Tampilkan postingan dengan label sunan gunung jati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sunan gunung jati. Tampilkan semua postingan

Sunan Gunung Jati: Wali Songo yang Agung



Ybia Indonesia - Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Sayyid Al-Kamil, adalah salah satu dari Walisongo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Ia lahir pada tahun 1448 Masehi di Makkah Al-Mukarramah dengan nama Syarif Hidayatullah.


Kehidupan Awal

- Ayahnya adalah Syarif Abdullah Umdatuddin, Sultan Pertama Kesultanan Champa

- Ibunya adalah Syarifah Mudaim (Nyai Rara Santang), putri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari Kerajaan Padjajaran

- Ia lahir di Makkah dan nyantri di ulama-ulama Makkah sebelum pergi ke Nusantara


Peran dalam Penyebaran Islam

- Menjadi tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Cirebon dan Jawa Barat

- Mendirikan pesantren di Gunung Jati dan menjadi pusat kegiatan keagamaan

- Menjadi Pemimpin Tertinggi para wali setelah Sunan Ampel


Keturunan dan Warisan

- Menikahi Nyimas Pakungwati, putri dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Indang Geulis

- Takhta Cirebon diwarisi oleh cicitnya, Zainul Arifin yang naik takhta dengan gelar Panembahan Ratu

- Dimakamkan di komplek pemakaman bukit Gunung Jati, yang sekarang dikenal dengan nama Astana Gunung Sembung 

Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon): Wali Songo dan Pendiri Kesultanan Cirebon



Ybia Indonesia - Syekh Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat, lahir tahun 1448 di Mekah, putra Syarif Abdullah dan Nyai Rara Santang (putri Prabu Siliwangi), serta menjadi Sultan Cirebon kedua yang mendirikan kesultanan Islam pertama di Jawa Barat dengan dakwah lewat budaya dan perdagangan, wafat 1568 dan dimakamkan di Cirebon.


Latar Belakang & Keturunan

Nama Asli: Syarif Hidayatullah (Sayyid Al-Kamil).

Ayah: Syarif Abdullah (dari Mesir, keturunan Nabi Muhammad SAW).

Ibu: Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im), putri Prabu Siliwangi dari Pajajaran.

Kelahiran: Mekah, 1448 Masehi.


Perjalanan Dakwah & Kepemimpinan

Menuju Nusantara: Datang ke Cirebon sekitar tahun 1470, disambut uwaknya, Pangeran Cakrabuana.

Menjadi Sultan Cirebon: Dinobatkan sebagai Raja Cirebon ke-2 (Sultan Cirebon) tahun 1479 dengan gelar Maulana Jati.

Dakwah: Menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal (Jawa/Sunda) melalui perdagangan, pembangunan infrastruktur (Masjid Agung Sang Cipta Rasa), dan menjalin hubungan dengan Demak.

Peran di Banten: Membantu pendirian Kesultanan Banten, mengutus putranya, Maulana Hasanuddin, untuk menjadi sultan pertama.


Wafat & Peninggalan

Wafat: 19 September 1568 Masehi (26 Rayagung 891 H).

Makam: Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Keraton Kasepuhan, Cirebon.

Peninggalan Lain: Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Keraton Pakungwati.


Julukan "Sunan Gunung Jati

Sebutan ini diberikan karena perannya sebagai wali yang menyebarkan Islam dari Gunung Jati, yang menjadi pusat dakwahnya di Jawa Barat, sekaligus sebagai penguasa Cirebon.


Wallahu a'lam

Semoga bermanfaat. 

Petatah petitih Sunan Gunung Jati di Abad 14

 


Ybia Indonesia - Petatah petitih Sunan Gunung Jati di Abad 14

Ingsun titip Tajug lan fakir miskin

Yen Sembahyang kungsi pucuke panah (Jika Sholat harus fokus)

Yen puasa den kungsi tetaling gandewa (Jadikan puasa sebagai alat pengendalian diri)

Ibadah kang tetep (Never give up dalam beribadah)

Wedia Ing Allah

Manah deng Syukur Ing Allah (Jadilah Pribadi yang mudah untuk bersyukur)

Kudu Ngakehaken Pertobatat (Banyak Introspeksi internal)

Singkirna sifat kang den wanci duwena sifat kang wanti (hindari sifat yang jelek milikilah sifat yang bagus)

Gagunem sifat kang pinuji (Bertuturkata dengan etika yang luhur)

Aja ilok gawe bobad (Jangan suka bohong) 

Aja ilok ngijek rarohi ing wong (Jangan suka mencela orang lain)

Aja ilok ngagungaken ing salira (Jangan berbangga diri)

Aja Ujub Riya Sum’ah lan Takabbur

Aja due ati ngunek (Jangan menyimpand endam)

