Jejak Spiritual Abuya Uci Turtusi bin Abuya Dimyathi Cilongok: Kisah Pertemuan dengan Ayah Banjar dan Aang Syadzili
Ybia Indonesia - Diceritakan oleh adik Abuya Uci Turtusi, yakni KH. Iim Imaduddin, dalam tausiyah tahlil malam ke-3. Dalam tausiyah tersebut beliau berkisah tentang perjalanan sang kakak ketika menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa Barat.
Pesan Guru dan Ayah
Setelah enam tahun nyantri di Keresek Garut, Abuya Uci muda meminta petunjuk kepada gurunya, Mama Ajengan Muhibbu Al-Thobri:
> “Kamu mesantrenlah ke Banjar..!!”
Abuya pun pulang dan menghadap kepada abahnya.
Abuya: “Bah, saya sama Mama Ajengan disuruh mesantren ke Banjar.”
Abah: “Benar, sebelum Ayah Banjar wafat beliau datang ke Abah. Dawuh beliau: Uci kalau nerusin mesantren, suruh ke Banjar walaupun saya sudah wafat..!!”
Pesantren Banjar (Cibeunteur, Banjar Patroman) didirikan ulama fiqih terkemuka KH. Muhammad Ilyas dari Jasinga Bogor. Setelah beliau wafat, pesantren diteruskan oleh putranya KH. Muhammad Kholil yang masyhur dengan sebutan Ayah Banjar.
Pertemuan Misterius di Terminal
Singkat cerita, Abuya Uci berangkat ke Banjar. Sesampainya di Terminal Cibeunteur sekitar pukul 2 dini hari, beliau menuju mushola untuk shalat jama’. Di sana ada seorang bapak sepuh yang mengajaknya shalat berjamaah. Setelah shalat, mereka bercakap-cakap.
Sang bapak berkata:
> “Bapa mah jauuuhh… Ujang gak bakalan tahu, jauh Bapa mah..”
Menjelang Subuh, bapak itu pamit lebih dulu. Setelah shalat, Abuya melanjutkan perjalanan dengan becak menuju pesantren. Sesampai di dekat makam pesantren, tukang becak berkata:
“Sudah di sini saja Ujang, tinggal jalan sebentar ke situ. Ongkosnya sudah dibayar sama bapak yang tadi di mushola.”
Betapa kagetnya Abuya.
Sosok di Gerbang Pesantren
Di gerbang pesantren, Abuya bertemu seorang kakek sepuh berpakaian ala kiai. Beliau mirip sekali dengan bapak di mushola, hanya saja saat di mushola bapak itu berpakaian sederhana.
Kakek: “Ujang dari mana?”
Abuya: “Dari Tangerang, Kek. Mau mesantren.”
Kakek: “Oh, teruskan ke situ silakan..”
Saat itu, pesantren diasuh tiga ajengan: Ajengan Endun, Ajengan Mumu, dan Ajengan Kaka. Namun dari ketiganya, tidak ada yang serupa dengan kakek sepuh di gerbang tadi.
Penjelasan Abah
Setelah setahun mondok, Abuya pulang ke Tangerang.
Abah: “Kamu sudah bertemu Ayah Banjar?”
Abuya: “Kan Ayah Banjar sudah wafat, Bah.”
Abah: “Itu yang sholat sama kamu di mushola terminal, itulah Ayah Banjar! Yang menyambutmu di gerbang juga Ayah Banjar!”
Abah lalu berpesan:
> “Sekarang kamu mesantren lagi setahun di Banjar. Usahakan bertemu Ayah Banjar dua kali lagi. Kalau belum, jangan pulang dulu.”
Pertemuan Kedua dengan Ayah Banjar
Dengan ketekunan, Abuya akhirnya berziarah ke makam Ayah Banjar. Di situ, beliau kembali berjumpa secara rohani dengan Ayah Banjar.
Ayah Banjar: “Sudah, sekarang kamu pulang ke Tangerang.”
Abuya: “Punten, kata Abah saya harus bertemu Mama dua kali lagi.”
Ayah Banjar: “Jangan, Ujang. Kamu sudah dua untuk sendiri. Yang tinggal satu itu untuk semua. Kalau semua habis sama kamu, nanti yang lain bagaimana? Sudah, pulanglah..!!”
Abuya pun pulang. Abahnya berkata: “Dua..! Dua..!!” Lalu mendengar kisahnya, sang abah mengizinkan Abuya pulang dan suatu hari bersama-sama sowan ke Banjar untuk pamitan.
Episode di Pesantren Cibeureum
Kemudian Abuya Uci sempat nyantri kilat di berbagai pesantren Jawa Barat. Saat mondok di Cibeureum, asuhan Aang Syadzili, terjadi kisah lain. Ketika ngaji malam hari, Aang tiba-tiba menghentikan ngajinya, lalu berkata:
> “Itu yang pakai baju merah masuk ke rumah..!!”
Ternyata Abuya Uci yang sedang memakai baju merah. Dengan gemetar ia masuk ke ndalem.
Aang: “Siapa namamu? Dari mana?”
Abuya: “Nama saya Uci, dari Tangerang.”
Aang: “Anak siapa kamu?”
Abuya: “Putra Mang Haji Endim.” (sebelumnya berpesan agar tidak mengaku putra Abuya Dimyathi, tapi karena terus didesak akhirnya mengaku).
Lalu Aang berkata:
“Tadi saat ngaji tiba-tiba ada cahaya mengitari majlis, masuk ke pintu, lalu ke atas kepalamu, masuk ke dadamu. Sekarang pulang!!”
Abuya memohon izin tetap mondok. Aang pun berkata:
“Boleh, tapi jangan sebut saya gurumu. Mau tidur, makan, ngaji, silakan. Tapi jangan panggil saya guru, dan jangan bilang siapa-siapa..” (Tawadhu’nya Aang Syadzili).
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
