WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Istiqamah Ngaji Sahih Bukhari Selama 50 Tahun, Berziarah Ke Makam Imam al-Bukhari

 



Ybia Indonesia - Pendiri Pondok Ploso, KH Jazuli Utsman, wafat tahun 1976. Kepengasuhan di Pondok Ploso bersifat Majelis Keluarga seluruh Putra Kiai Jazuli. Untuk Al-Falah Induk Pengasuh Utama adalah KH Nurul Huda Jazuli (Ayahanda Gus Kautsar). Jika dihitung hingga tahun 2026 ini, Kiai Nurul Huda mengasuh Pondok Ploso sudah 50 tahun. Teriring doa saya أبقاه الله بالسلامة والعافية والبركة وأفاض علينا من بركاته 


Ada dua kitab yang dijadikan wiridan Yai Huda. Wiridan maksudnya selalu diulang setelah khatam setiap hari, yaitu Sahih Bukhari setiap selesai Ashar, dan Tafsir Jalalain selesai Magrib. Untuk kitab lain terkadang sebagai penyerta saja, seperti Irsyadul Ibad, Bidayatul Hidayah, kadang di bulan Ramadan ngaos Taklimul Mutaallim, dan sebagainya.

Melihat postingan kawan-kawan alumni Ploso yang menyertai Mbah Yai Huda disambut resmi oleh Kedutaan Indonesia di Uzbekistan, pertemuan dengan pimpinan wilayah Uzbek, lebih terharu saat rombongan bisa khataman di area makam Imam al-Bukhari, serta Mbah Yai Huda diizinkan masuk ke depan makam Imam al-Bukhari, dengan melantunkan doa, mengingatkan saya pada peristiwa lama, di mana para penduduk Samarkand beramai-ramai ziarah ke makam Imam al-Bukhari dan berdoa di sisi makam Imam al-Bukhari. Al-Hafidz Adz-Dzahabi mencatat peristiwa ini pada tahun 464 H. Berikut kutipannya:


ﻗﺤﻂ اﻟﻤﻄﺮ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺑﺴﻤﺮﻗﻨﺪ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ اﻷﻋﻮاﻡ، ﻓﺎﺳﺘﺴﻘﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﺮاﺭا، ﻓﻠﻢ ﻳﺴﻘﻮا، ﻓﺄﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﺎﻟﺼﻼﺡ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺿﻲ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ: ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺃﻳﺎ ﺃﻋﺮﺿﻪ ﻋﻠﻴﻚ.


Di Samarkand pernah terjadi masa kekeringan selama beberapa tahun. Lalu penduduk Samarkand melakukan Salat Istisqo berkali-kali, namun belum diberi hujan. Kemudian datang seorang laki-laki yang saleh dan dikenal dengan kesalehannya kepada seorang Hakim di Samarkand. Orang tersebut mengajukan satu pendapat.


ﻗﺎﻝ: ﻭﻣﺎ ﻫﻮ؟ ﻗﺎﻝ: ﺃﺭﻯ ﺃﻥ ﺗﺨﺮﺝ ﻭﻳﺨﺮﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻚ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ اﻹﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻭﻗﺒﺮﻩ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ، ﻭﻧﺴﺘﺴﻘﻲ ﻋﻨﺪﻩ، ﻓﻌﺴﻰ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﻘﻴﻨﺎ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻘﺎﺿﻲ: ﻧﻌﻢ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ.


Hakim tersebut bertanya Apa pendapatmu? lalu dia berpendapat agar Hakim dan penduduk Samarkand datang ke makam Imam Al Bukhari, di kawasan Hartang. Kemudian berdoa meminta hujan di sisi makam tersebut. Semoga Allah memberi hujan kepada kita. Hakim tersebut berkata "bagus pendapatmu".


