WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Perjalanan Spiritual Syaikh Hisyam Al-Kabbani: Guru Para Wali dan Ulama Dunia



Ybia Indonesia - Syaikh Muhammad Hisham Al-Kabbani, seorang ulama sufi besar yang berasal dari Amerika Serikat, memiliki perjalanan spiritual yang luar biasa. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dan telah menjadi guru bagi jutaan Muslim di seluruh dunia.


Latar Belakang Syaikh Hisyam Al-Kabbani

Syaikh Hisyam lahir pada 13 Safar 1364/28 Januari 1945 di Beirut, Lebanon. Beliau berasal dari keluarga Kabbani yang merupakan salah satu keluarga Muslim tertua di Beirut. Syaikh Hisyam telah menemani Syaikh Abdullah ad-Daghestani dan Syaikh Muhammad Nadzim al-Haqqani sejak usia 15 tahun.


Hijrah dan Dakwah

Beliau telah melakukan perjalanan ke berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Eropa, dan Timur Jauh. Pada tahun 1991, Syaikh Hisyam memulai dakwah di Amerika Serikat dan mendirikan yayasan Thariqat Naqsyabandi. Beliau juga telah membuka 13 pusat sufi di Kanada dan Amerika Serikat.


Kunjungan ke Indonesia

Syaikh Hisyam telah mengunjungi Indonesia beberapa kali, yaitu pada tahun 1997, 1998, dan 2000. Beliau telah mendirikan Zawiyah Naqsyabandi Haqqani di Jakarta dan telah memiliki ribuan murid di Indonesia.


Pesan dan Ajaran

Syaikh Hisyam telah menyebarkan ajaran Islam yang lembut dan penuh kasih sayang. Beliau telah menjadi guru bagi para wali dan ulama, dan telah memiliki jutaan murid di seluruh dunia. 

Kisah Masa Kecil Abah Guru Sekumpul: Telita dan Kesabaran

 



Ybia Indonesia - Abah Guru Sekumpul, nama lengkap beliau adalah Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani Al-Banjari, lahir pada malam Rabu 11 Februari 1942 (27 Muharam 1361 Hijriah) di desa Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.


Masa Kecil yang Penuh Disiplin

Waktu masa kecil beliau selalu berada di sisi orang tua dan nenek beliau yang bernama Salbiyah. Mereka menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Al-Qur'an. Karena itulah, guru pertama dari abah Guru Sekumpul adalah orang tua dan nenek beliau sendiri.


Sifat Mulia sejak Kecil

Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia yaitu sangat penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap semua. Kasih sayang yang diajarkan dan ditunjukkan oleh ayah beliau sendiri.


Kisah Kesabaran Ayah

Suatu ketika saat hujan turun deras, sedangkan rumah abah Guru Sekumpul sekeluarga sudah sangat tua dan reot. akibatnya air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah. Dan tubuh beliau abah guru sekumpul dilindungi sang ayah dari hujan dan ayah beliau rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.


Pelajaran dari Ayah

Ayah beliau Syekh Abdul Ghani bin Abdul Manaf adalah seorang yang saleh dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Kisah duka dan kesulitan sekaligus juga adalah intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha agar mendapatkan rezeki yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem manajemen usaha disampaikan kepada generasi sekarang lewat cerita-cerita.


Sistem Manajemen Usaha Ayah

Setiap keuntungan dagang dibagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan, sehingga berkah hidupnya. 

Hakikat Kehidupan Dunia: Persinggahan Sementara



Ybia Indonesia - Apabila manusia sudah berada di alam barzakh, barulah dia benar-benar nampak nilai masa yang pernah dia miliki. Ketika itu, bukan harta yang diminta, bukan kedudukan yang dicari, tetapi peluang untuk kembali walau seketika, hanya untuk bersujud, berzikir dan memperbaiki amal.


Penyesalan di Alam Barzakh

Al-Quran sendiri menggambarkan bagaimana manusia merayu supaya dikembalikan ke dunia agar dapat beramal soleh, namun penyesalan itu datang ketika peluang sudah tertutup. Ironinya, orang yang masih hidup pula sering merasakan masa seolah-olah panjang. Ibadah ditangguh, taubat dilengah, dan dunia dikejar tanpa henti.


