Tampilkan postingan dengan label Jejak Histori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Histori. Tampilkan semua postingan

Jejak Histori KH. Abdullah Munjul, Mundakjaya Cikedung Indramayu



Penjaga, penyalin dan penulis naskah-naskah kuno manuskrip Nusantara.

Ybia Indonesia - Beliau adalah Pengajar Tarikat Qodariyyah Wa Naksyabandiyyah, sewaktu muda beliau senang berguru kepada ulama-ulama alim sambil berkelana keliling Pulau Jawa. Diantara daerah-daerah yang pernah disinggahinya ; Jati Barang, Cirebon, Jawa Tengah, Madura, Banten [diceritakan dalam Serat Jaka Sari, sebuah tembang yg menceritakan perjalanan hidupnya].

Ia juga pernah menjadi pekerja proyek pembangunan tanggul sepur jaman Belanda, menurut penuturan para sepuh Cikedung, Sepur Penganten [Pertama] yg melintas pada rel tanggul sepur itu terjadi pada tahun 1911. Setelah berkeliling Pulau Jawa kemudian ia menetap di Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung Indramayu. Sebelum menjadi Mursyid, beliau berguru kepada Syeikh Abdulgofar [Mama Khatijah Desa Lunggadung, Cikedung]. Mama Khatijah adalah murid daripada Syeikh Abdulmanan, Paoman Indramayu dan Syeikh Abdulmanan adalah murid daripada Syeikh Tolabuddin [Mama Tolha] Kalisapu Cirebon.

Dalam keseharian, K.H. Abdullah banyak menyalin kitab-kitab kuno (Manuskrip Kuno), beberapa diantaranya :


Serat Pralayajati

Babad Dermayu

Babad Cirebon

Syeikh Madekur - Kasan Basari

Syeikh Jabar

Siti Maleha

Siti Ningrum

Manakib Syeikh Abdul Qadir Al-jilani

Serat Yusuf

Ater-ater Kaulan

Kidungan

Primbon

Wejangan Mursid

Dll


Setelah perjalanan panjang akhirnya karya-karya tulis KH. Abdullah Munjul, Mundakjaya – Cikedung bisa didokumentasikan Pihak Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama. 

Dengan bantuan teman-teman dari Cirebon dan Indramayu yang terus memotivasi kami, Sanggar Aksara Jawa mencoba terus berjuang untuk mencari dan menyelamatkan sumber-sumber karya intelektual anak bangsa [di Indramayu]. keberadaan naskah kuno menjadi sangat penting, Naskah kita sedang Go International" menurut penuturan Prof.H. Abd. Rahman Mas'ud, Ph.D. dalam Silaturahmi Litbang Diklat, "Menemukan Islam Nusantara dari Naskah Nusantara".

Semoga ruh beliau tetap hidup dan dikenang, generasi muda kudu weruh dan mau meneruskan sisi-sisi perjuangannya.  KH. Abdullah semenjak kecil gemar menuntut ilmu agama, beliau sampai berkeliling Pulau Jawa untuk mewujudkan cita-citanya menjadi tokoh ulama. Dalam pergerakan, beliau juga bergabung dengan teman-temannya dari Cirebon, Indramayu. Kala itu ikut mengusir Cina Rambut Kepang yang sangat ekslusif tidak mau bergaul dgn masyarakat [Jakasari, sebuah Autobiografi dalam tembang].

Terakhir Beliau berguru kepada Syeikh Abdul Gofar Lunggadung, yg merupakan murid daripada Syeikh Abdulmanan Paoman. Kemudian mulai menetap di Desa Munjul dan menjadi Pemuka Agama dan Budayawan di sana,  diantara karya2 beliau, ada yg ditulis dgn Aksara Carakan, Pegon dan Arab Gundul (salinan/copy) adalah ;


1. Babad Dermayu

2. Kidung Bobotan / Ruwatan

3. Adam Jalalah

4. Siti Maleha

5.  Sultan Rum

6. Pralayajati

7. Syekih Jabar

8. Manakib Syeikh Abdul Qadir Al-zilani

9. Syeikh Madekur

10. Syeikh Mukhayat

11. Serat Yusuf

12. Jakasari

13. Nyi Gandasari

14. Babad Cirebon

15. Satus Pitakonan

16. dll



Jejak Histori sang Tokoh Inspiratif: KH. R. Kafrawi, Penghulu Tuban Masa Penjajahan Belanda



