Tampilkan postingan dengan label Gus Endro Diponegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Endro Diponegoro. Tampilkan semua postingan

Sempurna Dalam 2 Kekuatan Manusia




Ybia Indonesia - Manusia memiliki dua kekuatan dalam hidupnya. Pertama adalah kekuatan teori atau pengetahuan dan yang kedua adalah kekuatan amal atau perbuatan.

Masing-masing kekuatan ini memiliki puncak kesempurnaan masing-masing. Semakin tinggi ilmu seseorang maka ia akan dikenal sebagai seorang yang Alim (ahli dalam ilmu pengetahuan).

Namun puncak dari kekuatan amal adalah tingginya budi pekerti dan akhlak yang muncul dalam sikap dan prilakunya sehari-hari.

Bila kita melihat pada kehidupan Baginda Nabi Muhammad saw, beliau memiliki dua puncak kekuatan itu. Rasulullah saw sempurna dalam ilmu dan sempurna dalam perangai serta akhlaknya.

Dalam teori dan ilmu pengetahuan, Rasulullah saw telah sampai pada puncaknya yang tidak dimiliki oleh siapapun di dunia ini.

Allah swt berfirman,

وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا

Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS.An-Nisa’:113)

Ayat menunjukkan bahwa Rasul saw telah sampai pada kesempurnaan akal dan ilmu. Karena di akhir ayat itu disebutkan :

“Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.”

Selain itu beliau telah mencapai kesempurnaan pada kekuatan kedua yaitu kekuatan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Tiada seorang pun yang mampu menandingi ketinggian akhlak Baginda Nabi saw.

Allah swt berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS.Al-Qalam:4)

Ketika berbicara mengenai akhlak Rasulullah saw, Allah swt menggunakan kalimat Agung sebagai saksi bahwa Rasul saw berada dalam puncak akhlak dan puncak keindahan perangai manusia. Seperti sebelumnya Allah juga menyematkan kata Agung ketika berbicara tentang ilmu Rasul saw.

Inilah Baginda Nabi Muhammad saw. Manusia yang berada pada puncak kesempurnaan dalam kekuatan yang dimiliki manusia. Kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Dan itu adalah kesaksian Allah dalam dua ayat diatas.

Menggenggam Dunia dan Akhirat dengan Ilmu Pengetahuan

Imam Syafi’i RA dalam Manakib Syafi’i, 2/139 menjelaskan :

من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد األخرة فعليه بالعلم

Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan Ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan Ilmu.

Jadi, ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencipta kebahagiaan dunia, dan perangkat untuk mewujudkan kebahagiaan di akhirat. Persoalannya adalah ukuran atau parameter kebahagiaan dunia dan keyakinan adanya akhirat (pertanggungjawaban) tentu berbeda-beda antar orang, kelompok, komunitas, hingga sebuah bangsa, bahkan antaragama tentu berbeda. 

Ukuran bahagia dengan sistem berpikirnya bagi warga Eropa, Amerika, China, Afrika dan Indonesia tentu berbeda, dan agama telah memberi pedoman parameter bahagia bagi pemeluknya di tengah kemajuan teknologi dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan.

Padahal, semua manusia hidup di satu bumi yang sama, yang terbuka tanpa sekat dan batasan di mana manusia hidup saling mempengaruhi dan mendesakkan kepentingannya di ruang publik. Siapa mengikuti siapa?, siapa mempengaruhi siapa?, dan siapa yang terbawa oleh siapa ?.

Sedangkan Nabi SAW telah memberi peringatan supaya kita tidak menjadi kelompok ‘pembebek’ (asal ikut dan manut). Sebaliknya meminta kita supaya mandiri dan berdaulat dalam bersikap atas dasar ilmu dan keyakinan. Dari sini, kedaulatan ilmu pengetahuan dalam terapannya disesuaikan dengan konteks. 

Di ruang tertentu ilmu pengetahuan itu netral, tapi aplikasinya menuntut keberpihakan dan pilihan yang bisa dipertanggungjawabkan kelak. Maka, kewajiban kita berikhtiar menghadirkan peradaban Islam atas dasar petunjuk-petunjuk Allah SWT kepada manusia sebagai pemegang amanah. 

Tapi, dalam terapanya ada penyesuaian teknis (fiqhul hadharah) berdasar tempat (amkinah) dan waktu (azminah). 

Peradaban Islam itu yang bisa menyerap peradaban global, bukan mengikuti peradaban global.

