Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan

Makam Sunan Gunung Jati: Wisata Religi dan Sejarah di Cirebon


Ybia Indonesia - Makam Sunan Gunung Jati adalah salah satu situs ziarah paling populer di Indonesia, terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sunan Gunung Jati, atau Syarif Hidayatullah, merupakan salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.


Sejarah Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati lahir pada abad ke-15 dan merupakan cucu Raja Pajajaran dari pihak ibu, serta memiliki darah keturunan Arab dari pihak ayah. Beliau mendirikan Kesultanan Cirebon dan menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya, seni, dan perdagangan.


Arsitektur Kompleks Makam

Kompleks Makam Sunan Gunung Jati sangat unik karena memadukan arsitektur Islam, Jawa, dan Tiongkok. Terdapat sembilan gapura utama menuju makam, melambangkan jumlah Wali Songo. Dinding makam dihiasi keramik kuno yang menjadi bukti hubungan dagang Cirebon dengan Tiongkok.


Tradisi Ziarah

Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati menjadi tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Peziarah dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti membaca doa dan tahlil, mengikuti pengajian atau dzikir bersama, serta merenungkan sejarah dakwah Islam yang damai dan penuh kearifan.


Fasilitas dan Lokasi

Makam Sunan Gunung Jati terletak di Jl. Alun-Alun Ciledug No. 53, Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Kompleks makam buka 24 jam setiap hari, dan tidak ada biaya masuk. Fasilitas yang tersedia termasuk area parkir, toilet, mushola, dan warung makan ¹ ² ³.

Dengan keindahan arsitektur, tradisi ziarah, dan nilai filosofis yang terkandung, Makam Sunan Gunung Jati tidak hanya menjadi destinasi religi, tetapi juga tempat pembelajaran sejarah Islam di Jawa.

Wisata Religi: Menemukan Ketenangan dan Kekhusyukan



Ybia Indonesia - Wisata religi adalah jenis wisata yang bertujuan untuk mengunjungi tempat-tempat suci atau bersejarah yang memiliki nilai religius tinggi. Wisata ini dapat membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan memberikan pengalaman yang mendalam bagi para pengunjung. Wisata religi juga dapat menjadi sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya suatu agama atau kepercayaan.


Jenis Wisata Religi

Wisata religi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. Wisata ke tempat suci: Mengunjungi tempat-tempat suci seperti masjid.

2. Wisata ke situs bersejarah: Mengunjungi situs-situs bersejarah yang memiliki nilai religius tinggi, seperti makam para nabi atau tokoh agama.

3. Wisata ke tempat ziarah: Mengunjungi tempat-tempat ziarah yang dianggap suci atau memiliki nilai religius tinggi.


Manfaat Wisata Religi

Wisata religi memiliki beberapa manfaat, antara lain:

1. Meningkatkan kesadaran spiritual: Wisata religi dapat membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan memberikan pengalaman yang mendalam bagi para pengunjung.

2. Mempelajari sejarah dan budaya: Wisata religi dapat menjadi sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya suatu agama atau kepercayaan.

3. Meningkatkan toleransi: Wisata religi dapat membantu meningkatkan toleransi dan pemahaman antarumat beragama.


Contoh Wisata Religi di Indonesia

Indonesia memiliki banyak tempat wisata religi yang menarik, antara lain:

1. Masjid Istiqlal di Jakarta: Masjid terbesar di Asia Tenggara yang menjadi simbol keagungan Islam.

2. Makam Sunan Ampel di Surabaya: Makam salah satu dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

Wisata religi adalah jenis wisata yang dapat membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan memberikan pengalaman yang mendalam bagi para pengunjung. Dengan mengunjungi tempat-tempat suci atau bersejarah, wisata religi dapat menjadi sarana untuk mempelajari sejarah dan budaya suatu agama atau kepercayaan. Oleh karena itu, wisata religi dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin meningkatkan kesadaran spiritual dan memperluas pengetahuan tentang agama atau kepercayaan.

Baitul Insan Ar-Raasyid gelar Wisata Religi, diikuti Ratusan Jema'ah



Sukabumi, Ybia Indonesia - Wisata religi adalah salah satu bentuk pariwisata yang menggabungkan perjalanan spiritual dengan pengalaman budaya dan sejarah. 

Dalam konteks Islam, wisata religi sering kali disebut sebagai ziarah, yaitu perjalanan ke tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan sejarah yang tinggi dalam perkembangan agama Islam.

Demikian dikatakan oleh Ela Nurlaela salah satu panitia penyelenggara wisata religi saat mendampingi peserta wisata religi yang diadakan oleh Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid (YBIA) travel umroh dan haji pada Sabtu, (5/10/24). 



