Tampilkan postingan dengan label waliyullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waliyullah. Tampilkan semua postingan

Biografi Abah Anom, Ulama dan Walliyullah dari Tasikmalaya



Ybia Indonesia - Abah Anom, yang juga dikenal sebagai Syech Ahmad Shahibul Wafa Tajul 'Arifin, adalah seorang Ulama dan Walliyullah terkemuka di Indonesia. Beliau lahir pada tanggal 1 Januari 1915 di kampung Godebah, Surayalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Abah Anom meninggal pada tanggal 5 September 2011 dalam usia 96 tahun.


Silsilah Nasab Abah Anom

Abah Anom adalah salah satu Ulama keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hasan. Berikut adalah silsilah nasab Abah Anom:

- Sayyid Syaikh Ahmad Shahibulwafa Tajul 'Arifin bin Sayyid Syekh 'Abdulloh Mubarok

- bin Sayyid Nur Muhammad (Eyang Upas)

- bin Sayyid 'Ali Alhusaini

- putra pasangan Sayyid Ibrohim Arrof'i dan Sayyidah Ummi Hafshoh binti Sayyid Sirruddin

- bin Sayyid Sirrojuddin bin Sayyid Ahmad Izzuddin bin Sayyid Aziz Mubarok

- bin Sayyid Fathurrohman bin Sayyid 'Abdulwafa bin Sayyid Miftahulwahhab

- bin Sayyid Hasbi Ashshidiqi bin Sayyid Hasan Mufadhol bin Sayyid Abu Bakar Atstsaqolani

- bin Sayyid Ibrohim Yahya bin Sayyid Muhammad Sya'roni bin Sayyid Abu 'Abdulkarim

- bin Sayyid Musthofa Al akhyar bin Sayyid 'Abdulhakim bin Sayyid 'Abdulloh Maslul

- bin Sayyid Hasan Ghifari bin Sayyid Hamdan Muhammad Alghifari bin Sayyid Ibrohim

- bin Sayyid Hamzah Nur Said bin Sayyid Nur Muhammad 'Abdul'afwa bin Sayyid Isma'il

- bin Sayyid Abu Fadhil Maulana R.a Sayyid Musa Alfatani bin Sayyid Said Al Anshori

- bin Sayyid Ibrohim bin Sayyid Utsman Ali Hasan bin Sayyid Muhammad bin Sayyidina Hasan Assibthi

- bin Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW


Riwayat Pendidikan Abah Anom

Abah Anom memulai pendidikannya pada tahun 1923-1928 di Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis pada usia 8 tahun. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi, Tasikmalaya.


Perjalanan Spiritual Abah Anom

Abah Anom dikenal sebagai Mursyid Tariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sebuah tarekat yang memiliki pengaruh besar dalam dunia spiritual Islam di Indonesia. Beliau memiliki peran penting dalam mengembangkan dan menyebarkan ajaran Islam di masyarakat.

Dengan demikian, Abah Anom telah meninggalkan warisan yang besar dalam bidang keagamaan dan spiritual di Indonesia. Beliau akan selalu diingat sebagai seorang Ulama dan Walliyullah yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.

Walisongo dan Pendekatan Dakwah. dari Pendidikan, Tradisi, dan Seni



Ybia Indonesia - Disepanjang sejarah Islam di Indonesia, Wali Songo dikenal sebagai tokoh-tokoh agama yang berkontribusi besar pada penyebaran Islam di tanah Jawa dan wilayah sekitarnya. Mereka menyebarkan dakwah mereka ke seluruh Jawa dan tetap mengabdi di sana hingga akhir hayatnya.

Dalam bahasa Jawa, Wali Songo berarti wali yang sembilan, menandakan jumlah para wali yang ada sembilan. Namun ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah turunan dari bahasa Arab tsana yang berarti mulia.

Setiap Walisongo memiliki pendekatan dakwah unik untuk mencapai misinya. Ada yang berkaitan dengan pendidikan, tradisi, dan bahkan seni.

Strategi Walisongo berhasil yang membuat masyarakat Jawa secara bertahap menerima agama Islam dan belajar tentang Islam dari Wali Songo. Banyak dari mereka akhirnya memilih mengucap dua kalimat syahadat. (*)

Kisah Karomah Waliyullah Kiai Bisri Musthofa

 


Ybia Indonesia - KH Bisri Musthofa beliau adalah ayah Gus Mus dan KH Ali Ma'sum krapyak adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidup Gus Mus, Kedua kiyai tersebut memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.

KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kiai pengarang yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa, di antaranya (yang cukup terkenal) adalah Tafsir al-Ibriz selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.

Suatu hari K.H. Musthofa Bisri (Gus Mus) putra KH Bisri Musthofa, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jawa Tengah, kedatangan seorang tamu dari Cirebon, Jawa Barat.

“Assalamu ‘alaikum, Anda Gus Mus?” tanya si tamu yang namanya tidak tercatat dalam ingatan beliau.

“Ya, benar, saya Musthofa,” jawab Gus Mus.

“Saya dari Cirebon, (kata si tamu). “Saya ingin menyampaikan pesan Kiai Bisri, beliau berpesan kepada saya agar menemui Anda, dan meminta agar Anda mengoreksi cetakan Al-Quran Menara Kudus karena pada cetakan itu, dalam surah Al-Fath, di situ ada sedikit kesalahan kecil dalam penulisan.”.

Tentu saja beliau (Gus Mus) kaget namun untuk tidak mengecewakan tamunya, beliau menahan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Kapan Anda ketemu beliau?” tanya Gus Mus.

“Kemarin di Cirebon,” jawab si tamu datar.

Gus Mus kemudian tidak terlalu memikirkan hal ihwal tamunya, pesannya itulah yang lebih istimewa.

Kepada tamunya itu ; Gus Mus mengungkapkan bahwa Kiai Bisri adalah ayahnya, tapi telah meninggal empat puluh hari sebelumnya.

Tentu saja si tamu keheranan, namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang kedatangannya hanya untuk menyampaikan pesan singkat itu.

Gus Mus kemudian segera menemui K.H. Abu Amar dan K.H. Arwani di Kudus, keesokan harinya.

Kedua kiai tersebut adalah penghafal Al-Quran yang dipercaya penerbit Menara Kudus untuk menerbitkan kitab Tafsir Al-lbriz, sebagai tashhih atau korektor, beliau ingin meyakinkan diri beliau tentang pesan orang dari Cirebon itu kepada K.H. Abu Amar dan K.H. Arwani.

Setelah berdiskusi mendalam, ternyata informasi tersebut benar, kesalahan itu terdapat dalam ayat ke-18 surah Al-Fath. Ayat tersebut mestinya tertulis :

(لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ) 


laqad radhiyallahu ‘anil mu’minina, bukan laqad radhiyallahu 'ala mu'minin.

Pengalaman yang sama juga dialami lagi oleh Gus Mus, dalam kesempatan yang lain ia mendapat tamu, juga dari Cirebon.

“Anda diminta Kiai Bisri agar melanjutkan karya beliau yang belum selesai,” kata tamu itu.

“Kapan Anda ketemu beliau?” tanya Gus Mus.

