WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Keistimewaan Unta dan Gurun Pasir: Dua Hal yang Sangat Terkait



Ybia Indonesia - Unta dan gurun pasir adalah dua hal yang sangat terkait dan memiliki keistimewaan masing-masing. Unta adalah hewan yang sangat adaptif dan istimewa, terutama di lingkungan gurun pasir yang keras dan kering. Gurun pasir sendiri memiliki keindahan dan keunikan yang luar biasa.


Keistimewaan Unta

Unta adalah hewan yang sangat istimewa dan adaptif, terutama di lingkungan gurun pasir yang keras dan kering. Berikut beberapa keistimewaan unta:

1. Kemampuan bertahan tanpa air: Unta dapat bertahan hidup tanpa air selama beberapa hari bahkan minggu, karena mereka dapat menyimpan air dalam lemak tubuh mereka.

2. Kemampuan berjalan di pasir: Unta memiliki kaki yang lebar dan empuk, sehingga mereka dapat berjalan di pasir gurun tanpa tenggelam.

3. Kemampuan mengatur suhu tubuh: Unta dapat mengatur suhu tubuh mereka untuk bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem, baik panas maupun dingin.

4. Kemampuan membawa beban berat: Unta dapat membawa beban yang berat dan berjalan jauh, sehingga mereka menjadi hewan transportasi yang ideal di gurun pasir.

5. Kemampuan menghasilkan air dari lemak: Unta dapat menghasilkan air dari lemak tubuh mereka, sehingga mereka dapat bertahan hidup tanpa air.


Keindahan Gurun Pasir

Gurun pasir sendiri memiliki keindahan dan keunikan yang luar biasa, seperti:

1. Pemandangan yang luas: Gurun pasir menawarkan pemandangan yang luas dan terbuka, sehingga kita dapat melihat keindahan alam yang luar biasa.

2. Keheningan yang mendalam: Gurun pasir sangat sunyi dan tenang, sehingga kita dapat merasakan keheningan yang mendalam dan menghubungkan diri dengan alam.

3. Bintang-bintang yang terang: Gurun pasir memiliki langit yang cerah dan bintang-bintang yang terang, sehingga kita dapat melihat keindahan alam semesta.


Kesimpulan

Unta dan gurun pasir adalah dua hal yang sangat terkait dan memiliki keistimewaan masing-masing. Unta adalah hewan yang sangat adaptif dan istimewa, sementara gurun pasir memiliki keindahan dan keunikan yang luar biasa. Dengan memahami keistimewaan unta dan gurun pasir, kita dapat lebih menghargai keindahan alam dan keunikan ciptaan Tuhan. 

Ulama Banten yang Meninggalkan Mimbar Demi Medan Gerilya: Kisah K.H. Syam'un, Pejuang Sejati dari Tanah Banten



Banten, Ybia Indonesia - Dari tanah yang sarat sejarah perlawanan, Banten, lahir seorang ulama kharismatik yang menuliskan takdirnya bukan hanya di kitab-kitab keilmuan, tetapi juga di rimba perjuangan bersenjata. Dialah Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) K.H. Syam’un—figur langka yang menyatukan iman, ilmu, dan keberanian revolusioner dalam satu tarikan napas perjuangan bangsa.

K.H. Syam’un bukan sekadar tokoh agama, bukan pula hanya pejabat pemerintahan. Ia adalah representasi ulama pejuang sejati: ketika nasib bangsa dipertaruhkan, mimbar ditinggalkan, jabatan dilepas, dan senjata diangkat demi tegaknya Merah Putih.


MENYALAKAN API KESADARAN BANGSA

Lahir di Kampung Beji, Cilegon, pada 1883 (sebagian sumber menyebut 1894), K.H. Syam’un mewarisi darah perlawanan. Ia adalah cucu K.H. Wasid, tokoh sentral Pemberontakan Petani Banten 1888, sebuah warisan ideologis yang membentuk kesadarannya sejak dini bahwa penjajahan harus dilawan, bukan dinegosiasikan.

Pendidikannya ditempa hingga ke pusat peradaban Islam dunia. Ia menuntut ilmu di Makkah dan kemudian di Universitas Al-Azhar, Kairo (1910–1915). Namun, sepulangnya ke Tanah Air, Syam’un tidak berdiam di menara intelektual. Ia melihat rakyat terbelenggu oleh kebodohan dan kemiskinan, penjajahan dalam rupa yang lebih sunyi namun mematikan.

