Tampilkan postingan dengan label spirit ramadan 1445 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spirit ramadan 1445 H. Tampilkan semua postingan

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag. 15) "Puasa dari Sudut Pandang Saint dan Spiritualitas"



Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - Kewajiban berpuasa tertulis dalam tiga ayat di dalam surah al-Baqarah dari ayat 183 sampak ayat 185.

Kewajiban yang telah disyariatkan kepada orang-orang sebelum kamu:


 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

ya ayyuhallazina amanuu kutiba ‘alaikumush-shiyamu kama kutiba ‘alallazina ming qablikum la’allakum tattaquun

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (183)

 اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

ayyamam ma’duudat, fa mang kana mingkum maridhan au ‘ala safarin fa ‘iddatum min ayyamin ukhar, wa ‘alallazina yuthiiquunahu fidyatun tha’amu miskin, fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashuumuu khairul lakum ing kuntum ta’lamuun

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (184)

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

syahru ramadhanallazi unzila fihil-qur`anu hudal lin-nasi wa bayyinatim minal-huda wal-furqan, fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum-h, wa mang kana maridhan au ‘ala safarin fa ‘iddatum min ayyamin ukhar, yuridullahu bikumul-yusra wa la yuridu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykuruun

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (185)

 Puasa secara definisi adalah menahan diri dari pada makan dan minum, serta apa-apa perkara yang boleh membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari berserta niat.

Puasa lebih sinonim dengan berlapar dahaga pada pandangan kebanyakan orang awam.

Padahal lebih jauh dari itu puasa merupakan jalan untuk membersihkan hati kita dan untuk membiasakan diri mengendalikan hawa nafsu kita.

Ritual puasa dalam berbagai ajaran agama telah menarik minat #kaP untuk mengkajinya secara saint

“Berpuasalah kamu agar kamu menjadi sehat” [HR Ibnu Sunni & Abu Nuaim daripada Abu Hurairah ra]

Fase-fase puasa

1. Fase pertama (2-3 hari): Perut akan terasa lapar, badan cepat letih, cepat marah kerana kadar glukosa dalam darah rendah.

2. Fase kedua (3-14 hari): Kurang selera makan, sering mengantuk/gampang tertidur, nafas berbau, lidah menjadi putih atau berdaki serta badan menjadi lesu.

3. Fase ketiga (14-akhir puasa): Lidah menjadi bersih, bau nafas hilang , selera makan baik, tenaga mula pulih dan kadar glukosa menjadi normal kembali. 

Di fase ini juga mental, emosi dan badan semakin optimal dan terkendali.

Menjadikan diri kita seperti hidup baru.

Berpuasa sebagai salah satu mekanisme terapi yang terhebat:

Plato, tokoh filsafat hebat juga berpuasa untuk kekuatan fisik dan kecerdasan mental.

Menariknya lagi, Pythagoras, ahli matematik terkenal mensyaratkan puasa selama 40 hari kepada anak muridnya yang ingin menguasai rumus dan tahap yang lebih tinggi dalam disiplin ilmu beliau.

Fakta yang dapat kita lihat, bahwa tokoh-tokoh pemikir hebat dunia juga telah lama mempraktikkan puasa. 

Karena mereka melihat puasa sebagai terapi terbaik untuk fisik, mental dan fisiologi seseorang individu.

Puasa juga sudah diakui sebagai penyembuh terhebat dalam menangani penyakit. 

Bahkan di Amerika Serikat terdapat sebuah institut rujukan, “Fasting Center International, Inc”. 

Institut ini/ pusat kajian ini sudah beroperasi sejak 35 tahun yang lalu, dengan mahasiswa dari 220 negara. 

Direktor dan penggagasnya Dr. Dennis Paulson telah mencanangkan puasa sebagai kaedah dalam program berikut:

– Program penurunan berat badan

– Pengeluaran toksin tubuh

– Memperbaiki energy-level, kesehatan mental, kesehatan fisik  dan yang paling penting meningkatkan kualitas hidup.