“Kemarin di Cirebon,” jawab si tamu, juga dengan nada ringan dan datar.

Setelah mengucapkan terima kasih, kepada tamunya kali itu Gus Mus menjelaskan bahwa Kiai Bisri telah wafat beberapa waktu sebelumnya.

Reaksi si tamu pun sama, karena tujuannya ke Rembang tak lain hanyalah untuk menyampaikan pesan Kiai Bisri. Mushofa.

Pengalaman Gus Mus itu mempertegas kebenaran firman Allah dalam surah Al-Hijr ayat 9,

(إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ), 

“Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Al-Quran dan kami benar-benar memeliharanya.”

Dan dalam surah Ali Imran ayat 169,


(وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ )

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

Oleh karena itu, sering kali kita mendengar para kiai yang telah mencapai maqam tertentu ketika meninggal dunia masih dapat menemui seseorang, bukan sekadar dalam mimpi, namun seperti di alam nyata, hal ini juga terjadi pada KH. Muntaha al-Hafizh Wonosobo dan beberapa kiai lainnya. Ya, itu memang karomah dari sang kiai.

Mengenai KH Bisri Musthofa, beliau wafat pada hari Rabu 16 Februari 1977 pada usia 64 tahun, tepat seminggu menjelang pemilihan umum tahun tersebut sedangkan KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah putra keduanya yang kini meneruskan memimpin Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Leteh Rembang, peninggalan Beliau KH Bisri Musthofa.


أفاض الله لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره


Wallahu A'lam Bishawab, Semoga bermanfaat.

Jejak Sejarah Islam, Melalui Eyang Santri Di kaki Gunung Salak


Sukabumi, Ybia Indonesia - di kecamatan Cicurug, tepatnya di Cidahu ada sebuah makam yang kerap diziarahi oleh berbagai kelompok masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara. Di makam tersebut bersemayam seorang ulama dan tokoh sejarah yang harum namanya, Eyang Santri. Beliau adalah sosok yang dianggap memiliki kekuatan daya pikir dan daya batin yang linuwih (istimewa).

Makam Eyang Santri berada di kaki Gunung Salak pada ketinggian 800m dpl, tepatnya di kawasan Padepokan Girijaya. Padepokan Girijaya masuk ke wilayah Desa Girijaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Kira-kira kalau dari Cicurug ke Padepokan berjarak sekitar 14 km.

Nah, siapakah Eyang Santri? Kalian mungkin sudah banyak yang tahu, bagi yang belum tahu ini lima fakta mengagumkan tentangnya. 

1. Keturunan Pangeran Sambernyowo

Orang sekitar Cidahu dan banyak orang lainnya menyebutnya dengan nama Eyang Santri alias Eyang Girijaya alias Pangeran Muhammad Santri. Sebenarnya nama aslinya adalah Pangeran Djojokusumo. Ia lahir pada tahun 1770 dan merupakan salah satu kerabat dekat trah Mangkunegaran dan merupakan cucu kandung dari Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegoro I. Ayahnya bernama Pangeran Prabuamidjojo dan ibunya yang bernama Puteri Ayu Trikusumo adalah puteri dari Pangeran Cakraningrat, penguasa Pamekasan, Madura.

Di masa remajanya Eyang Santri banyak berguru dengan banyak ulama, bahkan ia sampai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama di Pasiriyan, Jawa Timur.

2. Keliling pulau Jawa dan mendapat wangsit

Pangeran Djojokusumo di masa mudanya sangat tertarik dengan cerita-cerita tentang keindahan Pulau Jawa. Akhirnya, Pangeran Djojokusumo memutuskan untuk berkeliling Jawa. Dalam keliling Jawa itu ia menikmati keindahan Pulau Jawa yang ia catat ‘Sebuah Pulau yang teramat indah’. Ia kunjungi seluruh makam-makam keramat, ia kunjungi ulama dan ahli kebatinan dan ‘ngangsu ilmu’ (belajar).

Saat tahun 1823 Pakubuwono V wafat, Pangeran Djojokusumo yang sedang berada di Sumedang dipanggil pulang ke Solo untuk menjadi penasihat Pakubuwono VI. Sesampainya di Solo ia merasakan akan ada perubahan besar di bumi Jawa. Ia akhirnya bertapa sebentar di sebuah danau bernama Cengklik. Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’.

Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat. ‘Perang besar’ yang dimaksud Pangeran Djojokusumo kemungkinan besar adalah Perang Diponegoro.

3. Mendukung Pangeran Diponegoro

Di masa mudanya, Pangeran Djojokusumo bersahabat dengan Pangeran Jungut Mandurareja yang merupkan paman dari Sultan Solo, Pakubuwono VI. Saat terjadi pergolakan menolak patok tanah Belanda yang dimotori oleh Pangeran Diponegoro, Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja mendukung Pangeran Diponegoro.

“Akan ada banjir darah di Jawa, dan ada gelombang kelaparan tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda. Tapi kita harus bermain strategis. Kalau keponakanku Pakubuwono VI ketahuan mendukung Pangeran Diponegoro maka Solo akan dihantam habis, dibikin crah, dibuat huru hara, itu malah memperlemah barisan perlawanan. Ada baiknya perjanjian dukungan dengan Pangeran Diponegoro dibuat diam-diam,” kata Pangeran Djojokusumo.

Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja pun me-lobby Pakubuwono VI untuk mendukung Pangeran Diponegoro. Walhasil, singkat cerita, Pakubuwono VI pun mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.

4. Menyepi ke Cidahu

Saat Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda karena akal licik mereka, banyak tokoh yang dicurigai terlibat menjadi incaran Belanda. Bahkan, Pakubuwono VI ditangkap karena terbongkar rahasianya oleh Residen Semarang yang menemukan banyak data dukungan Solo kepada Yogya (Pangeran Diponegoro).

Pangeran Djojokusumo juga dicurigai terlibat oleh Belanda. Ia memilih untuk melarikan diri ke Bagelen lalu ke Cilacap. Di sini pun ia dikepung banyak pendukung Belanda. Dengan menyamar sebagai petani, ia pergi ke Sukabumi, tepatnya ke desa Cidahu. Di sana ia menyamar sebagai petani cabe dan petani sawah, ia juga mengajar mengaji penduduk sana. Sejak itu ia dikenal dengan nama Eyang Santri.

5. Dikunjungi banyak tokoh nasional-internasional

Setelah Perang Diponegoro lama usai, di tahun 1850, pernah datang beberapa utusan dari Solo yang meminta Eyang Santri pulang ke Solo, tapi ia menolak dan memilih menjadi petani saja di Cidahu. Usia Eyang Santri mencapai 159 tahun saat meninggal di sekitar tahun 1929. Ia menjadi saksi berlangsungnya kekalahan Jawa dan bangkitnya rasa kebangsaan. Ia dikunjungi banyak ahli kebatinan dan para pemimpin politik.

Di tahun 1880-an ia dikunjungi oleh Wahidin Sudirohusodo yang sedang berkeliling Jawa untuk menyadarkan fungsi pendidikan bagi kaum pribumi dalam menghadapi jaman modern. Dirk van Hinloopen Labberton, ahli teosofi Belanda yang belajar filosofi kebatinan Jawa juga kerap berkunjung ke Eyang Santri.

