WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Abuya Dimyati: Ulama Kharismatik dari Banten



Ybia Indonesia - Abuya Dimyati, yang lebih dikenal dengan KH. Muhammad Dimyati al-Bantani, adalah seorang ulama kharismatik dan tokoh sufi terkemuka asal Pandeglang, Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1920 dan wafat pada 3 Oktober 2003 bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H dalam usia 78 tahun.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok alim yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius melalui bimbingan berbagai ulama besar di Nusantara. Beliau memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), sehingga mendapat julukan “Mbah Dim” atau “Si Kitab Banyak”.

Beliau juga merupakan seorang mursyid dalam Tarekat Syadziliyah, yang membimbing para murid dalam kehidupan spiritual dan pengamalan tasawuf. Abuya Dimyati mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Cidahu, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di wilayah Banten.

Melalui pesantren ini, beliau mencetak banyak santri yang mendalami ilmu agama dengan pendekatan tradisional yang kuat. Di samping mengajar, beliau juga menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya Minhaj al-Istifa, Al-Hadiyyah al-Jalaliyyah, dan Bahjah al-Qalaid, yang mencerminkan kedalaman ilmu serta pemikirannya.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 011 Abuya Dimyati Cidahu Banten

KH. Muhammad Romli Tamim: Ulama Kharismatik dari Rejoso Jombang



Ybia Indonesia - KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan, Madura, sebagai putra dari KH. Tamim Irsyad. Beliau dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan menimba ilmu agama kepada ayahnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, dan KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang disegani dan memiliki kealiman dan ketawadhu'an yang tinggi. Beliau turut mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dan dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dengan dedikasi besar dalam dakwah, pendidikan, dan amalan spiritual, KH. Muhammad Romli Tamim meninggalkan warisan keilmuan dan tradisi yang terus hidup di tengah umat hingga wafat pada 6 April 1958.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 042 KH. Muhammad Romli Tamim Rejoso Jombang

KH. Shonhaji Chasbullah: Guru Thariqah Gus Dur yang Sederhana



Ybia Indonesia - KH. Shonhaji Chasbullah, yang lebih dikenal dengan Mbah Jimbun Kebumen, adalah seorang ulama kharismatik yang lahir sekitar tahun 1916 M. Beliau belajar agama di beberapa pesantren, termasuk Pesantren Lerap, Pesantren Jetis, dan Pesantren Sumolangu, serta melanglang buana ke berbagai pesantren lainnya.

Mbah Jimbun dikenal sebagai guru thariqah Gus Dur dan memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Beliau tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, tetapi lebih fokus pada amal shaleh. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah tentang pentingnya kesederhanaan dan selalu bersama Allah.

Beliau wafat pada hari Senin 17 Maret 2008 M. sekitar pukul 17.00 WIB, dalam usia 92 tahun, dan dimakamkan di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 030 KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen

K.H. Mahfudz Siroj: Ulama Kharismatik dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso



Ybia Indonesia - K.H. Mahfudz Siroj adalah seorang ulama kharismatik yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, dan menjadi bagian dari keluarga besar masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri. Beliau menikah dengan Nyai Hj. Badriyah Djazuli, putri dari pendiri pesantren tersebut, KH. Ahmad Djazuli Usman.

K.H. Mahfudz Siroj lahir pada tahun 1939 dan wafat pada hari Minggu Legi, 12 Juli 2009, bertepatan dengan 19 Rajab 1430 H. Beliau dikenal sebagai sosok kiai yang tenang, penuh adab, dan sangat dihormati oleh para santri maupun masyarakat.

Beliau memiliki peran penting dalam membimbing santri serta menjaga tradisi keilmuan salaf agar tetap lestari. Salah satu pesan yang sering dikenang dari beliau adalah tentang pentingnya adab, yang harus tumbuh dari dalam hati.

