WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA: Ulama Kharismatik Bandung yang Mewarisi Ilmu dan Akhlak



Ybia Indonesia - Di tanah Jawa Barat, pernah hidup seorang ulama yang tidak banyak bicara tentang dirinya, namun sangat dalam pengaruhnya terhadap umat. Beliau adalah Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA, sosok ulama kharismatik yang dikenal karena keluasan ilmu, kewibawaan akhlak, dan kesederhanaan hidupnya.


Nasab & Kelahiran

Data pasti mengenai tempat dan tahun kelahiran beliau memang tidak ditemukan secara administratif. Beberapa riwayat menyebutkan beliau lahir sekitar tahun 1895, pada masa penjajahan, ketika pencatatan kelahiran belum menjadi perhatian utama masyarakat pribumi. Beliau adalah putra ke-8 dari 10 bersaudara, dari pasangan KH. Hasan Mustawi dan Hj. Siti Mariyah RA.

Beliau bukan hanya alim dalam keilmuan, tetapi juga berhasil menjadi ayah sekaligus guru utama bagi putra-putranya, yang kelak tumbuh menjadi ulama besar dan tokoh keilmuan nasional:

- KH. Ahmad Busyiri Muslim (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Burdah, Soreang)

- KH. Hidayat Taufiq (Pimpinan Majelis Al-Bariziyyah wal Mahmudiyyah, Soreang)

- Prof. Dr. (HC) KH. Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA (Pengasuh Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifa wal Mahmudiyyah, Sumedang)


Dari sisi nasab, beliau memiliki garis keturunan yang mulia:

- Dari jalur ibu, nasab beliau bersambung kepada Rasulullah ﷺ.

- Dari jalur ayah, beliau merupakan keturunan Syekh Qurrotul ‘Ain, penyebar Islam di tanah Sunda sebelum era Walisongo, yang memiliki putri Nyimas Subang Karancang, istri Prabu Siliwangi.


Warisan yang Terus Hidup

Walau jasad beliau telah kembali ke rahmatullah, namun ilmu, adab, dan jejak pendidikannya tetap hidup. Ia mengalir melalui para murid. Ia tumbuh melalui keturunannya. Ia berdiri tegak melalui pesantren dan majelis ilmu yang lahir dari didikannya. Beliau membuktikan bahwa ulama besar tidak selalu tampil megah, tetapi hadir dengan ketenangan, keteladanan, dan keberkahan yang panjang umurnya dalam sejarah umat.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA, serta menjadikan kita bagian dari mata rantai ilmu dan akhlak beliau. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 

Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Hamzanwadi): Pahlawan Pendidikan dan Perjuangan di NTB



Ybia Indonesia - Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang dikenal sebagai Hamzanwadi, adalah seorang Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat. Beliau merupakan seorang reformator pendidikan Islam di Lombok yang memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya.


Reformator Pendidikan Islam di Lombok

Sebelum kedatangannya, pendidikan Islam di Lombok umumnya masih bersifat tradisional (sistem halaqah). Sepulangnya dari Makkah (lulusan Madrasah Ash-Shaulatiyah), beliau memperkenalkan sistem klasikal (madrasah) yang lebih modern, terstruktur, dan memiliki kurikulum yang jelas.


Pendirian NWDI dan NBDI

Tonggak sejarah terpenting beliau adalah mendirikan dua lembaga pendidikan induk:

- NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah): Didirikan pada tahun 1937 khusus untuk kaum laki-laki.

- NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah): Didirikan pada tahun 1943 khusus untuk kaum perempuan.


Pelopor Pendidikan Perempuan

Pendirian NBDI merupakan langkah revolusioner pada zamannya. Beliau mendobrak tabu budaya saat itu yang membatasi akses pendidikan bagi perempuan. Beliau meyakini bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk cerdas dan menjadi tiang negara.


Integrasi Agama dan Kebangsaan

Pendidikan ala Hamzanwadi tidak hanya berfokus pada akhirat, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air (Hubbul Wathan minal Iman). Para santri dididik untuk menjadi pejuang kemerdekaan yang religius. Nama "Nahdlatul Wathan" sendiri berarti "Kebangkitan Tanah Air".


Organisasi Nahdlatul Wathan (NW)

Pada tahun 1953, beliau mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan untuk menaungi dan mengembangkan sekolah-sekolah yang telah didirikannya. Hingga kini, ribuan madrasah dan sekolah di bawah naungan NW tersebar di seluruh Indonesia, dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi.

Maulana Hamzanwadi adalah "Bapak Pendidikan NTB" yang berhasil mengubah wajah sosial masyarakat Sasak dan NTB dari keterbelakangan dan kebodohan menjadi masyarakat yang terpelajar. Warisannya bukan hanya gedung sekolah, melainkan semangat perjuangan melalui pena dan ilmu. 

Kecerdikan Khalid bin Walid dan Tipuan yang Menyelamatkan Tiga Ribu Pasukan



Ybia Indonesia - Mu’tah terasa berat. Tiga ribu pasukan Muslim berdiri menghadapi lebih dari seratus ribu tentara Romawi dan sekutunya. Perbandingan yang jauh dari seimbang. Tiga panglima telah gugur satu per satu: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Pasukan mulai diliputi kegelisahan.

