WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Asal-Usul Pangeran Diponegoro: Putra Raja yang Dibesarkan di Tengah Rakyat



Ybia Indonesia - Lahir pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar, bayi laki-laki itu diberi nama Bendara Raden Mas Mustahar. Ia adalah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III. Meski ayahnya seorang Raja, ibunya—R.A. Mangkarawati—adalah seorang selir (garwa ampeyan) yang berasal dari Pacitan. Fakta inilah yang membuat kehidupan masa kecil Pangeran Diponegoro berbeda dari pangeran lainnya.

Ia tidak tumbuh dalam kemewahan tembok istana Keraton Yogyakarta, melainkan dibawa menyingkir ke Tegalrejo. Di sana, ia diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng (permaisuri Sultan HB I), sosok wanita yang sangat religius dan tangguh.

Di Tegalrejo, Diponegoro yang kemudian bergelar Raden Mas Ontowiryo tumbuh membaur dengan rakyat jelata. Ia menanam padi, bergaul dengan para kiai, dan mendalami ilmu agama layaknya seorang santri. Hidupnya jauh dari intrik politik keraton yang saat itu mulai keruh oleh campur tangan Belanda.

Kesadaran akan posisinya begitu kuat. Ketika sang ayah hendak mengangkatnya menjadi Raja, Diponegoro menolak dengan halus. Ia sadar bahwa ibunya bukanlah permaisuri, dan ia merasa hatinya lebih terpanggil untuk urusan keagamaan dan membela rakyat kecil ketimbang duduk di singgasana.

Latar belakang inilah—darah biru yang ditempa di tengah rakyat dan pesantren yang kelak melahirkan sosok pemimpin besar dalam Perang Jawa (1825–1830).


Sumber Referensi:

- Carey, Peter. (2012). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Kepustakaan Populer Gramedia.

- Babad Diponegoro (Warisan Ingatan Dunia UNESCO).

- Sagimun M.D. (1965). Pangeran Dipanegara: Pahlawan Nasional. 

KH Muhammad Munawwir: Sang Maestro Al-Qur'an dari Krapyak



Ybia Indonesia - KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad adalah salah satu ulama besar yang telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia Islam, khususnya di Indonesia. Beliau adalah salah satu santri dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan menjadi ahli Al-Qur'an yang terkemuka di Nusantara.

Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, yang kini menjadi pusat tahfidz terkemuka di Indonesia. Beliau dikenal sebagai sanad Al-Qur'an utama abad ke-20 di Nusantara, dan telah berguru pada ulama' Mekkah dan Madinah.

KH M. Munawwir dikenal sebagai seorang yang istiqamah dalam beribadah. Salat wajib dan sunnah rutin dikerjakannya. Wirid Al-Qur'an selalu ia khatamkan sepekan sekali, biasanya setiap hari Kamis. Sifat muru'ah tercermin dari kerapiannya berpakaian.

Beliau adalah sosok yang memiliki perhatian besar terhadap keluarga dan para santrinya. Wejangan-wejangan yang ia sampaikan dalam pengajian secara apik diterapkan dalam pergaulan sehari-hari. Beliau tidak membedakan tamu yang mendatanginya, semua ia sambut dengan baik.

KH Munawwir sakit selama 16 hari sebelum meninggal dunia pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1360 H (6 Juli 1942) di rumahnya, di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Beliau dikenal sebagai pembuka tradisi tahfiz, khususnya, di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dan di akui sebagai santri nya, dan semoga kita semua mendapat kan barokah nya, amin ya rabbal alamin. 

Karomah Syekh Muhammad Sholeh: Sang Wali dari Gunung Santri



Ybia Indonesia - Gunung Santri di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, menyimpan kisah bersejarah tentang perjalanan dakwah Islam di tanah Banten. Di tempat ini, seorang ulama bernama Syekh Muhammad Sholeh bin Abdurrahman menjalankan peran penting dalam penyebaran agama Islam, sekaligus menjadi tokoh sentral dalam legenda karomah yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.

Syekh Muhammad Sholeh dikenal sebagai santri dari dua tokoh Wali Songo, yakni Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia mendapat amanah untuk berdakwah ke wilayah barat Pulau Jawa. Saat itu, Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dan mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu.

Dalam perjalanannya, Syekh Muhammad Sholeh sempat mencari Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati, yang lebih dahulu berangkat ke Banten. Pertemuan keduanya terjadi di Gunung Lempuyang, dekat Kampung Merapit, Desa Ukir Sari. Namun, karena Maulana Hasanuddin merasa terpanggil untuk mengislamkan wilayah Banten lebih dalam, Syekh Sholeh akhirnya menetap dan berdakwah di kawasan Gunung Santri yang kini menjadi tempat ziarah bagi banyak orang.