 Berdasarkan penelitian dan Kajian, dengan berpuasa sangat bermanfaat untuk kesehatan:

1. Puasa Menurunkan kadar gula darah.

2. Puasa dapat menurunkan tekanan darah.

3. Puasa dapat menurunkan berat badan.

4. Puasa dapat mengurangi  risiko penyakit atherosclerosis (sejenis penyakit pada arteri di mana plaque berlemak pada dinding-dinding dalam saluran darah dan akhirnya menyebabkan aliran darah tersendat. Keadaan ini terutamanya berlaku di kalangan pesakit diabetes.

5. Puada mengurangi resiko terhadap serangan penyakit jantung.

6. Puasa adalah satu proses detoksifikasi. Detoksifikasi adalah satu proses mencuci dan membersihkan badan daripada racun ataupun toksik.

7. Puasa mempercepatkan kesembuhan karena umumnya bakteri  memerlukan zat besi dalam berkembang biak, justru dengan menghindari makanan, bakteri akan kekurangan zat besi dan dengan ini akan melemahkannya.

8. Berpuasa dapat menghasilkan sel-sel baru yang baik untuk imunitas badan. 

Pada chemotherapy untuk pesakit cancer biasanya membawa dampak (side effect)  yang akan melemahkan sistem pertahanan badan dan apabila lemahnya sistem ini, maka berbagai penyakit lain pula mudah untuk menyerang. 

Maka puasa merupakan solusi penyeimbangan dalam masalah ini.

9. Puasa dan Awet Muda

Sejenis hormon anti-penuaan juga didapati dirembeskan dengan banyaknya ketika berpuasa. 

Dengan berpuasa juga penghasilan protein  lebih efektif untuk ketahanan yang lebih baik serta merendahkan kadar metabolisme badan.

10. Dengan berpuasa adalah sebagai meditasi terhebat untuk keseimbangan badan manusia.

Puasa secara saintis telah membuktikan signifikasinya terutama dalam aspek kesehatan. 

Untungnya, kita sebagai umat Islam telah terlebih dahulu diwajibkan berpuasa sebelum daripada perbagai kajian saint ini ditemui.

Maka tidak sadar umat Islam telah lama diwajibkan untuk maju selangkah dalam aspek kesehatan jasmani, terlebih-lebih Mental Spiritual (Rohani).

Puasa dan Revolusi Mental Spiritual:

Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib. 

Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua panca indera dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat. 

Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis. 

Puasa dari segi rohani akan batal bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. 

Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. 

Terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat di dunia dan akhirat. 

Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan diatas pembersihan.

Syekh Sitibrit mengajarkan bahwa puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan terhadap Allah.

Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba. 

Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain. 

Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa saat berbuka dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang ‘arif. 

Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi spiritual.

Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya. 

Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan mata hati sebagai salah satu efek dari puasanya.

Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya. 

Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas. 

Puasa ini adalah puasa menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, dan mencari ghairullah (yang selain Allah). 

Puasa ini dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. 

Namun walaupun seseorang telah sampai kepada tahapan puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai cara serta sarana menggapai kesehatan fisik.

 Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis palson kabeh”, hanya sebentuk kebohongan beragama semata. 

Puasa merupakan tindakan rohani untuk mereduksi watak-watak kedzaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. 

Inilah yang diajarkan Syekh Sitibrit Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya. 

Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya. 

Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak.

Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia. 

Rahasia itu berupa nur Allah. 

Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. 

Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. 

Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. 

Dengan puasa hakiki, ruh itu diaktifkan. 

Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki. 

Jika puasa hakiki batal maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. 

Puasa hakiki hanyalah menempatkan Allah di dalam hati, menjalani proses kemanunggalan meng-Gusti-kan perwatakan kawula.

 Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah untuk umat manusia. 

Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai ma’rifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda. 

Secara lahiriah keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda. 

Dengan berpuasa secara hakiki, tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi rohani kita. 

Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan mampu menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurullah.

Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan menuju kearah al-Haqq, Illahi Rabbi. 

Bagi Syekh Sitibrit, puasa hakiki akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan. 

Puasa hakiki adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan ke-dzalim-an sebagai hal yang harus ditundukkan. 

Oleh Syekh Sitibrit puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri. 

Bukan sekedar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu “ngelakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan. 

Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya.

Dan tentu saja, Syekh Sitibrit tidak memaknai “kudu luwe” sebagai alasan lembeknya manusia secara fisik. 