ﻓﺨﺮﺝ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭاﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻪ، ﻭاﺳﺘﺴﻘﻰ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺑﻜﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ، ﻭﺗﺸﻔﻌﻮا ﺑﺼﺎﺣﺒﻪ، ﻓﺄﺭﺳﻞ اﻟﻠﻪ -ﺗﻌﺎﻟﻰ- اﻟﺴﻤﺎء ﺑﻤﺎء ﻋﻈﻴﻢ ﻏﺰﻳﺮ ﺃﻗﺎﻡ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻪ ﺑﺨﺮﺗﻨﻚ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ، ﻻ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﺃﺣﺪ اﻟﻮﺻﻮﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺮﻗﻨﺪ ﻣﻦ ﻛﺜﺮﺓ اﻟﻤﻄﺮ ﻭﻏﺰاﺭﺗﻪ


Kemudian Hakim tersebut bersama umat Islam datang ke makam Imam Bukhari meminta hujan kepada Allah. Orang-orang menangis di dekat makam juga meminta syafaat dengan pemilik makam. Lalu Allah menurunkan hujan yang sangat deras. Mereka berada di sekitar makam Imam Bukhari hingga 7 hari. Mereka tidak bisa kembali ke Samarkand karena banyaknya air hujan. (Siyar A'lam An-Nubala, 12/469)


Kilas Balik Makam Imam al-Bukhari 

Di tayangan Kick Andy, ada penjelajah dari Indonesia antar negara dengan naik mobil. Sesampainya di Uzbekistan ia ke makam Imam al-Bukhari. Oleh penjaga ditanya dari mana? Ia menjawab dari Indonesia. Ia pun disuruh masuk ke makam Imam al-Bukhari. Selesai ziarah dia bertanya pada penjaga, mengapa ia diizinkan masuk? Sementara peziarah lain hanya dari luar.

Penjaga tadi bercerita bahwa dulu makam Imam al-Bukhari tidak terawat. Saat negara Soviet akan didatangi Pak Karno, beliau minta diantar ke makam Imam al-Bukhari. Melihat makam Imam al-Bukhari yang tidak terurus, Pak Karno meminta kepada Presiden Soviet agar makam Imam al-Bukhari dibangun. Sejak saat itu, meskipun Soviet negara k*munis membuatkan Masjid dan sekolah Islam di sekitar makam Imam al-Bukhari. Penjaga tersebut berkata bahwa area makam Imam al-Bukhari terawat karena jasa Presiden Soekarno.

Jenazah yang Membuat Rasulullah Terdiam: Kisah Hutang yang Menahan Doa Langit

 


Ybia Indonesia - Madinah pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Angin berhembus pelan di antara rumah-rumah kaum Anshar. Langit cerah, seolah tak ada duka yang akan datang. Namun langkah-langkah kaki para sahabat menuju masjid terasa lebih berat dari biasanya. Di hadapan mereka terbujur seorang jenazah. Tubuhnya terbungkus kain kafan sederhana. Wajahnya tak terlihat, namun semua tahu: Ia adalah seorang muslim.


Rasulullah Menolak Menshalatkan

Jenazah itu dibawa ke hadapan Rasulullah, sebagaimana kebiasaan setiap kali ada muslim yang meninggal. Rasulullah berdiri. Wajah beliau teduh, namun sorot matanya tampak serius. Beliau tidak langsung mengangkat tangan untuk shalat. Beliau bertanya, dengan suara yang tenang namun menghentak hati: "Apakah ia meninggalkan hutang?" Para sahabat saling berpandangan. Hening sejenak. Salah seorang menjawab lirih, "Ya, wahai Rasulullah... ia meninggalkan hutang." "Berapa?" "Dua dinar." Dua dinar... Jumlah yang kecil bagi sebagian orang. Namun seketika, wajah Rasulullah berubah. Beliau menundukkan kepala. Lalu bersabda dengan kalimat yang membuat para sahabat terdiam: "Shallu 'alâ shâhibikum." "Shalatkanlah oleh kalian jenazah sahabat kalian ini."


