WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Keberkahan Makan Sahur di Bulan Ramadhan


Ybia Indonesia - Makan sahur adalah salah satu tradisi yang sangat penting di bulan Ramadhan. Makan sahur memiliki keberkahan yang sangat besar, baik secara fisik maupun spiritual.


Keberkahan Fisik

Makan sahur memiliki beberapa keberkahan fisik, yaitu:

- Meningkatkan Energi: Makan sahur dapat meningkatkan energi dan stamina untuk menjalankan puasa.

- Mengurangi Lapar: Makan sahur dapat mengurangi lapar dan membuat puasa lebih nyaman.

- Meningkatkan Kesehatan: Makan sahur dapat meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko penyakit.


Keberkahan Spiritual

Makan sahur juga memiliki beberapa keberkahan spiritual, yaitu:

- Mendapatkan Pahala: Makan sahur dapat mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT.

- Meningkatkan Iman: Makan sahur dapat meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

- Mengurangi Dosa: Makan sahur dapat mengurangi dosa dan kesalahan.


Tips Makan Sahur yang Sehat

Berikut beberapa tips makan sahur yang sehat:

- Makan dengan Perlahan: Makan sahur dengan perlahan dan tidak terburu-buru.

- Pilih Makanan yang Sehat: Pilih makanan yang sehat dan bergizi.

- Jangan Makan Terlalu Banyak: Jangan makan terlalu banyak, karena dapat membuat puasa tidak nyaman.

Dengan demikian, makan sahur adalah salah satu tradisi yang sangat penting di bulan Ramadhan, yang memiliki keberkahan yang sangat besar, baik secara fisik maupun spiritual. 

Siswa SMP Negeri 1 Kalapanunggal Bagikan Takjil Gratis untuk Buka Puasa



Sukabumi, Ybia Indonesia - Siswa-siswi SMP negeri 1 Kalapanunggal kabupaten Sukabumi, membagikan takjil gratis untuk buka puasa, kepada pengendara motor dan mobil yang melintas, di jalan raya Kalapanunggal, tepatnya di depan sekolah menengah pertama (SMP) negeri 1 Kalapanunggal, Kamis (12/3/26) pukul 17.30 WIB.

Pengendara motor, Andi, yang menerima takjil gratis tersebut, mengucapkan terima kasih kepada siswa-siswi SMP Negeri 1 Kalapanunggal.

"Terima kasih banyak atas takjil gratisnya. Ini sangat membantu kami yang sedang berpuasa," kata Andi.

Kegiatan ini merupakan salah satu contoh kegiatan sosial yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP Negeri 1 Kalapanunggal untuk meningkatkan kesadaran sosial dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat. (La)

Kota Mekkah: Keindahan yang Tak Terbatas



Ybia Indonesia - Kota Mekkah, salah satu kota suci umat Islam, memiliki keindahan yang tak terbatas. Dari sudut manapun, kota ini tetap indah dan mempesona. Apalagi di sekitaran Masjidil Haram, keindahan kota Mekkah semakin terpancar.


Keindahan Arsitektur Masjidil Haram

Masjidil Haram, salah satu masjid terbesar di dunia, memiliki arsitektur yang sangat indah. Bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur Islam yang khas, dengan kubah-kubah yang menjulang tinggi dan menara-menara yang menjulang ke langit.


Keindahan Alam

Kota Mekkah dikelilingi oleh pegunungan yang indah, seperti Gunung Arafat dan Gunung Marwah. Keindahan alam ini semakin menambah keindahan kota Mekkah.


Keindahan Budaya

Kota Mekkah memiliki budaya yang sangat kaya, dengan sejarah yang panjang dan tradisi yang kuat. Umat Islam dari seluruh dunia datang ke kota ini untuk beribadah dan mengunjungi tempat-tempat suci.


Keindahan Spiritual

Kota Mekkah adalah tempat yang sangat suci bagi umat Islam. Di sini, umat Islam dapat merasakan kehadiran Allah SWT dan mendapatkan keberkahan.


