WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Makna Puasa Ramadhan: Meningkatkan Iman dan Kesabaran



Ybia Indonesia - Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat Muslim. Namun, apa makna puasa Ramadhan yang sebenarnya? Bagaimana kita dapat memahami puasa Ramadhan dengan lebih dalam dan luas?


Apa itu Puasa Ramadhan?

Puasa Ramadhan adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dari fajar hingga maghrib, dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT.


Makna Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan memiliki beberapa makna, antara lain:

- Meningkatkan Iman: Puasa Ramadhan membantu kita meningkatkan iman kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

- Meningkatkan Kesabaran: Puasa Ramadhan membantu kita meningkatkan kesabaran kita dalam menghadapi kesulitan.

- Membersihkan Hati: Puasa Ramadhan membantu membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran yang dapat merusak iman kita.

- Meningkatkan Empati: Puasa Ramadhan membantu kita meningkatkan empati kita terhadap orang-orang yang kurang beruntung.


Tujuan Puasa Ramadhan

Tujuan puasa Ramadhan adalah:

- Mencapai Takwa: Puasa Ramadhan membantu kita mencapai takwa, yaitu kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan kita.

- Meningkatkan Spiritualitas: Puasa Ramadhan membantu kita meningkatkan spiritualitas kita dan merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan kita.


Bagaimana Cara Mengoptimalkan Puasa Ramadhan?

Untuk mengoptimalkan puasa Ramadhan, kita dapat melakukan beberapa hal berikut:

- Niat yang Ikhlas: Pastikan niat kita untuk berpuasa adalah karena Allah SWT.

- Menjaga Shalat: Jangan lupa untuk menjaga shalat lima waktu, terutama shalat tarawih.

- Membaca Al-Quran: Baca Al-Quran sebanyak mungkin selama bulan Ramadhan.

- Berdoa dan Berdzikir: Berdoa dan berdzikir sebanyak mungkin selama bulan Ramadhan.


Kesimpulan

Puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan iman, kesabaran, dan spiritualitas kita. Semoga kita dapat mengoptimalkan puasa Ramadhan dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. 

Puasa Bukan Hanya Menahan Haus dan Lapar



Ybia Indonesia - Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat Muslim. Banyak orang yang memahami puasa hanya sebagai menahan haus dan lapar dari fajar hingga maghrib. Namun, puasa sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam dan luas.


Apa itu Puasa?

Puasa secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Dalam Islam, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dari fajar hingga maghrib, dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT.


Puasa Lebih dari Sekedar Menahan Haus dan Lapar

Puasa bukan hanya tentang menahan haus dan lapar, tapi juga tentang:

- Menahan diri dari perbuatan dosa: Puasa juga berarti menahan diri dari perbuatan dosa, seperti berkata dusta, ghibah, dan lain-lain.

- Meningkatkan kesabaran : Puasa membantu kita meningkatkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan.

- Membersihkan jiwa: Puasa membantu membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang dapat merusak iman.

- Meningkatkan empati: Puasa membantu kita meningkatkan empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung.


Bagaimana Cara Mengoptimalkan Puasa?

Untuk mengoptimalkan puasa, kita dapat melakukan beberapa hal berikut:

- Niat yang ikhlas: Pastikan niat kita untuk berpuasa adalah karena Allah SWT.

- Menjaga shalat: Jangan lupa untuk menjaga shalat lima waktu, terutama shalat tarawih.

- Membaca Al-Quran: Baca Al-Quran sebanyak mungkin selama bulan Ramadhan.

- Berbuat baik: Berbuat baik kepada orang lain, seperti memberi sedekah dan membantu orang yang membutuhkan.


Kesimpulan

Puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan haus dan lapar, tapi juga tentang meningkatkan iman, membersihkan jiwa, dan berbuat baik kepada orang lain. Semoga kita dapat mengoptimalkan puasa kita dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. 

Cahaya dan Kegelapan di dalam Kubur

 



Ybia Indonesia - Di sebuah kampung kecil, dua sahabat wafat di hari yang sama. Namanya Ahmad dan Rafi. Keduanya saling mengenal sejak kecil. Sama-sama bekerja. Sama-sama berkeluarga. Saat kabar kematian mereka tersebar, orang-orang berkata: “Dua-duanya orang baik…” Namun hanya Allah yang tahu isi hati.

Ahmad bukan orang terkenal. Ia bukan ustaz. Ia bukan orang kaya. Tapi ia punya satu kebiasaan… Menjaga shalat tepat waktu. Bahkan ketika lelah. Bahkan ketika hujan. Bahkan ketika tidak ada yang melihat. Di sepertiga malam, sering kali istrinya terbangun dan melihatnya sujud lama sekali. Ia jarang bercerita tentang amalnya. Ia lebih takut riya daripada miskin.

