah dimasak itu tiba-tiba berubah menjadi binatang hidup berloncatan kesana–kemari. Yang asalnya dari ular menjadi ular, yang berasal dari harimau menjadi harimau, yang asalnya babi hutan menjadi babi hutan. Tentu saja suasana menjadi panik. Pesta meriah geger, Syekh Maulana Ishak mengajak isterinya pulang di Kadipaten baru yang harus diperintahnya.

Syekh Maulana Ishak hidup berbahagia bersama istrinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sejak terjadinya keributan pada jamuan makan itu Patih Bajul Sengara meniupkan isyu jahat kepada Prabu Menak Sembuyu.

Menurut Patih Bajul Sengara, Syekh Maulana Ishak sengaja mempermalukan sang Prabu dengan menghidupkan binatang yang sudah dimasak dan siap dimakan para peserta pesta. Bukan hanya itu saja, keberhasilan Syekh Maulana Ishak berdakwa mengajak rakyat Blambangan masuk Islam dianggap membahayakan kedudukan Prabu Menak Sembuyu selaku penguasa tunggal kerajaan Blambangan. Karena semakin hari semakin banyak pengikut Syekh Maulana Ishak yang masuk Islam. Bahkan tidak sedikit rakyat di wilayah kekuasaan istana Blambangan pindah menjadi penduduk Kadipaten yang dipimpin oleh Syekh Maulana Ishak.

Lama-lama Syekh Maulana Ishak merebut kerajaan Blambangan ini dari tangan Gusti Prabu, demikian hasut Patih Bayul Sengara. “Ya, tidak mustahil dia akan berontak dan memaksa kita benar-benar menjadi pengikutnya. Memang sejauh ini dia tidak tahu bahwa kita pura-pura saja masuk Islam. Tapi pada akhirnya dia pasti mengetahuinya.

Prabu Menak Sembuyu memang hanya pura-pura masuk agama Islam demi kesembuhan putrinya. Kini setelah termakan oleh hasutan Patih Bajul Sengara dia mulai menaruh kebencian kepada menantunya itu.

Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi adipati baru di Blambangan.

Makin hari semakin bertambah banyak saja pengikutnya. Hati Prabu Menak Sembuyu makin panas mengetahui hal ini. Sementara Patih Bajul Sengara tak henti-hentinya mempengaruhi sang Prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya.

Patih Bajul Sengara sendiri tanpa sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan terror pada pengikut Syekh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak di culik disiksa dan dipaksa kembali kepada agama lama. Walau kegiatan itu dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada akhirnya Syekh Maulana Ishak mengetahui juga.

Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Syekh Maulana Ishak sadar, bila hal itu diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu. Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia segera berpamit kepada istrinya untuk meninggalkan Blambangan.

“Sungguh tidak pantas seorang anak menantu berperang melawan mertuanya. Lebih tidak tega lagi hatiku bila melihat rakyat yang tak berdosa, sama-sama sewilayah Blambangan harus berperang habis-habisan. Yang diinginkan Rama Prabu adalah diriku, maka relakan lah daku pergi kembali ke Pasai. Bila anak kita lahir laki-laki berilah nama Raden Paku, jika lahir perempuan terserah adinda menamakannya.

Demikianlah, pada tengah malam, dengan hati berat karena harus meninggalkan istri tercinta yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat meninggalkan Blambangan seorang diri.

Esok harinya sepasukan besar prajurit Blambangan yang dipimpin Patih Bajul Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana Ishak. Tentu saja Patih kecele, walaupun seluruh isi istana di diobrak-abrik dia tidak menemukan Syekh Maulana Ishak yang sangat dibencinya.

Sang Patih hanya dapat memboyong Dewi Sekardadu untuk pulang ke istana Blambangan. Seluruh pengikut Syekh Maulana Ishak sudah diperintah Dewi Sekardadu untuk menyerah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Patih Bajul Sengara untuk sementara merasa bangga atas kemenangannya itu. Tapi sesungguhnya dendam kesumat masih membara di dadanya.

Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu.

Bayi itu lain daripada yang lain, wajahnya mengeluarkan cahaya terang. Terlebih Dewi Sekardadu, dengan kelahiran bayinya itu hatinya yang sedih ditinggal suami sedikit terobati.

Seisi istana bergembira.

Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara. Dibiarkannya bayi itu mendapat limpahan kasih saying keluarga istana selama empat puluh hari. Sesudah itu dia menghasut Prabu Menak Sembuyu. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit berjangkit lagi di Blambangan. Maka Patih Bajul Sengara mengkambing hitamkan Syekh Maulana Ishak sebagai penyebabnya.

“Semua bencana yang menimpa rakyat Blambangan ini disebabkan ulah Syekh Maulana Ishak. Dewa murka karena penduduk Blambangan banyak masuk agama Islam dan meninggalkan kepercayaan lama. Jika penduduk Blambangan ingin terhindar dari bencana kita harus kembali kepada agama lama, dan melenyapkan semua bekas peninggalan Syekh Maulana Ishak,” demikian kata sang Patih.

“Apa maksudmu dengan melenyapkan bekas peninggalan Syekh Maulana Ishak itu?”

tanya sang Prabu.

“Salah satu diantaranya ialah bayi keturunannya, Gusti Prabu !”

Maksudmu aku harus membunuh cucuku sendiri ?”

“Benar gusti Prabu ! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu !” kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.

Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu, namun sang Patih tiada bosan-bosannya menteror dengan hasutan dan tuduhan keji akhirnya sang Prabu terpengaruh juga. Walau demikian tiada juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung. Bayi yang masih berusia empat puluh hari dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk dibuang kelaut.

“Biarlah Dewata sendiri yang menentukan nasibnya di Samodra.” Ujar sang Prabu kepada Dewi Sekardadu.