Di awal tahun 1900-an HOS Tjokroaminoto (pendiri Serikat Islam) juga mampir ke rumah Eyang Santri mengajak muridnya Sukarno. Bung Karno datang menemui Eyang Santri dan digembleng kekuatan batin untuk melawan Belanda.

Ahli kebatinan Jawa sekaligus kakak Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono juga datang berguru ke Eyang Santri. Tokoh lainnya yang pernah mengunjungi Eyang Santri adalah Ki Hajar Dewantoro, Muhammad Yamin, sampai tokoh spiritual dan filsuf India seperti Rabindranath Tagore.

Itulah kisah seorang tokoh spiritual, ulama yang penuh karomah yang kini beristirahat dengan tenang di Cidahu Sukabumi. 


Berbagai sumber

Kisah Kewalian Syaikh M Hasan Sepuh dan Habib Soleh



Ybia Indonesia - Haul dua wali qutub diperingati hari ini. Pertama adalah Habib Soleh bin Muchsin al-Hamid, Tanggul, Jember dan Syaikh Muhammad Hasan Sepuh, Genggong, Probolinggo.

Setidaknya ada kisah yang dapat dijadikan teladan atas keduanya. Kisah pertama, pernah Kiai Hasan Sepuh berkirim surat ke Habib Soleh Tanggul. Ketika itu yang mengirimkan surat adalah Kiai Hasan dan diterima sang habib. Bersamaan dengan itu ada tamu Habib Soleh dengan membawa keluarga yang sedang sakit parah.

Habib Soleh Tanggul selesai membaca surat dari Kiai Hasan Sepuh, langsung mencelupkan surat tersebut ke dalam air dan kemudian meminumkan kepada yang sakit. Subhanallah, yang sakit saat itu langsung sembuh. Dan saat kejadian masih disaksikan santri yang bertugas mengantarkan surat dari Kiai Hasan ke Habib Soleh.

Sedangkan kisah berikutnya, pernah ada yang bertanya ke Habib Soleh Tanggul: Wahai Habib, benarkah Kiai Hasan Sepuh itu wali? Habib Soleh tidak menjawab. Malah mengajak orang yang bertanya ini ke Genggong.

Berangkatlah semua ke Genggong menggunakan dokar atau andong, yakni alat transportasi kereta kuda tersebut.

Singkat cerita, saat rombongan mendekati gerbang Pesantren Genggong, Habib Soleh berkata kepada orang yang bertanya tadi: Saksikanlah, jika Kiai Hasan Sepuh Genggong adalah wali, maka kuda ini tidak berani masuk mendekati rumah Kiai Hasan! Dan mendadak kuda yang menarik dokar tersebut langsung berhenti dan meringkuk serta menundukkan kepala seolah malu.

Habib Soleh tersenyum dan berkata: Kuda saja merasa malu dan tunduk ke kewaliannya Kiai Hasan.

KH. Abdul Khamid Kajoran



Ybia Indonesia - Makam mbah Hamid Kajoran terletak di Tuguran, Banjaragung, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Beliau Putra dari Kyai Usman. Beliau juga Pendiri Pondok Pesantren Bodho Nahdhotut Thulab yang hidup di era Hindia Belanda. Beliau wafat Tahun 1989

Diantara Putra beliau adalah;

1. KH. Muhammad Amin Chamid/Pak Amin

2. KH. Abdullah Su'adi Widjaya Chamid/Pak Suad

Gus Jankidausat

3. KH. Baqoh 'Arifin Chamid/Pak Baqoh

4. KH. Raden Rahmat Bangun Chamid/Pak Mat Bangun

5. KH. Gumiwang Chamid/Pak Gum

6. Ny. Hj. Qo'idah Hamid

Beliau merupakan murid dari Kyai Khalil Bangkalan. Mbah Hamid adalah ulama kharismatik yang Pancasilais. 

Bahkan menurut keterangan beberapa kyai sepuh, Bung Karno sempat beberapa kali diskusi soal Pancasila dan Islam dengan mbah Hamid dan mbah Wahab (Wahab Chasbullah).

Penjelasan tentang biografi dan riwayat hidup beliau tidak banyak dipublikasikan, sehingga untuk mengenal beliau lebih dekat menjadi sulit. 

Ada proses dialog yang intens di kalangan ulama dan tokoh NU sebelum menerima Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbangsa dan bernegara. 

Dialog tidak hanya dilakukan di forum-forum formal ilmiah akademik yang mengeksplorasi argumen dan gagasan rasional, tetapi juga di forum non formal seperti silaturrahim dan anjangsana serta forum mujahadah dan riyadloh yang mengeksplorasi aspek batiniah spiritual.

Salah satu forum tabayyun dan dialog informal mengenai kajian terhadap azas tunggal Pancasila di peroleh dari Gus Amin Hamid Kajoran, putra Kyai Hamid Kajoran (alm) yang menjadi saksi sejarah atas peristiwa yang monumental ini.

Diceritakan oleh Gus Amin, pada suatu hari ada beberapa kyai yang sowan menghadap Kyai Hamid Kajoran diantaranya Kyai Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta; Kyai Mujib Ridwan, Surabaya dan Kyai Imron Hamzah, Surabaya. 

Ada juga waktu itu Kyai Fauzi Bandung yang disopiri oleh Kyai Saeful Mujab, Yogyakarta. 

Kyai Ali Maksum adalah salah satu anggota tim bentukan PBNU yang ditugasi untuk melakukan kajian mengenai azas tunggal Pancasila. 

Tim ini diketuai KH. Ahmad Shiddiq dengan anggota Kyai Mahrus Aly Lirboyo, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kyai Masykur Malang dan Kyai Ali Maksum Krapyak.

Para kyai ini menyampaikan kepada Kyai Hamid Kajoran bahwa ada upaya pemaksaan dari pemerintahan Soeharto untuk menerapkan Pancasila sebagai azas tunggal. 

Mendengar pernyataan ini Kyai Khamid langsung menjawab, “Lho, koq pemaksaan? 

Pancasila itu kan milik kita, hasil ijtihad-nya para ulama dan kyai kita, terutama Hadratusysyekh KH Hasyim Asy’ari. Lha, kalo sekarang mau dijadikan azas tunggal ya Alhamdulillah. Itu artinya dikembalikan ke kita, koq malah kita merasa dipaksa.”

Mendengar jawaban kyai Hamid ini semua tertegun. Kemudian Kyai Ali bertanya, “Ini tafsirnya bagaimana?”

Atas pertanyaan ini kemudian Kyai Hamid menjelaskan soal sejarah dan tafsir Pancasila menurut ulama NU. 

Dijelaskan banwa Pancasila merupakan penjelmaan (sublimasi) ajaran Islam yang mentautkan syariah, aqidah dan tasawwuf.

“Oleh karenanya kita bisa menjalankan dua sila saja dari Pancasila secara konsisten dan benar Insya Allah kita bisa menjadi wali,” demikian Kyai Hamid menjelaskan Dua sila tersebut adalah sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. 

Mengamalkan sila Ketuhanan artinya kita memahami dan mengerti Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya, perintah dan laranganNya. Sedangkan mengamalkan sila kemanusiaan artinya kita harus “mengerti manusia”, “memanusiakan manusia” dan “merasa sebagai manusia”.

