Tampilkan postingan dengan label Ki alit pranakarya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ki alit pranakarya. Tampilkan semua postingan

Memaknai IdulFitri dari Sudut Pandang Spiritual (sufistik)



Oleh: Ki alit Pranakarya 


Ybia Indonesia - Idul Fitri merupakan salah satu perayaan yang dilaksanakan oleh umat Islam di dunia setelah melakukan puasa selama sebulan. Namun, pernahkah kita menyadari secara mendasar makna dan hakikat Idul Fitri?

Begitu banyak Muslim yang merayakan Idul Fitri hanya sebatas seremonial. Sehingga, Idul Fitri hanya sebatas perayaan tahunan dalam paradigma umat. Tulisan sederhana ini, ingin menyadarkan pembaca mengenai makna dan hakikat Idul Fitri dalam pandangan Sufi. Mereka dapat menghadirkan esensi dari Idul Fitri melalui pendekatan batin atau esoterik.

Makna Esoterik Idul Fitri:

Para Sufi dalam berbagai literatur memaknai Idul Fitri pada dua konteks, yaitu umum dan khusus. Pertama, Idul Fitri bermakna umum, ialah kembalinya manusia pada fitrah atau kesucian dirinya. Adapun, Idul Fitri bermakna khusus adalah hadiah ilahi yang diberikan oleh Allah swt kepada seluruh umat Muslim untuk membersihkan, menyucikan, dan menerangi hati mereka. 

Para sufi menyakini bahwa Idul Fitri merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt kepada Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat Muslim sebagai sebuah hadiah spiritual dalam menapaki kehidupan di muka bumi.

Lebih lanjut, kaum Sufi menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk memperoleh hadiah spiritual dengan melewati berbagai ujian yang disiapkan oleh Allah swt. yaitu berpuasa selama sebulan penuh, dan memahami hakikat turunnya kitab suci Alquran di bulan suci Ramadan. Berbagai ujian yang diberikan Allah Swt. selama bulan suci Ramadan bertujuan untuk melatih ibadah dan ketakwaan umat Muslim di muka bumi. 

Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. al-Baqarah ayat 183:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa 

Berdasarkan surah al-Baqarah ayat 183, kaum Sufi memahami bahwa puasa dan berbagai peribadahan yang melingkupinya merupakan sebuah kewajiban bagi setiap umat Muslim. Tujuannya untuk mengaktualkan daya-daya batin sebagai makhluk ilahi di muka bumi. Manusia merupakan ciptaan yang sempurna yang tidak sekadar diberkati daya-daya fisik. Melainkan daya-daya batin, seperti jiwa sebagai kendaraan eksistensi bergerak mencapai kesempurnaan immateri, guna menyucikan dan menyederhanakan (melepas dari nafsu dan hasrat materi) di realitas.

Dari berbagai pemaknaan di atas, dapat diketahui bahwa Idul Fitri dalam pandangan Sufi bermakna khusus dengan melihat urgensi perayaan Idul Fitri yang tidak sebatas dipahami sebagai proses kembalinya sucinya manusia secara seremonial. Setelah memahami makna Idul Fitri, kaum Sufi berusaha memahami hakikat Idul Fitri melalui salah satu hadis Sayyidina Ali, “Setiap hari adalah Idul Fitri bagi mereka yang tidak melakukan dosa. Hari Id adalah tempat kembalinya manusia pada fitrah dan asalnya di hadapan Allah swt”.

Idul Fitri dalam Pandangan Sayyidina Ali

Para sufi menganalisis hadis Sayyidina Ali secara terpisah. Pertama, makna “هر روزی که گناهی در آن صورت نگیرد، عید است” (Setiap hari adalah Idulfitri bagi mereka yang tidak berbuat dosa). Kaum Sufi memandang bahwa hakikat utama Idul Fitri menyucikan jiwa manusia dengan mengamalkan berbagai proses penyembahan dan peribadahan yang tidak sebatas pada Allah swt, tetapi kepada masyarakat. Sebaliknya, dosa-dosa yang terejawantahkan dalam perilaku manusia mendeskripsikan kotornya jiwa manusia. Akibatnya, manusia tidak dapat menyempurnakan eksistensinya di realitas.

Dalam konteks makna pertama, kita dapat melihat bahwa kaum Sufi mendeskripsikan peribadahan tidak sebatas pada hablum min al-Allah, melainkan hablum min an-nas. Sebagaimana setiap umat Muslim diharuskan membayar zakat sebagai rasa kepedulian kepada sesama di hari raya. Jalal al-Din dalam Masnawi menyebutkan betapa banyaknya umat Muslim yang melakukan tawaf di hadapan Ka’bah, akan tetapi hati mereka kotor dan tidak mencerminkan eksistensinya sebagai manusia.

Pandangan Jalal al-Din Rumi dalam Masnawi ingin menyampaikan bahwa begitu banyak umat Muslim beribadah pada manusia, akan tetapi peribadahan kepada Allah swt tidak didukung pada lingkup sosial. Akibatnya, jiwa manusia menjadi kotor dan tidak dapat mengalami kesempurnaan. Sehingga manusia diharuskan untuk menyempurnakan jiwanya melalui perilaku baik dalam bingkai sosial. Manusia yang mampu mengaktualkan ruang peribadahan dan memperoleh hadiah ilahi (Idulfitri) setiap harinya sebagai kesempurnaan eksistensi.

Sedangkan pemaknaan kedua “عید روزی است که انسان به فطرت و اصل” “خداشناسی خود برگردد” mendeskripsikan kembalinya manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt di realitas. Para Sufi memandang manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan dalam keadaan suci dan kembali dalam keadaan suci, sebagaimana ia berasal dari Dzat Yang Maha Suci. Jalal al-Din Rumi dalam salah satu bait puisinya menjelaskan bahwa manusia telah begitu jauh mencari-Nya. Mereka manusia pergi ke Ka’bah, pegunungan Herat, dan gunung Kaf akan tetapi tidak menemukan Allah swt. hingga mereka melihat hati sebagai pembendaharaan agung dan menemukan-Nya di sana. Penjelasan puisi Jalal al-Din Rumi, pada dasarnya berusaha menyadarkan manusia bahwa hati merupakan daya persepsi yang dimiliki manusia.

Kesimpulan

Di awal penciptaan, hati manusia itu suci. Namun semakin menapaki kehidupan hati mereka kembali kotor yang menyebabkan jiwa manusia juga kotor. 

Idul Fitri ialah membersihkan kembali hati manusia sebagai asal penciptaan manusia sebagai ruang kembali di hadapan Ilahi. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa hakikat dari Idulfitri ialah pembersihan hati manusia dari berbagai debu yang dipandang mengotori jiwanya di realitas. Manusia yang telah menyucikan hati dan jiwanya diharuskan untuk menjaganya sebagai langkah atau tahap kembali kepada Allah swt dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya manusia berasal dari yang suci dan harus kembali pada yang suci. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

sumber kajian: Nurul Khoir


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag.30) "Puasa Memperkokoh Integritas Diri"



Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد


Ybia Indonesia - Hakikat ibadah puasa sesungguhnya adalah berkaitan dengan integritas individu dalam melakoni kehidupan sosialnya. 

Rahasia ibadah puasa senantiasa mengajarkan tentang makna kejujuran, kebenaran, keberanian, dan kesediaan menegakkan keadilan. 

Prosesi ibadah puasa adalah perwujudan integritas ibadah sosial (hablum-minan-nas) dan nilai-nilai religiusnya (hablum-min-allah atau tauhid).

Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. 

Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). 

Pemahaman dasar tentang Integritas adalah tentang konsistensi sikap diri pada kesamaan antara kata dan perbuatan. Sikap diri yang jujur dan bertanggung jawab merupakan salah satu ciri ciri pribadi yang memiliki integritas diri, yaitu pribadi yang jujur dan bertanggung jawab dimana setiap perkataannya bisa dipegang dan di buktikan. 

Integritas diri adalah suatu pemahaman yang dapat diumpamakan sebagai lambang diri atau identitas karakter pribadi yang dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya, tanggung jawab pekerjaan di kantor dapat di selesaikan hingga tuntas, prestasi di sekolah sebagai bentuk tanggung seorang siswa di sekolah untuk terus belajar dan berprestasi, pergaulan dalam lingkungan untuk selalu mejaga kerukunan dan hubungan baik antar sesama, ibadah kerohanian sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada Tuhan,  dll.

