WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

KH Muhammad Thoifur Mawardi: Ulama Kharismatik Purworejo, Pengayom Umat dan Penjaga Moral Bangsa



Ybia Indonesia - Nama lengkap beliau adalah KH Muhammad Thoifur Mawardi. Lahir di Purworejo, tanggal 8 Agustus 1955 dan meninggal dunia di usia 70 tahun. Abah Thoifur–begitu beliau biasa dipanggil-adalah putra dari KH R. Mawardi, seorang ulama yang juga dikenal di Purworejo. Dari jalur ayahnya, KH Thoifur masih termasuk dzurriyyah KH R. Imam Maghfuro, seorang tokoh besar Karesidenan Kedu, sekaligus memiliki ikatan darah dengan trah Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram.


Masa Kecil Dan Pendidikan Awal

Sejak kecil, KH Thoifur dikenal tekun dalam menuntut ilmu agama. Pendidikan dasar agama diperoleh dari lingkungan keluarga, kemudian melanjutkan pengembaraan intelektualnya di beberapa pesantren besar Jawa. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Sugihan, Kajoran, Magelang untuk menimba ilmu dasar kitab kuning, fiqh, dan ilmu alat. Kemudian di Pondok Pesantren Lasem, Rembang untuk memperdalam ilmu syariah, hadits, dan tasawuf, sekaligus berinteraksi dengan tradisi pesantren pesisir yang kental dengan semangat dakwah.


Perjalanan Ilmu di Tanah Suci

Pada tahun 1976, beliau berangkat ke Makkah dan mondok di Ma’had Rushaifah di bawah bimbingan Al-‘Allamah Al-Habib Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, seorang ulama besar yang dikenal sebagai ahli hadits internasional. Selama 12 tahun (1976–1988) beliau bermukim di Makkah, mengkaji kitab-kitab induk Islam, terutama hadits, sirah nabawiyyah, dan tasawuf. Dari sanalah beliau dikenal memiliki penguasaan yang sangat luas hingga dijuluki “kitab berjalan” oleh rekan ulama dan habaib.


Karomah & Kisah Spiritual

Kiai Thoifur dikenal bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena karomah dan keistimewaan spiritualnya. Beberapa kisah yang terkenal antara lain:

Ahli mimpi bertemu Rasulullah SAW : beliau dikenal kerap mendapatkan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Bahkan banyak orang datang meminta doa agar dimudahkan bertemu Nabi melalui beliau.

Kisah “Bi’ru Thoifur” (Sumur Thoifur) : saat di Rushaifah Makkah, beliau bermimpi didatangi Rasulullah SAW yang memerintahkan menggali tanah di lokasi tertentu. Setelah digali, benar-benar keluar sumber air yang kemudian menjadi sumur utama bagi para santri hingga kini. Sumur ini dikenal sebagai “Bi’ru Thoifur”.

Cinta Hadits Dan Sirah : Karena kecintaannya pada hadits dan kisah Rasulullah, beliau sering menekankan agar umat Islam memperbanyak membaca hadis supaya lebih mengenal Nabi. Dengan begitu, akan lebih mudah menghadirkan Rasulullah dalam mimpi.


Kiprah di Purworejo

Sepulang dari Makkah tahun 1988, beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Purworejo. Pesantren Daarut Tauhid berkembang pesat, kini memiliki ribuan santri serta lebih dari sepuluh cabang di wilayah Purworejo dan sekitarnya. Selain membina santri, KH Thoifur aktif berdakwah di masyarakat. Beliau dikenal sering hadir di berbagai majelis pengajian, tidak hanya di Purworejo tapi juga di luar daerah. Melalui pengajarannya, KH Thoifur menjadi penghubung sanad keilmuan dari ulama-ulama Nusantara dengan ulama Haramain, khususnya melalui Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.


Peran Nasional & Politik

Meskipun dikenal zuhud dan lebih menekuni dunia pesantren, KH Thoifur juga memberi pengaruh dalam ranah sosial-politik, khususnya melalui nasihat spiritual kepada tokoh nasional. Dalam suatu pertemuan di Makkah, beliau menyampaikan kepada Cak Imin bahwa jodohnya adalah Anies Baswedan. Ungkapan ini kemudian menjadi kenyataan pada Pilpres 2024 ketika keduanya berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden. Beliau berpesan agar para tokoh tidak saling menjelekkan, tetap istiqamah, dan menjaga ukhuwah umat Islam. Sikap ini mencerminkan beliau sebagai penjaga moral bangsa.


