Tampilkan postingan dengan label KH. Maimoen Zubair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH. Maimoen Zubair. Tampilkan semua postingan

Tawadhu tingkat Langit Mbah Maimoen Zubair

 


Ybia Indonesia - Saat kemarin mengantarkan Syaikhna Dr. Abdun Nashir al-Malibari sowan ke Sarang, ada minimal empat dawuh Mbah Maimoen yang sangat berkesan bagi saya. Empat dawuh itu menunjukkan begitu "sundul langit"nya ketawadhuan KH. Maimoen Zubair. Empat dawuh keluar dari lisan mulia beliau dengan alami tanpa ada sedikitpun takalluf (paksaan):

.

1. طال عمري وقل عملي

"Umurku panjang tapi amal baikku sedikit."


Ya Rabb. Jika amal KH. Maimoen Zubair yg telah menghabiskan umurnya untuk khidmah Islam dan Muslimin dianggap sedikit, lalu bagaimana dengan amal kami ini?


2. عمري فوق التسعين، ادع لي أن أموت على دين الإسلام

Kepada Syaikh Abdun Nashir al-Malibari beliau berkata: "Umurku sudah 90 tahun lebih. Tolong doakan agar saya meninggal dalam keadaan membawa agama Islam."

Bayangkan kawan, ulama dan waliyullah besar ini masih minta didoakan meninggal dengan membawa agama Islam. Padahal, amal kesalehan beliau untuk kemaslahatan umat Islam khususnya muslimin Indonesia sudah tak terhingga. Sungguh betapa tawadhunya beliau seakan tidak menganggap amal baiknya hingga takut meninggal tidak membawa Islam.


2. أنتم صاحب المؤلفات وأنا ما عندي تأليفات

Beliau juga berkata kepada Syaikh Abdun Nashir al-Malibari: "Anda penulis banyak kitab. Sedangkan saya tidak punya karangan apa-apa."

Padahal kita tahu Mbah Maimoen itu punya banyak kitab. Diantaranya adalah Tarajim Masyayikh Sarang, Maslak at-Tanassuk al-Makki, Ta'liqat 'ala Jauharatit Tauhid, dan Ta'liqat 'ala Bad'i al-Amali. Saking tawadhunya, seakan semua kitab itu tidak beliau anggap sebagai karangan ilmiah.

Syaikh Abdun Nashir al-Malibari pun berkata sambil menunjuk kitab Tarajim Masyayikh Sarang: "Lha ini, Kiai. Ini kan tulisan Panjenengan."


Mbah Mun menjawab:


4. إنما هي تراجم، وليس فيه علم.

"Kitab ini hanya kumpulan biografi. Tidak ada ilmunya."

Ya Rabb. Tawadhu' Mbah Maimoen tingkat tinggi. Semoga Allah selalu memberi Mbah Maimoen dan Syaikh Abdun Nashir kesehatan dzahir dan bathin. Dan semoga kita sebagai santri langsung atau santri dari santrinya KH. Maimoen Zubair dapat meneladani akhlak mulia ini.


(Sumber: Kiai Nanal Ainal Fauz di Gedung PBNU Jakarta, Rabu 6 Februari 2019)

Memperjelas Tata cara Amalan Jumat terakhir Bulan Rajab

 



Ybia Indonesia - Jumat terkahir bulan Rajab adalah waktu yg istimewa, berikut amalannya:

> Sebelum khutbah

Membaca Istighfar 700/70/7 kali sebelum sholat Jum'at dari KH. Maimoen Zubair:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدِ ظَالِمٍ لاَ يـَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً  وَلاَ نُشُوْرًا

Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), dan saya taubat pada-Nya dengan taubat seorang hamba yang dzalim, yang tak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi kematian, kehidupan, dan kebangkitan".

Barang siapa yang membacanya 700/70/7 kali sebelum khotib naik mimbar pada Jum'at terakhir bulan Rajab, maka akan dimudahkan rizqinya sepanjang tahun.

> Pada saat khutbah

Membaca wirid di bawah ini ketika khatib sedang berkhutbah sebanyak 35 kali:


أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ 

NB: Bagi kaum pria lebih afdhal dibaca di antara dua khutbah agar khutbah tetap bisa disimak dengan khusu'.

Dan untuk wanita yang tidak hadir ke masjid, pembacaannya diperkirakan khatib sudah ada di mimbar.

Catatan Penting:

Fatwa Habib Salim bin Abdullah as-Syathiri ihwal amalan kaya di jumat terakhir bulan Rajab:


(فائدة مهمة) قد جاء فى كنز النجاح والسرور ان من قرأ فى آخر جمعة من رجب والخطيب على المنبر أحمد رسول الله محمد رسول الله خمسا وثلاثين مرة لا تنقطع الدرهم من يده تلك السنة .السؤال كيف يقرأ والخطيب على المنبر وهو فى نفس الوقت مأمور بالانصات الجواب أنه ليس من شروط القراءة التلفظ بل استحضارها بالقلب يكفي او يقرأ حال الجلوس على المنبر قبل الخطبة او يقرأ حال الدعاء او الترضي من الصحابة لان المراد بالانصات حال الخطبة هو الانصات حال استماع اركان الخطبة لاغير اه‍

Dalam kitab Kanzun Najah Was Surur disebutkan bahwa barangsiapa membaca “Ahmad Rosulullah, Muhammad Rosulullah” sebanyak 35 kali di jumat terakhir bulan Rajab pada saat khatib di atas mimbar, maka selama setahun tangannya tidak akan pernah kosong dari uang.

Bagaimana kita membacanya? Sedangkan pada saat khotib di atas mimbar, di waktu itu kita di perintahkan untuk diam mendengar khutbah?

Maka dalam hal ini ada empa cara

Pertama, membacanya cukup di dalam hati saja.

Kedua, di baca ketika khotib duduk di mimbar sebelum khutbah (atau diantara dua khutbah).

Ketiga, Menurut Habib Salim Asy-Syathiri di saat khutbah kedua, pada saat khatib mendoakan mu'minin dan mu'minat.

Ke empat, ketika khatib membaca do’a untuk para shahabat, karena yang di maksud untuk diam di dalam khutbah (الإنصات ) adalah diam mendengarkan rukun khutbah, bukan yang lainnya.

Semoga Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan dan usaha kita semuanya. Aamiin.


اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أجْمَعِينَ