Kita coba refleksikan penegasan sikap KH Wahid Hasyim bahwa dalam merumuskan kebudayaan harus menggunakan akal dan Common Sense (perasaan). Ketika kemampuan kita berpikir strategis hilang, maka negara kita akan jatuh di bawah pikiran dan rencana orang asing, kalau dulu bernama Inland zaken, Sidokan, maka sekarang bernama Advisor Asing. Padahal tujuan mereka untuk keuntungan negara mereka sendiri.

Saatnya para Ulama dan Intelektual di NKRI bersatu (khususnya dari pesantren) bangkit dari perangkap kealimannya, tampil memberi arah dan petunjuk ilmunya, membangun peradaban Indonesia dan ilmu pengetahuan yang berkarakter dan berkepribadian nasional bangsa demi mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan warga dan umat manusia.

Dengan manunggalnya ilmuwan dan ulama semoga segala bentuk penjajahan ekonomi dan korupsi semakin berkurang di negeri kita.

Kekuatan Amal Shaleh

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ


اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Innal-insāna lafī khusr * illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr."

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al-'ashr:2-3)

Ini adalah penjelasan dari Allah SWT mengenai kekuatan amal saleh dan juga hal-hal yang membuat seseorang merugi jika tidak memiliki perilaku yang baik.

Kebalikan dari amal saleh adalah 'amal sayyi'ah', yaitu amal yang mendatangkan mudarat baik bagi pelakunya maupun orang lain.

Setiap amal yang baik atau buruk meskipun sangat kecil, tetap akan mendapatkan balasan yang adil dari Allah SWT baik berupa pemberian pahala atau dicatat sebagai dosa.

Syarat agar sebuah perilaku tercatat sebagai amal saleh, yakni:Amal saleh dilakukan dengan mengetahui ilmunya

Amal saleh dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT

Amal saleh hendaknya dilakukan sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur'an dan hadis

Hadis tentang amal saleh sendiri terdiri dari 3 macam, yaitu:

1.Amal saleh terhadap Allah SWT, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dab meninggalkan larang-Nya. Misalnya dengan mengerjakan salat, zakat, puasa, dan ibadah lainnya.

2.Amal saleh terhadap manusia, yaitu dengan menjalankan hak dan kewajiban terhadap sesama manusia. Misalnya tersenyum, bersikap ramah, saling tolong menolong, dan sebagainya.

3.Amal saleh terhadap lingkungan alam, yaitu menjaga kelestariannya. Misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghijauan, dan sebagainya.

Selain hadis tentang amal saleh, terdapat juga perbuatan amal jariyah.

Ini perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas dengan mengharapkan rida Allah SWT.

Saat melakukan dengan ikhlas, amalan ini akan mendatangkan pahala bagi orang yang melakukannya meskipun telah meninggal.

Salah satunya yakni ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat/santri/mahasiswa dan juga sedekah.

Islam menganjurkan agar umatnya selalu mengerjakan banyak amal saleh semasa hidupnya.

Contoh Hadist Amal Sholeh;

1. Tersenyum

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi)

2.Menyingkirkan Gangguan di Jalan

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,

kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah,

pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju salat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari Muslim)

3.Ucapan yang baik

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:


إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ


Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya, serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah.

Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta.” (HR )


Penyadur:

KH.Syaifudin Zuhri 

Gus Endro Diponegoro

Jiwa




Ybia Indonesia - Dalam Buku Psikologi Sufi Al-Ghazali ( karya Dr Ahmad Ali Riyadi M.Ag:2008) bahwa sejarah pemikiran filsafat dan keagamaan Islam Al-Ghazali menempati kedudukan yang sangat unik, karena pertimbangan kedalaman pengetahuannya, orisinilitas, dan pengaruh pemikirannya. Sehingga ia dijuluki the proof of Islam (hujjat al-Islam), the ornament of faith (zain al-din), dan the renewer of religion (mujaddid). Juga dalam dirinya terkumpul hampir semua jenis pemikiran dari berbagai gerakan intelektual dan keagamaan. Maka, tidaklah mengherankan jika ia terkenal sebagai seorang pakar dalam berbagai disiplin ilmu seperti teologi, fikih, filsafat, dan tasawuf.

Al-Ghazali selalu memberi wacana dan pemikirannya dalam berbagai disiplin ilmu. Karena pada masa kecilnya, ia sangat antusias mempelajari ilmu. 

