Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Puasa Bukan Hanya Menahan Haus dan Lapar



Ybia Indonesia - Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat Muslim. Banyak orang yang memahami puasa hanya sebagai menahan haus dan lapar dari fajar hingga maghrib. Namun, puasa sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam dan luas.


Apa itu Puasa?

Puasa secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Dalam Islam, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dari fajar hingga maghrib, dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT.


Puasa Lebih dari Sekedar Menahan Haus dan Lapar

Puasa bukan hanya tentang menahan haus dan lapar, tapi juga tentang:

- Menahan diri dari perbuatan dosa: Puasa juga berarti menahan diri dari perbuatan dosa, seperti berkata dusta, ghibah, dan lain-lain.

- Meningkatkan kesabaran : Puasa membantu kita meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan.

- Membersihkan jiwa: Puasa membantu membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang dapat merusak iman.

- Meningkatkan empati: Puasa membantu kita meningkatkan empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung.


Bagaimana Cara Mengoptimalkan Puasa?

Untuk mengoptimalkan puasa, kita dapat melakukan beberapa hal berikut:

- Niat yang ikhlas: Pastikan niat kita untuk berpuasa adalah karena Allah SWT.

- Menjaga shalat: Jangan lupa untuk menjaga shalat lima waktu, terutama shalat tarawih.

- Membaca Al-Quran: Baca Al-Quran sebanyak mungkin selama bulan Ramadhan.

- Berbuat baik: Berbuat baik kepada orang lain, seperti memberi sedekah dan membantu orang yang membutuhkan.


Kesimpulan

Puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan haus dan lapar, tapi juga tentang meningkatkan iman, membersihkan jiwa, dan berbuat baik kepada orang lain. Semoga kita dapat mengoptimalkan puasa kita dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. 

Doa Hari Ke-25 Puasa Ramadhan



Ybia Indonesia - Doa Hari Ke-25 Puasa Ramadhan


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ فِيْهِ مُحِبًّا لِأَوْلِيَائِكَ وَ مُعَادِيًا لأَعْدَائِكَ مُسْتَنّا بِسُنَّةِ خَاتَمِ أَنْبِيَائِكَ يَا عَاصِمَ قُلُوْبِ النَّبِيِّيْنَ


Allâhummaj’alnî fîhi muhibban li awliyâika wa mu’âdiyan lia’dâika mustanan bisunnati khâtami anbiyâika yâ ‘âsima qulûbinnabiyyîn

Artinya : ”Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini lebih mencintai para wali-Mu dan memusuhi musuh-musuh-Mu. Jadikanlah aku pengikut sunnah Nabi penutup-Mu. Wahai yang menjaga hati para Nabi."




Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 22), "Puasa Sarana Latihan Meraih Wushul"



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Seseorang dianggap wushul jika telah menempuh perjalanan panjang untuk proses penjernihan hati (tazkiah). 

Rajin melakukan PUASA yang dibarengi dengan senantiasa berzikir kepada Allah, adalah cara yang tepat untuk proses Penjernihan hati (Tazkiah)"


Ybia Indonesia - Usaha untuk mencapai kejernihan hati melalui PUASA dan Dzikurllah tersebut, membuatnya bersih dari kabut-kabut yang menghalangi untuk sampai pada Allah. Kabut-kabut syahwat yang bersarang di hatinya telah sirna oleh rasa yang begitu dahsyat sebagai proses penjernihan hati tadi.

Wushul adalah sampai. Wushul ilaallah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan orang yang sudah wushul tersebut telah benar-benar yakin akan adanya Allah. 

Hal ini berbeda dengan penglihatan mata secara dhahir, Wushul ini merupakan pengalaman kerohanian bukan secara nyata seperti halnya Nabi Musa yang secara jasmani takkan mampu  melihat Alllah, tetapi pingsannya Nabi Musa adalah tanda bahwa ruhaninya melihat Allah. 

Terkait Wushul Setiap insan mempunyai potensi untuk wushul kepada Allah sesuai yang Dikehendakinya, hal itu bisa dilalui melalui rajin berpuasa dan berzikir, dan tentunya tak kalah pentingnya melalui bimbingan seorang guru, berthariqot dan lain-lain.

Allah merupakan Pencipta (khalik) dan manusia adalah makhluk. Manusia bisa tersambung dengan Allah ketika ia telah mengenal-Nya, bahkan lebih dari mengenal dirinya sendiri. Inilah yang dinamakan proses wushul (bersambung dengan Allah). 

Wushul seorang hamba kondisi di mana hamba tersebut mengenal Allah SWT, bukan bersambungnya dua dzat yaitu khalik dan makhluk.

 “Wushul (bersambung dengan Allah) itu bukan bersambungnya dua dzat, tetapi kita mengenal-Nya,” 

Dalam kondisi tersebut, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada, selain Allah SWT. Sebab, menurutnya, mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, dia akan tersambung dengan yang lainnya. 

“Begitu kita raih wushul segalanya tiada, hanya Dia yang Ada. Mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, Allah akan sambung dengan sesuatu,” 

Mendekat kepada Allah (taqarrub) bukan imajinasi dekat jarak dan waktu. Jika pemahamannya seperti itu, maka manusia akan gagal paham dengan taqarrub. “Kedekatan (alqurb) adalah kesadaran penuh bahwa kapan, dimana pun dan dalam situasi apa pun, Allah lebih dekat dibanding dirimu sendiri.

IBNU Athaillah mengatakan, "Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain hanya derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya.

Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai kemaqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut)."

Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan 'Tidak mampu' yaitu, manakala muncul setelah ia fana secara hakiki, bukan 'tak mampu' secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang 'arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidak berdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.

Maka bisa ditampakkan, bahwa:

Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.