Ing Panemu aja gawe tingkah (Jangan bangga terhadap anugrah)

Den bisa megeng ing nafsu (Harus biisa mengendalikan hawa nafsu)

Angasana diri (mawas diri / tahu diri)

Angadohna ing pepadu (Hindari perselisihan)

Pemboboran kang ora patut anulungi (yang salah jangan di bela)

Kenangna hajate wong (Kabulkan kebutuhan orang lain)

Aja akeh kang den pamrih

Aja ilok gawe kaniyaya ing mahkluk

Aja nyidra janji mubarang (jangan ingkar janji 

Aja ilok ngamad kang durung yakin (Jangan menghakimi sesuatu yang belum jelas)

Tepo sliro den adol (Tampilkan rasa toleransi)

Den hormat ing wong tua

Den hormat ing leluhur

Hormaten, emanen, mulyakaken ing pusaka (Pusaka: alat untuk kita melakukan profesi)

Den welas asih ing sapapada (kasih sayang sesama)

Mulyakaken ing tetamu

Aja dahar yen durung ngeli, aja nginum yen durung ngelak

Aja turu yen durung ketekan arip

Yen kaya den luhur (Jika kau kaya harus dermawan)

Den suka wenan lan suka memberih gelis lipur (jika sedih jangan diperlihatkan supaya kesedihan itu cepat hilang)

Aja serakah lan brangasan (Jangan gegabah)

Ngoletana rejeki sing Halal

Aja ngaji kejayan kenang ala (jangan belajar untuk sesuatu yang buruk)

Sunan Gunung Jati

 



(Bagian ke VIII)

Ybia Indonesia - Ekspedisi Jihad  Armada Laut Gabungan Demak,Cirebon Dan Banten Dibawah Komando Pati Unus Melawan Portugis Di Malaka.

Pati Unus (Adipati Unus/ Pangeran Sabang Lor Bin R.Patah Bin Brawijaya V) Raja kedua Kerajaan Demak (1518 -1521 ).

Pati Unus dikenang sebagai Raja yang gagah berani. Selain menghadapi persaingan dakwah dan niaga yang ketat, Pati Unus juga harus menghadapi Portugis yang telah menguasai Malaka sejak 1511.

Setelah Portugis menguasai Malaka, agama yang sebelumnya menjadi salah satu faktor penting dilakukannya ekspansi mulai menjadi samar-samar dan digantikan oleh faktor ekonomi yang memegang peranan sangat penting.

Pati Unus berupaya mempererat perhubungannya dengan Kesultanan Banten dan Cirebon. Untuk mengikat perhubungan itu, Pati Unus menikah dengan Raden Ayu, puteri Sunan Gunung Jati, pada 1511.

Setelah pernikahan itu, Pati Unus didaulat menjadi Panglima Gabungan Armada Islam yang membawahi armada perang Kesultanan Banten, Demak, dan Cirebon serta armada tambahan dari Kesultan Malaka dan Palembanv. 

Penunjukan itu membuat Pati Unus harus bertindak cepat.

Tahun 1512, Kerajaan Samudera Pasai Aceh jatuh ke tangan Portugis. Hal ini berarti kekuasaan Portugis semakin tidak terbendung. 

EKPEDISI JIHAT I

Pati Unus akhirnya memimpin Ekspedisi Jihad 1, pada 1 Januari 1513, ke Malaka sebagai Putra Mahkota Kesultanan Demak.

Ekspedisi pasukan perang Armada Gabungan ini bertujuan untuk menghalau semakin meluasnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Tetapi sayang, serangan pasukan Pati Unus dengan mudah dipatahkan oleh Portugis lewat bantuan pasukan Kerajaan Pajajaran yg pimpinan Ratu Samiam (Surawisesa) dgn intensif selalu memberi informasi kepada Portugis sekutu Kerajaan Pajajaran tentang pergerakan dan kelemahan Armada Gabungan tersebut.

EKPEDISI JIHAT II

Setelah dalam pertempuran pertama selanjutnya Pati Unus langsung melakukan evaluasi secara menyeluruh atas semua pasukan tempurnya yang dengan gampang dihancurkan oleh Portugis itu.

Pati Unus kembali mengumpulkan pasukannya dengan membuat armada besar. Sebanyak 375 kapal perang berhasil dia kumpulkan dari Tanah Gowa, Sulawesi, yang dikenal cakap dalam membuat kapal perang.

Di tengah kondisi dan suasa seperti itulah ayahanda Pati Unus yaitu Raden Patah mangkat. 

Meninggalnya Raden Patah, membuat Pati Unus sebagai Raja ke-2 kesultanan Demak menggantikan ayahnya harus fokus mengurus pemerintahan Kesultanan Demak, sambil terus memperkuat armada perangnya.

