Tampilkan postingan dengan label spirit Ramadhan 1444 H. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spirit Ramadhan 1444 H. Tampilkan semua postingan

Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.29), "Menjemput Malam 1000 Bulan"




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. 

Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. 

Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. 

Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. 

Anugerahkan padaku memandang-Mu. 

Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. 

Jangan palingkan wajah-Mu dariku. 

Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu 

wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin"

Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. 

Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan.

Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa.

Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. 

Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. 

Tuhan berfirman, ''Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.''

Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. 

Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. 

Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin)

Kerendahan Hati

Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh.

Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ''Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.'' Nabi yang mulia berkata, "Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya."

Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, "Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?" Ia menjawab, "Benar."

Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, "Siapa yang akan membunuh orang itu?" Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. "Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk," katanya.

Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, "Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat."

Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, "Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.''

Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati.

Bersujud lah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. 

Jalaluddin Rumi bercerita. Alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujud lah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Maha Tinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunnahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.-


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb

ki alit Pranakarya 

Inisiator/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H / 2023 (Bag. 27) "Lailatul Qadar, Malam Revolusi Spiritual"



Ybia Indonesia - Spirit Ramadhan 1444 H / 2023 (Bag. 27) "Lailatul Qadar, Malam Revolusi Spiritual"


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan merasakan kedamaian batin, kebahagiaan yang sempurna, puncak rasa syukur, dari sini #kaP dapat menyimpulkan bahwa: Lailatul Qadar adalah Malam Revolusi Spiritual.


إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

 innā anzalnāhu fī lailatil-qadr

Artinya: 1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr

2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr

3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr

4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr

5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

(QS. Al Qadar: Ayat 1-5).

Malam Lailatul Qadar sebenarnya menurut pandangan #kaP bersifat individu, itu adalah kulminasi dari ibadahnya yang dilakukan selama bulan Ramadhan.

Pahala ibadah puasa sudah tidak pake hitung-hitungan, karena pahalanya adalah sudah menjadi urusan Allah swt dengan si individu itu sendiri. 

Jadi langsung dari sisi Allah swt itu sendiri. Sebagaimana di ungkapkan dalam Hadits :

“Setiap amalan anak Adam akan dilipat gandakan pahalanya. Satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, “Kecuali puasa, Aku yang akan membalas orang yang mengerjakannya, karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makannya karena Aku.” (HR. Muslim)

Jadi bisa dikatakan, bahwa bulan puasa adalah bulan untuk meningkatkan spiritualitas kita dalam bermakrifat Taqoruban ilallah atau berjalan menuju kepada Allah swt. 

Dan puncak pencapaian keruhanian tersebut adalah terjadi di sebuah malam di saat si hamba memperoleh kemuliaan dari Allah swt sehingga malam itu disebut sebagai Malam kemuliaan atau malam Lailatul Qodar, yang lebih mulia dari seribu bulan. Atau malam turunnya anugerah Allah SWT kepada si hamba. Karena di malam itu yang terjadi adalah sebuah proses peningkatan ruhani dari si hamba yang sudah bukan lagi Evolusi spiritual tetapi sudah merupakan REVOLUSI SPIRITUAL YANG DAHSYAT, sehingga nilainya setara dengan sebuah meditasi ataupun perjalanan ruhani yang dilakukan selama seribu bulan. 

Orang yang mendapatkan Lailatul-qadr akan merasakan kedamaian batin, kebahagiaan yang sempurna, puncak rasa syukur, dari sini #kaP dapat menyimpulkan bahwa: Lailatul Qadar adalah Malam Revolusi Spiritual.

Malam Revolusi Spiritual dapat dimaknai juga, bahwa peraih Lailatul-qadr akan merasakan puncak penghambaan diri, dan itulah kenikmatan hidup yang tak mungkin digambarkan dengan kata dan kalimat dalam bahasa apapun. 