Orang bodoh selalu berkhayal, orang arif selalu meraih kefahaman.

Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.

Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan rohani maknawinya.

Seseorang dalam perjalanan rohaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman rohaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.

Banyak para penempuh bangga dengan pengalaman rohaninya, lalu ia mandeg dalam kepuasan dirinya, dan ketakjubannya.

Banyak para penempuh yang mengungkapkan kedalaman batinnya, lalu ia kehilangan keikhlasannya.

Banyak para penempuh yang gembira dengan capaian hakikatnya, padahal ia baru tahap proses awal perjalanannya.

Karena itu, benarlah ungkapan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs, "Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacat mereka.

Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:

- Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh

- Mencari ilmu sesuai kebutuhan.

- Melanggengkan diri dalam keadaan suci.

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah

Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib.

- Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya.

- Melakukan sholat malam dan Sholat witir.

- Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis

- Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid (pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama).

- Puasa di hari-hari mulia

Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan.

Memperbanyak Istighfar

- Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

- Melanggengkan diri untuk membaca dzkir-dzikir yang disunnahkan di pagi hari dan sore hari.

Puasa dalam dua perspektif (Sya ri’ah dan Tarekat) masih menekankan ritual puasa sebagai kewajiban yang mesti ditaati dan ini sangat benar, sesuai dengan ketetapan Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se bagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(QS al- Baqarah [2]:183):


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn)

√ Perspektif Syari’ah sangat menekankan aspek formal puasa itu dengan kedisiplinan terhadap asas rukun dan syarat puasa. Sedikit apapun pelanggaran rukun dan syarat puasa akan berakibat fatal atau terancam batalnya puasa itu.

Di dalam kitab Fath al-Mu’in dicontohkan, jika seseorang akan memasukkan benang ke dalam jarum biasanya dibasahi dengan air liur dengan menjilat ujung benang itu, agar tegak dan gampang memasukkan ke dalam lubang jarum. 

Jika benang itu benang putih tidak mengancam batalnya puasa. Akan tetapi jika benang itu berwarna dan lunturannya bergabung dengan air liur masuk ke dalam tenggorokan maka itu mengancam batalnya puasa.

√ Dalam perspektif tarekat sudah beranjak dari level formal dan memasuki wilayah hikmah lebih mendalam di balik puasa. 

Sesuai dengan namanya, Ramadhan, menurut bahasa berarti membakar dan menghanguskan. Salah satu puasa yang paling penting ialah puasa pada bulan Ramdhan yang sedang kita jalani saat ini.

Selain menunaikan kewajiban puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam itu, diharapkan dengan puasa ini mampu menghanguskan dosa-dosa masa lampau, mulai dosa kecil sampai dosa besar. 

Puasa Ramadhan diharapkan pula mampu membakar semangat jihad, ijtihad, mujahadah, dan semangat riyadhah, yang pada saatnya membantu kita untuk mencapai tingkat kedekatan diri dengan Allah SWT.

√ Dalam perspektif hakikat, kedua lapisan tersebut sudah dilalui. Puasa bagi komunitas ahli hakikat sudah tidak menekankan keistimewaan luar biasa, termasuk keutamaan bulan Ramadhan. Betapa tidak, karena kehidupan sehari-harinya sudah sedemikian akrab dengan puasa, dengan kata lain puasa sudah menjadi habit-nya.

Bagi mereka puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami isteri, sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu, tetapi puasa sudah lebih merupakan wacana spiritual (batiniah). Puasa bagi mereka seperti puasa sepanjang masa (daim).

Ada istilah yang sering didengar dari mereka, yaitu meskipun kita sudah berbuka tetapi tetap harus berpuasa. 

Mereka tidak ingin membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka. Artinya, secara formal sudah berbuka tetapi ia masih tetap memuasakan pikirannya untuk memikirkan sesuatu selain Allah SWT, memuasakan ingatannya untuk mengingat sesuatu selain Allah SWT, memuasakan keinginannya selain keinginan untuk taqarrub ilallah, memuasakan harapan harapannya untuk berharap selain ridha Allah SWT.

Sedetik pun ia tidak mau membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka secara fi sik. Ia merasa puasanya batal manakala berkeinginan selain keinginan tunggalnya mencapai mardhatillah.

Puasa Ramadhan bagi golongan terakhir ini tidak begitu luar biasa, karena ia merasakan sepanjang bulan adalah bagaikan Ramadhan baginya. Ia selalu menunaikan berbagai macam ibadah seperti seruan untuk melakukan berbagai macam amaliah Ramadhan. Dengan kata lain, amaliah sehari harinya sepanjang bulan bagian amaliah Ramadhan bagi orang awan.

Pada tingkatan puasa seperti ini, akan membuka jalan meraih Wushul.

Mereka tidak tertarik lagi dengan janji pahala yang berlipat ganda di dalam bulan Ramadhan, karena menjalankan puasa bukan mencari pahala, seperti orang-orang awam dan khawash. 

Ia sudah masuk kategori pengamal puasa khawashul khawash, yang tidak lagi berharap pahala atau berkah, karena satu-satunya harapan mereka hanya Allah semata.

Orang-orang yang telah Wushul menjalankan ibadah puasa bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Ia juga menjalankan puasa bukan untuk memperoleh berkah kehidupan dunia dan akhirat. 

Bagi mereka perbedaan dunia dan akhirat sudah sedemikian tipis sehingga tidak lagi terkesima dengan janji-janji orang terhadap Ramadhan. Bagi mereka ambil itu surga, ambil semuanya, mereka sudah cukup hanya memiliki dan hidup di dalam genggaman Tuhan.

Puasanya orang yang Wushul adalah para ahli hakikat, mereka sama sekali tidak pernah dirasakan sebagai suatu masalah seperti beban, lapar, dahaga, dan pembatasan fisik lainnya. 