Di tengah situasi genting itu, satu nama diangkat untuk memimpin: Khalid bin Walid. Malam turun dengan sunyi yang menegangkan. Khalid tidak memilih menyerang membabi buta. Ia tahu, bertahan tanpa strategi berarti kehancuran. Ia merancang sebuah tipuan.


Tipuan yang Mengubah Segalanya

Saat fajar menyingsing, pasukan Muslim disusun ulang. Barisan depan dipindah ke belakang. Sayap kanan ditukar dengan sayap kiri. Unit yang kemarin berada di tengah kini ditempatkan di depan. Ketika debu kembali mengepul, pasukan Romawi melihat wajah-wajah baru di barisan Muslim. Mereka terkejut. “Bala bantuan telah datang,” pikir mereka.

Belum berhenti di situ. Khalid memerintahkan sebagian pasukan bergerak berputar di belakang, menciptakan debu tebal seolah ribuan tentara baru tiba dari kejauhan. Suara takbir menggema, mengguncang mental musuh. Romawi mulai ragu. Mereka tidak tahu berapa sebenarnya jumlah pasukan di hadapan mereka.


Kemenangan Sejati

Khalid lalu melancarkan serangan terukur, cukup untuk menjaga tekanan, namun tidak memancing pertempuran besar-besaran. Setelah situasi terkendali dan musuh kehilangan momentum, ia memimpin mundur secara teratur. Bukan lari. Bukan kalah. Tetapi mundur dengan kehormatan, membawa pulang tiga ribu pasukan dari kepungan raksasa Romawi.

Itulah kecerdikan Khalid bin Walid. Ia memahami bahwa kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan musuh. Kadang, kemenangan sejati adalah menyelamatkan pasukan dan menjaga kekuatan untuk hari esok. Sejak hari itu, Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan gelar mulia: Saifullah Pedang Allah yang dihunuskan kepada musuh-musuh-Nya. 

KH Opo Musthofa "Mama Kandang Sapi": Ulama Sufi Cianjur yang Disebut Sahabat Seperjuangan Soekarno



Ybia Indonesia - KH Opo Musthofa, yang lebih dikenal dengan sebutan "Mama Kandang Sapi", adalah seorang ulama kharismatik kelahiran Garut tahun 1848. Beliau dikenang sebagai kiai sederhana, santun, dan dermawan, sekaligus tokoh spiritual yang disebut-sebut memiliki kedekatan dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.


Mondok Bersama di Bale Rante

Mama Kandang Sapi pernah menimba ilmu di Bale Rante, Cirebon, dalam satu kobong (asrama) bersama Soekarno muda. Kedekatan sejak masa nyantri itulah yang disebut-sebut menjadi awal hubungan akrab keduanya.


Kisah "Kabut Tebal" Saat Agresi Belanda

Salah satu kisah yang terus hidup di tengah masyarakat adalah peristiwa ketika Kampung Kandang Sapi dihujani bom dan tembakan dari pesawat Belanda. Saat warga dan santri panik menyelamatkan diri, Mama justru berlari ke lokasi sasaran tembak. Di tengah situasi genting itu, beliau menengadahkan tangan memohon perlindungan Allah SWT.


Asal-Usul Nama "Kandang Sapi"

Sebutan "Kandang Sapi" muncul karena kediaman Mama selalu dipenuhi warga yang datang untuk berobat lahir dan batin. Konon, suatu hari seorang tamu memaksa meminta pengobatan. Mama akhirnya memberikan air putih dalam batok kelapa yang telah didoakan. Atas izin Allah SWT, tamu tersebut sembuh.


Mendirikan Pesantren dan Dakwah Tasawuf

Pada usia 50 tahun, Mama hijrah ke Cianjur dan mendirikan pesantren sekitar tahun 1897. Ia berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syeikh Kholil Bangkalan di Madura serta para ulama di Cirebon dan Benda Gadung.


Ulama Dermawan dan Disiplin Spiritual

Mama Kandang Sapi dikenal sebagai kiai sufi yang tekun beribadah. Ia disebut menjalani puasa hampir setiap hari sejak remaja, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa atau saat menghormati tamu.


Wafat dan Warisan Spiritual

Mama Kandang Sapi wafat pada 1977 dalam usia yang diyakini mencapai 133 tahun. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di depan masjid kayu yang didirikannya. 

Amalan Ringan, Dosa Berguguran Seperti Daun Kering



Ybia Indonesia - Di sebuah pagi yang sunyi, seorang hamba berdiri dalam keheningan. Wajahnya lelah, bukan karena pekerjaan, tetapi karena beban dosa yang ia rasakan di hatinya. Ia sadar, hidup tak pernah benar-benar sepi dari salah dan khilaf.