Tubuh dan segalanya menjadi nihil. Yang ada semata syukur dan tasbih atas ke-Mutlak-an Allah swt. Karunia Lailatul-qadr adalah pengalaman spiritual yang bersifat sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Maka jangan percaya kalau ada orang mengklaim telah mendapatkan lailatul-qadr. Sebab pengakuan dan klaim itu justru bertentangan dengan karakter lailatul-qadr: tawadhu', rendah hati dan keikhlasan.

Maka, bila kita ditakdirkan meraihnya, nikmati saja. Dan setiap Muslim, siapapun dia, memiliki peluang meraih karunia Lailatul-qadr di bulan Ramadhan.

Lailatul Qadar, adalah mereka yang digambarkan dalam surat al Qadar, hari lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan malaikat Jibril turun dan dengan izin Allah, berdoa untuk keselamatan seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar. 

Siapakah orang yang beruntung memperoleh lailatul qadar? Mereka yang mencapai pengetahuan, kesadaran, pengertian, dan kesatuan hakiki bersama rahasia rahasia Allah. 

Mereka ini sudah tidak terpisahkan lagi oleh perasaan dan hijab, antara dirinya dan Allah. Mereka ini sudah tidak bertanya lagi bagaimana dan di mana Allah Azza Wa Jalla. Pencapaian pada puncak inilah yang merupakan kenikmatan hakiki.

Al Qur’an pada malam lailatul qadar, adalah pengetahuan yang membenarkan kebenaran. Sedangkan, lailatul qadar, adalah puncak kesadaran reflektif manusia membangun ketuhanan dan kemanusiaan seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Inilah esensi dari Revolusi Spiritual.

Lailatul qadar dimaknai sebagai Malam Revolusi Spiritual, yaitu satu titik di mana jiwa-jiwa orang beriman berada dalam keheningan, kekhusu’an, kejernihan sehingga menyatu dengan kehendak Allah (wihdatul iradah) dalam tindakan-tindakan mereka.

Ramadhan dapat kita maknai juga sebagai sebuah proses pengembalian (reorientasi) jiwa manusia agar kembali ke fitrahnya, yakni berada dalam keimanaan dan ketakwaan kepada Allah.

Sebagai sebuah proses, maka semakin mendekati akhir perjalanan, tentu setiap orang yang mengikuti proses dengan baik akan semakin dekat dengan pencapaian proses.

Demikian juga dengan orang yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan, semakin mendekati akhir Ramadhan, tentunya jika ia menjalankannya dengan sepenuh jiwa, ia pun akan semakin mendekati fitrah kemanusiaannya, yakni menjadi hamba yang beriman sekaligus khalifah di dunia yang amanah.

Ketika manusia berada dalam kondisi hening jiwa, ia akan berada dalam fitrah kemanusiaannya dan menyatu dengan kehendak Ilahi (wihdatul iradah), maka setiap tindakan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang dilakukan akan membawa kemanfaatan yang akan selalu diingat dan menginspirasi orang lain untuk meneladaninya. Sehingga tindakan orang tersebut akan terus hidup sepanjang waktu, bahkan meskipun ia sudah meninggal dunia.

"Ya Allah, ya Rabbi, jadikanlah kami sebagai salah satu di antara orang-orang yang Engkau perkenankan meraih karunia lailatul-qadr-Mu di bulan Ramadhan ini...'

Memburu Lailatul-qadr mungkin bukan bahasa yang tepat. Tetapi yang lebih tepat adalah mari memantaskan diri untuk dijemput lailatul-qadr. 

Dan bila Anda kebenaran dikaruniai kesempatan meraihnya, jangan lupa berdoa kebaikan untukku...!

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusanatara)

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 26), "Puasa dan Qanaah"



Ybia Indonesia - Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 26), "Puasa dan Qanaah"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah Swt kepadanya (QANAAH). 

Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Qanaah berasal dari bahasa arab yakni dari kata qani’a-qana’atan.

Pengertian Qanaah menurut bahasa artinya merasa cukup atau rela.

