Tampilkan postingan dengan label ulama Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama Banten. Tampilkan semua postingan

Abuya Munfasir: Ulama Paku Bumi Banten yang Bersahaja



Ybia Indonesia - Abuya Munfasir adalah seorang ulama yang sangat dihormati di Banten, yang memiliki pesantren tanpa nama di kaki Bukit Padarincang, Serang, Provinsi Banten. Beliau dikenal karena kesederhanaannya dan kesungguhannya dalam mendidik santri-santrinya.


Syarat Menuntut Ilmu di Pesantren Abuya Munfasir

- Tidak diperbolehkan membawa apapun kecuali baju yang melekat di badan

- Berpuasa selama 40 hari dengan berbuka dan sahur hanya dengan 3 teguk air saja

- Berpuasa dengan umbi-umbian yang tidak diperbolehkan untuk dimasak atau terkena api

- Membaca Al Quran 10 juz per hari

- Puasa mutih (hanya nasi putih dan garam saja) dan tidak berbicara


Kisah Abuya Munfasir

- Dulunya seorang dosen IAIN di Kota Cirebon, kemudian hijrah ke Padarincang

- Menjual seluruh harta bendanya untuk membeli sebidang sawah dan membangun sepetak gubuk

- Hanya menerima santri laki-laki maksimal 40 orang saja

- Santri-santrinya harus memiliki hati yang bersih dan menjalani jalan tasawuf 

Syekh Asnawi Caringin: Ulama Besar dan Pejuang Kemerdekaan Banten



Ybia Indonesia - Syekh Asnawi Caringin adalah seorang ulama besar dari Banten yang lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten pada tahun 1850. Beliau merupakan keturunan Sultan Agung dari Mataram atau Raden Patah.


Pendidikan dan Perjuangan

- Syekh Asnawi memulai pendidikannya di Mekkah pada usia 9 tahun dan berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani.

- Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, beliau kembali ke Banten dan mendirikan pesantren di Caringin, yang kemudian dikenal sebagai Madrasah Masyarikul Anwar.

- Beliau juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang aktif melawan penjajahan Belanda.


Pengorbanan dan Wafat

- Syekh Asnawi pernah ditahan dan diasingkan ke Cianjur, namun tetap berdakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar.

- Beliau wafat pada tahun 1937 dan dimakamkan di dekat Masjid Caringin, yang kini menjadi tempat ziarah bagi masyarakat.


Warisan

- Syekh Asnawi meninggalkan 23 putra dan putri, dan keturunannya masih meneruskan perjuangan dan dakwahnya.

- Beliau adalah contoh ulama yang gigih menentang penjajahan dan memiliki ilmu bela diri, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat Banten dan Indonesia. 

Abuya Armin: Ulama Kharismatik dari Pandeglang, Banten



Ybia Indonesia - Abuya Armin dilahirkan pada tahun 1880 di Desa Koranji, Kecamatan Menes, yang kini masuk dalam tata wilayah pemerintahan Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Abuya Armin, merupakan anak dari pasangan HM Tohir asal Kadu Jami dan ibu bernama Hj Siti Sofiah yang berasal dari Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang.


Masa Kecil dan Pendidikan

Dilihat dari garis keturunannya, Abuya Armin merupakan keponakan dari Syech Asnawi Caringin. Dalam perjalanannya, saat menginjak usia 5 tahun Abuya Armin ditinggal meninggal ibunya. Abuya Armin pada saat remaja berguru kepada KH Hasan asal Lekong, Banten yang sudah lama tinggal di Mekkah, Arab Saudi.


Perjuangan dan Dakwah

KH Hasan dikabarkan sangat terkesan atas kelebihan yang dimiliki oleh Abuya Armin. Karena kepintarannya itulah kemudian Abuya Armin diangkat menjadi asisten KH Hasan. Penambahan nama 'Hasan' merupakan hadiah dari gurunya. Namanya pun, menjadi KH Muhamad Hasan Armin.

Usai perjalanan panjang menimba ilmu selama 17 tahun di tanah Arab, Abuya Armin pun kembali pulang ke kampung halamannya di Kampung Cibuntu, Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Di kampung inilah, kemudian Abuya Armin mendirikan pondok pesantren. Pada masanya, banyak ratusan santri yang belajar kepada-nya.


