WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Dr. Hamid Choi Yong Kil: Pejuang Dakwah dengan Pena dan Ilmu



Ybia Indonesia - Dunia Islam di Asia Timur memberikan penghormatan tinggi kepada Dr. Hamid Choi Yong Kil, seorang tokoh intelektual yang menjadi jembatan hidayah bagi masyarakat Korea Selatan. Dr. Hamid tercatat sebagai orang Korea asli pertama yang berhasil menerjemahkan Al-Qur'an dan kitab hadis Shahih Bukhari ke dalam bahasa ibunya dengan sangat teliti.

Dedikasi luar biasa ini ia jalani selama lebih dari tujuh tahun, demi memastikan setiap ayat suci dapat dipahami dengan makna yang tepat oleh umat Muslim di negaranya yang terus berkembang. Karya monumental ini memberikan dampak yang sangat masif bagi dakwah Islam di Korea, karena membantu masyarakat setempat mempelajari ajaran agama tanpa terkendala bahasa.

Dr. Hamid tidak hanya berhenti pada penerjemahan kitab suci, ia juga dikenal sangat produktif dengan menghasilkan lebih dari 90 karya ilmiah dan buku tentang keislaman. Kontribusinya yang luas telah menjadikannya sebagai rujukan utama bagi akademisi dan mualaf di Korea Selatan yang ingin mendalami filosofi dan hukum Islam secara komprehensif.

Keberadaannya membuktikan bahwa Islam adalah agama yang universal dan mampu menyatu dengan kebudayaan mana pun melalui jalur literasi dan pendidikan. Warisan intelektual yang ditinggalkan oleh Dr. Hamid akan terus menjadi lentera bagi generasi Muslim Korea di masa depan untuk terus berdakwah dengan santun dan berilmu.

Di tengah tantangan modernitas, sosoknya menjadi inspirasi bahwa ketekunan dalam menjaga kalam Tuhan adalah bentuk pengabdian tertinggi seorang hamba kepada Sang Pencipta. Kisah Dr. Hamid mengajarkan kita bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pena seorang pejuang yang ikhlas bekerja dalam sunyi selama bertahun-tahun.

Bahasa bukan lagi menjadi penghalang bagi kebenaran untuk sampai ke telinga manusia di seluruh penjuru bumi jika ada jiwa yang rela mengorbankan waktunya. Kejadian ini membuktikan bahwa satu buku terjemahan bisa menjadi kunci bagi jutaan orang untuk menemukan jalan kedamaian.

Kejadian ini membuktikan bahwa dakwah yang paling abadi adalah dakwah melalui tulisan yang tak lekang oleh waktu. 

Kisah Mbah Hafid Nogosari, Sang Wali Qutub yang Memiliki Banyak Karomah


Ybia Indonesia - KH. Ahmad Hafiduddin bin Usman Basyaiban atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Hafid Nogosari tidak hanya terkenal dengan kealimannya tapi juga dengan kekeramatanya, banyak orang yang sowan kepada beliau minta sambung barokah doa, mulai dari habib, ulama, kiai, masyarakat umum dan orang-orang non muslim, juga orang-orang tionghoa atau china.

Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sendiri sangat menghormati Mbah Hafid Nogosari, sampai-sampai karena ta’dzimnya Habib Muhammad beliau tidak berani duduk dihadapannya tanpa seizin Mbah Kiai Hafid.

Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya salah satu kekeramatan Mbah Hafid yang luar biasa yang Allah anugrah kan bahwasannya beliau sering dirawuhi (di kunjungi) Rasulullah secara yaqdloh secara sadar. Kejadian ini sering terjadi kepada orang-orang yang sudah menjadi pilihan Allah, yang memiliki tingkat mahabbah billah serta mahabbah birrasul yang tinggi.

Selain itu, suatu hari sekitar tahun 1975 Mbah Hafid kedatangan tamu istimewa dari Brongkal Malang, yang tidak lain adalah adik kandung beliau sendiri yang bernama KH. Muhammad Kholil bin Usman (Mbah Kholil Brongkal) yang rencana mau pamitan kepada sang kakak untuk menunaikan ibadah Haji.

Belum sempat Kiai Kholil masuk rumah tiba-tiba Mbah Hafid sudah keluar untuk menyambut sang adik langsung menciuminya dan memeluknya begitu lama sambil beliau menangis, dengan suara gemetar Mbah Hafid mengucapkan waktunya sudah tiba - waktunya sudah tiba. Ternyata sang adik tercinta di panggil oleh Allah dan di makamkan di Makkah.