Pada 1521, 375 kapal perang yang dibuatnya telah selesai dibangun. 

Ekspedisi Jihad 2 ke Malaka pun segera disiapkan.

Dalam jihat tersebut, kesultanan Malaka mengirimkan Laksamana Hang Nadim putra Laksamana Hang Jebat melawan Portugis di Melaka

Serangan balasan ini dipimpin langsung oleh Pati Unus sebagai Panglima Perang dan Tubagus Pasai/Fatahillah dari kesultanan Cirebon sebagai Wakil Panglima Perang. Sayang, serangan besar-besaran ini telah diketahui oleh Portugis lewat telik sandinya dari Kerajaan Pajajaran yg dipimpin putra Prabu Siliwangi (Kakek dari Sunan Gunung Jati) yaitu Ratu Samiam (Surawisesa).

Armada Gabungan tersebut langsung disambut dengan meriam-meriam besar di benteng Malaka.

Setibanya di Malaka, pasukan besar Pati Unus langsung dibombardir meriam Portugis. Nahas, salah satu tembakan meriam mengenai kapal perang yang ditumpangi Pati Unus sebelum dia bisa mendarat hingga karam.

Pati Unus membayar sangat mahal serangan ini dengan nyawanya bersama putra pertama dan ketiga yg masih remaja mati syahid di medan laga sebagai shuhada fisabilillah. Kematian Pati Unus disambut perang hingga darah penghabisan. 

Armada angkatan perang saat itu juga diambil alih oleh Fadhulah Khan atau Tubagus Pasai atau Fatahillah dari Cirebon sebagai Wakil Panglima Perang.

Di bawah komando Fatahillah, armada perang gabungan Demak,Cirebon,Banten ,Palembang dan Malaka berhasil mendarat ke Malaka dan terlibat perang gagah berani hingga 3 hari 3 malam. .

Dalam pertempuran itu, putra pertama dan ketiga Pati Unus juga gugur.

Selanjutnya armada gabungan setelah meluluh lantakan pasukan Portugis dan mengingat gugurnya Pati Unus bersama ke dua putranya,maka armada gabungan dibawah pimpinan Fatahillah mundur kembali ke Pulau Jawa.

Saat armada mendarat di Banten maka putra ke- 2 Pati Unus yg selamat dalam pertempuran yg bernama Pangeran Yunus (Raden Abdullah putra Pati Unus) atas ajakan Maulana Hasanuddin sebagai paman kandung Pangeran Yunus (Ratu Mas Ayu ibu Pangeran Yunus adalah adik kandung Maulana Hasanuddin ) untuk tetap tinggal di Banten mengingat terjadi nya suksesi oleh Pangeran Trengono yg langsung menggantikan kedudukan Pati Unus.

Kemudian Pangeran Yunus sebagai keponakan Maulana Hadanuddin dinikahkan  dengan putri yang ke 3 yaitu Fatimah. 

Hal ini tidak mengherankan, karena Kesultanan Demak telah lama mengikat kekerabatan dengan Kesultanan Banten dan Cirebon,karena Pati Unus adalah adik ipar dari Maulana Hasannuddin sehingga 3 kesultanan memiliki satu kekuatan penyebaran agama Islam sekaligus kekuatan melawan invasi Portugis.

Selanjutnya pangeran Yunus yang juga banyak disebut sebagai Pangeran Arya Jepara dalam sejarah Banten, banyak berperan dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Maulana Yusuf (adik ipar beliau) sebagai penasehat resmi Kesultanan . 

Dari titik ini keturunan beliau selalu mendapat pos Penasehat Kesultanan Banten , seperti seorang putra beliau Raden Aryawangsa yang menjadi Penasehat bagi Sultan Banten ke III Maulana Muhammad dan Sultan Banten ke IV Maulana Abdul Qadir.

Setelah penaklukan Kota Pakuan Pajajaran 1567 dan Prabu Nilakendra menyingkir ke Cibeo pedalaman  pegunungan Kendeng .Selanjutnya pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran pindah ke Pulasari dipimpin oleh Prabu Raga Mulya dan tahun 1579, Raden Aryawangsa  menjadi Panglima Perang dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Maulana Yusuf dan mempunyai jasa besar menaklukan Kerajaan Pajajaran dari Pakuan hingga Pulasari .

Atas keberhasilan menaklukan Kerajaan Pajajaran di Pakuan pada tahun 1567, sehingga Raden Aryawangsa diberikan wilayah kekuasaan Pakuan (Bogor saat ini) dan bermukim hingga wafat di desa Lengkong (sekarang dekat Serpong). 