Kemudian Mbah Hamid menjelas tafsirnya secara detail dengan perspektif syariah dan tasawwuf . Ketika penafsiran sampai pada pengertian “merasa manusia”, Kyai Ali Maksum menangis.

Dari penggalan kisah ini dapat terlihat bahwa Pancasila merupakan produk pemikiran (ijtihad) dari para ulama Nusantara sebagai menivestasi atas ajaran dan nilai-nilai Islam. 

Kedua, sikap NU menerima Pancasila sebagai azas bukan merupakan sikap keterpaksaan karena adanya tekanan politik, atau sekedar langkah taktis politik menghadapi tekanan, tetapi merupakan langkah ideologis.

Ketiga, sebagai bagian dari kelompok yang ikut merumuskan Pancasila, NU mengerti sejarah yang menjadi “asbabul wurud” dari Pancasila dengan segenap spirit dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. 

Oleh karenanya NU memiliki tafsir terhadap sila-sila Pancasila yang sesuai dengan syariat dan tasawwuf Islam.

Keempat, penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal oleh NU dilakukan setelah melalui berbagai kajian dan upaya riyadloh lahir batin sebagaimana yang dilakukan para masayikh NU saat menerima Pancasila sebagai Dasar Negara. Jadi sama sekali bukan keterpaksaan.

Kelima, NU adalah ormas Islam pertama yang menerima azas tunggal Pancasila. Ini artinya NU menjadi pelopor penerimaan azas tunggal. 

Secara nalar sikap kepeloporan seperti tidak akan muncul karena terpaksa tapi karena kajian yang matang dan hujjah yang kuat. 

Dan para kyai yang ikhlas dan alim tak akan mungkin mau dipaksa menerima atau menolak sesuatu apalagi yang terkait dengan masalah agama.

Untuk memperkuat argumen ini bisa dilihat dalam risalah Kyai Ahmad Shiddiq setebal 34 halaman yang dipresentasikan di hadapan Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983. 

Di sini disebutkan banwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, secara substansial Pancasila sangat islami. 

Bahkan butir-butir dari Pancasila adalah wujud dari nilai-nilai Islam. Sila pertamanya mencerminkan tauhid, sedangkan sila-sila lainnya representasi dari syariat. 

Dalam naskah ini tak ada satupum argumen politis yang mencerminkan keterpaksaan NU menerima azas tunggal Pancasila.

Karomah Mbah Khamid Kajoran

Menunda Kematian. 

Dekat-dekat menjelang Muktamar NU ke-28 tahun 1989 di Krapyak Yogyakarta, Mbah Hamid Kajoran jatuh sakit. Mbah Lim (Kyai Muslim Rifai Imampuro, Klaten) mengajak Gus Dur menengok ke kediaman beliau.

“Aku tak mati yo, Lim…” (Aku mau mati nih, Lim), kata Mbah Hamid.

“Ndak bisa, ndak bisa, ndak bisa….”, (tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa), kata Mbah Lim dengan gayanya yang khas,

"Mau Muktamar kok mati… enak aja…” (Menjelang Muktamar kok meninggal), kata Mbah Lim lagi

“Lha gimana…?” tanya Mbah Hamid

“Mati ya mati tapi nunggu Muktamar dulu!” jawab Mbah Lim. 

Tepat empat puluh hari sesudah hari itu, beberapa minggu sesudah Muktamar, Mbah Hamid Kajoran wafat.

Masih banyak lagi kisah karomah beliau. Namun bukan itu yang ingin kami dapatkan dari sowan ziarah ke makam beliau. 

Namun kami belajar dari bagaimana kecintaan beliau terhadap negeri kita lndonesia tercinta ini dengan porsi masing-masing. 

Semoga dengan mengenal sosok beliau, kita mampu terinspirasi dan berusaha mencontoh akhlak beliau serta teladan beliau dalam mengisi kemerdekaan ini sesuai dengan profesi kita masing-masing. 


Wallahu a'lam. 

Semoga bermanfaat. 

108 Wali dan Nama Waliyullah di Jakarta



Ybia Indonesia - 108 Wali dan Nama Waliyullah di Jakarta 

Tawasul itu artinya apa?

Tawassul adalah mendekatkan diri dengan suatu perantaraan (wasilah) atau menjadikan sesuatu yang menurut Allah mempunyai nilai, derajat dan kedudukan yang tinggi, untuk dijadikan sebagai perantaraan (wasilah) agar doa dapat dikabulkan. dengan mutawassil bentuk plural dari kata wasil.


Apa bedanya tawassul dan Wasilah?

A. Pengertian Tawassul dan Wasilah Menurut bahasa tawassul berarti permintaan atau permohonan. Sedang wasilah mempunyai arti wasithah atau perantaraan, atau bisa diartikan jalan.


Wali Dan Nama Wali Alloh

1. AL-HABIB HUSEIN BIN MUHSIN AL-AYDRUS

2. SYARIFAH SALMA BINTI HUSEIN AL-AYDRUS

3. MBAH PANGERAN SYARIF (DATUK BANJIR) BIN SYEIKH ABDURROHMAN (LUBANG BUAYA)

4. AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HASAN BIN HUD AL-ATHOS (Al-Khaerot)

5. AL-HABIB ‘ALI BIN HUSEIN AL-ATHOS (Al-Hawi)

6. AL-HABIB AHMAD BIN ABDULLAH BIN HASAN AL-ATHOS (Al-Khaerot)

7. AL-HABIB ‘IDRUS BIN HUSEIN AL-HAMID AL-KHOIROT (Kramat Al-Khaerot)

8. PANGERAN JAYAKARTA BIN PANGERAN SUNGRASA WIJAYA KARTA BIN TUBAGUS ANGKE (Klender)

9. PANGERAN LAHUT (Klender)

10. PANGERAN SEGIRI BIN SULTAN AGUNG TIRTAYASA (Klender)

11. PANGERAN SURYA (KLENDER)

12. RATU ROFIAH (KLENDER)

13. SYEIKH KOMPI UBAN (KRAMAT CIPINANG)

14. SYEIKH DATUK GEONG (KRAMAT JATI)

15. SYEIKH DATUK BANJAR (KRAMAT JATI)

16. KYAI QOSIM BIN KYAI TOHIR (PULO)

17. AL-HABIB UMAR (KRAMAT KOMPI MAS SEMPER)

18. AL-HABIB MUHAMMAD SYARIF BIN ALWI BIN HASAN BIN ALI ASSEGAF (KOMPI JENGGOT)

19. SYEIKH KOMPI TIMUR (KRAMAT SUNTER)

20. SYEIKH KOMPI BARAT (KRAMAT SUNTER)

21. SYEIKH KOMPI RESO (KRAMAT SUNTER)

22. SYEIKH KOMPI PENGANTIN (KRAMAT YOS SUDARSO)

23. AL-HABIB SYARIF BIN ‘ALI BIN HUSEIN BIN UTSMAN (CUCU SUNAN GUNUNG JATI 19, KRAMAT MENGKOK) SEMPER

24. SAYYID ALI (KRAMAT BATU TIMBUL/TUMBUH SEMPER)

25. PANGERAN PUGER BIN MUHAMMAD BIN SULTAN HASANUDIN (KRAMAT DEWA KEMBAR)

26. AL-HABIB SALIM BIN SYEIKH ABU BAKAR (DEWA KEMBAR)

27. AL-HABIB SAYYID HUSEIN BIN HASAN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT DEWA KEMBAR)

28. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD ABDULLOH AL-HABSYI/MBAH SAYYID ARELI DATO KEMBANG (KRAMAT ANCOL)