Ybia Indonesia - KH. R. Kafrawi merupakan seorang ulama dari lingkungan Nahdlatul Ulama yg menjadi Ketua Pengadilan Agama atau Penghulu Tuban pada masa penjajahan Belanda. Beliau adalah ayah KH FATHURRAHMAN ( Menteri Agama Kedua RI ) . Penghulu pada masa itu merupakan jabatan administrasi di bidang keagamaan yg diangkat sebagai pegawai Belanda. Dengan demikian Kiai Kafrawi adalah seorang ulama sekaligus priyayi.

Sebelum Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama ( Penghulu ) , beliau adalah seorang yg alim yg diberi kepercayaan dalam segala bidang ilmu agama. KH . Kafrawi sendiri berasal dari Klopo Telu Merakurak dan masih keturunan dari KIAI ARIFIN BIN ABDUL KODIR ( MBAH DIRO) 

Kiai Kafrawi menikah dgn Siti Aisyah, dan dikaruniai empat orang anak. Mereka adalah : Munjiyat /Kaspiyatoen , Roesdiyah , Moesyarofah , dan KH . Fathurrahman. Menurut penuturan H . Masduqi, cucu keponakan dari KH Fathurrahman Kafrawi , sebenarnya Kiai Fathurrahman masih mempunyai kakak laki - laki tetapi meninggal ketika masih kecil. Konon, saudaranya itu pernah mengolok2 ayahnya yg menjadi penghulu di Tuban dgn mengatakan jabatan penghulu dgn kata2 “pang - pang diulu ”. Anehnya, tak lama kemudian kakaknya itu meninggal dunia .

Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama pada masa kepemimpinan Raden Adipati Ario Koesoemodigdo (Bupati Tuban ke - 35 ) yg memerintah mulai tahun 1892 - 1911 . Raden Adipati Ario Koesoemodigdo telah berjasa membangun kembali Mesjid Agung Tuban pada tahun 1894 . Mesjid Agung Tuban telah dibangun kembali oleh sang Bupati dgn gaya Eropa campur tradisional. Arsitek mesjid tersebut berkebangsaan Belanda bernama H . M. Toxopeus . Sang Bupati wafat pada tahun 1911 , setelah memerintah Kabupaten Tuban selama 16 tahun dan dimakamkan di Astana Makam Pati Kebonsari , Tuban.

KH Kafrawi wafat tahun 1910 dan dimakamkan di pemakaman Desa Bejagung Lor Kecamatan Semanding , Tuban. Makam KH Kafrawi terletak di sebelah utara makam Syekh Abdullah Asy ’ari (Sunan Bejagung ) . Lokasi makamnya sekarang sudah dipindahkan dan dijadikan satu dgn makam keluarga di pemakaman Desa Bejagung Lor. Sedangkan istrinya , Hj. Siti Aisyah , meninggal pada 1949 dan dimakamkan di kompleks Makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo , Tuban.

Guru Kiai Umar bin Harun Sarang

Menurut cerita yg lebih mashyur lagi, sumber ilmu yg menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Sarang (Rembang) konon berasal dari Kiai Klopo Telu . Karena banyak sekali para santri yg menimba ilmu di Kiai Klopo Telu pada saat itu berasal dari daerah Sarang, Jawa Tengah . Tampaknya hal itu bisa dibenarkan , terbukti KH . UMAR BIN HARUN pernah berguru pada KH Kafrawi . KH . IMAM KHOLIL , pendiri Pondok Pesantren MIS Sarang, dulu juga pernah berguru pada Kiai Badlowi di Santren, Merakurak . Sehingga ada anekdot kalau ada santri dari Merakurak yg ingin mondok di Sarang , maka oleh kiainya dikatakan bahwa ia bukan mau mondok melainkan mau mengambil ilmu leluhurnya yg telah ‘diambil ’ oleh para Kiai Sarang.