Raden Aryawangsa juga menikahi seorang putri Istana Pakuan dan keturunannya menjadi Adipati Pakuan dengan gelar Sultan Muhammad Wangsa yang secara budaya menjadi panutan wilayah Pakuan yang telah masuk Islam (Bogor dan sekitarnya), tapi tetap tunduk dibawah hukum Kesultanan Banten.

Raden Aryawangsa kemudian lebih banyak berperan di Kesultanan Banten sebagai Penasehat Sultan, setelah beliau wafat kiprah keluarga Pati Unus kemudian diteruskan oleh putra dan cucu beliau para Sultan Pakuan Islam hingga Belanda menghancurkan keraton Surosoan di zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1683), dan membuat keraton Pakuan Islam, sebagai cabang dari Keraton Banten, ikut lenyap dari percaturan politik dengan Sultan yang terakhir Sultan Muhammad Wangsa II bin Sultan Muhammad Wangsa I bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah bin Pangeran Raden Muhammad Yunus bin Pangeran Pangeran Yunus/Arya Jepara bin Pangeran Sabrang Lor /Pati Unus bin Raden Patah ikut menyingkir ke pedalaman Bogor sekitar Ciampea.

Selain Raden Aryawangsa, Raden Abdullah/Pangeran Yunus/Arya Jepara  putra Pati Unus juga memiliki anak lelaki lainnya yaitu yang dikenal sebagai Raden Suryadiwangsa yang belakangan lebih dikenal dengan gelar Raden Suryadiningrat yang diberikan Panembahan Senopati ketika Mataram resmi menguasai Priangan Timur pada tahun 1595.

Kehadiran cucu Pati Unus di wilayah Priangan Timur ini tidak terlepas dari kerjasama dakwah antara Kesultanan Banten dan Cirebon dalam usaha meng islam kan sisa-sisa kerajaan Galuh di wilayah Ciamis hingga Sukapura (sekarang Tasikmalaya).

Raden Surya dikirim ayahnya, Raden Abdullah bin  Pati Unus yang telah menjadi Penasehat Kesultanan Banten untuk membantu laskar Islam Cirebon dalam usaha peng Islaman Priangan Timur. 

Raden Surya memimpin dakwah (karena hampir tanpa pertempuran) hingga mencapai daerah Sukapura dibantu keturunan tentara Malaka yang hijrah ke Demak dan Cirebon mengikuti Fatahillah saat kembali ke Demak bersama jenajah Pati Unus yg gagal merebut kembali Malaka dari penjajah Portugis. 

Beristirahatlah mereka di suatu tempat dan dinamakan Tasikmalaya yang berarti danaunya orang Malaya (Melayu) karena di dalam pasukan beliau banyak terdapat keturunan Melayu Malaka yg kini telah berkembang di Tasikmalaya.

Raden Surya pada tahun 1580 di angkat oleh Sultan Cirebon II yaitu Pangeran Arya Kemuning atau dipanggil juga Pangeran Kuningan (putra angkat Sunan Gunung Jati, karena putra kandung Pangeran Muhammad Arifin telah wafat) sebagai Adipati Galuh Islam. 

Akan tetapi seiring dengan semakin melemahnya kesultanan Cirebon sejak wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1579, maka wilayah Galuh Islam berganti-ganti kiblat Kesultanan. 

Pada saat 1585-1595 wilayah Sumedang maju pesat dengan Prabu Geusan Ulun memaklumkan diri jadi Raja memisahkan diri dari Kesultanan Cirebon. Sehingga seluruh wilyah Priangan taklukan Cirebon termasuk Galuh Islam bergabung ke dalam Kesultanan Sumedang Larang. Inilah zaman keemasan Sumedang yang masih sering di dengungkan oleh keturunan Prabu Geusan Ulun dari dinasti Kusumahdinata.

Sekitar tahun 1595 Panembahan Senopati dari Mataram mengirim expedisi hingga Priangan, Sumedang yang telah lemah sepeninggal Prabu Geusan Ulun kehilangan banyak wilayah termasuk Galuh Islam. 

Maka Kadipaten Galuh Islam yang meliputi wilayah Ciamis hingga Sukapura jatuh ke tangan Panembahan Senopati. 

Raden Suryadiwangsa Cucu Pati Unus segera diangkat oleh Panembahan Senopati sebagai penasehat beliau untuk perluasan wilayah Priangan dan diberi gelar baru Raden Suryadiningrat.

Di sekitar tahun 1620 salah seorang putra Raden Suryadiningrat menjadi kepala daerah Sukapura beribukota di Sukakerta bernama Raden Wirawangsa setelah menikah dengan putri bangsawan setempat. Raden Wirawangsa kelak pada tahun 1635 resmi menjadi Bupati Sukapura diangkat oleh Sultan Agung Mataram karena berjasa memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. 