29. SYARIFAH ENENG (KRAMAT ANCOL)

30. AL-HABIB HANUN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)

31. HABABAH SYARIFAH REGOAN BINTI HANUN BINTI SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)

32. AL-HABIB HASAN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (MBAH PRIUK)

33. AL-HABIB SYARIF MUHSIN BIN ‘ALI BIN ISHAQ BIN YAHYA (KRAMAT CILINCING)

34. AL-HABIB SYEIKH ABDUL HALIM BIN YAHYA (KRAMAT AL-ALAM MARUNDA)

35. AL-HABIB MUHAMMAD BIN UMAR AL-QUDSY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

36. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN BA’ALAWY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

37. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ALWI ASSATIRI (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

38. SYARIFAH FATIMAH KECIL BINTI HUSEIN AL-AYDRUS (KRAMAT PEKOJAN)

39. AL-HABIB HUSEIN BIN ABU BAKAR AL-AYDRUS (KRAMAT LUAR BATANG)

40. AL-HABIB MUHAMMAD BIN SYEIKH BIN HUSEIN AL-BAHAR (KRAMAT TUNGGAK)

41. MU’ALLIM SYAFI’I HADZAMI BIN SHOLEH RO’IDI (KEBAYORAN)

42. AL-HABIB UTSMAN BIN ABDULLOH BIN AQIL BIN YAHYA BIN AL’ALAWY (PONDOK BAMBU)

43. PANGERAN SYARIF HAMID AL-QODRI BIN AL-HABIB SULTON SYARIF ABDUL ROHMAN AL-QODRY BIN MAULANA SYARIF HUSEIN (KRAMAT ANGKE)

44. SYARIFAH AMINAH BINTI PANGERAN SYARIF HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)

45. AL-HABIB SHOLEH AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)

46. KOMPI NA SYEIKH (KRAMAT ANGKE)

47. SYEIKH JA’FAR (KRAMAT ANGKE)

48. SYEIKH LIONG (KRAMAT ANGKE)

49. SYARIFAH MARIAM (KRAMAT ANGKE)

50. PANGERAN TUBAGUS ANJANI (KRAMAT ANGKE)

51. AL-HABIB SAYYID ABU BAKAR BIN SAYYID ALWI BAHSAN JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)

52. AL-HABIB ALWI BIN AHMAD JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)

53. AL-HABIB ABU BAKAR BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)

54. SYARIFAH HUDZAIFAH BINTI ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)

55. PANGERAN WIJAYA KUSUMA (KRAMAT KEDOYA)

56. PANGERAN PAPAK ADIPATI TANJUNG JAYA (KRAMAT PEDONGKELAN)

57. AL-HABIB UMAR BIN HAMID BIN HASAN BIN ABDULLOH BIN AHMAD BIIN HASAN BIN SHOHIBUL ROTIB AL-HADDAD (KRAMAT PESING)

58. AL-HABIB ABBAS BIN ABU BAKAR BIN HUSEIN BIN AHMAD BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT RAYA BOKOR)

59. AL-HABIB UTSMAN BIN MUHAMMAD BIN AHMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)

60. AL-HABIB UMAR BIN UTSMAN BIN MUHAMMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)

61. SHOHIBUL KAROMAH WAL BAROKAH AL-HABIB ABU BAKAR BIN ALWI BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT ABIDIN PONDOK BAMBU)

62. SAYYID HABIB HUSEIN BIN UMAR BIN ‘ALI BIN SYAHAB (KRAMAT PECENONGAN)

63. AL-HABIB ALI BIN SHOLEH ABDURROHMAN AL-QODRY RADEN ATENG KERTADRIA (KRAMAT JAYAKARTA)

64. AL-HABABAH SYARIFAH FATHIMAH (KRAMAT SAWAH BESAR)

65. AL-HABIB HASAN BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

66. AL-HABIB ABDUL QODIR BIN MUHAMMAD AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

67. AL-HABIB UMAR BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

68. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI (KWITANG)

69. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI KWITANG)

70. SYARIFAH NI’MAH BINTI ZEIN BIN AHMAD BIN SYAHAB (KWITANG)

71. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ABDULLOH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)

72. SYARIFAH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)

73. SYEIKH UPU DAENG H.ARIF UDIN (KRAMAT SENEN, WAFAT TAHUN 17)

74. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

75. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

76. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

77. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

78. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

79. AL-HABIB THOHA BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

80. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN HASAN BIN SHAHAB (KALIBATA)

81. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)

82. AL-HABIB AHMAD BIN ‘ALWI BIN AHMAD BIN HASAN BIN ‘ABDULLOH AL-HADDAD / HABIB KUNCUNG (KALIBATA)

83. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)

84. AL-HABIB ABDULLOH BIN HUSEIN ASSAMI AL-ATHOS

85. AL-HABIB THOHA BIN MUHAMMAD BIN ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA BIN ABDULLOH BIN THOHA BIN UMAR BIN ALWI AL-HADDAD (KALIBATA)

86. SYEIKH RAHMATULLOH (KEBAYORAN)

87. DATUK BIRU (KRAMAT RAWA BANGKE)

88. AL-HABIB ZEIN BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (AL-HAWI)

89. AL-HABIB SALIM BIN JINDAN (AL-HAWI)

90. WAN SYARIFAH FATHIMAH BINTI ABDULLOH AL’AIDID (KRAMAT PETOGOGAN)

91. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD BIN ZEIN AL’AIDID (KRAMAT PULAU PANGGANG, KECAMATAN PULAU SERIBU, JAKARTA / KRAMAT TIMUR)

92. AL-HABIB HUSEIN BIN AQIL BIN AHMAD BIN SOFI ASSEGAF (KRAMAT BARAT PULAU PANGGANG)

93. AL-HABIB MUSTOFA BIN IDRUS BIN HASAN AL-BAHAR (KRAMAT LUBANG BUAYA)

94. SAYYID AHMAD BIN HAMZAH AL-ATHOS (KRAMAT PEKOJAN)

95. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

96. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

97. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN ALHADDAD (KRAMAT PRIUK)

98. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDUL QODIR AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

99. AL-HABIB SALIM BIN THOHA JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

100. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

101. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

102. RA KANJENG ADIPATI DALAM NEGERI 1 SOSRODININGRAT (KRAMAT JAYAKARTA)

103. RA AJENG SULARTI (KRAMAT JAYAKARTA)

104. SYEIKH MANSYUR (KRAMAT LIO-PASAR PAGI)

105. HABIB ALWI BIN HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

106. HABIB MUHAMMAD BIN ALWI AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

107. PANGERAN USMAN (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

108. AL-HABIB SALIM BIN ABDULLOH AL-QODRY / PANGERAN SALIM (KRAMAT PULO GEBANG)

Berbagai sumber 

Abah Guru Sekumpul: Habib Sholeh Tanggul Ibarat Syekh Abu Bakar Bin Salimnya Indonesia




Ybia Indonesia - Beliau Habib Sholeh adalah paduan lautan karomah, lautan wilayah, lautan asror, lautan anwar, lautan syariah, lautan haqiqoh dan lautan makrifah. Quthbul Ghouts, Ahluddark, Sohibul Waqt dan Fariidu Zamanihi. Kewalian beliau terang benderang seperti matahari di siang hari, disaksikan kalangan khos maupun kalangan awam. 

