Tampilkan postingan dengan label karomah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karomah. Tampilkan semua postingan

Karomah KH. Sahal Mahfudz yang Disaksikan Banyak Orang: Sebuah Penghormatan bagi Ulama yang Berpengaruh



Ybia Indonesia - KH. Sahal Mahfudz, Rais ‘Aam PBNU (1999-2014) dan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (2000-2014), dikenal sebagai seorang ahli fiqih. Beliau sangat berhati-hati dalam berpendapat terkait sebuah permasalah, kecuali belum ada pendapat dari para ulama terdahulu. Kyai Sahal wafat pada 24 Januari 2014 pada pukul 01.05 WIB dini hari di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, Jawa Tengah dalam usia 78 tahun.

Beliau adalah seorang tokoh yang tidak saja alim, tetapi juga penggerak ulung dalam organisasi, khususnya PBNU. Bahkan beliau pernah menyampaikan kepada para santrinya, bahwa menjadi orang baik itu mudah dengan hanya memilih diam saja, tetapi untuk menjadi orang yang bermanfaat itu butuh perjuangan dan pengorbanan.

Meskipun beliau identik dengan kyai salaf, tetapi pandangannya jauh ke depan melampaui zaman. Gagasan beliau tentang fiqih sosial menjadi bukti akan hal itu. Namun demikian, akar kyai salaf beliau kuat tak tergoyahkan, sehingga gagasan-gagasan besarnya selalu didasari keilmuan yang otoritatif.

Ketika beliau wafat, banyak orang merasa kehilangan tokoh pengayom yang sangat perhatian pada umat itu. Disaksikan oleh banyak orang, ketika akan dimakamkan ada salah satu karomah beliau yang terungkap.

Kisah ini sebagaimana diceritakan oleh KH. Mu’adz Thohir, pengasuh Pondok Pesantren Raudloh Al-Thohiriyyah Kajen, Margoyoso, Pati. Kala itu, di saat makam beliau dalam proses penggalian, tiba-tiba saja banyak air yang keluar dari bawah tanah membanjiri liang lahat.

Salah satu penggali kubur lalu melaporkan kejadian aneh tersebut ke Mbah Mu’adz. Mendengar kejadian aneh yang terjadi pada makam Kyai Sahal, Mbah Mu’adz kemudian melaporkan ke Mbah Nafi’ Abdillah.

“Bagaimana? Aku punya papan jati berukuran 60 senti, ada dua buah,” kata Mbah Mu’adz. Maksud hati Mbah Mu’adz ingin membuatkan peti untuk Kyai Sahal karena kondisi makam yang dibanjiri air setinggi dada orang dewasa.

Segala usaha telah dilakukan, bahkan pompa air sudah disiapkan, namun air tak kunjung surut, karena memang sedang musim hujan. Mbah Nafi’ lalu menenangkan Mbah Mu’adz dengan berkata, “Lha, ya memang (Kyai) Sahal itu sukanya begitu.”

Ketika jenazah tiba di lokasi pemakaman dan hendak dimasukkan ke liang lahat, sebuah kejadian aneh terjadi. Air yang membanjiri liang lahat Kyai Sahal tiba-tiba saja surut dan menghilang dengan cepat. Seketika orang-orang berteriak takbir dan tasbih. Subhanallah.

Demikianlah gambaran sosok alim yang dekat dengan Allah SWT dan juga sangat perhatian kepada umat. Karomah itu adalah sebagian kecil dari keistimewaan beliau. Lebih dari itu, beliau sangat masyhur dengan keistiqomahannya dalam menyampaikan ilmu dan memperhatikan kemaslahatan masyarakat.

Semoga KH. Sahal Mahfidz mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan kita menjadi orang-orang yang senantiasa mencintai para ulama dan kekasih Allah. Al-Fatihah.


Karomah Kiai Abbas Buntet Cirebon

 



Ybia Indonesia - Kiai Abbas Buntet merupakan seorang ulama besar asal Cirebon yang masyhur dengan keterampilan pencak silat yang sangat mumpuni serta masyhur juga dengan kesaktiannya. Nah, Salah satu kesaktian beliau yang terekam dalam sejarah adalah saat perjuangannya melawan penjajah belanda.

Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, salah satu bentuk usahanya adalah pertempuran di Surabaya. Pertempuran yang terjadi pada 10 November ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Indonesia menghadang pendudukan Inggris di Surabaya. Yang mana perlawanan ini merupakan hasil sebuah resolusi jihad dari KH Hasyim Asy’ari dengan para ulama lainnya.

