Tampilkan postingan dengan label syiar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syiar. Tampilkan semua postingan

KH Khoer Afandi (Uwa Ajengan): Pendiri Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, dan Tokoh Ulama Kharismatik



Ybia Indonesia - KH Khoer Afandi (juga ditulis KH Choer Affandi atau KH Choer Affandy) adalah seorang ulama besar dan pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Berikut adalah poin-poin penting tentang dirinya:

Nama Lahir dan Kelahiran: Lahir dengan nama Onong Husen pada 12 September 1923 di Desa Cigugur, Ciamis. Ia berasal dari keluarga yang memiliki darah bangsawan Mataram dari ayahnya dan darah ulama dari ibunya.

Pendidikan Agama: Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar Belanda, ia memilih untuk menuntut ilmu agama di berbagai pesantren ternama, seperti Pesantren Sukamanah (dipimpin KH Zainal Mustafa, pahlawan nasional), Pesantren Legok Ringgit, Pesantren Paniis, dan Pesantren Tunangan Tasikmalaya. Ia juga belajar ilmu falak di Pesantren Jembatan Lima Jakarta.

Pendirian Pesantren: Pada usia 19 tahun, ia merintis Pesantren Wanasuka di Cigugur (1942). Kemudian, ia mendirikan Pesantren Gombong Sari sebelum akhirnya mendirikan Pesantren Miftahul Huda pada 7 Agustus 1967 di Cisitu Kidul, Manonjaya, Tasikmalaya. Nama "Miftahul Huda" berarti "kunci petunjuk", dengan visi menghasilkan dai yang saleh dan berperan dalam memimpin masyarakat muslim.

Karya dan Pemikiran: Ia menulis sejumlah karya, seperti buku La Tahzan Inna Allah Ma'ana (dalam bahasa Sunda, kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) yang berisi nasihat sufistik tentang kehidupan. Selain itu, ia juga memiliki karya tulis lainnya tentang tafsir, aqidah, dan ibadah.

Kontribusi: Pesantren Miftahul Huda yang ia dirikan kini telah berkembang menjadi salah satu sentra pendidikan Islam terkemuka di Jawa Barat, dengan lebih dari dua ribu santri dan telah melahirkan banyak tokoh ternama, salah satunya KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym). Ia juga pernah aktif dalam dunia politik dan organisasi ulama, seperti menjabat sebagai Ketua Badan Musyawarah Ulama (Bamus) Tasikmalaya-Ciamis.

Wafat: KH Khoer Afandi wafat pada 26 November 1994 dan dikenal dengan julukan "Uwa Ajengan" dalam budaya Sunda sebagai tanda penghormatan.

Tamparan Keras untuk Ustad yang Hidup dari Pemberian Jama'ah: Mengembalikan Kemuliaan Dakwah



Ybia Indonesia - Abuya KH Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi pernah menegaskan dengan sangat lugas: “Kalau jadi ustad harus bisa usaha sendiri, jangan mengandalkan pemberian dari jama’ah.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat, tapi tamparan keras bagi fenomena yang hari ini makin marak: ustad yang sibuk berceramah, tapi hidupnya sepenuhnya bergantung pada amplop, transfer, dan pemberian jama’ah.

Islam tidak melahirkan pendakwah yang menjadi beban umat. Islam melahirkan guru yang mandiri, yang berdiri di depan umat dengan izzah, bukan dengan tangan menengadah. Bagaimana mungkin umat diajak bangkit, kalau yang membimbing justru hidup dari keringat umat? Bagaimana mungkin bicara keikhlasan, jika dakwah berubah menjadi ladang kenyamanan pribadi?


Ulama-ulama besar dulu:

Berdagang

Bertani

Mengajar sambil bekerja

Hidup sederhana tapi berdaulat.

Mereka tidak menjual mimbar, tidak memelihara kemiskinan umat demi kelangsungan ceramah. Dakwah itu mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan umat— bukan memelihara ketergantungan, apalagi memanfaatkan empati jama’ah.

Jika seorang ustad tidak mampu mandiri, maka yang perlu dibenahi bukan jama’ahnya, tapi cara berpikir dan niat dakwahnya. Karena kemuliaan ilmu runtuh, saat ilmu dijadikan alat kenyamanan pribadi.


Al-Hikmah Wal-Mahmuudiyyah

Dakwah beradab, rasional, dan membangunkan umat dari ketertinggalan.

Kedermawanan Rasulullah Saw di Bulan Ramadan



Ybia Indonesia - Rasulullah Saw adalah contoh telita bagi umat Islam dalam hal kedermawanan, terutama di bulan Ramadan. Beliau lebih dermawan daripada angin yang berhembus kencang, selalu siap membantu dan memberi tanpa mengharapkan balasan.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah Saw gemar bersedekah, memberi makan orang yang berpuasa, membantu fakir miskin, dan tidak pernah menolak orang yang meminta. Kedermawanan beliau bukan hanya dalam harta, tetapi juga dalam senyum, perhatian, dan akhlak mulia.

Ramadan mengajarkan kita untuk meneladani Rasulullah Saw berbagi tanpa menunggu kaya, memberi tanpa takut kekurangan. Karena sejatinya, harta yang disedekahkan itulah yang kekal di sisi Allah.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kedermawanan Rasulullah Saw dan menjadi lebih dermawan di bulan Ramadan ini. 

Mama Eyang Cibaduyut: Ulama Kharismatik dan Pendiri Pesantren Ar-Rasyid



Ybia Indonesia - KH Raden Muhammad Zarkasyi (1864-1947) adalah sosok ulama kharismatik yang dihormati di Bandung dan pendiri Pesantren Ar-Rasyid, salah satu pesantren tertua di Cibaduyut. Makam beliau di Cibaduyut merupakan destinasi ziarah spiritual terkemuka, sering dikunjungi untuk berdoa dan mengenang jasanya, di tengah kawasan industri sepatu yang terkenal.

Nama lengkap beliau adalah KH Raden Muhammad Zarkasyi bin Raden KH Muhammad Ali, keturunan ke-18 dari Prabu Siliwangi I. Beliau dikenal memiliki karomah (keistimewaan spiritual) dan kebijaksanaan.


Pendidikan

Beliau menimba ilmu di Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Syekh Kholil.


