Tampilkan postingan dengan label malam Lailatul Qadar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malam Lailatul Qadar. Tampilkan semua postingan

Malam Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan



Ybia Indonesia - Lailatul Qadar adalah salah satu malam yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Malam ini jatuh pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.


Apa itu Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia dan penuh berkah. Pada malam ini, Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Malam ini juga merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Keutamaan Lailatul Qadar

- Malam yang lebih baik dari seribu bulan

- Malam yang penuh berkah dan rahmat

- Malam yang diampuni dosa-dosa

- Malam yang dijanjikan Allah SWT kepada umat Muslim


Tanda-tanda Lailatul Qadar

- Cuaca yang tenang dan damai

- Angin yang berhembus pelan

- Sinar matahari yang lembut pada pagi hari

- Hati yang terasa dekat kepada Allah SWT


Bagaimana Menghidupkan Lailatul Qadar?

- Shalat malam dengan khusyuk

- Membaca Al-Quran dan berdzikir

- Berdoa dengan sungguh-sungguh

- Bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain


Doa Lailatul Qadar

"Allahumma innaka 'afuwwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni."

Artinya: "Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku."

Semoga kita semua dapat menghidupkan Lailatul Qadar dengan baik dan mendapatkan berkah dan rahmat Allah SWT. 

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag.21) "Lailatul Qadar dalam Prespektif Sufistik (Spiritualitas)

 


Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Salah satu momen yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah adanya Lailatul Qadar. Disebutkan dalam surat al-Qadr, bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

innā anzalnāhu fī lailatil-qadr


وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr


لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr


تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr


Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

@Surah al-Qadr, Ayat 1-5


Ybia Indonesia - Lailatul Qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu,  berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. 

Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih Sayang. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. 

Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, "Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu".

Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

Kalau kita shalat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. 

Padahal dalam ibadah khusus, yaitu shalat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. 

Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. "Dengan begitu, salatnya punya bekas".

Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

"Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan". 

Orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. 

Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan. 

Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

Bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan dan Kesadaran Spiritual.

Barang siapa melakukan kebaikan pada malam ini (Lailatul Qadar), diyakini nilainya lebih besar daripada melakukannya selama seribu bulan. 

Sayangnya, Allah dan Rasul tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya momen akbar ini. 

Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. Dalam satu hadits Rasul pernah menganjurkan untuk mengintip Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tetapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. 

Di sisi lain, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar . Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar.

Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar pada dasarnya adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. Masing-masing orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Pengalaman spiritual yang dirasakan satu sama lain juga berbeda-beda. 

Jika kemudian Rasul menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, itu berdasarkan pengalaman pribadi Rasul atau informasi dari beberapa sahabat. 

Demikian halnya, dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang. Pada malam itu cahaya illahi turun menghampiri dan menyatu dengan jiwa-jiwa hamba. 

Momen inilah, yang oleh Ibnu ‘Arabi, seorang sufi dan filsuf besar, disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. 

Menurutnya, seribu bulan bukanlah hitungan angka, melainkan simbol untuk menjelaskan karunia Allah yang tak terhingga. 

Kata seribu di sana lebih bersifat kualitatif yang menggambarkan tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya. 

Artinya, momen ketika jiwa hamba menyatu dengan cahaya Tuhannya adalah momen yang tak terperi sekaligus karunia yang tak terhingga. 

Menyatu dengan cahaya Allah yang tak terbatas, tentu memberikan pengalaman yang tak terbatas pula. 

Kebersatuan cahaya ilahi dan jiwa pada saat Lailatul Qadar itulah yang selanjutnya diharapkan dapat mengejawantah dalam kepribadian dan perilaku keseharian.

Manusia yang dalam jiwanya bersemayam cahaya ilahi, pasti tidak akan menampakkan perilaku kecuali sesuai dengan nilai-nilai ilahi. 

Ringkasnya, Lailatul Qadar adalah sebuah proses spiritual, dan oleh karenanya tidak akan cukup digambarkan dengan kata-kata. Dan setiap proses spiritual yang dialami manusia akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan kepribadiannya. 

Maka, jika ibadah di malam-malam Ramadhan tidak mampu merubah perilaku kita, berarti Lailatul Qadar  tidak pernah benar-benar mendatangi kita. 