Tentu saja Dewi Sekardadu menangis dengan suara menghayati. Ibu mana yang rela bayinya dibuang begitu saja tanpa alasan yang masuk di akal. Apalagi tempat pembuangan itu adalah lautan besar di selat Bali.

Dengan hati hancur ia ikut mengantarkan upacara Pelarungan atau pembuangan bayi yang tak berdosa itu. Dengan tatapan kosong ia memandang ke arah peti yang dibuang ke tengah lautan, peti itu makin lama makin ke tengah pada akhirnya hilang dari pandangan mata. Meski demikian wanita muda itu tidak beranjak dari tempatnya. Suasana di tepi pantai itu sudah sunyi senyap, hanya debur ombak yang terdengar membentur batu karang. Matahari mulai condong ke langit barat. Para prajurit yang diperintahkan menunggu Dewi Sekardadu segera pulang ke istana, melaporkan prilaku sang putri yang masih duduk tepekur di tepi pantai.

Di saat para prajurit meninggalkannya itulah Dewi sekardadu beranjak dari tempatnya duduk. Dengan gontai dia melangkahkan kakinya. Bukan ke istana Blambangan. Melainkan mengembara tanpa tujuan yang pasti. Dan tak seorangpun dapat menemukannya lagi.

Belakangan baru diketahui bahwa sikap benci sang Patih kepada Syekh Maulana Ishak adalah dikarenakan ambisinya untuk dapat memperistri Dewi Sekardadu sendiri. Tapi ambisi itu memudar manakala kenyataan berbicara lain, Dewi Sekardadu yang telah lama diimpikannya sebagai batu loncatan untuk dapat mewarisi tahta Blambangan ternyata lebih dahulu di sunting oleh Syekh Maulana Ishak.

Meski demikian ambisi itu tak pernah padam. Setelah berhasil menyingkirkan Syekh Maulana Ishak dari bumi Blambangan, dia berharap akan dapat berjodoh dengan Dewi Sekardadu yang telah menjadi janda, demikian pikir sang Patih. Untuk itu dia harus menyingkirkan putra Syekh Maulana Ishak, supaya Dewi Sekardadu benar-benar dapat melupakan suaminya yang dahulu dan di belakang hari bayi itu tidak menjadi perintang cita-citanya.

Kini, setelah mendengar laporan para prajurit bahwa Dewi Sekardadu yang duduk terpekur di tepi pantai hingga sore hari ternyata sudah tidak ada di tempat. Patih itu kelabakan, dia perintahkan ratusan prajurit untuk mencari sang putrid, namun itu sia-sia belaka. Sang Putri seolah-olah lenyap di telan bumi.

Konon, Syekh Maulana Ishak sebelum meneruskan perjalanan ke negeri Pasai sempat mampir ke Ampeldenta di Surabaya. Kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel dia berpesan, apabila bertemu dengan anak yang pernah dibuang ke laut oleh Prabu Menak Sembuyu itu supaya dinamakan Raden Paku dan hendaklah Raden Rahmat suka mendidiknya secara Islami.

Sudah barang tentu Sunan Ampel tidak berkeberatan menerima amanat itu. Jika kita amati di dalam Babat Tanah Jawa, sesudah pertemuan dengan Sunan Ampel, Syekh Maulana Ishak masih terus mengembara di sekitar Pulau Jawa terutama di bagian Tengah. Dan kemudian beliau mendapat sebutan Syekh Wali Lanang.

Kemudian berangkatlah Syekh Maulana Ishak ke negeri Pasai. Mendirikan perguruan Islam di sana dan terkenal sebutan Syekh Awwalul Islam.

Tetapi, berdasarkan bukti adanya makam Syekh Maulana Ishak di Gresik dekat makam Maulana Malik Ibrahim, maka di duga pada usia lanjut atau pada jaman kejayaan Sunan Giri. Syekh Maulana Ishak itu kembali ke Jawa, mendampingi Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedaton dan kemudian wafat di Gresik lalu dimakamkan tak jauh dari komplek pemakaman Syekh Maulana Malik Ibrahim.

2. Joko Samodra

Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang dari Gresik melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah Selat Bali tiba-tiba terjadi keanehan, perahu itu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundurpun tak bisa.

Nakhoda memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, mungkinkah perahunya membentur batu karang. Setelah diperiksa ternyata perahu itu hanya menabrak sebuah peti berukir indah, seperti peti milik kaum bangsawan yang digunakan menyimpan barang berharga.

Nakhoda memerintahkan mengambil peti itu. Diatas perahu peti itu dibuka, semua orang terkejut karena didalamnya terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nakhoda merasa gembira dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.

Nakhoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.

“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena peti perahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.

“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena peti perahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali. Baiklah kita kembali saja ke Gresik, kita laporkan kejadian aneh ini kepada majikan kita,” demikian kata Nakhoda kepada anak buahnya.

Perahu itupun melaju cepat ke arah Gresik. Tanpa ada halangan dan rintangan. Padahal berdasarkan perhitungan, berlayar ke arah barat saat itu sama dengan menentang gelombang dan badai.

Mereka tiba di pelabuhan Gresik dengan selamat. Tetapi Nyai Ageng Pinatih merasa cemas melihat kapal perahu dagang miliknya kembali lebih cepat dari biasanya. “Apa yang terjadi? Mengapa kalian pulang secepatnya ini ?”

Lebih-lebih setelah diperiksa barang dagangan masih utuh seperti semula. Nyai Ageng Pinatih mulai naik pitam.

Nakhoda perahu tak banyak bicara, dia perintahkan anak buahnya membawa peti berisi bayi ke hadapan Nyai Ageng Pinatih.

“Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali,” kata sang Nakhoda.