Pesantren Ar-Rasyid

Beliau mendirikan Pesantren Ar-Rasyid yang berlokasi di Jl. Cibaduyut Raya, Bojongloa Kidul, Bandung. Sebelum di Cibaduyut, beliau sempat mendirikan pesantren di kawasan Cihapit, sehingga dikenal juga dengan sebutan Mama Cihapit.


Tokoh Penting

Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai ulama besar di Jawa Barat dan pesantrennya pernah dikunjungi oleh tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta.


Makam Mama Eyang Cibaduyut

Makam Mama Eyang Cibaduyut menjadi salah satu tujuan utama peziarah di Kota Bandung, khususnya untuk mencari ketenangan batin dan keberkahan. Makam terletak di area yang dikenal sebagai Blok Pasantren.

Mama Eyang Cibaduyut wafat pada 24 Oktober 1947, namun warisan spritualnya tetap dihormati oleh warga setempat hingga saat ini.

Semoga Allah Mengundang Kita untuk Beribadah Umrah




Semoga Allah mengundang kita, beribadah umrah, Yayasan Baitul Insan Ar-Rasyid, pusat pendaftaran umrah dan haji, travel terbaik, motto ; lillah amanah berkah.

Ybia Indonesia - Beribadah umrah adalah salah satu impian setiap muslim. Mengunjungi tanah suci, melakukan tawaf di sekitar Ka'bah, dan berdoa di depan Multazam adalah pengalaman yang sangat berharga. Semoga Allah mengundang kita untuk beribadah umrah dan memberikan kita kesempatan untuk mengunjungi tanah suci.

Yayasan Baitul Insan Ar-Rasyid adalah salah satu lembaga yang menyediakan layanan umrah dan haji. Dengan motto "lillah amanah berkah", mereka berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah umrah dan haji. Semoga kita semua dapat memanfaatkan kesempatan ini dan beribadah umrah dengan lancar dan diterima oleh Allah.


Yayasan Baitul Insan Ar-Rasyid

Pusat pendaftaran umrah dan haji, travel terbaik, lillah amanah berkah.

Eyang Dalem Cikundul Sang Wali Hawariyyun



Ybia Indonesia - Rd.Aria Wiratanudatar waktu kecil bernama Pangeran Jayalalana atau R. Ngabehi Jayasasana. Ayahnya, Raden Aria Wangsagoparana yang juga masih keturunan Raja Talaga, waktu berusia 8 tahun R. Aria Wiratanudatar belajar di Pondok Pesantren di Cirebon untuk mendalami ilmu agama Islam.

Ia adalah seorang santri yang paling menonjol dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan, sehingga oleh Kesultanan Cirebon diberi gelar Aria sebagai tanda anggota kerabat keraton. Setelah dewasa ia diminta oleh gurunya mendirikan Kadipaten di Cinengah untuk  menyebarkan agama Islam.

Menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang waktu itu beragama Hindu dan Budha bukal hal yang gampang. Tantangan dan hambatan datang dari berbagai persoalan.  Tapi berkat kepiawaiannya sedikit demi sedikit beliau bisa juga merangkul masyarakat sekitanyar untuk memeluk agama Islam.

Bahkan sejarah Cianjur mencatat sebagai salah seorang dari banyak ulama yang berhasil menyebarkan Islam di wilayah itu. Satu hal menarik mengenai pribadi RA. Wiratanudatar Cikundul, dalam catatan sejarah pernah ditulis bahwa beliau pernah bertapa selama 40 hari 40 malam  ( dalam ilmu tashawwuf / Ilmu Kewalian disebut Riyadhoh dan Mujahadah ). Tafakur mendekatkan diri pada Allah SWT di Batu Agung, Tinaragung, Sagala Herang.

Dalam pertapaan tersebut, R.A. Wiratanudatar didatangi dan digoda putri Jin yang sangat cantik putera dari raja jin Islam bernama Syech Jubaedi. 3 puteri jin itu bernama Arum Cahaya, Arum wangi, Arum Endah dan pengasuhnya bernama Arum Paka. Karena kekhusyuan RA. Wiratanu 1, putri paling bungsu, Arum Endah, tertarik dan jatuh cinta kepada RA. Wiratanu 1. Akhirnya sang putri Jin menikah dan melahirkan 3 orang putera bernama Rd. Suryakencana, Rd. Andaka Wirusajagat dan Rd Endang Sukaesih. Sementara itu dari manusia biasa Rd. Aria Wiratanu datar mempunyai 11 orang putera.

Setelah itu,  ia mengembara ke daerah Cianjur menyusuri kali Citarum dengan membawa anak buahnya sebanyak 300 umpi. Setiap tempat disinggahinya sambil menyebarkan agama Islam dan ia pernah bertemu dengan Rd. H Abdulsyukur, Kiai Gunung Wayang.


Kehidupan Awal

Raden Jayasasana adalah putra Raden Aria Wangsa Goparana. Berdasarkan silsilah, Raden Aria Wangsa Goparana merupakan anak dari Sunan Ciburang yang merupakan raja dari kerajaan Talaga.

Sunan Ciburang merupakan anak dari Sunan Wanapri anak dari Sunan Parung Gangsa anak dari Pucuk Umum anak dari Munding Sari Leutik anak dari Munding Sari.

Munding Sari merupakan salah satu anak dari Prabu Siliwangi yang ketika runtuhnya Pajajaran pada tahun 1579 kabur ke daerah Talaga di suku gunung Cereme.

Jadi menurut silsilah, Raden Jayasasana merupakan masih keturunan dari Prabu Siliwangi.

Raden Aria Wangsa Goparana yang merupakan ayah dari Raden Jayasasana bersama saudaranya yang bernama Panembahan Giri Laya merupakan generasi pertama dari Munding Sari yang masuk islam dan menjadi ulama besar serta memiliki pesantren di wilayah Sagalaherang.

Karena Raden Aria Wangsa Goparana masuk islam, maka beliau diusir dari Talaga dan kemudian berkelana dan sampailah ke Kampung Nangkabeurit yang sekarang masuk

ke wilayah Kecamatan Sagaraherang Kabupaten Subang.

Di sana beliau mendirikan sebuah desa dan menjadi Dalem (kepala negeri).


Raden Aria Wangsa Goparana memiliki

delapan orang anak yaitu :

1. Jayasasana

2. Wiradiwangsa

3. Candramangala

4. Santaan Kumbang

5. Yudanagara

6. Nawing Candradirana

7. Santaan Yudanagara

8. Nyi Murti

Jayasasana sebagai putra pertama Raden Aria Wangsa Goparana terkenal sebagai seorang yang ahli ibadah dan menuntut ilmu.

