Tampilkan postingan dengan label Ramadan 1444 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadan 1444 H. Tampilkan semua postingan

Doa Hari Ke-30 Puasa Ramadhan



Ybia Indonesia - Doa Hari Ke-30 Puasa Ramadhan


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَ الْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَ يَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Allâhummaj’al shiyâmî fîhi bisysyukri wal qabûli ‘alâ mâ tardhâhur Wayardlâhurrasûlu muhkamatan furû’uhu bil ushuli bihaqqi sayyidinâ muhammadin wa âlihit Al-Thâhirîn wal hamdu lillahi rabbil’âlamin

Artinya : ”Ya Allah, terimalah puasaku di bulan ini dengan rasa syukur. Jadikanlah puasaku ini mendatangkan keridhaan-Mu dan keridhaan para Rasul-Mu. Engkau kuatkanlah furu (cabang-cabang)-nya dan ushul (pokok-pokok)-nya. Demi kebenaran junjungan kami Muhammad saw beserta keluarganya yang suci. Segala puji bagi-Mu ya Allah,Tuhan semesta alam."



Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.30), "Puasa Memperkokoh Integritas Diri"



Ybia Indonesia - Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.30), "Puasa Memperkokoh Integritas Diri"


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد

Hakikat ibadah puasa sesungguhnya adalah berkaitan dengan integritas individu dalam melakoni kehidupan sosialnya. 

Rahasia ibadah puasa senantiasa mengajarkan tentang makna kejujuran, kebenaran, keberanian, dan kesediaan menegakkan keadilan. 

Prosesi ibadah puasa adalah perwujudan integritas ibadah sosial (hablum-minan-nas) dan nilai-nilai religiusnya (hablum-min-allah atau tauhid).

Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. 

Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). 

Pemahaman dasar tentang Integritas adalah tentang konsistensi sikap diri pada kesamaan antara kata dan perbuatan. Sikap diri yang jujur dan bertanggung jawab merupakan salah satu ciri ciri pribadi yang memiliki integritas diri, yaitu pribadi yang jujur dan bertanggung jawab dimana setiap perkataannya bisa dipegang dan di buktikan. 

Integritas diri adalah suatu pemahaman yang dapat diumpamakan sebagai lambang diri atau identitas karakter pribadi yang dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya, tanggung jawab pekerjaan di kantor dapat di selesaikan hingga tuntas, prestasi di sekolah sebagai bentuk tanggung seorang siswa di sekolah untuk terus belajar dan berprestasi, pergaulan dalam lingkungan untuk selalu menjaga kerukunan dan hubungan baik antar sesama, ibadah kerohanian sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada Tuhan, dan lain-lain.

Seseorang dikatakan mempunyai integritas apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya.

Kualitas integritas terlihat pada keutuhan yang berasal paduan kejujuran dan konsistensi. 

Ciri orang berintegritas terlihat pada beberapa hal berikut, yaitu:

(1) Sikap tidak mementingkan diri sendiri,

(2) Dibangun di atas dasar disiplin, 

(3) Kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan, 

(4) Kemampuan untuk bersabar ketika hidupnya tidak berjalan mulus, 

(5) Tahan uji yang memerlukan prilaku yang dapat diduga,

(6) Kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat, 

(7) Menepati janji-janji, bahkan ketika merugikan dirinya, 

(8) Tetap setia kepada komitmen, bahkan ketika itu tidak nyaman, 

(9) Tetap teguh pada nilai-nilai tertentu meskipun dirasakan lebih populer untuk mencampakkannya. 

(10) Hidup dengan keyakinan, ketimbang dengan apa yang disukai,

(11) Fondasi dari kehidupan, jika integritas baik, maka kehidupan baik, begitu pun sebaliknya, dan 

(12) Dibentuk melalui kebiasaan.

Buah dari sikap berintegritas akan dipercaya oleh orang sekelilingnya, komunitasnya, dan siapapun yang mengenal karakternya, karena ucapannya juga menjadi tindakannya. 