Sedangkan Rafi… Ia juga shalat. Tapi sering ditunda. “Masih ada waktu…” “Nanti saja…” Ia lebih sibuk dengan dunia. Jika ada urusan bisnis, shalat bisa menunggu. Jika ada hiburan, ibadah terasa berat.

Hari itu, keduanya dikuburkan berdampingan. Malam pertama pun tiba. Alam kubur menyambut. Ahmad terbangun dalam gelap. Namun tiba-tiba… Cahaya lembut muncul dari arah kanannya. Datang seorang lelaki tampan, wajahnya berseri. “Siapa engkau?” tanya Ahmad. “Aku adalah shalatmu… aku adalah amalmu…” Kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang. Udara terasa sejuk. Wangi semerbak memenuhi ruang sempit itu. Ia tersenyum dalam ketenangan.

Di sisi lain… Rafi terbangun dalam gelap pekat. Tidak ada cahaya. Tidak ada ketenangan. Ia merasa sendiri. Ketika malaikat bertanya, ia menjawab dengan gemetar. Namun amalnya datang dalam rupa yang lemah. Shalat yang dulu ia tunda tak mampu menjadi pelindung yang kuat. Kuburnya terasa sempit. Sunyi terasa menekan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa amal saleh akan datang dalam rupa yang baik untuk menemani seorang mukmin di kuburnya (HR. Ahmad). Dan itulah yang membedakan keduanya. Bukan harta. Bukan jabatan. Bukan pujian manusia. Tapi shalat yang dijaga.


Pesan Untuk Kita

Kubur bukan akhir. Ia adalah awal perjalanan. Dan yang menemani kita nanti bukan keluarga. Bukan teman. Bukan followers. Tapi amal kita sendiri. Jangan tunggu sampai gelap itu datang. Karena saat cahaya dibutuhkan… Sudah tidak ada kesempatan menyalakannya. 



Mengenang KH Zainuddin MZ: Sang "Dai Sejuta Umat" yang Menembus Sekat Zaman



Ybia Indonesia - Nama K.H. Zainuddin Hamidi, atau yang lebih akrab di telinga kita sebagai Zainuddin MZ, bukan sekadar nama besar di panggung dakwah. Ia adalah fenomena. Julukannya sebagai "Dai Sejuta Umat" bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan betapa ceramahnya mampu merengkuh hati dari rakyat jelata hingga pejabat negara. Meski telah berpulang pada 5 Juli 2011, suara serak-serak basahnya yang khas dan humornya yang segar masih terngiang, menjadi warisan abadi bagi sejarah syiar Islam di tanah air.


Masa Kecil: Dari Penjual Nasi Uduk ke Podium Dakwah

Lahir di Jakarta pada 2 Maret 1952, Zainuddin adalah putra tunggal dari pasangan Betawi asli, Turmudzi dan Zainabun. Tak banyak yang tahu bahwa masa kecil sang kiai penuh perjuangan. Sejak usia dua tahun, ia telah kehilangan figur ayah. Untuk membantu menyambung hidup, "Udin kecil" tak segan membantu ibunya berjualan nasi uduk. Bakat pidatonya sudah terlihat sejak belia. Udin kecil seringkali naik ke atas meja hanya untuk berpidato di depan tamu kakeknya. Bakat alami ini kemudian diasah secara formal di Madrasah Darul Ma’arif, Cipete, di bawah asuhan langsung ulama kharismatik sekaligus politikus ulung, K.H. Idham Chalid.


Revolusi Dakwah Melalui Kaset dan Layar Kaca

Zainuddin MZ adalah pelopor dakwah modern di Indonesia. Ketika dakwah saat itu masih terbatas di masjid-masjid, ia membawa ajaran Islam masuk ke ruang tamu rumah melalui rekaman kaset dan televisi. Hobi mendengarkan dangdut membuatnya memiliki selera humor yang merakyat. Kolaborasinya dalam program "Nada dan Dakwah" bersama para artis nasional menjadi jembatan efektif bagi masyarakat yang haus akan siraman rohani namun tetap menghibur. Gaya tuturnya yang luwes dan sederhana membuat ajaran agama yang berat menjadi mudah dicerna.