Tidaklah tersembunyi bagi orang-orang yang telah mendapat anugerah Allah swt apabila mereka mensucikan hati mereka dari pengaruh kemakhlukan dari nafsu buas Ghodobiyah (nafsu bersifat binatang buas) dan meningkat dari satu maqam kerendahan basyariah kemakhlukan dengan bertaraqqi ke maqam yang lebih tinggi lagi mulia dan lalu mencapai kasyf atas rahasia-rahasia penurunan Kitab-kitab Suci dan pengutusan para rasul; yaitu orang-orang yang mendapat taufik untuk melihat dan mengetahui rahasia hakikat Keesaan Dzat Ilahiyah pada lembaran-lembaran keberbilangan (martabat wujud-wujud ini) yang fana dalam batas dan hitungan.

Bahwa berbagai ketetapan yang terjaga di dalam Loh Qadha dan berbagai bentuk yang ditetapkan di dalam hadhrah Ilmu dan Pena al-A'la, sesungguhnya ia ada di dalam Alam Ama` yang ghaib yang disebut Lailah al-Qadr (Malam Kemuliaan). 

Karena malam itu tersembunyi di dalamnya ada siang yang mataharinya tak pernah tenggelam.

Puasa mempunyai banyak rahasia yg bisa membawa si salik (pejalan spiritual) untuk menaiki maqam rohani yang lebih tinggi. 

Puasa adalah medan peperangan bagi menghadapi musuh tersembunyi didalam diri kita. Musuh luar sudah dibelenggu bagi menghadapi musuh nafsu yang jauh lebih kuat dan bahaya.


Rasulullah Saw. bersabda:

Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di badanmu.”  (HR. at-Tirmidzi).

Nafsu itu lebih jahat daripada 70 syaitan.” (Al-Hadits).

Imam Al-Ghazali berkata: "Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kejahatan itu lebih memusuhimu daripada iblis. 

Nabi bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka dan diikat syaitan-syaitan.”

Maka di bulan Ramadhan, roh dihadapkan musuhnya yang menghijab diri insan dari Tuhannya, yakni nafsunya. 

Nafsu suka menghadap wajah kepada selain Allah swt,  sedang roh mencoba membawa hati mengadap kepada satu kiblat yakni ka'bah hakiki. 

Apabila hati bathin dapat bersaksi yakni sujud kepada satu arah, dan satu kiblat, yakni Dzat Hakiki, maka kegelapan malam basyariah kemakhlukan jasad bisa difanakan dengan terangnya cahaya illahiyah, Nur warid,  yang bersaksi pada Dzat Yang Hakiki yang menjadi sumber sifat, Asma dan Afaal.

Maka saat itu gelap malam tersembunyi cahaya mentari siang yang bisa mensirnakan gelap malam. 

Satu saat saja terangnya mentari rohani bisa mengatasi kebingungan malam didisebab zhulumat jasmani. Itulah cahaya Lailatul Qadar.

Puasa adalah madrasah Ramadhan yg mentarbiyah hati agar menundukkan nafsu keakuan. Berhala terbesar yg menghijab keberadaan Allah dari hati insan. 

Antara jalan utama untuk mennyingkap hijab tersebut adalah: al maut al irady, "matikan kehendakmu dan tunduk sepenuhnya dengan kehendak Allah", Yakni dengan membuang rasa wujud diri... berhala ananiyah yakni keakuan. 

Malam lailatul qadar adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan dan kemuliaan. Seorang hamba yang sudah punya kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki. 

Syeikh Jamaluddin al-Khalwati (W. 1162 H) dalam kitabnya ta’wilat mengatakan, “Lailatul Qadar adalah malam pencapaian, dimana ia lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. 

Maka barang siapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.” Itulah syuhud... itulah makrifat, itulah CINTA HAKIKI.

Bagi para Sufi, mengejar peristiwa lailatul qadar bukan menjadi tujuan utama kerana bagaimanapun lailatul qadar hanya bahagian dari makhluk, sama dengan syurga yang juga makhluk. 

Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta lailatul qadar dan syurga. 

Apakah masih perlu lailatul qadar dan syurga bila telah berada di dalam ‘pelukan’ Sang Pencipta segalanya? Bagi Sufi yg sudah dimaqamnya, setiap saat itu Lailatul Qadar, bukan sekadar mengejar Lailatul Qadar setahun sekali.

Malam lailatul qadar adalah semua malam yang dilalui oleh seorang hamba dengan kekhusyu’an ibadah mendekatkan diri pada sang sang Khaliq.

Setiap saat adalah Lailatul Qadar bagi yang tahu dan yang mau.


Kenapa dicari yang setahun sekali? 

Hendaklah engkau wahai orang yang bertekad dan ingin menghidupkan serta menjangkau malam itu; singsingkanlah lengan bajumu untuk menghidupkan semua malam yang datang padamu dalam hidupmu. 

Karena ia (malam) tersembunyi di dalamnya (siang). 

