Tampilkan postingan dengan label sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Kisah Pemakaman Rasulullah SAW: Momen Mengharukan dalam Sejarah Islam

 




Ybia Indonesia - Pemakaman Rasulullah SAW merupakan salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah Islam, yang penuh dengan ketenangan sekaligus kesedihan mendalam bagi para sahabat. Berikut adalah detail peristiwa tersebut berdasarkan sumber-sumber Sirah Nabawiyah:

Rasulullah SAW wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 H (8 Juni 632 M) di pangkuan istrinya, Aisyah ra. Jenazah beliau tidak langsung dimakamkan hingga malam Rabu karena dua alasan utama:

- Musyawarah Kepemimpinan: Para sahabat perlu memastikan keberlangsungan umat dengan memilih pemimpin (Khalifah) agar tidak terjadi perpecahan, yang akhirnya menyepakati Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah Bani Saidah.

- Penentuan Lokasi: Terjadi perdebatan apakah beliau akan dimakamkan di pemakaman Baqi atau di Masjid Nabawi. Abu Bakar mengakhiri perdebatan dengan mengutip sabda Nabi: "Seorang Nabi tidak dicabut nyawanya kecuali di tempat ia ingin dimakamkan".


Proses pemandian dan pengafanan dilakukan pada hari Selasa oleh anggota keluarga dekat (Ahlul Bait):

- Tokoh yang terlibat: Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, kedua putra Abbas (Fadl dan Qutham), serta Usamah bin Zaid dan Syuqran.

- Tata Cara: Jenazah Nabi dimandikan tanpa melepas pakaian beliau (tetap mengenakan gamis) sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan.

- Kain Kafan: Beliau dikafani dengan tiga helai kain putih yang terbuat dari kapas tanpa baju maupun sorban.

Penyalatan jenazah tanpa imam merupakan salah satu keunikan pemakaman Rasulullah. Para sahabat masuk ke kamar Aisyah dalam kelompok-kelompok kecil (sepuluh-sepuluh orang) secara bergantian. Urutan penyalatan dimulai dari kaum laki-laki, kemudian perempuan, dan terakhir anak-anak.


Penggalian liang lahat dan penguburan dilakukan pada tengah malam Rabu:

- Penggali Kubur: Abu Talhah al-Anshari ditugaskan menggali makam dengan model Lahat (lubang yang menyamping ke arah kiblat).

- Detik-Detik Penguburan: Jenazah Nabi diturunkan ke liang lahat oleh Ali bin Abi Thalib, Abbas, Fadl, dan Qutham. Syuqran (bekas budak Nabi) dilaporkan meletakkan sehelai kain beludru di bawah jenazah beliau.

- Lokasi Saat Ini: Makam Rasulullah SAW kini berada di dalam Masjid Nabawi (dahulu kamar Aisyah), berdampingan dengan makam Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.


Sumber Referensi:

- Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri (Ar-Rahiq Al-Makhtum).

- Laporan Sejarah Makam Nabi SAW - Hajj Umrah Planner.

- Hadits Riwayat Bukhari & Muslim mengenai tata cara jenazah.

- Katalog Sejarah dari Pusat Kajian Hadis (PKH). 

Sejarah Masjid Quba: Masjid Pertama di Islam



Ybia Indonesia - Masjid Quba adalah salah satu masjid tertua di dunia dan merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah. Masjid ini terletak di kota Madinah, Arab Saudi, dan merupakan salah satu tempat suci bagi umat Islam.


SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID QUBA

Masjid Quba dibangun pada tahun 622 M, ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah dari Mekah ke Madinah. Masjid ini dibangun di atas tanah yang diberikan oleh suku Bani Amr bin Auf, yang merupakan salah satu suku di Madinah.

Rasulullah SAW sendiri turut serta dalam pembangunan masjid ini, dengan membawa batu dan pasir untuk fondasi masjid. Masjid Quba awalnya hanya berupa bangunan sederhana yang terbuat dari tanah liat dan kayu kurma.


KEUTAMAAN MASJID QUBA

Masjid Quba memiliki beberapa keutamaan, antara lain:

- Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah.

- Masjid Quba adalah tempat pertama kali Rasulullah SAW melakukan shalat berjamaah.