“Hanya karena peti? Apa isinya? Harta karun?” hardik Nyai Ageng Pinatih.

“Inilah isinya, kata Nakhoda sembari membuka tutup peti itu. Sepasang mata Nyai Ageng Pinatih terbelalak heran melihat bayi montok, sehat dan rupawan menggerak-gerakkan tangannya sembari menatap ke arahnya.

“Bayi ………. ? Bayi siapa ini ?” guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.

Begitu diangkat bayi itu tampak tersenyum. Hati Nyai Ageng Pinatih berbinar-binar, seketika itu juga dia merasa sangat suka pada si bayi. Lebih-lebih dia itu adalah seorang janda yang tidak dikaruniai seorang putra pun.

“Kami menemukannya di tengah samodra Selat Bali, jawab nakhoda kapal.

“Tengah samodra ?” ulang Nyai Ageng Pinatih.

“Benar Nyai Ageng.”

“Lalu apa rencana kalian atas bayi ini ?”

“Banyak di antara kami yang menyukai bayi itu dan mengambilnya sebagai anak. Tapi kami tahu betapa lama Nyai Ageng mendambakan seorang putra, maka lebih tepat kiranya bila Nyai Ageng yang merawat dan membesarkan bayi itu.”

“Jelasnya kalian berikan bayi ini kepadaku ?” Nyai Ageng menegaskan.

“Benar Nyai Ageng.”

Nyai Ageng Pinatih merasa sangat berterima kasih kepada nakhoda dan anak buahnya. Memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Sebagai ungkapan rasa senangnya.... Kepada nakhoda dan anak buahnya.

Selanjutnya bayi itu diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya raya yang disegani masyarakat Gresik. Karena bayi itu ditemukan di tengah samodra maka Nyai Ageng Pinati kemudian memberinya nama Joko Samodra.

Nyai Ageng Pinatih adalah seorang muslimah yang baik, walau Joko Samodra bukan anak kandungnya dia merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Terlebih Joko Samodra itu ternyata mempunyai sifat yang baik, kepada ibunya dia sangat berbakti selalu bersikap menyenangkan hati. Kepada orang yang lebih tua dia selalu menghormati dan menjunjung tinggi. Kepada teman-teman sebayanya dia tak pernah menyakiti atau berbuat usil. Pendek kata Joko Samodra benar-benar merupakan profil anak yang menjadi buah hati orang tua dan pantas dibanggakan setiap orang tua. Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samodra untuk berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya.

Menurut beberapa sumber mula pertama Joko Samodra setiap hari pergi ke Surabaya dan sorenya kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja di pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.

Dalam beberapa minggu saja Sunan Ampel telah dapat mengetahui bahwa Joko Samodra bukanlah anak sembarangan. Muridnya yang satu ini memiliki kecerdasan luar biasa. Semua pelajaran yang diberikan mampu dicerna dan dihafal dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat tahajjud, mendoakan murid-muridnya dan mendoakan ummat agar selamat di dunia dan akhirat. Sebelum berwudlu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama.

Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan Ampel memberi ikatan pada pada sarung murid itu.

Esok harinya, sesudah shalat subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu.

“Siapakah di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan ?” Tanya Sunan Ampel.

“Saya Kanjeng Sunan ………. “acung Joko Samodra.

Melihat yang mengacungkan tangan Joko Samodra, Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samodra, kesempatan ini digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal usul Joko Samodra. Nyai Ageng Pinatih menjawab

sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra di temukan di tengah Selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.

Sunan Ampel kemudian menyempatkan diri datang ke Gresik untuk melihat peti yang masih tersimpan rapi itu. Berdasarkan pengamatan Sunan Ampel peti itu memang berasal dari kalangan istana Blambangan, hal itu diketahui dari ciri-ciri ukiran dan tanda khusus pada peti itu. Yakinlah Sunan Ampel bahwa Joko Samodra adalah putra Syekh

Maulana Ishak yang dibuang ke tengah samodra.

Teringat pada pesan Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti dengan nama Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia percaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.

3. Raden Paku

Sewaktu mondok di pesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat dengan putra Raden Rahmat yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya bagai saudara kandung saja, saling menyayangi dan saling mengingatkan.

Setelah berusia 16 tahun, kedua pemuda itu dianjurkan untuk menimba pengetahuan yang lebih tinggi di negeri Seberang sambil meluaskan pengalaman. “Di Negeri Pasai banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah ayah kandungmu yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu yang akan datang.”

Pesan itu dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia oleh Syekh Maulana Ishak ayah kandung Raden Paku yang tak pernah melihat anaknya sejak bayi.

Raden Paku menceritakan riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan di tengah samodra dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Sebaliknya Syekh Maulana Ishak kemudian menceritakan pengalamannya di saat berdakwah di Blambangan sehingga terpaksa harus meninggalkan istri yang sangat dicintainya.

Raden Paku menangis sesenggukan mendengar kisah itu. Bukan menangisi kemalangan dirinya yang telah disia-siakan kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu tetapi memikirkan nasib ibunya yang tak diketahui lagi tempatnya berada. Apakah ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dalam hatinya telah bertekad untuk pada suatu ketika akan datang ke Blambangan menuntut balas atas kekejaman kakeknya itu. Namun Syekh Maulana Ishak segera meredahkan gelora hati Raden Paku yang masih berusia muda itu. “janganlah kau diperbudak iblis sehingga berniat membalas dendam pada kakekmu, Ujar Syekh Maulana Ishak.” Memang boleh kita membalas perbuatan jahat seorang dengan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Tapi memberi maaf itu lebih baik. Jika engkau pemuda Islam yang baik yang tidak sama dengan pemuda lain dengan menunjukkan kepribadian kita yang baik, sudah otomatis kita berdakwah dengan perbuatan nyata.”