Hidup di Dunia Hanyalah Persinggahan Sementara

Sedangkan hakikatnya hidup ini sangat singkat jika dibandingkan dengan akhirat. Ulama menyamakan kehidupan dunia seperti dua jam sahaja sebelum bermulanya perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan seseorang diberi masa dua jam untuk mengumpul bekalan bagi perjalanan yang tiada penghujung. Orang yang bijak pasti akan fokus mengisi bekalan, bukan leka dengan perkara yang sia-sia.


Pelajaran yang Dapat Dipetik

- Masa muda bukan jaminan panjang umur.

- Kesihatan bukan jaminan sempat bertaubat.

- Peluang beribadah hari ini belum tentu ada esok.

Sebab itu, orang yang sedar hakikat ini akan melihat setiap masa yang ada adalah peluang untuk menambah pelaburan abadi. Dia tidak menunggu “masa sesuai”, kerana dia faham masa itu sendiri sedang berkurang. 

Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid Sediakan Pelayanan Komprehensif bagi Calon Jemaah Umrah

 


Sukabumi, Ybia Indonesia - Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid menyediakan pelayanan komprehensif bagi calon jemaah umrah, termasuk pendampingan pembuatan pasport dan vaksin ke klinik kesehatan pada hari Selasa, 10 Februari 2026.

Ela Nurlaela, salah satu manajemen Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, menyatakan bahwa Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima kepada calon jemaah umrah, sehingga mereka dapat fokus pada persiapan spiritual dan mental untuk melaksanakan ibadah umrah.

"Dengan tim yang berpengalaman dan profesional, kami memastikan bahwa setiap jemaah mendapatkan pelayanan terbaik dan siap untuk melaksanakan ibadah umrah dengan lancar dan nyaman," tambahnya.

Pelayanan yang disediakan oleh Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid meliputi pendampingan pembuatan pasport, vaksin ke klinik kesehatan, dan persiapan keberangkatan. Dengan demikian, calon jemaah umrah dapat merasa tenang dan nyaman dalam melaksanakan ibadah umrah. (Red)

KH Zainuddin: Ulama Kharismatik dari Mojosari, Nganjuk



Ybia Indonesia - KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 7. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan. Ketika menjadi santri di pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari.


Kehidupan dan Kepribadian

Kiai Zainuddin adalah sosok Kyai yang istiqomah, diakui kewaliannya dan sangat peduli dengan lingkungan. Ia memiliki selera humor tinggi sehingga santri-santri sangat akrab dengan beliau. Usai shalat Subuh, Kegiatan Kyai Zainuddin dilanjutkan dengan pengajian, dari kitab yang kecil maupun besar. Sekitar jam 07.00 diambilnya sapu lidi, dan dengan sigap ia membersihkan halaman rumah sampai ke kandang kuda, sapi, kambing dan ayam.


Kisah-Kisah Karomah

Ketenaran Kiai Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat awam untuk datang ke pesantrennya. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, minta doa dan berkah serta keselamatan. Salah satu contoh kisah karomahnya adalah ketika beliau meminta Jazuli, salah satu muridnya, untuk pulang ke Mojosari. Jazuli kemudian menjadi ulama besar dan dikenal sebagai Kiai Jazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Ploso, Kediri.


Pelajaran Hidup

Kisah hidup Kiai Zainuddin mengajarkan kita tentang pentingnya istiqomah, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan. Beliau juga menunjukkan bahwa dengan kesederhanaan dan keikhlasan, kita dapat mencapai kedudukan yang tinggi di mata Allah. 

Istiqamah Ngaji Sahih Bukhari Selama 50 Tahun, Berziarah Ke Makam Imam al-Bukhari

 



Ybia Indonesia - Pendiri Pondok Ploso, KH Jazuli Utsman, wafat tahun 1976. Kepengasuhan di Pondok Ploso bersifat Majelis Keluarga seluruh Putra Kiai Jazuli. Untuk Al-Falah Induk Pengasuh Utama adalah KH Nurul Huda Jazuli (Ayahanda Gus Kautsar). Jika dihitung hingga tahun 2026 ini, Kiai Nurul Huda mengasuh Pondok Ploso sudah 50 tahun. Teriring doa saya أبقاه الله بالسلامة والعافية والبركة وأفاض علينا من بركاته 


Ada dua kitab yang dijadikan wiridan Yai Huda. Wiridan maksudnya selalu diulang setelah khatam setiap hari, yaitu Sahih Bukhari setiap selesai Ashar, dan Tafsir Jalalain selesai Magrib. Untuk kitab lain terkadang sebagai penyerta saja, seperti Irsyadul Ibad, Bidayatul Hidayah, kadang di bulan Ramadan ngaos Taklimul Mutaallim, dan sebagainya.