Raden Wirawangsa diberi gelar Tumenggung Wiradadaha I yang menjadi cikal bakal dinasti Wiradadaha di Sukapura (Tasikmalaya). 

Gelar Wiradadaha mencapai yang ke VIII dan dimasa ini dipindahkanlah ibukota Sukapura ke Manonjaya. 

Bupati Sukapura terakhir berkedudukan di Manonjaya adalah Raden Tumenggung Wirahadiningrat memerintah 1875-1901. Setelah beliau pensiun maka ibukota Sukapura resmi pindah ke kota Tasikmalaya.


Penyadur G.E.Dip

Refrensi:

1. Muhlis Abdullah, Huru-hara Majapahit dan Berdirinya Kerajaan Islam di Jawa, Araska Publisher, 2020.

2. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, Balai Pustaka, 2008.

Mengenal Kompleks Makam Sunan Gunung Jati

 


Ybia Indonesia - Tokoh utama yang dimakamkan di komplek makam Gunung Sembung adalah Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Selain itu juga terdapat makam-makam Sultan Cirebon beserta kerabatnya dan juga para leluhur Cirebon.

Kompleks makam Gunung Sembung dibangun pada tahun 1400 Saka yang ditandai dengan candra sengkala “SIRNA TANANA WARNA TUNGGAL”. Di depan komplek makam terdapat alun-alun. Di tengah alun-alun terdapat pohon beringin. Sisi barat ditanami pohon munggur, sedangkan pada sisi utara terdapat pohon sawo kecik dan tanjung. Di halaman alun-alun ini terdapat dua bangunan yaitu MANDE MANGU atau MANDE TEPASAN yang berada di sisi barat dan Pendopo Ringgit yang berada di timur. Bangunan Mande Mangu dibuat pada tahun 1402 Saka yang ditandai dengan candrasengkala “SINGA KARI GAWE ANAKE”. Menurut tradisi bangunan tersebut merupakan hadiah dari Ratu Nyawa anak Raden Patah dari Demak yang menikah dengan Pangeran Bratakelana anak Sunan Gunung Jati. Pangeran Bratakela meninggal di laut ketika dalam pelayaran dari Demak ke Cirebon.

Gerbang utama untuk memasuki komplek makam ada dua berbentuk gapura candi bentar. Dua gerbang tersebut dinamakan Gapura Kulon dan Gapura Wetan. Gerbang yang dipakai untuk umum adalah yang berada di timur (Gapura Wetan). Memasuki halaman pertama di sisi kanan terdapat Sumur Jati. Di sebelah kiri gerbang berderet tiga bangunan yaitu Mande Cungkup Danalaya, berada di bagian timur, di bagian tengah ruang Museum merupakan tempat penyimpanan benda-benda milik Sunan Gunung Jati. Benda-benda tersebut merupakan pemberian dari negara luar diantaranya 10 guci dari Cina masa dinasti Ming. Di sebelah selatan Kong Museum adalah bangunan Mande Cungkup Trusmi.

Memasuki pintu gerbang kedua di sebelah kanan terdapat beberapa padasan untuk mengambil air wudhu bagi peziarah. Di sebelah kiri terdapat bangunan Pendopo Soka yang fungsinya untuk tempat istirahat bagi tamu yang akan ziarah. Di sebelah selatan bangunan ini terdapat Siti Hinggil. Selanjutnya di sebelah selatan Siti Hinggil terdapat bangunan Mande Budi Jajar atau Mande Pajajaran, yang dibuat pada tahun 1401 Saka (1479 M) yang ditandai dengan candrasengkala “Tunggal Boya Hawarna Tunggal”. Bangunan ini merupakan hadiah dari Prabu Siliwangi kepada Pangeran Cakrabuana atau Walasungsang. Mande Pajajaran berdenah bujur sangkar dengan ukuran 9, 80 x 9,80 m. Tinggi bangunan 6,80 m dan memiliki tiang 8 buah. Pada bagian atas tiang, antara balok tarik dan tiang, terdapat ornament dengan pola hias kembang persegi. Di bagian ujung atas dan bawah tiang dihias ukiran motif tumbuhan.

Memasuki halaman ketiga melewati Gerbang Weregu, selanjutnya melalui koridor menuju bangsal Pekemitan. Bangsal ini terbagi dua bagian di sebelah timur disebut Paseban Kraman dan yang di sebelah barat disebut Paseban Bekel. Bangsal ini merupakan tempat para pengurus komplek makam menerima para peziarah. Para peziarah selanjutnya harus berbelok ke kiri melewati koridor hingga sampai ke halaman khusus untuk para peziarah. Di sekitar halaman peziarah banyak terdapat makam-makam kerabat kesultanan baik dari Sultan Kasepuhan maupun Kanoman. Di halaman ini juga banyak terdapat hiasan tempel piring porselen dan beberapa tempayan porselin. Kebanyak berasal dari Cina. Para peziarah melakukan prosesi ziarah hanya sampai di sini. Untuk ziarah ke makam Sunan Gunung Jati cukup diwakili hingga di Lawang Pesujudan yang berada di sebelah utara halaman.