Ia dan panitia lainnya, yang juga merupakan tim manajemen dari Yayasan mengadakan wisata religi ke DKI Jakarta, adapun lokasi yang ditujunya, salahsatunya yaitu ziarah ke Maqom Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad atau yang dikenal dengan nama Mbah Priuk.

"Alhamdulillah untuk kesekian kalinya yayasan Baitul insan Ar-Raasyid mengadakan wisata religi, hari ini kami membawa ratusan jema'ah mudah-mudahan selama pelaksanaan kegiatan diberikan kelancaran," ujarnya.

Dengan menggunakan tiga bus dan satu Elf. Sambung Ela, rombongan berangkat dari kantor Yayasan Baitul insan Ar-Raasyid sekira pukul 19.30 WIB. Pantauan Ybia Indonesia masing-masing bus didampingi oleh para ustadz pembimbingnya. "Mohon doanya mudah-mudahan selama dalam kegiatan diberikan kelancaran," pungkasnya. (DJ)



Gerbang Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu

 


Ybia Indonesia - Prabu Sanghyang Borosngora memindahkan kaprabon (kediaman raja) dari Dayeuhluhur ke Nusa Larang. Nusa Larang adalah sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah Situ Lengkong. Dinamai juga Nusa Gede karena pada zaman dulu ada juga pulau yang lebih kecil bernama Nusa Pakel (sekarang sudah tidak ada karena menyatu dengan daratan sehingga menyerupai tanjung). 

Untuk menyeberangi situ menuju Keraton Nusa Larang dibangun sebuah Cukang Padung (jembatan) yang dijaga oleh Gulang-gulang (penjaga gerbang) bernama Apun Otek. Sementara Nusa Pakel dijadikan Tamansari dan Hujung Winangun dibangun Kapatihan untuk Patih Sanghyang Panji Barani."



Jejak Sejarah Islam, Melalui Eyang Santri Di kaki Gunung Salak


Sukabumi, Ybia Indonesia - di kecamatan Cicurug, tepatnya di Cidahu ada sebuah makam yang kerap diziarahi oleh berbagai kelompok masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara. Di makam tersebut bersemayam seorang ulama dan tokoh sejarah yang harum namanya, Eyang Santri. Beliau adalah sosok yang dianggap memiliki kekuatan daya pikir dan daya batin yang linuwih (istimewa).

Makam Eyang Santri berada di kaki Gunung Salak pada ketinggian 800m dpl, tepatnya di kawasan Padepokan Girijaya. Padepokan Girijaya masuk ke wilayah Desa Girijaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Kira-kira kalau dari Cicurug ke Padepokan berjarak sekitar 14 km.

Nah, siapakah Eyang Santri? Kalian mungkin sudah banyak yang tahu, bagi yang belum tahu ini lima fakta mengagumkan tentangnya. 

1. Keturunan Pangeran Sambernyowo

Orang sekitar Cidahu dan banyak orang lainnya menyebutnya dengan nama Eyang Santri alias Eyang Girijaya alias Pangeran Muhammad Santri. Sebenarnya nama aslinya adalah Pangeran Djojokusumo. Ia lahir pada tahun 1770 dan merupakan salah satu kerabat dekat trah Mangkunegaran dan merupakan cucu kandung dari Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegoro I. Ayahnya bernama Pangeran Prabuamidjojo dan ibunya yang bernama Puteri Ayu Trikusumo adalah puteri dari Pangeran Cakraningrat, penguasa Pamekasan, Madura.

Di masa remajanya Eyang Santri banyak berguru dengan banyak ulama, bahkan ia sampai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama di Pasiriyan, Jawa Timur.

2. Keliling pulau Jawa dan mendapat wangsit

Pangeran Djojokusumo di masa mudanya sangat tertarik dengan cerita-cerita tentang keindahan Pulau Jawa. Akhirnya, Pangeran Djojokusumo memutuskan untuk berkeliling Jawa. Dalam keliling Jawa itu ia menikmati keindahan Pulau Jawa yang ia catat ‘Sebuah Pulau yang teramat indah’. Ia kunjungi seluruh makam-makam keramat, ia kunjungi ulama dan ahli kebatinan dan ‘ngangsu ilmu’ (belajar).

Saat tahun 1823 Pakubuwono V wafat, Pangeran Djojokusumo yang sedang berada di Sumedang dipanggil pulang ke Solo untuk menjadi penasihat Pakubuwono VI. Sesampainya di Solo ia merasakan akan ada perubahan besar di bumi Jawa. Ia akhirnya bertapa sebentar di sebuah danau bernama Cengklik. Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’.

Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat. ‘Perang besar’ yang dimaksud Pangeran Djojokusumo kemungkinan besar adalah Perang Diponegoro.

3. Mendukung Pangeran Diponegoro

Di masa mudanya, Pangeran Djojokusumo bersahabat dengan Pangeran Jungut Mandurareja yang merupkan paman dari Sultan Solo, Pakubuwono VI. Saat terjadi pergolakan menolak patok tanah Belanda yang dimotori oleh Pangeran Diponegoro, Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja mendukung Pangeran Diponegoro.

Akan ada banjir darah di Jawa, dan ada gelombang kelaparan tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda. Tapi kita harus bermain strategis. Kalau keponakanku Pakubuwono VI ketahuan mendukung Pangeran Diponegoro maka Solo akan dihantam habis, dibikin crah, dibuat huru hara, itu malah memperlemah barisan perlawanan. Ada baiknya perjanjian dukungan dengan Pangeran Diponegoro dibuat diam-diam,” kata Pangeran Djojokusumo.

Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja pun me-lobby Pakubuwono VI untuk mendukung Pangeran Diponegoro. Walhasil, singkat cerita, Pakubuwono VI pun mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.

4. Menyepi ke Cidahu

Saat Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda karena akal licik mereka, banyak tokoh yang dicurigai terlibat menjadi incaran Belanda. Bahkan, Pakubuwono VI ditangkap karena terbongkar rahasianya oleh Residen Semarang yang menemukan banyak data dukungan Solo kepada Yogya (Pangeran Diponegoro).

Pangeran Djojokusumo juga dicurigai terlibat oleh Belanda. Ia memilih untuk melarikan diri ke Bagelen lalu ke Cilacap. Di sini pun ia dikepung banyak pendukung Belanda. Dengan menyamar sebagai petani, ia pergi ke Sukabumi, tepatnya ke desa Cidahu. Di sana ia menyamar sebagai petani cabe dan petani sawah, ia juga mengajar mengaji penduduk sana. Sejak itu ia dikenal dengan nama Eyang Santri.

5. Dikunjungi banyak tokoh nasional-internasional

Setelah Perang Diponegoro lama usai, di tahun 1850, pernah datang beberapa utusan dari Solo yang meminta Eyang Santri pulang ke Solo, tapi ia menolak dan memilih menjadi petani saja di Cidahu. Usia Eyang Santri mencapai 159 tahun saat meninggal di sekitar tahun 1929. Ia menjadi saksi berlangsungnya kekalahan Jawa dan bangkitnya rasa kebangsaan. Ia dikunjungi banyak ahli kebatinan dan para pemimpin politik.

Di tahun 1880-an ia dikunjungi oleh Wahidin Sudirohusodo yang sedang berkeliling Jawa untuk menyadarkan fungsi pendidikan bagi kaum pribumi dalam menghadapi jaman modern. Dirk van Hinloopen Labberton, ahli teosofi Belanda yang belajar filosofi kebatinan Jawa juga kerap berkunjung ke Eyang Santri.

Di awal tahun 1900-an HOS Tjokroaminoto (pendiri Serikat Islam) juga mampir ke rumah Eyang Santri mengajak muridnya Sukarno. Bung Karno datang menemui Eyang Santri dan digembleng kekuatan batin untuk melawan Belanda.

Ahli kebatinan Jawa sekaligus kakak Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono juga datang berguru ke Eyang Santri. Tokoh lainnya yang pernah mengunjungi Eyang Santri adalah Ki Hajar Dewantoro, Muhammad Yamin, sampai tokoh spiritual dan filsuf India seperti Rabindranath Tagore.

Itulah kisah seorang tokoh spiritual, ulama yang penuh karomah yang kini beristirahat dengan tenang di Cidahu Sukabumi. 


Berbagai sumber

Tarif Retribusi Wisata Religi

 



