Tampilkan postingan dengan label ramadhan 2023. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan 2023. Tampilkan semua postingan

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 26), "Puasa dan Qanaah"



Ybia Indonesia - Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 26), "Puasa dan Qanaah"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya (QANAAH). 

Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Qanaah berasal dari bahasa arab yakni dari kata qani’a-qana’atan.

Pengertian Qanaah menurut bahasa artinya merasa cukup atau rela.

Pengertian Qanaah menurut istilah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Dasar hukum Qanaah disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"

Hadist:

Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda : 

"Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan itu yang sebenarnya ialah kekayaan hati.”


Contoh Sikap Qanaah:

- Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

- Tidak pernah merasa iri ataupun dengki dengan keberhasilan orang lain.

Giat bekerja agar memperoleh hasil yang terbaik.

- Hidup sederhana menyesuaikan diri dengan kemampuan, tidak rakus dan tidak tamak.

Tidak mudah kecewa maupun putus asa jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan.

- Selalu yakin bahwa pemberian Allah SWT merupakan sebuah anugerah.


Manfaat Qanaah:

- Memiliki jiwa yang tenang.

- Terhindar dari sikap iri, dengki, dan tamak.

Memiliki hati yang sabar.

- Selalu puas atas pemberian Allah SWT.

- Terhindar dari rasa khawatir dan resah.

- Terjalin hubungan yang harmonis dalam lingkungan masyarakat.

MANUSIA salah satu makhluk Allah SWT yang memiliki nafsu ganda, yaitu nafsu baik dan jahat. Sifat yang muncul pada diri manusia tergantung nafsu mana yang dapat memenangi pertarungan dalam diri manusia itu sendiri.

Salah satu nafsu jahat manusia yang sering muncul adalah rakus dan tamak. Manusia memiliki sifat tak pernah puas terhadap apa yang telah ia capai. 

Rasulullah saw bersabda :

"Kalau anak Adam (manusia) telah mempunyai harta sepenuh dua lembah, niscaya dia masih mencari lembah yang ketiga. Tiada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah, Allah menerima taubat siapa yang bertaubat." (HR Muslim).

Manusia sifatnya rakus, maunya tambah terus dan tak puas terhadap apa yang telah dicapainya. Makanya dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak cukup dengan satu kendaraan. Sudah memiliki satu kendaraan maunya tambah lagi sehingga macet di mana-mana.

 Manusia selalu takut akan kekurangan dan takut hidupnya menderita. Maka, manusia senang menumpuk-numpuk harta sampai lalai kewajiban terhadap Tuhannya.

(QS Al-Takatsur: ayat 1):

اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ‏

Al haaku mut takathur


Artinya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu"

Memang tak mudah mengendalikan nafsu serakah manusia karena memang watak ini sudah melekat erat pada diri manusia. Demi tuntutan nafsunya, banyak orang mengabaikan bagaimana cara mendapatkan hartanya, halal haram tak lagi jadi pertimbangan. 

Karena itu, korupsi merajalela, penipuan di mana-mana, pencurian, penjambretan terjadi di mana-mana.

Manusia demi kepuasan nafsunya tidak lagi takut kepada hisab di hari akhirat nanti. Padahal, semua perbuatan manusia dalam perburuannya untuk memuaskan nafsunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Allah swt berfirman, dalam Surat Al-Ghasyiyah, Ayat 25-26 :

إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ

Inna ilainā iyābahum


ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم

ṡumma inna 'alainā ḥisābahum


Artinya: 

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (QS. Al-Ghasyiyah Ayat 25-26).

Dengan datangnya bulan Ramadhan, manusia (khususnya umat muslim) diperintahkan berpuasa. Puasa yang secara bahasa diartikan dengan menahan (al-imsak) dan secara terminologi menjauhkan diri sepenuhnya dari makanan, minuman, hubungan intim, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai fajar sampai matahari terbenam, merupakan ibadah yang bertujuan mengendalikan nafsu jahat manusia.

Dengan puasa, manusia disuruh belajar menahan "suatu perbuatan" yang selama ini menjadi kegemaran, bahkan kebutuhan dasar manusia, yakni makan, minum, hubungan seksual, dan lain- lain.