Salah satu murid kinasih Kiai Kafrawi adalah Kiai Umar bin Harun dari Sarang ( Rembang) . Kiai Umar bin Harun (1855 - 1910) merupakan ulama yg terkenal sebagai salah seorang ulama Nahwu pada saat itu. Kiai Umar bin Harun lahir di Sarang pada tahun 1855 M / 1270 H . Tumbuh dan belajar dalam bimbingan KIAI GHOZALI (Sarang) , lalu juga belajar kepada kiai2 lain seperti Kiai SYARBINI (Sedan , Rembang) , Kiai KAFRAWI (Merakurak, Tuban) dan Kiai SHOLEH (Langitan, Tuban) . Beliau juga belajar agama di Mekkah, seperti Syekh Nawawi bin Umar al- Banteni (w. 1813 H / 1897 M) , dan Syeikh Abu Bakar asy-Syatho al- Makki , salah satu ulama Mekkah yg amat terkenal pada zamannya.

Setelah pulang ke tanah air pada tahun 1319 H dan mengabdikan hidupnya kepada pengajaran keagamaan , maka beliau berjuang dgn sangat gigih dan bekerja keras untuk mengangkat citra pondok pesantren menuju puncak kejayaannya sehingga bisa terkenal ke segala penjuru . Pesantren Sarang pun semakin bersinar , maju dan berkembang pesat dan menjadi tujuan para santri dari berbagai penjuru . Kiai Umar bin Harun merupakan pengasuh Ponpes Sarang pada periode kedua setelah penyerahan mandat dari guru beliau , Syekh Ghozali , yg tak lain adalah mertua Kiai Umar sendiri . Kiai Umar bin Harun wafat pada tahun 1328 H /1910 M, pada usia 55 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman ulama Sarang. Beliau pernah menikah dua kali , namun dari keduanya tidak dikaruniai keturunan. (cholis )


sumber : tabloid nusa Tuban

Jejak Histori Syekh Yunus Yahya al-Khalidi Magek



Ybia Indonesia - Beliau ialah salah satu ulama besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah, pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah Magek. Sebagai salah seorang ulama yang dikarunia umur yang panjang, beliau ialah saksi mata dan sumber sejarah mengenai ulama-ulama tua dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Alm. Prof. Sanusi Latief, sebelum merampung disertasi tebalnya mengenai ulama-ulama tua (1988), perlu berkunjung ke Magek untuk menemui beliau (Syekh Yunus mengarang sebuah buku tahun 1978 yang menjadi sumber langka tentang ulama-ulama tua Minangkabau).

Beliau terlahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Yahya al-Khalidi Magek ialah ulama sepuh tempat berguru tokoh-tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Di antara muridnya ialah Syekh Sulaiman Arrasuli Candung, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Mahmud Abdullah Tarantang - Harau, dll. Sang ayah merupakan murid dari Maulana Syekh Abdurrahman Batuhampar, dan Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka. Gelar al-Khalidi dibelakang namanya ialah petanda bahwa ia merupakan Syekh Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Hari-hari sang ayah dihabiskan untuk mengajar ilmu agama di Surau Baru Magek. Mengajar suluk Thariqat Naqsyabandiyah dan mendaras kitab Ihya' Ulumiddin merupakan rutinitasnya.

Sang anak, Syekh Yunus Yahya, yang kita bicarakan saat ini, belajar agama kepada beberapa ulama terkemuka Minangkabau, antara lain kepada Syekh Ibrahim Harun Tiakar, dan sempat menimba ilmu di Mekkah. Di Mekkah ia sempat belajar kepada Syekh Machudum Solok yang diangkat menjadi ulama besar di Mesjidil Haram.

Sebagaimana ayahnya, Syekh Yunus Yahya juga merupakan Syekh Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Beliau melanjutkan kepemimpinan ayahnya di Surau Baru, sesudahnya ayahnya wafat di tahun 1940-an. Saya mendengar dari anaknya bahwa Syekh Yunus Yahya karam dalam zikir selama tiga hari tiga malam. Selama ini ia tidak makan tidak minum, lenyap dalam mengingat Allah.

Dalam organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Syekh Yunus termasuk tokoh penting. Beliau pernah menjadi utusan Persatuan Tarbiyah Islamiyah dalam rombongan Presiden Soekarno yang melawat ke beberapa negara. Selain itu, beliau juga bertindak sebagai sekretaris dalam Konferensi Thariqat Naqsyabandiyah di Bukittinggi 1954. Pada konferensi itu hadir ulama-ulama Thariqat Naqsyabandiyah ternama dari berbagai daerah Minangkabau, antara lain Syekh Abdul Ghani Batubersurat, Syekh Mudo Abdul Qadim belubus, Syekh Mohammad Sa'id Bonjol, dsb.

