WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Syekh Asnawi Caringin: Ulama Besar dan Pejuang Kemerdekaan Banten



Ybia Indonesia - Syekh Asnawi Caringin adalah seorang ulama besar dari Banten yang lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten pada tahun 1850. Beliau merupakan keturunan Sultan Agung dari Mataram atau Raden Patah.


Pendidikan dan Perjuangan

- Syekh Asnawi memulai pendidikannya di Mekkah pada usia 9 tahun dan berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani.

- Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, beliau kembali ke Banten dan mendirikan pesantren di Caringin, yang kemudian dikenal sebagai Madrasah Masyarikul Anwar.

- Beliau juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang aktif melawan penjajahan Belanda.


Pengorbanan dan Wafat

- Syekh Asnawi pernah ditahan dan diasingkan ke Cianjur, namun tetap berdakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar.

- Beliau wafat pada tahun 1937 dan dimakamkan di dekat Masjid Caringin, yang kini menjadi tempat ziarah bagi masyarakat.


Warisan

- Syekh Asnawi meninggalkan 23 putra dan putri, dan keturunannya masih meneruskan perjuangan dan dakwahnya.

- Beliau adalah contoh ulama yang gigih menentang penjajahan dan memiliki ilmu bela diri, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat Banten dan Indonesia. 

Toleransi Tinggi: Kisah Pertemuan Buya Hamka dan KH Idham Chalid di Kapal Haji



Ybia Indonesia - Dua tokoh besar, Buya Hamka dari Muhammadiyah dan KH Idham Chalid dari Nahdlatul Ulama, bertemu di atas kapal laut dalam perjalanan haji. Pertemuan ini menunjukkan keakraban dan toleransi antar ulama besar.


Penghormatan Shalat Subuh

- Saat KH Idham Chalid menjadi imam, beliau tidak membaca doa qunut untuk menghormati Buya Hamka sebagai makmum.

- Ketika Buya Hamka yang menjadi imam, beliau membaca doa qunut untuk menghormati KH Idham Chalid, membuat jamaah terharu.


Keteladanan

- Pertemuan ini menunjukkan akhlak mulia, di mana perbedaan fiqih tidak memecah belah, melainkan mempererat persaudaraan.

- Kisah ini menegaskan bahwa kedua tokoh tersebut mengutamakan kerukunan dan persatuan umat di atas perbedaan tata cara ibadah.


Pesan

- Perbedaan apalagi yang harus kita besar besarkan, bukankah perbedaan itu Rahmat?

- Mari kita tiru akhlak mulia Buya Hamka dan KH Idham Chalid dalam menjaga persatuan dan toleransi. 

Usman Debot: Jawara Cibinong yang Menggetarkan Tanah Jawa



Ybia Indonesia - Di tengah kobaran revolusi, lahirlah nama yang tak bisa dipandang sebelah mata: Usman Debot. Bukan sekadar jawara kampung, bukan sekadar pemimpin laskar, ia adalah simbol perlawanan dari pinggiran, dari bukit kapur Cibinong hingga hutan-hutan Jonggol.


Laskar Bambu Runcing, Api Perlawanan 100%

- Usman Debot memimpin pasukan Bambu Runcing, menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi.

- Wilayah gerilya Debot membentang dari Citeureup, Cibinong, Cileungsi, Kampung Daiyeh, Jonggol hingga ke selatan.

- Basisnya berada di bukit-bukit kapur, gua-gua alami yang menjadi benteng sekaligus sumber logistik.


Tak Mempan Peluru?

- Di mata rakyat, Usman Debot bukan hanya pemimpin, ia legenda hidup.

- Banyak yang bersaksi peluru tak mampu menembus tubuhnya, namun sebenarnya karena taktik dan keberanian.


Benturan dengan Republik

- Usman Debot menolak kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) tentara, memandang perundingan sebagai jalan yang terlalu lunak terhadap Belanda.

- Benturan pun tak terelakkan, namun akhirnya Usman Debot memilih jalan damai dan menyerahkan diri kepada Batalion 313 Divisi Siliwangi.


Warisan

- Usman Debot wafat pada 1990, namun namanya tetap hidup di ingatan warga Cibinong dan sekitarnya sebagai jawara, sebagai pemberontak, sebagai bagian dari mozaik rumit revolusi Indonesia.

- Ia adalah potret zaman ketika keberanian, idealisme, dan konflik bersatu dalam satu nama demi sebuah kata yang tak pernah bisa ditawar "MERDEKA". 

Mendidik Anak Islami: Tips Utama untuk Orang Tua



Ybia Indonesia - Pendidikan akhlak dan agama bagi anak adalah pemberian orang tua yang paling utama. Namun, banyak orang tua yang lebih fokus pada fasilitas materi daripada pendidikan akhlak dan agama.


5 Tips Mendidik Anak Islami:

1. Ajarkan ilmu dan amal agama: Ajarkan anak tentang pentingnya ilmu dan amal agama sejak dini.

2. Jadilah tauladan: Anak lebih suka meniru daripada mendengarkan, jadi jadilah orang tua yang baik sebagai tauladan.

3. Tanamkan jiwa sosial: Ajarkan anak untuk memiliki jiwa sosial yang baik dan empati yang tinggi.

4. Nasehatilah dengan sabar: Jangan pernah bosan untuk menasehati anak, walaupun ia sudah dewasa.

5. Berdoa untuk kebaikannya: Senantiasa berdoa untuk kebaikan anak Anda.


Dengan menerapkan tips-tips di atas, Anda dapat membantu anak Anda menjadi pribadi islami dan berbudi pekerti yang baik. 