Seseorang dikatakan mempunyai integritas apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya.

Kualitas integritas terlihat pada keutuhan yang berasal paduan kejujuran dan konsistensi. 

Ciri orang berintegritas terlihat pada beberapa hal berikut, yaitu:

(1) Sikap tidak mementingkan diri sendiri,

(2) Dibangun di atas dasar disiplin, 

(3) Kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan, 

(4) Kemampuan untuk bersabar ketika hidupnya tidak berjalan mulus, 

(5) Tahan uji yang memerlukan prilaku yang dapat diduga,

(6) Kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat, 

(7) Menepati janji-janji, bahkan ketika merugikan dirinya, 

(8) Tetap setia kepada komitmen, bahkan ketika itu tidak nyaman, 

(9) Tetap teguh pada nilai-nilai tertentu meskipun dirasakan lebih populer untuk mencampakkannya. 

(10) Hidup dengan keyakinan, ketimbang dengan apa yang disukai,

(11) Fondasi dari kehidupan, jika integritas baik, maka kehidupan baik, begitu pun sebaliknya, dan 

(12) Dibentuk melalui kebiasaan.

Buah dari sikap berintegritas akan dipercaya oleh orang sekelilingnya, komunitasnya, dan siapapun yang mengenal karakternya, karena ucapannya juga menjadi tindakannya. 

Orang yang berintegritas karena mulut dan hatinya tidak berbeda dan bertengkar. Tiada pertentangan sikap karena memiliki pendirian dan punya komitmen dalam setiap amalnya. 

Tipe orang yang berintegritas telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:


إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ 

(Innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ tatanazzalu 'alaihimul-malā`ikatu allā takhāfụ wa lā taḥzanụ wa absyirụ bil-jannatillatī kuntum tụ'adụn)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS Fushilat [41]: 30).

Puasa menjadi pendidikan kemanusiaan untuk mencetak diri yang berintegritas. Dalam ibadah puasa mendidik nilai dan prinsip mulia, yaitu keimanan dan ketaqwaan sehingga rela meninggalkan makan, minum dan hubungan badah dengan pasangannya sehari penuh demi nilai dan keyakinan yang mantap pada dirinya.

Kenikmatan badan yang dibutuhkan sementara waktu ditinggalkan demi patuh kepada nilai dengan teguh kepada prinsip beragama. Implemetasinya dalam ibadah puasa itu menyatukan isi hati dengan komitmen perbuatan tindakan nyata.

Niat di malam hari selama bulan Ramadhan, kemudian direalisasikan selama sehari penuh bepuasa meskipun tak ada orang yang tahu dan tak ada yang memperhatikan, tetap teguh pada komitmen prinsip berpuasa yang telah diniatkan malam harinya.

Ini bentuk latihan integritas untuk menyatukan ucapan dengan perbuatan dan berpegang tegung pada prinsip dan nilai yang diyakini baik untuk dijalankan.

Saat ibadah puasa sangat dianjurkan oleh Nabi SAW untuk memberi makanan atau minuman kepada orang yang berbuka puasa. Pahala orang yang memberi buka sama dengan ganjaran orang yang menjalankan ibadah puasa meskipun hanya seteguk air atau sebiji kurma.

Inilah nilai integritas yang dilatihkan kepada orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bukan seberapa besar yang diberikan kepada orang lain tetapi seberapa besar perhatian kita untuk berbagi dengan yang lain. 

Sikap orang yang berintegritas itu adalah kesanggupan diri untuk berkorban demi menolong dan membahagiakan orang lain. Inilah latihan kemanusiaan untuk menjadi manusia yang berintegritas dalam madrasah bulan Ramadhan.

Puasa merupakan pendakian spiritual manusia. Sebab, ada dua unsur dalam diri manusia, yaitu unsur lahut (unsur ketuhanan) dan unsur nasut (unsur kemanusiaan). “Nah, puasa merupakan wahana revitalisasi unsur ketuhanan di dalam diri kita sehingga mampu merefleksikan sifat-sifat Allah SWT. 

Hal ini akan membentuk yang berintegritas, konsisten menamkan nilai-nilai Spiritual pada bulan Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. 

Puasa yang dilakukan secara benar dan Ikhlas, akan menghasilkan sebuah kesadaran spiritual dan Insan yang beritegritas. Dalam puasa akan tertanam Kejujuran, Keikhlasan, kepekaan sosial, dan  kemanusiaan (Humanis). Hal ini merupakan entri poin dari sebuah Kesadaran Spiritual dan Integritas diri. 

Setiap bangunan mempunyai dasar yang disebut fondasi. Tanpa fondasi, hujan, angin, dan cuaca akan membuat bangunan itu roboh. Begitu juga manusia, tidak sulit membedakan siapa yang telah membangun kehidupannya diatas fondasi integritas dan siapa yang tidak.

Bila fondasi kita adalah integritas, keputusan yang kita ambil akan membuktikannya. Bila tidak itu juga akan terbukti. Ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankan integritas, uang bukanlah faktor yang menentukan dalam integritas. Bahkan bila kita kehilangan uang, ketenaran, dan persahabatan, kita tidak boleh menjual integritas. 

Apapun harganya, integritas mempunyai nilai yang lebih besar. 

Segala bentuk yang tampaknya merugikan karena menjunjung integritas sebenarnya sama sekali bukan kerugian. 

Ingatlah segala sesuatu yang kita miliki hanya bersifat sementara, akhirnya akan membawa luka yang sulit dilupakan jika kita tidak memiliki integritas dalam diri kita.

Ingin  menjadi orang yang berintegritas tidak membuat kita menjadi sempurna. Dan tidak semua orang selalu mengambil langkah yang benar, tetapi percayalah dengan ketekunan dan percaya pada kekuatan doa, kita akan mampu menjalani kehidupan yang berintegritas. 

Kadang-kadang memulai lagi berarti kita harus memulai kembali dari nol, dari dasarnya lagi, tetapi setidaknya dasarnya memang sudah ada disana. Ada masa ketika secara harfiah kita tidak memiliki apa-apa lagi kecuali integritas. 

Saat seperti itu tidak mudah untuk dijalani, itu adalah ujian terbesar jika kita terpaksa mengalaminya. 

Tetapi bagi karakter dan masa depan, itu menghasilkan hal-hal yang mengagumkan. Percayalah berinvestasi pada integritas diri akan memberikan kemajuan dan keberhasilan untuk kesuksesan masa depan kita kedepan.

Wallahualam.


Semoga bermanfaat,

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag.29) "Menjemput Malam 1000 Bulan"



Oleh: Ki alit Pranakarya 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. 

Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. 

Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. 

Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. 

Anugerahkan padaku memandang-Mu. 

Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. 

Jangan palingkan wajah-Mu dariku. 

Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu 

wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin"


Ybia Indonesia - Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. 

Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan.

Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa.

Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. 

Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. 

Tuhan berfirman, ''Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.''

Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. 

Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. 

Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin)


Kerendahan Hati

Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh.

Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ''Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.'' Nabi yang mulia berkata, "Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya."

Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, "Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?" Ia menjawab, "Benar."

Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. "Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk," katanya.

Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, "Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat."

Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, "Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.''

Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati.

Bersujud Lah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. 

Jalaluddin Rumi bercerita. Alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.-


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag.28), "Puasa Jalan Menuju Manusia Paripurna (insan Kamil)



Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Hikmah puasa yang paling utama adalah membersihkan hati dan membentuk kejernihan pikiran, yakni secara kejiwaan membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri. 

Ybia Indonesia - Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tak ada gelar yang lebih mulia dan tingggi dari itu. Setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan  di dunia. 

Melalui puasa yang mendorong terbentuknya hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka kita punya sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu di bulan suci ramadhan.

Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang di hadapi begitu banyak. Diperlukan pikiran yang jernih untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Mulai dari masalah diri sendiri, anak, istri, saudara orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu bertaqwa, Allah akan menunjukkan jalan untuk berbagai persoalan itu. Bagi Allah tak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini. 

Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Dengan demikian kita sucikan fisik, hati, dan pikiran kita melalui pelaksanaan ibadah puasa ramadhan. Penjernihan pikiran hanya bisa dimulai dari hati. Hati yang bersih dari segala kekotoran yang menyelimuti nya.