Bagi mereka puasa, sebagaimana kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya seperti shalat dan, lebih dirasakannya sebagai sesuatu yang maha indah. 

Mereka merasa nyaman dengan berbagai kewajiban agama sehingga tidak terasa lagi puasa itu sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai kesenangan batin. 

Seperti halnya yg telah #kaP ulas diatas, puasanya orang yang ahli Hakekat akan membuatnya mencapai Wushul. 

Syarat untuk mencapai Wushul adalah pengendalian hawa Nafsu.

Seperti yang sama-sama kita ketahui diantara manfaat dari puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu.

Naiklah Ke Maqam Yang Tinggi, Robek Hawa Nafsu, melalui Puasa.


Ada tujuh tingkatan nafsu manusia, yaitu:

- Nafsu Amarah

- Nafsu Lawamah

- Nafsu Mulhimah

- Nafsu Muthmainnah

- Nafsu Radhiyah

- Nafsu Mardhiyah

- Nafsu Kaamilah

Para ulama mengatakan bahwa 7 nafsu ini adalah manifestasi dari sebuah jalan yang berada diantara manusia dengan Allah SWT. 

Terdapat 70 ribu hijab (penutup) yang menjadi penghalang untuk mencapai wushul ila-Allah (sampai kepada Allah), oleh karena itu ada 10 ribu hijab yang menutupi masing-masing nafsu.

Seorang pendaki Spiritual / Pejalan Spiritual akan terus mengalami peningkatan maqom ketika ia berpuasa dan berdzikir mengingat Allah. 

Puasa dan Dzikir berfungsi untuk merobek hijab-hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. 

Setiap nafsu memiliki sifat dan tanda-tandanya masing-masing. Melalui sifat itu seorang murid dapat mengetahui peningkatan yang terjadi pada dirinya selama berjalan menuju Allah.

Seorang pendaki Spiritual dapat dikatakan telah wushul ila-Allah ketika ia telah mencapai tahapan nafsu yang terakhir. Dampak dari wushul ila-Allah ini adalah ia akan istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, dan ia akan terus melakukan ketaatan dan menyembah Allah setiap saat tanpa henti.


TINGKATAN NAFSU:


1. NAFSU AMARAH

Nafsu inilah yg mendorong org melakukan perbuatan yang dilarang.

2. NAFSU LAWWAMAH

sudah mengerti antara kejelekan dan kebaikan namun belum bisa melakukan kebaikan malah selalu terjerumus dalam kejelekan.

3. NAFSU MULHIMMAH:

Masih berat berbuat ketaatan walaupun kadang mampu melakukannya.

4. NAFSU MUTHMA'INNAH:

Nafsu yang menjadikan seseorang tunduk pada hukum Allah.

5. NAFSU RADHIAH:

tidak hanya sekedar tunduk namun sudah benar-benar Ridho kepada segala taqdir Allah.

6. NAFSU MARDHIYAH:

Tidak hanya sekedar Ridho pada kehendak Alloh namun lebih dari itu jiwa dan raganya hanya untuk menyembah Allah.

7. NAFSU KAMILAH:

Nafsu pada tingkatan Insan Kamil manusia paripurna.

Nafsu Kamilah adalah jiwa yang telah benar-benar sempurna dan juga telah mendapatkan pancaran kebenaran dari Tuhan, serta telah mencapai tingkat makrifat.

Nafsu kamilah : nafsu yang sempurna yang diduduki para nabi, rosul dan para walinya ) sebagai pengejawantahan dari insan kamil. 

Mereka adalah teladan sejati dalam mengemban ibadah lahir dan batin: syariah dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh gusti Allah yang maha perkasa dan penyayang untuk membentuk masyarakat yang di ridhoi-NYA. 

Nafsu yang telah mencapai kesempurnaan bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad (petunjuk) dan senantiasa berusaha untuk menyempurnakan diri kepada Allah swt. 

Orang yang memiliki Nafsu Kamilah disebut “mursyid mukammil” (orang yang menyempurnakan) atau disebut “insan kamil”. pada tingkat ini jiwa telah demikian dekat dengan Allah.

Para Sufi menganggapnya telah mencapai tajjali (terbuka, tak bertabir), baqa’ billah (bersama dengan Allah), fana fillah (hancur dalam Allah) dan dia memperoleh ilmu ladunni minallah (ilmu anugerah Allah).

Secara syariat dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang untuk membentuk akhlak masyarakat yang diridhoi oleh-Nya.

Nafsu ini selalu memotivasi diri untuk beribadah dan mendapat anugerah ilmu keyakinan.Yang memiliki nafsu ini hanya akan merasakan [[kebahagiaan] hakiki bila bersama dengan Tuhannya. 

Semoga kualitas puasa kita semakin meningkat. Selamat menikmati bulan puasa.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H / 2023 (Bag.4), "Puasa dan Problem Solving"

 




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  

  

Problem Solving adalah kemampuan dalam memecahkan persoalan hidup. 

Ybia Indonesia - Problem Solving merupakan kemampuan untuk menganalisis masalah serta menemukan solusi yang efektif untuk memecahkan masalah tersebut. 

Dalam hidup kita, pastilah terjadi banyak masalah dan ujian. Terkadang kita merasa hidup begitu berat bahkan seolah tak pernah terlihat jalan keluar. 

Kita sudah lelah bertanya “apa-mengapa-bagaimana” semua ini bisa terjadi.

Kita mungkin akan selalu bertahan menjalaninya dengan perasaan yang beraneka ragam. Mungkin pasrah, mungkin dengan berharap kelak ada jalan keluar, mungkin dengan putus asa, dll. 