Selain itu, ada suatu kisah yang menarik, suatu hari Pak Sholeh sowan kepada Mbah Kiai Khotib Abdul Karim Curah Kates- Ajung Jember yang juga terkenal kekeramatannya, banyak yang mengatakan jika Mbah Khotib adalah seorang Waliyullah.

“Namamu siapa dan darimana?", tanya Kiai Khotib

“Nama saya Sholeh dari Nogosari Kiai”, jawab sang tamu.

Kamu beruntung tinggal di Nogosari, disitu ada wali agung yang masih hidup dan kedudukannya lebih tinggi dari saya, Mbah Hafid itu adalah Wali Qutub. Begitu kata Mbah Khotib kepada Pak sholeh.

Ucapan beliau yang terkenal dan di ketahui banyak orang, bahwasanya beliau Mbah Hafid pernah berkata “saya mengetahui jumlah para wali-wali Allah di dunia ini, lokasi atau tempat dimana mereka tinggal, saya mengetahui mereka semua tetapi mereka tidak mengetahui saya”.

Suatu ketika Mbah Kiai Hafid di depan rumah beliau, tiba-tiba Mbah Hafid berteriak-teriak memanggil Wahyu...... Wahyu.... kamu segera kesini.

Wahyu adalah Khadam sekaligus santrinya Mbah Kiai afid

“Ada apa Mbah Kiai?", tanya Wahyu

“Sebentar lagi akan ada peristiwa besar, aku melihat di langit ada tulisan besar Lailaha illa Allah Muhammadurasulullah, yang arahnya dari pasuruan tepatnya di lokasinya KH. Hamid Pasuruan, dan aku juga punya tulisan itu berada atasku,” jawab Mbah Kiai Hafid.

Sumber : Laduni 

KH Ahmad Dahlan: Pendiri Muhammadiyah dan Pembaru Islam di Nusantara



Ybia Indonesia - KH Ahmad Dahlan (lahir Muhammad Darwis, 1868-1923) adalah pendiri Muhammadiyah asal Yogyakarta yang merupakan putra dari KH Abu Bakar, seorang khatib Masjid Gede Kesultanan. Sejak kecil, beliau menimba ilmu agama di lingkungan pesantren.


Masa Kecil dan Pendidikan Dasar (Muhammad Darwis)

Lahir pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ayahnya, KH Abu Bakar, adalah guru pertamanya. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan taat.


Pendidikan di Pesantren

Ahmad Dahlan muda mempelajari ilmu agama (fikih, nahwu, falak, dan qiraah) kepada banyak ulama, termasuk kakak iparnya Kiai Muhammad Soleh, serta ulama di Semarang dan sekitarnya.


Berguru ke KH Soleh Darat Semarang

Bersama dengan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU), Kiai Ahmad Dahlan pernah berguru kepada KH Soleh Darat di Semarang. KH Soleh Darat adalah ulama progresif yang menjadi guru bagi banyak tokoh penting di Jawa, dan pengalamannya menimba ilmu di Semarang menguatkan pemahaman Ahmad Dahlan terhadap kitab-kitab fikih.


Perjalanan Haji dan Menimba Ilmu di Mekkah

Pada usia 15 tahun (1880-an), beliau haji dan menetap di Mekkah. Di sana, ia berinteraksi dengan pemikir Islam seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Di sana pula nama Muhammad Darwis diganti menjadi Ahmad Dahlan.


Kembali ke Tanah Air

Setelah berguru di Mekkah, beliau kembali ke Yogyakarta pada tahun 1888 dan bertekad melakukan pembaruan Islam di Nusantara.


Pendirian Muhammadiyah

Pada 18 November 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta, untuk menyebarkan Islam yang murni sesuai Al-Qur'an dan Hadis melalui bidang pendidikan dan sosial.

KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 dan diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961. 

Cahaya di Balik Kesabaran



Ybia Indonesia - Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Ammar. Ia dikenal rajin beribadah dan selalu berusaha jujur dalam setiap urusannya. Namun hidup Ammar tidaklah mudah. Sejak ayahnya wafat, ia harus bekerja keras membantu ibunya, sementara hasil usahanya sering kali tidak sebanding dengan lelah yang ia rasakan.