Warisan & Pengaruh

KH Thoifur Mawardi dikenal sebagai sosok alim, kharismatik, sederhana, dan penuh kasih kepada umat. Warisan beliau meliputi:

- Pondok Pesantren Daarut Tauhid dengan ribuan santri dan cabang.

- Sanad keilmuan hadits dan tasawuf yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui Sayyid Muhammad Al-Maliki.

- Keteladanan dalam keistiqamahan ibadah, zuhud, dan cinta Nabi.

- Pengaruh spiritual dan politik, yang menjadikannya sosok ulama pengayom sekaligus rujukan moral.

KH Muhammad Thoifur Mawardi adalah permata ulama dari Purworejo yang menggabungkan keilmuan mendalam, sanad bersambung ke Haramain, karomah spiritual, dan keteladanan akhlak. Beliau bukan hanya guru bagi santri-santri di pesantren, tetapi juga guru bangsa, yang menanamkan pentingnya persatuan, cinta Rasulullah, serta istiqamah dalam dakwah.


Diolah dari berbagai sumber (Website Desa Krandegan)

Profil Kiai Abdul Manan: Ulama Besar Banyuwangi yang Alim dan Rendah Hati



Ybia Indonesia - Kiai Abdul Manan, seorang ulama besar dari Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal karena kesalehan, kealiman, dan kerendahan hatinya. Perjalanan hidupnya penuh dengan dedikasi untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam.

Lahir pada 1870 di Kediri, Mbah Manan (sebutan akrabnya) menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Jawa Timur, termasuk di bawah asilnya Kiai Nawawi dan Kiai Kholil Bangkalan. Ia juga menimba ilmu di Mekkah selama 9 tahun. Setelah kembali ke Indonesia, Mbah Manan aktif mengajar dan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thullab di Sumberberas, Banyuwangi.

Mbah Manan dikenal sebagai kiai yang alim dan sakti, namun tetap rendah hati. Ia sering menyerahkan tugas mengajar kepada santri senior dan hanya turun langsung untuk mengajar kitab-kitab penting seperti Al-Hikam dan Tafsir Al-Jalalain. Kisah-kisah tentang kesaktiannya, seperti saat memberikan jimat kayu rotan untuk melawan keganasan PKI di tahun 1965, menunjukkan pengaruh besarnya di masyarakat.

Mbah Manan wafat pada 1972, meninggalkan warisan keilmuan dan spiritualitas yang terus hidup di kalangan masyarakat Banyuwangi dan pesantren-pesantren yang didirikannya.

Sudut Madinah: Menemukan Ketenangan di Kota Suci


Ybia Indonesia - Madinah, kota suci kedua dalam Islam, adalah tempat yang penuh dengan sejarah dan spiritualitas. Salah satu aspek yang paling menarik dari Madinah adalah sudut-sudutnya yang tenang dan damai, tempat di mana pengunjung dapat menemukan ketenangan dan kedamaian.


Apa itu Sudut Madinah?

Sudut Madinah adalah area-area kecil di sekitar Masjid Nabawi yang memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Sudut-sudut ini dapat berupa taman, plaza, atau bahkan hanya sebuah tempat duduk yang terletak di antara bangunan-bangunan tua. Namun, apa pun bentuknya, sudut-sudut ini memiliki satu hal yang sama: ketenangan dan kedamaian.


Keunikan Sudut Madinah

Sudut Madinah memiliki beberapa keunikan yang membuatnya begitu istimewa. Pertama, lokasinya yang strategis di sekitar Masjid Nabawi membuatnya menjadi tempat yang sangat dekat dengan pusat kegiatan keagamaan. Kedua, arsitektur bangunan dan taman-taman yang indah membuatnya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk beristirahat. Ketiga, suasana yang tenang dan damai membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk berdoa dan bermeditasi.


Tempat-tempat Sudut Madinah yang Populer

Beberapa tempat Sudut Madinah yang populer di antaranya adalah:

- Taman Raudhah: sebuah taman yang terletak di dalam Masjid Nabawi yang sangat indah dan tenang.

- Sudut Quba: sebuah sudut yang terletak di dekat Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

- Plaza Masjid Nabawi: sebuah plaza yang terletak di depan Masjid Nabawi yang sangat luas dan nyaman.


Tips untuk Mengunjungi Sudut Madinah


Jika Anda berencana untuk mengunjungi Sudut Madinah, berikut beberapa tips yang dapat membantu:

- Datanglah lebih awal untuk mendapatkan tempat yang nyaman.

- Jangan lupa untuk membawa air dan makanan ringan.

- Hormati pengunjung lain dan jaga kebersihan.

