WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Jejak Spiritual Abuya Uci Turtusi bin Abuya Dimyathi Cilongok: Kisah Pertemuan dengan Ayah Banjar dan Aang Syadzili



Ybia Indonesia - Diceritakan oleh adik Abuya Uci Turtusi, yakni KH. Iim Imaduddin, dalam tausiyah tahlil malam ke-3. Dalam tausiyah tersebut beliau berkisah tentang perjalanan sang kakak ketika menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa Barat.


Pesan Guru dan Ayah

Setelah enam tahun nyantri di Keresek Garut, Abuya Uci muda meminta petunjuk kepada gurunya, Mama Ajengan Muhibbu Al-Thobri:

> “Kamu mesantrenlah ke Banjar..!!”

Abuya pun pulang dan menghadap kepada abahnya.

Abuya: “Bah, saya sama Mama Ajengan disuruh mesantren ke Banjar.”

Abah: “Benar, sebelum Ayah Banjar wafat beliau datang ke Abah. Dawuh beliau: Uci kalau nerusin mesantren, suruh ke Banjar walaupun saya sudah wafat..!!”

Pesantren Banjar (Cibeunteur, Banjar Patroman) didirikan ulama fiqih terkemuka KH. Muhammad Ilyas dari Jasinga Bogor. Setelah beliau wafat, pesantren diteruskan oleh putranya KH. Muhammad Kholil yang masyhur dengan sebutan Ayah Banjar.


Pertemuan Misterius di Terminal

Singkat cerita, Abuya Uci berangkat ke Banjar. Sesampainya di Terminal Cibeunteur sekitar pukul 2 dini hari, beliau menuju mushola untuk shalat jama’. Di sana ada seorang bapak sepuh yang mengajaknya shalat berjamaah. Setelah shalat, mereka bercakap-cakap.

Sang bapak berkata:

> “Bapa mah jauuuhh… Ujang gak bakalan tahu, jauh Bapa mah..”

Menjelang Subuh, bapak itu pamit lebih dulu. Setelah shalat, Abuya melanjutkan perjalanan dengan becak menuju pesantren. Sesampai di dekat makam pesantren, tukang becak berkata:

“Sudah di sini saja Ujang, tinggal jalan sebentar ke situ. Ongkosnya sudah dibayar sama bapak yang tadi di mushola.”

Betapa kagetnya Abuya.


Sosok di Gerbang Pesantren

Di gerbang pesantren, Abuya bertemu seorang kakek sepuh berpakaian ala kiai. Beliau mirip sekali dengan bapak di mushola, hanya saja saat di mushola bapak itu berpakaian sederhana.

Kakek: “Ujang dari mana?”

Abuya: “Dari Tangerang, Kek. Mau mesantren.”

Kakek: “Oh, teruskan ke situ silakan..”

Saat itu, pesantren diasuh tiga ajengan: Ajengan Endun, Ajengan Mumu, dan Ajengan Kaka. Namun dari ketiganya, tidak ada yang serupa dengan kakek sepuh di gerbang tadi.


Penjelasan Abah

Setelah setahun mondok, Abuya pulang ke Tangerang.

Abah: “Kamu sudah bertemu Ayah Banjar?”

Abuya: “Kan Ayah Banjar sudah wafat, Bah.”

Abah: “Itu yang sholat sama kamu di mushola terminal, itulah Ayah Banjar! Yang menyambutmu di gerbang juga Ayah Banjar!”

Abah lalu berpesan:

> “Sekarang kamu mesantren lagi setahun di Banjar. Usahakan bertemu Ayah Banjar dua kali lagi. Kalau belum, jangan pulang dulu.”


Pertemuan Kedua dengan Ayah Banjar

Dengan ketekunan, Abuya akhirnya berziarah ke makam Ayah Banjar. Di situ, beliau kembali berjumpa secara rohani dengan Ayah Banjar.

Ayah Banjar: “Sudah, sekarang kamu pulang ke Tangerang.”

Abuya: “Punten, kata Abah saya harus bertemu Mama dua kali lagi.”

Ayah Banjar: “Jangan, Ujang. Kamu sudah dua untuk sendiri. Yang tinggal satu itu untuk semua. Kalau semua habis sama kamu, nanti yang lain bagaimana? Sudah, pulanglah..!!”

Abuya pun pulang. Abahnya berkata: “Dua..! Dua..!!” Lalu mendengar kisahnya, sang abah mengizinkan Abuya pulang dan suatu hari bersama-sama sowan ke Banjar untuk pamitan.


Episode di Pesantren Cibeureum

Kemudian Abuya Uci sempat nyantri kilat di berbagai pesantren Jawa Barat. Saat mondok di Cibeureum, asuhan Aang Syadzili, terjadi kisah lain. Ketika ngaji malam hari, Aang tiba-tiba menghentikan ngajinya, lalu berkata:

> “Itu yang pakai baju merah masuk ke rumah..!!”

Ternyata Abuya Uci yang sedang memakai baju merah. Dengan gemetar ia masuk ke ndalem.