Maka jika kita sudah sampai batas yang tidak bisa ditoleransi oleh akal kita, jangan pernah lupa bahwa sebenarnya manusia selalu menemui cobaan dan "masalah" dalam hidupnya.

Solusi untuk memecahkan masalah hidup adalah: Ketahanan Mental, kejernihan berpikir serta ketenangan dalam bersikap atau tenang dalam menyikapi persoalan hidup. Hal ini dapat dilatih dengan puasa.

Berpuasa menjadikan pikiran lebih tenang dan nyaman. Momen ini bisa kita jadikan sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, yakni dengan mendetoks pikiran kita, untuk berubah menjadi lebih baik. 

Hal ini menjadi kata kunci untuk memecahkan serta mengatasi persoalan hidup kita.

Puasa dapat memberikan rasa nyaman dan tenang, sehingga pikiran menjadi lebih bersih dan berhenti “melakukan” berbagai hal yang tidak dibutuhkan.

Pikiran ini akan mengontrol hampir keseluruhan aktifitas yang dilakukan, itulah mengapa sangat penting untuk selalu menjaganya jernih dan bekerja secara positif. 

Kondisi seperti ini bisa saja hadir karena adanya berbagai aktifitas yang bisa menyeimbangkan emosi dan pikiran, salah satunya puasa.

Bagi yang menginginkan sebuah perubahan hidup ke arah yang positif, maka tidak ada salahnya untuk menjadikan momen bulan puasa ini sebagai proses untuk mendetoks pikiran juga. Bukan hanya akan memberi rasa nyaman, namun proses ini akan membuat kita masuk ke dalam tahap ketenangan pikiran yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah sehingga manusia selalu berkeluh-kesah dalam menghadapi kesulitan hidup.

Seperti ditegaskan dalam surat Al-Ma’arij ayat 19-21 yang dinyatakan bahwa manusia diciptakan dengan sifat keluh-kesah dan kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia akan berkeluh-kesah dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ

innal-insāna khuliqa halụ'ā

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.


اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ

iżā massahusy-syarru jazụ'ā

Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,


وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ

wa iżā massahul-khairu manụ'ā

dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.

Oleh karena itu, sebagai manusia yang beriman maka harus selalu berkhusnudhon kepada Allah, bahwa apapun kesulitan atau kesusahan yang menimpa seseorang selalu ada hikmah yang memiliki sisi kebaikan bagi orang tersebut.

Secara umum tujuan berpuasa adalah untuk membersihkan hati manusia dari dosa, untuk menyucikan kembali jiwa dan hati.

Namun ada manfaat, alasan dan tujuan yang lebih praktis, yang bisa membantu kita lebih mudah meresapi hikmah puasa, sbb:

1. Puasa MENDEKATKAN DIRI kita pada Tuhan, dan membuat kita lebih mudah mengungkapkan kesulitan serta merasakan kemurahan hati dari Allah sendiri.

2. Puasa mengajarkan KEPATUHAN. 

Ketika memutuskan tidak berpuasa, Anda masih bisa melanjutkan hidup seperti biasa. Namun karena Anda mau patuh pada ajaran agama, maka Anda pun bertekad untuk melakukannya.

3. Membantu Anda menemukan KEBAHAGIAAN yang sesungguhnya melalui kesederhanaan, pengekangan diri dan perayaan kebahagiaan yang tidak berlebihan. 

4. MEMAHAMI rasanya kehausan dan kelaparan. 

Bagi Anda yang biasa kelaparan karena diet, penderitaan kaum papa yang kelaparan mungkin tidak menyentuh hati Anda. 

Saat puasa inilah Anda akan sadar bagaimana rasanya kelaparan dan kehausan sepanjang hari dan setiap hari. 

5. Dengan puasa kita belajar untuk MENERIMA keadaan sulit yang harus diterima, yang tidak bisa diubah lagi. 

Semangat ini sama dengan sikap kita yang tawakal menanti saat berbuka dan menahan diri selama satu bulan penuh. 

6. Puasa melatih kita untuk KONSENTRASI dan mau berusaha demi sesuatu yang diyakini. 

Saat amarah dan emosi datang, kita akan belajar menjadikan moral sebagai prioritas dalam menyelesaikan masalah. 

7. Puasa mengajarkan manusia untuk BERSERAH DIRI dan PERCAYA akan kuasa-Nya di saat menghadapi saat-saat sulit.

Mungkin Anda memiliki penyakit maag yang sepertinya tidak memungkinkan untuk puasa, namun nyatanya banyak juga yang bisa berpuasa penuh. 

8. Sekian jam lamanya tidak makan dan hanya sedikit waktu untuk berbuka mengajarkan untuk BERSYUKUR di saat senang dan sabar serta bertekun di saat sulit.

Ini juga mengajarkan agar kita tidak bersenang-senang terus-terusan hingga lupa diri. 

9. Selama puasa amarah harus DITAKLUKKAN, bukan DIALIHKAN.

Hal ini pelatihan berharga untuk kemudian diterapkan dalam hidup Anda setelah bulan Ramadan. 

10. Ada batasan untuk sahur, ada waktu khusus untuk berbuka dan taraweh. 

Melalui puasa Anda juga diajarkan untuk TEPAT WAKTU dan DISIPLIN.

√11. TOLERANSI dan MEMAAFKAN adalah poin klasik yang selalu berlaku sepanjang masa. 

Puasa mengajarkan dua hal ini yang walaupun klasik, namun tetap saja tidak bisa dilaksanakan dengan baik oleh manusia, jika tidak ada sebuah kesadaran dalam diri.