- Masjid Quba adalah tempat pertama kali Rasulullah SAW memberikan khutbah.

- Masjid Quba memiliki pahala yang besar bagi orang yang melakukan shalat di dalamnya.


PERLUASAN DAN RENOVASI MASJID QUBA

Masjid Quba telah mengalami beberapa kali perluasan dan renovasi sepanjang sejarah. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, masjid ini diperluas dan diperkuat dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih kuat.

Pada tahun 1986, masjid Quba direnovasi secara besar-besaran oleh pemerintah Arab Saudi, dengan menggunakan arsitektur modern dan teknologi canggih. Masjid Quba sekarang dapat menampung lebih dari 20.000 jemaah.

Masjid Quba adalah salah satu tempat suci bagi umat Islam dan memiliki sejarah yang sangat penting. Masjid ini merupakan simbol kekuatan dan kesatuan umat Islam, serta merupakan tempat yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi oleh umat Islam. (*)

Keraton Kasepuhan Cirebon

 


Ybia Indonesia - Keraton Kasepuhan adalah istana yang terletak di kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Cirebon. Istana ini sangat bersejarah dan dikenal sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon pada masanya. 

Keraton Kasepuhan awalnya bernama Keraton Pakungwati, didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1529, Pangeran Mas Zainul Arifin mendirikan kompleks keraton yang sekarang disebut Keraton Kasepuhan. Nama Pakungwati diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati, putri dari Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Keraton Kasepuhan terdiri dari beberapa bagian utama yang mencerminkan tata kota pada masa itu, dengan alun-alun, masjid, dan pasar yang mengelilinginya. 

Keraton memiliki dua gerbang utama: Kreteg Pangrawit di utara, berupa jembatan, dan Lawang Sanga di selatan, yang memiliki sembilan pintu.

Area Siti Inggil adalah kompleks dengan tembok bata merah yang tinggi, mencakup beberapa bangunan seperti:

- Mande Malang Semirang: Tempat Sultan melihat latihan keprajuritan.

- Mande Pendawa Lima: Tempat para pengawal pribadi Sultan.

- Mande Semar Tinandu: Tempat penasehat Sultan.

- Mande Pengiring: Tempat para pengiring Sultan.

- Mande Karasemen: Tempat pengiring tetabuhan/gamelan.

Di sini juga terdapat gapura bergaya Majapahit dan berbagai artefak yang menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha.

Area langgar adalah tempat ibadah yang terdiri dari:

- Langgar Agung: Tempat ibadah keluarga keraton dengan pos Bedug Samogiri di dekatnya.


Area Utama Keraton Kasepuhan

Bagian utama keraton meliputi:

- Taman Dewandaru: Taman berbentuk lingkaran dengan simbol-simbol seperti pohon Soko dan patung harimau putih.

- Museum Benda Kuno: Tempat penyimpanan benda kuno kesultanan.

- Museum Kereta: Menyimpan kereta kencana kesultanan, termasuk kereta Singa Barong.

- Sri Manganti: Tempat menunggu keputusan raja.

- Bangunan Induk Keraton: Tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan dengan beberapa ruangan penting seperti Kutagara Wadasan, Jinem Pangrawit, dan Bangsal Prabayasa.


Bangunan Induk Keraton

- Kutagara Wadasan: Gapura dengan ukiran khas Cirebon, melambangkan pondasi yang kuat dan kepemimpinan yang bijaksana.

- Jinem Pangrawit: Tempat Pangeran Patih menerima tamu.

- Gajah Nguling: Ruangan tanpa dinding dengan tiang bergaya Tuscan.

- Bangsal Pringgandani: Tempat menghadap para abdi dan sidang warga keraton.

- Bangsal Pagelaran: Tempat pertunjukan dan hiburan.

- Bangsal Agung Panembahan: Singgasana Gusti Panembahan.

- Kaputran dan Kaputren: Tempat tinggal para putra dan putri Sultan.


Keraton Kasepuhan menjadi inspirasi bagi istana-istana lain, seperti Kesultanan Mataram, dan masih berfungsi sebagai pusat budaya dan wisata sejarah. Keraton ini juga menjadi objek vital yang dirawat dan dipelihara dengan baik, sehingga tetap menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Cirebon.