Para habaib, para ulama, solihin, pejabat, orang kaya, orang miskin, artis, rakyat jelata, yatim piatu, kaum fakir semua datang kepada beliau.

Hidupnya bertabur karomah dan akhlak yang mulia. Seluruh waktunya dihabiskan untuk berkhidmat kepada umat Rasulullah SAW. Beliau memiliki keterikatan hati yang besar kepada para salaf-leluhurnya, auliya min bani alawy. Hingga beliau pun diperhatikan secara khusus oleh mereka dari alam barzakh. Ruh mereka silih berganti mendatangi beliau baik dalam keadaan terjaga ataupun dalam tidur beliau.

Hingga ar Ruh as Syarif Fakhrul Wujud Sohibul Karomi wal Juud Syekh Abu Bakar bin Salim menemui beliau yaqozotan meminumkan kepada beliau bahrul haqiqah/samudera hakikat hingga beliau bergelimang cahaya meraih futuuhal arifin, terbuka segala hijab hissi dan maknawi. Beliau menjadi kecintaan Rasulullah SAW mahkotanya para wali Allah dan kekasih hati orang-orang soleh. 

Beliau lautan kedermawanan yang tak bertepi, sumber keberkahan yang tidak pernah habis, pembuka pintu rahmat Allah, pengangkat bala’/musibah umat Rasulullah, dan wasilah yang agung bagi terkabulnya hajat makhluk-makhluk Allah.

Para wali yang hidup sezaman dengan beliau menyaksikan tingginya kedudukan beliau. Al Quthb Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah ketika sedang berkunjung ke Indonesia dan bertemu Habib Sholeh berkata, “Sesungguhnya Habib Sholeh ini adalah seorang habib yang sangat agung kedudukannya dan amat tinggi martabatnya, beruntunglah kalian bersama dengannya. 

Sesungguhnya walaupun beliau berada di tengah-tengah kalian dengan jasadnya yang dzohir tapi sebenarnya beliau tidak bersama dengan kalian karena hatinya telah terikat dengan tali cinta pada Tuhannya dan telah tertambat pada pintu Arasy-Nya.

Berbagai sumber 

Siapa Sebenarnya Waliyullah, (wali Allah?)

 


Secara bahasa, Wali adalah pihak yang dekat, mencintai, dan siap menolong. Wali Allah adalah kekasih Allah atau orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Ybia Indonesia - Mengapa kita harus mencintai para Wali Allah? Jawabannya sederhana, mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah Ta'ala, maka wajib hukumnya mencintai Wali Allah agar kita semakin dekat kepada Allah Ta'ala. Mencintai Wali-wali Allah merupakan simpul keimanan. Bahkan lebih dari itu, siapa yang mencintai Wali Allah, maka ia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Sebaliknya, siapa yang memusuhi para Wali Allah niscaya akan sengsara dunia dan akhirat.

Ndoro Habib Muhammad Baha'uddin Al Alawy bin Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Alli bin Hasyim bin Umar bin Yahya

Cara Komunikasi dengan Waliyullah menurut Habib Umar Bin Hafidz

 


Al-Habib Ahmad ibn Hasan al-Atthas berkata, “Sepatutnya seseorang memiliki tali hubungan dengan orang sholeh/wali, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.”

Ybia Indonesia - Al-Imam Al-Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi, Shohibul Maulid Simthud Duror berkata, “Siapa orang yang tidak pernah duduk dengan orang arif (sholeh) maka kehidupannya akan terlewat dengan sia-sia dan ia terhitung sebagai orang yang merugi.”

Lalu, bagaimana cara kita menjalin hubungan dengan orang sholeh atau waliyullah?

Guru mulia Maulana Habib Umar bin Hafizd berkata: "Al-Imam Al-Habib Ahmad Wali ibn Hasan al-Atthas menyebutkan, jika seseorang menyebut nama wali, maka jarak antara ia dengan wali tersebut semakin dekat."

Al-Habib Umar ibn Hafizh juga melanjutkan bahwa,

“Orang yang menyebut nama wali itu seperti orang yang menelpon. Contohnya ketika kita memencet nomor telpon, maka akan berdering pada nomer yang kita tuju. Begitu juga ketika kita sebut nama wali, maka akan berdering di sisi wali tersebut.”.

Siapa orang yang membaca wirid atau kitab orang sholeh, ketahuilah bahwa orang sholeh tersebut hadir. Jika kita sering menyebut nama orang sholeh, maka sirr orang tersebut akan melekat pada kita. Subhanallah…

Begitulah caranya agar bisa membangun komunikasi dengan waliyullah, yakni sebagaimana cara kita melakukan panggilan telepon. Dengan hanya menyebut nama dari waliyullah saja, maka wali itu pun akan dekat dengan kita, sebagaimana ketika kita memencet nomor orang yang dituju, maka orang yang menerima telepon tersebut akan terhubung.

Semudah itu sebenarnya. Apalagi jika kita mengirimkan fatihah atau memohon doa untuk seorang shaleh atau wali, maka doa tersebut akan sampai bahkan akan menjadi penghubung antara kita dengan orang shaleh atau wali itu.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dekat dengan para orang shaleh atau wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…


Allahumma sholli'ala

Mbah Priok, (Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad)

 


Ybia Indonesia - Habib Hasan Al Haddad alias Mbah Priok mungkin sukar dilepaskan kaitannya dengan nama Tanjung Priok. 


Beberapa sumber bahkan menyatakan nama pelabuhan di Jakarta Utara itu berasal nama Mbah Priok.


Mbah Priok merupakan seorang penyiar agama Islam dari Palembang yang sering melakukan perjalanan untuk berziarah.


Saat berziarah sambil menjalankan syiar Islam, singkat cerita, dia wafat di tengah laut. (Jenazah Mbah Priok) lalu diiringi ratusan lumba-lumba ke pesisir pantai di Pondok Dayu. Lalu dimakamkan penduduk sekitar di tepi pantai dengan nisan dayung yang patah. 


Konon beliau selalu membawa periuk yang kemudian ditaruh di makam beliau ditutupi pohon tanjung. Maka jadilah Tanjung Priok.


Pada masa penjajahan Belanda, sebuah pelabuhan akan didirikan di daerah Pondok Dayu tersebut. Tapi keberadaan makam Mbah Priok disebut-sebut membuat pembangunan pelabuhan kandas. 


Setelah mendatangkan Habib Zein, adik kandung Mbah Priok yang berada di Palembang, barulah proses pemindahan makam ke tempat saat ini di Koja, Jakarta Utara, terlaksana.