Aang: “Siapa namamu? Dari mana?”

Abuya: “Nama saya Uci, dari Tangerang.”

Aang: “Anak siapa kamu?”

Abuya: “Putra Mang Haji Endim.” (sebelumnya berpesan agar tidak mengaku putra Abuya Dimyathi, tapi karena terus didesak akhirnya mengaku).

Lalu Aang berkata:

“Tadi saat ngaji tiba-tiba ada cahaya mengitari majlis, masuk ke pintu, lalu ke atas kepalamu, masuk ke dadamu. Sekarang pulang!!”

Abuya memohon izin tetap mondok. Aang pun berkata:

“Boleh, tapi jangan sebut saya gurumu. Mau tidur, makan, ngaji, silakan. Tapi jangan panggil saya guru, dan jangan bilang siapa-siapa..” (Tawadhu’nya Aang Syadzili).

Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi: Ulama Kharismatik dari Banten yang Mengemban Amanah Dakwah dan Ilmu



Ybia Indonesia - Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi Di antara deretan ulama besar Banten, nama Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi menempati posisi istimewa. Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik, pewaris sanad keilmuan pesantren klasik, serta sosok yang menjaga keseimbangan antara kedalaman ilmu, keteguhan akhlak, dan keteduhan dakwah.

KH Abuya Muhtadi Dimyathi adalah Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu. Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiro'ah ia tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan Ilmu Al-Qur'an Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll.

Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :


قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى


Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :


ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم طاغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة


Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Raja Abdulaziz bin Saud: Pendiri Arab Saudi yang Visioner



Ybia Indonesia - Raja Abdulaziz bin Saud, pendiri Arab Saudi, lahir pada tanggal 15 Januari 1875 di Riyadh. Ayahnya, Abdul Rahman bin Faisal, adalah seorang pemimpin keluarga Saud yang telah kehilangan kekuasaan di Riyadh. Abdulaziz tumbuh dewasa di Kuwait, di mana keluarganya mengungsi setelah dikalahkan oleh Dinasti Rashidi.

Pada usia 21 tahun, Abdulaziz kembali ke Riyadh dan merebut kota tersebut dari Dinasti Rashidi pada tahun 1902. la kemudian memulai kampanye untuk menyatukan Jazirah Arab di bawah kekuasaan keluarganya. Pada tahun 1925, ia merebut kota suci Mekah dan Madinah, dan pada tahun 1932, ia mendirikan Kerajaan Arab Saudi dengan Riyadh sebagai ibu kota.

Raja Abdulaziz dikenal sebagai pemimpin yang kuat dan visioner, yang membawa Arab Saudi menjadi negara modern. la juga dikenal sebagai pendiri industri minyak Arab Saudi, yang menjadi sumber pendapatan utama negara tersebut.

Raja Abdulaziz wafat pada tanggal 9 November 1953, dan digantikan oleh putranya, Saud. Namun, garis keturunan Abdulaziz tetap berkuasa di Arab Saudi hingga hari ini.

Pangeran Syarif Ali bin Syecch Abubakar: Menantu sekaligus Bendahara Keuangan Kesultanan Palembang



Ybia Indonesia - Pangeran Syarif Ali, merupakan seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa, sehingga disegani oleh banyak orang. Syarif Ali dilahirkan di Palembang tahun 1795 M dari seorang ibu bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zein bin Yahya Adapun ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadhramaut.

Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755 diakhir masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Suatu ketika beliau diminta oleh Sultan Husin Dhiauddin untuk melaksanakan misi khusus ke Kalimantan dan misi tersebut berhasil dengan baik. Karena ini Sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila dan dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pangeran.

Pangeran Syarif Ali wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H / 1877 M. Selain makam Habib Pangeran Syarif Ali dan keluarganya, disini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Zain bin Syahab, saudara dari Syarifah Sidah, istri Pangeran Syarif Ali. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam Pangeran Syarif Ali.

Habib Umar adalah seorang ulama yang menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok terpencil, beberapa suku adat di pedalaman masuk Islam berkat beliau, terutama di pesisir sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di Kampung Bungin Ayip (Pegayut) Pemulutan - Ogan Ilir.

Tamparan Keras untuk Ustad yang Hidup dari Pemberian Jama'ah: Mengembalikan Kemuliaan Dakwah



Ybia Indonesia - Abuya KH Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi pernah menegaskan dengan sangat lugas: “Kalau jadi ustad harus bisa usaha sendiri, jangan mengandalkan pemberian dari jama’ah.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat, tapi tamparan keras bagi fenomena yang hari ini makin marak: ustad yang sibuk berceramah, tapi hidupnya sepenuhnya bergantung pada amplop, transfer, dan pemberian jama’ah.

Islam tidak melahirkan pendakwah yang menjadi beban umat. Islam melahirkan guru yang mandiri, yang berdiri di depan umat dengan izzah, bukan dengan tangan menengadah. Bagaimana mungkin umat diajak bangkit, kalau yang membimbing justru hidup dari keringat umat? Bagaimana mungkin bicara keikhlasan, jika dakwah berubah menjadi ladang kenyamanan pribadi?