Puasa melatih manusia tidak serakah. Puasa melatih manusia mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan perbuatan yang pada hari-hari tidak berpuasa diperbolehkan. Karena itu, puasa akan menghasilkan manusia-manusia yang terlatih nafsunya dalam menghadapi kemewahan dunia, yaitu insan bertakwa (QS Al-Baqarah: 183):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Puasa melatih manusia untuk bersabar (syahr al-shabr) dalam menghadapi godaan megahnya dunia. Betapapun nafsu sangat menginginkannya, jikalau perbuatan itu maksiat, atau mencapainya harus dengan kemaksiatan, manusia yang telah terlatih dengan puasa akan mampu menahannya.

Berbeda dengan orang yang tak terlatih dengan puasa, atau puasa tapi puasanya tak benar, nafsunya tidak memiliki kendali sehingga ia tak mampu menahan godaan-godaan kemaksiatan yang ada di depannya.

Karena itu, Rasulullah saw menyebut puasa itu sebagai perisai (al-shaumu junnatun). Sebab, dengan puasa, manusia mampu menangkis berbagai hal yang akan menjerumuskan dalam keserakahan.

Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah swt kepadanya (qanaah). Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Karena itu, orang yang berpuasa akan menyadari bahwa nikmat Allah swt yang diberikan kepadanya masih jauh lebih baik dibanding yang diberikan kepada orang lain. Jika orang selalu melihat nasib orang yang lebih baik, ia tidak pernah bersyukur dan tak pernah puas terhadap apa yang telah ia peroleh nya.

Di sinilah puasa mendidik manusia untuk selalu memiliki kesadaran bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan harta atau glamoritasnya dunia. Tapi, kekayaan letaknya dalam hati. 

Sejauh mana ia dapat mensyukuri nikmat Ilahi Rabbi, maka di situlah ia menemukan kecukupan hidupnya.

Rasulullah saw telah mengingatkan kita dalam sabdanya, "Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun, kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR Bukhari dan Muslim).

Puasa mendidik manusia agar menjadi orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian dari Allah Swt. (QANAAH).


Semoga bermanfaat, Salam Silaturahmi...

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Jangan jadi Orang yang Merugi di Bulan Ramadhan




اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Tidak ada uzur bagi seorang yang telah di tetapkan dalam syariat untuk tidak menunaikan kewajibannya di bulan Ramadhan ini.

Ybia Indonesia - Jika engkau tidak bisa memperbanyak ibadah bangun malam, maka hendaknya engkau memperbanyak sedekah.

Jika engkau tidak mampu bersedekah, maka hendaklah engkau perbanyak membaca Al-Qur'an. 

Jika engkau tidak mampu memperbanyak membaca Al-Qur'an, maka hendaklah engkau perbanyak zikir.

Jika engkau tidak mampu memperbanyak berzikir, maka minimal engkau menjaga lisan mu, serta anggota badan mu dari sesuatu yang merusak dan mendzalimi kemuliaan bulan ini. 

Demi Allah sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan bulan ini.

Sungguh merugi orang yang tidak memanfaatkannya.

Abu Malik Al Asy'ari radhiallahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ


"Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya."

Lantas seorang sahabat berdiri sambil berkata: "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasulullah ?"

Beliau menjawab:

"Untuk orang yang berkata baik, yang memberi makan (fakir miskin), yang selalu berpuasa dan shalat pada malam hari ketika manusia sedang tidur."

[HR. Ibnu Majah no.3251, Turmudzi no.1984, Ahmad no.6578, Hakim no.247 dan lain-lain]

Maka janganlah kalian sia-siakan keutamaan bulan yang penuh keberkahan ini berlalu begitu saja tanpa amal shalih.

Janganlah kalian dilalaikan oleh dunia dan mengabaikan berlomba-lomba untuk mendapat kemuliaan disisi Allah Ta'ala.

Semoga kita termasuk orang-orang yg Allah rahmati untuk menempati kamar-kamar di surga itu. Aamiin.


Semoga bermanfaat

Doa Hari Ke-21 Puasa Ramadhan



Ybia Indonesia - Doa' hari ke-21 puasa Ramadhan 1444 H.