Karena nasehat ayahnya yang bijaksana itu Raden Paku mengurungkan niatnya untuk membalas dendam pada Prabu Menak Sembuyu. Toh raja Blambangan itu masih terhitung kakeknya sendiri.

Di negeri Pasai ulama besar dari negeri asing yang menetap dan membuka pelajaran agana Islam kepada penduduk setempat. Hal ini tidak disia-siakan oleh Raden Paku dan Maulana Makdum Ibrahim. Kedua pemuda itu belajar agama dengan tekun, baik kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun kepada guru-guru agama lainnya.

Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai ilmu laduni yaitu ilmu yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otaknya seolah tiada bandingnya. Disamping belajar ilmu Ta uhid mereka juga mempelajari ilmu Tasawuf dari ulama Iran, Bagdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.

Ilmu yang dipelajari itu berpengaruh dan menjiwai kehidupan Raden Paku dalam prilakunya sehari-hari sehingga kentara benar bila ia mempunyai ilmu tingkat tinggi, ilmu yang sebenarnya hanya pantas dimiliki ulama yang berusia lanjut dan berpengalaman. Guru-gurunya kemudian memberinya gelar Syekh Maulana A’inul Yaqin.

Setelah tiga tahun berada di Pasai, dan masa belajar itu sudah dianggap cukup oleh Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan kembali ke Tanah Jawa. Oleh ayahnya, Raden Paku diberi sebuah bungkusan putih berisi tanah.

“Kelak, bila tiba masanya dirikanlah Pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul dengan tanah dalam bungkusan ini, disitulah kau membangun Pesantren,” Demikian pesan ayahnya.

Kedua pemuda itu kembali ke Surabaya. Melaporkan segala pengalamannya kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintah Makdum Ibrahim berdakwah di daerah Tuban. Sedang Raden Paku diperintah pulang ke Gresik kembali ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih. “Tiba masanya bagimu untuk berbakti kepada Nyai Ageng Pinatih.” Kata Sunan Ampel. “Walau dia bukan ibu kandungmu tapi dialah yang membesarkan dan merawatmu sejak kecil. Bantulah dagangan ibumu sambil berdakwah. Orang-orang pendahulu kita juga melakukan da’wah sambil berdagang.”

Demikianlah, Raden Makdum Ibrahim berdakwah di Tuban dengan menggunakan gamelan untuk menarik masa maka akhirnya dia dikenal sebagai Sunan Bonang. Sesuai dengan nama gamelan yang sering di gunakan melantunkan lagu-lagu atau tembang keagamaan.

Sedang Raden Paku kembali ke Gresik untuk membantu ibu angkatnya dalam mengurus perdagangan antar pulau.

4. Membersihkan Diri

Pada usia 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang dagangan ke pulau Banjar atau Kalimantan. Tugas ini diterimanya dengan senang hati. Nakhoda kapal diserahkan kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah. Walau pucuk pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih memberi kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.

Tiga buah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh muatan. Biasanya, sesudah dagangan itu terjual habis di pulau Banjar maka Abu Hurairah diperintah membawa barang dagangan dari Pulau Banjar yang sekiranya laku di Pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas dan lain-lain. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda. Tapi kali ini tidak, sesudah kapal merapat di pelabuhan Banjar, Raden Paku membagi-bagikan barang dagangan dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat.

Tentu saja hal ini membuat Abu Hurairah menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan Raden Paku, “Raden …… kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang dagangan kita diberikan secara Cuma-Cuma ?”

“Jangan kuatir Paman, “Kata Raden Paku. “Tindakan saya ini sudah tepat.

Penduduk Banjar pada saat ini sedang dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka. Sudahkah ibu memberikan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka ?. Saya kira belum, nah sekaranglah saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri.”

“Itu diluar wewenang saya Raden ,” Kata Abu Hurairah. “Jika kita tidak memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam ombak dan badai ?”

Raden Paku terdiam beberapa saat. Dia sudah maklum bila dagangan habis biasanya Abu Hurairah akan mengisi kapal atau perahu dengan barang dagangan dari Kalimantan. Tapi sekarang tak ada uang dengan apa dagangan Pulau Banjar akan dibeli. “Paman tak usah risau,” kata Raden Paku dengan tenangnya “Supaya kapal tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir.”

Walaupun agak konyol tapi benar juga akal itu, demikian pikir Abu Hurairah. Kapal itupun diisi dengan karung-karung yang berisi pasir dan batu. Sekedar menjaga keseimbangan agar kapal itu tidak karam dihantam badai.

Memang benar, mereka dapat berlayar hingga di pantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah menjadi kebat kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk menghadap Nyai Ageng Pinatih. Dugaan Abu Hurairah memang tepat.

Nyai Ageng Pinatih terbakar amarahnya demi mendengar perbuatan Raden Paku yang dianggap tidak normal itu.

“Ibu jangan terburu marah-marah,” kata Raden Paku. “Lebih baik ibu lihat dulu apakah isi karung-karung dalam kapal itu ?”

“Apakah yang dilihat lagi, Abu Hurairah tak pernah berbohong kepadaku. Pasir dan batu apa susahnya mencari di Gresik ini. Aku tidak keberatan barang dagangan itu kau sedekahkan kepada penduduk Banjar yang menderita tapi pasir dan batu itu buat apa ?”

“Sebaiknya ibu lihat lebih dahulu !” pinta Raden Paku.

“Sudah, jangan banyak bicara, buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja !” Hardik Nyai Ageng pinatih.

Tapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu, mereka terkejut. Karung-karung itu isinya berubah menjadi barang-barang dagangan yang biasa mereka bawa dari Banjar, seperti rotan, damar, kain dan emas serta intan. Bila ditaksir harganya jauh lebih besar ketimbang barang dagangan yang disedekahkan kepada penduduk Banjar. Sejak saat itu Nyai Ageng Pinatih tidak berani menganggap sembarangan pada anak angkatnya. Dia yakin kelak Raden Paku akan menjadi orang besar, seorang yang mempunyai kelebihan dibanding pemuda-pemuda biasa lainnya.

5. Perkawinan Raden Paku

Al-kisah, ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki Ageng Supa Bungkul. Ia mempunyai Sebuah pohon delima yang aneh di depan pekarangan rumahnya. Setiap kali ada orang hendak mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia.

Suatu ketika Raden Paku tanpa disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.

Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Pakuh, dan ia berkata, “kau harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah.”

Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel.

“Tak usah bingung. Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik, aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu.” Demikian kata Sunan Ampel.

“Tapi .......... bukankah saya hendak menikah dengan putri Kan jeng Sunan yaitu dengan Dewi Murtasiah ?” Ujar Raden Paku.

“Tidak mengapa?” Kata Sunan Ampel. “Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiah selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.”

Itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul seorang Bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya. Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.

Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Iapun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.

Nyai Ageng Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan. Andaikata hartanya yang banyak itu dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis, terlebih Juragan Abu Hurairah orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih menyatakan kesanggupannya untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya, maka wanta itu ikhlas melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.

Mulailah Raden Paku bertafakkur di goa yang sunyi, 40 hari 40 malam beliau tidak keluar goa, hanya bermunajat kepada Allah. Tempat Raden Paku bertafakkur itu hingga sekarang masih ada, yaitu desa Kembangan dan Kebomas. Usai bertafakkur teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Negeri Pasai. Diapun berjalan berkeliling untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang di bawa dari Negeri Pasai.

Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku di daerah perbukitan yang hawanya sejuk, hatinya terasa damai, iapun mencocokan tanah yang dibawanya dengan tanah di tempat itu. Ternyata cocok sekali. Maka di desa Sidomukti itulah ia kemudian mendirikan pesantren. Karena tempat itu adalah dataran tinggi atau gunung maka dinamakanlah pesantren Giri. Giri dalam bahasa Sangsekerta artinya gunung. Atas dukungan istri-istri dan ibunya juga dukungan spiritual dari Sunan Ampel. Tidak begitu lama, hanya dalam waktu tiga tahun Pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh Nusantara.

6. Peranan Sunan Giri Dalam Perjuangan Wali Sanga

Dimuka telah disebutkan bahwa hanya dalam tempo waktu tiga tahun Sunan Giri berhasil mengelola Pesantrennya hingga namanya terkenal ke seluruh Nusantara. Menurut Dr. H.J. De Graaf, sesudah pulang dari pengembaraannya atau berguru ke Negeri Pasai, ia memperkenalkan diri kepada dunia, kemudian berkedudukan di atas bukit di Gresik, dan ia menjadi orang pertama yang paling terkenal dari Sunan-sunan Giri yang ada. Di atas gunung tersebut seharusnya ada istana karena dikalangan rakyat dibicarakan adanya Giri Kedaton ( Kerajaan Giri ) . Murid-murid Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru, seperti Maluku, Madura, Lombok, Makasar, Hitu dan Ternate. Demikian menurut De Graaf.

Menurut Babat Tanah Jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir di seluruh penjuru benua besar, seperti Eropa ( Rum ), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain.

Semua itu adalah pengembara kebesaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati orang pada jamannya. Disamping pesantrennya yang besar ia juga membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman ummatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas.

Disekitar bukit tersebut sebenarnya dahulu jarang dihuni oleh penduduk dikarenakan sulitnya mendapatkan air. Tetapi dengan adanya Sunan Giri masalah air itu dapat diatasi. Cara Sunan Giri membuat sumur atau sumber air itu sangat aneh dan gaib, hanya beliau seorang yang mampu melakukannya.

7. Sebagai Pemimpin Kaum Putihan

Dalam menentukan hokum agama yang pada saat itu memang sedang menghadapi ujian adanya masalah-masalah ummat yang pelik, Sunan Giri sangat berhati-hati, beliau kuatir terjerumus pada jurang kemusyrikan. Itu sebabnya beliau sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sahih.

Ibadah menurut beliau haruslah sesuai dengan ajaran Nabi, tidak boleh dicampuri dengan berbagai kepercayaan lama yang justru bertentangan dengan agama Islam. Karena mahirnya beliau di bidang ilmu fiqih maka beliau mendapat sebutan Sultan Abdul Fakih. Di bidang tauhid beliau juga tak kenal kompromi dengan adat istiadat lama dan kepercayaan lama. Kepercayaan Hindu-Budha atau animesme dan dinamisme harus dikikis habis. Adat istiadat lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus dilenyapkan supaya tidak menyesatkan ummat dibelakang hari.

Pelaksanaan syariat Islam di bidang agama ibadah haruslah sesuai dengan ajaran aslinya yang termasuk di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena sikapnya ini maka Sunan Giri dan pengikutnya disebut kaum Putihan atau Islam Putih. Islam Putihan ini artinya adalah dalam beragama mengikuti jalan lurus, putih bersih seperti ajaran aslinya. Pemimpin kaum putihan adalah Sunan Giri yang didukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajad.

Kalau ada Islam Putihan tentunya ada Islam Abangan, anak Islam Abangan ini adalah para pengikut Sunan Kalijaga yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria.

Tujuan Aliran Islam Abangan ini adalah agar Islam cepat tersiar ke seluruh penduduk Tanah Jawa. Agar semua rakyat dapat menerima agama Islam, karena itu mereka berpendapat :

1. Membiarkan dahulu adat istiadat yang sukar diubah, atau tidak merubah adat yang berat ditiadakan, sehingga tidak terjadi usaha kekerasan dalam menyebarkan Islam.

2. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dihilangkan maka ditiadakan.

3. Mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk mempengaruhi sedikit demi sedikit agar mereka menerima Islam yang benar.

4. Menghindarkan terjadinya konfrontasi secara langsung atau terjadinya kekerasan dalam menyiarkan agama Islam. Maksudnya ialah mengambil ikannya tanpa mengeruhkan airnya

5. Tujuan utama kaum Abangan adalah merebut simpati rakyat sehingga rakyat mau diajak berkumpul, mendekat dan bersedia mendengarkan keterangan apa sih ajaran agama Islam itu ? Jadi tidak dibenarkan menghalau rakyat dari kalangan ummat Islam, melainkan berusaha menyenangkan hati mereka supaya mau mendekat kepada para ulama atau para Wali. Untuk itu tidak ada salahnya penggunaan kesenian rakyat seperti gending dan wayang kulit sebagai media dakwah untuk mengumpulkan mereka.

Itulah pendapat kaum Abangan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Perlu diketahui walaupun ada perbedaan dalam cara menyiarkan Islam, tapi pada waktu itu tidak sampai terjadi ketegangan kedua pihak masih sama-sama berpaham Ahlussunah waljamaah dan Bermazhab Syafi’i. Kedua pihak sama-sama menyadari pentingnya pos mereka. Pihak Putihan menjaga kemurnian agama Islam agar tidak bercampur dengan faham yang berbau syirik. Sedangkan pihak Abangan adalah mengajak masyarakat atau rakyat secepatnya menjadi pemeluk agama Islam. Bila sudah menjadi pemeluk Islam tinggal menyempurnakan iman mereka saja.

8. Peresmian Masjid Demak

Dalam peresmian Masjid Demak, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang. Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar manusia itu haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.

Jika Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak itu dengan membuka pagelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar Masjid Demak diresmikan pada saat hari jum’at sembari melaksanakan shalat jamaah Jum’at. Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi. Lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.

Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu dihadapan sidang para Wali.

Karena tak bisa disebut sebagai gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah. Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri, karena itu, Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu. Pemimpin para dewa dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga dinamakan Sang Hyang Girinata, yang arti sebenarnya adalah Sunan Giri yang menata.

Maka perdebatan tentang peresmian Masjid Demak bisa diatasi.

Peresmian itu akan diawali dengan shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukan wayang kulit yang dinamakan oleh Ki Dalang Sunan Kalijaga. Peranan Sunan Giri dalam perjuangan Wali Songo sebenarnya masih banyak, diantaranya akan kami turunkan dalam bab lain di buku ini.

9. Prabu Satmata Dan Giri Kedaton

Semakin hari pengaruh Sunan Giri semakin besar. Kekuatan spiritualnya juga semakin luas. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pesantren Giri kemudian berubah menjadi kerajaan Giri yang sering disebut Giri Kedaton. Dan Sunan Giri sebagai raja pertama bergelar Prabu Satmata.

Ketika Sunan Ampel wafat pada tahun 1478, maka Sunan Giri lah yang diangkat sebagai sesepuh Wali Songo atau Mufti ( pemimpin agama se Tanah Jawa ). Sunan Ampel adalah Penasehat bagian politik Demak. Jasa beliau sungguh besar bagi perjuangan Wali Songo, yaitu menyebarkan agama Islam tanpa kekerasan. Beliaulah yang paling tidak setuju atas beberapa usul agar Raden Patah segera menyerang Majapahit agar Demak dapat berdiri sebagai kerajaan Islam merdeka tanpa harus tunduk kepada Majapahit. Sunan Ampel dan Sunan Giri yang masih terhitung keluarga kerajaan Majapahit memang dianggap Prabu Brawijaya sebagai pembesar atau para Pangeran Majapahit yang berkuasa didaerah masing-masing. Sunan Ampel berkuasa di Surabaya dan Sunan Giri berkuasa di Giri Gresik. Dengan demikian Sunan Ampel adalah orang yang paling tahu situasi kerajaan Majapahit. Ketika beberapa wali mengusulkan untuk menyerbu Majapait, Sunan Ampel menyatakan ketidak setujuannya.

“Tanpa diserbupun Kerajaan Majapahit sudah keropos dari dalam. Lagi pula Prabu Brawijaya Kertabumi itu masih ayah kandung Raden Patah selaku Pangeran Demak Bintoro,” Kata Sunan Ampel. “Apa kata orang nanti bila seorang anak durhaka menyerang dan merebut tahta ayahnya sendiri ? Saya kira Kerajaan Majapahit akan sirna dengan sendirinya, beberapa adipati yang masih beragama Hindu sudah banyak yang ingin merebut kekuasaan. Kita tak usah ikut-ikutan merebut tahta Majapahit yang hanya mencemarkan keagungan agama yang kita anut.”

Ramalan Sunan Ampel memang benar. Tidak lama setelah beliau meninggal dunia. Adipati Keling atau Kediri bernama Girindrawardhana menyerbu kerajaan Majapahit. Ada yang menyebutkan bahwa Prabu Kertabumi atau Ayah Raden Patah itu tewas dalam serangan mendadak yang dilakukan Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Setelah Sunan Ampel wafat, penasehat bagian politik Demak digantikan oleh Sunan Kalijaga. Sedang Sunan Giri dianggap sesepuh yang sering dimintai pertimbangan di bidang politik kenegaraan.