Orang yang berintegritas karena mulut dan hatinya tidak berbeda dan bertengkar. Tiada pertentangan sikap karena memiliki pendirian dan punya komitmen dalam setiap amalnya. 

Tipe orang yang berintegritas telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:


إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ 

(Innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ tatanazzalu 'alaihimul-malā`ikatu allā takhāfụ wa lā taḥzanụ wa absyirụ bil-jannatillatī kuntum tụ'adụn)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS Fushilat [41]: 30).

Puasa menjadi pendidikan kemanusiaan untuk mencetak diri yang berintegritas. Dalam ibadah puasa mendidik nilai dan prinsip mulia, yaitu keimanan dan ketaqwaan sehingga rela meninggalkan makan, minum dan hubungan badan dengan pasangannya sehari penuh demi nilai dan keyakinan yang mantap pada dirinya.

Kenikmatan badan yang dibutuhkan sementara waktu ditinggalkan demi patuh kepada nilai dengan teguh kepada prinsip beragama. Implementasinya dalam ibadah puasa itu menyatukan isi hati dengan komitmen perbuatan tindakan nyata.

Niat di malam hari selama bulan Ramadhan, kemudian direalisasikan selama sehari penuh berpuasa meskipun tak ada orang yang tahu dan tak ada yang memperhatikan, tetap teguh pada komitmen prinsip berpuasa yang telah diniatkan malam harinya.

Ini bentuk latihan integritas untuk menyatukan ucapan dengan perbuatan dan berpegang teguh pada prinsip dan nilai yang diyakini baik untuk dijalankan.

Saat ibadah puasa sangat dianjurkan oleh Nabi SAW untuk memberi makanan atau minuman kepada orang yang berbuka puasa. Pahala orang yang memberi buka sama dengan ganjaran orang yang menjalankan ibadah puasa meskipun hanya seteguk air atau sebiji kurma.

Inilah nilai integritas yang dilatihkan kepada orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bukan seberapa besar yang diberikan kepada orang lain tetapi seberapa besar perhatian kita untuk berbagi dengan yang lain. 

Sikap orang yang berintegritas itu adalah kesanggupan diri untuk berkorban demi menolong dan membahagiakan orang lain. Inilah latihan kemanusiaan untuk menjadi manusia yang berintegritas dalam madrasah bulan Ramadhan.

Puasa merupakan pendakian spiritual manusia. Sebab, ada dua unsur dalam diri manusia, yaitu unsur lahut (unsur ketuhanan) dan unsur nasut (unsur kemanusiaan). “Nah, puasa merupakan wahana revitalisasi unsur ketuhanan di dalam diri kita sehingga mampu merefleksikan sifat-sifat Allah SWT. 

Hal ini akan membentuk yang berintegritas, konsisten menanamkan nilai-nilai Spiritual pada bulan Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. 

Puasa yang dilakukan secara benar dan Ikhlas, akan menghasilkan sebuah kesadaran spiritual dan Insan yang beritegritas. Dalam puasa akan tertanam Kejujuran, Keikhlasan, kepekaan sosial, dan  kemanusiaan (Humanis). Hal ini merupakan entri poin dari sebuah Kesadaran Spiritual dan Integritas diri. 

Setiap bangunan mempunyai dasar yang disebut fondasi. Tanpa fondasi, hujan, angin, dan cuaca akan membuat bangunan itu roboh. Begitu juga manusia, tidak sulit membedakan siapa yang telah membangun kehidupannya di atas fondasi integritas dan siapa yang tidak.

Bila fondasi kita adalah integritas, keputusan yang kita ambil akan membuktikannya. Bila tidak itu juga akan terbukti. Ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankan integritas, uang bukanlah faktor yang menentukan dalam integritas. Bahkan bila kita kehilangan uang, ketenaran, dan persahabatan, kita tidak boleh menjual integritas. 