Di antara wasiat-wasiat beliau sebelum wafatnya: (1) hendaknya seseorang mencoba suluk, walau hanya satu kali seumur hidup; (2) pembanyaklah membaca al-Qur'an, karena al-Qur'an menolak pikun. 

Syekh Yunus Yahya wafat dan dimakamkan di samping makam ayahnya, Syekh Yahya al-Khalidi, di komplek Surau Baru Magek.

al-Fatihah.....

Jejak Histori Syaikh Mashduqi Lasem, Macan Putih dari Pulau Jawa

 


Ybia Indonesia - Syaikh KH. Mashduqi bin Sulaiman Al-Lasimi lahir sekitar tahun 1908 M. di Desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang dari pasangan KH. Sulaiman dengan Hj. Nyai Khadijah (Qolmini). Dari jalur ayah nasab beliau bersambung ke asy-Syaikh as-Sayyid Mutamakkin Kajen Pati yang bersambung ke Raden Achmad Rahmatullah (Sunan Ampel).

Sejak usia dini Mbah Mashduqi dididik oleh ayahandanya sendiri. Kemudian ketika menginjak usia remaja atas petunjuk sang ayah dan pamandanya, KH. Thayyib, beliau melanjutkan jenjang pendidikannya di Ponpes Tremas yang diasuh oleh Syaikh KH. Dimyathi bin Abdullah yang merupakan adik dari Syaikh KH. Mahfudz bin Abdullah (murid dari pengarang kitab I’anah ath-Thalibin) yang makamnya ada di Mekkah. Beliau menimba ilmu di situ selama 11 tahun dengan rincian 3 tahun belajar dan 8 tahun mengajar, yang salah satu dari sekian banyak muridnya di Tremas adalah KH. Hamid Pasuruan. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya pada Syaikh KH. Masyhud Pacitan.

Usai belajar dari Pondok Tremas Mbah Mashduqi melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Mekkah al-Mukarramah selama 6 tahun. Di sana beliau belajar kepada Syaikh Umar Hamdan al-Maghrabi dan Syaikh Muhammad Ali al-Maliki al-Hasani al-Maghrabi. Di sana beliau dipercaya menjadi pengajar di Haramain. Murid-murid beliau semasa mengajar di Haramain banyak yang dari Indonesia, diantaranya KH. Bisyri Musthafa  Rembang dan KH. Masyhuri Rejoso Jombang.

Mbah Mashduqi mendapat gelar Asy-Syaikh karena termasuk salah satu ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Pada waktu itu sebutan Syaikh dimiliki oleh 3 orang ulama, yaitu Syaikh Mashduqi al-Lasimi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi (kakak kandung Syaikh Dimyathi) dan Syaikh Yasin al-Faddani.

Sepulang dari Mekkah beliau bertemu dengan Syaikh KH. Sayyid Dahlan, salah satu masyayikh di Pekalongan, yang kemudian menikahkan putrinya, Nyai Hj. Ma’rifah, dengan Mbah Mashduqi. Di Pekalongan Mbah Mashduqi sempat mendirikan pesantren, yang akhirnya banyak murid-murid beliau di Tremas banyak yang pindah ke Pekalongan dengan harapan dapat melanjutkan belajarnya pada beliau. 

Mbah Mashduqi sangat terkenal kealimannya. Beliau termasuk ulama yang produktif menulis, hasil karyanya banyak dari beberapa fan ilmu. Setiap beliau mengaji suatu kitab, pasti diterangkan secara panjang lebar seakan mensyarahi kitab tersebut.

Setelah beberapa tahun tinggal di Pekalongan, beliau kembali lagi ke Lasem atas permintaan warga Lasem. Di Lasem Mbah Mashduqi mendirikan Pondok Pesantren al-Ishlah pada tahun 1950 M. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu darinya, diantaranya dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Sebelum adanya bangunan Ponpes al-Ishlah, tanah yang akan dijadikan pesantren tersebut merupakan tempat judi, pelacuran dan tempat pembantaian PKI. 