Ia yang lahir tahun 450 H/1058 M di daerah Thus, dekat kota modern Meshed Khurasa, Persia (Irak). Distrik kota Thusi adalah tempat kelahiran banyak ulama menonjol dan orang terpelajar dalam Islam. Sehingga sangat wajar ketika Al-Ghazali merupakan sosok orang yang mengerti berbagai disiplin ilmu. Juga melihat karya-karyanya sekarang ini masih dipelajari dan dikaji.

Dari berbagai bidang keilmuan, ia sangat mendalami ilmu tasawuf dibanding dengan ilmu filsafat. Karena sebenarnya ia sangat kontradiktif terhadap ilmu yang rasional. Dalam bidang filsafat, Al-Ghazali mengecam kecenderungan filosofis karena ajaran-ajaran filosof cenderung membahayakan akidah dan mengabaikan dasar-dasar ritual. Namun, Al-Ghazali tidak menolak filsafat secara keseluruhan, tetapi yang ditolak hanya argumentasi rasional yang diyakini satu-satunya alat untuk membuktikan kebenaran metafisik. Para filosof sangat memaksakan rasio, bahkan apabila perlu mengabaikan akidah. Hal ini yang menyebabkan Al-Ghazali meninggalkan filsafat.

Dalam kajian tasawuf, ia mempelajari "JIWA".

Konsep tentang jiwa memang cukup sulit untuk dipahami dan dijelaskan dengan sebuah pengertian secara epistemologis yang dikemukakan para ahli ilmu jiwa sehingga banyak menimbulkan persepsi yang berbeda karena jiwa mempunyai hubungan yang kompleks dengan konsep lainnya seperti jasad, ruh, akal, dan kalbu.

Jiwa dan badan terdiri dari 2 dunia yang berbeda, jiwa berasal dari dunia metafisik, bersifat imaterial, tidak berbentuk komposisi, mengandung daya mengetahui yang bergerak dan kekal. Sedangkan badan merupakan substansi yang berasal dari dunia metafisik, bersifat materi, berbentuk komposisi tidak mengandung daya-daya dan tidak kekal. 

Jiwa merupakan sub sistem jiwa (nafs) yang di dalamnya terdiri dari ruh, akal, dan kalbu yang semua itu merupakan daya-daya penggerak dan dapat memengaruhi gerak badan.

Hubungan antara jiwa, badan dan gerak tingkah laku manusia mempunyai 2 hubungan wujud dan aktivitas. 

Hubungan wujud jiwa dan badan merupakan hubungan yang saling membutuhkan. Maka, jiwa merupakan substansi material karena jiwa menempati sebuah bagian. Jadi hubungan keduanya bersifat horisontal transendental dan pada akhirnya hubungan keduanya akan terputus dan pada saat tertentu jiwa dan badan bisa kembali seperti semula dan proses kejadian semula.

Al-Ghazali memandang eksistensi jiwa adalah suatu yang utuh. Ia mendukung doktrin-doktrin yang menyatakan bahwa pusat pengalaman manusia tertumpu pada jiwanya yang merupakan substansi yang berdiri sendiri karena jiwa itu mempunyai fungsi dan fakultas-fakultas. Jiwa manusia tidak terkotak secara terpisah, melainkan menyebar ke seluruh organ tubuh. Jiwa manusia terdiri atas substansi yang mempunyai dimensi dan kemampuan merasa untuk bergerak dengan yakin berupa potensi dasar yang dimiliki jiwa.

Melihat secara sufistik, Al-Ghazali membagi 3 tingkatan kejiwaan. 

Pertama, jiwa yang tenang (an-nafs al-mutmainnah) adalah jiwa yang berada pada perkembangan jiwa tatkala mendapatkan ketenteraman dan kedamaian karena Tuhan.


 Al-Ghazali juga mengutip Al-Quran untuk memperkuat pendapatnya :


يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ


"Wahai jiwa yang tenang (muthma'innah)

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku". (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

Karakter jiwa ini akan menemukan ketenangan dan ketenteraman jika terhindar dari godaan-godaan yang mengganggunya.

Kedua, jiwa yang penuh penyesalan (an-nafs al-lawwah) adalah mencela. Secara lughawi, istilah al-lawwamah mengandung arti amat mencela dirinya sendiri. Jiwa ini termasuk jiwa yang menyadari pikiran-pikiran, keinginan dan cela diri sendiri. Pada taraf jiwa ini merupakan awal taraf rohani karena pada taraf ini merupakan sebuah proses kembali pada Tuhan dan proses penghilangan pelanggaran. Jadi, taraf ini ada proses dalam pencarian Tuhan, di mana ada sesuatu yang menghendaki batinnya antara kecocokan yang mereka peroleh.