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ دَلِيْلاً وَ لاَ تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ عَلَيَّ سَبِيْلاً وَ اجْعَلِ الْجَنَّةَ لِيْ مَنْزِلاً وَ مَقِيْلاً يَا قَاضِيَ حَوَائِجِ الطَّالِبِيْنَ


Allâhummaj ‘al lî fîhi ilâ mardhâtika dalîlan wa lâ taj’al lisysyaithâni fîhi ‘alayya sabîlan waj’alil jannata lî manzilan wa maqîlan yâ qâdhiya hawâijal muhtâjîn


Artinya : "Ya Allah, tuntunlah aku di bulan yang mulia ini untuk mendapat keridhaan-Mu, Dan janganlah adakan celah bagi syetan untuk menggodaku. Jadikan surga sebagai tempat tinggal dan bernaungku. Wahai yang memenuhi hajat orang-orang yang meminta."



Doa Hari Ke-18 Puasa Ramadhan

 


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


اَللَّهُمَّ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ لِبَرَكَاتِ أَسْحَارِهِ وَ نَوِّرْ فِيْهِ قَلْبِيْ بِضِيَاءِ أَنْوَارِهِ وَ خُذْ بِكُلِّ أَعْضَائِيْ إِلَى اتِّبَاعِ آثَارِهِ بِنُوْرِكَ يَا مُنَوِّرَ قُلُوْبِ الْعَارِفِيْنَ


Allâhumma nabbihnî fîhi libarakâti ashârihi wa nawwir fîhi qalbî bidhiyâi anwârihi wa khudz bikulli a’dhâî ilat tibâ’I âtsârihi binûrika yâ munawwiral qulûbi ârifîn

Artinya : "Ya Allah sadarkanlah aku untuk mengetahui berkat yang ada pada waktu sahur. Terangilah hati-ku dengan cahaya-Mu yang lembut. Jadikanlah seluruh anggota badanku dapat mengikuti cahaya itu. Wahai Penerang hati sanubari."



Nuzulul Qur'an, 17 Ramadhan 1444 H



Ybia Indonesia - Termasuk salah satu hari yang spesial bagi umat Islam, Nuzulul Quran jatuh pada tanggal berapa? Sebenarnya, ulama terbagi menjadi dua pendapat terkait hal ini. Namun, salah satu golongan berpendapat bahwa Nuzulul Quran terjadi dan diperingati setiap tanggal 17 Ramadan.

Pendapat mereka itu didasari pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 41 yang berbunyi,

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Anfal, [8]:41).

Dilansir Detik Hikmah berdasarkan Tafsir Quran Kemenag, sebagian mufasir berpendapat, kalimat "hari bertemunya dua pasukan" merujuk pada Perang Badar. Perang tersebut jatuh pada tanggal 17 tahun kedua Hijriah atau pada 13 Maret 624 M.

Atas dasar ayat tersebut, golongan ini meyakini bahwa awal mula turunnya Al-Qur'an jatuh pada 17 Ramadan. Sementara itu, golongan lain berpendapat bahwa Nuzulul Quran jatuh pada salah satu hari di 10 malam terakhir bulan Ramadan.

Apabila merujuk pada pendapat golongan pertama, ini berarti Nuzulul Quran 2023 jatuh pada 17 Ramadan 1444 H atau bertepatan dengan 8 April 2023.

Bagaimana dengan malam Nuzulul Quran? Karena sistem penanggalan kalender Hijriah mengikuti pergerakan bulan, maka waktu magrib sudah terhitung hari baru. Dalam hal ini, malam Nuzulul Quran 2023 jatuh antara 7 April 2023 dan 8 April 2023.

Berbagai sumber 

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.17), "Nuzulul Qur'an"

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Al-Quran, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, adalah mukjizat yang tiada tanding. Ditinjau dari keindahan kalimatnya, ia memiliki ketinggian nilai sastra yang tiada tara kandungan, isinya pun sangat beragam mencakup seluruh aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan, baik fisik maupun metafisika. 

Ybia Indonesia - Tak seorang pun yang dapat membuat kitab yang menyamai atau menandingi Al-Quran, sebagaimana firman Allah dalam surah Bani Israil (Surat Al-Isra) Ayat 88:


قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا


Qul la`inijtama'atil-insu wal-jinnu 'alā ay ya`tụ bimiṡli hāżal-qur`āni lā ya`tụna bimiṡlihī walau kāna ba'ḍuhum liba'ḍin ẓahīrā

 Artinya: "Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat (kitab) serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, biarpun sebagian dari mereka membantu sebagian (yang lain)."

Al Quran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam.

Al Quran adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, 14 abad yang silam. 