Diantara ulama yang berperan dalam pertempuran ini adalah Kiai Abbas Buntet. Menurut sejarah, kala itu KH Hasyim meminta para pasukan untuk menahan diri dari pertempuran sambil menunggu datang ksatria dari Barat, yang dimaksud disini adalah Kiai Abbas. Bahkan Bung Tomo yang sangat bersemangat untuk segera berperang, selalu ditahan-tahan oleh KH Hasyim hingga datang Kiai Abbas ke Surabaya.

Singkat cerita Kiai Abbas datang dari Cirebon bersama pasukan santrinya yang telah siap untuk bertempur melawan penjajah Inggris. Pada saat itu beliau berperang menggunakan bakiak, yang mana hal ini merupakan suatu hal yang tak lazim.

Diceritakan oleh para santrinya, saat perang sedang berkecamuk Kiai Abbas berdoa kepada Allah, dan tiba-tiba dengan sendirinya sejumlah alu dan lesung milik masyarakat yang berukuran besar, berterbangan ke atas dan menimpa serta meluluhlantakan tentara sekutu. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, Pesawat terbang pun dapat beliau jatuhkan hanya cukup dengan lemparan tasbih.

Kemudian menurut informasi dari santrinya yang lain, bahwa saat pertempuran sedang mencapai titik klimaksnya Kiai Abbas dengan karomahnya bukan hanya berada di satu tempat, melainkan di dua tempat yang berbeda. Yaitu tepatnya di pusat kota dan di daerah pesisir pantai Surabaya. Nah, di pantai itulah Kiai Abbas dengan hanya mengibaskan sorbannya ke atas langit dapat menghancurkan puluhan pesawat sekutu dengan sangat mudah.


Penulis: Nugroho Purbo

Karomah Kiai Abdul Hamid Mu’in Bettet Pamekasan




Ybia Indonesia - Suatu hari, salah seorang santri kedapatan mencuri. Sebelum sempat diserahkan untuk menghadap Kiai Abdul Hamid Mu’in (selanjutnya Kiai Hamid), ia berusaha melarikan diri ke arah timur pondok. Para santri dan ustaz spontan ikut mengejar si pencuri yang melarikan diri ke area persawahan. Kiai Hamid yang mengetahui hal itu lantas berkata; “sudah, sudah, jangan dikejar lagi!

Siapa menduga, tiba-tiba si pencuri merasakan tubuhnya sangat lemas. Ia duduk tersimpuh dan kepayahan dengan ekspresi bingung yang tak terkira. Para santri dan ustaz yang tadinya mengejar dengan sekuat tenaga heran bukan kepalang. Mereka pun dengan mudah menangkap si pencuri untuk kemudian diserahkan kepada Kiai Hamid.

Begitu keluar dari kediaman Kiai Hamid, para santri dan ustaz yang ikut mengejarnya sontak menyerbu dan menghujani si pencuri dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Saya tak bisa lari ke mana-mana lagi. Sawah dan jalan setapak yang tadinya hijau dengan rerumputan seketika berubah menjadi lautan samudera yang amat luas. Saya tak bisa melihat apapun selain lautan. Saya takut dan gusar, bagaimana mungkin saya bisa menyeberangi lautan samudera itu? Makanya saya terduduk di atas batu tadi, pasrah dan tak tahu mesti ke mana lagi.” Cerita si pencuri.

Demikianlah sekelumit karomah Kiai Hamid yang terekam oleh para alumni dan santri beliau. Kiai Hamid pada dasarnya adalah sosok sederhana namun memiliki keistimewaan semenjak kecil. Pernah suatu kali di masa kecil beliau, Kiai Mansyur (kakek Kiai Hamid) menyuruhnya memasuki sebuah ruangan. Dalam ruangan tersebut, Kiai Mansyur telah menyediakan berbagai peralatan dapur, pertukangan dan berbagai macam peralatan lainnya.

Kiai Mansyur yang memiliki metode pendidikan unik itu meminta Kiai Hamid kecil untuk mengambil beberapa alat yang ada di dalam ruangan tersebut. Kiai Hamid kecil pun masuk dan selang beberapa saat, ia keluar dengan membawa dua peralatan di tangan beliau; senter dan palu (thokol dalam bahasa Madura).