Jayasasana pun disebutkan sering berkhalwat (bertapa) untuk merenung dan bertafakur di tempat-tempat sunyi.


Bupati Pertama

 Setelah sampai di daerah Cianjur ia merintis untuk mendirikan kota Cianjur dan menjadi Dalem pertama Kadipaten Cianjur dengan wilayah kekuasaan sebagian wilayah Bogor dan Sukabumi. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana.

Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer). Lokasi yang pertama kali dipilihnya adalah sekitar kp. Pamoyanan, tepat di tepi Sungai cianjur, disanalah Dalem Cikundul mendirikan Pemerintahan, dengan membangun pendopo sebagai tempat atau pusat Pemerintahan, yang hingga kini gedung tersebut masih kokoh berdiri.

Masa pemerintahan Bupati Rd. Aria Wiratanu I ini antara tahun 1640- 1691 Masehi, setelah itu Pemerintahan di turunkan kepada Putra Pertama nya dari keturunan Manusia, (karena Dalem Cikundul Konon memiliki 2 Istri ,satu dari bangsa manusia dan satunya lagi dari Bangsa Jin,), yang bernama Rd. Aria Wiramanggala, Atau dalem Tarikolot, bergelar Aria Wiratanu II. dan memerintah dari tahun 1691 – 1707 Masehi.

Setelah dewasa, Jayasasana diberikan tanggungjawab oleh ayahnya Dalem Sagaraherang berupa 100 orang rakyat (cacah).

Menurut sistem feodalisme saat itu, kekuasaan seorang bangsawan ditentukan oleh banyaknya rakyat yang dipimpin bukan berdasarkan tanah (wilayah).

Karena semakin banyak rakyat, maka akan semakin banyak pula wilayah yang ditempati oleh rakyatnya itu.

Bersama keseratus orang itu, Jayasasana kemudian mencari tempat baru ke daerah pedalaman Jawa Barat saat ini dan sampailah ke sungai Cikundul yang saat ini berada di wilayah kecamatan Cikalong Kulon.

Di sini mereka bermukim dan membuka lahan baru, Rakyat Jayasasana berpencar tidak bermukin di satu tempat tapi kebanyakan di Cijagang karena di sanalah pemimpin mereka (Jayasasana) berada.

Beberapa tempat yang dihuni rakyat Jayasasana diantaranya adalah di dekat sungai seperti di Cibalagung dan di Cirata.

Meskipun tempat tinggalnya terpencar, mereka masih berada dalam satu kesatuan rakyat ( Belanda : Volksgemeenschap) dibawah pimpinan Jayasasana.

Berdasarkan hukum sosiologi mengenai pembentukan masyarakat, dalam kesatuan rakyat Jayasasana akhirnya lahir tata cara dan aturan bermasyarakat yang harus dipatuhi oleh semua rakyat Jayasasana.

Tata cara di setiap masyarakat memiliki sifat bersatu sehingga dalam setiap kesatuan masyarakat ada kesatuan hukum (Belanda : rechtsgemenschap)

Tugas utama seorang kepala masyarakat adalah mengatur kehidupan dan menegakan hukum yang berlaku. 

Selain daripada itu, ia juga bertugas untuk melindungi rakyatnya jika ada keributan, jika ada rampok atau jika ada serangan dari wilayah lain.

Sehingga kepala masyarakat saat itu lebih tepat disebut sebagai Panglima atau Senapati dan bukan disebut sebagai Dalem.

Begitupun dengan masyarakat Jayasasana saat itu masih berada dalam tahap kesenapatian, Secara de Jure karena runtuhnya Pajajaran, sebenarnya wilayah yang saat itu ditempati oleh Rakyat Jayasasana adalah dibawah kekuasaan Mataram yang pada prakteknya dibawah kekuasaan Cirebon, karena Cirebon merupakan bawahan (vasal) dari Mataram.

Maka daripada itu dalam beberapa catatan-catatan VOC rakyat Jayasasana sering disebut sebagai rakyat Cirebon.


Menjadi Dalem dan Mendapat Gelar Wira Tanu

Runtuhnya Pajajaran menyebabkan beberapa daerah merdeka dan menyebabkan beberapa kerajaan berusaha mengklaim wilayah bekas Pajajaran termasuk kerajaan Sumedang Larang di bawah Prabu Geusan Ulun yang menurut klaimnya bahwa seluruh bekas wilayah Pajajaran adalah wilayah Sumedang Larang.

Dalam rangka menegakkan klaimnya, Prabu Geusan Ulun kemudian menyelenggarakan serangkaian kampanye militer untuk menaklukan wilayah-wilayah yang tidak tunduk pada klaimnya.

Untuk mengatasi kampanye militer Sumedang Larang, Cirebon kemudian memperkuat pertahanan, diantaranya adalah di wilayah Cimapag yang saat itu wilayah Cimapag termasuk ke dalam wilayah tanggungjawab Jayasasana.

Maka Cirebon kemudian mengangkat Jayasasana sebagai senapati atau panglima dengan gelar Wira Tanu (Wira Tanu artinya Panglima atau Senapati).


Dalam masa genting seperti itu, beberapa kesatuan masyarakat yaitu :

-Cipamingkis dibawah pimpinan Nalamerta

-Cimapag dibawah pimpinan Nyiuh Nagara

-Cikalong dibawah pimpinan Wangsa Kusumah

-Cibalagung dibawah pimpinan Natamanggala

-Cihea dibawah pimpinan Wastu Nagara

-Cikundul dibawah pimpinan Jayasasana dengan gelar Wira Tanu

Bersepakat untuk menyatakan bahwa wilayahnya bersatu menjadi satu negeri yang bernama Cianjur dan sepakat untuk mengangkat Jayasasana (yang sudah mendapat gelar Wira Tanu) untuk menjadi Dalem.

Karena sudah diangkat sebagai dalem (tidak lagi hanya senapati) Wira Tanu kemudian menggunakan gelar Aria, sehingga nama lengkapnya menjadi Raden Aria Wira Tanu.

Berbeda dengan Bandung atau Sumedang, Cianjur merupakan kabupaten yang berdiri sendiri (merdeka) meskipun secara de jure masih di bawah Mataram melalui Cirebon.