Dengan kepribadiannya yang lembut dan penuh keteladanan, K.H. Mahfudz Siroj meninggalkan kesan mendalam serta menjadi figur yang terus dikenang dalam tradisi pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 043 KH. Mahfudz Siroj Ploso Kediri

Kiai Abd. Adzim Sidogiri: Takbiratul Ihram yang Menggetarkan



Ybia Indonesia - Kiai Abd. Adzim Sidogiri adalah seorang kiai yang sangat disiplin dalam menjaga waktu salat. Beliau membawa tiga jam untuk perbandingan dan memukul bel kloning untuk menentukan waktu salat yang tepat. Masyarakat Sidogiri sangat menghargai ketepatan waktu salat Kiai Abd. Adzim, sehingga mereka berpegang pada waktu beduk Sidogiri.

Kiai Abd. Adzim tidak pernah salat di akhir waktu, bahkan jika ada tamu, beliau tidak segan-segan meninggalkannya untuk salat berjamaah di masjid. Sebelum salat, beliau duduk terlebih dahulu sekitar 15 menit, kemudian berdiri langsung takbir, "Allâhu Akbar!". Konon, saat takbiratul ihram, kaca-kaca dan dinding di masjid bergetar.

Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih menjelaskan bahwa getaran itu disebabkan oleh istighrâq, yaitu di hati meniadakan selain Allah. Kiai Abd. Adzim mengharuskan santri berjamaah lima waktu, dan beliau tidak segan-segan mengejar santri yang tidak mengikuti salat berjamaah.

Suatu ketika, Kiai Abd. Adzim mengejar santri yang sedang mengambil mangga sambil berteriak, "Salat, salat, salat!!". Santri-santri itu lari pontang-panting, mengambil wudu, dan pergi ke masjid. Anehnya, Kiai Abd. Adzim sudah mengimami satu rakaat ketika mereka tiba di masjid.

Sumber: buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri (1)" diterbitkan oleh 'Sidogiri Penerbit'

Biografi KH. Tubagus Muhammad Falak: Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah

 


Ybia Indonesia - KH. Tubagus Muhammad Falak, yang dikenal dengan sebutan Mama Falak Pagentongan, adalah seorang kiai dan mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang lahir pada tahun 1842 di Sabi, Pandeglang, Banten. Beliau berasal dari keluarga kiai pesantren dan keturunan keluarga kesultanan Banten.

Mama Falak mendapatkan pendidikan agama Islam dari orang tuanya, KH. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisyn, sejak kecil. Beliau kemudian memperdalam pengetahuannya di Cirebon dan beberapa ulama Banten. Nama "Falak" di belakang namanya diberikan oleh gurunya, Sayyid Affandi Turki, karena kecerdasan dan kemampuan beliau dalam menguasai ilmu falak.

Mama Falak dikenal luas sebagai pemimpin rohani dalam gerakan sufi dan mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang mengambil ijazah langsung dari Syekh Abdul Karim Banten. Beliau sangat aktif dalam melakukan kegiatan dakwah dan syiar Islam di daerah Bogor dan sekitarnya.


Sumber: Majelis Ta'lim Al Munawwarah

Saudara Seiman, Ukhuwah Islamiyyah: Mengikat Tali Persaudaraan dalam Islam



Ybia Indonesia - Dalam Islam, kita semua adalah saudara seiman, terikat oleh tali ukhuwah Islamiyyah yang kuat. Rasulullah SAW bersabda, "Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ukhuwah Islamiyyah adalah konsep persaudaraan yang berdasarkan pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kita semua adalah anak-anak Adam, dan tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain kecuali dengan taqwa.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kamu itu." (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa ukhuwah Islamiyyah adalah prinsip dasar dalam Islam, yang harus dijaga dan diperkuat.

Sebagai saudara seiman, kita harus saling mencintai, menghormati, dan membantu satu sama lain. Kita harus saling memaafkan dan memohon ampunan, serta menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

Rasulullah SAW juga bersabda, "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa mencintai saudara seiman adalah bagian dari iman.

Jadi, mari kita jaga dan perkuat ukhuwah Islamiyyah, serta menjadi saudara seiman yang baik dan setia. Semoga kita semua diampuni dan diberkahi oleh Allah SWT. (Kj)