Abu Qatadah Menanggung Hutang

Masjid sunyi. Hati para sahabat bergetar. Ini adalah Rasulullah, orang yang paling penyayang, yang selalu mendoakan umatnya, yang bahkan menangis memikirkan keselamatan mereka. Tapi hari itu, beliau mundur selangkah. Doa beliau tertahan. Bukan karena dosa zina. Bukan karena pembunuhan. Bukan karena kekufuran. Karena hutang. Jenazah itu tetap terbaring. Seolah menunggu satu hal yang belum selesai di dunia. Saat itulah Abu Qatadah رضي الله عنه melangkah maju. Hatinya tak tega melihat jenazah itu tertahan. Ia berkata dengan tegas, "Wahai Rasulullah, hutangnya menjadi tanggunganku." Rasulullah menatapnya, "Apakah engkau benar-benar akan menanggungnya?" "Ya, wahai Rasulullah." Barulah Rasulullah maju kembali. Beliau berdiri di hadapan jenazah. Mengangkat kedua tangan. Menshalatkannya.


Hikmah dari Kisah

Rasulullah tidak mengajarkan bahwa hutang itu haram. Namun beliau mengajarkan bahwa hutang itu berat. Berat sampai menahan doa Rasulullah, menahan ketenangan jenazah, menunda kelegaan di alam kubur. Dan kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan: Hutang bukan sekadar urusan dunia. Ia bisa menjadi beban sampai akhirat. 

Syekh Panjalu: Tokoh Penyebar Islam di Tatar Pasundan



Ybia Indonesia - Syekh Panjalu, yang juga dikenal sebagai Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu, adalah tokoh penyebar Islam terkemuka di Tatar Pasundan, khususnya di wilayah Panjalu, Ciamis. Makamnya terletak di pulau Nusa Gede di tengah Situ Lengkong, Panjalu, menjadi situs ziarah populer.


Identitas dan Asal-Usul

Syekh Panjalu atau Prabu Hariang Kancana diyakini sebagai putra dari Prabu Sanghyang Borosngora. Prabu Sanghyang Borosngora sendiri adalah raja pertama Panjalu yang memeluk agama Islam setelah berguru ke Tanah Arab, khususnya kepada Sayyidina Ali r.a..


Peran Penyebaran Islam

Syekh Panjalu berperan penting dalam menyebarkan Islam di wilayah Tatar Pasundan. Ia dikenal sebagai tokoh yang bijaksana dan memiliki ilmu kerahayuan.


Makam Keramat

Makam Syekh Panjalu terletak di Nusa Gede, sebuah pulau kecil di tengah Danau Situ Lengkong, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tempat ini ramai dikunjungi peziarah terutama pada bulan Maulud.


Tradisi Nyangku

Peninggalan Syekh Panjalu berupa benda-benda pusaka (termasuk pedang) disimpan di Pasucian Bumi Alit dan disucikan dalam prosesi adat Nyangku setiap bulan Maulud.


Penemuan Makam

Keberadaan makam ini menjadi populer setelah diidentifikasi melalui mimpi oleh Gus Dur, yang kemudian membantu memperbaiki sarana prasarana di lokasi tersebut. Makam Syekh Panjalu sering dikaitkan dengan kisah mistis dan dijaga oleh mitos maung bodas dan maung hideung. 

Abuya Armin: Ulama Kharismatik dari Pandeglang, Banten



Ybia Indonesia - Abuya Armin dilahirkan pada tahun 1880 di Desa Koranji, Kecamatan Menes, yang kini masuk dalam tata wilayah pemerintahan Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Abuya Armin, merupakan anak dari pasangan HM Tohir asal Kadu Jami dan ibu bernama Hj Siti Sofiah yang berasal dari Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang.