Bersihkanlah dahulu hati kita maka kita akan dapat menemukan jalan pikiran yang jernih dan segar. Bahkan ketika sampai pada suatu masa yang sangat melelahkan, yang sangat memberatkan, maka hati yang bersih itu dapat membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tepat tak keliru sedikitpun. 

Bagaimana cara membersihkan hati? Lakukan semuanya dengan ikhlas. Ikhlas adalah memaksudkan ucapan, perbuatan, diam, bergerak, yang dirahasiakan, yang ditampakkan, hidup atau mati hanya untuk Allah semata.

Tuhan memiliki kesempurnaan, antara lain tercermin dari keutuhan dua sifat-sifat sejati di dalam dirinya, yaitu sifat-sifat maskulinitas ("The Masculine God") dan sifat-sifat femininitas ("The Feminine God"). 

Di antara 99 nama indah-Nya, yang lebih dominan ialah sifat-sifat feminitas. 

Ini mengisyaratkan bahwa Tuhan lebih dominan sebagai pengasih dan penyayang daripada pemurka dan pendendam. Seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat immanen, dekat, berserah diri, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.

Sebaliknya, seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat transenden, jauh, dominan, struggeling, dan menakutkan.

Di dalam bulan suci ramadhan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada The Masculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri(taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama. 

Bahkan Syekh Muhyiddin ibn 'Arabi pernah mengatakan kepada muridnya: "Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi 'perempuan'. Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat al-jalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat al-jamal Tuhan. 

Dalam bulan suci Ramadhan, yang juga disebut bulan cinta (syahr al-hubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God.Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugerahkan bulan Ramadhan (secara harfiyah: penghancur, penghangus). 

Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan(power struggle), maka dalam bulan Ramadhan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing). 

Bulan suci  Ramadhan ibarat oase di tengah padang pasir, memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu. Bulan Ramadhan adalah manifestasi dari rahimniyah dan rahimiyah Tuhan.

Puasa juga tentu bukan sekadar menahan lapar, dahaga dan hubungan seks. Yang teramat penting puasa sebagai latihan spiritual untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dalam hadis takhallaqu bi akhlaqillah "(berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah Swt). 

Al Qur'an menyebutkan (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan):

قُلۡ اَغَيۡرَ اللّٰهِ اَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُ‌ؕ قُلۡ اِنِّىۡۤ اُمِرۡتُ اَنۡ اَكُوۡنَ اَوَّلَ مَنۡ اَسۡلَمَ‌ وَلَا تَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَ

Qul aghairal laahi attakhizu waliyyan faatiris samaawaati wal ardi wa Huwa yut'imu wa laa yut'am; qul inniii umirtu an akuuna awwala man salama wa laa takuunanna minal mushrikiin

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?" Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi orang yang pertama berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik."

(QS. Al-An’am Ayat 14)

Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh. 

Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas'insan kamil' (manusia paripurna/sempurna), suatu kualitas spiritual yang paling diidealkan oleh umat Islam.

Insan Kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh pribadi Rasulullah SAW. Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-Asma al-Husna). 

Ibarat seuntai tasbih nama-nama Indah itu berjumlah 99, dimulai dari lafzh al-jallah (Allah), dengan simbol angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Lathif (Maha Lembut), al-Jamal (Maha Indah), dan seterusnya sampai ke angka 99, ash-Shabur (Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-Jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. 

Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah lingkaran, yang bermula dan berakhir pada satu titik, yang diistilahkan oleh Al Qur'an: inna lilAllahi wa inna ilaihi raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Kesempurnaan adalah sebuah keniscayaan yang sejatinya hanya ada dalam zat Tuhan, Allah SWT. Sempurna, dalam perspektif ketuhanan, memang tak terbatas.

Kamil (baca: sempurna) hanya dianugerahkan-Nya pada insan yang pantas menerima sebab keluhuran budi pekertinya, yakni baginda Rasulullah SAW:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

(QS. Al-Ahzab Ayat 21)

Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna. 

Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna jika ia memiliki kriteria tertentu. 

Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia-manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi ‘luar biasa’ di hadapan Tuhannya. Mereka terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kiyai, atau orang biasa sekalipun, pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya insan yang patut diteladani. 

Tiada manusia yang sempurna. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Betul bahwa tiada manusia yang sempurna. Kita dianugerahi kekurangan agar dapat saling melengkapi antar manusia lainnya. Namun hakikatnya, semua manusia mampu berusaha untuk tidak menempatkan dunia sebagai tujuan, namun sebagai pemenuhan totalitas amalan ukhrawi yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. 

Menyisihkan kepentingan dunia bukan berarti mengabaikan apalagi ‘meninggalkan’ kewajiban duniawi. 

Namun lebih dari itu, meneladani potret insan kamil ialah dengan menyeimbangkan kehidupan dunia, tempat kita beramal shaleh sebagai bekal akhirat.

Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain. 

Idealnya orang yang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwwah basyariyyah, ukhuwah islamiyyah, dan ukhuwah makhluqiyyah, ini merupakan perwujudan prilaku insan kamil dan inilah konsep tauhid yang sesungguhnya.

Wallahu A'lam Bishawab.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Penggagas / Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag. 27) "Lailatul Qadar, Malam Revolusi Spiritual"



Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ybia Indonesia - Orang yang mendapatkan Lailatul-qadr akan merasakan kedamaian batin, kebahagiaan yang sempurna, puncak rasa syukur, dari sini #kaP dapat menyimpulkan bahwa: Lailatul Qadar adalah Malam Revolusi Spiritual.


إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

 innā anzalnāhu fī lailatil-qadr


Artinya: 1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.


وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr


2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?


لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr


3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.


تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.


سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr


5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

(QS. Al Qadar: Ayat 1-5).

Malam Lailatul Qadar sebenarnya menurut pandangan #kaP bersifat individu, itu adalah kulminasi dari ibadahnya yang dilakukan selama bulan Ramadhan.

Pahala ibadah puasa sudah tidak pake hitung-hitungan, karena pahalanya adalah sudah menjadi urusan Allah swt dengan si individu itu sendiri. 

Jadi langsung dari sisi Allah swt itu sendiri. Sebagaimana di ungkapkan dalam Hadits :

“Setiap amalan anak Adam akan dilipat gandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, “Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku.” (HR. Muslim)

Jadi bisa dikatakan, bahwa bulan puasa adalah bulan untuk meningkatkan spiritualitas kita dalam bermakrifat Taqoruban ilallah atau berjalan menuju kepada Allah swt. 

Dan puncak pencapaian keruhanian tersebut adalah terjadi di sebuah malam di saat si hamba memperoleh kemulian dari Allah swt sehingga malam itu disebut sebagai Malam kemuliaan atau malam Lailatul Qodar, yang lebih mulia dari seribu bulan. Atau malam turunnya anugerah Allah SWT kepada si hamba. Karena di malam itu yang terjadi adalah sebuah proses peningkatan ruhani dari si hamba yang sudah bukan lagi Evolusi spiritual tetapi sudah merupakan REVOLUSI SPIRITUAL YANG DAHSYAT, sehingga nilainya setara dengan sebuah meditasi ataupun perjalanan ruhani yang dilakukan selama seribu bulan. 

Orang yang mendapatkan Lailatul-qadr akan merasakan kedamaian batin, kebahagiaan yang sempurna, puncak rasa syukur, dari sini #kaP dapat menyimpulkan bahwa: Lailatul Qadar adalah Malam Revolusi Spiritual.

Malam Revolusi Spiritual dapat dimaknai juga, bahwa peraih Lailatul-qadr akan merasakan puncak penghambaan diri, dan itulah kenikmatan hidup yang tak mungkin digambarkan dengan kata dan kalimat dalam bahasa apapun. 

Tubuh dan segalanya menjadi nihil. Yang ada semata syukur dan tasbih atas ke-Mutlak-an Allah swt. Karunia Lailatul-qadr adalah pengalaman spiritual yang bersifat sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Maka jangan percaya kalau ada orang mengklaim telah mendapatkan lailatul-qadr. Sebab pengakuan dan klaim itu justru bertentangan dengan karakter lailatul-qadr: tawadhu', rendah hati dan keikhlasan.