Dengan demikian, Sudut Madinah adalah tempat yang sangat istimewa bagi mereka yang ingin menemukan ketenangan dan kedamaian di kota suci Madinah. Jangan lupa untuk mengunjungi tempat-tempat ini saat Anda berada di Madinah! 

Kisah KH. Nur Durya Walangsanga: Weruh Sadurunge Winarah



Ybia Indonesia - KH. Nur Durya Walangsanga adalah salah satu kyai yang dianugerahi Allah SWT kemampuan melihat sebelum terjadi (weruh sadurunge winarah). Beliau dapat melihat yang tersurat dari yang tersirat, sehingga banyak peristiwa yang dapat diprediksi sebelum terjadi.

Suatu ketika, Haji Samsuddin dan istrinya yang berasal dari Tegal hendak melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Mereka sowan ke kediaman KH. Nur untuk meminta doa dan berkah. KH. Nur hanya berkata, "Mau haji? haji Singapura?" tanpa ekspresi sedikit pun. H. Samsuddin tidak mengerti maksud perkataan KH. Nur, namun akhirnya mereka membatalkan rencana pergi haji tahun itu.

Setelah beberapa tahun, H. Samsuddin baru menyadari bahwa perkataan KH. Nur adalah sebuah prediksi bahwa mereka tidak dapat menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Baru pada tahun-tahun setelahnya mereka bisa menunaikan ibadah hajinya.

KH. Nur juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak cinta dunia. Beliau selalu menjaga wudhunya dan melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan, beliau selalu melaksanakan shalat Subuh dengan menggunakan wudhu shalat Isya, menandakan bahwa setiap malam beliau tidak pernah tidur, namun bermunajat dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.

Setelah tinggal selama 50 tahun di Desa Walangsanga, KH. Nur pergi untuk mengasingkan diri demi bisa mendekatkan diri pada Allah SWT di Lereng Gunung Sembung.



RA Kartini: Pendekar Wanita Asal Jepara



Ybia Indonesia - Raden Ayu Adipati Kartini Djojoadhiningrat, atau lebih dikenal dengan Raden Ajeng Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904.

Kartini dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi.

Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda. Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan pembelaannya untuk mendidik anak perempuan dan perempuan.

Surat-surat RA Kartini diterbitkan di sebuah majalah Belanda dan akhirnya, pada tahun 1911, menjadi karya: Habis Gelap Terbitlah Terang, Kehidupan Perempuan di Desa, dan Surat-Surat Putri Jawa.

Ulang tahunnya sekarang dirayakan di Indonesia sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya, serta beberapa sekolah dinamai menurut namanya dan sebuah yayasan didirikan atas namanya untuk membiayai pendidikan anak perempuan bangsa Indonesia.



Abuya Dimyati: Ulama Kharismatik dari Banten



Ybia Indonesia - Abuya Dimyati, yang lebih dikenal dengan KH. Muhammad Dimyati al-Bantani, adalah seorang ulama kharismatik dan tokoh sufi terkemuka asal Pandeglang, Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1920 dan wafat pada 3 Oktober 2003 bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H dalam usia 78 tahun.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok alim yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius melalui bimbingan berbagai ulama besar di Nusantara. Beliau memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), sehingga mendapat julukan “Mbah Dim” atau “Si Kitab Banyak”.

Beliau juga merupakan seorang mursyid dalam Tarekat Syadziliyah, yang membimbing para murid dalam kehidupan spiritual dan pengamalan tasawuf. Abuya Dimyati mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Cidahu, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di wilayah Banten.

Melalui pesantren ini, beliau mencetak banyak santri yang mendalami ilmu agama dengan pendekatan tradisional yang kuat. Di samping mengajar, beliau juga menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya Minhaj al-Istifa, Al-Hadiyyah al-Jalaliyyah, dan Bahjah al-Qalaid, yang mencerminkan kedalaman ilmu serta pemikirannya.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 011 Abuya Dimyati Cidahu Banten

KH. Muhammad Romli Tamim: Ulama Kharismatik dari Rejoso Jombang



Ybia Indonesia - KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan, Madura, sebagai putra dari KH. Tamim Irsyad. Beliau dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan menimba ilmu agama kepada ayahnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, dan KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang disegani dan memiliki kealiman dan ketawadhu'an yang tinggi. Beliau turut mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dan dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dengan dedikasi besar dalam dakwah, pendidikan, dan amalan spiritual, KH. Muhammad Romli Tamim meninggalkan warisan keilmuan dan tradisi yang terus hidup di tengah umat hingga wafat pada 6 April 1958.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 042 KH. Muhammad Romli Tamim Rejoso Jombang