Di sebelah timur halaman ini terdapat bangunan yang disebut Gedong Raja Sulaeman. Gedung ini dibangun oleh Sultan Sepuh ke-9. Dinding bangunan dihias tempelan piring porselen dari Eropa dan Cina. Di sebelah barat halaman peziarah terdapat bangunan yang dinamakan Pelayonan atau Mande Layon. Di sebelah barat bagian ini terdapat komplek makam khusus yang berpagar kayu. Salah satu makam di halaman ini adalah makam Nio Ong Tin  atau disebut juga dengan nama Nyai Rara Sumanding.

Di sebelah selatan terdapat gerbang yang disebut Lawang Krapyak. Di sebelah utara terdapat gerbang menuju halaman berikutnya yang disebut Lawang Pesujudan atau Siblangbong. Lawang Krapyak dan Lawang Pesujudan merupakan dua dari sembilan pintu gerbang yang berada pada satu garis lurus dari selatan ke utara hingga sampai ke makam Sunan Gunung Jati di bagian puncak gunung.


Kesembilan pintu gerbang tersebut adalah :

1) Gapura Kulon

2) Lawang Krapyak

3) Lawang Pesujudan atau Siblangbong

4) Lawang Ratnakomala

5) Lawang Jinem

6) Lawang Rararoga

7) Lawang Kaca

8) Lawang Bacem

9) Lawang Teratai. 

Gapura Kulon, hanya dibuka pada waktu Syawalan dan itu hanya dipakai untuk keluarga Sultan. Lawang Krapyak dibuka setiap malam Jumat Kliwon sesudah acara tahlil. Demikian juga Lawang Pesujudan dibuka hanya pada malam Jumat Kliwon sesudah tahlil, tetapi hanya peziarah yang mendapat ijin dari Sultan yang boleh memasuki halaman berikutnya.

Petugas yang mengurus kompleks makam berada dalam satu sistem organisasi. Seluruh aktivitas berada di bawah koordinator Ki Jeneng. Beliau mengkoordinir 120 staf. Ki Jeneng dibantu 4 orang asisten senior yang disebut Bekel Sepuh atau Bekel Tua dan 8 orang asisten yunior yang disebut Bekel Anom. Selanjutnya terdapat 108 asisten pelaksana yang disebut Wong Kraman. Para petugas ini merupakan keturunan Patih Keling yaitu seorang pembantu Sultan yang berprofesi sebagai pelaut. Struktur organisasi pengelola komplek makam tersebut mengandung makna bahwa Bekel Sepuh dan Bekel Anom merupakan simbol Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Wong Kraman yang berjumlah 108 mengikuti sistem organisasi dalam pelayaran.

Setiap dua minggu terjadi pergantian petugas. Dalam satu kelompok, Ki Jeneng dibantu 2 orang bekel tua dan 2 bekel anom. Di Paseban Kraman terdapat 12 orang kraman yang bertugas penuh selama 2 minggu. Kraman yang 12 hanya bertugas seminggu sebab jumlahnya ada 108 orang yang dilakukan secara bergilir. Baik Jeneng, Bekel Tua, Bekel Anom, maupun Kraman serta penghulu selain punya tugas mengurus makam juga sewaktu dapat membantu tugas-tugas khusus di keraton atas perintah  kedua Sultan Kasepuhan dan Kanoman. Dalam menjalankan tugasnya mereka mengenakan pakaian adat yaitu memakai iket, baju kampret warna putih dan tapih.

Di kompleks Makam Sunan Gunung Jati terdapat beberapa tingkat dan gedung yang terdiri dari beberapa makam sesuai masa para pendahulu. Di bawah ini susunan gedung dan makam yang terdapat di dalam nya:

Gedung Jinem

1. Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati

2. Tubagus Paseh/Fadillah Khan/Falatehan

3. Nyi Mas Rarasantang/Nyi Mas Syarifah Mudaim

4. Nyi Mas Khuraisin/Nyi Gede Sembung

5. Nyi Mas Pakungwati/Nyi Gede Tepasari

6. Pangeran Dipati Carbon

7. Pangeran Bratakelana

8. Pangeran Pasarean

9. Ratu Mas Nyawa

10. Ratu Wanawati

11. Pangeran Dipati Ratu

12. Ratu Raja Wulung Ayu

13. Pangeran Dipati Agung

14. Ratu Raja Agung

15. Pangeran Sendang Lemper

16. Putra Tubagus Paseh

17. Putra

18. Putra

Kompleks Mbah Kuwu Carbon

1. Pangeran Walangsungsang/Mbah Kuwu Carbon/Pangeran Cakrabuana

2. Sayid Abdurahman/Pangeran Panjunan

3. Sayid Syarifudin/Pangeran Kejaksan

4. Putri Nyi Ong Tien/Nyi Mas Rara sumanding


Kompleks Ki Gede Bungko

1. Ki Gede Sembung/Gegeden Kalisapu

2. Pangeran Tuban

3. Pangeran Sendang Jayaning Laut

4. Pangeran Puyuman/Ki gede Bungko


Kompleks Panembahan Ratu

1. Pangeran Dipati Wirasuta

2. Sultan Panembahan Ratu/Sultan II Cirebon

3. Ratu Mas Gelampok/Nyi Mas Ratu Pajang

4. Pangeran Suryamajanegara

5. Ki Surapati Nenggala/Dipati Keling


Kompleks Pangeran Sendang Garuda

1. Pangeran Manis/Ki Penanggapan

2. Ratu Sekarwangi

3. Pangeran Jipang

4. Ratu Sandrawati

5. Raden Pandan

6. Raden Sepet

7. Pangeran Kagok

8. Pangeran Magrib

9. Pangeran Sindang Garuda


Gedung Sultan sepuh Awal

1. Pangeran Wanaon

2. Pangeran Dipati Agung

3. Pangeran Dipati Ageng

4. Nyi Mas Ratu Sewu

5. Pengeran Dipati Permadi

6. Sultan Raja Syamsudin/Sultan Sepuh Awal

7. Guti Ayu Wedaling Asri


Gedung Sultan Gusti

1. Pangeran Dipati Anom Ngalenggah

2. Pangeran Nata Carbon

3. Ratu Dalem Kencanawungu

4. Sultan Muhammad Badridin/Sultan Kanoman Awal

Gedung Sultan Komarudin

1. Sultan Muhammad Komarudin

2. Ratu Dalem Nurul Lintang


Gedung Panembahan Anom

1. Panembahan Ratu Sesangkan

2. Nyi Mas Ratu Sesangkan

3. Panembahan Mas Carbon

4. Nyi Mas Ratih Ria

5. Nyi Mas Giri Carbon


Gedung Sultan Mandurareja

1. Pangeran Dipati Raja Kesumah

2. Sultan Muhammad Mandurareja

3. Sultan Muhammad Abusoleh Alimudin

4. Pangeran Dipati Kedaton

5. Pangeran Dipati Rama Menggala

6. Pangeran Dipati Keprabon

7. Pangeran Gusti

8. Ratu Dalem sekar Kedaton

9. Pangeran Kesumahdiningrat

10. Pangeran Werak


Gedung Gedhong Malang

1. Sultan Raja Tajul Arifin

2. Pangeran Dipati Tohpati

3. Pangeran Temenggung

4. Pangeran Sebrang

5. Pangeran Natareja

6. Nyi Mas Ratu Natareja

7. Sultan Raja Jaenudin

8. Ratu Raja Wulung Ayuntiarsih

9. Pangeran Raja Ningrat

10. Pangeran Raja Kidul

11. Ratu Raja Wulung Ayu

12. Ratu Siti Khodijah

13. Pangeran Dipati Adiwijaya

14. Ki Mudin Jamiril

15. Ki Wisesa

16. Pangeran Wijayanegara

17. Pangeran Kesumaningrat

18. Ratu Endangsari

19. Ratu Kesimpar

20. Pangeran Baureksa


Gedung Sultan Nurus

1. Pangeran Wangsa Kertayasa

2. Pangeran Dipati Rama Menggala

3. Pangeran Dipati Eyang Suwargi

4. Pangeran Dipati Nayaka

5. Ratu Dalem Rosma Kencana Furi

6. Sultan Muhammad Nurbuat

7. Sultan Muhammad Zulkarnaen

8. Ratu Dalem Raja Wulung Ayu

9. Ratu Dalem Agustina

10. Sultan Muhammad Nurus

11. Pangeran Sukma Gianti


Gedung Sultan Matangaji

1. Sultan Raja Saefudin Matangaji

2. Gusti Ayu Kesuma Ningrat

3. Pengeran Dipati Ugawa

4. Pangeran Arya Carbon

5. Pangeran Selang

6. Pangeran Hadibrata


Gedung Sultan Sena

1. Sultan Sena Muhammad Zaenuddin

2. Gusti Ayu Raja Ratna

3. Pangeran Dipati Rajaningrat

4. Pangeran Dipati Suryaningrat


Gedung Kadipaten

1. Ki Khotib Madlain