Habib Zein mengatakan bahwa Makam boleh dipindah satu kali, dari Pondok Dayung ke tempat yang sekarang. Dari sini enggak boleh dipindah-pindah lagi. 


Di kalangan masyarakat, makam Mbah Priok sendiri dikenal sebagai salah satu makam keramat.


Salah satu bukti keramat beliau adalah ketika ada kejadian, Beberapa Satpol PP yang hendak menggusur Makam beliau kemudian keluarga Satpol PP datang ke sini minta maaf, karena setelah mau bongkar makam, mereka seperti orang gila, ketakutan lihat orang.


Sementara itu, menurut sejarawan Alwi Shahab, nama Tanjung Priok sebenarnya tidak memiliki kaitan dengan keberadaan makam Mbah Priok. 


Bahkan menurutnya, pelabuhan Tanjung Priok itu sudah dibangun lebih dulu dibandingkan dengan makam tersebut. 


Pelabuhan dibangun karena saat  itu pelabuhan Sunda Kelapa sudah tidak mampu lagi menampung kapal yang datang


Bahkan Alwi menyebut, ada pihak-pihak yang sengaja menghubungkan makam Mbah Priok dengan sejarah nama Tanjung Priok hanya untuk mencari keuntungan semata.


Dalam buku Buku Saku Kasus Mbah Priok karya Ahmad Sayfi'i Mufid, Robi Nurhadi, dan KH Zulfa Mustofa, sejarawan Ridwan Saidi juga menyatakan hal sama, bahwa Tanjung Priok tidak bisa dikaitkan dengan Mbah Priok. 


Nama Tanjung Priok justru terkait Aki Tirem, penghulu atau pemimpin daerah Warakas yang tersohor sebagai pembuat priok (periuk). 


Sedangkan kata Tanjung merujuk pada kontur tanah yang menjorok ke laut atau tanjung. Buku itu juga mempertanyakan Risalah Manaqib yang dikemukakan ahli waris Mbah Priok. 


Dalam risalah tersebut, Mbah Priok disebut sebagai penyiar Islam yang lahir pada 1727 di Palembang dan kemudian pergi ke Batavia setelah dewasa untuk menyebarkan agama Islam. 


Beliau meninggal pada 1756 dalam usia 29 tahun sebelum sampai ke Batavia. Mbah Priok kemudian dikubur dekat pantai dengan nisan kayu dayung berhias priok nasi di sisi makamnya. 


Kayu dayung itu pun cepat tumbuh menjadi pohon tanjung. Dari sanalah nama Tanjung Priok muncul.


Akan tetapi, Buku Saku Kasus Mbah Priok menyatakan Mbah Priok sebenarnya lahir pada tahun 1874 dan meninggal pada tahun 1927. 

Sejarah Mbah Priok terkait dengan nama Tanjung Priok masih menjadi perdebatan. 


Mitologi Betawi


Alwi Shahab, dalam buku tersebut juga menyatakan, jika dilihat dari sumber-sumber sejarah di kalangan kelompok Arab-Hadramaut, Habib Hassan tak mungkin lahir pada 1727 sementara ia keturunan ketiga (cicit) dari Habib Hamid Mufti dari Palembang yang wafat pada 19 Juli 1820. 


Habib Hamid lahir pada 1750 dan wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun, sehingga tak mungkin cicit lahir lebih dulu daripada buyut. Dilihat dari mitologi lokal Betawi, pengkaitan nama Tanjung Priok dengan Mbah Priok juga menjadi masalah.


Dalam buku yang sama dikatakan, jika peninjauan diarahkan pada periode Habib Hassan Al Haddad antara tahun 1874-1927, maka dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin nama Tanjung Priok berasal darinya. 


Pada 1877, pemerintah kolonial Belanda mulai melaksanakan proyek pelabuhan yang dinamai Haven Tanjung Priok. Sedangkan pada saat itu, Habib Hassan baru berusia tiga tahun dan tinggal di Palembang.

 

Dalam buku itu juga dijelaskan, pada saat Habib Hassan berangkat ke Batavia dan tertimpa musibah hingga akhirnya meninggal pada tahun 1927, nama 'Haven Tanjung Priok' sudah tersohor. 


Nama pelabuhan Haven Tanjung Priok juga tercatat dalam buku-buku catatan perjalanan wisatawan mancanegara ke Hindia Belanda. 


Misalnya E.R. Scidmore, turis asal Amerika yang datang ke pualu Jawa pada 1890 dan menuliskan pengalamannya saat tiba di Haven Tanjung Priok.


Sejarawan Ridwan Saidi dalam buku tersebut juga mempertanyakan pengkaitan nama Mbah Priok dengan asal mula Tanjung Priok. 


Menurutnya, jauh sebelum Mbah Priok ada, nama Tanjung Priok sudah lebih dulu dikenal, bahkan sudah disebut dalam naskah sunda abad ke 16.


Terlepas dari kontroversi yang ada, kita hanya mengharap keberkahan dari para waliyullah dan tidak masuk dalam tanah tersebut. 


Meneladani semangat dakwah beliau dari pulau ke pulau hingga beliau wafat dalam perjalanan ziarahnya. 


Semoga wasilah berziarah ke Makam beliau, Pembacaan Yasin tahlil dan Ratib Al Haddad selama di Makam beliau, kita semua dijauhkan dari segala marabahaya, fitnah dan bala' serta dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat kepada kita. Aamiin ya Allah ya Robb. 


Wallahu a'lam. 

Semoga bermanfaat. 

Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani



Ybia Indonesia - Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Atau dikenal juga dengan Sayyid Abdul Qadir dilahirkan di Naif, di kawasan daerah Jailan, Persia. Ia dilahirkan pada bulan Ramadhan 470 H, kurang lebih bertepatan dengan tahun 1077 M. Ayahnya bernama Abi Shalih Abd Allah Janki Dusti, seorang yang taat kepada Allah dan mempunyai garis keturunan dengan Hasan RA. Ibunya adalah Umm al-Khayr Fatimah binti Abi Abd Allah al-Sawma’i yang bergaris keturunan dengan Husain RA.

Tidak mengherankan jika bayi calon sufi ini sejak lahir sudah memiliki keunikan tersendiri. Menurut penuturan ibunya, bayi Abdul Qadir selama bulan suci Ramadhan tidak pernah menyusu pada siang hari. Ia baru menyusu bila waktu maghrib telah tiba. Tumbuh dan menetap di kota kelahirannya hingga berusia delapan belas tahun, ia kemudian menimba ilmu di Baghdad dan menetap di kota ini hingga wafat. Selanjutnya Jailani menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nama atau jati diri tokoh sufi ini, yakni Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani.

Pendidikan agama yang pertama digoreskan pada diri syeikh sufi ini adalah kecintaan pada Al-Qur’an. Belajar membaca Al-Qur’an dan mendalami kandungannya pada Abu al-Wafa Ali ibn Aqli dan Abu al-Khattab Mahfuz al-Kalwadzani. Kedua ulama ini berasal dari kalangan Mazhab Hambali.