Masa Kecil dan Pendidikan

Dilihat dari garis keturunannya, Abuya Armin merupakan keponakan dari Syech Asnawi Caringin. Dalam perjalanannya, saat menginjak usia 5 tahun Abuya Armin ditinggal meninggal ibunya. Abuya Armin pada saat remaja berguru kepada KH Hasan asal Lekong, Banten yang sudah lama tinggal di Mekkah, Arab Saudi.


Perjuangan dan Dakwah

KH Hasan dikabarkan sangat terkesan atas kelebihan yang dimiliki oleh Abuya Armin. Karena kepintarannya itulah kemudian Abuya Armin diangkat menjadi asisten KH Hasan. Penambahan nama 'Hasan' merupakan hadiah dari gurunya. Namanya pun, menjadi KH Muhamad Hasan Armin.

Usai perjalanan panjang menimba ilmu selama 17 tahun di tanah Arab, Abuya Armin pun kembali pulang ke kampung halamannya di Kampung Cibuntu, Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Di kampung inilah, kemudian Abuya Armin mendirikan pondok pesantren. Pada masanya, banyak ratusan santri yang belajar kepada-nya.


Kehidupan dan Karomah

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa Abuya mengajarkan banyak pelajaran kepada para santrinya kala itu, mulai dari kitab, Tafsir Al Qur'an hingga Tarekat Naqsyabandiyah. Karena kemahsyurannya, banyak tokoh-tokoh besar dinegeri ini berkunjung ke Abuya Armin. Mulai dari Gubernur DKI Ali Sadikin, Presiden Soeharto, Wakil Presiden Mohamad Hatta hingga Presiden pertama RI Ir Soekarno. Kedatangan para tokoh tersebut ke Cibuntu untuk meminta nasiha, petunjuk atau hanya sekedar bersilaturahmi.


Wafat dan Warisan

Namun, pada 30 November 1988 perjuangan Abuya Armin harus terhenti karena Abuya Armin menghembuskam nafas terakhirnya. Abuya Armin wafat pada 108 tahun. Makam Abuya Armin berada di area pondok pesantren yang didirikan olehnya kala itu. Meski sudah puluhan tahun berlalu, berkat perjuangannya menyebar agama islam di Pandeglang, hingga kini makamnya masih ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. 

KH Ahmad Sanusi: Ulama Pejuang dari Sukabumi – Ilmu sebagai Senjata Perlawanan



Ybia Indonesia - Di tengah dinginnya penjajahan dan panasnya penindasan, lahirlah seorang ulama dari Sukabumi yang tidak hanya mengajar di mimbar, tetapi menggerakkan umat dengan pena dan pemikiran. Beliau adalah KH Ahmad Sanusi.


Lahir untuk Ilmu, Hidup untuk Umat

Lahir pada 3 September 1888 di Sukabumi, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat. Perjalanan intelektualnya tidak berhenti di tanah Sunda. Ia berangkat ke Mekkah, menimba ilmu dari para ulama besar dunia Islam. Beliau tidak pulang sebagai orang biasa. Beliau pulang sebagai ulama pemikir.


Pena yang Menggetarkan Penjajah

KH Ahmad Sanusi bukan hanya ahli ibadah. Beliau adalah ulama produktif yang menulis puluhan kitab dalam bahasa Arab dan Sunda Pegon. Tulisan beliau bukan sekadar tinta di atas kertas. Itu adalah perlawanan intelektual. Beberapa karya yang cukup dikenal di kalangan pesantren:


- Tafsir Raudhatul ‘Irfan fi Ma’rifatil Qur’an ➝ Ini termasuk karya paling masyhur. Tafsir Al-Qur’an yang ditulis dengan gaya yang mudah dipahami santri.

- Tanbihul Ghafilin ➝ Kitab nasihat dan peringatan untuk umat agar tidak lalai dalam agama.

- Hidayatush Shibyan ➝ Kitab dasar untuk pembelajaran pemula.