Pada 1916, ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah di Citangkil. Pesantren ini berkembang menjadi institusi pendidikan modern yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum. Lebih dari sekadar pusat pendidikan, Al-Khairiyah menjelma menjadi dapur ideologis perlawanan, tempat nasionalisme dan kesadaran anti-kolonial ditanamkan secara sistematis.


SERAGAM PETA DAN STRATEGI PERLAWANAN

Babak perjuangan K.H. Syam’un memasuki fase krusial pada masa pendudukan Jepang. Pada 1943, ia diangkat sebagai Daidanco (Komandan Batalion) PETA wilayah Cilegon–Serang. Namun, jabatan itu bukan simbol kolaborasi, melainkan alat perjuangan. Di balik seragam militer, Syam’un memanfaatkan posisinya untuk melatih ribuan pemuda Banten dalam disiplin dan taktik perang. Ia menyiapkan mereka bukan untuk membela Jepang, melainkan untuk menghadapi setiap bentuk penjajahan yang menginjak bumi Indonesia.

Kesetiaan pasukan kepadanya bersifat total. Ia bukan sekadar komandan, melainkan guru spiritual. Tercatat dalam sejarah, seorang prajurit menolak perintah opsir Jepang dan hanya bersedia bertindak jika perintah itu datang langsung dari K.H. Syam’un, sebuah bukti betapa kuatnya wibawa moral sang ulama pejuang.


MENINGGALKAN PENDOPO, MEMILIH RIMBA

Pasca-Proklamasi, K.H. Syam’un dipercaya menjadi Bupati Serang ke-13. Namun, ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada Desember 1948 dan Serang kembali diduduki, ia membuat keputusan monumental: meninggalkan jabatan sipil tertinggi demi memimpin perlawanan bersenjata. Ia ditunjuk sebagai Panglima Divisi 1000/1, cikal bakal kekuatan yang kemudian terintegrasi dengan Divisi Siliwangi.

Di bawah komandonya, pasukan bergerilya dari Gunung Karang hingga pelosok Anyer, bertahan di tengah hutan, menghadapi kelaparan, penyakit, dan tekanan musuh yang tak berkesudahan. Inilah puncak pengorbanan seorang ulama yang memilih penderitaan di rimba raya daripada kenyamanan kekuasaan. Ia adalah bupati yang menanggalkan pendopo, panglima yang memilih tanah basah dan langit terbuka sebagai medan baktinya.


GUGUR SEBAGAI PEJUANG, ABADI SEBAGAI PAHLAWAN

Pada 2 Maret 1949, di Desa Kamasan, Anyer, K.H. Syam’un menghembuskan napas terakhir setelah sakit selama empat hari. Ia wafat dalam dekapan istri, jauh dari kemewahan yang pernah ia miliki, namun dekat dengan cita-cita kemerdekaan yang ia bela hingga akhir hayat.

Perjalanannya dari ulama, pendidik, Daidanco PETA, bupati, hingga panglima gerilya adalah potret utuh pengabdian tanpa syarat kepada bangsa dan negara. Negara kemudian mengukuhkan jasanya dengan menganugerahkan pangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) dan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.

K.H. Syam’un telah gugur. Namun, semangatnya tetap hidup, menyala di setiap jengkal tanah Banten, dan bergema dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia. 

Gua Hira: Tempat Mulia Turunnya Wahyu Pertama Al-Qur'an

 



Ybia Indonesia - Gua Hira adalah gua kecil yang berada di puncak Jabal Nur, dekat Kota Makkah. Tempat ini sangat mulia karena menjadi lokasi Rasulullah ﷺ sering berkhalwat untuk beribadah dan merenung. Di sinilah wahyu pertama Al-Qur'an turun melalui Malaikat Jibril عليه السلام dengan ayat "Iqra'", sebagai awal turunnya cahaya Islam.

Meski sempit dan sederhana, Gua Hira menyimpan sejarah besar yang menyentuh hati setiap muslim. Di tempat inilah Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dari Allah SWT, menandai awal dari risalah kenabian dan penyebaran Islam.