Ini terjadi karena ada perjanjian antara Mataram dengan VOC untuk memberikan wilayah antara Cisadane-Citarum menjadi wilayah VOC menurut kontrak tanggal 25 Februari 1677.

Penentuan Hari Jadi Cianjur Seperti telah diketahui, Cianjur pada awalnya adalah wilayah Mataram melalui Cirebon.

Pada tahun 1670-1677 bisa disebutkan sebagai 7 tahun kebebasan dari kekuasaan Mataram, hal ini terjadi karena pada tahun 1670 klaim Mataram atas wilayah-wilayahnya sudah berkurang karena fokus berperang dengan VOC, sedangkan pada tahun 1677 Mataram secara yuridis telah menyerahkan kekuasaannya diantara wilayah Cisadane-Citarum kepada VOC.

Namun demikian karena keterbatasan VOC, VOC belum bisa menjajah wilayah yang didapatnya dari Mataram secara intensif.

Jadi meskipun secara de facto wilayah tersebut merdeka tapi secara de jure status mereka adalah jajahan VOC.

Pada tanggal 2 Juli 1677, Trunojoyo menyerbu istana Plered dan Amangkurat I kabur bersama Mas Rahmat.

Kesempatan ini dijadikan titik tolak lepasnya wilayah-wilayah jajahan Mataram secara de facto.

Berita ini baru sampai ke Cianjur pada tanggal 12 Juli 1677, sehingga secara de facto pada tanggal 12 Juli 1677 Cianjur merdeka dari Mataram.

Kemerdekaan yang dicapai sebenarnya hanya de jure karena secara de facto, Cianjur sudah berada di wilayah VOC berdasarkan kontrak tanggal 25 Februari 1677.

Namun karena VOC belum mampu mengelola daerah jajahannya sehingga Wira Tanu pada waktu itu berhasil menjadi Dalem secara Mandiri tanpa diangkat oleh VOC maupun oleh Raja/Sultan yang lain.

Sehingga menurut catatan VOC/Belanda, bupati regent Cianjur yang pertama bukanlah Wira Tanu I tapi anaknya yaitu Wira Tanu II


Masa Senja

 Setelah lanjut usia ia menetap di Kp. Majalaya dengan mendirikan Pesantren dan mengamalkan ilmu agamanya sampai wafatnya  yakni wafat pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M. 1706 Masehi dan dimakamkan di puncak Bukit Cijagang. Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong-kulon. Cianjur, Jawa Barat , dan Beliau meninggalkan putra-puteri sebanyak 11 orang diantaranya :


1. Dalem Aria wiramanggala. ( Aria Wiratanu II )

2. Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad).

3. Dalem Aria Tirta (Di Karawang).

4. Dalem Aria Natamanggala (Dalem aria kidul / Gunung jati cjr),

5. R.Aria Wiradimanggala(Dalem Aria Cikondang)

6. Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong),

7. Nyi Mas R. Kaluntar .

8. Nyi Mas R. Bogem

9. Nyi Mas R. Karangan.

10. Nyi Mas R. Kara

11. Nyi Mas R. Djenggot


Beliau Juga memiliki seorang istri dari bangsa jin Islam, dan memiliki tiga orang putra-putri, yaitu:

1. Raden Eyang Surya-kancana

yang hingga sekarang dipercayai bersemayam di Gunung Gede atau hidup di alam jin.

2. Nyi Mas Endang Kancana alias Endang Sukaesih alias Nyai Mas Kara bersemayam di Gunung Ceremai,

3. R. Andaka Warusaja-gad (tetapi ada juga yang menyebutkan bukan putra, tetapi putri bernama Nyai Mas Endang Radja Mantri) bersemayam di Karawang

Aria Wiratanu 1 Raden Djayasasana Bin Aria Wangsa Goparana lahir di Sagalaherang Subang Jawa Barat pada hari ahad  tanggal 10 Robi`ul Akhir 1025 H / bertepatan dengan 8 Mei 1616 M dan meninggal pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M.


Silsilah Leluhur-Nya :


1. NABI ADAM AS.

2.   NABI SYIS AS.

3.   ANWAR ( NUR CAHYA )

4.   SANGYANG NURASA

5.   SANGYANG WENANG

6.   SANGYANG TUNGGAL

7.   SANGYANG MANIK MAYA

8.   BRAHMA

9.   BRAMASADA

10. BRAMASATAPA

11. PARIKENAN

12. MANUMAYASA

13. SEKUTREM

14. SAKRI

15. PALASARA

16. ABIYASA

17. PANDU DEWANATA

18. ARJUNA

19. ABIMANYU

20. PARIKESIT

21. YUDAYANA

22. YUDAYAKA

23. JAYA AMIJAYA

24. KENDRAYANA

25. SUMAWICITRA

26. CITRASOMA

27. PANCADRIYA

28. PRABU SUWELA

29. SRI MAHAPUNGGUNG

30. RESI KANDIHAWAN

31. RESI GENTAYU

32. LEMBU AMILUHUR

33. PANJI ASMARABANGUN

34. RAWISRENGGA

35. PRABU LELEA ( MAHA RAJA ADI MULYA )

36. PRABU CIUNG WANARA ( SANG MANARAH RAJA GALUH 739 – 783 M )

37. SRI RATU DEWI PURBASARI ( SANG MANISTRI RAJA GALUH 783 – 799 M )

38. PRABU LINGGA HIANG ( RAJA SUNDA – GALUH 799 – 1333 M )

39. PRABU LINGGA WESI ( RAJA SUNDA – GALUH 1333 -1340 M )

40. PRABU SUSUK TUNGGAL

41. PRABU BANYAK LARANG

42. PRABU BANYAK WANGI

43. PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA ( SANG MOKTENG ING BUBAT 1350 – 1357 M )

44. PRABU SILIH WANGI 1 ( PRABU WASTU KENCANA ) RAJA SUNDA – GALUH 1371 – 1475 M )

45. PRABU ANGGALARANG ( PRABU DEWA NISKALA RAJA GALUH / KAWALI 1475-1482 M )

46. PRABU SILIH WANGI 2 RAJA PAKUAN PAJAJARAN 1482 – 1521 M )

( RD.PAMANAH RASA ) Nikah ka Nyimas Padmawati :