Hal tersebut harus dikontekstualisasikan dengan kecukupan gizi yang harus terpenuhi bagi aktivitas fisik. 

Yang terpenting adalah kemauan dan kesadaran untuk berbagi, untuk tidak hanya memuaskan apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya.

Semoga bermanfaat & Salam Silaturahmi.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag.16) "Quantum Puasa dan Spiritualitas"



Oleh: Ki alit Pranakarya 

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - "Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya. 

Apabila aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mendapatkan sebuah lompatan sehingga mampu mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah. 

Inilah yang dimaksud dengan quantum puasa. Lompatan tersebut diraih dengan berusaha memperbanyak amal baik secara vertikal maupun horizontal yaitu dengan cara ibadah kepada Allah dan banyak berbuat baik antar sesama dan alam sekitarnya secara kontinyu."

Puasa Ramadhan adalah momentum untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala sesuatu termasuk diri sendiri. 

Kekekalan ini terasa ketika tidak makan dan minum, serta menahan hawa nafsu maka yang terjadi adalah kun fayakun, energi ilahi yang luar biasa dahsyat akan mengalir dalam diri kita.

Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Hukum ini berlaku untuk semua energi bahkan seluruh aspek termasuk aspek kehidupan manusia. 

Aktivitas yang kita lakukan setiap hari merupakan perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Contohnya, saat kita makan, kita mengubah energi kimia dari makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk bergerak dan berpikir. Energi tersebut tidak akan berubah saat kita diam.

Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman, melainkan karena La Haula Wa La Quwwata Ila Bil-Lah (tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah). 

Ungkapan tauhid ini mengandungi rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-Nya yang abadi yaitu Energi Ilahi. 

Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan-Nya semata.

Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya.

Bulan ramadhan adalah bulan penuh energi, sebab di dalamnya turun wahyu Alquran. Dan di dalam Alquran terdapat himpunan energi yang tidak ada batasnya. 

Jangan kita menelantarkan kesempatan ini, baik energi lahiriah, dan energi ilmiah, maupun energi spiritual-religius. 

Inilah yang harus kita sadari bersama dalam ibadah puasa pada bulan Ramadan, yaitu menyadari adanya energi yang luar biasa besar, luas dan besarnya, di dalam Alquran. 

Energi ini perlu kita gali kembali. Perlu kita himpun kembali untuk meningkatkan ketakwaan, keimanan dan keilmuwan serta keamalan kita.

Definisi Quantum, menurut para ahli fisika adalah suatu unit terkecil yang gelombangnya bisa memancarkan atau menyerap energi. 

Pakar Fisika lainnya berpendapat Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. 

Dengan mengambil persamaan Einstein tentang energi, yakni E = m.c2, E adalah energi (baca: potensi dalam diri manusia), m adalah materi (baca: fisik manusia) dan c adalah suatu konstanta (baca: pelipat ganda) yang besarnya 3 x 108 (m/s), maka setiap diri manusia memiliki suatu potensi dalam diri untuk dilipatgandakan menjadi suatu energi yang dahsyat (baca: kekuatan) untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. 

Untuk itu, diperlukan suatu keyakinan untuk “mengkuantumkan” diri (baca: membangkitkan) potensi yang ada dalam diri.

Teori kuantum telah membuktikan bahwa pada tataran mikrokospis, semua materi adalah energi. 

Tubuh kita yang secara kasat mata kita lihat sebagai benda padat, sesungguhnya tidaklah padat, melainkan “ruang hampa” yang memiliki getaran energi yang tidak henti-hentinya. 

Seluruh aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah.


Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan :


ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

(Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun 'alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in 'alīm)

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya ? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.

Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. 

Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift. 

Dalam kondisi seperti ini (dalam orde cahaya) harus dijelaskan menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.

Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam di bumi. Hasil pengukuran mereka ternyata berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.

Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.

 Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa terasa lama tergantung dari posisi pengamatnya. 

Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.

Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 108 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. 

Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisikan. 

Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.

Ramadhan sebagai bulan penuh energi karena memiliki banyak kelebihan dan hikmah yang besar bagi manusia baik secara lahiriah maupun bathiniah. 