Keraton Kasepuhan hingga kini digunakan untuk berbagai upacara dan kegiatan kesultanan, serta menjadi tempat penyimpanan berbagai benda pusaka dan artefak bersejarah yang penting bagi warisan budaya Cirebon dan Indonesia.



Walisongo dan Pendekatan Dakwah. dari Pendidikan, Tradisi, dan Seni



Ybia Indonesia - Disepanjang sejarah Islam di Indonesia, Wali Songo dikenal sebagai tokoh-tokoh agama yang berkontribusi besar pada penyebaran Islam di tanah Jawa dan wilayah sekitarnya. Mereka menyebarkan dakwah mereka ke seluruh Jawa dan tetap mengabdi di sana hingga akhir hayatnya.

Dalam bahasa Jawa, Wali Songo berarti wali yang sembilan, menandakan jumlah para wali yang ada sembilan. Namun ada pendapat lainnya yang mengatakan bahwa songo/sanga adalah turunan dari bahasa Arab tsana yang berarti mulia.

Setiap Walisongo memiliki pendekatan dakwah unik untuk mencapai misinya. Ada yang berkaitan dengan pendidikan, tradisi, dan bahkan seni.

Strategi Walisongo berhasil yang membuat masyarakat Jawa secara bertahap menerima agama Islam dan belajar tentang Islam dari Wali Songo. Banyak dari mereka akhirnya memilih mengucap dua kalimat syahadat. (*)

Jejak Sejarah Islam, Melalui Eyang Santri Di kaki Gunung Salak


Sukabumi, Ybia Indonesia - di kecamatan Cicurug, tepatnya di Cidahu ada sebuah makam yang kerap diziarahi oleh berbagai kelompok masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara. Di makam tersebut bersemayam seorang ulama dan tokoh sejarah yang harum namanya, Eyang Santri. Beliau adalah sosok yang dianggap memiliki kekuatan daya pikir dan daya batin yang linuwih (istimewa).

Makam Eyang Santri berada di kaki Gunung Salak pada ketinggian 800m dpl, tepatnya di kawasan Padepokan Girijaya. Padepokan Girijaya masuk ke wilayah Desa Girijaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Kira-kira kalau dari Cicurug ke Padepokan berjarak sekitar 14 km.

Nah, siapakah Eyang Santri? Kalian mungkin sudah banyak yang tahu, bagi yang belum tahu ini lima fakta mengagumkan tentangnya. 

1. Keturunan Pangeran Sambernyowo

Orang sekitar Cidahu dan banyak orang lainnya menyebutnya dengan nama Eyang Santri alias Eyang Girijaya alias Pangeran Muhammad Santri. Sebenarnya nama aslinya adalah Pangeran Djojokusumo. Ia lahir pada tahun 1770 dan merupakan salah satu kerabat dekat trah Mangkunegaran dan merupakan cucu kandung dari Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegoro I. Ayahnya bernama Pangeran Prabuamidjojo dan ibunya yang bernama Puteri Ayu Trikusumo adalah puteri dari Pangeran Cakraningrat, penguasa Pamekasan, Madura.

Di masa remajanya Eyang Santri banyak berguru dengan banyak ulama, bahkan ia sampai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama di Pasiriyan, Jawa Timur.

2. Keliling pulau Jawa dan mendapat wangsit

Pangeran Djojokusumo di masa mudanya sangat tertarik dengan cerita-cerita tentang keindahan Pulau Jawa. Akhirnya, Pangeran Djojokusumo memutuskan untuk berkeliling Jawa. Dalam keliling Jawa itu ia menikmati keindahan Pulau Jawa yang ia catat ‘Sebuah Pulau yang teramat indah’. Ia kunjungi seluruh makam-makam keramat, ia kunjungi ulama dan ahli kebatinan dan ‘ngangsu ilmu’ (belajar).

Saat tahun 1823 Pakubuwono V wafat, Pangeran Djojokusumo yang sedang berada di Sumedang dipanggil pulang ke Solo untuk menjadi penasihat Pakubuwono VI. Sesampainya di Solo ia merasakan akan ada perubahan besar di bumi Jawa. Ia akhirnya bertapa sebentar di sebuah danau bernama Cengklik. Di danau itu ia mendapatkan wangsit bahwa ‘Jawa akan masuk ke pinggir jurangnya, tapi kelak Jawa akan bersinar cerah secerah matahari pagi’.