47. PRABU MUNDING SURYA AGEUNG / PRABU MUNDING WANGI /

MUNDING LAYA DIKUSUMAH / MUNDING SARI AGEUNG / MUNDING SARI 2

48. PRABU MUNDING SURYA LEUTIK /  MUNDING SARI LEUTIK / MUNDING SARI 3

49. PRABU PUCUK UMUM / RADEN RANGGA MANTRI

( RAJA MAJA PLUS RAJA TALAGA TERAKHIR ) nikah ka

RATU DEWI SUNYALARANG ( RATU PARUNG taun 1500 M ) / RATU WULANSARI putri

SUNAN PARUNG / SUNAN CORENDRA / Raja Talaga Prabu Sakawayana  1450 M

Rd. Ranggamantri di islamkeun ku Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati Cirebon

dina taun 1529 M , prabu pucuk umum apuputra :

50. SUNAN PARUNGGANGSA

51. SUNAN WANAPERIH / SUNAN CIBINONG / RADEN ARIA KIKIS

52. SUNAN CIBURANG / RADEN ARIA SARINGSINGAN

Kampung Ciburang Desa Maniis Kec.Cingambul Kab.Majalengka

53. SUNAN SAGALAHERANG / RADEN ARIA WANGSA GOPARANA

54. PANGERAN NGABEHI JAYA SASANA / JAYA LALANA /

RAJA GAGANG / WIRATANU I EYANG DALEM CIKUNDUL


SILSILAH CIKUNDUL CIANJUR


MAHARAJA ADIMULYA Puputra

Prabu Ciung Wanara Puputra

Sri Ratu Purbasari Puputra

Prabu Lingga Hiang BERPUTRA:2


1. Prabu Lingga Wesi

2. Cakrawati


1. Cakrawati PUPUTRA:


1. Kakasih Raja

2. Kian Santang


1. Prabu Lingga Wesi PUPUTRA:


Susuk Tunggal Puputra

Banyak Larang Puputra

Banyak Wangi Puputra

Mundingkawati Puputra

Prabu Wastu Kencana Puputra

Angga Larang


Angga Larang BERPUTRA:3


1. Prabu Siliwangi

2. R. Rangga Pupukan

3. Prabu Jaya Pupukan


ISTRI-ISTRI PRABU SILIWANGI:

1. Nyai. Ambet Kasih (Putri ki Gedeng Kasih)

2. Nyai. Subang Larang (Putri ki Gedeng Tapa)

3. Nyai. Aci Putih (Putri ki Dempu Awang)


PUTRA PRABU SILIWANGI:13


1. Balik Layaran alias Sunan Kebo Warna

2. R. Ceumeut

3. R. Ne-Eukeun

4. Munding Kelemu Wilamantri

5. R. Sake alias Prabu Wastu Dewata

6. Mundingsari II

7. Dalem Manggu Larang

8. Munding Dalem

9. Prabu Liman Sanjaya

10. Jaka Puspa alias Guru Gantangan

11. Santang permana Dipuntang alias Raja Sangara alias H. Mansur

12. Aria Santang Cakrabuana alias Walangsungsang.

13. Ny. Rara Santang (Syarifah Muda`im)


6. Mundingsari II PUPUTRA:


Mundingsari Leutik Puputra

Pucuk Umum Puputra

Sunan Parung Gangsa Puputra

Sunan Wanapri Puputra

Sunan Ciburang PUPUTRA:2


1. Dalem Aria Wangsagoparna

2. Sunan - Girilaya (Rundayan-nana ka Cibalagung) PUPUTRA:


Dalem Lumaju Gede Puputra

Dalem Lumaju Wastu Nagara Puputra

Dalem Lumaju Nyilih Nagara Puputra

Dalem Natamanggala I (Dalem Cikadu) Puputra

Dalem Natamanggala II (Dalem Kebon) Puputra

Dalem Natamanggala III (Dalem Jamban) Puputra

Dalem Natamanggala IV (Dalem Pulo)


1. Dalem Aria Wangsagoparna PUPUTRA:8


1. Dalem Aria Wiratanu (jayasasana) DALEM-CIKUNDUL

2. Dalem Wiradiwangsa

3. Dalem Candramanggala

4. R. Santaan Kumbang

5. Dalem Tumenggung Yudanagara

6. R. Nawing Cakradiprana

7. R. Santaan Yudamanggala

8. Ny. R. Muhyi.

Sore di Masjid Nabawi: Saatnya Mengisi Hati dengan Ketenangan



Ybia Indonesia - Masjid Nabawi, Madinah, adalah salah satu tempat suci yang paling diidamkan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Setiap sore, masjid ini dipenuhi dengan jemaah yang datang untuk melakukan shalat, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah SWT.


Suasana Sore yang Menenangkan

Saat matahari mulai terbenam, suasana di Masjid Nabawi menjadi semakin tenang dan khusyuk. Jemaah yang datang untuk shalat Maghrib dan Isya' memenuhi setiap sudut masjid, menciptakan suasana yang sangat spiritual.


Raudhah: Taman Surga di Masjid Nabawi

Di tengah-tengah kesibukan, Raudhah menjadi tempat yang paling dicari oleh jemaah. Taman surga yang terletak di antara mimbar dan makam Nabi Muhammad SAW ini adalah tempat yang mustajab untuk berdoa dan memohon ampun.


Makam Nabi Muhammad SAW: Tempat yang Penuh Berkah

Tidak jauh dari Raudhah, makam Nabi Muhammad SAW menjadi tempat yang paling dikunjungi oleh jemaah. Mereka datang untuk memberikan salam dan doa kepada Nabi, serta memohon ampun atas dosa-dosa mereka.


Sore di Masjid Nabawi: Saatnya Mengisi Hati dengan Ketenangan

Sore di Masjid Nabawi adalah saatnya untuk mengisi hati dengan ketenangan dan spiritualitas. Dengan suasana yang tenang dan khusyuk, jemaah dapat merasakan kehadiran Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dari-Nya.


Tips untuk Mengunjungi Masjid Nabawi

- Datanglah lebih awal untuk mendapatkan tempat yang nyaman

- Jaga adab dan kesopanan saat berada di masjid

- Jangan lupa untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT

- Jadikan kunjungan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan spiritualitas dan keimanan

Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi Anda untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan merasakan keindahan sore di tempat suci ini.

Pengajian: Sarana Meningkatkan Keimanan dan Kesejahteraan



Ybia Indonesia - Pengajian adalah sebuah kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan kesejahteraan individu serta masyarakat. Pengajian dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti pengajian rutin, pengajian umum, atau pengajian khusus. Kegiatan ini biasanya melibatkan pembacaan dan penjelasan kitab suci, ceramah, serta diskusi tentang berbagai aspek keagamaan.