Keindahan di Sekitaran Masjidil Haram

Di sekitaran Masjidil Haram, terdapat banyak tempat-tempat yang indah, seperti:

- Ka'bah: Tempat suci umat Islam, yang menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia.

- Maqam Ibrahim: Tempat suci yang menjadi tempat berdirinya Nabi Ibrahim AS.

- Hajar Aswad: Batu hitam yang menjadi simbol kesucian dan keberkahan.

Dengan demikian, kota Mekkah adalah tempat yang sangat indah dan suci, yang memiliki keindahan yang tak terbatas. 

Asal-usul Sejarah Ketupat Lebaran: Tradisi Tahunan yang Sarat Makna



Ybia Indonesia - Ketupat lebaran adalah salah satu tradisi tahunan yang sangat populer di Indonesia, terutama saat Hari Raya Idul Fitri. Namun, tahukah Anda asal-usul sejarah ketupat lebaran?


Sejarah Awal Ketupat

Ketupat memiliki sejarah yang panjang dan kaya, yang berasal dari tradisi masyarakat Jawa. Kata "ketupat" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu "nglupat", yang berarti "mengurangi atau menghilangkan kesalahan".

Tradisi membuat ketupat diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14. Saat itu, ketupat dibuat sebagai simbol kesyukuran atas hasil panen yang melimpah.


Makna Ketupat

Ketupat memiliki makna yang sangat dalam, yaitu:

- Simbol kesyukuran: Ketupat dibuat sebagai simbol kesyukuran atas hasil panen yang melimpah dan sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT.

- Simbol kebersihan: Ketupat juga dibuat sebagai simbol kebersihan, baik secara fisik maupun spiritual.

- Simbol persatuan: Ketupat dibuat sebagai simbol persatuan dan kesatuan umat Islam, serta sebagai simbol kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat.


Tradisi Membuat Ketupat

Tradisi membuat ketupat biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Proses membuat ketupat melibatkan beberapa langkah, yaitu:

- Menganyam daun kelapa: Daun kelapa dianyam menjadi bentuk ketupat.

- Mengisi ketupat: Ketupat diisi dengan nasi atau bahan makanan lainnya.

- Merebus ketupat: Ketupat direbus hingga matang.


Ketupat dalam Tradisi Lebaran

Ketupat menjadi salah satu makanan utama saat Hari Raya Idul Fitri. Ketupat biasanya disajikan dengan opor ayam, gempol, atau makanan lainnya.

Dengan demikian, ketupat lebaran bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga memiliki makna yang sangat dalam dan menjadi bagian dari tradisi tahunan yang sangat berharga. 

Cahaya di Masjidil Haram: Kisah Karomah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan



Ybia Indonesia - Nama Syekh Abdul Muhyi tak asing lagi bagi para warga di Pamijahan, Tasikmalaya karena sosoknya diyakini sebagai salah seorang wali Allah yang memiliki segudang karomah. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar 1650 Masehi atau 1071 Hijriah dan dibesarkan oleh orangtuanya di Kota Gresik.

Dia selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Gresik. Saat berusia 19 tahun dia pergi ke Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf Singkil bin Abdul Jabar selama 8 tahun. Pada usia 27 tahun dia beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun.

Setelah itu diajak oleh Syekh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Ketika sampai di Baitullah, Syekh Abdul Rauf mendapat ilham kalau di antara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syekh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana.

Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya Syekh Abdul Rauf sebagai tanda-tanda tersebut. Setelah itu, Syekh Abdul Rauf menyuruh pulang Abdul Muhyi ke Gresik untuk minta restu dari kedua orangtua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di salah satu daerah di Jawa Barat.

Sebelum berangkat mencari gua, Abdul Muhyi dinikahkan oleh orangtuanya dengan Ayu Bakta putri dari Sembah Dalem Sacaparana putra Dalem Sawidak atau Raden Tumenggung Wiradadaha III. Tak lama setelah pernikahan, dia bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan.