Dzikir yang Menggugurkan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa mengucapkan: Subhanallahi wa bihamdihi seratus kali dalam sehari, maka dihapuskan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan." (HR. Bukhari dan Muslim)


Wudhu yang Membersihkan Jiwa

Setiap tetes air wudhu bukan sekadar membasuh anggota tubuh, tetapi juga menghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang hamba berwudhu dan membasuh wajahnya, maka keluarlah dosa-dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama air atau tetesan air terakhir." (HR. Muslim)


Langkah Kecil Menuju Masjid

Langkah kaki menuju masjid, walau pelan dan sederhana, tidak pernah sia-sia. Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap langkah menuju shalat menghapus satu dosa dan mengangkat satu derajat." (HR. Muslim)


Sabar dan Senyum yang Tulus

Bahkan senyum tulus kepada sesama pun bernilai ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. Tirmidzi)


Air Mata Taubat

Allah ﷻ berfirman: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)

Semoga amalan-amalan ringan ini dapat membantu kita menghapus dosa-dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. 

Air Mata Umar di Tengah Malam: Kisah Taubat dan Tangisan Umar bin Khattab r.a.



Ybia Indonesia - Malam di Madinah begitu sunyi. Angin gurun berhembus lembut, membawa dingin yang menusuk tulang. Di sebuah rumah sederhana, seorang lelaki tinggi besar duduk sendirian. Wajahnya tegas. Tubuhnya kuat. Namanya membuat musuh gemetar. Dialah Umar bin Khattab.

Orang-orang mengenalnya sebagai pemimpin yang adil. Amirul Mukminin. Sosok yang ditakuti setan, kata Rasulullah ﷺ. Namun malam itu, Umar menangis. Bukan tangisan kecil. Tapi tangisan yang tertahan lama… lalu pecah.


Kenangan Masa Lalu yang Menghantui

Umar teringat tradisi kejam bangsa Arab dahulu—mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Umar pernah menangis saat menceritakan bagaimana di masa jahiliyah, ia pernah menggali tanah dengan tangannya sendiri.


Tangisan yang Membawa Kesadaran

Umar bukan menangis karena putus asa. Ia menangis karena sadar. Sadar bahwa kekuasaan tak berarti apa-apa di hadapan Allah. Sadar bahwa masa lalu tak akan pernah hilang kecuali dengan taubat yang terus diperbarui.


Pelajaran dari Kisah Umar

Kisah Umar adalah cermin. Ia bukan malaikat. Ia pernah berada di titik gelap. Ia pernah keras, bahkan kasar. Tapi ketika hidayah menyentuh hatinya, ia tak setengah-setengah. Taubatnya bukan sekadar ucapan. Ia ubah hidupnya.

Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk selalu kembali kepada Allah dan memperbaiki diri. 

Nusaibah binti Ka‘ab: Wanita Pemberani yang Melindungi Rasulullah ﷺ di Perang Uhud



Ybia Indonesia - Hari itu, Gunung Uhud menjadi saksi sebuah pertempuran yang mengguncang langit dan bumi. Debu beterbangan, pedang beradu, dan darah para syuhada mengalir di medan perang. Kaum Muslimin awalnya berada di atas kemenangan, namun takdir Allah menguji mereka ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posnya. Keadaan berbalik. Barisan kaum Quraisy menyerbu dari arah belakang.

Di tengah kekacauan itu, tersebar kabar yang membuat jantung para sahabat hampir berhenti berdetak: “Muhammad telah terbunuh!” Sebagian kaum Muslimin terpukul, sebagian lain terdiam tak percaya. Namun di antara gemuruh pedang dan teriakan perang, ada satu sosok wanita yang berdiri tegak—hatinya tak goyah sedikit pun. Dia adalah Nusaibah binti Ka‘ab رضي الله عنها, dikenal dengan nama Ummu ‘Umarah.


Melindungi Rasulullah dengan Tubuhnya Sendiri

Ia menghadang setiap serangan yang mengarah kepada Nabi ﷺ. Pedang musuh datang bertubi-tubi, namun ia tepis dengan perisainya. Anak panah melesat, namun ia berdiri sebagai tameng hidup. Dalam riwayat disebutkan, Ummu ‘Umarah mengalami lebih dari 12 luka parah di tubuhnya—di pundak, lengan, dan leher.


Ibu yang Mendahulukan Rasulullah dari Segalanya

Anaknya, Abdullah bin Zaid, terluka parah di medan perang. Ummu ‘Umarah membalut lukanya dengan cepat lalu berkata: “Bangkitlah, Nak. Bela Rasulullah!” Ketika seorang musuh menyerang anaknya, Ummu ‘Umarah maju dan menebas musuh itu hingga tewas.


Doa yang Lebih Berharga dari Dunia

Melihat keteguhan imannya, Rasulullah ﷺ berdoa untuknya: “Ya Allah, jadikan mereka (keluarga Ummu ‘Umarah) sebagai teman-temanku di surga.” Mendengar doa itu, Ummu ‘Umarah berkata dengan penuh keyakinan: “Aku tidak peduli lagi dengan apa pun yang menimpaku di dunia setelah ini.”