Ketiga, jiwa yang memerintah (an-nafs al-'amarah) pada taraf ini termasuk jiwa yang belum dimurnikan atau dibersihkan dari sumber segala jenis perbuatan untuk memenuhi perbuatan-perbuatan dengan semua yang merupakan kemurkaan (ghadlab) dan keinginan (syahwah) untuk menguasai jiwa. 

Juga disebutkan dalam ayat Al-Quran surat Yusuf ayat :53: 


۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Mempelajari tentang konsep jiwa manusia sangatlah penting. Karena manusia sering tidak terkontrol oleh sifat dan karakter yang melekat pada badan. Sehingga kadangkala manusia dikatakan binatang karena melihat pola dan sifat serta karakternya seperti halnya binatang. Padahal, manusia sendiri diberikan akal untuk berpikir secara normal. Namun, kenapa banyak yang terjadi manusia sekarang salah bertindak sebagai mahluk Tuhan paling sempurna.

Alfaqier Gus Endro Diponegoro.Pengurus Idaroh Wustho Jatman Lampung

Hakikat Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw




Ybia Indonesia - Para ulama menyebutkan pengertian mahabbah/cinta kpd Nabi Muhammad saw, di antaranya beberapa pengertian cinta Nabi disampakkan oleh Qadhi Iyadh (wafat 544 H) dalam kitabnya as-Syifa Bihuquqil Musthafa:   Pengertian yang disampaikan oleh Sufyan at-Tsauri:   


المَحَبَّةُ اتّبَاعُ الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأنَّهُ التَفَتَ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى (قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فاتبعوني) الآية


"Mahabbah atau cinta Nabi saw adalah mengikuti Rasulullah saw. Seakan-akan Sufyan at-Tsauri memperhatikan firman-Nya yang artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.(Ali Imran 3:31)".  

Qadhi Iyadh juga menyampaikan beberapa pengertian cinta Nabi saw yang disampaikan oleh ulama lainya. Cinta Nabi saw adalah (1) meyakini pertolongannya, menolong dan tunduk pada kesunahan-kesunahannya sekaligus segan menyelisihinya; (2) selalu mengingat hal yang dicintainya; (3) mendahulukan atau memprioritaskan hal yang dicintainya; dan (4) kecenderungan hati pada hal yang sesuai dengan yang dicintai.  


Menurut Qadhi Iyadh, perbedaan pendapat dalam menjelaskan mahabbah atau cinta Nabi dengan beragam frasa tidak merujuk pada substansi mahabbah, melainkan hanya pada hal ihwal atau keadaannya saja. 

Sederhananya menurut Qadhi Iyadh, berbagai pengertian mahabbah hanya mengisyaratkan pada faedah mahabbah, bukan pada hakikat mahabbah itu sendiri.   

Hakikat mahabbah menurut Qadhi Iyadh adalah kecenderungan hati pada hal yang diamini oleh manusia. Persetujuannya itu adakalanya (1)  karena ia dapati kenikmatan, seperti mencintai bentuk atau gambar-gambar indah, suara-suara bagus, makanan, dan minuman yang lezat dan yang semisalnya, dimana tabiat normal manusia akan condong pada hal-hal tersebut, karena adanya persesuaian dengannya; atau (2) rasa nikmat yang ditemukan lewat perasaan akal dan hati pada makna-makna batin yang mulia, semisal mencintai orang-orang saleh, ulama dan orang-orang yang sudah turun-temurun dikenal dengan perilakunya yang bagus, karena watak manusia akan cenderung mencintai orang-orang tersebut sampai-sampai bisa menimbulkan fanatisme kepada mereka; atau (3) kecintaan pada sesuatu karena kecocokan padanya oleh sebab kebaikan yang ia terima, karena watak asli manusia akan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.   

Bahwa mahabbah atau memcintai pada umumnya karena adanya 3 sebab yakni: (1) Adanya persesuaian dan kecocokan dengan dirinya semisal perkara-perkara yang indah, makanan atau minuman yang lezat dan lain sebagainya; (2) persesuainya dengan akal dan hati pada sesuatu yang mulia yang bersifat batiniyah semisal mencintai ulama, orang-orang saleh dan orang-orang yang mempunyai tingkah dan perilaku yang baik; dan (3) perilaku kebaikan orang lain yang diterima dan dirasakan.