Turunnya wahyu pertama merupakan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal dalam penyebaran ajaran Islam oleh Muhammad SAW kepada seluruh alam. Peristiwa ini merupakan tonggak kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam penyebaran ajaran Islam. Ketika pada masa itu, kondisi masyarakat suku Qurais benar-benar dalam keadaan kejahiliyahan.

Salah satu kebiasaan baginda Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah melakukan tahannust (menyepi) atau Berkhalwat, semacam kegiatan personal melakukan renungan total tentang kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya, merefleksikan zamannya yang menghinakan akal sehat yang kemudian disebut jahiliah.

Nyaris kejahiliahan itu menimpa semua sektor kehidupan. Ekonomi dikelola hanya tertumpu pada semangat mengejar keuntungan belaka dengan cara licik; sosial dijangkarkan pada sentimen perkauman yang sempit dan sering kali berkobar menjadi gelaran konflik berdarah (safak ad-dima') walaupun pemantiknya hanya persoalan sepele. 

Politik benar-benar dengan sempurna menerapkan prinsip menghalalkan segala cara, sedangkan kebudayaan diacukan pada haluan hanya melulu menjadikan materi sebagai daulat utama.

Tentu saja kedudukan perempuan sama sekali berada di titik nadir bahkan kelahirannya dianggap aib bagi keluarga sehingga harus lekas dikubur hidup-hidup. 

Dalam sistem keyakinan lebih parah lagi.Kemusyirakan, penyembahan berhala, dll terjadi dimana-mana.

Tempat favorit sang nabi dalam melakukan tahannuts (menyepi) itu adalah sebuah gua yang berada di tebing Gunung Nur (Jabal Nur). Kurang lebih 5 km arah utara dari Masjidil Haram.

Di gua itu Nabi bertafakur, mengosongkan hati, menyatukan sukma dengan Yang Mahakuasa, sekaligus menyampaikan seluruh keresahan jiwanya, mengadukan persoalan sosial yang menimpa masyarakatnya.

Gua yang menjadi situs rohaniah yang menggambarkan bagaimana Muhammad SAW seorang diri mewafakan tubuhnya demi melakukan transformasi Spiritual dan sosial. 

Naik ke gunung batu bukan hal mudah, sekali terpeleset yang menjadi pertaruhannya ialah nyawanya sendiri. 

Dalam musim terik menyengat (Ramadan artinya adalah cuaca yang membakar), kaki itu menaiki batu demi batu menuju puncak Hira, menyendiri, dan larut dalam hening yang menggetarkan, dalam munajat sepi yang tak ditemani satu orang pun. Hanya dirinya dan Tuhan. Tanpa arahan wahyu kecuali mengikuti rute suara hatinya yang bening.

Tepat pada 17 Ramadan itulah, hijab terbuka. Tuhan mengutus Jibril menyampaikan firman-Nya. 

Dahsyatnya ternyata ayat yang pertama kali turun ialah gelora agar sang Nabi itu pandai membaca. Iqra, bacalah. Bismi rabbik, atas nama Tuhanmu. 


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

(iqra` bismi rabbikallażī khalaq)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan".


خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

(khalaqal-insāna min 'alaq)

"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".


اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

(iqra` wa rabbukal-akram)

"Bacalah, dan Tuhanmu Lah Yang Maha Mulia'.


الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

(allażī 'allama bil-qalam)

"Yang mengajar (manusia) dengan pena".


عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

('allamal-insāna mā lam ya'lam)

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya". (surat Al Alaq 1-5)

Seruan-Nya yang pertama bukan perintah haji berkali-kali atau umrah berulang kali, bukan pula puasa dan shalat dalam hitungan tak terbilang dan apalagi kewajiban menegakkan syariat, tapi keniscayaan agar terampil membaca.

Dalam peradaban mana pun juga 'membaca' adalah sebuah metafora dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan. Iqra merupakan simbol keharusan menyiapkan sumber daya insani. 

Tanpa etos iqra, perubahan sosial yang dibayangkan tidak akan pernah terwujud. 

Iqra yang menjadi sumbu kebudayaan itu memiliki rohnya yang berwibawa. 

Seolah Tuhan hendak mengatakan bahwa kejahiliahan itu bermula karena absennya kerja iqra dan atau membaca itu dilakukan tapi sama sekali tidak melibatkan nilai-nilai ketuhanan, tidak bismi rabbik.

