WARTA

5/cate1/warta

PENDIDIKAN

6/cate2/pendidikan

SOSIAL

6/cate3/sosial

RELIGI

5/cate4/religi

SYIAR

5/cate5/syiar

DAERAH

5/cate5/daerah

ENTERTAINMENT

5/cate5/entertainment

Videos

3/cate6/videos

Recent post

Blunder Amerika dan Israel di Iran: Salah Orang, Pusing Tujuh Keliling



Ybia Indonesia - Amerika Serikat dan Israel, yang dikenal sebagai "Raja Teroris" dan "Raja Setan", kini menghadapi mimpi buruk akibat kesalahan perhitungan mereka sendiri. Mereka berharap bisa menggantikan Ayatollah Ali Khamenei dengan boneka pro-Barat, tapi skenario itu meleset total.


Kena Mental

Iran bangkit lebih garang di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, putra sulung Ali Khamenei, yang telah melatih pasukan Quds Force selama 20 tahun. Rudal hipersonik Iran Fateh-110 dan Khorramshahr-4 menghujam pangkalan militer AS di Teluk Persia, menyebabkan kerugian besar.


Kerugian Besar

- 60% fasilitas di Bahrain, Qatar, UAE hancur

- Al Udeid Air Base kehilangan 40 jet F-35

- Bandar Abbas Port lumpuh total

- Lebih dari 2.500 tentara AS tewas atau luka

- Kerugian ekonomi capai $500 miliar

Iran hanya mengalami 12% korban sipil, berkat pertahanan udara S-400 Rusia dan drone Shahed-136 yang presisi.


Respons Iran

Mojtaba Khamenei menyatakan, "Kami tak gentar pada setan Zionis dan tuannya!" Angkatan darat Amerika tak berani mendarat, karena tentara darat Iran siap menyambutnya.


Kesimpulan

Blunder Amerika dan Israel di Iran menunjukkan bahwa mereka salah perhitungan. Iran bukan Irak 2003, tapi kekaisaran strategis dengan 1 juta milisi Hizbullah-Houthis yang siap jihad global.

Syekh Muhammad Anwar Batang: Ulama Besar dan Intelektual Muslim



Ybia Indonesia - Syekh Muhammad Anwar Batang, atau dikenal sebagai Kiai Anwar Batang, adalah seorang ulama besar dan intelektual Muslim asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.


Karya Monumental

Beliau dikenal sebagai penulis kitab Aisyul Bahri (‘Aisy al-Bahr), sebuah karya langka yang membahas tentang fiqih kelautan dan biota laut. Kitab ini menunjukkan kedalaman ilmu beliau dalam mengkaji potensi sumber daya laut di wilayah utara Jawa, khususnya di daerah Roban.


Jaringan Ulama

Syekh Anwar diyakini memiliki hubungan erat dengan tokoh-tokoh besar Nusantara lainnya, seperti Syekh Kholil Bangkalan dan Syekh Nawawi al-Bantani. Konon, mereka pernah bertemu di Alas Roban, Batang, untuk membahas berbagai persoalan umat dan embrio kemerdekaan Indonesia.


Makam Syekh Anwar

Keberadaan makam beliau sempat menjadi misteri sebelum akhirnya "ditemukan" kembali melalui petunjuk spiritual para ulama sepuh. Saat ini, terdapat dua lokasi yang dikaitkan dengan makam beliau:

- Desa Sengon, Kecamatan Subah: Makam ini dirawat setelah mendapat mandat dari ulama sepuh (Mbah Dimyati).

- Kauman, Batang: Terdapat situs lain di kawasan Pelampitan yang juga diyakini sebagai tempat peristirahatan beliau.


Warisan Intelektual

Hingga saat ini, PCNU Batang terus berupaya menggali sejarah dan biografi beliau sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah intelektual ulama pesisir. 

Kyai Abdul Jalal I: Pendiri Desa Kaliyoso dan Penyebar Islam



Ybia Indonesia - Kyai Abdul Jalal I, juga dikenal sebagai Kyai Bagus Turmudi, adalah seorang ulama yang berperan penting dalam sejarah Desa Kaliyoso, yang terletak sekitar 12 km sebelah utara kota Solo. Beliau adalah orang pertama yang berdiam di Alas Jogopaten, yang sekarang dikenal sebagai Kaliyoso.