Manfaat Pengajian

Pengajian memiliki beberapa manfaat, antara lain:

1. Meningkatkan keimanan: Pengajian dapat membantu meningkatkan keimanan dan kesadaran akan pentingnya menjalankan ajaran agama.

2. Meningkatkan pengetahuan: Pengajian dapat membantu meningkatkan pengetahuan tentang agama dan berbagai aspek keagamaan.

3. Meningkatkan kesadaran sosial: Pengajian dapat membantu meningkatkan kesadaran sosial dan peduli terhadap masyarakat.

4. Meningkatkan kesejahteraan: Pengajian dapat membantu meningkatkan kesejahteraan individu dan masyarakat melalui penerapan nilai-nilai agama.


Bentuk Pengajian

Pengajian dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:

1. Pengajian rutin: Pengajian yang dilakukan secara rutin, seperti pengajian mingguan atau bulanan.

2. Pengajian umum: Pengajian yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh banyak orang.

3. Pengajian khusus: Pengajian yang dilakukan untuk kelompok tertentu, seperti pengajian untuk ibu-ibu atau remaja.


Kegiatan dalam Pengajian

Kegiatan dalam pengajian dapat meliputi:

1. Pembacaan kitab suci: Pembacaan dan penjelasan kitab suci, seperti Al-Quran atau kitab lainnya.

2. Ceramah: Ceramah tentang berbagai aspek keagamaan, seperti akidah, akhlak, atau syariah.

3. Diskusi: Diskusi tentang topik-topik keagamaan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.


Pengajian adalah sebuah kegiatan keagamaan yang sangat penting untuk meningkatkan keimanan dan kesejahteraan individu serta masyarakat. Dengan melakukan pengajian, individu dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya menjalankan ajaran agama. Oleh karena itu, pengajian merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan keimanan dan kesejahteraan.

Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid Gelar Syi'ar dan Sosialisasi Umroh dan Haji




Sukabumi, Ybia Indonesia - Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat memahami dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah umroh dan haji dengan baik. Melalui acara syi'ar dan sosialisasi umroh dan haji, yayasan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang proses dan rukun ibadah umroh dan haji.

Acara yang digelar di Sukabumi ini dihadiri oleh ratusan calon jemaah umroh dan haji yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang proses ibadah yang akan mereka jalani. Dalam acara tersebut, Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid menghadirkan narasumber yang berpengalaman dalam bidang umroh dan haji, sehingga para calon jemaah dapat memperoleh informasi yang akurat dan bermanfaat.


Materi Sosialisasi

Dalam sosialisasi tersebut, para narasumber membahas tentang berbagai aspek penting dalam ibadah umroh dan haji, seperti:

- Rukun dan wajib haji: Penjelasan tentang rukun dan wajib haji yang harus dipenuhi oleh jemaah.

- Proses ibadah umroh: Penjelasan tentang proses ibadah umroh, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.

- Tips dan saran: Tips dan saran untuk menghadapi tantangan selama perjalanan umroh dan haji.


Tujuan Acara

Tujuan dari acara syi'ar dan sosialisasi umroh dan haji ini adalah untuk:

- Meningkatkan pengetahuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman calon jemaah tentang ibadah umroh dan haji.

- Mempersiapkan jemaah: Mempersiapkan jemaah untuk melaksanakan ibadah umroh dan haji dengan baik dan lancar.

- Meningkatkan kualitas ibadah: Meningkatkan kualitas ibadah umroh dan haji dengan memahami dan melaksanakan rukun dan wajib haji dengan benar.

Dengan adanya acara syi'ar dan sosialisasi umroh dan haji ini, Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid berharap dapat membantu masyarakat dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah umroh dan haji dengan baik dan lancar.

Pengajian YBIA, Syech Muhammad Al Fuli: "Menjaga hati sama pentingnya dengan menjaga lisan"



Sukabumi, Ybia Indonesia - Menjaga lisan patut menjadi renungan agar berhati-hati dalam berbicara. Menjaga lidah bukan sebuah perkara mudah, apalagi saat dikuasai emosi dan amarah.

Demikian disampaikan oleh Syech Muhammad Al Fuli, LC. M.A., dalam tausiyahnya saat mengisi acara pengajian rutin bulanan di Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid travel umroh dan haji sekaligus digelarnya safari dakwah oleh beliau.

Kegiatan tersebut dilaksanakan halaman gedung serbaguna Yayasan, jalan Palasari girang, Desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Syech Muhammad Al Fuli mengatakan Jika tak bisa menguasai amarah, lidah yang tak bertulang bisa mengeluarkan ucapan berupa sumpah serapah. Ucapan tersebut bisa menyakiti hati orang lain dan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.



"Menjaga hati sama pentingnya dengan menjaga lisan. Sebab, jika seseorang hatinya baik, maka akan keluar dari lisannya perkataan yang baik. Lisan mencerminkan kebersihan hati seseorang," kata syech Muhammad Al Fuli. Sabtu, (21/12/24).

Syech Muhammad Al Fuli merupakan ustadz muda asal Mesir, ia menetap di Indonesia sudah kurang lebih 7 (tujuh ) tahun, dan istrinya pun orang Indonesia. Dalam tausyiah yang disampaikan olehnya, cukup ringan dan mudah dicerna oleh para jemaah.

"Alhamdulillah saya di Indonesia ini sudah 7 tahun, dan istri saya pun orang Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua jema'ah Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid yang sudah hadir dan Alhamdulillah saya bisa bersilaturahmi ke sini," katanya.

Acara yang diawali dengan doa', sholawat dan Marhaba tersebut dihadiri oleh kepala Desa Kalapanunggal Hendra Suhendra, pengurus harian Yayasan dan manajemen, tokoh agama setempat, sejumlah pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, pimpinan majelis taklim, dan jema'ah pengajian dari berbagai wilayah di Kalapanunggal dan sekitarnya. (La)

Warga Pinang gading Hadiri Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad Saw



Ybia Indonesia - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya ditandai dengan berbagai kegiatan yang beragam di setiap daerah, mulai dari pembacaan selawat, pengajian, hingga acara-acara yang meneladani kehidupan dan akhlak Rasulullah.