12. Penahanan diri selama puasa juga mengajarkan Anda dalam MENGATUR EKONOMI. 

Dengan berhemat dan memilah-milah pengeluaran yang tidak berlebihan, kini Anda tahu bahwa sebenarnya selalu ada saja uang yang bisa diamalkan untuk orang lain. 

13. Puasa juga MEMATANGKAN pribadi seseorang. Dengan kemauan untuk memaafkan, menahan diri dan bisa membuat prioritas, pribadi Anda akan benar-benar dimatangkan melalui proses puasa. 

Tidak tenang, gugup, dan panik dalam menghadapi persoalan hidup merupakan perasaan yang wajar dialami semua orang dan bisa diatasi dengan memahami cara menenangkan pikiran. 

Meski cemas dianggap biasa, namun jangan biarkan perasaan itu muncul berlarut-larut sebab bisa menurunkan semangat dan kepercayaan diri. 

Tentu kalau sudah begitu performansi dan produktivitas bakal terganggu.

Ketika kepanikan melanda, mungkin rasanya akan susah untuk meredakan atau mengontrol emosi. 

Padahal sebenarnya Anda bisa mengendalikan perasaan tidak tenang dengan cara yang cukup efektif.

Kuncinya hanya dengan membiasakan diri memusatkan perhatian pada hal yang positif agar pikiran menjadi tenang. Dengan pikiran yang tenang dijamin bisa mengurangi stres dan cemas.

Hal ini bisa diraih dengan berpuasa. 

Puasa menjadikan hidup kita lebih tenang serta menjadikan kita lebih yakin bahwa Allah akan memberikan kekuatan dan solusi untuk mengatasi segala persoalan hidup.

Persoalan hidup bukan untuk dihindari, tapi dipecahkan, diatasi dan dicarikan solusinya (Problem Solving). Obat Mujarabnya adalah: PUASA.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator / Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1444 H, "Puasa dan Kesadaran Spiritual"

 



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  


Marhaban ya Ramadhan 

Ybia Indonesia - Puasa merupakan momentum untuk merasakan kehadiran Tuhan. Dalam setiap tarikan nafas, kita mengingat Tuhan. Ibadah puasa merupakan komunikasi makro dengan Tuhan. Ibadah puasa menjadi ajang pendakian spiritual,

Ibadah puasa merupakan instrumen untuk menggerakkan diri melakukan transformasi menjadi pribadi yang berintegritas.

Puasa adalah syariat yang telah diwajibkan oleh Allah SWT sejak manusia hadir di muka bumi.
Ibadah ini telah disyariatkan sejak zaman nabi Adam AS hingga Rasul terakhir Nabi Muhammad SAW.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(Quran Surat Al-Baqarah Ayat 183)

Puasa memiliki manfaat yang penting bagi manusia dilihat dari berbagai aspeknya. Dari aspek kesehatan misalnya para pakar kesehatan dunia mengakui beragam manfaat aktivitas berpuasa  bagi tubuh dan mental manusia.

Hasil penelitian dan pengkajian ki alit Pranakarya menyimpulkan berbagai hikmah puasa, antara lain:

 - Pertama tofeel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental). 

- Kedua, to look and feel younger (melihat dan merasa lebih muda). 

- Ketiga, to clean out the body (membersihkan badan).

- Keempat to lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak). 

- Kelima, to get more out of sex (lebih mampu mengendalikan seks). 

- Keenam, to let the body health itself (membuat badan sehat dengan sendirinya).

- Ketujuh, to relieve tension (mengendorkan ketegangan jiwa). 

- Kedelapan, to sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi). 

- Kesembilan to gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri).

- Dan kesepuluh to slow the aging process / untuk memperlambat proses penuaan. 

Aktivitas berpuasa ternyata tidak hanya ditemukan pada manusia saja, sejumlah hewan pun melakukannya. 
Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa hewan melakukan puasa dengan beberapa tujuan. 

Berikut lima tujuan hewan melakukan aktivitas puasa:

1. Tujuan pertama untuk bertahan hidup seperti hibernasi pada buaya dan beruang dalam menghadapi perubahan musim. 

2. Tujuan kedua,istirahat dan peremajaan fisik seperti puasanya ular ketika berganti kulit. 

3. Tujuan ketiga mempersiapkan bekal demi perjalanan yang berat dan panjang seperti puasanya unta dalam  melewati ganas dan ekstrimnya perjalanan di padang pasir. 

4. Tujuan keempat kelangsungan regenerasi seperti puasanya ayam mengerami telurnya.

5. Dan  tujuan kelima perubahan jatidiri seperti yang terjadi pada ulat yang berpuasa menjadi kupu kupu.

Dari beberapa model berpuasanya hewan tersebut nampaknya kita bisa mengambil pelajaran berharga dari puasanya ulat menjadi kupu-kupu. 
Dalam istilah zoologi proses perubahan ini dinamakan metamorfosis sempurna dimana suatu hewan berubah secara revolusioner dan sama sekali berbeda dari sebelumnya baik bentuk fisik, makanan maupun habitatnya.

Hikmah yang bisa diambil dari hal ini adalah dalam berpuasa seharusnya manusia mengalami  apa yang penulis sebut "transformasi eksistensial " dari keterikatan kepada dunia material menuju kebebasan dunia spiritual. 

Dari dominasi kefanaan menuju keabadian, dari kelamnya reruntuhan alam semesta menuju kecemerlangan cahaya Tuhan yang luas membentang dibalut sifat Jalaliyyah (keagungan) dan Jamaliyyah(keindahan)-Nya. 

Dari jiwa "ulat" yang terbatas kepada jiwa "kupu-kupu" yang terbang bebas menembus cakrawala dan memancarkan pesona keindahan. 
Disinilah urgensi dan makna spiritual puasa.

Tujuan spiritualitas puasa adalah mengantarkan manusia untuk mencapai kesadaran tertinggi, yaitu kesadaran spiritual. 