Pengalaman spiritual itu tentu saja sangat mengguncang dirinya. 

Di sebuah gua, di tepi gunung berbatu, tiba-tiba hadir makhluk asing dengan perintahnya yang juga asing. 

Menjadi beralasan sekembali ke rumahnya, istrinya disuruhnya untuk lekas menyelimutinya. Justru ketika selimut sudah menutupi sekujur tubuhnya, Tuhan kembali datang dengan firman susulannya, "Wahai yang berselimut bangun, dan peringatkan. 

Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, lepaskan dirimu dari perbuatan keji."

Konteks turunnya Alquran seperti itu menarik kita renungkan. Keharusan 'membaca' dan 'membuang selimut' inilah yang tidak hadir dalam kesadaran umat Islam hari ini, dari batang tubuh bangsa kita sekarang. 

Padahal, yang menjadi energi umat Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad pertengahan sehingga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Ibnu Sina, al-Kindi, Al-farabi, al-Khawarizmi, Ibnu Rusydi, yang kemudian mengilhami kebangkitan dunia Barat yang sedang berada dalam limbo kemunduran ialah semangat membaca itu.

Seandainya membaca melambangkan etos ilmiah, 'menyingkirkan selimut' ialah etik imperatifnya. 

Wahai yang berselimut kebodohan, singkirkan lah dan bangunlah lembaga pendidikan bermutu. 

Wahai yang berselimut kefakiran, singkirkan sikap malas dan serius lah menggumuli persoalan ekonomi. 

Wahai yang berselimut kerakusan, singkirkan dan tumbuhkan kedermawanan. Wahai yang berselimut politik kecurangan, singkirkan dan tancapkan nilai-nilai politik luhur yang menjunjung tinggi keutamaan dan kemanusiaan.

Kalau kita simak, nyaris sepanjang Nabi Muhammad SAW meniti tugas kenabian, perhatian dan kebijakan yang diambil selalu diorientasikan untuk sektor pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan. 

Kita baca dalam sekian hadisnya, bagaimana laki-laki dan perempuan dibebani kewajiban mencari ilmu. 

Belajar sepanjang hayat dipromiskannya setiap saat, carilah ilmu dari mulai buaian bunda sampai lubang kubur. Malah tatkala dalam sebuah pertempuran mendapatkan tawanan, tawanan itu bisa bebas hanya dengan dua opsi: √pertama, menebusnya dengan sejumlah uang dan uang itu wajib masuk kas negara yang dikhususkan bagi dunia pendidikan. 

Dan kedua, apabila tawanan itu kategorinya miskin, dia wajib menularkan keterampilan baca tulisnya kepada anak-anak muslim yang masih buta aksara.

Tentu saja kalau kita membaca Alquran akan dengan mudah menemukan ayat-ayat lainnya yang senapas dengan iqra.

Al-Quran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. 

Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. 

Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam. 

Seandainya kita sampai pada kesadaran 'aku berpikir maka aku ada' sebagai penanda modernisme-rasionalisme, dalam jalur yang sama Nabi SAW menyerukan agama itu adalah akal, tidak beragama mereka yang tidak pernah menggunakan akalnya. Ad-dinu huwa al-aqlu li dina li man la aqla lahu.

Inilah yang kemudian disimpulkan Soekarno dalam Surat-Surat dari Ende bahwa Islam itu adalah agama berkemajuan, Islam is progress. 

Bung Karno menyebutkan ciri kemajuan itu ialah penghargaan terhadap rasio, terhadap nilai-nilai modernitas. 

Islam yang benar yang disebutnya sebagai 'api Islam' ialah Islam yang belum terbenam dalam lumpur sikap taklid dan tahayul, Islam yang sigap berdialog dengan roh zaman, menjadi pandu bagi langkah-langkah perubahan sosial termasuk bisa membebaskan umatnya dari sekapan kolonialisasi dan kolonialisme.

 Merenungkan Nuzul Quran ialah mengingat kembali sesuatu yang hilang dalam diri umat Islam: pentingnya ilmu pengetahuan. 

Atau dalam istilah #kaP, kita harus menghentikan Islam mitologis dan ideologis dan kita harus mulai bergeser masuk ranah Islam epistemologis.

Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi “theory of knowledge.

Beberapa pendapat bahwa epistemologi adalah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi itu.

Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kebenaran pengetahuan. 

Jadi objek material dari epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.