Maka, bila kita ditakdirkan meraihnya, nikmati saja. Dan setiap Muslim, siapapun dia, memiliki peluang meraih karunia Lailatul-qadr di bulan Ramadhan.

Lailatul Qadar, adalah mereka yang digambarkan dalam surat al Qadar, hari lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan malaikat Jibril turun dan dengan izin Allah, berdoa untuk keselamatan seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar. 

Siapakah orang yang beruntung memperoleh lailatul qadar? Mereka yang mencapai pengetahuan, kesadaran, pengertian, dan kesatuan hakiki bersama rahasia rahasia Allah. 

Mereka ini sudah tidak terpisahkan lagi oleh perasaan dan hijab, antara dirinya dan Allah. Mereka ini sudah tidak bertanya lagi bagaimana dan di mana Allah Azza Wa Jalla. Pencapaian pada puncak inilah yang merupakan kenikmatan hakiki.

Al Qur’an pada malam lailatul qadar, adalah pengetahuan yang membenarkan kebenaran. Sedangkan, lailatul qadar, adalah puncak kesadaran reflektif manusia membangun ketuhanan dan kemanusiaan seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Inilah esensi dari Revolusi Spiritual.

Lailatul qadar dimaknai sebagai Malam Revolusi Spiritual, yaitu satu titik di mana jiwa-jiwa orang beriman berada dalam keheningan, kekhusu’an, kejernihan sehingga menyatu dengan kehendak Allah (wihdatul iradah) dalam tindakan-tindakan mereka.

Ramadhan dapat kita maknai juga sebagai sebuah proses pengembalian (reorientasi) jiwa manusia agar kembali ke fitrahnya, yakni berada dalam keimanaan dan ketakwaan kepada Allah.

Sebagai sebuah proses, maka semakin mendekati akhir perjalanan, tentu setiap orang yang mengikuti proses dengan baik akan semakin dekat dengan pencapaian proses.

Demikian juga dengan orang yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan, semakin mendekati akhir Ramadhan, tentunya jika ia menjalankannya dengan sepenuh jiwa, ia pun akan semakin mendekati fitrah kemanusiaannya, yakni menjadi hamba yang beriman sekaligus khalifah di dunia yang amanah.

Ketika manusia berada dalam kondisi hening jiwa, ia akan berada dalam fitrah kemanusiaannya dan menyatu dengan kehendak Ilahi (wihdatul iradah), maka setiap tindakan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang dilakukan akan membawa kemanfaatan yang akan selalu diingat dan menginspirasi orang lain untuk meneladaninya. Sehingga tindakan orang tersebut akan terus hidup sepanjang waktu, bahkan meskipun ia sudah meninggal dunia.

"Ya Allah, ya Rabbi, jadikanlah kami sebagai salah satu di antara orang-orang yang Engkau perkenankan meraih karunia lailatul-qadr-Mu di bulan Ramadhan ini...'

Memburu Lailatul-qadr mungkin bukan bahasa yang tepat. Tetapi yang lebih tepat adalah mari memantaskan diri untuk dijemput lailatul-qadr. 

Dan bila Anda kebenaran dikaruniai kesempatan meraihnya, jangan lupa berdoa kebaikan untukku...!


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Penggagas / Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusanatara).

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag. 26) "Puasa dan Qanaah"



Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya (QANAAH). 

Ybia Indonesia - Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Qanaah berasal dari bahasa arab yakni dari kata qani’a-qana’atan.

Pengertian Qanaah menurut bahasa artinya merasa cukup atau rela.

Pengertian Qanaah menurut istilah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Dasar hukum Qanaah disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"

Hadist:

“Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda : 

Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan itu yang sebenarnya ialah kekayaan hati.”

✓ Contoh Sikap Qanaah:

- Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

- Tidak pernah merasa iri ataupun dengki dengan keberhasilan orang lain.

Giat bekerja agar memperoleh hasil yang terbaik.

- Hidup sederhana menyesuaikan diri dengan kemampuan, tidak rakus dan tidak tamak.

Tidak mudah kecewa maupun putus asa jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan.

- Selalu yakin bahwa pemberian Allah SWT merupakan sebuah anugerah.


✓ Manfaat Qanaah:

- Memiliki jiwa yang tenang.

- Terhindar dari sikap iri, dengki, dan tamak.

Memiliki hati yang sabar.

- Selalu puas atas pemberian Allah SWT.

- Terhindar dari rasa khawatir dan resah.

- Terjalin hubungan yang harmonis dalam lingkungan masyarakat.

MANUSIA salah satu makhluk Allah SWT yang memiliki nafsu ganda, yaitu nafsu baik dan jahat. Sifat yang muncul pada diri manusia tergantung nafsu mana yang dapat memenangi pertarungan dalam diri manusia itu sendiri.

Salah satu nafsu jahat manusia yang sering muncul adalah rakus dan tamak. Manusia memiliki sifat tak pernah puas terhadap apa yang telah ia capai. 

Rasulullah saw bersabda :

"Kalau anak Adam (manusia) telah mempunyai harta sepenuh dua lembah, niscaya dia masih mencari lembah yang ketiga. Tiada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah, Allah menerima taubat sesiapa yang bertaubat." (HR Muslim).

Manusia sifatnya rakus, maunya tambah terus dan tak puas terhadap apa yang telah dicapainya. Makanya dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak cukup dengan satu kendaraan. Sudah memiliki satu kendaraan maunya tambah lagi sehingga macet di mana-mana.

Manusia selalu takut akan kekurangan dan takut hidupnya menderita. Maka, manusia senang menumpuk-numpuk harta sampai lalai kewajiban terhadap Tuhannya.

(QS Al-Takatsur: ayat 1):

اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ‏

Al haaku mut takathur

Artinya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu"

Memang tak mudah mengendalikan nafsu serakah manusia karena memang watak ini sudah melekat erat pada diri manusia. Demi tuntutan nafsunya, banyak orang mengabaikan bagaimana cara mendapatkan hartanya, halal haram tak lagi jadi pertimbangan. 

Karena itu, korupsi merajalela, penipuan di mana-mana, pencurian, penjambretan terjadi di mana-mana.

Manusia demi kepuasan nafsunya tidak lagi takut kepada hisab di hari akhirat nanti. Padahal, semua perbuatan manusia dalam perburuannya untuk memuaskan nafsunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Allah swt berfirman, dalam Surat Al-Ghasyiyah, Ayat 25-26 :

إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ

Inna ilainā iyābahum

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم

ṡumma inna 'alainā ḥisābahum


Artinya: 

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (QS. Al-Ghasyiyah Ayat 25-26).

Dengan datangnya bulan Ramadhan, manusia (khususnya umat muslim) diperintahkan berpuasa. Puasa yang secara bahasa diartikan dengan menahan (al-imsak) dan secara terminologi menjauhkan diri sepenuhnya dari makanan, minuman, hubungan intim, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai fajar sampai matahari terbenam, merupakan ibadah yang bertujuan mengendalikan nafsu jahat manusia.

Dengan puasa, manusia disuruh belajar menahan "suatu perbuatan" yang selama ini menjadi kegemaran, bahkan kebutuhan dasar manusia, yakni makan, minum, hubungan seksual, dan lain- lain.

Puasa melatih manusia tidak serakah. Puasa melatih manusia mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan perbuatan yang pada hari-hari tidak berpuasa diperbolehkan. Karena itu, puasa akan menghasilkan manusia-manusia yang terlatih nafsunya dalam menghadapi kemewahan dunia, yaitu insan bertakwa (QS Al-Baqarah: 183):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Puasa melatih manusia untuk bersabar (syahr al-shabr) dalam menghadapi godaan megahnya dunia. Betapapun nafsu sangat menginginkannya, jikalau perbuatan itu maksiat, atau mencapainya harus dengan kemaksiatan, manusia yang telah terlatih dengan puasa akan mampu menahannya.

Berbeda dengan orang yang tak terlatih dengan puasa, atau puasa tapi puasanya tak benar, nafsunya tidak memiliki kendali sehingga ia tak mampu menahan godaan-godaan kemaksiatan yang ada di depannya.