Atas permintaan penduduk setempat Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun. Kabar tentang menetapnya Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

Di samping untuk membina penduduk, dia juga berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah. Sedang harapan dia sesuai isyarat tentang keberadaan gua yang diberikan oleh Syekh Abdul Rauf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada.

Karena tidak menemukan gua yang dicari, akhirnya Syekh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk (Garut Selatan). Di sini dia bermukim selama 1 tahun untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu.

Setahun kemudian, ayahanda (Sembah Lebe Warta Kusumah) meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan. Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, dia melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi.

Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690 M). Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang dicari, dia tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas Gunung Kampung Cilumbu.

Akhirnya dia turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi. Bila senja tiba, dia kembali ke Lebaksiu menjumpai keluarganya, karena jarak dari tempat ini tidak begitu jauh, sekitar 6 km. Suasana di pegunungan tersebut sering membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti gunung untuk menenangkan hati.

Pada suatu hari, Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat.

Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdoa kepada Allah, semoga gua yang dicari segera ditemukan. Maka dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama.

Disanalah dia yakin bahwa di dalam gunung itu adanya gua. Sewaktu Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicauan burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya. Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah.

Telah ditemukan gua bersejarah, dimana ditempat ini dahulu Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi. Gua yang sekarang dikenal dengan nama Gua Pamijahan diyakini adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Abdul Muhyi.

Gua ini terletak di antara kaki Gunung Mujarod. Sejak gua ditemukan Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim disana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, dia juga menempuh jalan tarekat.

Di dalam Gua Pamijahan ada 'Kopiah Haji', yaitu lekukan-lekukan bulat atap gua yang menyerupai peci. Konon jika ada yang pas saat berdiri, Insya Allah akan bisa naik haji. ada juga lubang-lubang seperti mulut gua yang dikisahkan menjadi 'jalan tembus menuju Banten, Cirebon, sampai Makkah'. Wallahu a'lam bishawab.

Sekian lama mendidik santrinya di dalam gua, kemudian Syekh Abdul Muhyi mulailah menyebarkan agama Islam di perkampungan penduduk. Di dalam perjalanan, sampailah di salah satu perkampungan yang terletak di kaki gunung, bernama Kampung Bojong.

Selama bermukim di Bojong dianugerahi beberapa putra dari istrinya, Ayu Bakta. Diantara putra dia adalah Dalem Bojong, Dalem Abdullah, Media Kusumah, Pakih Ibrahim. Beberapa lama setelah menetap di Bojong, atas petunjuk dari Allah, Syekh Abdul Muhyi beserta santri-santrinya pindah ke daerah Safarwadi. Di sini dia membangun masjid dan rumah sebagai tempat, tinggal sampai akhir hayatnya.

Dalam menyebarkan agama Islam Syekh Abdul Muhyi mengunakan metode Tharekat Nabawiah yaitu dengan akhlak yang luhur disertai tauladan yang baik. Salah satu contoh metode dalam mengislamkan seseorang adalah sewaktu dia melihat seseorang yang sedang memancing ikan. Namun orang itu kelihatan sedih karena tidak mendapat seekor ikanpun. Lalu dihampirinya dan disapa, "Bolehkah saya meminjam kailnya?" Orang itu memperbolehkannya.

Syekh Abdul Muhyi mulai memancing sambil berdoa, "Bismillaah hirrohmaa nir roohiim, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Wa Asy Hadu Anna Muhammaddur Rasulullah,". Setiap kail dilemparkan ke dalam air, ikan selalu menangkapnya. Tidak lama kemudian ikan yang didapat sangat banyak sekali sampai membuat orang tersebut keheranan dan bertanya, "Apa doa yang dibaca untuk memancing?. Dia menjawab, "Basmalah dan Syahadat". Akhirnya orang tersebut tertarik dengan doa itu dan masuk Islam.