Prof. Dr KH Tolchah Hasan: Mengapa Tidak Mendirikan Pesantren?



Ybia Indonesia - Prof. Dr KH Tolchah Hasan adalah salah satu tokoh intelektual dan ulama yang meninggalkan jejak yang sangat besar dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Beliau tidak mendirikan pesantren karena khawatir akan gagal dalam melakukan kaderisasi, terutama dari keluarga sendiri. Oleh karena itu, beliau lebih memilih untuk merintis lembaga pendidikan modern seperti madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi.


Mengapa Tidak Mendirikan Pesantren?

- Prof. Tolchah Hasan khawatir akan gagal dalam melakukan kaderisasi, terutama dari keluarga sendiri.

- Beliau ingin memastikan regenerasi berjalan lancar sesuai sistem yang dibangun.

- Oleh karena itu, beliau lebih memilih untuk merintis lembaga pendidikan modern.


Warisan Pemikiran

- Prof. Tolchah Hasan menekankan paham Ahlussunnah Wal Jamaah yang toleran dan mampu berakulturasi dengan budaya masyarakat.

- Beliau mengusulkan modernisasi sistem pendidikan pesantren supaya pesantren mampu mengikuti perkembangan zaman.

- Semoga semangat pemikiran dan perjuangan Prof Tolchah Hasan mampu kita teruskan sepanjang masa. 

Sultan-Sultan Kesultanan Kasepuhan Cirebon: Daftar Lengkap



Ybia Indonesia - Kesultanan Kasepuhan Cirebon adalah salah satu dari tiga kesultanan yang terbentuk setelah pembagian Kesultanan Cirebon pada tahun 1679. Berikut adalah daftar Sultan yang memimpin Kesultanan Kasepuhan Cirebon:

- Sultan Sepuh I: Pangeran Raja Adipati Syamsudin Martawijaya (1679-1697)

- Sultan Sepuh II: Sultan Sepuh Jamaludin (1697-1723)

- Sultan Sepuh III: Sultan Sepuh Jaenudin (1723-1753)

- Sultan Sepuh IV: Sultan Sepuh Amir Sena Muhammad Jaenudin (1753-1773)

- Sultan Sepuh V: Sultan Sepuh Safiudin Muhammad Khaerudin / Sultan Matangaji (1773-1786)

- Sultan Sepuh VI: Sultan Sepuh Hasanuddin (1786-1791)

- Sultan Sepuh VII: Sultan Sepuh Joharuddin (1791-1815)

- Sultan Sepuh VIII: Sultan Sepuh Raja Udaka (1815-1845)

- Sultan Sepuh IX: Sultan Sepuh Raja Radjaningrat (1845-1880)

- Sultan Sepuh X: Sultan Sepuh Raja Atmadja (1880-1899)

- Sultan Sepuh XI: Sultan Sepuh Aluda (1899-1942)

- Sultan Sepuh XII: Sultan Sepuh Alexander Rajaningrat (1942-1969)

- Sultan Sepuh XIII: Sultan Sepuh Maulana Pakuningrat (1969-2010)

- Sultan Sepuh XIV: Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat (2010-2020)

- Sultan Sepuh XV: PRA Luqman Zulkaedin (menjabat sejak 2020)


Kondisi Terkini: Polemik Takhta

Saat ini, terdapat dinamika internal terkait kepemimpinan di Keraton Kasepuhan. Selain PRA Luqman Zulkaedin, terdapat beberapa pihak lain yang mengklaim takhta berdasarkan garis keturunan tertentu, di antaranya:

- Rahardjo Djali (dikukuhkan oleh pendukungnya sebagai Sultan Aloeda II)

- Heru Nur Syamsi (mengaku sebagai Sultan berdasarkan silsilah keturunan Sultan Sepuh IV)


Sumber: Wikipedia 

Djamaludin Malik: Sang Raja Minang yang Menjadi Bapak Industri Film Indonesia



Ybia Indonesia - Djamaludin Malik adalah sosok yang membangun fondasi industri perfilman nasional dari nol hingga diakui dunia. Ia tidak hanya memproduksi gambar bergerak, tetapi juga merupakan pelopor kesejahteraan insan film.


Dari Pegawai Pelayaran Menjadi Konglomerat

- Lahir di Padang pada 13 Februari 1917, Djamaludin mewarisi darah bangsawan dari keturunan Raja Pagaruyung

- Mengawali karier sebagai pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij

- Insting bisnisnya yang tajam membawanya menjadi pengusaha besar melalui Djamaludin Malik Concern


Membangun Kejayaan Persari

- Mendirikan kelompok sandiwara Bintang Timur untuk menghibur para pejuang kemerdekaan

- Memfasilitasi artis dan sutradaranya dengan mobil Chevrolet dan rumah di kawasan elit Kebayoran Baru

- Produksi film berwarna melalui film Rodrigo de Villa (1952)

- Gagas Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1955

- Membawa Indonesia bergabung dengan Federasi Produser Film se-Asia


Politik dan Benteng Budaya Muslim

- Mendirikan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani

- Menjabat sebagai anggota DPRGR/MPRS dan Ketua III Pengurus Besar Nahdlatul Ulama


Akhir Hayat Sang Maestro

- Menderita penyakit komplikasi yang memaksanya menjalani perawatan di Muenchen, Jerman Barat

- Wafat pada 8 Juni 1970, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak

- Diberi gelar Bintang Mahaputra Adipradana II pada tahun 1973