Syeikh Abdul Qadir Jailani mempelajari hadits Nabi dari beberapa ulama hadits terkenal pada zamannya. Salah satunya adalah Abu Ghalib Muhammad ibn al-Hasan al-Balaqalani. Adapun pendalaman ilmu fiqihnya dilakukan pada ulama fiqih Mazhab Hambali, seperti Abu Sa’d al-Mukharrami. Sedangkan bidang bahasa dan sastra dipelajari dari Abu Zakarya ibn Ali al-Tibrizi. Sementara itu, di bidang tasawuf diambilnya dari Hammad al-Dabbas.

Syeikh Abdul Qadir mulai memimpin majelis ilmu di Madrasah Abu Sa’d al-Mukharrami di Baghdad sejak Syawal 521 H. Sejak itu namanya harum sebagai seorang sufi yang zuhud. Majelis yang diselenggarakan di madrasah ini penuh sesak dengan pengunjung yang haus mencari ilmu dan pencerahan ruhani. Madrasah itu pun diperluas, namun tetap tidak dapat menampung hadirin. Akhirnya majelis atau forum ilmiah itu diadakan di beberapa masjid di luar kota Baghdad. Setiap Syeikh datang memberikan nasihat, yang hadir bisa mencapai tujuh puluh ribu orang. Beliau menjadi sufi yang menyejukkan umat dan menjadi sumber mata air ruhani yang terus memancarkan kehidupan batin.

Murid-murid Syeikh dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan.

Pertama, mereka yang hanya datang untuk mengikuti forum pengajian yang dibimbingnya. Golongan ini tidak terus-menerus hidup bersama Syeikh.

Kedua, mereka yang hidup bersama Syeikh dalam waktu yang cukup lama. Golongan ini menjalani kehidupan intelektual dan keruhanian di bawah bimbingan Syeikh.

Syeikh mendapat beberapa gelar kehormatan. Pertama, di belakang namanya sering dilengkapi dengan sebutan Muhyl al-Din wa al-Sunnah. Sebutan ini secara bahasa berarti tokoh yang menghidupkan agama dan Sunnah Nabi. Melekat dengan gelar tersebut beliau juga mendapat gelar kehormatan Mumit al-Bid’ah, yakni tokoh yang gigih menghapuskan bid’ah atau penyimpangan di dalam agama dari berbagai perbuatan yang tidak sejalan dengan Sunnah Nabi.

Syeikh juga mendapat gelar kehormatan al-Imam al-Zahid, pemimpin yang bersikap zuhud dalam kehidupan dunia. Gelar ini mencerminkan reputasinya sebagai tokoh sufi yang memandang dunia dan kehidupan ini sebagai modal untuk meningkatkan kualitas ruhani, meraih nilai keabadian, dan mendapatkan kehidupan ukhrawi. Dunia bukan tujuan pokok dalam hidup, bukan ujung dalam perjalanan dan bukan pula segalanya. Syeikh berkata, “layanilah Tuhanmu dengan sepenuh hati, maka dunia akan melayanimu.”

Syeikh juga sering dipanggil dengan gelar kehormatan al-Arif al-Qudwah. Secara bahasa gelar ini berarti seorang yang patut menjadi teladan. Gelar ini mencerminkan tingkat kesufian Syeikh yang sudah mencapai maqam Arif bi Allah, yakni posisi sangat mengenal Tuhannya. Syeikh juga mendapatkan gelar kehormatan Sultan al-Awliya’, pemimpin para wali.

Sebelum tahun 521 H, atau sebelum beliau berusia 51 tahun, beliau belum menampakkan dirinya kepada khalayak ramai dan tidak perpikir untuk menikah, karena menurutnya berkeluarga akan menghambat seseorang dalam perjalanan menuju Allah. Setelah berusia 51 tahun beliau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW menikah dengan empat orang wanita yang baik dan taat kepadanya. Dari perkawinan tersebut beliau dikaruniai anak sebanyak empat puluh sembilan orang; laki-laki sebanyak dua puluh tujuh dan lainnya wanita.

Empat orang putranya menjadi orang-orang yang terkenal karena pelajaran dan ilmunya. Mereka itu adalah: Syeikh Abdul Wahhab, putra sulung. Ia mempunyai ilmu yang luas dan dalam. Ia diberi kewenangan menjaga madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Setelah ayahnya wafat, dialah yang memberikan ajaran dan fatwa tentang syariat Islam. Ia memegang suatu jabatan di dalam negara dan menjadi seorang yang sangat terkenal. Putra berikutnya adalah Syeikh Isa, seorang guru hadits dan ahli fiqih yang agung. Ia adalah seorang pengarang puisi dan juru penerang yang baik, di samping seorang penulis buku-buku sufisme. Ia tinggal dan wafat di Mesir. Berikutnya, Syeikh Abdul Razzaq, seorang alim dan hafizh hadist. Seperti halnya ayahnya, ia juga terkenal dengan kejujuran dan kebenaran serta di dalam kesufian dan popularitasnya di Baghdad. Keempat adalah Syeikh Musa, seorang alim ulama yang ulung. Ia pindah ke Damaskus dan meninggal dunia di sana. Melalui Syeikh Isa, tujuh puluh ajaran ayahnya dalam buku Futuhul Ghaib sampai kepada kita. Sedangkan Abdul Wahab adalah sumber dua ajaran terakhir dalam buku itu. Ia hadir ketika ayahnya terbaring sakit, sebelum kembali ke Rahmatullah.

Adapun Syeikh Musa, ada dinyatakan di akhir buku itu, di dalam ajaran ketujuhpuluh sembilan dan kedelapan puluh. Dalam dua ajaran terakhir, ada disebutkan dua putranya yang hadir ketika ayahnya akan berpulang, yaitu Abdul Razzaq (nomor tiga) dan Abdul Aziz.

Setelah Wali Allah ini tutup usia pada 10 Rabiul Akhir 561 H dalam usia 91 tahun, anak-anak dan murid-muridnya mendirikan suatu organisasi yang bertujuan menanamkan ruh ke-Islaman yang sejati dan membetulkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah umat manusia. Organisasi ini disebut ‘Thariqah Qadiriyyah’, yang hingga hari ini terkenal dengan keteguhannya di dalam memegang syariat Islam. Thariqah inipun telah memberikan andil yang besar kepada Islam. Ada tiga ajaran dan nasehatnya yang terkenal di seluruh dunia, yang paling agung adalah Futuhul Ghaib, yang kedua Fathul Rabbani, yaitu kumpulan enam puluh delapan ajaran yang disusun pada 545 - 546 H. Sedangkan, yang ketiga adalah qashidah atau puisi yang menceritakan peranan dan keberadaan Aulia Allah, yang menurut istilah sufisme dinamakan Qasidatul Ghautsiyyah.

والله أعلم بالصواب


Sumber:

Syaikh Abdul Qadir Jailani, Kunci Tasawuf Menyingkap Rahasia Kegaiban Hati (Terjemahan dari buku asli Futuhul Ghaib), Penerbit Husaini, Bandung (1985)

Tim UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Tasawuf, Penerbit Angkasa, Bandung (2008)

Sejarah Walisongo, Walisongo (sembilan orang wali)

 



Ybia Indonesia -  “Walisongo” berarti sembilan orang wali.Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. 

Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Maulana Malik Ibrahim yang tertua. 

Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. 

Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. 

Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.