Karena itu, Rasulullah saw menyebut puasa itu sebagai perisai (al-shaumu junnatun). Sebab, dengan puasa, manusia mampu menangkis berbagai hal yang akan menjerumuskan dalam keserakahan.

Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah swt kepadanya (qanaah). Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Karena itu, orang yang berpuasa akan menyadari bahwa nikmat Allah swt yang diberikan kepadanya masih jauh lebih baik dibanding yang diberikan kepada orang lain. Jika orang selalu melihat nasib orang yang lebih baik, ia tidak pernah bersyukur dan tak pernah puas terhadap apa yang telah ia perolehnya.

Di sinilah puasa mendidik manusia untuk selalu memiliki kesadaran bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan harta atau glamoritasnya dunia. Tapi, kekayaan letaknya dalam hati. 

Sejauh mana ia dapat mensyukuri nikmat Ilahi Rabbi, maka di situlah ia menemukan kecukupan hidupnya.

Rasulullah saw telah mengingatkan kita dalam sabdanya, "Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun, kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR Bukhari dan Muslim).

Puasa mendidik manusia agar menjadi orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian dari Allah Swt. (QANAAH).


Semoga bermanfaat, Salam Silaturahmi...-

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Penggagas / Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag. 25) "Pencerahan Spiritual Malam 1000 Bulan"




Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Puncak spiritual bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Kita selama menjalani ibadah puasa paling tidak sudah berbuat sesuatu hingga bisa hadir sebagai seorang tamu di malam Lailatul Qadar

Ybia Indonesia - Berpuasa, mengekang hawa nafsu, berzikir kepada Allah, memperbanyak doa, dan memperbanyak membaca al-Quran, semua ini merupakan persiapan sehingga pada malam Lailatul Qadar kita bisa menghadirinya sebagai seorang tamu dalam jamuan rahmat Allah. 

Selama perjamuan itu, kita harus bertaubat, bertekad untuk kembali, dan beristighfar, kita harus memohon rahmat dari Allah, meminta kebahagiaan untuk diri kita, untuk saudara-saudara seiman, untuk kaum Muslim, (dan hal yang lebih penting) kita harus memohon perbaikan diri.”

Menghidupkan malam Lailatul Qadar akan bermakna ketika manusia benar-benar tersadar di malam itu, yakni memiliki kehidupan spiritual dengan cara mengingat Allah Swt. Manusia dianggap hidup ketika hati mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi. 

Malam Lailatul Qadar merupakan sebuah kesempatan untuk mengingat Allah sepanjang malam, menyatakan taubat, dan memohon ampunan.

Lailatul-qadar adalah satu momen yang sangat dinantikan kedatangannya oleh umat Islam pada setiap bulan Ramadan. 

Secara harfiah, Lailatul-qadar berarti malam penentuan atau malam kepastian. 

Jika kata qadr  dipahami sebagai sama asalnya  dengan kata takdir. Akan tetapi, ada juga yang mengartikan lailatul-qadar dengan malam kemaha-kuasaan, yakni kemaha-kuasaan Allah.

Jika kata qadr dipahami sebagai sama asalnya dengan al-Qadir, yang artinya Yang Mahakuasa, yakni salah satu sifat Allah. Alquran juga menyebutnya dengan lailatun-mubaraqah,  malam penuh berkah, penuh hikmah.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

(innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn)

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan".

Surat Ad Dukhan, ayat 3


Secara literal Lailatul Qadr (LQ) berasal dari dua kata, yaitu lailah dan qadr.  

Lailah dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang (nahar).

Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, kesepian, keheningan, kesyahduan, kerinduan, dan kedamaian.

Ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi, dan kedalaman cinta (mahabbah).

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan keliru, yang kemudian amat disesalinya. 

Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. 

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas.

Berangkat dari kesadaran itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. 

Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. 

Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. 

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang.

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. 

Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. 

Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan..

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. 

Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). 

Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Termasuk didalamnya memiliki rasa empati terhadap sesama.

Jika kesadaran Spiritual ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

 (Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr).


Lailatul qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. 

Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar.

Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. 

Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak ternilai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini.

Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. 

Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. 

Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama. Ataupun dengan agama tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga.

Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang.

Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Membicarakan lailatul qadar dalam diskursus metafisika justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosila kemasyarakatn kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. 

Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.

Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. 

Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berrdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah berkholwat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. 

Hal ini eperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab, malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. 

Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Bercermin dari pengalaman nabi Saw tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti lalilatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil keamasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan budaya kehidupan kita yang lebih baik. 

Lebih dari itu Lailatul qadar adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. 

Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat, sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaikai dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani.

Manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki prilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan ini, menuju indifidu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Semoga kita semua menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


Ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag.24), "Puasa Sarana untuk Evaluasi Diri"

 


Oleh: Ki alit Pranakarya 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Di dalam tulisan #kaP ini tak perlu membicarakan tentang kekacauan yang ada di sekitar atau mengritisi suatu pihak. Apa yang tertuang dalam tulisan ini semata-mata bertujuan untuk mengingatkan kembali dan memberi tahu kondisi jiwa atau keimanan seseorang serta mengajak untuk saling berintrospeksi. 

Ybia Indonesia - Dalam bulan Ramadhan ini cukup dengan mengevaluasi apa yang ada dalam diri pribadi masing-masing mengenai keadaan jiwa/rohani dalam segi kualitas keimanan dan ketakwaan selama ini. Salah satunya dengan memperbaiki kondisi spiritual.

Jika membicarakan tentang spiritual, tak pernah lepas dari beberapa aspek kehidupan baik nyata maupun tak nyata. 

Jika ada yang menyatakan bahwa keberadaan makhluk hidup di dunia ini muncul dengan sendirinya kemudian dapat dibalas dengan pertanyaan “Bagaimana bumi dan alam semesta ini lahir? Siapa yang melahirkan? Bukankah sebelum angka 1 diawali dengan angka 0?”.

Segala sesuatu yang eksis atau muncul di dunia ini pasti ada yang memulai dan ada yang memicunya untuk muncul dalam proses/kronologi yang berurutan. 

Sebelum menyebut dengan lisan, untuk menjawab pertanyaan di atas idealnya seorang hamba Allah (muslim) perlu mengenal-Nya terlebih dahulu melalui qolbu (hati) atau batin dengan tujuan meyakini/mengimani dan merasakan keberadaan penciptanya. 

Setelah merasakan dan meyakini keberadaan-Nya kemudian dapat diteruskan melalui lisan atau ucapan dengan jawaban. Dia adalah Allah S.W.T. Pencipta Alam Semesta dan keberadaan manusia.

Dalam diri manusia pada dasarnya terdiri dari jasmani dan rohani. Allah menciptakan manusia meliputi aspek fisik dan jiwa. Fisik manusia terdiri dari tulang/kerangka, darah, otot, syaraf, dan lain-lain, yang mana merupakan sebagai perwujudan keberadaan jiwa atau pendukung pergerakan jiwa.

Sedangkan hakikat jiwa atau yang biasa disebut dengan Roh Sejati merupakan komponen utama dari tubuh halus atau rohani yang merupakan bagian kecil dari prinsip Allah Yang Maha Agung dengan sifat kebenaran sejati, kesadaran yang sempurna, dan kebahagiaan sejati. 

Jiwa merupakan komponen utama dalam mengendalikan segala bentuk perilaku selama hidup di dunia dan fisik adalah bentuk pengekspresiannya. Dalam jiwa manusia terdapat hasrat dalam rangka mewujudkan berbagai bentuk keinginan yang biasa disebut dengan nafsu.

Allah S.W.T. sebagai Sang Pencipta segala eksistensi yang ada di dunia termasuk apa yang ada dalam diri manusia. Manusia memiliki berbagai macam karakter/watak dan sifat. Hal tersebut muncul karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, bisa bersumber dari gen (keturunan) atau bisa dari lingkungan hidupnya. 

Ada yang mengatakan bahwa segala tindakan atau bentuk perilaku manusia semata mata karena watak yang tak bisa diubah. Seperti halnya seorang yang berwatak pemarah, agresif, pendiam, pendendam, biasanya banyak yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pengaruh gen atau bawaan dari sifat orang tuanya (hal ini bisa dipelajari dalam dunia biologi). 