Ybia Indonesia - Tarif retribusi wisata religi

1. Sunan Kalijaga retribusi + parkir 180.000
2. Masjid Agung Demak/ Raden Fatah retribusi + parkir 180.000
3. Sunan Gunung jati 75.000
4. Sunan Giri 20.000 + retribusi peziarah bus besar 60.000, medium 35.000
5. Sunan Ampel 25.000
6. Sunan Drajat 130.000
7. Sunan Bonang Tuban 25.000
8. Pasuruan 25.000
9. Asmoroqondi 30.000
10. Pamijahan Parkir & Retribusi 65.000 Kebersihan 30.000
11. Situ Panjalu Parkir 20.000 Retribusi 9500/Orang, perahu 10.000/Orang 
12. Darmaloka Parkir 50.000 Retribusi 7000/Orang
13. Sunan Haruman Parkir 30.000
14. Cikundul Parkir 50.000 Retribusi 5000/Orang
15. Gunung Jati Cianjur Parkir 50.000
16. Syekh Yusuf Purwakarta Parkir+Kebersihan 70.000
17. Syekh Quro Parkir+Retribusi 400.000
18. Mbah Priuk Parkir 20.000 Kebersihan Seikhlasnya
19. Luar Batang Parkir 50.000
20. Banten Parkir 40.000
21. Maulana Yusuf Parkir 30.000
22. Gunung Santri Parkir 30.000
23. Merak Retribusi 25.000
24. Caringin Parkir 50.000
25. Pintu Seribu Parkir 50.000
26. Pulau Cangkir Parkir 50.000
27. Cikaduen Parkir 40.000
28. Mbah Kholil Bangkalan 30.000
29. Bung Karno Blitar parkir + retribusi 150.000 
30. Sunan Bayat 30.000
31. Gunung Pring 50.000
32. Syech Abdulloh Mursyad Kediri parkir Dan retribusi Seikhlasnya
33. Sunan Kudus 15.000
34. Sunan Muria hari biasa 120.000, hari libur 140.000 
35. Maulana Malik Ibrahim 70.000
36. Masjid Tiban Turen 30.000
37. Syaikh Maulana Syamsuddin Pemalang 60.000
38. Sopuro 60.000
39. Gunung Tidar 50.000

Retribusi parkir Wali Pitu Bali 

1. Habib Ali Bafaqih Jemrana 35.000
2. Raden Mas Sepuh Badung
Bus Besar 50.000
Bus Medium 25.000
3. Habib Umar Al Hamid Gianyar 25.000
4. Syaikh Yusuf dan Ali Zaenal Abidin Karang Asem "Gratis" 
5. Syaikh Yusuf Al Maghribi Tabanan Bedugul 50.000
6. The Kwanly Abdul Kadir Muhammad Singaraja 50.000
7. Raden Ayu Siti Khodijah Pamecutan 80.000
8. Syaikh Mukmin Pulau Serangan Gratis 

Infaq makam di Bali Seikhlasnya semua, kecuali di Makam Raden Ayu Siti Khodijah 60.000.

Sumber: Forum komunikasi wisata religi Indonesia

Ratusan Jamaah YBIA ikuti Wisata Religi

 

Bandung, Ybia Indonesia - Bandung tidak pernah kehabisan destinasi wisata baru. Yang paling anyar adalah Masjid Al Jabbar Bandung, yang dalam beberapa minggu terakhir sukses mencuri perhatian. Masjid megah yang dibangun oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tersebut berada di kawasan Gedebage. Masjid ini juga banyak disebut sebagai masjid terapung. 

Bukan tanpa alasan, masjid ini memang dibangun dengan kolam reflektif di sekelilingnya, mengesankan masjid mengapung di atas air. Secara keseluruhan, masjid ini memang menonjol dibanding bangunan lain di sekelilingnya.

Masjid Al Jabbar Bandung juga sudah dibuka secara resmi pada 30 Desember 2022 silam. Sejak saat itu, masjid ini kebanjiran jamaah, dari yang sekadar berkunjung atau juga beribadah di dalamnya. 

Seperti halnya jamaah dari yayasan Baitul insan Ar-Raasyid Sukabumi yang melakukan kunjungan wisata religi pada Sabtu-Minggu 21-22 Januari 2023 membawa ratusan jamaahnya.


Travel umroh dan Haji Khusus yang beralamat di Palasari Wates No.35 kalapanunggal kabupaten Sukabumi Jawa barat itu, tidak hanya berkunjung ke masjid raya Al Jabbar saja, tapi ke beberapa lokasi wisata lainnya yang ada di wilayah Bandung.

Sebelum berangkat, terlebih dahulu pihak penyelenggara memberikan pengarahan kepada semua peserta dari mulai tata tertib dan peraturan yang harus ditaati oleh semua jamaah. "Alhamdulillah malam ini kami akan melaksanakan kegiatan wisata religi ke masjid raya Al Jabbar, dan tempat ziarah lainnya yang ada di Bandung. Mohon doanya, semoga diberikan keselamatan selama dalam perjalanannya," singkat Ika Kartika salah satu manajemen yayasan.

Masjid Al Jabbar Bandung berada di Jl. Cimincrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. Luas masjid ini mencapai 25 hektar dan bisa menampung jamaah hingga 50,000 orang. (La)