Tampilkan postingan dengan label Makna IdulFitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna IdulFitri. Tampilkan semua postingan

Memaknai IdulFitri dari Sudut Pandang Spiritual (sufistik)



Oleh: Ki alit Pranakarya 


Ybia Indonesia - Idul Fitri merupakan salah satu perayaan yang dilaksanakan oleh umat Islam di dunia setelah melakukan puasa selama sebulan. Namun, pernahkah kita menyadari secara mendasar makna dan hakikat Idul Fitri?

Begitu banyak Muslim yang merayakan Idul Fitri hanya sebatas seremonial. Sehingga, Idul Fitri hanya sebatas perayaan tahunan dalam paradigma umat. Tulisan sederhana ini, ingin menyadarkan pembaca mengenai makna dan hakikat Idul Fitri dalam pandangan Sufi. Mereka dapat menghadirkan esensi dari Idul Fitri melalui pendekatan batin atau esoterik.

Makna Esoterik Idul Fitri:

Para Sufi dalam berbagai literatur memaknai Idul Fitri pada dua konteks, yaitu umum dan khusus. Pertama, Idul Fitri bermakna umum, ialah kembalinya manusia pada fitrah atau kesucian dirinya. Adapun, Idul Fitri bermakna khusus adalah hadiah ilahi yang diberikan oleh Allah swt kepada seluruh umat Muslim untuk membersihkan, menyucikan, dan menerangi hati mereka. 

Para sufi menyakini bahwa Idul Fitri merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt kepada Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat Muslim sebagai sebuah hadiah spiritual dalam menapaki kehidupan di muka bumi.

Lebih lanjut, kaum Sufi menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk memperoleh hadiah spiritual dengan melewati berbagai ujian yang disiapkan oleh Allah swt. yaitu berpuasa selama sebulan penuh, dan memahami hakikat turunnya kitab suci Alquran di bulan suci Ramadan. Berbagai ujian yang diberikan Allah Swt. selama bulan suci Ramadan bertujuan untuk melatih ibadah dan ketakwaan umat Muslim di muka bumi. 

Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. al-Baqarah ayat 183:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa 

Berdasarkan surah al-Baqarah ayat 183, kaum Sufi memahami bahwa puasa dan berbagai peribadahan yang melingkupinya merupakan sebuah kewajiban bagi setiap umat Muslim. Tujuannya untuk mengaktualkan daya-daya batin sebagai makhluk ilahi di muka bumi. Manusia merupakan ciptaan yang sempurna yang tidak sekadar diberkati daya-daya fisik. Melainkan daya-daya batin, seperti jiwa sebagai kendaraan eksistensi bergerak mencapai kesempurnaan immateri, guna menyucikan dan menyederhanakan (melepas dari nafsu dan hasrat materi) di realitas.

Dari berbagai pemaknaan di atas, dapat diketahui bahwa Idul Fitri dalam pandangan Sufi bermakna khusus dengan melihat urgensi perayaan Idul Fitri yang tidak sebatas dipahami sebagai proses kembalinya sucinya manusia secara seremonial. Setelah memahami makna Idul Fitri, kaum Sufi berusaha memahami hakikat Idul Fitri melalui salah satu hadis Sayyidina Ali, “Setiap hari adalah Idul Fitri bagi mereka yang tidak melakukan dosa. Hari Id adalah tempat kembalinya manusia pada fitrah dan asalnya di hadapan Allah swt”.

Idul Fitri dalam Pandangan Sayyidina Ali

Para sufi menganalisis hadis Sayyidina Ali secara terpisah. Pertama, makna “هر روزی که گناهی در آن صورت نگیرد، عید است” (Setiap hari adalah Idulfitri bagi mereka yang tidak berbuat dosa). Kaum Sufi memandang bahwa hakikat utama Idul Fitri menyucikan jiwa manusia dengan mengamalkan berbagai proses penyembahan dan peribadahan yang tidak sebatas pada Allah swt, tetapi kepada masyarakat. Sebaliknya, dosa-dosa yang terejawantahkan dalam perilaku manusia mendeskripsikan kotornya jiwa manusia. Akibatnya, manusia tidak dapat menyempurnakan eksistensinya di realitas.

Dalam konteks makna pertama, kita dapat melihat bahwa kaum Sufi mendeskripsikan peribadahan tidak sebatas pada hablum min al-Allah, melainkan hablum min an-nas. Sebagaimana setiap umat Muslim diharuskan membayar zakat sebagai rasa kepedulian kepada sesama di hari raya. Jalal al-Din dalam Masnawi menyebutkan betapa banyaknya umat Muslim yang melakukan tawaf di hadapan Ka’bah, akan tetapi hati mereka kotor dan tidak mencerminkan eksistensinya sebagai manusia.