Kiai Mansyur pun bertanya: “Mengapa Kamu mengambil (memilih) dua alat itu, Hamid? Tanya Kiai Mansyur. “Sebab dengan “senter” ini saya bisa menerangi dan menyusuri jalan yang gelap sekalipun. Dengan senter ini pula saya bisa melihat seseorang dalam gelap tanpa orang itu dapat melihat saya.” Jawab Kiai Hamid kecil tangkas.

Mendengar jawaban Kiai Hamid kecil, Kiai Mansyur hanya tersenyum. Ia kemudian melanjutkan pertanyaan keduanya, “lalu mengapa engkau mengambil palu (thokol) juga, Hamid? Kiai Hamid kecil tak kalah menjawab dengan tangkas; “Sebab dengan alat ini saya dapat melakukan banyak hal yang berguna. Membuat barang-barang yang berguna, memperbaiki sesuatu dan menjadikan yang bengkok menjadi lurus!”

Kearifan dunia pesantren memang sederhana sekaligus menakjubkan. Kiai-kiai terdahulu tak hanya memberikan pelajaran-pelajaran tekstual, namun juga pengajaran kearifan melalui simbol-simbol sederhana dan sehari-hari untuk diambil nilai filosofis dan hikmahnya.

Kiai Hamid adalah jebolan tulen Pondok Pesantren Betttet Pamekasan. Beliau tak mengenyam pendidikan lain baik formal maupun non-formal hingga akhirnya beliau menggantikan mertuanya sebagai pengasuh di pondok pesantren tersebut. Kini, Pondok Pesantren Bettet memiliki jenjang pendidikan formal hingga tingkat universitas. Meski demikian, beliau tetap disegani oleh kalangan akademisi dan paraumara’ (pejabat). Banyak sekali tamu-tamu beliau yang betah berlama-lama mengajaknya menbincangkan isu-isu nasioanal.

Dalam suatu kunjungannya ke Pondok Pesantren Bettet, Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) menyempatkan diri bertukar pikiran bersama Kiai Hamid. Konon, Gus Dur dan Kiai Hamid justru tak membicarakan soal-soal pesantren, melainkan isu-isu nasional seputar NU (Nahdlatul Ulama) dan dinamika politik nasional. Gus Dur betah berlama-lama dengan Kiai Hamid yang mampu mengimbanginya melihat dinamika isu-isu nasional.

Kiai Hamid adalah sosok yang sederhana sekaligus penuh kharisma. Jika beliau menghadiri suatu majelis yang ramai dan gaduh, maka seketika majelis tersebut akan  hening dan khidmat karena kehadiran beliau. Pesan-pesan beliau selalu sederhana, namun penuh lapisan makna sesuai kadar para pendengarnya. Beliau selalu berpesan dan menitiktekankan “tauhid dan akhlak” kepada para santri dan orang-orang terdekatnya.

Satu minggu sebelum kepergian Kiai Hamid ke hadirat Allah Swt., beliau berpesan kepada Ustaz Ahmad Sodiq (seorang tukang pijat beliau) perihal pentingnya menjaga aqidah dan akhlak. Bahkan, Kiai Hamid sampai mengulang tujuh kali permintaan beliau; “tolong ucapan saya ini sampaikan kepada para santri Bettet dan alumni ya, tolong!

 Terlalu banyak Karomah Kiai Abdul Hamid Mu’in yang bisa kita catat. Untungnya, melalui beberapa sumber terpercaya termasuk hasil wawancara dengan para alumni sepuh yang telah dikumpulkan oleh Kiai Muhammad Yusuf Aziz, kita dapat memetik hikmah yang besar. Penulis sangat berterima kasih kepada Kiai Yusuf yang dalam kondisi kesehatan yang kini mulai berkurang, masih mengabdikan sebagian waktunya menelusuri hikmah dan pengajaran dari Kiai Hamid. Selain itu, Kiai Yusuf telah memberi izin kepada penulis untuk memetik dan menulis ulang sebagian kecil naskahnya.

Menyitir ucapan Kiai Muhammad Yusuf Aziz ketika menyodorkan naskah mentahnya kepada penulis; “Saya hanya ingin mempersembahkan kisah-kisah ini tak lebih sebagai teladan bagi diri saya sendiri dan orang lain atas jasa-jasa Kiai Hamid yang sangat besar”.  Alfatihah


Sumber :

PP. Darul Ulum Banyuanyar 

Pegiat Budaya. Kini mengabdi di Lajnah Ta'lif wa An-Nasr, Jatman NU Pamekasan. Founder Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.