Memang benar demikian adanya. Namun tidak semuanya berujung pada dampak yang negatif. Hal ini biasanya dapat memicu sebuah konflik jika masing-masing saling bertentangan dengan wataknya. Semua itu kembali pada pengendalian diri dan kualitas spiritualnya.

Karakter hanyalah sebagai gambaran/ciri khas pribadi seseorang. Namun dalam sisi spiritual tetap sama. Hakikatnya adalah sama sama bertuhan. Semua pasti ingin hidup dengan damai dan tak menginginkan adanya suatu masalah. 

Suatu masalah atau kekacauan semata mata karena ulah dari manusia itu sendiri. Orang sakit juga ulah dari manusia itu sendiri. Allah memberi sehat atau sakit artinya Allah telah memberi pilihan, manusia yang memilihnya, bukan Allah kejam memberi sakit. 

Tak benar apa yang dikatakan Allah memberi suatu masalah karena Allah benci dengan hamba-Nya yang selalu berbuat maksiat, penuh dengan dosa. Semua yang terjadi pada individu akan selalu terselip hikmah, juga merupakan tanda Allah masih peduli dengan hamba-Nya. 

Apa yang dilakukan manusia akan secara otomatis berdampak pada hasil yang telah diperbuat. Entah dalam jangka waktu singkat atau lama.

Allah menata/mengatur segala kehidupan manusia dalam bentuk aturan, larangan, petunjuk, dan inspirasi hidup (biasanya melalui sebuah sejarah) melalui Al-Qur’an dan Hadist. Segala firman-Nya tertera di dalam kitab itu. 

Semua diatur sedemikian sempurnanya. Terkadang manusia masih bingung dan salah mengimplementasikannya, debat sana sini, saling menyalahkan, berlomba-lomba membenarkan dirinya hingga lupa bertuhan. Hal ini karena hanya berpedoman pada tulisan/teori-teori belaka tanpa adanya pemahaman. Biasanya sekedar ikut-ikutan dengan tujuan agar sama seperti yang lain atau ingin diakui orang lain. Golongan seperti ini biasanya lebih suka berdebat dari pada bermusyawarah.

Secara tidak sadar justru hal tersebut akan memicu adanya pengakuan untuk menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan menang, mempunyai ilmu yang cukup tinggi atau merasa puas telah mematahkan pendapat lawan. 

Maka dari itu menjadi seorang penasihat, Ustadz/Ustadzah, atau seorang Ulama sekalipun sebenarnya berat alias tidak gampang. Biasanya akan terjerumus dalam sebuah pengakuan-pengakuan baik secara sadar maupun tak sadar. 

Hal ini justru akan membuat rendah di mata Allah walau secara wujud sempurna di mata orang lain, nilai ibadah menjadi luntur dan biasanya bersifat penuh perhitungan. 

Sebaik-baiknya orang berilmu adalah mereka yang mau membagikan ilmunya yang bermanfaat. Sebaik-baiknya orang berilmu adalah mereka yang menyempurnakan keimanannya dan mengaplikasikan segala bentuk ucapannya.

Apa kaitannya dengan puasa? Nah, dalam rangka meningkatkan kualitas spiritual, perlu membendung segala nafsu yang dapat menjadikan batilnya nilai ibadah. 

Seperti yang dibicarakan sebelumnya bahwa perlu menghindari adanya pengakuan-pengakuan dengan merasa diri paling benar apalagi dalam membicarakan masalah agama. Hal tersebut dipicu oleh nafsu-nafsu semata. Secara tidak sadar perlahan akan membangkitkan ego dalam diri. Dengan cara membendung nafsu bertujuan untuk benar-benar kembali dan fokus ke jalan Allah.

Salah satu cara pengendalian nafsu adalah dengan berpuasa. Hakikat berpuasa adalah mematikan nafsu-nafsu yang sifatnya merugi dan mengaktifkan nafsu-nafsu positif atau bisa disebut dengan kendali nafsu. 

Allah menciptakan waktu yang paling berharga untuk umat Islam, penuh berkah, dan rahmat untuk kembali membersihkan jiwa melalui bulan suci Ramadhan. Pada bulan suci ini ada banyak kesempatan atau celah manusia untuk memperbaiki diri.

Tak hanya sekedar menahan lapar dan haus, perlu kiranya menahan segala bentuk hal yang memicu timbulnya dosa, meningkatkan keimanan dengan memperbanyak rasa perihatin diri, jika dalam bahasa jawa adalah “rumongso”. Mengingat segala keburukan diri yang pernah dilakukan dan perbanyak beristigfar. 

Jika sampai hati menangis dan kapok, pertanda istigfar telah sampai. Tak hanya sekedar istigfar secara lisan, namun juga mampu membuktikan perubahan kualitas spiritual, membuktikan segala bentuk perubahan perilaku dalam rangka kembali ke jalan Allah. Jika bisa merasakan kedamaian hati, pertanda ampunan Allah telah datang. 

Namun jika masih merasakan gundah, bingung dan susah walau kita sudah istigfar 1000 kali pun, itu bisa jadi yang namanya proses. Jika mampu melalui proses tersebut, akan ada penghargaan tersendiri dari Allah yakni berupa pengampunan bahkan pahala. Itulah bentuk ampunan yang sebenarnya. Tak hanya mengucap melalui lisan namun ada niat dan usaha untuk berubah.

Dalam kesempatan di bulan suci ini ada beberapa cara pembersihan diri, dengan memperbanyak melakukan ibadah Mahdhah, hubungan langsung manusia dengan Allah (habluminallah). Seperti tertib salat 5 waktu, perbanyak dzikir, melaksanakan salat sunnah(tarawih), perbanyak istigfar, membaca dan memahami isi Al-Qur’an, iktikaf, dan kesempatan-kesempatan ibadah lainnya.

Sedangkan juga belajar membiasakan diri melakukan ibadah Ghairu Mahdah, yakni hubungan baik dengan sesama manusia (habluminannas). Seperti saling berjemaah, artinya bersama-sama dan kompak dalam rangka berjalan ke jalan Allah (saling membantu, bukan saling menjatuhkan), perbanyak musyawarah hindari perdebatan, menjalin tali sillaturrahmi atau menjaga hubungan baik antar sesama umat muslim maupun non muslim, menjaga sikap dan lisan baik secara lahir maupun batin, menghindar dari sifat ego, membudayakan tolong menolong tanpa memandang golongan antar manusia, sehatkan pola pikir dengan memelihara pikiran positif dan tidak mengedepankan emosi yang sifatnya merugi. 

Itu semua merupakan bagian dari proses pembersihan diri selain menahan lapar dan haus. Karena tujuan utama berpuasa adalah dalam rangka penyucian diri dan mengharap rida Allah.

Alangkah baiknya jika tak hanya dilakukan pada bulan puasa. Karena pembersihan diri semata-mata dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan Allah dan penggalian jati diri kapan pun dan di mana pun. Tak lupa juga dengan menjaga hubungan baik antar sesama. Jika bisa diaplikasikan dengan baik akan berdampak pada kedamaian. Sedangkan kedamaian adalah simbol dari surga. 

Makanya mengapa surga hanya diduduki oleh golongan orang-orang yang damai. Bedanya di Bulan Ramadhan adalah Ramadhan merupakan bulan yang penuh kesempatan untuk memperbaiki diri secara aspek spiritual.

Sebenarnya dalam kehidupan diri manusia tak hanya pada aspek spiritual melainkan ada beberapa aspek, yakni intelegensi (kecerdasan), emosional, fisikal (tubuh), dan sosial. 

Namun yang paling berperan penting di sini adalah aspek yang berhubungan dengan Ketuhanan, yakni aspek spiritual yang kemudian diseimbangkan dengan aspek-aspek lainnya. Banyak orang berilmu dan pandai bicara namun lupa dengan jati dirinya. Semoga kita bukan merupakan golongan tersebut.

Semoga kita dapat melalui bulan suci yang penuh berkah ini dengan lancar dan memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh keimanan, kekhusyukan, dan keikhlasan. Semoga segala amal ibadah dapat diterima Allah S.W.T. dan membawa kesan yang baik ke depannya dan dapat bertemu bulan Ramadhan tahun depan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan!

Salam Silaturahmi.....