Jauh-jauh hari sebelum Syaikh Mashduqi dilahirkan, pejabat desa setempat mengeluh kepada Sayyid Abdurrahman (Mbah Sareman) –ulama asal Tuban yang tinggal di Lasem yang terkenal kewaliannya- dengan mengatakan, “Mbah, bagaimana tempat itu koq dibuat  sarang maksiat?”

Kemudian Mbah Sareman mengatakan, “Akan ada Macan (harimau) Putih dari barat melewati sungai yang akan menempati tempat itu. Dan tanah itu akan menjadi tempat (produksi) ulama di Tanah Jawa.” Yang dimaksud dengan “Macan Putih” adalah Syaikh KH. Mashduqi dan yang dimaksud “sungai” adalah Sungai Bagan yang terletak ± 700 m sebelah barat tanah Ponpes al-Ishlah.

Diantara murid-murid Mbah Mashduqi adalah KH. Ishomuddin Pati, KH. Nur Rahmat Pati, KH. Salim Madura, KH. Makhrus Ali Lirboyo, KH. Zayadi Probolinggo, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Miftachul Akhyar Surabaya, KH. Jazim Nur Pasuruan, K. Mukhtar Luthfi Nganjuk, KH. Imam Daroini Nganjuk, KH. Zuhdi Hariri Pekalongan, KH. Taufiqurrahman Pekalongan, KH. Abdul Ghani Cirebon, KH. Abdul Mu’thi Magelang, KH. Abdullah Schal Bangkalan, KH. Mashduqi Cirebon, KH. Makhtum Hannan Cirebon, KH. Syaerozi Cirebon, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa Kisah Keteladanan Mbah Mashduqi

Kisah berikut disarikan dari tulisan Gus M. Robert Azmi dari penuturan Kiai Mukhtar Luthfi dan KH. Imam Daroini (keduanya adik kandung Pendiri PP. Al-Fattah KH. Nahrawi ZAM) Nganjuk yang merupakan murid dari Mbah Mashduqi Lasem, mulai dari sisi ketawadhu’an, wira’i, tawakkal dan kesemangatan dalam mengajar.

Suatu ketika ada santri yang sowan Mbah Mashduqi. Karena saking hormatnya, santri tersebut ingin mencium tangan Mbah Mashduqi bolak-balik. Namun yang mengejutkan beliau langsung menampik, dan berkata, “Awakmu marai ndeder racun nang atiku! (Apakah engkau ingin menumbuhkan bibit racun di hatiku)?” Kemudian beliau melanjutkan, “Mashduqi kuwi sopo?” Akhirnya santri tersebut mengurungkan niatnya.

Sebuah hal lumrah bagi santri yang pulang ke rumah karena kangen dengan kampung halaman, dan merupakan kesunnahan untuk membawa oleh-oleh pada ulama. Namun tidak semua oleh-oleh diterima oleh Mbah Mashduqi. Beliau sering bertanya pada santri yang membawa oleh-oleh, “Iki jajan tekan ngendi (Oleh-oleh ini dari mana)?” Jika si santri menjawab dari orangtuanya, maka Mbah Mashduqi berucap “Alhamdulillah…” 

Namun jika oleh-olehnya bukan dari rumah, Mbah Mashduqi akan berkata, “Haram! Awakmu disangoni Bapak-Ibumu dingge sangu mondok, ora dingge nukokke jajan aku (Haram! Kamu dikasih uang Ayah-Ibumu untuk uang saku mondok, bukan untuk membelikanku oleh-oleh).”

Waktu mengaji Mbah Mashduqi sering bercerita, “Aku kuwi anake bakul beras, budal mondok adol pitik, tak tukokne rokok, tak dol nang santri Tremas (Aku hanyalah anak pedagang beras, pergi mondok dengan menjual ayam, kemudian uangnya aku belikan rokok, dan kujual ke santri Tremas).”

Dalam kesempatan lain, waktu beliau ngaji, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Spontan santri yang mengikuti ngaji semburat melarikan diri. Dengan tersenyum beliau berkata, “Santri, santri, koq wedi karo rohmate Pengeran.” Kemudian beliau dengan tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat pengajian dengan berpayungkan sajadah beliau.

Pernah suatu ketika Kiai Mukhtar Luthfi mengikuti pengajian Tafsir Jalalain yang dikhatamkan hanya sebulan Ramadhan saja. Di tengah penat yang mendera dan kantuk yang sangat, banyak santri yang tertidur. Tiba-tiba Mbah Mashduqi menggebrak meja, “Bruaaakkk… Setane mlayu, setane mlayu,” diiringi tawa renyah beliau dan santri yang gelagapan bangun tidur. 