Melihat postingan kawan-kawan alumni Ploso yang menyertai Mbah Yai Huda disambut resmi oleh Kedutaan Indonesia di Uzbekistan, pertemuan dengan pimpinan wilayah Uzbek, lebih terharu saat rombongan bisa khataman di area makam Imam al-Bukhari, serta Mbah Yai Huda diizinkan masuk ke depan makam Imam al-Bukhari, dengan melantunkan doa, mengingatkan saya pada peristiwa lama, di mana para penduduk Samarkand beramai-ramai ziarah ke makam Imam al-Bukhari dan berdoa di sisi makam Imam al-Bukhari. Al-Hafidz Adz-Dzahabi mencatat peristiwa ini pada tahun 464 H. Berikut kutipannya:


ﻗﺤﻂ اﻟﻤﻄﺮ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺑﺴﻤﺮﻗﻨﺪ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ اﻷﻋﻮاﻡ، ﻓﺎﺳﺘﺴﻘﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﺮاﺭا، ﻓﻠﻢ ﻳﺴﻘﻮا، ﻓﺄﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﺎﻟﺼﻼﺡ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺿﻲ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ: ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺃﻳﺎ ﺃﻋﺮﺿﻪ ﻋﻠﻴﻚ.


Di Samarkand pernah terjadi masa kekeringan selama beberapa tahun. Lalu penduduk Samarkand melakukan Salat Istisqo berkali-kali, namun belum diberi hujan. Kemudian datang seorang laki-laki yang saleh dan dikenal dengan kesalehannya kepada seorang Hakim di Samarkand. Orang tersebut mengajukan satu pendapat.


ﻗﺎﻝ: ﻭﻣﺎ ﻫﻮ؟ ﻗﺎﻝ: ﺃﺭﻯ ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ ﻭﻳﺨﺮﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻚ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ اﻹﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻭﻗﺒﺮﻩ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ، ﻭﻧﺴﺘﺴﻘﻲ ﻋﻨﺪﻩ، ﻓﻌﺴﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﻘﻴﻨﺎ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻘﺎﺿﻲ: ﻧﻌﻢ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ.


Hakim tersebut bertanya Apa pendapatmu? lalu dia berpendapat agar Hakim dan penduduk Samarkand datang ke makam Imam Al Bukhari, di kawasan Hartang. Kemudian berdoa meminta hujan di sisi makam tersebut. Semoga Allah memberi hujan kepada kita. Hakim tersebut berkata "bagus pendapatmu".


ﻓﺨﺮﺝ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭاﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻪ، ﻭاﺳﺘﺴﻘﻰ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺑﻜﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ، ﻭﺗﺸﻔﻌﻮا ﺑﺼﺎﺣﺒﻪ، ﻓﺄﺭﺳﻞ اﻟﻠﻪ -ﺗﻌﺎﻟﻰ- اﻟﺴﻤﺎء ﺑﻤﺎء ﻋﻈﻴﻢ ﻏﺰﻳﺮ ﺃﻗﺎﻡ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻪ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻻ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺃﺣﺪ اﻟﻮﺻﻮﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻣﻦ ﻛﺜﺮﺓ اﻟﻤﻄﺮ ﻭﻏﺰاﺭﺗﻪ


Kemudian Hakim tersebut bersama umat Islam datang ke makam Imam Bukhari meminta hujan kepada Allah. Orang-orang menangis di dekat makam juga meminta syafaat dengan pemilik makam. Lalu Allah menurunkan hujan yang sangat deras. Mereka berada di sekitar makam Imam Bukhari hingga 7 hari. Mereka tidak bisa kembali ke Samarkand karena banyaknya air hujan. (Siyar A'lam An-Nubala, 12/469)


Kilas Balik Makam Imam al-Bukhari 

Di tayangan Kick Andy, ada penjelajah dari Indonesia antar negara dengan naik mobil. Sesampainya di Uzbekistan ia ke makam Imam al-Bukhari. Oleh penjaga ditanya dari mana? Ia menjawab dari Indonesia. Ia pun disuruh masuk ke makam Imam al-Bukhari. Selesai ziarah dia bertanya pada penjaga, mengapa ia diizinkan masuk? Sementara peziarah lain hanya dari luar.

