WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Kisah KH. Nur Durya Walangsanga: Weruh Sadurunge Winarah



Ybia Indonesia - KH. Nur Durya Walangsanga adalah salah satu kyai yang dianugerahi Allah SWT kemampuan melihat sebelum terjadi (weruh sadurunge winarah). Beliau dapat melihat yang tersurat dari yang tersirat, sehingga banyak peristiwa yang dapat diprediksi sebelum terjadi.

Suatu ketika, Haji Samsuddin dan istrinya yang berasal dari Tegal hendak melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Mereka sowan ke kediaman KH. Nur untuk meminta doa dan berkah. KH. Nur hanya berkata, "Mau haji? haji Singapura?" tanpa ekspresi sedikit pun. H. Samsuddin tidak mengerti maksud perkataan KH. Nur, namun akhirnya mereka membatalkan rencana pergi haji tahun itu.

Setelah beberapa tahun, H. Samsuddin baru menyadari bahwa perkataan KH. Nur adalah sebuah prediksi bahwa mereka tidak dapat menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Baru pada tahun-tahun setelahnya mereka bisa menunaikan ibadah hajinya.

KH. Nur juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak cinta dunia. Beliau selalu menjaga wudhunya dan melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan, beliau selalu melaksanakan shalat Subuh dengan menggunakan wudhu shalat Isya, menandakan bahwa setiap malam beliau tidak pernah tidur, namun bermunajat dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.

Setelah tinggal selama 50 tahun di Desa Walangsanga, KH. Nur pergi untuk mengasingkan diri demi bisa mendekatkan diri pada Allah SWT di Lereng Gunung Sembung.



RA Kartini: Pendekar Wanita Asal Jepara



Ybia Indonesia - Raden Ayu Adipati Kartini Djojoadhiningrat, atau lebih dikenal dengan Raden Ajeng Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904.

Kartini dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi.

Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda. Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan pembelaannya untuk mendidik anak perempuan dan perempuan.

Surat-surat RA Kartini diterbitkan di sebuah majalah Belanda dan akhirnya, pada tahun 1911, menjadi karya: Habis Gelap Terbitlah Terang, Kehidupan Perempuan di Desa, dan Surat-Surat Putri Jawa.

Ulang tahunnya sekarang dirayakan di Indonesia sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya, serta beberapa sekolah dinamai menurut namanya dan sebuah yayasan didirikan atas namanya untuk membiayai pendidikan anak perempuan bangsa Indonesia.



Abuya Dimyati: Ulama Kharismatik dari Banten



Ybia Indonesia - Abuya Dimyati, yang lebih dikenal dengan KH. Muhammad Dimyati al-Bantani, adalah seorang ulama kharismatik dan tokoh sufi terkemuka asal Pandeglang, Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1920 dan wafat pada 3 Oktober 2003 bertepatan dengan 7 Sya’ban 1424 H dalam usia 78 tahun.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok alim yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara serius melalui bimbingan berbagai ulama besar di Nusantara. Beliau memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), sehingga mendapat julukan “Mbah Dim” atau “Si Kitab Banyak”.

Beliau juga merupakan seorang mursyid dalam Tarekat Syadziliyah, yang membimbing para murid dalam kehidupan spiritual dan pengamalan tasawuf. Abuya Dimyati mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum di Cidahu, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di wilayah Banten.

Melalui pesantren ini, beliau mencetak banyak santri yang mendalami ilmu agama dengan pendekatan tradisional yang kuat. Di samping mengajar, beliau juga menghasilkan beberapa karya tulis, di antaranya Minhaj al-Istifa, Al-Hadiyyah al-Jalaliyyah, dan Bahjah al-Qalaid, yang mencerminkan kedalaman ilmu serta pemikirannya.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 011 Abuya Dimyati Cidahu Banten

KH. Muhammad Romli Tamim: Ulama Kharismatik dari Rejoso Jombang



Ybia Indonesia - KH. Muhammad Romli Tamim lahir pada tahun 1888 di Bangkalan, Madura, sebagai putra dari KH. Tamim Irsyad. Beliau dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan menimba ilmu agama kepada ayahnya, Syaikhona Kholil Bangkalan, dan KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang disegani dan memiliki kealiman dan ketawadhu'an yang tinggi. Beliau turut mengembangkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso dan dikenal sebagai mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dengan dedikasi besar dalam dakwah, pendidikan, dan amalan spiritual, KH. Muhammad Romli Tamim meninggalkan warisan keilmuan dan tradisi yang terus hidup di tengah umat hingga wafat pada 6 April 1958.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 042 KH. Muhammad Romli Tamim Rejoso Jombang