Konflik muncul ketika Prabu Pucuk Umun, Raja Pajajaran, menantang Maulana Hasanuddin dalam sebuah adu ayam jago. Tantangan itu bukan sekadar adu hewan, melainkan pertarungan kehormatan dan kekuasaan. Taruhannya adalah nyawa.

Setelah melalui musyawarah dengan para pengawal, Syekh Muhammad Sholeh yang maju mewakili. Dalam kisah yang diyakini masyarakat, Syekh Sholeh menunjukkan karomahnya dengan berubah menjadi seekor ayam jago dan memenangkan pertarungan tersebut.

Meski kalah, Prabu Pucuk Umun menolak menerima hasil itu dan memilih melancarkan serangan. Terjadilah pertempuran antara pasukannya dan pasukan Maulana Hasanuddin. Akhirnya, kekuatan Pajajaran dikalahkan dan mundur ke wilayah selatan, yang kini dikenal sebagai tanah suku Baduy.

Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah atau 958 Masehi, dalam usia 76 tahun. Ia dimakamkan di puncak Gunung Santri, sesuai dengan pesan terakhirnya kepada para santri. Di sekitar makamnya, terdapat pula makam empat sahabatnya: Malik, Isroil, Ali, dan Akbar, yang setia menemani Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan ajaran Islam.

Kini, Gunung Santri telah berkembang menjadi sebuah objek wisata religi yang menarik perhatian banyak peziarah dan wisatawan. Tempat ini tak hanya menyuguhkan kedalaman spiritual, tetapi juga menghidupkan kembali kisah karomah Syekh Muhammad Sholeh yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Banten. 

KH Syaikhuna Badruzzaman: Ulama Kharismatik dari Garut yang Berani dan Teguh



Ybia Indonesia - Di tanah Garut yang sejuk, pernah lahir seorang ulama yang bukan hanya ahli ilmu, tetapi juga ahli keberanian. Namanya: KH Syaikhuna Badruzzaman.. Seorang kiai, pejuang, pemimpin tarekat, dan penjaga akidah umat. Beliau lahir tahun 1900 dari keluarga ulama terhormat: Putra dari Raden KH Asnawi Muhammad Faqih dan Hj. Kulsum. Nasabnya bersambung hingga Sunan Gunung Djati — darah ulama sekaligus pewaris perjuangan dakwah di tanah Sunda. Namun kemuliaan beliau bukan sekadar karena nasab. Kemuliaannya lahir dari ilmu, ketegasan, dan keberanian.


Pendidikan & Keilmuan

Sejak kecil beliau dididik langsung oleh ayahnya dan pamannya, KH Qurtubi, sebelum melanjutkan ke pesantren kakaknya, KH Bunyamin di Ciparay, Bandung. Ilmu yang beliau pelajari bukan sekadar untuk diri sendiri. Ilmu itu menjadi bekal untuk membela umat dan bangsa. Kelak beliau memimpin Pesantren Al-Falah Biru Garut, menjadikannya pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak tokoh.


Ulama yang Tidak Tunduk pada Penjajah

Saat Belanda berkuasa, beliau menentang kebijakan yang bertentangan dengan syariat, termasuk praktik penyuntikan mayat. Saat Jepang datang, beliau dengan tegas menolak seikerei (membungkuk ke arah matahari terbit). Bagi beliau, sujud hanya kepada Allah. Tidak kepada matahari. Tidak kepada kekuasaan. Tidak kepada penjajah. Inilah tauhid yang hidup.Bukan teori. Tapi sikap.


Pejuang di Medan Perang

KH Badruzzaman memimpin Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Beliau ikut berperan dalam perjuangan fisik, termasuk dalam pertempuran Surabaya. Menurut riwayat lisan, beliau dikenal memiliki karomah dalam perjuangan. Namun yang lebih penting dari karomah adalah keberanian dan keteguhan iman yang nyata di medan tempur.


Muqaddam Tarekat Tijaniyyah

Beliau juga dikenal sebagai salah satu Muqaddam Tarekat Tijaniyyah terkemuka di Jawa Barat. Pengikutnya mencapai puluhan ribu. Beliau membuktikan bahwa tarekat sejati bukan pelarian dari dunia, tetapi kekuatan spiritual untuk memperbaiki dunia. Tasawuf tidak melemahkan. Tasawuf justru menguatkan.