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Penggagas / Ketua Foundation Umum FSSN (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H / 2024 M (Bag.23), "Puncak Pengalaman Spiritual"

 


Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - Lailatul Qadar merupakan malam lebih baik dari seribu bulan, malam mencapai puncak spiritualitas atau malam membentuk sikap reflektif terhadap makna hakiki teks kewahyuan yang disucikan Allah. 

Dalam sebuah hadits dapat disarikan, bahwa Lailatul Qadar pada 10 hari terakhir atau 7 hari sisanya (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Salah satu momen yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah adanya Lailatul Qadar. Disebutkan dalam surat al-Qadr, bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa melakukan kebaikan pada malam ini, diyakini nilainya lebih besar daripada melakukannya selama seribu bulan:


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

innā anzalnāhu fī lailatil-qadr


وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr


لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr


تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr


Artinya:

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.

2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

3. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

4. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

5. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

(QS. Al-Qadr, ayat 1-5)

Sayangnya, Allah dan Rasul tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya momen akbar ini. 

Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. 

Dalam satu hadits Rasul pernah menganjurkan untuk mengintip Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. .

Tetapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. Di sisi lain, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar . 

Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar.

 Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar  pada dasarnya adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. 

Masing-masing orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Pengalaman spiritual yang dirasakan satu sama lain juga berbeda-beda. 

Jika kemudian Rasul menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, itu berdasarkan pengalaman pribadi Rasul atau informasi dari beberapa sahabat. 

Demikian halnya, dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang. Pada malam itu cahaya ilahi turun menghampiri dan menyatu dengan jiwa-jiwa hamba. 

Momen inilah yang disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. 

Seribu bulan bukanlah hitungan angka, melainkan simbol untuk menjelaskan karunia Allah yang tak terhingga. 

Kata seribu di sana lebih bersifat kualitatif yang menggambarkan tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya. 

Artinya, momen ketika jiwa hamba menyatu dengan cahaya Tuhannya adalah momen yang tak terperi sekaligus karunia yang tak terhingga. 

Menyatu dengan cahaya Allah yang tak terbatas, tentu memberikan pengalaman yang tak terbatas pula. 

Kebersatuan cahaya ilahi dan jiwa pada saat Lailatul Qadar itulah yang selanjutnya diharapkan dapat mengejawantah dalam kepribadian dan perilaku keseharian. 

Manusia yang dalam jiwanya bersemayam cahaya ilahi, pasti tidak akan menampakkan perilaku kecuali sesuai dengan nilai-nilai ilahi. 

Ringkasnya, Lailatul Qadar adalah sebuah proses spiritual, dan oleh karenanya tidak akan cukup digambarkan dengan kata-kata. 

Dan setiap proses spiritual yang dialami manusia akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan kepribadiannya. 

Maka, jika ibadah di malam-malam Ramadhan tidak mampu merubah perilaku kita, berarti Lailatul Qadar tidak pernah benar-benar mendatangi kita. 

Wallahu A’lam 

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1445 H/2024 M (Bag. 22) "Puasa Sarana Latihan Meraih Wushul"

 


Oleh: Ki alit Pranakarya 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Seseorang dianggap wushul jika telah menempuh perjalanan panjang untuk proses penjernihan hati (tazkiah). 

Ybia Indonesia - Rajin melakukan PUASA yang dibarengi dengan senantiasa berzikir kepada Allah, adalah cara yang tepat untuk proses Penjernihan hati (Tazkiah)"

Usaha untuk mencapai kejernihan hati melalui PUASA dan Dzikurllah tersebut, membuatnya bersih dari kabut-kabut yang menghalangi untuk sampai pada Allah. Kabut-kabut syahwat yang bersarang di hatinya telah sirna oleh rasa yang begitu dahsyat sebagai proses penjernihan hati tadi.

Wushul adalah sampai. Wushul ilaallah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan orang yang sudah wushul tersebut telah benar-benar yakin akan adanya Allah. 

Hal ini berbeda dengan penglihatan mata secara dhahir, Wushul ini merupakan pengalaman kerohanian bukan secara nyata seperti halnya Nabi Musa yang secara jasmani takkan mampu  melihat Alllah, tetapi pingsannya Nabi Musa adalah tanda bahwa ruhaninya melihat Allah. 

Terkait Wushul Setiap insan mempunyai potensi untuk wushul kepada Allah sesuai yang dikendakiNya, hal itu bisa dilalui melalui rajin berpuasa dan berzikir, dan tentunya tak kalah pentingnya melalui bimbingan seorang guru, berthariqot dan lain-lain.

Allah merupakan Pencipta (khalik) dan manusia adalah makhluk. Manusia bisa tersambung dengan Allah ketika ia telah mengenal-Nya, bahkan lebih dari mengenal dirinya sendiri. Inilah yang dinamakan proses wushul (bersambung dengan Allah). 

Wushul seorang hamba kondisi di mana hamba tersebut mengenal Allah SWT, bukan bersambungnya dua dzat yaitu khalik dan makhluk.

 “Wushul (bersambung dengan Allah) itu bukan bersambungnya dua dzat, tetapi kita mengenal-Nya,” 

Dalam kondisi tersebut, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada, selain Allah SWT. Sebab, menurutnya, mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, dia akan tersambung dengan yang lainnya. 

“Begitu kita raih wushul segalanya tiada, hanya Dia yang Ada. Mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, Allah akan sambung dengan sesuatu,” 

Mendekat kepada Allah (taqarrub) bukan imajinasi dekat jarak dan waktu. Jika pemahamannya seperti itu, maka manusia akan gagal paham dengan taqarrub. “Kedekatan (alqurb) adalah kesadaran penuh bahwa kapan, dimana pun dan dalam situasi apa pun, Allah lebih dekat dibanding dirimu sendiri.

IBNU Athaillah mengatakan, "Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain hanya derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya.

Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai kemaqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut)."

Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan 'Tidak mampu' yaitu, manakala muncul setelah ia fana secara hakiki, bukan 'tak mampu' secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang 'arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidak berdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.

Maka bisa ditampakkan, bahwa:

Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.

Orang bodoh selalu berkhayal, orang arif selalu meraih kefahaman.

Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.

Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan rohani maknawinya.

Seseorang dalam perjalanan rohaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman rohaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.

Banyak para penempuh bangga dengan pengalaman rohaninya, lalu ia mandeg dalam kepuasan dirinya, dan ketakjubannya.

Banyak para penempuh yang mengungkapkan kedalaman batinnya, lalu ia kehilangan keikhlasannya.

Banyak para penempuh yang gembira dengan capaian hakikatnya, padahal ia baru tahap proses awal perjalanannya.

Karena itu, benarlah ungkapan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs, "Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacat mereka.

Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:

- Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh

- Mencari ilmu sesuai kebutuhan.

- Melanggengkan diri dalam keadaan suci.

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah

Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib.

- Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya.

- Melakukan sholat malam dan Sholat witir.

- Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis

- Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid (pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama).

- Puasa di hari-hari mulia

Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan.

Memperbanyak Istighfar

- Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

- Melanggengkan diri untuk membaca dzkir-dzikir yang disunnahkan di pagi hari dan sore hari.

Puasa dalam dua perspektif (Sya ri’ah dan Tarekat) masih menekankan ritual puasa sebagai kewajiban yang mesti ditaati dan ini sangat benar, sesuai dengan ketetapan Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se bagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(QS al- Baqarah [2]:183):


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn)

√ Perspektif Syari’ah sangat menekankan aspek formal puasa itu dengan kedisiplinan terhadap asas rukun dan syarat puasa. Sedikit apapun pelanggaran rukun dan syarat puasa akan berakibat fatal atau terancam batalnya puasa itu.

Di dalam kitab Fath al-Mu’in dicontohkan, jika seseorang akan memasukkan benang ke dalam jarum biasanya dibasahi dengan air liur dengan menjilat ujung benang itu, agar tegak dan gampang memasukkan ke dalam lubang jarum. 

Jika benang itu benang putih tidak mengancam batalnya puasa. Akan tetapi jika benang itu berwarna dan lunturannya bergabung dengan air liur masuk ke dalam tenggorokan maka itu mengancam batalnya puasa.

√ Dalam perspektif tarekat sudah beranjak dari level fomal dan memasuki wilayah hikmah lebih mendalam di balik puasa. 