Kesadaran spiritual adalah suatu kesadaran bahwa manusia bukan badan, bukan prana (kekuatan hidup), bukan pikiran, bukan emosi, bukan memori, melainkan spirit. Maka manusia hendaknya tidak mengidentikkan dirinya dengan semua unsur tersebut.

Ketika manusia sadar bahwa dirinya bukan badan, dia tidak perlu mengidentikkan dirinya dengan selera dan nafsu. Sebab, alat perasa yang disebut panca indra hanyalah bagian dari tubuh manusia, maka manusia tidak perlu menuruti semua kemauan indra, apalagi sampai didikte oleh indra. 

Karena indra pada dasarnya adalah wujud lahir yang memiliki sifat serakah setelah menyaksikan ketakjuban dunia yang serba wah.

Merujuk pada Al-Quran, bagi umat Islam tujuan akhir puasa adalah mencapai takwa; mengendalikan sikap dan perilaku sehingga terhindar dari perbuatan yang melanggar. Nilai-nilai moral adalah salah satu produk penting takwa. 

Dengan puasa manusia bisa merencanakan untuk membentuk kebiasaan yang mampu mengendalikan diri. Kemampuan ini adalah sebuah jalan menuju kemandirian, kematangan pribadi, dan transformasi spiritual.

Para sufi (pendaki Spiritual) menteoritisasi puasa laksana misi pendakian gunung seperti yang dilakukan para aktifis lingkungan atau pecinta alam. Ada para pendaki gunung yang terlatih akan dapat mencapai finis di puncak tertinggi. Ada pendaki yang pada setengah perjalanan rasanya telah sampai puncak, karena kurangnya latihan dan bekal, sehingga telah puas di tengah jalan. Namun ada pula yang tak sampai di tengah perjalanan namun rasanya telah puas walau sedikit telah merasakan dahsyatnya melakukan sebuah petualangan yang indah. 

Ketiga kelompok pendakian di atas, meskipun semua merasa mencapai finish dan derajat kebahagiaan, namun masing-masing berada pada tingkatan yang tidak sama.

Dengan merumuskan kategorisasi yang hampir sama dengan kaum sufi, Al-Ghazali, menyatakan bahwa transformasi spiritual yang mampu membangkitkan diri dalam puasa terdiri atas tiga tahapan atau tingkatan. 

- Tingkatan pertama, puasa orang awam-umum (awam). Puasa dipahami sekadar menahan rasa lapar, haus, dan syahwat pada siang hari saja.

- Tingkat kedua, puasa orang khusus (khawash). Puasa pada level ini dipahami selain secara fisik-biologis (menahan lapar, dahaga, dan syahwat) ditambah pengekangan diri (pancaindra) dari perbuatan dosa.

- Tingkat tertinggi, puasa orang sangat khusus (khawashul khawash). Puasa bukan sekadar menahan rasa lapar, haus, syahwat, pancaindra, melainkan juga seluruh peranti kehidupan manusia (jasmani-rohani). 

Bagi kelompok ketiga ini, misi sosial merupakan salah satu sisi yang juga dilakukan “laku puasa” dengan menyantuni dengan sepenuh hati pada masyarakat keserakat (terbenam dalam lumpur kekusahan dan kesulitan hidup).

Setiap tiba bulan Ramadan, sudah semestinya dari tahun ke tahun setiap orang mampu meniti jalan pendakian ini secara progresif atau maju. 

Bila puasa tahun lalu masih pada level awam, tahun ini berusaha sekuat tenaga untuk paling tidak berada pada level khusus. Tahun depan syukur dapat di puncak klasemen. Bila diibaratkan sebuah kompetisi olahraga, maka piala hanya dapat dipegang oleh sang juara, yang pasa tahap akhir berada pada klasemen puncak. Puncak klasemen inilah yang akan dapat mempertemukan atau menyatukan seorang diri hamba dengan tuhannya.

Dalam bahasa Jawa disebut manunggaling kawula Gusti, dalam bahasa Ibnu Arabi wahdatul wujud, dan dalam bahasa tokoh sufi dari tanah Jawa Syeh Siti Jenar sebagai wahdatusy syuhud.

Progresivitas untuk mencapai kesadaran tinggi ini penting karena dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang amalnya hari ini lebih buruk dari yang kemarin termasuk orang celaka. Orang yang amalnya hari ini sama dengan hari kemarin, ia termasuk orang yang rugi. Dan, orang yang amalnya hari ini lebih baik dari yang kemarin, maka ia orang yang beruntung (HR Bukhari Muslim). 

Hadits ini yang saat ini dipraktekkan dalam sebuah misi bisnis maupun social yang terkenal dengan sebutan target, yang dari waktu ke waktu pasti akan terus dinaikkan.

Pola laku puasa Ramadan seperti ini akan mampu mencapai garis batas tertinggi dari tujuan puasa, yakni takwa. Takwa dalam arti bukan hanya takut, tetapi kelahiran kesadaran ketuhanan. Yaitu sikap pribadi yang sungguh-sungguh berusaha memahami Tuhan dan menaati-Nya. Dalam konteks inilah totalitas kolektif manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial diuji. 

Kesadaran ketuhanan diuji dalam kehidupan yang berkaitan langsung kepada Allah sekaligus dalam kehidupan nyata antar sesama manusia dan makhluk Allah yang lain.

Totalitas spiritual dan penyadaran bukan hanya terbentuk lahiriah melainkan juga batiniah, antara wadag dan isi harus serasi. Kedua-duanya harus digerakkan dan diwujudkan sebagai satu kesatuan sehingga mewujud dalam bahasa Al-Quran sebagai insan kamil (manusia sempurna paripurna).