Ibadah di bulan puasa dilipat-gandakan oleh Allah sehingga memungkinkan manusia untuk menambah potensi energi spiritual-relegiusnya yang mengakibatkan pacaran gelombang elektromagnetik dari diri (tubuh) manusia akan semakin kuat. 

Gelombang elektromagnetik tersebut adalah bentuk hasil dari latihan yang dilakukan selama ibadah di bulan puasa.

Allah SWT telah menyediakan fasilitas yang banyak di bulan ramadhan agar manusia berlomba-lomba mendapatkan kekuatan atau energi yang optimal karena semua kehidupan adalah energi. 

Tubuh manusia secara fisik adalah materi, sebagai hamba, tujuannya adalah untuk meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. 

Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. 

Seperti yang telah diuraikan diatas, Quantum puasa dalam perspektif fisika. Kata quantum dalam literatur berarti banyaknya sesuatu, secara mekanik berarti studi tentang gerakan”. 

Jadi mekanika kuantum adalah ilmu yang mempelajari tentang partikel-partikel sub atom yang bergerak. Namun demikian kekeliruan berpikir tentang partikel sub atom ini merupakan banyaknya benda. Partikel sub atom bukan merupakan kecenderungan energi dengan potensial. 

Energi sebagai implikasi dalam istilah mekanika tidak pernah statis. Energi selalu bergerak secara terus menerus, tidak pernah berhenti berubah dari gelombang menjadi partikel dan dari partikel menjadi gelombang, membentuk atom-atom dan molekul yang seterusnya membentuk dunia materi. 

Ini benar-benar hal yang menakjubkan yang terlihat stabil dan statis, apabila kita cermati ternyata dunia materi ini tersusun energi. 

Sebagai bulan penuh energi, tentu memiliki banyak hikmah yang besar bagi manusia. Bagi siapa saja yang beribadah di bulan ramadhan niscaya akan dilipatgandakan pahala oleh Allah. Dengan demikian energi positif melalui gelombang elektromagnetik, akan mengalir menambah potensi energi spiritual religius dalam diri manusia. 

Gelombang elektromagnetik tersebut adalah bentuk hasil dari meditasi yang dilakukan selama ibadah di bulan ramadan. 

Quantum merupakan interaksi yang mampu mengubah energi menjadi cahaya. Apabila aktivitas yang dilakukan dengan ikhlas di bulan puasa akan mendapatkan sebuah lompatan sehingga mampu mengubah energi lahiriah menjadi energi ilmiah. 

Inilah yang dimaksud dengan quantum puasa. Lompatan tersebut diraih dengan berusaha memperbanyak amal baik secara vertikal maupun horizontal yaitu dengan cara ibadah kepada Allah dan banyak berbuat baik antar sesama dan alam sekitarnya secara kontinyu. 

Telah banyak fasilitas yang Allah sediakan di bulan ramadan, sehingga tidak ada alasan manusia untuk tidak dapat kekuatan atau energi yang optimal, karena semua kehidupan di bulan ramadhan adalah energi. E = mc2 adalah rumus fisika yang terkenal dalam fisika quantum yaitu Massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan Energi. 

Tubuh manusia secara fisik adalah materi, sebagai hamba, tujuannya adalah untuk meraih sebanyak mungkin cahaya, interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. 

 Melalui artikel ini #kaP mengajak semuanya  untuk senantiasa bisa melakukan lompatan jauh ke depan dalam mengisi dan memaknai setiap datangnya bulan suci ramadhan agar puasa yang kita lakukan tidak sia-sia, dan bernilai tinggi di hadapan Allah. 

Terdapat banyak jalan dan hakikat yang perlu jadi pedoman untuk sampai ke ketinggian ruhaniah dan spiritual ramadhan. 

Untuk sampai ke puncak ruhaniah tersebut, setiap waktu selama ramadhan akan diisi dengan amal ibadah, seperti salat wajib dan salat sunah, tadarus Alquran, shalat tarawih dan salat witir, qiyamull lail, shadaqah, i’tikaf, thalabul ilmi, berzikir, tidak berghibah, Taddabur Alam, Saturahim, dan lain-lain.

Wallahu A’lam…


Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).