Penjaga tadi bercerita bahwa dulu makam Imam al-Bukhari tidak terawat. Saat negara Soviet akan didatangi Pak Karno, beliau minta diantar ke makam Imam al-Bukhari. Melihat makam Imam al-Bukhari yang tidak terurus, Pak Karno meminta kepada Presiden Soviet agar makam Imam al-Bukhari dibangun. Sejak saat itu, meskipun Soviet negara k*munis membuatkan Masjid dan sekolah Islam di sekitar makam Imam al-Bukhari. Penjaga tersebut berkata bahwa area makam Imam al-Bukhari terawat karena jasa Presiden Soekarno.

Jenazah yang Membuat Rasulullah Terdiam: Kisah Hutang yang Menahan Doa Langit

 


Ybia Indonesia - Madinah pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Angin berhembus pelan di antara rumah-rumah kaum Anshar. Langit cerah, seolah tak ada duka yang akan datang. Namun langkah-langkah kaki para sahabat menuju masjid terasa lebih berat dari biasanya. Di hadapan mereka terbujur seorang jenazah. Tubuhnya terbungkus kain kafan sederhana. Wajahnya tak terlihat, namun semua tahu: Ia adalah seorang muslim.


Rasulullah Menolak Menshalatkan

Jenazah itu dibawa ke hadapan Rasulullah, sebagaimana kebiasaan setiap kali ada muslim yang meninggal. Rasulullah berdiri. Wajah beliau teduh, namun sorot matanya tampak serius. Beliau tidak langsung mengangkat tangan untuk shalat. Beliau bertanya, dengan suara yang tenang namun menghentak hati: "Apakah ia meninggalkan hutang?" Para sahabat saling berpandangan. Hening sejenak. Salah seorang menjawab lirih, "Ya, wahai Rasulullah... ia meninggalkan hutang." "Berapa?" "Dua dinar." Dua dinar... Jumlah yang kecil bagi sebagian orang. Namun seketika, wajah Rasulullah berubah. Beliau menundukkan kepala. Lalu bersabda dengan kalimat yang membuat para sahabat terdiam: "Shallu 'alâ shâhibikum." "Shalatkanlah oleh kalian jenazah sahabat kalian ini."


Abu Qatadah Menanggung Hutang

Masjid sunyi. Hati para sahabat bergetar. Ini adalah Rasulullah, orang yang paling penyayang, yang selalu mendoakan umatnya, yang bahkan menangis memikirkan keselamatan mereka. Tapi hari itu, beliau mundur selangkah. Doa beliau tertahan. Bukan karena dosa zina. Bukan karena pembunuhan. Bukan karena kekufuran. Karena hutang. Jenazah itu tetap terbaring. Seolah menunggu satu hal yang belum selesai di dunia. Saat itulah Abu Qatadah رضي الله عنه melangkah maju. Hatinya tak tega melihat jenazah itu tertahan. Ia berkata dengan tegas, "Wahai Rasulullah, hutangnya menjadi tanggunganku." Rasulullah menatapnya, "Apakah engkau benar-benar akan menanggungnya?" "Ya, wahai Rasulullah." Barulah Rasulullah maju kembali. Beliau berdiri di hadapan jenazah. Mengangkat kedua tangan. Menshalatkannya.


Hikmah dari Kisah

Rasulullah tidak mengajarkan bahwa hutang itu haram. Namun beliau mengajarkan bahwa hutang itu berat. Berat sampai menahan doa Rasulullah, menahan ketenangan jenazah, menunda kelegaan di alam kubur. Dan kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan: Hutang bukan sekadar urusan dunia. Ia bisa menjadi beban sampai akhirat.