Puasa seharusnya bukan sebatas ritual lahiriyah tetapi bagaimana menjadikan puasa sebagai sarana atau media untuk melakukan takhalli, tahalli, dan pada akhirnya mencapai tajalli. 

Bahkan, dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa merupakan media atau sarana yang paling lengkap untuk melakukan ketiga langkah tersebut. Dalam dunia tasawuf, puasa adalah menahan atau mengendalikan hawa nafsu, yang apabila ia tidak terkendali akan menjadi sumber dan penyebab terjadinya berbagai dosa dan kejahatan, baik dosa lahir maupun dosa batin yang dapat mengotori dan merusak kesucian jiwa. 

Jadi ruang lingkup hawa nafsu bukan hanya sebatas upaya mengekang nafsu makan dan nafsu birahi saja. Pengendalian nafsu yang merupakan inti dari puasa itu dengan sendirinya dapat menghindarkan manusia dari segala dosa, yang dalam istilah tasawuf disebut dengan takhalli. Orang yang berpuasa tetapi masih melakukan berbagai dosa, baik dosa lahir maupun dosa batin, berarti belum mengendalikan nafsu. 

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi tidak sanggup mewujudkan pesan moral di balik ibadah puasa itu, yaitu berupa takhalli dari dosa lahir dan batin, maka puasanya itu tidak lebih dari sekedar orang-orang yang lapar saja. 

Walhasil, semoga kita benar-benar dapat melaksanakan puasa bukan hanya sebagai tren ibadah, karena Ibadah semestinya tidak hanya dilaksanakan secara formal-ritualistik. Bagian terpenting dalam ibadah adalah pada sejauh mana manusia mampu mengimplementasi pesan yang ada dalam tindakan ibadah ke dalam kehidupan sosial praksis, serta sebagai upaya takhalli jiwa kita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati dan pikiran.
Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Berpuasa termasuk salah satu bentuk tirakat , dengan berpuasa orang menjadi tekun dan kelak mendapat percikan Cahaya Illahi. Hidup adalah pendakian spiritual menuju keridhaan Allah. Dibutuhkan ilmu, peta jalan sekaligus peralatan yang memadai agar sampai puncak. Meraih ridha dan ampunannya.

Ramadhan menyediakan semua sarana untuk melakukan pendakian spiritual. Bukan sekedar mendaki dengan langkah kecil, tapi juga dengan langkah-langkah besar. Sehingga kita bisa mencapai derajat “maqomam mahmuda”.

Selamat melakukan pendakian spiritual, Selamat menjalankan Ibadah Puasa.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 
Penggagas/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spiritualitas dan Problem Solving, "Puasa dapat Menyelesaikan Masalah"

 


Ybia Indonesia - Problem solving dapat diartikan sebagai: pemecahan masalah. Problem solving merupakan suatu cara untuk menemukan jalan keluar dalam permasalahan hidup.

Permasalah hidup itu sendiri tidak bisa dihindari oleh manusia, dan akan senantiasa mengiringi perjalanan hidup seseorang.

Manusia diciptakan untuk melengkapi kehidupan di dunia, dan di dalam dunia tempat kehidupan manusia itu sendiripun dilengkapi dengan yang namanya MASALAH. 

Tidak ada satu orangpun yang lahir ke dunia ini tanpa mengalami yang namanya MASALAH dan memang pada kodratnya MASALAH juga dilahirkan dengan adanya kelahiran manusia itu sendiri.

#kaP ingin sedikit berbagi tentang bagaimana menyelesaikan MASALAH saat seseorang mendapatinya karena setiap MASALAH memang ada solusinya hanya kita yang tidak dapat mencari jalan untuk mendapatkan solusi tersebut.

Ya, memang setiap masalah itu ada solusinya, tetapi karena setiap saat kita menghadapi masalah atau mendengar kalau kita sedang dalam masalah maka tanpa sadar kita selalu merasa panik dan rasa panik itu juga dengan sendirinya langsung merasuki alam bawah sadar kita sehingga pikiran kita pun ikut-ikutan terpengaruh oleh rasa panik itu dan akhirnya masalah yang sebenarnya bisa kita selesaikan dengan waktu yang singkat akhirnya harus memakan waktu yang lama dan lebih parahnya lagi dapat membawa masalah yang baru lagi.

Coba kita pikirkan, bagaimana kalau sampai kita mendapat masalah di atas masalah? Maka dari sinilah #kaP ingin berbagi cara ampuh seorang manusia dalam menyelesaikan masalah.

1. Berusaha tenangkan hati dan pikiran saat mendapat masalah

Hati dan pikiran adalah suatu kunci utama dalam menyelesaikan masalah. Mengapa hati dan pikiran menjadi hal yang utama dalam konsep penyelesaian masalah? Hati merupakan sumber kemanusian bagi seseorang dan dengan hati manusia dapat merasakan pilihan mana yang harus dijalani dan mana yang harus ditinggalkan sedangkan pikiran adalah pusat dari pengambilan keputusan setelah hati kita sudah bisa merasakan jalan yang harus kita ambil.

2. Penguasaan diri

Penguasaan diri sangatlah diperlukan dalam menyelesaikan sebuah masalah hidup. Penguasaan diri yang dimaksud disini adalah anda sendiri yang lebih paham dengan diri anda. Artinya, anda sudah tau betul karakteristik kepribadian anda karena memang hanya andalah yang hidup dengan kepribadian anda sendiri. Dengan adanya kita dapat menguasai diri kita sendiri maka kita dapat dengan mudah menentukan jalan pikiran dan hati kita untuk menyelesaikan suatu masalah.

3. Jangan gegabah dalam membuat suatu keputusan

Dengan adanya kekompakan atau kerja sama yang efektif antara hati dan pikiran maka dalam menentukan sebuah keputusan akankah sangat mudah. 