Pengertian Qanaah menurut istilah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Dasar hukum Qanaah disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"

Hadist:

Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda : 

"Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan itu yang sebenarnya ialah kekayaan hati.”


Contoh Sikap Qanaah:

- Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

- Tidak pernah merasa iri ataupun dengki dengan keberhasilan orang lain.

Giat bekerja agar memperoleh hasil yang terbaik.

- Hidup sederhana menyesuaikan diri dengan kemampuan, tidak rakus dan tidak tamak.

Tidak mudah kecewa maupun putus asa jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keinginan.

- Selalu yakin bahwa pemberian Allah SWT merupakan sebuah anugerah.


Manfaat Qanaah:

- Memiliki jiwa yang tenang.

- Terhindar dari sikap iri, dengki, dan tamak.

Memiliki hati yang sabar.

- Selalu puas atas pemberian Allah SWT.

- Terhindar dari rasa khawatir dan resah.

- Terjalin hubungan yang harmonis dalam lingkungan masyarakat.

MANUSIA salah satu makhluk Allah SWT yang memiliki nafsu ganda, yaitu nafsu baik dan jahat. Sifat yang muncul pada diri manusia tergantung nafsu mana yang dapat memenangi pertarungan dalam diri manusia itu sendiri.

Salah satu nafsu jahat manusia yang sering muncul adalah rakus dan tamak. Manusia memiliki sifat tak pernah puas terhadap apa yang telah ia capai. 

Rasulullah saw bersabda :

"Kalau anak Adam (manusia) telah mempunyai harta sepenuh dua lembah, niscaya dia masih mencari lembah yang ketiga. Tiada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah, Allah menerima taubat siapa yang bertaubat." (HR Muslim).

Manusia sifatnya rakus, maunya tambah terus dan tak puas terhadap apa yang telah dicapainya. Makanya dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak cukup dengan satu kendaraan. Sudah memiliki satu kendaraan maunya tambah lagi sehingga macet di mana-mana.

 Manusia selalu takut akan kekurangan dan takut hidupnya menderita. Maka, manusia senang menumpuk-numpuk harta sampai lalai kewajiban terhadap Tuhannya.

(QS Al-Takatsur: ayat 1):

اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ‏

Al haaku mut takathur


Artinya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu"

Memang tak mudah mengendalikan nafsu serakah manusia karena memang watak ini sudah melekat erat pada diri manusia. Demi tuntutan nafsunya, banyak orang mengabaikan bagaimana cara mendapatkan hartanya, halal haram tak lagi jadi pertimbangan. 

Karena itu, korupsi merajalela, penipuan di mana-mana, pencurian, penjambretan terjadi di mana-mana.

Manusia demi kepuasan nafsunya tidak lagi takut kepada hisab di hari akhirat nanti. Padahal, semua perbuatan manusia dalam perburuannya untuk memuaskan nafsunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Allah swt berfirman, dalam Surat Al-Ghasyiyah, Ayat 25-26 :

إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ

Inna ilainā iyābahum


ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم

ṡumma inna 'alainā ḥisābahum


Artinya: 

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (QS. Al-Ghasyiyah Ayat 25-26).

Dengan datangnya bulan Ramadhan, manusia (khususnya umat muslim) diperintahkan berpuasa. Puasa yang secara bahasa diartikan dengan menahan (al-imsak) dan secara terminologi menjauhkan diri sepenuhnya dari makanan, minuman, hubungan intim, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai fajar sampai matahari terbenam, merupakan ibadah yang bertujuan mengendalikan nafsu jahat manusia.

Dengan puasa, manusia disuruh belajar menahan "suatu perbuatan" yang selama ini menjadi kegemaran, bahkan kebutuhan dasar manusia, yakni makan, minum, hubungan seksual, dan lain- lain.