Jika diperhatikan, 2 sebab di atas seluruhnya ada pada diri Nabi Muhammad saw yang harusnya menjadi sebabkan mahabbah kepadanya, keelokan paras Nabi saw dan kesempurnaan akhlaknya tidak diragukan lagi, banyak riwayat yang telah menceritakannya. Kebaikannya kepada umatnya juga tidak ada celah untuk meragukannya lagi. 

Bahkan Allah sendiri menyifati Nabi Muhammad saw dengan sifat belas kasih, pemberi petunjuk, kasih sayang kepada umat, menyelamatkan umat dari neraka, dan menjadi rahmah bagi alam semesta.   Dengan demikian, lantas kebaikan apa yang dapat melebihi kebaikan Nabi saw kepada seluruh umatnya? Kebaikan apa yang manfaatnya lebih luas dan faedahnya lebih banyak ketimbang kebaikan Nabi Muhammad saw kepada umatnya?   

Nabi Muhammad saw adalah wasilah bagi manusia untuk menetapi hidayah, menyelamatkan dari kebutaan dan kebodohan, mengajak menuju keberuntungan dan kemuliaan.  

Nabi Muhammad saw menjadi wasilah bagi umatnya untuk mengenal Allah, pemberi syafaat kepada umat dan kelak akan menjadi saksi untuknya. 

Semua hal itu akan mengantarkan umat pada kehidupan yang penuh kenikmatan lagi kekal. Demikian itu menjadikan Nabi Muhammad berhak mendapatkan mahabbah atau cinta yang hakikki.   

Jika seseorang mencintai orang lain yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberinya satu dua kali hal dalam urusan dunia, atau menyelamatkannnya dari kerusakan atau madharat saat ia mengalami penderitaan, hal itu merupakan urusan sepele yang nantinya akan ada waktu kesudahannya, maka seseorang yang memberinya nikmat yang tidak akan pernah sirna, serta yang telah menyelamatkanya dari neraka, akan lebih utama untuk dicintainya.   

Jika orang mencintai seorang raja atau seorang hakim karena pengaruhnya, hingga ia dapat menapaki jalan yang lurus, maka Nabi Muhammad saw yang dalam dirinya terkumpul berbagai kemuliaan seperti di atas lebih berhak untuk dicintai.    

Mengukuhkan penjelasan ini, di mana Nabi Muhammad saw dapat membuat siapa saja yang melihat dan berada di sekelilingnya akan merasa segan dan langsung mencintainya, Sayyidina Ali berkata:  

 من رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ وَمنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أحَبَّهُ   

 "Siapa saja yang memandang wajahnya seketika pasti merasa segan kepadanya, dan siapa saja yang mengenal dekat dengannya pasti timbul rasa cinta kepadanya.”  


 Dijelaskan pula oleh sebagian sahabat bahwa mereka tidak memalingkan pandangannya dari Nabi Muhammad saw karena kecintaan kepadanya. Demikian penjelasan Qadhi Iyadh tentang hakikat cinta Nabi. 


Alfaqier Gus Endro Diponegoro

Rajaban, Kemuliaan Bulan Rajab

 


Ybia Indonesia - Saat ini Umat Islam telah memasuki bulan Rajab 1444 H. Karenanya, sejumlah ibadah sangat disarankan dilakukan di bulan istimewa ini. Dan perlu diketahui pula bahwa ada banyak peristiwa penting di bulan Rajab .

Rajab adalah satu dari 4 al asyhur al-hurum/bulan-bulan haram, bulan-bulan yang suci dan mulia, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. 

Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ (التوبة: ٣٦)

"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. (QS At-Taubah: 36).  

Allah menyebut 4 bulan tersebut sebagai bulan-bulan haram karena pada awalnya peperangan di dalamnya diharamkan. Abu Nu’aim dan Ibnussunni meriwayatkan bahwa Rasulullah setiap kali memasuki bulan Rajab, beliau membaca doa:

   اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadlan".  

Di antara keutamaan bulan Rajab bahwa malam satu Rajab adalah salah satu malam yang mustajab bagi doa sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm : 

   بَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

"Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah dikatakan: Sesunguhnya doa dikabulkan pada 5 malam: malam Jumat, malam hari raya Idul Adlha, malam hari raya Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam nishfu Sya'ban.  

Pada bulan Rajab ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan ketaatan. Salah satunya adalah memperbanyak puasa. Kita disunahkan untuk memperbanyak puasa di bulan Rajab seperti halnya juga disunahkan untuk memperbanyak puasa di  3 bulan haram yang lain, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram.