Sang Magnet Suara di Panggung Politik

Kepiawaiannya mengolah kata tak pelak menarik perhatian dunia politik. Di bawah bimbingan gurunya, KH Idham Chalid, Zainuddin terjun ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Bersama sang Raja Dangdut Rhoma Irama, ia menjadi vote-getter utama yang sempat membuat penguasa Orde Baru waswas karena mampu memobilisasi massa dalam jumlah raksasa. Karier politiknya memuncak saat ia mendirikan Partai Bintang Reformasi (PBR) pada tahun 2002 dan sempat dideklarasikan sebagai calon presiden. Namun, politik tak pernah benar-benar menjauhkannya dari jati diri utamanya sebagai pendakwah. Di akhir hayatnya, ia kembali ke pelukan umat, fokus menebarkan ilmu tanpa embel-embel jabatan.


Akhir Perjalanan Seorang Guru

Dunia berduka ketika pada pagi hari 5 Juli 2011, sang kiai mengembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan menuju RS Pusat Pertamina akibat serangan jantung. Ia pergi meninggalkan jutaan umat yang merasa kehilangan sosok "ayah" spiritual.

K.H. Zainuddin MZ telah tiada, namun ia mewariskan sebuah standar baru dalam berdakwah: bahwa agama tidak harus disampaikan dengan wajah garang, melainkan dengan senyum, canda, dan kedekatan yang tulus kepada umat. 

Dr. Hamid Choi Yong Kil: Pejuang Dakwah dengan Pena dan Ilmu



Ybia Indonesia - Dunia Islam di Asia Timur memberikan penghormatan tinggi kepada Dr. Hamid Choi Yong Kil, seorang tokoh intelektual yang menjadi jembatan hidayah bagi masyarakat Korea Selatan. Dr. Hamid tercatat sebagai orang Korea asli pertama yang berhasil menerjemahkan Al-Qur'an dan kitab hadis Shahih Bukhari ke dalam bahasa ibunya dengan sangat teliti.

Dedikasi luar biasa ini ia jalani selama lebih dari tujuh tahun, demi memastikan setiap ayat suci dapat dipahami dengan makna yang tepat oleh umat Muslim di negaranya yang terus berkembang. Karya monumental ini memberikan dampak yang sangat masif bagi dakwah Islam di Korea, karena membantu masyarakat setempat mempelajari ajaran agama tanpa terkendala bahasa.

Dr. Hamid tidak hanya berhenti pada penerjemahan kitab suci, ia juga dikenal sangat produktif dengan menghasilkan lebih dari 90 karya ilmiah dan buku tentang keislaman. Kontribusinya yang luas telah menjadikannya sebagai rujukan utama bagi akademisi dan mualaf di Korea Selatan yang ingin mendalami filosofi dan hukum Islam secara komprehensif.

Keberadaannya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang universal dan mampu menyatu dengan kebudayaan mana pun melalui jalur literasi dan pendidikan. Warisan intelektual yang ditinggalkan oleh Dr. Hamid akan terus menjadi lentera bagi generasi Muslim Korea di masa depan untuk terus berdakwah dengan santun dan berilmu.

Di tengah tantangan modernitas, sosoknya menjadi inspirasi bahwa ketekunan dalam menjaga kalam Tuhan adalah bentuk pengabdian tertinggi seorang hamba kepada Sang Pencipta. Kisah Dr. Hamid mengajarkan kita bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pena seorang pejuang yang ikhlas bekerja dalam sunyi selama bertahun-tahun.

Bahasa bukan lagi menjadi penghalang bagi kebenaran untuk sampai ke telinga manusia di seluruh penjuru bumi jika ada jiwa yang rela mengorbankan waktunya. Kejadian ini membuktikan bahwa satu buku terjemahan bisa menjadi kunci bagi jutaan orang untuk menemukan jalan kedamaian.

Kejadian ini membuktikan bahwa dakwah yang paling abadi adalah dakwah melalui tulisan yang tak lekang oleh waktu. 

Kisah Mbah Hafid Nogosari, Sang Wali Qutub yang Memiliki Banyak Karomah


Ybia Indonesia - KH. Ahmad Hafiduddin bin Usman Basyaiban atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Hafid Nogosari tidak hanya terkenal dengan kealimannya tapi juga dengan kekeramatanya, banyak orang yang sowan kepada beliau minta sambung barokah doa, mulai dari habib, ulama, kiai, masyarakat umum dan orang-orang non muslim, juga orang-orang tionghoa atau china.

Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sendiri sangat menghormati Mbah Hafid Nogosari, sampai-sampai karena ta’dzimnya Habib Muhammad beliau tidak berani duduk dihadapannya tanpa seizin Mbah Kiai Hafid.

Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya salah satu kekeramatan Mbah Hafid yang luar biasa yang Allah anugrah kan bahwasannya beliau sering dirawuhi (di kunjungi) Rasulullah secara yaqdloh secara sadar. Kejadian ini sering terjadi kepada orang-orang yang sudah menjadi pilihan Allah, yang memiliki tingkat mahabbah billah serta mahabbah birrasul yang tinggi.