Dalam kitab Istigal Tareqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah diceritakan beberapa kisah karomah Syekh Abdul Muhyi. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, suatu hari ada orang yang dikejar-kejar sekawanan lebah, lari meminta pertolongan Syekh Abdul Muhyi. Kemudian Syekh Abdul Muhyi berseru kepada kelompok lebah itu, “Kenapa kalian lebah bersikap begitu kepada manusia. Apakah kalian tak mengerti di dalam tubuh manusia lahir dan batin ada lathoif laa ilaha illa Allah !” Lebah-lebah itu langsung mati. Lalu tubuh orang itu seperti keluar asap. Dia selamat tanpa bekas luka apapun.

Kedua, saat seseorang membawa istrinya yang buta setelah melahirkan menemui Syekh Abdul Muhyi untuk minta kesembuhan. Oleh Syekh Abdul Muhyi mereka diajak dzikir, membaca kalimat tahlil (laa ilaha illa Alloh) sebanyak 165 kali di masjid. Tak berapa lama wanita yang buta itu pun sembuh.

Ketiga, di waktu yang lain seseorang membawa anak yang terkena stroke, tubuhnya mati separuh untuk menemui Syekh Abdul Muhyi

Adab dan Etika Saat Makan: Menjaga Kesopanan dan Kesucian


Ybia Indonesia - Makan adalah salah satu kegiatan sehari-hari yang sangat penting bagi manusia. Namun, dalam Islam, makan juga memiliki adab dan etika yang harus diperhatikan agar kita dapat menjaga kesopanan dan kesucian.


Adab Sebelum Makan

- Mencuci tangan sebelum makan

- Membaca doa sebelum makan (Bismillah)

- Menggunakan tangan kanan saat makan

- Tidak berbicara saat makan


Adab Saat Makan

- Makan dengan perlahan-lahan dan tidak terburu-buru

- Tidak mengambil makanan yang terlalu banyak

- Tidak membuang makanan

- Menggunakan alat makan yang sesuai (sendok, garpu, dll.)


Adab Setelah Makan

- Membaca doa setelah makan (Alhamdulillah)

- Mencuci tangan setelah makan

- Membersihkan tempat makan

- Tidak meninggalkan sisa makanan


Etika Makan

- Makan dengan sopan dan tidak berisik

- Tidak makan sambil berjalan

- Tidak makan sambil berbicara

- Menghormati orang lain saat makan bersama

Dengan memperhatikan adab dan etika saat makan, kita dapat menjaga kesopanan dan kesucian, serta meningkatkan kualitas hidup kita.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan kesempatan untuk menjalankan adab dan etika saat makan dengan baik.

Manfaat Pengajian di Majlis Ta'lim



Ybia Indonesia - Pengajian rutin di Majlis Ta'lim Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid tidak hanya sekedar kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki banyak manfaat bagi umat Muslim. Berikut beberapa manfaat pengajian di Majlis Ta'lim:

- Meningkatkan Ilmu dan Iman: Pengajian memungkinkan kita untuk mempelajari Al-Quran, Hadits, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, sehingga meningkatkan ilmu dan iman kita.

- Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyyah: Pengajian juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dan mempererat ukhuwah Islamiyyah dengan sesama Muslim, sehingga kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dan harmonis.

- Mendapatkan Bimbingan dan Nasihat: Pengajian juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan bimbingan dan nasihat dari para ustadz dan ulama, sehingga kita dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup.

- Meningkatkan Kualitas Ibadah: Pengajian juga membantu kita untuk meningkatkan kualitas ibadah, sehingga kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan ikhlas.

- Membentuk Karakter dan Akhlak: Pengajian juga membantu kita untuk membentuk karakter dan akhlak yang baik, sehingga kita dapat menjadi Muslim yang lebih baik dan berakhlak mulia.

Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid juga memiliki program lain seperti travel umrah dan haji, yang dapat membantu umat Muslim untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah dengan lebih mudah dan nyaman.

Dengan demikian, pengajian di Majlis Ta'lim Yayasan Baitul Insan Ar-Raasyid sangat penting bagi umat Muslim untuk meningkatkan ilmu, iman, dan akhlak, serta mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyyah.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan kesempatan untuk terus meningkatkan ilmu dan iman kita, serta mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyyah. (Red)