Suatu hari, Ammar kehilangan dompet berisi uang hasil kerja seharian. Hatinya gelisah. Dengan langkah gontai, ia duduk di sudut masjid setelah salat Maghrib. Air matanya menetes, namun lisannya tak henti berdoa, “Ya Allah, aku tidak tahu mengapa ini terjadi, tapi aku yakin Engkau Maha Mengetahui.”

Keesokan harinya, seorang lelaki tua mendatangi rumah Ammar. Di tangannya, dompet yang hilang itu. Lelaki tersebut berkata, “Anak muda, aku menemukannya di jalan. Kejujuranmu terlihat dari kartu kecil berisi catatan ayat Al-Qur’an di dalam dompet ini. Aku ingin mengembalikannya.”

Tak hanya itu, lelaki tersebut ternyata pemilik usaha besar di kota. Ia menawarkan Ammar pekerjaan yang lebih baik karena kagim pada kesabaran dan kejujurannya. Ammar terdiam, hatinya bergetar. Ia sadar, kehilangan kemarin bukanlah musibah, melainkan jalan Allah untuk memberinya kebaikan yang lebih besar.

Sejak saat itu, Ammar semakin yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan air mata orang yang sabar.


Pesan Moral:

- Kesabaran adalah kunci pertolongan Allah

- Kejujuran akan selalu menemukan jalannya

- Apa yang kita anggap kehilangan, bisa jadi adalah awal dari kebaikan yang lebih besar 

Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA: Ulama Kharismatik Bandung yang Mewarisi Ilmu dan Akhlak



Ybia Indonesia - Di tanah Jawa Barat, pernah hidup seorang ulama yang tidak banyak bicara tentang dirinya, namun sangat dalam pengaruhnya terhadap umat. Beliau adalah Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA, sosok ulama kharismatik yang dikenal karena keluasan ilmu, kewibawaan akhlak, dan kesederhanaan hidupnya.


Nasab & Kelahiran

Data pasti mengenai tempat dan tahun kelahiran beliau memang tidak ditemukan secara administratif. Beberapa riwayat menyebutkan beliau lahir sekitar tahun 1895, pada masa penjajahan, ketika pencatatan kelahiran belum menjadi perhatian utama masyarakat pribumi. Beliau adalah putra ke-8 dari 10 bersaudara, dari pasangan KH. Hasan Mustawi dan Hj. Siti Mariyah RA.

Beliau bukan hanya alim dalam keilmuan, tetapi juga berhasil menjadi ayah sekaligus guru utama bagi putra-putranya, yang kelak tumbuh menjadi ulama besar dan tokoh keilmuan nasional:

- KH. Ahmad Busyiri Muslim (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Burdah, Soreang)

- KH. Hidayat Taufiq (Pimpinan Majelis Al-Bariziyyah wal Mahmudiyyah, Soreang)

- Prof. Dr. (HC) KH. Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA (Pengasuh Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifa wal Mahmudiyyah, Sumedang)


Dari sisi nasab, beliau memiliki garis keturunan yang mulia:

- Dari jalur ibu, nasab beliau bersambung kepada Rasulullah ﷺ.

- Dari jalur ayah, beliau merupakan keturunan Syekh Qurrotul ‘Ain, penyebar Islam di tanah Sunda sebelum era Walisongo, yang memiliki putri Nyimas Subang Karancang, istri Prabu Siliwangi.


Warisan yang Terus Hidup

Walau jasad beliau telah kembali ke rahmatullah, namun ilmu, adab, dan jejak pendidikannya tetap hidup. Ia mengalir melalui para murid. Ia tumbuh melalui keturunannya. Ia berdiri tegak melalui pesantren dan majelis ilmu yang lahir dari didikannya. Beliau membuktikan bahwa ulama besar tidak selalu tampil megah, tetapi hadir dengan ketenangan, keteladanan, dan keberkahan yang panjang umurnya dalam sejarah umat.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Al-Magfurlah KH. Ahmad Thoha Mustawi RA, serta menjadikan kita bagian dari mata rantai ilmu dan akhlak beliau. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 

Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Hamzanwadi): Pahlawan Pendidikan dan Perjuangan di NTB



Ybia Indonesia - Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang dikenal sebagai Hamzanwadi, adalah seorang Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat. Beliau merupakan seorang reformator pendidikan Islam di Lombok yang memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya.