Masa Muda dan Pendidikan

Kyai Abdul Jalal I lahir di Gatak Pedan, Klaten, dan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren di Surabaya, Semarang, dan Mojo Baderan. Beliau kemudian menjadi menantu gurunya sendiri, Kyai Jamal Korib, di Pondok Pesantren Mojo Baderan.


Penyebaran Islam

Kyai Abdul Jalal I diperintah oleh gurunya untuk menyebarluaskan ilmunya ke suatu tempat di sebelah utara Surakarta. Beliau kemudian membuka hutan Jogopaten dan mendirikan rumah serta surau, yang kemudian menjadi Masjid Kaliyoso.


Asal Mula Nama Kaliyoso

Nama Kaliyoso berasal dari kata-kata Paku Buwono IV, yang mengucapkan "tempat yang sekarang saya namakan Kaliyoso" ketika beliau mengunjungi Kyai Abdul Jalal I untuk menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan beliau dalam menemukan kembali dirinya.


Silsilah Kyai Abdul Jalal I

Kyai Abdul Jalal I adalah keturunan Prabu Brawijaya, dan silsilahnya dapat ditelusuri hingga Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pemanahan. Beliau memiliki banyak keturunan yang menjadi pemuka agama dan penyebar Islam di Jawa.


Makam Kyai Abdul Jalal I

Makam Kyai Abdul Jalal I terletak di Kebayanan I, Jetis Karangpung, Kec. Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. 

Kisah Pertemuan Abu Ibrahim Woyla dengan Gus Dur

 


Ybia Indonesia - Di antara kisah yang sering diceritakan tentang kewalian Abu Ibrahim Woyla adalah pertemuannya dengan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur (Abdurrahman Wahid).

Suatu hari, Abu Ibrahim Woyla yang dikenal hidup sangat sederhana datang berkunjung menemui Gus Dur. Penampilannya seperti biasa: sederhana, memakai pakaian biasa tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah seorang ulama besar. Bagi orang yang tidak mengenalnya, beliau tampak seperti orang tua kampung biasa yang datang bertamu.

Ketika beliau masuk ke ruangan tempat Gus Dur berada, keduanya kemudian duduk saling berhadapan. Orang-orang yang ada di ruangan tersebut mengira akan terjadi percakapan panjang antara dua tokoh besar ini.

Namun yang terjadi justru sangat berbeda.

Keduanya hanya saling memandang dengan tenang.

Tidak ada pembicaraan panjang.

Tidak ada diskusi yang terdengar.

Suasana menjadi sangat hening. Waktu berjalan sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Selama itu mereka hanya duduk diam seolah-olah sedang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat didengar oleh orang lain.

Beberapa saat kemudian, Abu Ibrahim Woyla bangkit, berpamitan dengan tenang, lalu meninggalkan ruangan.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu merasa heran. Mereka kemudian bertanya kepada Gus Dur:

“Siapakah orang tua yang barusan datang itu?”

Gus Dur menjawab dengan kalimat yang sangat singkat namun penuh makna:

“Dia itu wali Allah.”

Jawaban tersebut membuat orang-orang yang hadir terdiam. Mereka baru menyadari bahwa tamu sederhana yang baru saja datang itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang ulama yang memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi.

Kisah ini kemudian sering diceritakan oleh para ulama dan santri sebagai salah satu bentuk pengakuan seorang ulama besar terhadap kewalian Abu Ibrahim Woyla.

Sosok beliau memang dikenal hidup sangat sederhana, tidak mencari kemasyhuran, dan lebih memilih berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil berdakwah dan menasihati masyarakat.

Semoga Allah merahmati para ulama dan wali-wali-Nya yang telah menjaga agama ini di bumi Aceh.


Referensi:

𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘰𝘨𝘳𝘢𝘧𝘪 𝘈𝘣𝘶 𝘐𝘣𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮 𝘞𝘰𝘺𝘭𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘋𝘶𝘵𝘢𝘪𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘤𝘦𝘩.



KH. Dimyati Rois: Ulama Kharismatik dan Tokoh Nahdlatul Ulama



Ybia Indonesia - KH. Dimyati Rois, akrab disapa Mbah Dim, adalah seorang ulama kharismatik asal Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Beliau menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).


Latar Belakang & Pendidikan

Mbah Dim lahir di Brebes pada 5 Juni 1945. Beliau menempuh pendidikan di berbagai pesantren ternama seperti Pondok Pesantren APIK Kaliwungu dan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.


Pengasuh Pesantren

Mbah Dim merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadhilah di Jagalan, Kaliwungu, Kendal.