Apapun harganya, integritas mempunyai nilai yang lebih besar. 

Segala bentuk yang tampaknya merugikan karena menjunjung integritas sebenarnya sama sekali bukan kerugian. 

Ingatlah segala sesuatu yang kita miliki hanya bersifat sementara, akhirnya akan membawa luka yang sulit dilupakan jika kita tidak memiliki integritas dalam diri kita.

Ingin  menjadi orang yang berintegritas tidak membuat kita menjadi sempurna. Dan tidak semua orang selalu mengambil langkah yang benar, tetapi percayalah dengan ketekunan dan percaya pada kekuatan doa, kita akan mampu menjalani kehidupan yang berintegritas. 

Kadang-kadang memulai lagi berarti kita harus memulai kembali dari nol, dari dasarnya lagi, tetapi setidaknya dasarnya memang sudah ada di sana. Ada masa ketika secara harfiah kita tidak memiliki apa-apa lagi kecuali integritas. 

Saat seperti itu tidak mudah untuk dijalani, itu adalah ujian terbesar jika kita terpaksa mengalaminya. 

Tetapi bagi karakter dan masa depan, itu menghasilkan hal-hal yang mengagumkan. Percayalah berinvestasi pada integritas diri akan memberikan kemajuan dan keberhasilan untuk kesuksesan masa depan kita ke depan.

Wallahu Alam.


Semoga bermanfaat,

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.28) "Puasa jalan Menuju Manusia Paripurna (insan Kamil)



Ybia Indonesia - Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.28) "Puasa jalan Menuju Manusia Paripurna (insan Kamil)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Hikmah puasa yang paling utama adalah membersihkan hati dan membentuk kejernihan pikiran, yakni secara kejiwaan membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri. 

Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tak ada gelar yang lebih mulia dan tingggi dari itu. Setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan  di dunia. 

Melalui puasa yang mendorong terbentuknya hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka kita punya sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu di bulan suci ramadhan.

Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang di hadapi begitu banyak. Diperlukan pikiran yang jernih untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Mulai dari masalah diri sendiri, anak, istri, saudara orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu bertaqwa, Allah akan menunjukkan jalan untuk berbagai persoalan itu. Bagi Allah tak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini. 

Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Dengan demikian kita sucikan fisik, hati, dan pikiran kita melalui pelaksanaan ibadah puasa ramadhan. Penjernihan pikiran hanya bisa dimulai dari hati. Hati yang bersih dari segala kekotoran yang menyelimuti nya.

Bersihkanlah dahulu hati kita maka kita akan dapat menemukan jalan pikiran yang jernih dan segar. Bahkan ketika sampai pada suatu masa yang sangat melelahkan, yang sangat memberatkan, maka hati yang bersih itu dapat membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang tepat tak keliru sedikitpun. 

Bagaimana cara membersihkan hati? Lakukan semuanya dengan ikhlas. Ikhlas adalah memaksudkan ucapan, perbuatan, diam, bergerak, yang dirahasiakan, yang ditampakkan, hidup atau mati hanya untuk Allah semata.

Tuhan memiliki kesempurnaan, antara lain tercermin dari keutuhan dua sifat-sifat sejati di dalam dirinya, yaitu sifat-sifat maskulinitas ("The Masculine God") dan sifat-sifat femininitas ("The Feminine God"). 

Di antara 99 nama indah-Nya, yang lebih dominan ialah sifat-sifat feminitas. 

Ini mengisyaratkan bahwa Tuhan lebih dominan sebagai pengasih dan penyayang daripada pemurka dan pendendam. Seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat immanen, dekat, berserah diri, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.

Sebaliknya, seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat transenden, jauh, dominan, struggeling, dan menakutkan.

Di dalam bulan suci ramadhan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada The Masculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri(taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama. 