Reformator Pendidikan Islam di Lombok

Sebelum kedatangannya, pendidikan Islam di Lombok umumnya masih bersifat tradisional (sistem halaqah). Sepulangnya dari Makkah (lulusan Madrasah Ash-Shaulatiyah), beliau memperkenalkan sistem klasikal (madrasah) yang lebih modern, terstruktur, dan memiliki kurikulum yang jelas.


Pendirian NWDI dan NBDI

Tonggak sejarah terpenting beliau adalah mendirikan dua lembaga pendidikan induk:

- NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah): Didirikan pada tahun 1937 khusus untuk kaum laki-laki.

- NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah): Didirikan pada tahun 1943 khusus untuk kaum perempuan.


Pelopor Pendidikan Perempuan

Pendirian NBDI merupakan langkah revolusioner pada zamannya. Beliau mendobrak tabu budaya saat itu yang membatasi akses pendidikan bagi perempuan. Beliau meyakini bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk cerdas dan menjadi tiang negara.


Integrasi Agama dan Kebangsaan

Pendidikan ala Hamzanwadi tidak hanya berfokus pada akhirat, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air (Hubbul Wathan minal Iman). Para santri dididik untuk menjadi pejuang kemerdekaan yang religius. Nama "Nahdlatul Wathan" sendiri berarti "Kebangkitan Tanah Air".


Organisasi Nahdlatul Wathan (NW)

Pada tahun 1953, beliau mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan untuk menaungi dan mengembangkan sekolah-sekolah yang telah didirikannya. Hingga kini, ribuan madrasah dan sekolah di bawah naungan NW tersebar di seluruh Indonesia, dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi.

Maulana Hamzanwadi adalah "Bapak Pendidikan NTB" yang berhasil mengubah wajah sosial masyarakat Sasak dan NTB dari keterbelakangan dan kebodohan menjadi masyarakat yang terpelajar. Warisannya bukan hanya gedung sekolah, melainkan semangat perjuangan melalui pena dan ilmu. 

Kecerdikan Khalid bin Walid dan Tipuan yang Menyelamatkan Tiga Ribu Pasukan



Ybia Indonesia - Mu’tah terasa berat. Tiga ribu pasukan Muslim berdiri menghadapi lebih dari seratus ribu tentara Romawi dan sekutunya. Perbandingan yang jauh dari seimbang. Tiga panglima telah gugur satu per satu: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Pasukan mulai diliputi kegelisahan.

Di tengah situasi genting itu, satu nama diangkat untuk memimpin: Khalid bin Walid. Malam turun dengan sunyi yang menegangkan. Khalid tidak memilih menyerang membabi buta. Ia tahu, bertahan tanpa strategi berarti kehancuran. Ia merancang sebuah tipuan.


Tipuan yang Mengubah Segalanya

Saat fajar menyingsing, pasukan Muslim disusun ulang. Barisan depan dipindah ke belakang. Sayap kanan ditukar dengan sayap kiri. Unit yang kemarin berada di tengah kini ditempatkan di depan. Ketika debu kembali mengepul, pasukan Romawi melihat wajah-wajah baru di barisan Muslim. Mereka terkejut. “Bala bantuan telah datang,” pikir mereka.

Belum berhenti di situ. Khalid memerintahkan sebagian pasukan bergerak berputar di belakang, menciptakan debu tebal seolah ribuan tentara baru tiba dari kejauhan. Suara takbir menggema, mengguncang mental musuh. Romawi mulai ragu. Mereka tidak tahu berapa sebenarnya jumlah pasukan di hadapan mereka.


Kemenangan Sejati

Khalid lalu melancarkan serangan terukur, cukup untuk menjaga tekanan, namun tidak memancing pertempuran besar-besaran. Setelah situasi terkendali dan musuh kehilangan momentum, ia memimpin mundur secara teratur. Bukan lari. Bukan kalah. Tetapi mundur dengan kehormatan, membawa pulang tiga ribu pasukan dari kepungan raksasa Romawi.

Itulah kecerdikan Khalid bin Walid. Ia memahami bahwa kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan musuh. Kadang, kemenangan sejati adalah menyelamatkan pasukan dan menjaga kekuatan untuk hari esok. Sejak hari itu, Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan gelar mulia: Saifullah Pedang Allah yang dihunuskan kepada musuh-musuh-Nya.