Peran di Nahdlatul Ulama

Mbah Dim dikenal sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, yang bertugas memilih Rais Aam PBNU.


Kematian

Mbah Dim wafat pada 10 Juni 2022 di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, pada usia 77 tahun.


Informasi Terkait

Putra beliau, H. Alamudin Dimyati Rois (Gus Alam), yang merupakan anggota DPR RI dari Fraksi PKB, juga telah berpulang pada 6 Mei 2025. Beliau meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat kecelakaan lalu lintas di ruas Tol Pemalang-Batang. Jenazah Gus Alam dimakamkan di samping makam ayahnya di kompleks pesantren Alfadhlu 2 di Kendal. 

Wasiat Pangeran Hidayatullah: Perjuangan yang Tak Pernah Berakhir

 


Ybia Indonesia - Pangeran Hidayatullah, salah satu pahlawan Banjar, mengumpulkan panglima-panglimanya di sebuah goa yang mampu menampung sekitar 1000 pasukan. Di antaranya ada 4 panglima sektor dan panglima lainnya, yaitu:

1. Pangeran Antasari (Tengah)

2. Pangeran Aminullah (Timur)

3. Demang Lehman (Barat)

4. Tumunggung Jalil (Banua Lima)

Pangeran Hidayatullah berkata, "Aku hendak mendapati mamaku yang lagi sakit keras. Aku baduaja lawan adingku Pangeran Abdullah karena aku akan menyamar pakaian biasa."

Pangeran Hidayatullah juga berkata, "Bapirasat jika terjadi sesuatu dengan diriku, maka aku bapasan lawan bahagian ikam teruskan perjuangan kita. Mengusir bangsa kafir nang manjajah kita, sesuai dengan tekat kita dan keyakinan kita: INNA SHOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI ROBBIL ALAMIN."

Itu kata yang terakhir diucapkan oleh Pangeran Hidayatullah kepada panglima-panglimanya yang setia dengan Kerajaan Banjar.

Maka berangkatlah Pangeran Hidayatullah dengan adiknya Pangeran Abdullah, menaiki rakit bambu menuju Astambul. Di tengah perjalanan, antara Pengaron dan Matraman, beliau dikepung dan disergap, dan ditembaki di atas rakit bambu yang beliau naiki. Di atas air, beliau mampu merapat ke darat dan melawan, dan akhirnya gugurlah tertembak adik beliau Pangeran Abdullah di Kampung Bamban Badarah, antara Pengaron dan Matraman.

Dan akhirnya, Pangeran Hidayatullah tertangkap, dan beliau meminta kepada penghianat dan Kompeni Belanda untuk membawa jasat adiknya untuk dimakamkan di Martapura dekat dengan makam ayahnya, Sulthon Abdurrahman di Pasayangan.


Ini cerita langsung Pangeran Hidayatullah dengan anak cucunya. 

KH Zainuddin MZ: Dai Sejuta Umat yang Menginspirasi



Ybia Indonesia - KH Zainuddin MZ, dikenal sebagai "Dai Sejuta Umat", adalah seorang ulama kharismatik Indonesia yang lahir pada 2 Maret 1952 di Jakarta. Nama lengkapnya adalah Kiai Haji Zainuddin Hamidi, dan ia merupakan anak tunggal dari pasangan Turmudzi dan Zainabun, keluarga Betawi asli.

Zainuddin MZ memiliki bakat pidato sejak kecil. Ia sering naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir. Ia belajar pidato di forum Ta'limul Muhadharah dan mengembangkan kebiasaannya membanyol dan mendongeng.


Karir Dakwah

Zainuddin MZ menjadi populer sebagai dai setelah ceramahnya disiarkan melalui radio dan televisi. Ia juga aktif dalam politik, bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia periode 1997-1999. Pada 2002, ia mendirikan Partai Bintang Reformasi (PBR) dan menjadi ketua umum hingga 2006.


Gaya Dakwah

Zainuddin MZ dikenal dengan gaya dakwah yang unik dan mudah dipahami. Ia mampu menggabungkan nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan sehari-hari, menjadikan Islam sebagai pedoman yang relevan dan praktis. Ceramahnya padat, lugas, dan disampaikan dengan joke segar ala Betawi.

Wafat

KH Zainuddin MZ wafat pada 5 Juli 2011, meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi dunia Islam di Indonesia. Ia diingat sebagai dai sejuta umat yang telah menebarkan benih-benih kebaikan dan inspirasi bagi generasi muda.