Singkatnya, janganlah engkau alpa dari Allah dalam semua hal dan keadaanmu, agar semua malam menjadi kemuliaan yang lebih baik dibandingkan dunia dan segala isinya bagimu. 

Buka pakaian alam Nasut. Terbangkan rohanimu ke alam Lahut.

Lailatul qadar janganlah dimaknai dengan ukuran-ukuran Fisik dan Biologis, melainkan maknailah dengan ukuran-ukuran spiritual.

Semua ciri kehadiran lailatul qadar: langit cerah tak berawan, terang benderang, udara terasa sejuk tapi tak membuat gigil hangat tapi membuat gerah, tak ada angin, pepohonan bersujud, suasana terasa sangat tenang, perasaan sangat nyaman” hanyalah peng-ibarat-an untuk menggambarkan kondisi spiritual orang yang tercerahkan.

Ada pun soal mengapa lailatul qadar dikaitkan dengan malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.  Karena, jika seseorang menjalani ibadah puasa dengan benar dan ikhlas, maka waktu 20 hari sudah cukup untuk menumbuhkan kesadaran pada seseorang akan hakikat eksistensi dirinya.

Ketika kesadaran akan hakikat eksitensi diri itu datang, maka orang tersebut akan menjadi pribadi yang tak lagi risau dengan imbalan (pahala) akan perbuatan baiknya. Ia berbuat baik semata-mata demi kebaikan itu sendiri. Ia beribadah  (ritual) bukan karena takut neraka melainkan karena ia tahu bahwa neraka itu ada di dalam dirinya sendiri.

Orang yang tercerahkan adalah orang yang tidak lagi dikendalikan oleh kegelapan bathin. Di dalam hatinya tidak ada lagi rasa iri, dendam, kebencian, dan kemarahan. Yang ada hanyalah pikiran positif terhadap segala sesuatu.

Itu sebabnya orang tercerahkan dikatakan sebagai yang terbebaskan. Terbebas dari segala pamrih dan nafsu rendah biologis lainnya.

Wallahualam...

Semoga bermanfaat.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.29), "Menjemput Malam 1000 Bulan"




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. 

Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. 

Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. 

Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. 

Anugerahkan padaku memandang-Mu. 

Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. 

Jangan palingkan wajah-Mu dariku. 

Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu 

wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin"

Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. 

Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan.

Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa.

Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. 

Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. 

Tuhan berfirman, ''Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.''

Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. 

Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. 

Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin)

Kerendahan Hati

Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh.

Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ''Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.'' Nabi yang mulia berkata, "Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya."

Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, "Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?" Ia menjawab, "Benar."

Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. "Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk," katanya.

Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, "Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat."

Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, "Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.''

Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati.

Bersujud lah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. 

Jalaluddin Rumi bercerita. Alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujud lah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Maha Tinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunnahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.-


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb

ki alit Pranakarya 

Inisiator/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar



 بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ


اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ


Ybia Indonesia - Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar 

Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali Bin Abdul Hamid dalam laman Suara Al Qur'an menyebutkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meriwayatkan bahwa malam lailatul qadar terjadi pada malam antara tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Pendapat-pendapat yang ada berbeda-beda. Imam Al Iraqi dalam risalahnya 'Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar', membawakan perkatan para ulama;

Imam Syafi'i berkata, "Menurut pemahamanku, wallahu a'lam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, "Apakah kami mencarinya di malam hari?", beliau menjawab, "Carilah di malam tersebut.". (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits 'Aisyah radiyallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan."

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai luput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya." (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  juga menggambarkan tanda-tanda datangnya malam mulia ini sebagai berikut:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang. Ibnu Abbas radliyallahu'anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda : "Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah."

2. Esok harinya cahaya matahari agak meredup, bersinar cerah tapi tidak kuat. Ubay bin Ka'ab radliyallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : "Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar seperti dulang."

3. Bulan nampak separuh bulatan. Abu Hurairoh ra pernah berkata bahwa mereka pernah berdiskusi tentang lailatul qadar disamping Rasulullah SAW lalu beliau bersabda; "Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh dulang."

4. Sewaktu malam tampak terang, tidak dingin, tidak berawan, tidak hujan, tidak panas, tidak ada angin kencang, dan tidak ada aktivitas meteor yang jatuh di galaksi. Rasulullah SAW bersabda: "Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)" (HR. at-Thobroni dalam al-Mu'jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan), sebagaimana hadits dari Watsilah bin al-Asqo'.

5. Terbawa kedalam mimpi. Beberapa sahabat Rasulullah SAW mengalami mimpi berjumpa dengan malam lailatul qadar.

6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Allah, tidak seperti malam-malam lainnya.


والله أعلم بالصواب