Masa suram inilah yang membuat Pangeran Djojokusumo akhirnya sadar bahwa perang akan diiringi dengan kelaparan hebat. ‘Perang besar’ yang dimaksud Pangeran Djojokusumo kemungkinan besar adalah Perang Diponegoro.

3. Mendukung Pangeran Diponegoro

Di masa mudanya, Pangeran Djojokusumo bersahabat dengan Pangeran Jungut Mandurareja yang merupkan paman dari Sultan Solo, Pakubuwono VI. Saat terjadi pergolakan menolak patok tanah Belanda yang dimotori oleh Pangeran Diponegoro, Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja mendukung Pangeran Diponegoro.

Akan ada banjir darah di Jawa, dan ada gelombang kelaparan tapi setelah itu Jawa akan berjaya, akan menjadi seperti Majapahit. Aku mendukung dimas Pangeran Diponegoro sebagai pemimpinku untuk melawan Belanda. Tapi kita harus bermain strategis. Kalau keponakanku Pakubuwono VI ketahuan mendukung Pangeran Diponegoro maka Solo akan dihantam habis, dibikin crah, dibuat huru hara, itu malah memperlemah barisan perlawanan. Ada baiknya perjanjian dukungan dengan Pangeran Diponegoro dibuat diam-diam,” kata Pangeran Djojokusumo.

Pangeran Djojokusomo dan Pangeran Jungut Mandurareja pun me-lobby Pakubuwono VI untuk mendukung Pangeran Diponegoro. Walhasil, singkat cerita, Pakubuwono VI pun mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.

4. Menyepi ke Cidahu

Saat Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda karena akal licik mereka, banyak tokoh yang dicurigai terlibat menjadi incaran Belanda. Bahkan, Pakubuwono VI ditangkap karena terbongkar rahasianya oleh Residen Semarang yang menemukan banyak data dukungan Solo kepada Yogya (Pangeran Diponegoro).

Pangeran Djojokusumo juga dicurigai terlibat oleh Belanda. Ia memilih untuk melarikan diri ke Bagelen lalu ke Cilacap. Di sini pun ia dikepung banyak pendukung Belanda. Dengan menyamar sebagai petani, ia pergi ke Sukabumi, tepatnya ke desa Cidahu. Di sana ia menyamar sebagai petani cabe dan petani sawah, ia juga mengajar mengaji penduduk sana. Sejak itu ia dikenal dengan nama Eyang Santri.

5. Dikunjungi banyak tokoh nasional-internasional

Setelah Perang Diponegoro lama usai, di tahun 1850, pernah datang beberapa utusan dari Solo yang meminta Eyang Santri pulang ke Solo, tapi ia menolak dan memilih menjadi petani saja di Cidahu. Usia Eyang Santri mencapai 159 tahun saat meninggal di sekitar tahun 1929. Ia menjadi saksi berlangsungnya kekalahan Jawa dan bangkitnya rasa kebangsaan. Ia dikunjungi banyak ahli kebatinan dan para pemimpin politik.

Di tahun 1880-an ia dikunjungi oleh Wahidin Sudirohusodo yang sedang berkeliling Jawa untuk menyadarkan fungsi pendidikan bagi kaum pribumi dalam menghadapi jaman modern. Dirk van Hinloopen Labberton, ahli teosofi Belanda yang belajar filosofi kebatinan Jawa juga kerap berkunjung ke Eyang Santri.

Di awal tahun 1900-an HOS Tjokroaminoto (pendiri Serikat Islam) juga mampir ke rumah Eyang Santri mengajak muridnya Sukarno. Bung Karno datang menemui Eyang Santri dan digembleng kekuatan batin untuk melawan Belanda.

Ahli kebatinan Jawa sekaligus kakak Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono juga datang berguru ke Eyang Santri. Tokoh lainnya yang pernah mengunjungi Eyang Santri adalah Ki Hajar Dewantoro, Muhammad Yamin, sampai tokoh spiritual dan filsuf India seperti Rabindranath Tagore.

Itulah kisah seorang tokoh spiritual, ulama yang penuh karomah yang kini beristirahat dengan tenang di Cidahu Sukabumi. 


Berbagai sumber