- Al-Furu’ al-Fiqhiyyah (beberapa risalah fiqih) ➝ Membahas masalah ibadah dan muamalah.

- Berbagai risalah tauhid, fiqih, tasawuf, dan bantahan terhadap pemikiran menyimpang pada zamannya.


Dibuang, Tapi Tidak Bisa Dibungkam

Karena ketajaman pikirannya, Belanda menganggap beliau berbahaya. Beliau ditangkap dan dibuang ke Batavia dan Bengkulu. Namun penjajah lupa satu hal: Ulama sejati tidak bisa dipenjara oleh tembok. Ilmu tidak bisa dibungkam oleh kekuasaan. Di pengasingan pun, beliau tetap menulis. Tetap mengajar. Tetap menyalakan cahaya kesadaran.


Warisan Pemikiran

Beliau mendirikan Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII) — gerakan pendidikan dan dakwah yang membangun fondasi intelektual umat Islam Jawa Barat. Beliau membuktikan bahwa:


Ulama harus cerdas.

Ulama harus berani.

Ulama harus membela umat.

Ilmu harus melahirkan perubahan.


Pengakuan Bangsa

Wafat pada 17 November 1950, perjuangannya tidak berhenti. Negara menetapkannya sebagai:


Pahlawan Nasional Indonesia

Bukan karena pidato kosong. Bukan karena popularitas. Tetapi karena ilmu dan keberanian.


Renungan untuk Umat Hari Ini

Kita sering bangga menyebut diri sebagai umat ulama besar. Tapi pertanyaannya: Apakah kita mewarisi keberanian berpikirnya? Apakah kita meneruskan tradisi menulis dan membaca? Ataukah kita hanya sibuk berdebat tanpa ilmu? KH Ahmad Sanusi mengajarkan kita satu hal penting: Islam akan kuat jika umatnya kuat dalam ilmu. Bangsa akan merdeka jika pemikirannya merdeka.

Beliau bukan hanya milik Sukabumi. Beliau adalah milik umat. Semoga kita tidak hanya mengenang, tetapi meneladani nya 

KH Bisri Mustofa: Ulama Kharismatik dan Pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin

 



Ybia Indonesia - KH Bisri Mustofa adalah ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu santri kesayangan Syekh Muhammad Kholil Bangkalan. Beliau adalah orator ulung, penulis produktif, dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin.


Biografi Singkat

- Beliau dikenal sebagai politisi Nahdlatul Ulama (NU) dan anggota Konstituante.

- Penyusun tafsir Al-Ibriz yang berbahasa Jawa.

- Ayah dari KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).


Dakwah Humanis

- KH Bisri Mustofa dikenal dengan pendekatan dakwah yang humanis, sering menggunakan humor, dan mampu menyampaikan materi berat dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat.

- Banyak masyarakat yang senang karena terhibur dengan penyampaian nya.


Doa dan Harapan

Semoga kita semua di berikan limpahan berkah nya, dan semoga kita semua tambah cinta pada Allah, Rosulullah, Auliya', ulama', dan Sholihin, amin ya rabbal alamin. 

Karomah Pangersa Abah Anom: Kisah Keajaiban Jenazah Murid



Ybia Indonesia - Suatu saat di tahun 1985, Ajengan Haji Maksum tiba-tiba merasa sangat rindu kepada Pangersa Abah Anom ra. Maka dari kota Banjar ia langsung berangkat menuju ke Pontren Suryalaya Tasikmalaya. Ketika Ajengan Maksum baru sampai di gapura Suryalaya di pelataran Masjid Nurul Asror, terlihat Pangersa Abah sudah berdiri di depan Madrasah memanggil dirinya, "Ehh Cum Cum Cum sini..!" Ajengan Maksum segera bergegas memberi salam dan mencium tangan Pangersa Abah.