Gua Hira menjadi simbol kesabaran, keikhlasan, dan ketaqwaan Rasulullah ﷺ dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berziarah ke Gua Hira untuk mengenang momen bersejarah ini dan memohon keberkahan.



Raden Aria Wiratanu Datar I: Pendiri dan Bupati Pertama Cianjur, Penyebar Agama Islam dan Pembangun Peradaban



Ybia Indonesia - Raden Aria Wiratanu Datar I (Eyang Dalem Cikundul) adalah pendiri dan Bupati pertama Cianjur (1691) yang berjuang menyebarkan agama Islam serta membangun peradaban di wilayah Cianjur. Beliau dikenal sebagai pemimpin karismatik yang mendirikan pusat pemerintahan di Cikundul, mengembangkan pertanian, dan membuka akses pemukiman.


Perjuangan Raden Aria Wiratanu Datar:

- Penyebaran Agama Islam: Raden Aria Wiratanu Datar menyebarkan Islam di wilayah Cianjur, Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya. Beliau mendirikan pusat pengajaran Islam di Cikalong Kulon.

- Pendiri Cianjur: Beliau mendirikan pemerintahan kerajaan kecil yang berdaulat di Cianjur sekitar tahun 1691-1692 setelah melakukan riyadlah (olahraga batin/tarekat).

- Pembaruan Ekonomi & Sosial: Beliau menerapkan sistem huma banyir (sawah basah) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari sistem pertanian tradisional ngahuma (lahan kering).

- Pemimpin Karismatik: Beliau dihormati karena kepemimpinannya dan warisan budaya yang disebarkannya.

Makamnya di Cikundul menjadi situs sejarah dan ziarah penting, terutama diperingati saat hari jadi Cianjur. Keturunannya, terutama Aria Wiratanu Datar II, melanjutkan kepemimpinan dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Pamoyanan.

Perjuangan beliau tidak hanya terbatas pada bidang pemerintahan tetapi juga sosial-budaya dan keagamaan, menjadikannya figur sentral dalam sejarah Cianjur.

Pesan dan Isyarat dari Pangersa Abah Anom RA: Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan



Ybia Indonesia - Setelah pelaksanaan MANAQIB perdana di Masjid Kubah Emas pada 25 Oktober 2008, AG sowan kepada Pangersa ABAH ANOM ra di Madrasah Pontren SURYALAYA. Ketika itu Pangersa ABAH sedang bersama Kiai Haji Kankan Zulkarnaen dan Doktor Haji Suhrowardi.

Maka AG bercerita di depan Pangersa ABAH tentang syiar MANAQIB di Kubah Emas dan berbagai masjid agung lainnya. Walau pun AG bercerita cukup panjang namun Pangersa ABAH hanya diam saja dan tidak memberikan reaksi apa pun.

Setelah AG undur diri keluar dari ruang madrasah, maka Pangersa ABAH menoleh kepada Haji Kankan putra tercintanya. Pangersa ABAH berkata, "Aa', MANAQIB mah lain omongkeuneun euy, pigawe-eun.." (Aa', MANAQIB itu bukan bahan pembicaraan, tapi amalan yang harus dikerjakan)

Ucapan tersebut menunjukan Pangersa ABAH lebih mengetahui niat terdalam yang dimiliki muridnya. Amalan yang secara lahiriah besar ternyata bisa bernilai kecil jika salah niat dan memunculkan kebanggaan diri. Serta menjadi isyarat di kemudian hari bagi murid yg memiliki kebanggaan diri ketika beramal. Semakin banyak amalnya justru membuat egonya semakin besar karena merasa dirinya adalah murid yang paling hebat. NA'UUDZU BILLAAH..


Walloohu a'lam..

Hatur Nuhun ABAH.

Terimakasih ABAH..

Semoga ISTIQOMAH dalam Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan Ajaran Amaliyah Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Aamiin YRA 

Bilbarokah Walkaromah Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, ra.

Al-fatihah...

Raden Ayu Lasminingrat: Pahlawan Pendidikan dari Tanah Pasundan



Ybia Indonesia - Di balik sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, berdiri sosok-sosok perempuan tangguh yang mengabdikan hidupnya bukan dengan senjata, melainkan dengan ilmu pengetahuan. Salah satu di antaranya adalah Raden Ayu Lasminingrat, putri Tanah Pasundan yang menyalakan obor pencerahan bagi kaum perempuan di Jawa Barat.