Kehidupan dan Karomah

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa Abuya mengajarkan banyak pelajaran kepada para santrinya kala itu, mulai dari kitab, Tafsir Al Qur'an hingga Tarekat Naqsyabandiyah. Karena kemahsyurannya, banyak tokoh-tokoh besar dinegeri ini berkunjung ke Abuya Armin. Mulai dari Gubernur DKI Ali Sadikin, Presiden Soeharto, Wakil Presiden Mohamad Hatta hingga Presiden pertama RI Ir Soekarno. Kedatangan para tokoh tersebut ke Cibuntu untuk meminta nasiha, petunjuk atau hanya sekedar bersilaturahmi.


Wafat dan Warisan

Namun, pada 30 November 1988 perjuangan Abuya Armin harus terhenti karena Abuya Armin menghembuskam nafas terakhirnya. Abuya Armin wafat pada 108 tahun. Makam Abuya Armin berada di area pondok pesantren yang didirikan olehnya kala itu. Meski sudah puluhan tahun berlalu, berkat perjuangannya menyebar agama islam di Pandeglang, hingga kini makamnya masih ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. 

Ulama Banten yang Meninggalkan Mimbar Demi Medan Gerilya: Kisah K.H. Syam'un, Pejuang Sejati dari Tanah Banten



Banten, Ybia Indonesia - Dari tanah yang sarat sejarah perlawanan, Banten, lahir seorang ulama kharismatik yang menuliskan takdirnya bukan hanya di kitab-kitab keilmuan, tetapi juga di rimba perjuangan bersenjata. Dialah Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) K.H. Syam’un—figur langka yang menyatukan iman, ilmu, dan keberanian revolusioner dalam satu tarikan napas perjuangan bangsa.

K.H. Syam’un bukan sekadar tokoh agama, bukan pula hanya pejabat pemerintahan. Ia adalah representasi ulama pejuang sejati: ketika nasib bangsa dipertaruhkan, mimbar ditinggalkan, jabatan dilepas, dan senjata diangkat demi tegaknya Merah Putih.


MENYALAKAN API KESADARAN BANGSA

Lahir di Kampung Beji, Cilegon, pada 1883 (sebagian sumber menyebut 1894), K.H. Syam’un mewarisi darah perlawanan. Ia adalah cucu K.H. Wasid, tokoh sentral Pemberontakan Petani Banten 1888, sebuah warisan ideologis yang membentuk kesadarannya sejak dini bahwa penjajahan harus dilawan, bukan dinegosiasikan.

Pendidikannya ditempa hingga ke pusat peradaban Islam dunia. Ia menuntut ilmu di Makkah dan kemudian di Universitas Al-Azhar, Kairo (1910–1915). Namun, sepulangnya ke Tanah Air, Syam’un tidak berdiam di menara intelektual. Ia melihat rakyat terbelenggu oleh kebodohan dan kemiskinan, penjajahan dalam rupa yang lebih sunyi namun mematikan.

Pada 1916, ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah di Citangkil. Pesantren ini berkembang menjadi institusi pendidikan modern yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum. Lebih dari sekadar pusat pendidikan, Al-Khairiyah menjelma menjadi dapur ideologis perlawanan, tempat nasionalisme dan kesadaran anti-kolonial ditanamkan secara sistematis.


SERAGAM PETA DAN STRATEGI PERLAWANAN

Babak perjuangan K.H. Syam’un memasuki fase krusial pada masa pendudukan Jepang. Pada 1943, ia diangkat sebagai Daidanco (Komandan Batalion) PETA wilayah Cilegon–Serang. Namun, jabatan itu bukan simbol kolaborasi, melainkan alat perjuangan. Di balik seragam militer, Syam’un memanfaatkan posisinya untuk melatih ribuan pemuda Banten dalam disiplin dan taktik perang. Ia menyiapkan mereka bukan untuk membela Jepang, melainkan untuk menghadapi setiap bentuk penjajahan yang menginjak bumi Indonesia.