Biografi KH. Muhammad Kholil Bangkalan dan Karomahnya



Syeikh Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan (1)

Ybia Indonesia - Biografi KH. Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura (Mbah Kholil) KH Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiyai Hamim bin Kiyai Abdul Karim bin Kiyai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiyai Abdullah bin Sayid Sulaiman.

Sayid Sulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Ayahnya adalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra.

KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijriah atau 27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah Beliau. Setelah menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-Pesantren Keboncandi. Selama belajar di Pondok-Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya.

Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Beliau mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran).

Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, KH Muhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH. Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani. Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa). KH. Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH.Hasyim Asy’ari, KH.Wahab Hasbullah dan KH. Muhammad Dahlan namum Ulama-ulama dahulu punya kebiasaan Memanggil Guru sesama rekannya, dan KH.Muhammad Kholil yang dituakan dan dimuliakan di antara mereka.

Sewaktu berada di Mekah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, KH. Muhammad Khalil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kyai Muhammad Khalil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

Kiyai Muhammad Khalil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu lainnya.

Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiyai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. KH. Muhammad Khalil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggungjawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.

Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus persen memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya Kiyai Muhammad Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda kerana dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri.

KH.Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil, sapan KH. Kholill bersama kiai-kiai besar seperti KH. Bisri Syamsuri, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, mengerahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu. Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.

Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar. Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH. Wahab Chasbullah ini.

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,” cerita KH.Ghozi. Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri tidak perduli, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju.

Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil. ”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” papar KH.Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

Di antara sekian banyak murid KH.Muhammad Khalil al-Maduri yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah KH.Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-Pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama / NU) Kiyai Haji Abdul Wahab Hasbullah (pendiri Pondok-Pesantren Tambakberas, Jombang); Kiyai Haji Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar); Kiyai Haji Ma’shum (pendiri Pondok-Pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda Kiyai Haji Ali Ma’shum), Kiyai Haji Bisri Mustofa (pendiri Pondok-Pesantren Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-Pesantren Asembagus, Situbondo).

Karomah syeikh Kholil Bangkalan

Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa berarti mulia, Syaikh Thohir bin Sholeh Al-Jazairi mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi. [Thohir bin Sholeh Al-Jazairi, Jawahirul Kalamiyah, terjemahan Jakfar Amir, Penerbit Raja Murah Pekalongan, hal. 40].

Sementara ini ada dua kisah yang bisa saya cuplikkan yaitu:

1. KISAH PENCURI TIMUN TIDAK BISA DUDUK

Diantara karomah KH. Kholil adalah pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus menerus. Akhirnya petani timun itu tidak sabar lagi, setelah bermusuyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Kiai Kholil. Sesampainya di rumah Kiai Kholil, sebagaimana biasanya Kiai sedang mengajarkan kitab nahwu Kitab tersebut bernama Jurumiyah, suatu kitab tata bahasa Arab tingkat pemula.

“Assalamu’alaikum, Kiai,” ucap salam para petani serentak.

“Wa’alaikum salam wr.wb., “ Jawab Kiai Kholil.

Melihat banyaknya petani yang datang. Kiai bertanya :

“Sampean ada keperluan, ya?”

“Benar, Kiai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon kepada Kiai penangkalnya.” Kata petani dengan nada memohon penuh harap.

Ketika itu, kitab yang dikaji oleh Kiai kebetulan sampai pada kalimat “qoma zaidun” yang artinya “zaid telah berdiri”. Lalu serta merta Kiai Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf “qoma zaidun”.

“Ya.., Karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma zaidun’ ini saja pakai penangkal.” Seru Kiai dengan tegas dan mantap.

“Sudah, pak Kiai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan tanda Tanya.

“Ya sudah.” Jawab Kiai Kholil menandaskan. Mereka puas mendapatkan penangkal dari Kiai Kholil. Para petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Kiai Kholil.

Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus menerus tidak bisa duduk. Maka tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sis-sia. Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin lama semakin banyak.

Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani untuk sowan ke Kiai Kholil lagi. Tiba di kediaman Kiai Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian. Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai kholil, mereka menyerahkan hasil panenannya yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak itu, berhari-hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun.

2. KISAH KETINGGALAN KAPAL LAUT

Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Makkah, semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya :

“Pak, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,” ucap istrinya dengan memelas.

“Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur,” jawab suaminya sambil bergegas di luar kapal.