Tabligh Akbar dan peringatan maulid nabi Muhammad Saw di kampung pinang gading Cikidang. Jum'at, (6/9/24) malam. Dalam acara tersebut dihadiri ratusan warga masyarakat setempat dan tamu undangan lainnya.

Sosialisasi Umroh YBIA di Pasir Batok Disambut Hangat Jema'ah



Ybia Indonesia - tim manajemen Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) bersama ketua MUI kecamatan Kalapanunggal, Ustadz. H. Ujang Sobandi bersilaturahmi dengan warga jema'ah mesjid  Jami Nurul Muttaqin di kampung pasir batok Parakan salak pada Sabtu, (27/1/24) pagi. Kegiatan tersebut sekaligus dalam rangka sosialisasi dan syi'ar umroh.

Kedatangan tim dan rombongan mendapatkan sambutan yang hangat dari para jemaah, dan ustadz/ustadzah setempat. 

Tampak terlihat jema'ah yang hadir mengikuti dengan seksama apa yang disampaikan oleh Tim, khususnya mengenai program umroh yang ditawarkan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tentunya sangat membantu bagi mereka yang ingin berangkat ibadah umroh. (La)



Ratusan Jema'ah Hadiri Pengajian Bulanan dan Milad Ke-4 YBIA

 


Sukabumi, Ybia Indonesia - Bersyukur merupakan sebuah bentuk ungkapan batin yang harus dimiliki oleh seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, pengertian bersyukur adalah dekat dengan ibadah kepada Allah. Mulai terus memuji asma Allah Swt. mengingat-ingat nikmat-Nya, hingga senantiasa bersujud kepada-Nya.

Demikian disampaikan Ustadz, Ahmad Kurdi dalam Tausiyahnya dihadapan ratusan jemaah pengajian bulanan Yayasan baitul insan Ar-raasyid (YBIA) travel umroh dan haji, jalan Palasari Wates No. 35, desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Minggu, (10/12/23) siang. 

Menurutnya, menerapkan diri sendiri untuk bisa selalu bersyukur tidak mudah. Tak hanya secara lisan, melainkan juga hati yang tulus serta ikhlas. "Dengan bersyukur kita menjadi bahagia karena mudah merasa senang oleh apa pun yang terjadi, walaupun dengan hal sederhana," Kata Ustadz, Ahmad Kurdi. 

Ustadz Ahmad Kurdi juga menegaskan bahwa silaturahmi merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia, mudah, dan membawa berkah. Kaum muslimin sudah semestinya tidak melalaikan dalam melaksanakan ibadah ini. 

"Seperti yang sedang kita laksanakan pada hari ini di yayasan baitul insan Ar-raasyid, silahturahmi langsung bisa saling mengenal satu sama lain, yang sebelumnya kita tidak pernah bertatap muka. Alhamdulillah dengan adanya pengajian di yayasan baitul insan Ar-raasyid travel umroh dan haji ini kita semua bisa bersilaturahmi," Katanya. 

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diawali dengan do'a, dzikir, lantunan sholawat, dan pembacaan ayat Suci Alquran oleh ustadz Saeful Anwar, serta tausyiah. Acara berlangsung khidmat itu juga sekaligus tasyakuran milad Yayasan baitul insan Ar-raasyid yang ke-4 yang mengusung tema: "umroh pasti bersama kami".

"Silaturahmi adalah ibadah yang paling indah dan berhubungan dengan sesama manusia," Ujarnya. 

Sementara itu, di hari jadinya yang ke-4 Yayasan baitul insan Ar-raasyid ketua Yayasan, Hj. Eti Sumiati mengucapkan Terima kasih kepada tim manajemen, dan semua jemaah yang sudah berkenan menghadiri kegiatan pengajian bulanan yang juga sekaligus Milad Yayasan. 

"Alhamdulillah tidak terasa Yayasan baitul insan Ar-raasyid genap berusia 4 (empat) tahun, perasaan baru tahun kemarin kita merayakannya. Mudah-mudahan kita semua diberikan kesehatan, umur yang panjang dan dimudahkan dalam segala rencana," Ucap Hj. Eti Sumiati. 

Ketua Yayasan baitul insan Ar-raasyid Hj. Eti Sumiati, diminta untuk memotong kue ulang tahun yang sudah disediakan untuk kemudian diserahkan kepada pembina yayasan, H. Achmad Syarifudin S.E. dan selanjutnya dibagikan kepada koordinator wilayah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur nikmat yang telah Allah SWT berikan dan ucapan Terima kasih. 

Tampak hadir, semua jajaran pengurus dan manajemen Yayasan baitul insan Ar-raasyid, sejumlah pimpinan Pondok pesantren, para ustadz/ustadzah, koordinator wilayah, dan jemaah dari berbagai wilayah di kabupaten Sukabumi. 

Dalam kesempatan itu juga, Hj. Eti Sumiati ketua Yayasan yang dikenal ramah dan santun tersebut menyampaikan beberapa informasi dan program umroh terbarunya. Salah satunya, umroh untuk Hafidz quran, marbot masjid, asisten rumah tangga, dan saudara yang kurang mampu. 

"Ini merupakan program Yayasan baitul insan Ar-raasyid (YBIA) yang berkolaborasi dengan Dreams Toure and Travel (DTT) Indonesia, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku," Pungkasnya. (La)

Tiba Di Tanah Air, Keluarga Jemaah Mengaku Puas dengan Semua Pelayanan YBIA



Sukabumi, Ybia Indonesia - setelah mengikuti rangkaian kegiatan ibadah selama 12 hari di tanah suci Makkah Saudi Arabia, jema'ah umroh yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) asal Sukabumi Jawa Barat pada hari Minggu, (12/11/23) siang pukul 12.30 WIB kembali tiba di Indonesia. 

Kedatangan mereka langsung disambut oleh tim manajemen, para ustadz dan ustadzah, jemaah majelis pengajian dengan lantunan sholawat dan iringan musik kasidah di kompleks yayasan, jalan Palasari Wates No.35 desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi. 

"Alhamdulillah semua jemaah terlihat sehat walafiat, dan diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadahnya. Selamat datang 'tamu Allah' silahkan ibu bapak langsung masuk ke majelis, karena akan kita berdoa dan sujud syukur," ucap manajemen yayasan, Ika Kartika melalui pengeras suara.