Bahkan Syekh Muhyiddin ibn 'Arabi pernah mengatakan kepada muridnya: "Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi 'perempuan'. Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat al-jalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat al-jamal Tuhan. 

Dalam bulan suci Ramadhan, yang juga disebut bulan cinta (syahr al-hubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God.Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugerahkan bulan Ramadhan (secara harfiyah: penghancur, penghangus). 

Setelah 11 bulan hambanya terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan(power struggle), maka dalam bulan Ramadhan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut (nurturing). 

Bulan suci  Ramadhan ibarat oase di tengah padang pasir, memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu. Bulan Ramadhan adalah manifestasi dari rahimniyah dan rahimiyah Tuhan.

Puasa juga tentu bukan sekadar menahan lapar, dahaga dan hubungan seks. Yang teramat penting puasa sebagai latihan spiritual untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dalam hadis takhallaqu bi akhlaqillah "(berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah Swt). 

Al Qur'an menyebutkan (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan):

قُلۡ اَغَيۡرَ اللّٰهِ اَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَهُوَ يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُ‌ؕ قُلۡ اِنِّىۡۤ اُمِرۡتُ اَنۡ اَكُوۡنَ اَوَّلَ مَنۡ اَسۡلَمَ‌ وَلَا تَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَ

Qul aghairal laahi attakhizu waliyyan faatiris samaawaati wal ardi wa Huwa yut'imu wa laa yut'am; qul inniii umirtu an akuuna awwala man salama wa laa takuunanna minal mushrikiin

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?" Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi orang yang pertama berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik."

(QS. Al-An’am Ayat 14)

Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh. 

Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas'insan kamil' (manusia paripurna/sempurna), suatu kualitas spiritual yang paling diidealkan oleh umat Islam.

Insan Kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh pribadi Rasulullah Saw. Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-Asma al-Husna). 

Ibarat seuntai tasbih nama-nama Indah itu berjumlah 99, dimulai dari lafzh al-jallah (Allah), dengan simbol angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Lathif (Maha Lembut), al-Jamal (Maha Indah), dan seterusnya sampai ke angka 99, ash-Shabur (Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-Jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. 

Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah lingkaran, yang bermula dan berakhir pada satu titik, yang diistilahkan oleh Al Qur'an: inna lilAllahi wa inna ilaihi raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Kesempurnaan adalah sebuah keniscayaan yang sejatinya hanya ada dalam zat Tuhan, Allah SWT. Sempurna, dalam perspektif ketuhanan, memang tak terbatas.

Kamil (baca: sempurna) hanya dianugerahkan-Nya pada insan yang pantas menerima sebab keluhuran budi pekertinya, yakni baginda Rasulullah SAW:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā


Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

(QS. Al-Ahzab Ayat 21)

Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna. 

Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna jika ia memiliki kriteria tertentu. 

Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia-manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi ‘luar biasa’ di hadapan Tuhannya. Mereka terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kiyai, atau orang biasa sekalipun, pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya insan yang patut diteladani. 

Tiada manusia yang sempurna. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Betul bahwa tiada manusia yang sempurna. Kita dianugerahi kekurangan agar dapat saling melengkapi antar manusia lainnya. Namun hakikatnya, semua manusia mampu berusaha untuk tidak menempatkan dunia sebagai tujuan, namun sebagai pemenuhan totalitas amalan ukhrawi yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. 

Menyisihkan kepentingan dunia bukan berarti mengabaikan apalagi ‘meninggalkan’ kewajiban duniawi. 

Namun lebih dari itu, meneladani potret insan kamil ialah dengan menyeimbangkan kehidupan dunia, tempat kita beramal shaleh sebagai bekal akhirat.

Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain. 

Idealnya orang yang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwwah basyariyyah, ukhuwah islamiyyah, dan ukhuwah makhluqiyyah, ini merupakan perwujudan prilaku insan kamil dan inilah konsep tauhid yang sesungguhnya.

Wallahu A'lam Bishawab.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)