Secara otomatis, anda sudah bisa merasa adanya ketenangan dalam dalam diri meski dalam keadaan yang sulit sekalipun. 

Nah, dengan adanya ketenangan itu maka pikiran anda tidak disibukan dengan perasaan-perasaan yang dapat mengganggu pikiran sehingga pikiran kita dapat terfokus dalam menentukan sebuah keputusan yang dirasa baik untuk kita jalani.

4. Percaya kalau anda dapat menyelesaikan masalah itu

Seperti saat anda mendapat MASALAH dan langsung merasa panik, takut dsb. Cara kerja hal ini juga sama dengan yang namanya percaya. Anda harus bisa dan biasakan merasa percaya karena dengan begitu anda telah merasuki ruang bawah sadar kita sehingga apa yang kita pikirkan dan akan kita lakukan telah memiliki landasan yang kokoh dalam diri kita dan kita pun akan melakukan sesuai dengan yang dipikirkan.

5. Pengendalian diri dari semua rasa emosional,panik dan takut

Pengendalian diri inilah sebagai kunci pintu terakhir dalam menyelesaikan sebuah masalah. Dengan adanya keempat cara diatas namun tanpa dilengkapi dengan cara kelima ini maka anda hanya melakukan hal yang percuma. 

Anda memang harus mengendalikan semua rasa yang hanya akan mendatangkan pikiran-pikiran yang mengganggu.

PUASA SOLUSI UNTUK MENGATASI MASALAH HIDUP:

Puasa adalah salah satu ibadah kepada Allah SWT dengan segudang manfaat. Seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya. Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum. Puasa melatih banyak hal, mulai dari yang sifatnya rohani maupun jasmani.

Ada banyak jenis puasa dalam islam, ada yang wajib juga sunnah. Puasa wajib biasa kita lakukan setiap satu bulan penuh dalam satu tahun, yakni bulan ramadhan.

Kali ini kita akan membahas mengenai puasa sunnah. Salah satu puasa sunnah yang memiliki manfaat besar adalah puasa senin kamis. Puasa sunah senin dan kamis adalah puasa yang dilakukan setiap hari senin dan kamis.

Ada beberapa hadits mengenai puasa senin kamis, salah satunya:

“Segala amal perbuatan manusia hari senin dan kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa dalam kondisi berpuasa” (HR. Tirmidzi)

Selain kita akan mendapat pahala, puasa sunnah juga memiliki pengaruh dalam ketenangan jiwa. Mereka yang dengan konsisten mengerjakan puasa senin kamis dengan ikhlas, berhasil menguasai diri dan jiwanya.

Seperti kita tahu, ketenangan jiwa adalah segalanya dalam hidup. Pertarungan hebat itu bukan tentang mengalahkan orang lain, namun ketika seseorang mampu berdamai dengan jiwanya, itulah sejatinya kemenangan.

1. Berpuasa di Hari Senin & Kamis Melatih Disiplin

Jelas dengan rutin melakukan puasa, seseorang akan terlatih disiplin. Disiplin sangat menentukan seseorang akan sukses atau tidak. Disiplin adalah karakter, sementara karakter adalah penentu nasib seseorang.

2. Puasa Senin Kamis Memancarkan Inner Beauty

Dengan puasa, kita akan mampu menjaga sikap dan tindakan. Kecenderungan manusia untuk berbuat jahat, mampu di redam dengan puasa. Sehingga yang nampak adalah kecantikan jiwa yang terpancar natural.

3. Berpuasa Senin Kamis Dapat Menahan Dorongan Maksiat

Seseorang yang melakukan puasa juga akan terhindar dari perbuatan maksiat. Allah menjaga mereka untuk tidak terjerumus kedalam kemaksiatan yang akan membawanya kepada kesengsaraan.

4. Puasa Senin Kamis Melatih Intuisi

 Pikiran dan perasaan membutuhkan waktu untuk tenang. Dan yang waktu yang tepat adalah ketika berpuasa. Ketenangan itu akan melahirkan intuisi yang amat tajam. Sehingga mampu memilih dan memutuskan sesuatu dengan tepat.

5. Puasa Senin Kamis Menjaga Tubuh Tetap Bugar

Banyak hadits yang menerangkan bahwa “berpuasalah maka kamu akan sehat”. Dan itu telah terbukti. Ketika seseorang berpuasa, ketika itulah waktu yang tepat tubuh kita mengeluarkan racun.

6. Puasa Senin Kamis Mampu Meningkatkan Kecerdasan Emosional

 Yang lebih dahsyat lagi, puasa senin kamis dapat membantu meningkatkan kecerdasan emosional. Emosi yang stabil dibutuhkan dalam meraih sukses. 

Seseorang dengan kemampuan mengkontrol emosi, dapat menyelesaikan masalah dengan tepat.

7. Puasa Senin Kamis Melahirkan Pribadi Peka Sosial

Orang yang puasa, dia berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga efek yang muncul adalah keinginan untuk selalu berbuat baik. Kepada diri sendiri ataupun orang lain. Maka jangan heran ketika bulan puasa orang berlomba bersedekah.

 Yang membuat seseorang susah menyelesaikan masalah, susah meraih sukses, susah mendapatkan yang mereka inginkan. Adalah kepanikan. Butuh ketenangan jiwa agar kita mampu menyelesaikan satu demi satu permasalahan hidup.

Puasa senin kamis terbukti banyak manfaatnya. Mari mulai menata diri dengan merutinkan puasa senin kamis. Agar hidup lebih tenang dan damai.

Semoga bermanfaat, Salam Silaturahmi.


ki alit Pranakarya 

Pendiri & Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).