Para Wali mengadakan sidang sesudah jatuhnya Majapahit oleh serangan menyerang Prabu Girindrawardhana yang berkuasa di Majapahit. Sebab Raden Patah adalah pewaris utama kerajaan Majapahit. Dengan demikian ketika Demak menyerbu Majapahit bukanlah menyerang Prabu Kertabumi yang menjadi ayah Raden Patah, melainkan justru merebut tahta Majapahit dari tangan musuh Prabu Kertabumi. Pada waktu Prabu Girindrawardhana ini berkuasa di Majapahit pernah berusaha menggempur Giri Kedaton, karena Sunan Giri dianggap salah satu kerabat Prabu Kertabumi. Tetapi serangan itu dapat dipatahkan oleh Sunan Giri.

Kebesaran nama Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata itu juga terdengar oleh seorang Begawan dari Lereng Lawu. Namanya Begawan Mintasemeru. Brahmana ini sengaja datang ke Giri Kedaton untuk menentang Sunan Giri adu kesaktian. Diantara adu kesaktian beragam jenisnya itu, yang paling terkenal adalah adu tebakan. Begawan Mintasemeru menciptakan sepasang angsa jantan dan betina, kemudian dikubur hidup-hidup diatas gunung Patukangan. Sesudah itu dia kembali menemui Sunan Giri.

“Apakah yang baru saya tanam di puncak gunung Patukangan itu, demikian tanya Begawan Minta Semeru menguji Sunan Giri.

“Yang Tuan tanam adalah sepasang naga jantan dan betina!” jawab Sunan Giri dengan tenangnya.

Begawan itu tertawa terbahak-bahak sembari memperolok-olok kebodohan Sunan Giri.

“Jika Tuan Begawan tidak percaya boleh anda lihat lagi, hewan apakah yang Tuan tanam di puncak gunung itu,” kata Sunan Giri.

Sang Begawan menurut. Dia bongkar kuburan sepasang angsa ciptaannya. Ternyata angsa itu lenyap sebagai gantinya adalah sepasang naga yang meliuk-liuk hendak menerkamnya. Tentu saja sang Begawan merasa teramat malu. Selanjutnya dikatakan bahwa Begawan Mintasemeru masih mendemonstrasikan beberapa kesaktiannya yang menakjubkan, tapi semuanya dapat dikalahkan oleh Sunan Giri. Pada akhirnya Begawan Mintasemeru menyerah kalah, tunduk dan masuk Islam, kemudian menyebarkan agama Islam di Gunung Lawu. Legenda tentang adu tebak kewaskitaan itu diabadikan dalam monumen patung sepasang naga di tangga masuk ke makam Sunan Giri yaitu tangga yang sebelah selatan. Disana ada sepasang naga dari ukiran batu yang mirip dengan angsa.

10. Jasa-Jasa Sunan Giri

Jasanya yang terbesar tentu saja perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa bahkan ke Nusantara, baik dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun melalui murid-muridnya yang ditugaskan keluar pulau.

Beliau pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, seorang Wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan meremehkan syariat Islam yang disebarkan para Wali lainnya. Dengan demikian Sunan Giri ikut menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlussunnah wal jama’ah. Keteguhannya dalam menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekuen berdampak positif bagi generasi Islam berikutnya.

Islam yang disiarkannya adalah Islam sesuai ajaran Nabi, tanpa di campuri kepercayaan atau adapt istiadat lama. Di bidang kesenian beliau juga berjasa besar, karena beliaulah yang pertama kali menciptakan tembang dan tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam antara lain : Jamuran, Cublak-ublak Suweng, Jithungan dan Delikan. Diantara permainan anak-anak yang dicintanya ialah sebagai berikut :

Diantara anak-anak yang bermain ada yang menjadi pemburu, dan yang lainnya menjadi obyek buruan. Mereka akan selamat dari kejaran pemburu bila telah berpegang pada tonggak atau batang pohon yang telah ditentukan lebih dulu. Inilah permainan yang disebut Jelungan. Arti permainan tersebut adalah seseorang yang sudah berpegang teguh kepada agama Islam Tauhid maka ia akan selamat dari ajakan setan atau iblis yang dilambangkan sebagai pemburu.

Sembari melakukan permainan yang disebut jelungan itu biasanya anak-anak akan menyanyikan lagu Padhang Bulan :

“Padhang-padhang bulan, ayo gage dha dolanan,

dolanane na ing latar,

ngalap padhang gilar-gilar,

nundhung begog hangetikar.”


Artinya adalah sebagai berikut :

“Malam terang bulan, marilah lekas bermain,

bermain di halaman, mengambil di halaman,

mengambil manfaat benderangnya rembulan,

mengusir gelap yang lari terbirit-birit.”

Maksud lagu dolanan tersebut ialah : Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera menuntut penghidupan, di muka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama Islam, agar hilang lenyap lah kebodohan dan kesesatan.

Sunan Giri jauh-jauh sudah memperingatkan umat agar berhati-hati terhadap perubahan jaman. Beliau pernah meramalkan bahwa pada masa yang akan datang akan banyak orang yang mengaku mendapat wahyu Tuhan tetapi sebetulnya mereka sangat jauh dari agama. Bahkan sama sekali tak mengerti ilmu agama. Mereka dipuja-puja

ummat padahal menjadi benalu atau pemeras ummat. Mereka tidak lagi menghiraukan syariat agama, bahkan menginjak-injak syariat tersebut dengan mendakwakan dirinya sudah tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu berpuasa dan berzakat karena dirinya sudah baik, sudah sempurna. Itulah orang yang tergelincir ilmunya. Mereka sesat dan menyesatkan ummat pengikutnya.

Dimasa yang akan datang juga akan muncul guru-guru ilmu yang merasa ilmunya sudah tinggi, sudah sempurna, mereka mengaku mendapat wangsit dari Tuhan dan karenanya bebas berbuat apa saja. Guru semacam ini justru dipuja-puja para pengikutnya sampai-sampai masyarakat rela mengorbankan harta, harga diri dan jiwanya demi kesenangan sang guru. Dalam kenyataannya ramalan Sunan Giri itu memang sudah sering terbukti. Sudah berapa kalikah masyarakat dibodohi guru-guru semacam itu, mulai dari dukun cabul hingga orang-orang yang mengaku dirinya Wali ternyata adalah bajingan.