Pandangan Jalal al-Din Rumi dalam Masnawi ingin menyampaikan bahwa begitu banyak umat Muslim beribadah pada manusia, akan tetapi peribadahan kepada Allah swt tidak didukung pada lingkup sosial. Akibatnya, jiwa manusia menjadi kotor dan tidak dapat mengalami kesempurnaan. Sehingga manusia diharuskan untuk menyempurnakan jiwanya melalui perilaku baik dalam bingkai sosial. Manusia yang mampu mengaktualkan ruang peribadahan dan memperoleh hadiah ilahi (Idulfitri) setiap harinya sebagai kesempurnaan eksistensi.

Sedangkan pemaknaan kedua “عید روزی است که انسان به فطرت و اصل” “خداشناسی خود برگردد” mendeskripsikan kembalinya manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt di realitas. Para Sufi memandang manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan dalam keadaan suci dan kembali dalam keadaan suci, sebagaimana ia berasal dari Dzat Yang Maha Suci. Jalal al-Din Rumi dalam salah satu bait puisinya menjelaskan bahwa manusia telah begitu jauh mencari-Nya. Mereka manusia pergi ke Ka’bah, pegunungan Herat, dan gunung Kaf akan tetapi tidak menemukan Allah swt. hingga mereka melihat hati sebagai pembendaharaan agung dan menemukan-Nya di sana. Penjelasan puisi Jalal al-Din Rumi, pada dasarnya berusaha menyadarkan manusia bahwa hati merupakan daya persepsi yang dimiliki manusia.

Kesimpulan

Di awal penciptaan, hati manusia itu suci. Namun semakin menapaki kehidupan hati mereka kembali kotor yang menyebabkan jiwa manusia juga kotor. 

Idul Fitri ialah membersihkan kembali hati manusia sebagai asal penciptaan manusia sebagai ruang kembali di hadapan Ilahi. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat dari Idulfitri ialah pembersihan hati manusia dari berbagai debu yang dipandang mengotori jiwanya di realitas. Manusia yang telah menyucikan hati dan jiwanya diharuskan untuk menjaganya sebagai langkah atau tahap kembali kepada Allah swt dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya manusia berasal dari yang suci dan harus kembali pada yang suci. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

sumber kajian: Nurul Khoir


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Makna Idul Fitri dan Lebaran


Ybia Indonesia - Makna lebaran dapat diperoleh dari asal katanya. Untuk membedah suatu kata, kita mengenal dua cara, yaitu secara etimologi dan terminologi.Sisi etimologi mengupas tentang asal-usul kata. Sedangkan terminologi membahas mengenai makna dari kata tersebut.

Lebaran memiliki lima padanan kata, yaitu lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan.  

#1 Lebar-an

Lebaran berasal dari kata lebar yang ditambahkan imbuhan –an. ‘Lebar’ berarti lapang. Maknanya, tentu agar di hari raya kita harus berlapang dada. Sifat lapang dada muncul untuk meminta dan sekaligus memberi maaf kepada sesama.

 #2 Luber-an

Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap. Dengan kata lain, melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya, dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran.

#3 Labur-an

Lebaran diambil dari kata dalam Bahasa Jawa, yaitu laburan. Artinya, mengecat. Hal ini tak lepas dari kebiasaan dari mayoritas orang Indonesia. Menjelang datangnya Idul Fitri, semua kepala keluarga sibuk mengecat rumahnya agar tampak indah. Dari kebiasaan laburan menjelang Idul Fitri inilah, lebaran menjadi sebuah kata yang setara dengan makna Idul Fitri itu sendiri.

 #4 Lebur-an

Kata leburan diambil dari Bahasa Jawa yang berarti menyatukan. Artinya, selepas Ramadhan itu diharapkan kita mampu meleburkan diri kita pada sifat-sifat Tuhan. Caranya dengan ujian dan cobaan, dengan kesabaran dan ketenangan. Semangat perubahan itulah yang merubah leburan menjadi lebaran.

 #5 Liburan

Lebaran merupakan plesetan dari liburan. Dalam kalender Nasional, Hari Raya Idul Fitri adalah tanggal merah. Ini berarti hari libur. Oleh karena alasan itu, maka liburan yang diucapkan berulang-ulang, menjadi awal mula munculnya istilah lebaran.

Sedangkan untuk “Makna Idul Fitri”

Tidak seperti makna kata ‘lebaran’ yang dipengaruhi budaya, Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa. Tujuan berpuasa yaitu menjadi manusia yang bertaqwa. Idul fitri berasal dari dua kata “id” dan “al-fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama.

Sedangkan kata ‘fitri’ memiliki dua makna, yaitu suci dan berbuka. Suci berarti bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan. Sedangkan fitri yang berarti berbuka berdasarkan pada hadits Rasulullah SAW: ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.”


Berbagai sumber