2. Pangeran Dipati Suryamenggala

3. Pangeran Dipati Arya Kulon

4. Pangeran Dipati Arya Kidul

5. Pangeran Sendang Blimbing

6. Pangeran Dipati Anom Carbon

7. Pangeran Dipati Wiranegara

8. Pangeran Dipati Wirasuta

9. Nyi Mas Ratu Demang

10. Nyi Mas Ratu Winaon

11. Pangeran Purabaya (ada diluar gedung)


Gedung Sultan Jamaludin

1. Sultan Sepuh Raja Jamaludin

2. Gusti Ayu Ratnawulan

3. Pangeran Wijayakarta

4. Pangeran Tumenggung

5. Pangeran suryaningrat

6. Pangeran Giri Pamungkas

7. Pangeran Demang

8. Pangeran Arya Carbon

9. Ratu Arya Carbon

10. Ratu Ayu Raja Widianingsih

11. Panembahan Pati Tohpati

12. Ratu Ganjarpati

13. Pangeran Giri Panata

14. Pangeran Wanatapati

Gedung Nyi Mas Rarakerta

1. Nyi Mas Ratu Rengsari

2. Nyi Ma Ratu Dampo

3. Nyi Mas Ratu Medangsari

4. Nyi Mas Ratu Rarakerta

5. Nyi Mas Ratu Pamuji

6. Nyi Mas Ratu Kirana

7. Pangeran Dipati Awangga (ada diluar gedung)


Kompleks Nyi Gede Babadan

1. Pangeran Jakalelana

2. Pangeran Sukmalelana

3. Nyi Gede Babadan/Nyi Mas Selangkring

4. Nyi Mas Tanjungsari


Gedung Sultan Raja Suleman

1. Pangeran Dipati Natahing Carbon

2. Pangeran Adiwinata

3. Pangeran Dipati Ragahingsukma

4. Ratu Raja Wulandari

5. Ratu Kencana

6. Sultan Sepuh Raja Suleman

7. Sultan Sepuh Raja Hasanudin

8. Sultan Sepuh Raja Syamsudin

9. Sultan Sepuh Raja Ningrat

10. Sultan Sepuh Raja Jamaludin Aluda

11. Sultan Sepuh Rajaningrat

12. Ratu Ratna Sawiji

13. Ratu Rata Kesumaning Ayu

14. Pangeran Dipati Suryanegara

15. Pangeran Angkawijaya

16. Pangeran Antasena

17. Pangeran Ngalaga

18. Pangeran Wisnu Hain

19. Ratu Raja Wulangkencana

20 Ratu Raja Antarwulan


Nama-nama Pintu bagian dalem urutan dari atas

1. Pintu Gusti

2. Pintu Bachem

3. Pintu Kacha

4. Pintu soko

5. Pintu Pandan

6. Pintu Gandok

7. Pintu Pesujudan (tempat para penziarah umum)

8. Pintu Dalem Keraton

9. Pintu Beling

10. Pintu Penganten


Beberapa pintu lain nya yang terletak di komplek Makam

1. Pintu Terathe (Terletak di Makam Nyi Putri Cina)

2. Pintu Kanoman (Terletak di dekat sumur Kanoman)

3. Pintu Mregu (terletak di tempat orang Cina berziarah)

4. Pintu Krapyak (Terletak di tempat Kraman)

5. Pintu Panglubar (Pintu pertama tamu masuk/Alun-alun)

Tulisan Arab gundul berbahasa Cirebon yang terdapat di setiap pilar di kompleks Makam sunan Gunung Jati Cirebon antara lain:

"Setuhune iku menusa njaluka karo Pangerane kelawan madep tur khusyu, Pangerane arep nyumbadani iku panjaluke manusae kelawan ngilmu kang den lakoni...."


Semoga Bermanfaat

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Jejak Sejarah para Wali



Ybia Indonesia - Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon atau disebut dengan Masjid Agung Keraton yang terletak didepan Keraton Kasepuhan Cirebon atau sebelah barat alun-alun Keraton, di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. 

Dari catatan sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon di bangun pada tahun 1480 atas prakarsa Permaisuri Kesultanan Cirebon yang bernama Nyi Ratu Pakungwati dibantu oleh Walisongo dan beberapa tenaga ahli yang dikirim oleh Sultan Demak, Raden Patah.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon merupakan salah satu masjid tertua di Cirebon. Keberadaaan Walisongo yang kala itu memiliki peranan besar terhadap pembangunan masjid tersebut. Sunan gunung Jati yang bertindak sebagai ketua pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan menunjuk Sunan kalijaga sebagai arsitek pembangunan masjid itu.

Berbagai sumber