Begitu pula sewaktu Mbah Mashduqi menyemangati para santri agar tidak cepat puas dengan ilmu yang didapatkannya, beliau dawuh, “Nahwu-shorofmu kuwi opo? Urung enek sak kuku irengku (Ilmu nahwu-sharafmu seberapa sih? Belum ada secuil kuku hitamku).”

Sebagai ulama yang ahli fiqih, nahwu, sharaf, tasawwuf dan banyak fan lainnya, sangatlah wajar apabila waktu mengaji Mbah Mashduqi mengoreksi kitab yang dibacanya. Syahdan, waktu itu beliau sedang membaca kitab Siraj ath-Thalibin karangan Syaikh Ihsan Jampes Kediri, yang sekarang menjadi salah satu mata pelajaran di Universitas Al-Azhar Kairo. Mbah Mashduqi sering berkata, “Iki keliru!” sambil langsung mencoret lafadz kitab tersebut dengan pena yang beliau bawa.

Kabar ini terdengar oleh Mbah Mat Jipang, salah seorang ulama Kediri yang sangat terkenal kecerdasannya sehingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan Mbah Jipang, kepanjangan dari ngaji gampang. Mendengar itu, Mbah Jipang langsung berangkat ke Pondok Lasem dengan menyamar sebagai orang desa. Kemudian beliau bertamu ke Ndalem Mbah Mashduqi.

Setelah dipersilakan masuk, terjadilah adu argumen yang sangat tajam dan lama. Saking lamanya, debat antara Mbah Mashduqi dan Mbah Mat Jipang terjadi beberapa hari. Istirahat hanya saat waktu shalat dan waktu istirahat malam. Singkat cerita setelah debat usai, Mbah Mashduqi mengakui keilmuan Mbah Jipang dan membenarkan Siraj ath-Thalibin yang disalahkannya. 

Pada kesempatan lain, Mbah Mashduqi berkata pada santri yang mengaji, “Aku kalah karo wong Kediri.” Latar belakang Mbah Mashduqi menyalahkan beberapa lafadz kitab tersebut adalah karena kehati-hatian beliau. Terbukti, selang beberapa waktu beliau berkata, “Syariat kuwi koyok dalan nang pinggir kali, nek minggir-minggir iso gampang kecemplung, sing aman nang tengah wae (Syariat itu ibarat jalan yang berada di pinggiran sungai, kalau terlalu ke pinggir akan mudah tergelincir, yang aman berjalan di tengah saja).”

Kewafatan Mbah Mashduqi

Hadhratus Syaikh KH. Mashduqi al-Lasimi termasuk runtutan pewaris Tanah Jawa setelah kurun asy-Syaikh KH. Asnawi Banten yang dikenal sebagai simbol Tombak Mangku Mulyo (Quthbul Jawi). Simbol tersebut merupakan warisan dari asy-Syaikh Subakir, orang pertama pembabat Tanah Jawa.

Mbah Mashduqi wafat pada tahun 1975 M, tepatnya tanggal 17 Jumadil Akhir tahun 1396 H. dan disemayamkan di Pondok Pesantren al-Ishlah Lasem. Sejak tahun itu Ponpes al-Ishlah diteruskan oleh puteranya, Syaikh KH. Hakim Mashduqie, yang dilahirkan sekitar tahun 1942 M. Di usia yang sangat muda, 12 tahun, Syaikh Hakim sudah mengajarkan kitab Jam’ al-Jawami’. Di usia 17 tahun beliau menyusun karya tulis dalam fan ilmu tauhid berbentuk sya’ir yang dinamai “Nadzam Ibn al-Lasimiy”. Kemudian kitab tersebut disyarahi pada usia 40 tahun dan diberi nama “adz-Dzakhair al-Mufidah” yang sudah tersebar di berbagai penjuru negeri seperti Bangladesh, Mekkah dan Yaman. Karya tulis lainnya berjudul “Ghayat al-Maram fi Ahadits al-Ahkam” yang berhubungan dengan hadits-hadits Rasulullah Saw. Alfatihah.. 

Berbagai sumber