Sesuai dengan namanya, Ramadhan, menurut bahasa berarti membakar dan menghanguskan. Salah satu puasa yang paling penting ialah puasa pada bulan Ramdhan yang sedang kita jalani saat ini.

Selain menunaikan kewajiban puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam itu, diharapkan dengan puasa ini mampu menghanguskan dosa-dosa masa lampau, mulai dosa kecil sampai dosa besar. 

Puasa Ramadhan diharapkan pula mampu membakar semangat jihad, ijtihad, mujahadah, dan semangat riyadhah, yang pada saatnya membantu kita untuk mencapai tingkat kedekatan diri dengan Allah SWT.

√ Dalam perspektif hakikat, kedua lapisan tersebut sudah dilalui. Puasa bagi komunitas ahli hakikat sudah tidak menekankan keistimewaan luar biasa, termasuk keutamaan bulan Ramadhan. Betapa tidak, karena kehidupan sehari-harinya sudah sedemikian akrab dengan puasa, dengan kata lain puasa sudah menjadi habit-nya.

Bagi mereka puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami isteri, sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu, tetapi puasa sudah lebih merupakan wacana spiritual (batiniah). Puasa bagi mereka seperti puasa sepanjang masa (daim).

Ada istilah yang sering didengar dari mereka, yaitu meskipun kita sudah berbuka tetapi tetap harus berpuasa. 

Mereka tidak ingin membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka. Artinya, secara formal sudah berbuka tetapi ia masih tetap memuasakan pikirannya untuk memikirkan sesuatu selain Allah SWT, memuasakan ingatannya untuk mengingat sesuatu selain Allah SWT, memuasakan keinginannya selain keinginan untuk taqarrub ilallah, memuasakan harapanharapannya untuk berharap selain ridha Allah SWT.

Sedetik pun ia tidak mau membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka secara fi sik. Ia merasa puasanya batal manakala berkeinginan selain keinginan tunggalnya mencapai mardhatillah.

Puasa Ramadhan bagi golongan terakhir ini tidak begitu luar biasa, karena ia merasakan sepanjang bulan adalah bagaikan Ramadhan baginya. Ia selalu menunaikan berbagai macam ibadah seperti seruan untuk melakukan berbagai macam amaliah Ramadhan. Dengan kata lain, amaliah sehariharinya sepanjang bulan bagian amaliah Ramadhan bagi orang awan.

Pada tingkatan puasa seperti ini, akan membuka jalan meraih Wushul.

Mereka tidak tertarik lagi dengan janji pahala yang berlipat ganda di dalam bulan Ramadhan, karena menjalankan puasa bukan mencari pahala, seperti orang-orang awam dan khawash. 

Ia sudah masuk kategori pengamal puasa khawashul khawash, yang tidak lagi berharap pahala atau berkah, karena satu-satunya harapan mereka hanya Allah semata.

Orang-orang yang telah Wushul menjalankan ibadah puasa bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Ia juga menjalankan puasa bukan untuk memperoleh berkah kehidupan dunia dan akhirat. 

Bagi mereka perbedaan dunia dan akhirat sudah sedemikian tipis sehingga tidak lagi terkesima dengan janji-janji orang terhadap Ramadhan. Bagi mereka ambil itu surga, ambil semuanya, mereka sudah cukup hanya memiliki dan hidup di dalam genggaman Tuhan.

Puasanya orang yang Wushul adalah para ahli hakikat, mereka sama sekali tidak pernah dirasakan sebagai suatu masalah seperti beban, lapar, dahaga, dan pembatasan fisik lainnya. 

Bagi mereka puasa, sebagaimana kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya seperti shalat dan, lebih dirasakannya sebagai sesuatu yang maha indah. 

Mereka merasa nyaman dengan berbagai kewajiban agama sehingga tidak terasa lagi puasa itu sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai kesenangan batin. 

Seperti halnya yg telah #kaP ulas diatas, puasanya orang yang ahli Hakekat akan membuatnya mercapai Wushul. 

Syarat untuk mencapai Wushul adalah pengendalian hawa Nafsu.

Seperti yang sama-sama kita ketahui diantara manfaat dari puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu.

Naiklah Ke Maqam Yang Tinggi, Robek Hawa Nafsu, melalui Puasa.

Ada tujuh tingkatan nafsu manusia, yaitu:

- Nafsu Amarah

- Nafsu Lawamah

- Nafsu Mulhimah

- Nafsu Muthmainnah

- Nafsu Radhiyah

- Nafsu Mardhiyah

- Nafsu Kaamilah

Para ulama mengatakan bahwa 7 nafsu ini adalah manifestasi dari sebuah jalan yang berada diantara manusia dengan Allah SWT. 

Terdapat 70 ribu hijab (penutup) yang menjadi penghalang untuk mencapai wushul ila-Allah (sampai kepada Allah), oleh karena itu ada 10 ribu hijab yang menutupi masing-masing nafsu.

Seorang pendaki Spiritual / Pejalan Spiritual akan terus mengalami peningkatan maqom ketika ia berpuasa dan berdzikir mengingat Allah. 

Puasa dan Dzikir berfungsi untuk merobek hijab-hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. 

Setiap nafsu memiliki sifat dan tanda-tandanya masing-masing. Melalui sifat itu seorang murid dapat mengetahui peningkatan yang terjadi pada dirinya selama berjalan menuju Allah.

Seorang pendaki Spiritual dapat dikatakan telah wushul ila-Allah ketika ia telah mencapai tahapan nafsu yang terakhir. Dampak dari wushul ila-Allah ini adalah ia akan istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, dan ia akan terus melakukan ketaatan dan menyembah Allah setiap saat tanpa henti.

TINGKATAN NAFSU:

1. NAFSU AMARAH

Nafsu inilah yg mendorong org melakukan perbuatan yang dilarang.

2. NAFSU LAWWAMAH

sudah mengerti antara kejelekqn dan kebaikan namun blm bisa melakukan kebaian malah selalu terjerumus dalam kejelekan.

3. NAFSU MULHIMMAH:

Masih berat berbuat ketaatan walaupun kadang mampu melakukannya.

4. NAFSU MUTHMA'INNAH:

Nafsu yang menjadikan seseorang tunduk pada hukum Alllah.

5. NAFSU RADHIAH:

tidak hanya sekedar tunduk namun sudah benar-benar Ridho kepada segala taqdir Allah.

6. NAFSU MARDHIYAH:

Tidak hanya sekedar Ridho pada kehendak Alloh namun lebih dari itu jiwa dan raganya hanya untul menyembah Allah.

7. NAFSU KAMILAH:

Nafsu pada tingkatan Insan Kamil manusia paripurna.

Nafsu Kamilah adalah jiwa yang telah benar-benar sempurna dan juga telah mendapatkan pancaran kebenaran dari Tuhan, serta telah mencapai tingkat makrifat.

Nafsu kamilah : nafsu yang sempurna yang diduduki para nabi, rosul dan para walinya ) sebagai pengejawantahan dari insan kamil. 

Mereka adalah teladan sejati dalam mengemban ibadaah lahir dan batin: syariah dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh gusti Allah yang maha perkasa dan penyayang untuk membentuk masyarakat yang di ridhoi-NYA. 

Nafsu yang telah mencapai kesempurnaan bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad (petunjuk) dan senantiasa berusaha untuk menyempurnakan diri kepada Allah swt. 

Orang yang memiliki Nafsu Kamilah disebut “mursyid mukammil” (orang yang menyempurnakan) atau disebut “insan kamil”. pada tingkat ini jiwa telah demikian dekat dengan Allah.

Para Sufi menganggapnya telah mencapai tajjali (terbuka, tak bertabir), baqa’ billah (bersama dengan Allah), fana fillah (hancur dalam Allah) dan dia memperoleh ilmu ladunni minallah (ilmu anugerah Allah).

Secara syariat dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang untuk membentuk akhlak masyarakat yang diridhoi oleh-Nya.

Nafsu ini selalu memotivasi diri untuk beribadah dan mendapat anugerah ilmu keyakinan.Yang memiliki nafsu ini hanya akan merasakan (kebahagiaan) hakiki bila bersama dengan Tuhannya. 

Semoga kualitas puasa kita semakin meningkat. Selamat menikmati bulan puasa.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Ki alit Pranakarya 

Penggagas / Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).