Sedangkan psikologi sufistik yaitu suatu cabang kajian saintifik yang mengkaji, mempelajari dan meneliti perilaku pengalaman spiritual para sufi ketika berinteraksi dengan Rabb-nya, yaitu Allah SWT serta bagaimana pengaruhnya terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan disekitarnya.

Epistemologi telah menjadi perhatian utama para cendekiawan Islam yang berusaha bergulat dengan Integrasi Pengetahuan. 

Para Cendekiawan menekankan bahwa Alquran dan pengajaran Nabi Muhammad SAW adalah epistemologi Ilmu Islam itu sendiri karena keduanya mengandung prinsip-prinsip dasar untuk Filsafat Islam sebagai serta ilmu-ilmu lainnya.

Islam merevolusi pemikiran manusia dan karena itu ada banyak dalam Al-Quran dan dalam ajaran Nabi Suci (SAW) yang merupakan bahan sumber untuk Filsafat Islam dan epistemologi. 

Dengan lahirnya Islam ada juga kelahiran berbagai cabang Pengetahuan dan Filsafat Islam adalah salah satu cabang paling penting.

Alasan yang mendasari mengapa Al-Quran telah menjadi sumber epistemologi dalam Islam sejak diturunkan ke Utusan Allah yang terakhir adalah bahwa ada banyak ayat dalam Al-Quran yang sangat mendorong umat Islam dan semua manusia untuk mengejar tanpa henti, belajar tak kenal lelah, keberanian intelektual dan fenomena alam lainnya.

Kategori-kategori yang digunakan dalam Al-Qur'an tentang dasar epistemologi Islam, telah menggunakan berbagai kategori seperti Tadabbur untuk menekankan pada pemahaman Al-Quran secara mendalam, Tafaquh untuk memahami semangat keagamaan di balik perintah din di Dengan cara yang mencakup, Tafakur untuk mempelajari sifat alam semesta dan berbagai fenomena secara ilmiah, Taaqul untuk merenungkan pengertian akal sehat yang memiliki implikasi moral dan spiritual yang lebih dalam bagi nasib manusia, dan akhirnya 'Ilm dan Hikmah untuk mengarahkan pikiran manusia ke tingkat tertinggi puncak pengetahuan dan keunggulan kognitif dan persuasif, mencakup semua kontur dan cakrawala sains dan teknologi. 

Epistemologi Islam, dengan demikian, adalah subjek yang luas dan tersebar di teori-teori pengetahuan yang diprakarsai di bawah bimbingan Al-Quran dan perlindungan Nabi (SAW).

Visi Al-Qur'an tentang alam semesta dalam pembentukan paradigma epistemologis Islam, Al-Quran dan Sunnah telah memberikan dorongan dan menjadikan subjek ini sangat maju dan berkembang.

Bahwa hubungan antara Islam dan bahasa Arab sangat dekat sejak wahyu Al-Quran dalam bahasa Arab, dan dengan demikian ajaran dan prinsip-prinsipnya juga disampaikan dan diajarkan kepada para sahabat nabi dalam bahasa Arab. 

Mengingat pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa utama di mana epistemologi Islam diperkuat dan dipertahankan hingga saat ini, Islam dan bahasa Arab yang dianggap kaya telah saling menguatkan.

Tiga langkah yang harus diselesaikan dalam mengislamkan pengetahuan, sebagai berikut: 

(1) semua ilmu sosial dan manusia dari Barat harus diperiksa secara kritis dan kelemahan dan kekurangannya harus ditunjukkan. di luar. Elemen-elemen yang bertentangan dengan ideologi kita juga harus ditunjukkan.

(2) sisanya harus dikodekan ulang dan dinyatakan kembali agar sepenuhnya sesuai dengan tradisi intelektual kita.

(3) itu harus diintegrasikan dengan literatur klasik kita pada subjek sehingga, di satu sisi, eksperimen intelektual dan penemuan dunia modern sepenuhnya dan sesuai digunakan, dan di sisi lain, ilmu tradisional kita juga direvitalisasi dan dihidupkan kembali.


Semoga bermanfaat...

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (bag.16), "Quantum Puasa dan Spiritual"

 



 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya. 

Apabila aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mendapatkan sebuah lompatan sehingga mampu mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah. 