Ulama-ulama besar dulu:

Berdagang

Bertani

Mengajar sambil bekerja

Hidup sederhana tapi berdaulat.

Mereka tidak menjual mimbar, tidak memelihara kemiskinan umat demi kelangsungan ceramah. Dakwah itu mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan umat— bukan memelihara ketergantungan, apalagi memanfaatkan empati jama’ah.

Jika seorang ustad tidak mampu mandiri, maka yang perlu dibenahi bukan jama’ahnya, tapi cara berpikir dan niat dakwahnya. Karena kemuliaan ilmu runtuh, saat ilmu dijadikan alat kenyamanan pribadi.


Al-Hikmah Wal-Mahmuudiyyah

Dakwah beradab, rasional, dan membangunkan umat dari ketertinggalan.

Buya Sepuh Darussurur: Ulama Tawadhu yang Merawat Hikmah dan Sanad Keilmuan



Biografi Singkat Ulama Tawadhu Buya Sepuh Darussurur KH. Raden Muhammad Yahya (wafat 29 Maret 2009)


Ybia Indonesia - KH. Raden Muhammad Yahya, yang dikenal luas dengan panggilan Buya Sepuh, adalah ulama karismatik dan pendiri Pondok Pesantren Darussurur di Cimahi, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai sosok alim yang memadukan kedalaman tasawuf, ketegasan hukum Islam, dan kerendahan hati dalam dakwah.

Buya Sepuh lahir dari pasangan KH. Muhammad Azhari dan Hj. Khodijah. Dalam perjalanan hidupnya, beliau tidak hanya dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah, tetapi juga pernah mengemban amanah sebagai hakim di Pengadilan Agama, menunjukkan keluasan ilmunya dalam bidang tasyri’ wal ahkam (hukum Islam).

Pesantren Darussurur yang beliau dirikan menjadi pusat pendidikan ruhani dan keilmuan, tempat bertemunya syariat, tasawuf, dan adab. Hingga kini, pesantren tersebut terus berkembang dan diteruskan oleh putra beliau, KH. Muhammad Sulaiman Jazuli Yahya (Buya Anom).

Salah satu dawuh Buya Sepuh yang terus dikenang dan menjadi cermin akhlak seorang alim adalah: “Urang téh teu meunang boga rasa saluhureun batur.” (Kita tidak boleh merasa lebih tinggi dari orang lain). Sebuah nasihat sederhana, namun dalam—yang menegaskan bahwa ilmu sejati tidak melahirkan kesombongan, tetapi kerendahan hati.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Buya Sepuh, serta menjaga keberkahan ilmu dan sanad beliau melalui generasi penerusnya.


Al-Hikmah Wal-Mahmuudiyyah

Merawat hikmah, menjaga adab, menyambung sanad keilmuan.

Biografi Singkat Mama Sempur: Ulama Terkemuka Jawa Barat



Ybia Indonesia - Mama Sempur merupakan nama lain dari salah seorang Ulama terkemuka di Jawa Barat. Nama asli dari Mama Sempur yakni KH Tubagus Ahmad Bakri. Di kalangan masyarakat Jawa Barat, kata Mama ini biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kiai, sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kiai. Istilah Mama sendiri juga berasal dari kata rama, yang memiliki arti bapak, sedangkan Sempur diambil dari nama sebuah desa yang ada di Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Jawa Barat.

KH Tubagus Ahmad Bakri merupakan putera pertama dari pasangan KH Tubagus Sayida dan Umi, yang lahir di Citeko, Kecmatan Plered Kabupaten Purwakarta pada tahun 1259 H atau 1839 M.

Dilihat dari jalur ayahnya, silsilahnya sampai kepada Rasulullah seperti dalam karyanya yang berjudul kitab Tanbihul Muftarin (hal 22) yaitu:

KH. Tb. Ahmad Bakri bin KH. Tb. Saida bin KH. Tb. Hasan Arsyad Pandeglang bin Maulana Muhammad Mukhtar Pandeglang bin Sultan Ageng Tirtayasa (Abul Fath Abdul Fattah) bin Sultan Abul Ma’ali Ahmad Kenari bin Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Qodir Kenari bin Maulana Muhammad Ing Sabda Kingking bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Maulana Hasanudin bin Sultan Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin Sultan Syarif Abdullah bin Sultan Maulana Ali Nurul Alam bin Maulana Jamaluddin al-Akbar bin Maulana Ahmad Syah Jalal bin Maulana Abdullah Khon Syah bin Sultan Abdul Malik bin ‘Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi’ Qosam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin Sayyidina Ubaidillah bin Imam al-Muhajir ila Allah Ahmad bin ‘Isa an-Naqib bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-‘Aridl bin Imam Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Sayyidina wa Maulana Husain bin Saidatina Fatimah az-Zahra binti Rosulillah SAW.


Sumber: nu online jabar