Setelah menjawab salam, Pangersa Abah kemudian bertanya: "Kamu sudah lama tidak berangkat ke Jawa..?" "Iyaa, Abah.." Ajengan Maksum paham maksud Pangersa Abah adalah berangkat ke Brebes. Krn Ajengan Maksum memang memiliki banyak ikhwan binaan yang ada di daerah Brebes..

"Bagaimana kalo sekarang..?" Pangersa Abah dengan santun memberi tugas kepada muridnya.. "Maangga, Abah.." Ajengan Maksum dengan mantap langsung menyambut tugas dari Guru Mursyidnya.

Kemudian ia langsung mohon pamit kepada Pangersa Abah serta berjalan keluar dari pelataran madrasah. Padahal Ajengan Maksum tidak membawa uang yang cukup untuk biaya perjalanan ke Brebes..

Di sisi jalan keluar Ajengan Maksum melihat ada seorang faqir miskin sedang duduk meminta-minta. Maka seluruh uang yang ada malah disedekahkan oleh Ajengan Maksum kepada faqir miskin tersebut. Karena ia sudah bertekad melaksanakan tugas dari Pangersa Abah berangkat ke Brebes dengan berjalan kaki saja.

Namun baru saja Ajengan Maksum keluar dari pintu gerbang Pontren Suryalaya. Ada mobil Jeep yang berhenti serta mengajak Ajengan Maksum untuk ikut naik. Pengendara mobil tersebut ternyata pernah menjadi santri Ajengan Maksum sekian tahun yang lalu. Kemudian Ajengan Maksum diantarkan sampai ke kota Banjar serta diberi uang yang cukup banyak. Uang itu sangat berlebih jika digunakan sebagai biaya perjalanan pulang pergi ke Brebes.

Singkat cerita Ajengan Maksum sudah tiba di depan rumah salah seorang ikhwan binaannya. Dari dalam rumah terlihat keluar keranda jenazah diiringi jerit tangis penghuninya. Terdengar suara yang menangis, "Celaka bapak kamu.. Celaka bapak kamu.." Tiba-tiba kain penutup kerandanya terjatuh, lalu jenazah yang sudah terbungkus kain kafan terlihat bergerak dan bersuara, "Ehh eling eling eling.. LAAAAA ILAAHA ILLALLOOH..!!!" Lalu jenazah itu kembali diam tidak bergerak selayaknya orang yang sudah meninggal dunia.

Ajengan Maksum menyaksikan kejadian yang menakjubkan ini dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan Ajengan Maksum selanjutnya terlibat dalam prosesi pemakamannya selaku tokoh pembina ikhwan Brebes.

Setelah itu Ajengan Maksum mendapat keterangan kenapa keluarga Almarhum menangis sedemikian rupa. Sebab ketika Almarhum sedang kritis lalu dituntun untuk BERDZIKIR kepada ALLOH SWT. Almarhum hanya diam saja tidak mengucapkan kalimat DZIKIR apa pun sampai nafas terakhirnya. Sehingga keluarganya menganggap Almarhum meninggal dunia dalam keadaan su'ul khotimah.

Padahal Almarhum selaku IKHWAN TQN SURYALAYA ketika itu justru sedang tenggelam dalam DZIKIR khofi menjelang akhir hayatnya. Ajengan Maksum menyadari ini semua adalah QUDROH dan IRODAH ALLOH SWT dengan KAROMAH Pangersa ABAH. Oleh karena itu Pangersa ABAH menugaskan Ajengan Maksum ke Brebes agar menjadi saksi kejadian tersebut.

Sejak kejadian itu semakin banyak orang Brebes yang menjadi pengamal DZIKIR TQN SURYALAYA. ALHAMDULILLAAH.. Walloohu a'lam.. Hatur Nuhun ABAH. Terimakasih ABAH.. Semoga ISTANAH dalam Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan Ajaran Amaliyah Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Aamiin YRA 

Bilbarokah Walkaromah Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, ra. Al-fatihah...