KH. Shonhaji Chasbullah: Guru Thariqah Gus Dur yang Sederhana



Ybia Indonesia - KH. Shonhaji Chasbullah, yang lebih dikenal dengan Mbah Jimbun Kebumen, adalah seorang ulama kharismatik yang lahir sekitar tahun 1916 M. Beliau belajar agama di beberapa pesantren, termasuk Pesantren Lerap, Pesantren Jetis, dan Pesantren Sumolangu, serta melanglang buana ke berbagai pesantren lainnya.

Mbah Jimbun dikenal sebagai guru thariqah Gus Dur dan memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Beliau tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, tetapi lebih fokus pada amal shaleh. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah tentang pentingnya kesederhanaan dan selalu bersama Allah.

Beliau wafat pada hari Senin 17 Maret 2008 M. sekitar pukul 17.00 WIB, dalam usia 92 tahun, dan dimakamkan di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 030 KH. Shonhaji Chasbullah Kebumen

K.H. Mahfudz Siroj: Ulama Kharismatik dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso



Ybia Indonesia - K.H. Mahfudz Siroj adalah seorang ulama kharismatik yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, dan menjadi bagian dari keluarga besar masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri. Beliau menikah dengan Nyai Hj. Badriyah Djazuli, putri dari pendiri pesantren tersebut, KH. Ahmad Djazuli Usman.

K.H. Mahfudz Siroj lahir pada tahun 1939 dan wafat pada hari Minggu Legi, 12 Juli 2009, bertepatan dengan 19 Rajab 1430 H. Beliau dikenal sebagai sosok kiai yang tenang, penuh adab, dan sangat dihormati oleh para santri maupun masyarakat.

Beliau memiliki peran penting dalam membimbing santri serta menjaga tradisi keilmuan salaf agar tetap lestari. Salah satu pesan yang sering dikenang dari beliau adalah tentang pentingnya adab, yang harus tumbuh dari dalam hati.

Dengan kepribadiannya yang lembut dan penuh keteladanan, K.H. Mahfudz Siroj meninggalkan kesan mendalam serta menjadi figur yang terus dikenang dalam tradisi pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Sumber: Potret 1000 Ulama Nusantara  Episode 043 KH. Mahfudz Siroj Ploso Kediri

Kiai Abd. Adzim Sidogiri: Takbiratul Ihram yang Menggetarkan



Ybia Indonesia - Kiai Abd. Adzim Sidogiri adalah seorang kiai yang sangat disiplin dalam menjaga waktu salat. Beliau membawa tiga jam untuk perbandingan dan memukul bel kloning untuk menentukan waktu salat yang tepat. Masyarakat Sidogiri sangat menghargai ketepatan waktu salat Kiai Abd. Adzim, sehingga mereka berpegang pada waktu beduk Sidogiri.

Kiai Abd. Adzim tidak pernah salat di akhir waktu, bahkan jika ada tamu, beliau tidak segan-segan meninggalkannya untuk salat berjamaah di masjid. Sebelum salat, beliau duduk terlebih dahulu sekitar 15 menit, kemudian berdiri langsung takbir, "Allâhu Akbar!". Konon, saat takbiratul ihram, kaca-kaca dan dinding di masjid bergetar.

Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih menjelaskan bahwa getaran itu disebabkan oleh istighrâq, yaitu di hati meniadakan selain Allah. Kiai Abd. Adzim mengharuskan santri berjamaah lima waktu, dan beliau tidak segan-segan mengejar santri yang tidak mengikuti salat berjamaah.

Suatu ketika, Kiai Abd. Adzim mengejar santri yang sedang mengambil mangga sambil berteriak, "Salat, salat, salat!!". Santri-santri itu lari pontang-panting, mengambil wudu, dan pergi ke masjid. Anehnya, Kiai Abd. Adzim sudah mengimami satu rakaat ketika mereka tiba di masjid.

Sumber: buku "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri (1)" diterbitkan oleh 'Sidogiri Penerbit'