Selain itu, suatu hari sekitar tahun 1975 Mbah Hafid kedatangan tamu istimewa dari Brongkal Malang, yang tidak lain adalah adik kandung beliau sendiri yang bernama KH. Muhammad Kholil bin Usman (Mbah Kholil Brongkal) yang rencana mau pamitan kepada sang kakak untuk menunaikan ibadah Haji.

Belum sempat Kiai Kholil masuk rumah tiba-tiba Mbah Hafid sudah keluar untuk menyambut sang adik langsung menciuminya dan memeluknya begitu lama sambil beliau menangis, dengan suara gemetar Mbah Hafid mengucapkan waktunya sudah tiba - waktunya sudah tiba. Ternyata sang adik tercinta di panggil oleh Allah dan di makamkan di Makkah.

Selain itu, ada suatu kisah yang menarik, suatu hari Pak Sholeh sowan kepada Mbah Kiai Khotib Abdul Karim Curah Kates- Ajung Jember yang juga terkenal kekeramatannya, banyak yang mengatakan jika Mbah Khotib adalah seorang Waliyullah.

“Namamu siapa dan darimana?", tanya Kiai Khotib

“Nama saya Sholeh dari Nogosari Kiai”, jawab sang tamu.

Kamu beruntung tinggal di Nogosari, disitu ada wali agung yang masih hidup dan kedudukannya lebih tinggi dari saya, Mbah Hafid itu adalah Wali Qutub. Begitu kata Mbah Khotib kepada Pak sholeh.

Ucapan beliau yang terkenal dan di ketahui banyak orang, bahwasanya beliau Mbah Hafid pernah berkata “saya mengetahui jumlah para wali-wali Allah di dunia ini, lokasi atau tempat dimana mereka tinggal, saya mengetahui mereka semua tetapi mereka tidak mengetahui saya”.

Suatu ketika Mbah Kiai Hafid di depan rumah beliau, tiba-tiba Mbah Hafid berteriak-teriak memanggil Wahyu...... Wahyu.... kamu segera kesini.

Wahyu adalah Khadam sekaligus santrinya Mbah Kiai afid

“Ada apa Mbah Kiai?", tanya Wahyu

“Sebentar lagi akan ada peristiwa besar, aku melihat di langit ada tulisan besar Lailaha illa Allah Muhammadurasulullah, yang arahnya dari pasuruan tepatnya di lokasinya KH. Hamid Pasuruan, dan aku juga punya tulisan itu berada atasku,” jawab Mbah Kiai Hafid.

Sumber : Laduni 

KH Ahmad Dahlan: Pendiri Muhammadiyah dan Pembaru Islam di Nusantara



Ybia Indonesia - KH Ahmad Dahlan (lahir Muhammad Darwis, 1868-1923) adalah pendiri Muhammadiyah asal Yogyakarta yang merupakan putra dari KH Abu Bakar, seorang khatib Masjid Gede Kesultanan. Sejak kecil, beliau menimba ilmu agama di lingkungan pesantren.


Masa Kecil dan Pendidikan Dasar (Muhammad Darwis)

Lahir pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ayahnya, KH Abu Bakar, adalah guru pertamanya. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan taat.


Pendidikan di Pesantren

Ahmad Dahlan muda mempelajari ilmu agama (fikih, nahwu, falak, dan qiraah) kepada banyak ulama, termasuk kakak iparnya Kiai Muhammad Soleh, serta ulama di Semarang dan sekitarnya.


Berguru ke KH Soleh Darat Semarang

Bersama dengan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU), Kiai Ahmad Dahlan pernah berguru kepada KH Soleh Darat di Semarang. KH Soleh Darat adalah ulama progresif yang menjadi guru bagi banyak tokoh penting di Jawa, dan pengalamannya menimba ilmu di Semarang menguatkan pemahaman Ahmad Dahlan terhadap kitab-kitab fikih.


Perjalanan Haji dan Menimba Ilmu di Mekkah

Pada usia 15 tahun (1880-an), beliau haji dan menetap di Mekkah. Di sana, ia berinteraksi dengan pemikir Islam seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Di sana pula nama Muhammad Darwis diganti menjadi Ahmad Dahlan.


Kembali ke Tanah Air

Setelah berguru di Mekkah, beliau kembali ke Yogyakarta pada tahun 1888 dan bertekad melakukan pembaruan Islam di Nusantara.


Pendirian Muhammadiyah

Pada 18 November 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta, untuk menyebarkan Islam yang murni sesuai Al-Qur'an dan Hadis melalui bidang pendidikan dan sosial.

KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 dan diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961.