Relasi Nasional

KH Syaikhuna Badruzzaman memiliki hubungan baik dengan tokoh nasional. Beliau dipercaya melantik Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pada tahun 1950. Ini menunjukkan bahwa ulama bukan hanya penjaga mimbar, tetapi juga penjaga arah bangsa.


Warisan Abadi

Beliau wafat meninggalkan: • Pesantren yang terus hidup • Jaringan tarekat yang luas • Santri yang meneruskan perjuangan • Jejak tauhid yang tak tergoyahkan Garut boleh sunyi, tapi sejarahnya tidak pernah kosong dari ulama besar. KH Syaikhuna Badruzzaman adalah bukti bahwa ulama sejati bukan hanya ahli kitab, tetapi juga ahli sikap. Dan hari ini, kita butuh lebih banyak ulama seperti beliau. 

Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid Bagikan Bingkisan Paket Sembako kepada Jema'ah Pengajian Mingguan

 


Sukabumi, Ybia Indonesia - Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid kembali menunjukkan kepeduliannya kepada jema'ah pengajian mingguan dengan membagikan bingkisan paket sembako. Acara pembagian bingkisan ini berlangsung setelah pengajian mingguan yang rutin diadakan setiap hari Rabu siang.

Nani Utami, salah satu manajemen Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, menyatakan bahwa "Kami ingin menunjukkan kepedulian kami kepada jema'ah pengajian mingguan yang telah setia mengikuti kegiatan kami. Semoga bingkisan paket sembako ini dapat membantu dan memberikan manfaat bagi mereka." Rabu, (11/2/26).

Bingkisan paket sembako ini merupakan program rutin tahunan Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid menjelang bulan suci Ramadhan. "Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas bingkisan paket sembako ini. Semoga Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid semakin maju dan dapat terus membantu masyarakat," kata salah satu jema'ah pengajian, Ibu Fatimah.

Pembagian bingkisan paket sembako ini diserahkan langsung oleh tim manajemen Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid kepada jema'ah pengajian mingguan. 

Pengajian Rutin Mingguan Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid



Sukabumi, Ybia Indonesia - Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid kembali menggelar pengajian rutin mingguan, setiap hari Rabu siang pukul 13.00 WIB - selesai, dengan menghadirkan Ustadz Saeful Anwar sebagai pembicara. Rabu, (11/2/26).

Ela Nurlaela, salah satu manajemen Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid, menyatakan bahwa "Kami sangat senang dapat menyelenggarakan pengajian rutin mingguan ini, sebagai upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan umat Islam. Kami berharap, pengajian ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi para jemaah dan dapat meningkatkan kualitas keimanan kita semua."

Pengajian ini akan membahas tentang berbagai topik keislaman, dan diisi dengan pembacaan Al-Quran, shalawat, dan doa bersama, sebagai bagian dari kegiatan jema'ah Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid. 

Perjalanan Spiritual Syaikh Hisyam Al-Kabbani: Guru Para Wali dan Ulama Dunia



Ybia Indonesia - Syaikh Muhammad Hisham Al-Kabbani, seorang ulama sufi besar yang berasal dari Amerika Serikat, memiliki perjalanan spiritual yang luar biasa. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dan telah menjadi guru bagi jutaan Muslim di seluruh dunia.


Latar Belakang Syaikh Hisyam Al-Kabbani

Syaikh Hisyam lahir pada 13 Safar 1364/28 Januari 1945 di Beirut, Lebanon. Beliau berasal dari keluarga Kabbani yang merupakan salah satu keluarga Muslim tertua di Beirut. Syaikh Hisyam telah menemani Syaikh Abdullah ad-Daghestani dan Syaikh Muhammad Nadzim al-Haqqani sejak usia 15 tahun.


Hijrah dan Dakwah

Beliau telah melakukan perjalanan ke berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Eropa, dan Timur Jauh. Pada tahun 1991, Syaikh Hisyam memulai dakwah di Amerika Serikat dan mendirikan yayasan Thariqat Naqsyabandi. Beliau juga telah membuka 13 pusat sufi di Kanada dan Amerika Serikat.


Kunjungan ke Indonesia

Syaikh Hisyam telah mengunjungi Indonesia beberapa kali, yaitu pada tahun 1997, 1998, dan 2000. Beliau telah mendirikan Zawiyah Naqsyabandi Haqqani di Jakarta dan telah memiliki ribuan murid di Indonesia.


Pesan dan Ajaran

Syaikh Hisyam telah menyebarkan ajaran Islam yang lembut dan penuh kasih sayang. Beliau telah menjadi guru bagi para wali dan ulama, dan telah memiliki jutaan murid di seluruh dunia.