Ybia Indonesia - Inilah yang dimaksud dengan quantum puasa. Lompatan tersebut diraih dengan berusaha memperbanyak amal baik secara vertikal maupun horizontal yaitu dengan cara ibadah kepada Allah dan banyak berbuat baik antar sesama dan alam sekitarnya secara kontinyu."

Puasa Ramadhan adalah momentum untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala sesuatu termasuk diri sendiri. 

Kekekalan ini terasa ketika tidak makan dan minum, serta menahan hawa nafsu maka yang terjadi adalah kun fayakun, energi ilahi yang luar biasa dahsyat akan mengalir dalam diri kita.

Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Hukum ini berlaku untuk semua energi bahkan seluruh aspek termasuk aspek kehidupan manusia. 

Aktivitas yang kita lakukan setiap hari merupakan perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Contohnya, saat kita makan, kita mengubah energi kimia dari makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk bergerak dan berpikir. Energi tersebut tidak akan berubah saat kita diam.

Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman, melainkan karena La Haula Wa La Quwwata Ila Bil-Lah (tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah). 

Ungkapan tauhid ini mengandung rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-Nya yang abadi yaitu Energi Ilahi. 

Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan-Nya semata.

Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya.

Bulan ramadhan adalah bulan penuh energi, sebab di dalamnya turun wahyu Alquran. Dan di dalam Alquran terdapat himpunan energi yang tidak ada batasnya. 

Jangan kita menelantarkan kesempatan ini, baik energi lahiriah, dan energi ilmiah, maupun energi spiritual-religius. 

Inilah yang harus kita sadari bersama dalam ibadah puasa pada bulan Ramadan, yaitu menyadari adanya energi yang luar biasa besar, luas dan besarnya, di dalam Alquran. 

Energi ini perlu kita gali kembali. Perlu kita himpun kembali untuk meningkatkan ketakwaan, keimanan dan keilmuwan serta keamalan kita.

Definisi Quantum, menurut para ahli fisika adalah suatu unit terkecil yang gelombangnya bisa memancarkan atau menyerap energi. 

Pakar Fisika lainnya berbendapat Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. 

Dengan mengambil persamaan Einstein tentang energi, yakni E = m.c2, E adalah energi (baca: potensi dalam diri manusia), m adalah materi (baca: fisik manusia) dan c adalah suatu konstanta (baca: pelipat ganda) yang besarnya 3 x 108 (m/s), maka setiap diri manusia memiliki suatu potensi dalam diri untuk dilipatgandakan menjadi suatu energi yang dahsyat (baca: kekuatan) untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. 

Untuk itu, diperlukan suatu keyakinan untuk “mengkuantumkan” diri (baca: membangkitkan) potensi yang ada dalam diri.

Teori kuantum telah membuktikan bahwa pada tataran mikrokospis, semua materi adalah energi. 

Tubuh kita yang secara kasat mata kita lihat sebagai benda padat, sesungguhnya tidaklah padat, melainkan “ruang hampa” yang memiliki getaran energi yang tidak henti-hentinya. 

Seluruh aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah.

Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan :


ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

(Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun 'alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in 'alīm)

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya ? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.

Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. 

Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift. 

Dalam kondisi seperti ini (dalam orde cahaya) harus dijelaskan menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.

Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam di bumi. Hasil pengukuran mereka ternyata berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.

Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.

Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa terasa lama tergantung dari posisi pengamatnya. 

Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.

Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 108 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. 

Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisi kan. 

Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.

Ramadhan sebagai bulan penuh energi karena memiliki banyak kelebihan dan hikmah yang besar bagi manusia baik secara lahiriah maupun bathiniah. 

Ibadah di bulan puasa dilipat-gandakan oleh Allah sehingga memungkinkan manusia untuk menambah potensi energi spiritual-relegiusnya yang mengakibatkan pacaran gelombang elektromagnetik dari diri (tubuh) manusia akan semakin kuat. 

Gelombang elektromagnetik tersebut adalah bentuk hasil dari latihan yang dilakukan selama ibadah di bulan puasa.

Allah SWT telah menyediakan fasilitas yang banyak di bulan ramadhan agar manusia berlomba-lomba mendapatkan kekuatan atau energi yang optimal karena semua kehidupan adalah energi. 

Tubuh manusia secara fisik adalah materi, sebagai hamba, tujuannya adalah untuk meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. 

Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. 