Setelah suaminya mencari anggur di sekitar anjungan kapal, nampaknya tidak ditemui penjual anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke anjungan kapal yang akan ditumpangi semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Disaat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: “Datanglah kamu kepada Kiai Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu !” ucapnya dengan tenang.

“Kiai Kholil?” pikirnya.

“Siapa dia, kenapa harus kesana, bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?” begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.

“Segeralah ke Kiai kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami, insya Allah.” Lanjut orang itu menutup pembicaraan.

Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Kiai Kholil, langsung disambut dan ditanya :

“Ada keperluan apa?”

Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Kiai Kholil.

Tiba-tiba Kiai berkata :

“Lho, ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!”

Lalu suami itu kembai dengan tangan hampa.

Sesampainya di pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Kiai Kholil lalu bertanya: ”Bagaimana? Sudah bertemu Kiai Kholil ?”

“Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan” katanya dengan nada putus asa.

“Kembali lagi, temui Kiai Kholil !” ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu. Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Kiai Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ke tiga kalinya, Kiai Kholil berucap, “Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.”

“Terima kasih Kiai,” kata sang suami melihat secercah harapan.

“Tapi ada syaratnya.” Ucap Kiai Kholil.

“Saya akan penuhi semua syaratnya.” Jawab orang itu dengan sungguh-sungguh.

Lalu Kiai berpesan: “Setelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?” pesan dan tanya Kiai seraya menatap tajam.

“Sanggup, Kiai, “ jawabnya spontan.

“Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu rapat-rapat,” Kata Kiai Kholil.

Lalu sang suami melaksanakan perintah Kiai Kholil dengan patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal lalu yang sedang berjalan. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu ruang kapal.

“Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali” dengan senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal. Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selam hidupnya. Terbayang wajah Kiai Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa.

KH. Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang lanjut 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masihi.



Abuya Syar'i dan Karomahnya

 



Ybia Indonesia - Abah Abuya Syar'i terlihat santai saat meladeni sejumlah tamunya di padepokan milik beliau di Ciomas, Serang, Banten. Senyum khas beliau menyejukkan hati siapapun yang bertemu beliau. 

Meski sebagai ulama besar dan seangkatan dengan Pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy'Ari namun sikap sederhana ditunjukan ulama' kharismatik berjanggut putih tersebut. 

Hampir setiap hari beliau mengenakan baju koko putih. Senyumnya yang khas menjadi pertanda bila ulama besar itu terlihat akrab dengan anak didik beliau dan sejumlah orang termasuk beberapa tamu beliau. Meski demikian, tak sembarangan orang bisa bertemu dengan beliau. 

Hanya orang orang tertentu saja yang bisa, salah satunya yang benar-benar tulus ikhlas, dan yang benar-benar bertobat serta berniat baik. Menurut beberapa santri yang ada di sana, Abah Syar'i hanya mau menerima orang yang benar-benar tobat. Beliau juga pernah beberapa kali menolak tamu.

Dilansir dari berbagai sumber, Abah Abuya Syar'i bernama KH Ratu Bagus Syah Ahmad Syar'i Mertakususuma. Beliau merupakan sosok ulama yang saat ini merupakan salah satu yang diakui keberadaannya sebagai paku bumi di Banten.

Beliau merupakan satu-satunya murid Syekh Nawawi Al Bantani dan kini telah berusia 154 tahun lebih dan sangat sepuh. Ulama yang satu ini sangat jarang dikenal oleh orang umum di Nusantara, bahkan tak jarang di Banten sendiri juga kurang dikenal dikarenakan memang Beliau jarang keluar terlihat publik. Keseharian beliau hanya berdiam di rumah dan menerima tamu yang datang ke rumah.

Abuya Syar'i disebut-sebut sebagai pemegang golok ciomas, golok yang bukan sekedar golok biasa, tapi golok ini merupakan golok prasejarah yang menjadi wasilah terusir nya orang-orang badui saat mereka menyerang Banten.

Salah satu karomah beliau adalah jiwa kotor kita akan bergetar jika berada di samping beliau langsung. Ulama yang kharismatik dan sangat sederhana namun memiliki pengetahuan yang sangat luas di bidang agama khususnya Tasawuf.

Semoga Beliau sehat selalu panjang umur. Semoga kita senantiasa mendapat Ridho dari Allah, Syafaat dari Rasullullah, Karomah para Waliyullah, Barokah para Kiai dan Habaib serta wasilah doa orang tua kita. 
Aamiin ya Allah ya Robbal Aalamiin 

Wallahu a'lam. 
Semoga bermanfaat.