Lahir pada 29 Maret 1854 di Garut dari keluarga bangsawan yang berpikiran maju, Lasminingrat tumbuh di tengah kungkungan zaman kolonial yang membatasi peran perempuan. Namun takdir bangsa menuntunnya melampaui sekat itu. Berkat bimbingan kontrolir Belanda, Levyssohn Norman, ia menguasai bahasa Belanda dan mengakses khazanah ilmu yang kala itu hampir mustahil diraih perempuan pribumi. Ilmu itu kelak ia persembahkan sepenuhnya untuk bangsanya.


Perjuangan di Dunia Pendidikan

Usai ditinggal wafat suami pertamanya, Lasminingrat kembali ke Garut. Di sanalah jiwa patriotiknya menemukan medan juang. Ia menerjemahkan buku-buku Belanda ke dalam bahasa Sunda agar anak-anak bumiputra dapat mengenal dunia pengetahuan. Bagi Lasminingrat, pendidikan bukan sekadar kecakapan, melainkan senjata pembebasan.

Kesadarannya akan pentingnya peran perempuan mendorongnya mendukung pendirian Sekolah Istri yang dipelopori Dewi Sartika pada 1904. Tak berhenti di situ, pada 1907 ia mendirikan Sekolah Keutamaan Istri di Garut, membuka pintu pendidikan bagi kaum perempuan yang selama berabad-abad terpinggirkan. Di sekolah ini, perempuan diajarkan keterampilan, pengetahuan umum, dan nilai-nilai kemandirian, sebuah langkah revolusioner di masa kolonial.

Pengakuan pemerintah Hindia Belanda pada 1911 menjadi bukti betapa besar pengaruh perjuangannya. Lasminingrat bukan hanya pendidik, tetapi juga penjaga martabat bangsa. Melalui terjemahan buku-buku anak, ia memperkenalkan cakrawala dunia tanpa mencabut akar budaya sendiri.

Bahkan ketika api revolusi berkobar dalam peristiwa Bandung Lautan Api, ia harus mengungsi. Namun semangatnya tak pernah padam. Di pengungsian pun, ia tetap mengajar, membuktikan bahwa bagi seorang patriot sejati, perjuangan tak mengenal tempat.

Hingga hembusan napas terakhirnya pada 10 April 1948, Raden Ayu Lasminingrat setia pada panggilan sejarah: mencerdaskan generasi bangsa. Meski namanya belum terukir resmi sebagai Pahlawan Nasional, jejak pengabdiannya telah tertanam dalam denyut pendidikan perempuan Indonesia. Ia adalah pahlawan dalam makna yang paling luhur, perempuan Pasundan yang berjuang demi masa depan bangsa.

Raden Ayu Lasminingrat adalah api kecil yang menerangi jalan besar kemerdekaan jiwa dan pikiran perempuan Indonesia. 

Silsilah Sultan Maulana Hasanuddin Banten (Panembahan Surosowan) Raja Banten Ke-1 dan Putra-Putranya



Silsilah Sultan Maulana Hasanuddin Banten (Panembahan Surosowan) Raja Banten Ke-1 dan Putra-Putranya

Ybia Indonesia - Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) berputra:

1. Ratu Ayu Pembayun

2. Pangeran Pasarean

3. Pangeran Jayalalana

4. Maulana Hasanuddin*)

5. Pangeran Bratakelana

6. Ratu Winaon

7. Pangeran Turusmi


I. Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan (1552 – 1570) berputra:

1. Ratu Pembayun Fatimah

2. Pangeran Yusuf*)

3. Pangeran Arya Japara

4. Pangeran Suniararas

5. Pangeran Pajajaran

6. Pangeran Pringgalaya

7. Pangeran Sebrang Lor

8. Ratu Keben

9. Ratu Terpenter

10. Ratu Biru

11. Ratu Ayu Arsanengah

12. Pangeran Pajajaran Wado

13. Tumenggung Wilatikta

14. Ratu Ayu Kamudarage

15. Pangeran Sebrang Wetan


Wallahu A'lamu Bisshowab

Sekedar berbagi

Semoga bermanfaat

Wassalam...


Sumber: wordpress.com