Seperti yang telah diuraikan diatas, Quantum puasa dalam perspektif fisika. Kata quantum dalam literatur berarti banyaknya sesuatu, secara mekanik berarti studi tentang gerakan”. 

Jadi mekanika kuantum adalah ilmu yang mempelajari tentang partikel-partikel sub atom yang bergerak. Namun demikian kekeliruan berpikir tentang partikel sub atom ini merupakan banyaknya benda. Partikel sub atom bukan merupakan kecenderungan energi dengan potensial. 

Energi sebagai implikasi dalam istilah mekanika tidak pernah statis. Energi selalu bergerak secara terus menerus, tidak pernah berhenti berubah dari gelombang menjadi partikel dan dari partikel menjadi gelombang, membentuk atom-atom dan molekul yang seterusnya membentuk dunia materi. 

Ini benar-benar hal yang menakjubkan yang terlihat stabil dan statis, apabila kita cermati ternyata dunia materi ini tersusun energi. 

Sebagai bulan penuh energi, tentu memiliki banyak hikmah yang besar bagi manusia. Bagi siapa saja yang beribadah di bulan ramadhan niscaya akan dilipatgandakan pahala oleh Allah. Dengan demikian energi positif melalui gelombang elektromagnetik, akan mengalir menambah potensi energi spiritual religius dalam diri manusia. 

Gelombang elektromagnetik tersebut adalah bentuk hasil dari meditasi yang dilakukan selama ibadah di bulan ramadan. 

Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya. Apabila aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mendapatkan sebuah lompatan sehingga mampu mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah. 

Inilah yang dimaksud dengan quantum puasa. Lompatan tersebut diraih dengan berusaha memperbanyak amal baik secara vertikal maupun horizontal yaitu dengan cara ibadah kepada Allah dan banyak berbuat baik antar sesama dan alam sekitarnya secara kontinyu. 

Telah banyak fasilitas yang Allah sediakan di bulan ramadan, sehingga tidak ada alasan manusia untuk tidak dapat kekuatan atau energi yang optimal, karena semua kehidupan di bulan ramadhan adalah energi. E = mc2 adalah rumus fisika yang terkenal dalam fisika quantum yaitu Massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan Energi. 

Tubuh manusia secara fisik adalah materi, sebagai hamba, tujuannya adalah untuk meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. 

Melalui artikel ini #kaP mengajal semuanya  untuk senantiasa bisa melakukan lompatan jauh ke depan dalam mengisi dan memaknai setiap datangnya bulan suci ramadhan agar puasa yang kita lakukan tidak sia-sia, dan bernilai tinggi di hadapan Allah. 

Terdapat banyak jalan dan hakikat yang perlu jadi pedoman untuk sampai ke ketinggian ruhaniah dan spiritual ramadhan. 

Untuk sampai ke puncak ruhaniah tersebut, setiap waktu selama ramadhan akan diisi dengan amal ibadah, seperti salat wajib dan salat sunah, tadarus Alquran, shalat tarawih dan salat witir, qiyamull lail, shadaqah, i’tikaf, thalabul ilmi, berzikir, tidak berghibah, Taddabur Alam, Saturahim, dan lain-lain.

Wallahu A’lam…

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Pererat Persaudaraan, E-SAS Grup gelar Buka Puasa Bersama




Depok, Ybia Indonesia - Suasana yang begitu akrab terlihat ketika acara buka puasa bersama yang berlokasi di restoran the Margo city Depok pada Rabu, (5/4/23) pukul 16.00 WIB - selesai. Acara tersebut dihadiri oleh segenap pimpinan dan jajaran E-SAS Grup. Tampak hadir dalam kesempatan itu, Hj. Eti Sumiati, H. Achmad Syarifudin S.E, tim manajemen yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) dan jajarannya. 

Ketika kumandang adzan magrib telah dilantunkan, semua yang hadir terlebih dahulu menikmati hidangan takjil, kemudian dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah, barulah setelah itu menikmati hidangan berbuka puasa dengan berbagai menu yang telah disediakan.


Setelah selesai menikmati hidangan berbuka puasa, Hj. Eti Sumiati memberikan sambutan singkat sekaligus mempersilahkan kepada semua yang hadir. Dalam kesempatan itu juga disampaikan sosialisasi dari tim PT. YBIA umroh Indonesia.

Pantauan awak media saat berada di lokasi, tampak terlihat suasana kehangatan, keakraban, dan persaudaraan. (La)