11. Para Pengganti Sunan Giri

Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1442, memerintahkan kerajaan Giri selama kurang lebih dua puluh tahun. Mulai tahun 1487 hingga tahun 1506. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan Giri sangat besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagai bukti adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah memerlukan pengesahan dari Sunan Giri.

Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama hampir 200 tahun. Sesudah Sunan Giri yang pertama meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya yaitu :

1.Sunan Dalem

2.Sunan Sedomargi

3.Sunan Giri Prapen

4.Sunan Kawis Guwa

5.Panembahan Ageng Giri

6.Panembahan Mas Witana Sideng Rana

7.Pangeran Singonegoro ( bukan keturunan Sunan Giri )

8.Pangeran Singosari

Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari sebuah Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker. Serbuan ke Giri itu adalah dalam rangka penumpasan pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo seorang murid dari Pesantren Giri yang pernah menyungkir balikkan Surakarta dan bahkan pernah menjadi Raja di Kediri.

Pemberontakan Trunojoyo itu dilakukan karena tindakan sewenang-wenang dari Sunan Amangkurat I yang pernah menumpas dan membunuh 6000 ulama’ Ahlusunah yang dituduh menyebarkan isu ketidakpuasan rakyat terhadap raja. Padahal itu hanya fitnah dari orang-orang yang menjadi kaki tangan Sunan Amangkurat I, mereka adalah para pengikut faham Manunggaling Kawula Gusti, faham yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar yang ditentang Wali Sanga. Sesudah Pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Yang tinggal hanyalah makam-makam dan peninggalan Sunan Giri. Yang dirawat oleh juru kunci makam Sunan Giri.

Berbagai sumber 

Kata-kata Mutiara Wejangan dari Dakwah Walisongo

 



Ybia Indonesia - “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Surat al-Baqoroh: 256)
Dari Firman Allah SWT di atas, dalam menyebarkan agama tidak diperbolehkan ada paksaan dan intimindasi, maka dari itu marilah kita menengok kebelakang untuk melihat para wali dan penyebar agama yang ada di negri kita, mereka menyebarkan agama dengan cara yang halus dan mudah di terima oleh penduduk.

Dan cara-cara yang mereka lakukan juga tidak sepenuhnya menghilangkan kebudayaan yang ada, berbagai cara juga mereka lakukan tapi secara syariat islam, ada yang menggunakan media seni wayang, musik, ukir dan lain-lain.

Dalam kesenian biasanya mereka menyisipkan wejangan atau kata-kata mutiara, dan berikut adalah kata-kata mutiara wali songo:

"Urip iku urup"
(Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.) 

"Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara"
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.)

"Sura dira jaya jayaningrat, lebur dening pangastuti"
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.)

"Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha"
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.)

"Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan"
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.)

"Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman"
(Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut, Jangan mudah kolokan atau manja.)

"Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman"
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi.)

"Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka"
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.)

"Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendho"
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah,
Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.)

"Aja adigang, adigung, adiguna"
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.)

"Memangun resep tyasing sasama"
(Kita selalu membuat senang hati  orang lain)

"Jroning suka kudu eling lan waspodo"
(Dalam suasana gembira hendaknya selalu ingat Tuhan dan selalu waspada)

"Laksitaning subrata lan nyipta marang pringga bayaning lampah"
(Dalam upaya menggapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan)

"Meper Hardaning Pancadriya"
(Senantiasa berjuang menekan gejolak-gejolak nafsu duniawi)

"Heneng – Hening – Hanung"
(Di dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam keheningan akan mencapai jalan kebebasan mulia)

"Mulya guna Panca Waktu"
(Pencapaian kemulian lahir batin dicapai dengan sholat lima waktu)

"Menehono teken marang wong kang wuto. 
Menehono mangan marnag wong kang luwe.
Menehono busana marang wong kang wuda.
Menehono pangiyupan marang wong kang kudanan."
(Berikan tongkat pada orang yang buta, Berikan makan pada orang yang lapar Berikan pakaian pada orang yang telanjang ,Berikan tempat berteduh pada orang yang kehujanan)

"Mulya tanpa punggawa"
(kemuliaan hanya dalam iman dan kemuliaan kekasih Allah (WALI) bukan dengan banyaknya pengikut)

"Mletik tanpa sutang"
(niat untuk dakwah karena Allah, Allah yang berangkatkan kita bukan sebab dunia seperti harta dan sebagainya)

"Mabur tanpa lar"
(berdakwah jangan mengharap bantuan)

"Digdaya tanpa aji-aji"
(digdaya adalah kewibawaan, kewibawaan adalah
ilmu,ilmu adalah Allah, jadi datangilah majlis-majlis ilmu tanpa mengharap akan jadi karomah atau sakti tapi mengharaplah jadi teliti dan hati-hati dalam hidup)

"Menang tanpa tanding"
(dakwah dengan hikmah, kata-kata nyata dgn dasar yang nyata, akhlaq yg mulia dan menangislah pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam mendapatkan hidayah bukan dengan kekerasan.)

"Kuncara tanpa wara-wara"
(ikhlas dalam berdakwah bukan mengharap terbuka keagungan dan di agungkan manusia, bukan berharap terkenal dan di kenal manusia, tapi serahkan semua keagungan dan menangislah bila Allah tidak mengenal kita)

"Kalimasada senjatane"
(Selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih.)

Itulah beberapa kata-kata wejangan yang di berikan para wali songo sewaktu mengajarkan agama islam.