Kesetiaan pasukan kepadanya bersifat total. Ia bukan sekadar komandan, melainkan guru spiritual. Tercatat dalam sejarah, seorang prajurit menolak perintah opsir Jepang dan hanya bersedia bertindak jika perintah itu datang langsung dari K.H. Syam’un, sebuah bukti betapa kuatnya wibawa moral sang ulama pejuang.


MENINGGALKAN PENDOPO, MEMILIH RIMBA

Pasca-Proklamasi, K.H. Syam’un dipercaya menjadi Bupati Serang ke-13. Namun, ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada Desember 1948 dan Serang kembali diduduki, ia membuat keputusan monumental: meninggalkan jabatan sipil tertinggi demi memimpin perlawanan bersenjata. Ia ditunjuk sebagai Panglima Divisi 1000/1, cikal bakal kekuatan yang kemudian terintegrasi dengan Divisi Siliwangi.

Di bawah komandonya, pasukan bergerilya dari Gunung Karang hingga pelosok Anyer, bertahan di tengah hutan, menghadapi kelaparan, penyakit, dan tekanan musuh yang tak berkesudahan. Inilah puncak pengorbanan seorang ulama yang memilih penderitaan di rimba raya daripada kenyamanan kekuasaan. Ia adalah bupati yang menanggalkan pendopo, panglima yang memilih tanah basah dan langit terbuka sebagai medan baktinya.


GUGUR SEBAGAI PEJUANG, ABADI SEBAGAI PAHLAWAN

Pada 2 Maret 1949, di Desa Kamasan, Anyer, K.H. Syam’un menghembuskan napas terakhir setelah sakit selama empat hari. Ia wafat dalam dekapan istri, jauh dari kemewahan yang pernah ia miliki, namun dekat dengan cita-cita kemerdekaan yang ia bela hingga akhir hayat.

Perjalanannya dari ulama, pendidik, Daidanco PETA, bupati, hingga panglima gerilya adalah potret utuh pengabdian tanpa syarat kepada bangsa dan negara. Negara kemudian mengukuhkan jasanya dengan menganugerahkan pangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) dan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.

K.H. Syam’un telah gugur. Namun, semangatnya tetap hidup, menyala di setiap jengkal tanah Banten, dan bergema dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia. 

Kisah Abuya Bustomi: Keberanian dan Karomah Seorang Ulama



Ybia Indonesia - Abuya Bustomi, seorang ulama besar dari Banten, memiliki keberanian dan karomah yang luar biasa. Berikut adalah kisahnya ketika mengaji di Mama Bakri Sempur Purwakarta dan kemudian ke KH. Busyrol Karim Kresek Garut.

Abuya Bustomi diperintahkan oleh gurunya, Mama Sempur, untuk mengaji ke KH. Busyrol Karim Kresek Garut, yang akrab disapa Mama Oco Garut. Sebelum berangkat, Mama Sempur memerintahkan Abuya Bustomi untuk berpuasa amalan yang telah diberikan, kelak amalan itu akan berguna di sana.

Sesampainya di Garut, Abuya Bustomi mendapati Mama Oco sedang sakit. Para santri telah disebar ke berbagai daerah untuk mencari obat demi kesembuhan Mama Oco, namun belum ada yang bisa menyembuhkan beliau. Abuya Bustomi kemudian menggunakan amalan dari Mama Sempur untuk menyembuhkan Mama Oco.

Mama Oco sakit karena ketika sedang berzikir, tiba-tiba di depannya ada dua ular hitam. Karena kaget, Mama Oco memukul satu ular tersebut hingga mati dan ular satunya lagi kabur. Ular-ular tersebut adalah jelmaan jin, dan raja jin marah karena temannya dibunuh oleh bangsa manusia.

Abuya Bustomi kemudian masuk ke alam jin dan menemui Raja Jin. Perdebatan antara Abuya Bustomi dengan Raja Jin pun tidak terhindarkan dan berlangsung cukup lama. Abuya Bustomi akhirnya memenangkan perdebatan dan Raja Jin meminta maaf serta menawarkan apapun yang Abuya Bustomi mau. Namun, Abuya Bustomi hanya minta didoakan agar memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Kisah Abuya Bustomi ini menunjukkan betapa keberanian dan karomah beliau dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Semoga kita semua dapat menelusuri jejak Abuya Bustomi dan menjadi ulama besar seperti beliau.