Sebelumnya, pesawat yang membawa rombongan jema'ah mendarat mulus di bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 06.20 WIB. "Terima kasih ibu bapak semua para jemaah yang telah memberikan kepercayaannya kepada yayasan Baitul insan Ar-Raasyid," singkat Hj. Eti Sumiati, tour leader yang sekaligus ketua yayasan Baitul insan Ar-Raasyid, yang didampingi langsung oleh pembina yayasan, H. Achmad Syarifudin beserta tim.

Pantauan Ybia Indonesia saat berada di lokasi, tampak sanak saudara dan keluarga mereka turut menyambutnya. Pelukan hangat dan tangis bahagia pun mewarnai kedatangan. Pihak keluarga mengucapkan terima terima kasih kepada yayasan Baitul insan Ar-Raasyid yang sudah memberikan pelayanan yang luar biasa dan sangat baik.

"Wabil khusus ketua yayasan dan semuanya. Semoga Ybia semakin banyak jemaahnya, subhanallah.. dari berangkat sampai kepulangan keluarga kami, semua dalam keadaan sehat," pungkas keluarga jema'ah. (La)

Khidmat, Jemaah Umrah Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid ikuti Prosesi Pelepasan


 


Sukabumi, Ybia Indonesia - 8 (delapan) calon jemaah umrah asal Sukabumi Jawa Barat siang ini akan diberangkatkan ke Jakarta, untuk mengikuti proses selanjutnya sebelum nantinya mereka akan diterbangkan menuju Makkah Saudi Arabia. Mereka (jema'ah) berangkat melalui yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA).

Tepat pukul 10.00 WIB para jemaah  mengikuti prosesi pelepasan oleh manajemen yayasan di kompleks yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) jalan Palasari Wates No.35 Desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa, (31/10/23) siang.

Berdasarkan informasi yang diterima dari pihak manajemen, para jemaah tersebut mengikuti program umrah 12 hari plus Thoif. "InsyaAllah siang ini ba'da Dzuhur jema'ah akan diberangkatkan program umrah 12 hari plus Thoif," kata Ela Nurlaela manajemen yayasan Baitul insan Ar-Raasyid.

Seperti biasa, lanjut Ela, dalam setiap pemberangkatan jamaah, yayasan Baitul insan Ar-Raasyid mengadakan prosesi pelepasan yang langsung bisa disaksikan oleh keluarga mereka. "Alhamdulillah prosesi pelepasan berjalan khidmat dilepas oleh manajemen yayasan, dan keluarga pengantar pun mengikutinya dengan tertib," katanya. (Red)

Ketua Yayasan dan Jajaran Hadiri Maulid Nabi Muhammad Saw 1445 Hijriyah di YBIA



Sukabumi, Ybia Indonesia - Nabi Muhammad Saw merupakan panutan bagi umat Islam. Dalam surat al-Ahzab ayat 21 menjelaskan secara garis besar bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan teladan bagi manusia dalam segala hal. Akan tetapi, keteladanan itu berlaku bagi orang yang hanya mengharapkan rahmat dari Allah.

Merayakan maulid nabi bisa dikatakan menjadi salah satu cara untuk kita bersyukur kepada Allah SWT atas rahmat yang dilimpahkan-Nya. Keutamaan maulid nabi salah-satunya, ungkapan rasa syukur atas rahmat dan karunia dari Allah. 

Hal ini diungkapkan pada surat Yunus ayat 58, Allah memerintahkan agar kita bergembira dan bersyukur atas nikmat yang kita terima, salah satunya yaitu dapat menikmati agama Islam yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Demikian disampaikan KH. Nurdin Abdul Munir dalam tausiyahnya di acara maulid nabi Muhammad Saw 1445 H/2023 di yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) travel umroh dan haji, jalan Palasari Wates No.35 Desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada Minggu, (8/10/23) pukul 08.00-11.30 WIB. Acara diawali dengan doa', pembacaan ayat suci Al Quran, dzikir dan sholawat oleh ustadz Dadang, pimpinan majelis dzikir riyadoh.

Peringatan maulid nabi Muhammad Saw 1445 Hijriyah tersebut, sekaligus kegiatan pengajian rutin bulanan. Rangkaian acara berlangsung khidmat, dihadiri langsung oleh ketua yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) Hj. Eti Sumiati, pembina yayasan H. Achmad Syarifudin S.E, manajemen yayasan, para pimpinan pondok pesantren, pimpinan majelis ta'lim, para ustadz, ustadzah, dan ratusan jemaah lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) Hj. Eti Sumiati mengungkapkan rasa syukur atas semua yang diberikan Allah SWT, dan ucapan terima kasihnya kepada semua jemaah yang telah menghadiri acara, dan tidak pernah absen untuk mengikuti pengajian bulanan di yayasan. 

"Alhamdulillah hari ini pengajian rutin bulanan di yayasan Baitul insan Ar-Raasyid sekaligus memperingati maulid nabi Muhammad Saw 1445 Hijriyah," kata Hj. Eti Sumiati.

Untuk diketahui, yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) pusat pendaftaran umroh dan haji yang berlokasi di Kalapanunggal ini merupakan travel umroh yang mendapat kepercayaan penuh dari warga masyarakat, khususnya di wilayah Kalapanunggal, umumnya di Sukabumi Jawa Barat. Tidak sedikit alumni jemaahnya berangkat melalui yayasan Baitul insan Ar-Raasyid yang berslogan kan; "Lillah amanah berkah".

"Mohon doanya juga dari ibu bapak semua untuk keberangkatan jema'ah di bulan Oktober nanti, dan setiap program umroh Ybia lainnya akan selalu disampaikan kepada jemaah semuanya, mudah-mudahan kita semua diberikan kesehatan, dan tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada semua tim manajemen, ustadz dan ustadzah, kordinator di wilayahnya masing-masing," katanya.

Penampilan grup kasidah Nurul falah dari Kalapanunggal turut mewarnai acara, dengan membawakan beberapa buah tembang religi, menutup rangkaian acara pembacaan doa' oleh KH. Abdurrohman dari pinang Gading Cikidang. (La)

YBIA. Human Development Program, "Resep Sukses Pejuang Baitullah"



Ybia Indonesia - Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) mempersembahkan HUMAN DEVELOPMENT PROGRAM "resep sukses pejuang baitullah". Sabtu, 23 September 2023. Lokasi/tempat; Aula gedung serbaguna yayasan Baitul insan Ar-Raasyid, Jl. Palasari Wates No.35 Desa Kalapanunggal, kecamatan Kalapanunggal, kabupaten Sukabumi Jawa Barat.