Memang tidak ada hadits shahih yang secara khusus menyatakan kesunahan puasa Rajab. Namun di sisi lain juga tidak ada larangan secara khusus untuk berpuasa pada bulan Rajab. Para ulama mengatakan bahwa dalil-dalil umum mengenai anjuran berpuasa setahun penuh kecuali  5 hari yang diharamkan, cukup dijadikan dalil atas kesunahan puasa Rajab.

Kesunahan puasa Rajab juga dapat diambil dari dalil-dalil umum mengenai dianjurkannya berpuasa pada 4 bulan haram. Disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits no. 1960 sebagai berikut: 

   عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

"Dari Utsman bin Hakim al-Anshari bahwa ia berkata: Saya bertanya kepada sahabat Sa'id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas Radliyallahu 'Anhuma berkata: Dulu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa".

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari hadits di atas dengan mengatakan: Zahirnya, yang dimaksud sahabat Sa’id bin Jubair dengan pengambilan hadits ini sebagai dalil adalah bahwa tidak ada nash yang menyatakan sunnah ataupun melarang secara khusus terkait puasa Rajab. Karenanya, ia masuk dalam hukum puasa pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada satu pun hadits tsabit terkait puasa Rajab, baik anjuran maupun larangan. Akan tetapi, hukum asal puasa adalah disunahkan. Dalam Sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah menyatakan kesunahan puasa pada bulan-balan haram (al-asyhur al-hurum, 4 bulan yang dimuliakan), dan Rajab adalah salah satunya.  

Sedangkan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra menyatakan bahwa meskipun hadits-hadits mengenai keutamaan puasa Rajab tidak ada yang shahih, tapi bukan berarti semuanya palsu. Menurutnya, di antara hadits tersebut ada yang tidak palsu, melainkan berstatus dha’if dan boleh diamalkan dalam fadla’ilul a’mal (menjelaskan tentang keutamaan amal-amal kebaikan).  

Pada bulan Rajab, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah umat Islam. Hal ini tentu bukanlah kebetulan semata, akan tetapi menunjukkan bahwa Rajab adalah salah satu bulan yang mulia:  

1. Sayyidah Aminah binti Wahb mulai mengandung janin yang kelak diberi nama Muhammad pada bulan Rajab. Setelah mengandung selama sembilan bulan, pada bulan Rabi’ul Awwal Sayyidah Aminah melahirkan makhluk yang paling mulia, baginda nabi agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kelahirannya adalah rahmat yang Allah hadiahkan kepada alam semesta.  

2. Pada 27 Rajab, terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mengenai mukjizat agung ini, penting untuk digarisbawahi bahwa maksud dan tujuan Isra’ dan Mi’raj bukan berarti Allah di atas lalu Rasulullah diperintah untuk naik ke atas untuk sowan bertemu dan menghadap Allah. Bukan seperti itu yang dimaksud dengan mukjizat yang luar biasa ini.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari tempat dan arah. Dia ada namun keberadaan-Nya tidak membutuhkan pada tempat dan arah. Dia ada tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, dan setelah menciptakan keduanya, Dia tidak berubah, tetap ada tanpa tempat dan arah. Maksud dan tujuan Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah, memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban dan tanda kekuasaan Allah dan menerima perintah shalat di tempat yang sangat mulia dan tidak pernah satu kali pun dilakukan maksiat di dalamnya.  

3. Pada hari kesepuluh bulan Rajab tahun 9 H, terjadi perang Tabuk.  

4. Pada bulan Rajab tahun 9 H, An-Najasyi, Raja al-Habasyah tutup usia dalam keadaan muslim.

5. Imam Syafi’i wafat pada bulan Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Beliau dimakamkan di Mesir.  

6. Pada bulan Rajab tahun 101 H, Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz meninggal dalam usia 39 tahun.

7. Pada tanggal 27 Rajab 583 H, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Palestina. Ketika ingin membebaskan Palestina, Sultan Shalahuddin al Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang. Akan tetapi yang mula-mula beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Kesatuan aqidah akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak terkalahkan. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, beliau memerintahkan setiap muadzdzin di semua wilayah yang beliau kuasai untuk mengumandangkan aqidah Asy'ariyyah setiap hari sesaat sebelum adzan shubuh.

8. Pada 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926, para ulama berkumpul di Surabaya menyepakati lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi sosial dan keagamaan yang salah satu tujuan utamanya adalah memperjuangkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan sistem bermazhab dalam beragama.  


 

Penyadur Alfaqier Gus Endro Diponegoro.Idaroh Wustho Jatman prov. Lampung