Puasa melatih manusia tidak serakah. Puasa melatih manusia mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan perbuatan yang pada hari-hari tidak berpuasa diperbolehkan. Karena itu, puasa akan menghasilkan manusia-manusia yang terlatih nafsunya dalam menghadapi kemewahan dunia, yaitu insan bertakwa (QS Al-Baqarah: 183):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Puasa melatih manusia untuk bersabar (syahr al-shabr) dalam menghadapi godaan megahnya dunia. Betapapun nafsu sangat menginginkannya, jikalau perbuatan itu maksiat, atau mencapainya harus dengan kemaksiatan, manusia yang telah terlatih dengan puasa akan mampu menahannya.

Berbeda dengan orang yang tak terlatih dengan puasa, atau puasa tapi puasanya tak benar, nafsunya tidak memiliki kendali sehingga ia tak mampu menahan godaan-godaan kemaksiatan yang ada di depannya.

Karena itu, Rasulullah saw menyebut puasa itu sebagai perisai (al-shaumu junnatun). Sebab, dengan puasa, manusia mampu menangkis berbagai hal yang akan menjerumuskan dalam keserakahan.

Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah swt kepadanya (qanaah). Orang yang berpuasa dididik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Karena itu, orang yang berpuasa akan menyadari bahwa nikmat Allah swt yang diberikan kepadanya masih jauh lebih baik dibanding yang diberikan kepada orang lain. Jika orang selalu melihat nasib orang yang lebih baik, ia tidak pernah bersyukur dan tak pernah puas terhadap apa yang telah ia peroleh nya.

Di sinilah puasa mendidik manusia untuk selalu memiliki kesadaran bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan harta atau glamoritasnya dunia. Tapi, kekayaan letaknya dalam hati. 

Sejauh mana ia dapat mensyukuri nikmat Ilahi Rabbi, maka di situlah ia menemukan kecukupan hidupnya.

Rasulullah saw telah mengingatkan kita dalam sabdanya, "Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun, kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR Bukhari dan Muslim).

Puasa mendidik manusia agar menjadi orang-orang yang merasa cukup dengan pemberian dari Allah Swt. (QANAAH).


Semoga bermanfaat, Salam Silaturahmi...

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H 2023 (Bag. 25), "Pencerahan Spiritual Malam 1000 Bulan"




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ybia Indonesia - Puncak spiritual bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Kita selama menjalani ibadah puasa paling tidak sudah berbuat sesuatu hingga bisa hadir sebagai seorang tamu di malam Lailatul Qadar. 

Berpuasa, mengekang hawa nafsu, berzikir kepada Allah, memperbanyak doa, dan memperbanyak membaca al-Quran, semua ini merupakan persiapan sehingga pada malam Lailatul Qadar kita bisa menghadirinya sebagai seorang tamu dalam jamuan rahmat Allah. 

Selama perjamuan itu, kita harus bertaubat, bertekad untuk kembali, dan beristighfar, kita harus memohon rahmat dari Allah, meminta kebahagiaan untuk diri kita, untuk saudara-saudara seiman, untuk kaum Muslim, (dan hal yang lebih penting) kita harus memohon perbaikan diri.

Menghidupkan malam Lailatul Qadar akan bermakna ketika manusia benar-benar tersadar di malam itu, yakni memiliki kehidupan spiritual dengan cara mengingat Allah Swt. Manusia dianggap hidup ketika hati mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi. 

Malam Lailatul Qadar merupakan sebuah kesempatan untuk mengingat Allah sepanjang malam, menyatakan taubat, dan memohon ampunan.

Lailatul-qadar adalah satu momen yang sangat dinantikan kedatangannya oleh umat Islam pada setiap bulan Ramadan. 

Secara harfiah, Lailatul-qadar berarti malam penentuan atau malam kepastian. 

Jika kata qadr  dipahami sebagai sama asalnya  dengan kata takdir. Akan tetapi, ada juga yang mengartikan lailatul-qadar dengan malam kemaha-kuasaan, yakni kemaha-kuasaan Allah.

Jika kata qadr dipahami sebagai sama asalnya dengan al-Qadir, yang artinya Yang Mahakuasa, yakni salah satu sifat Allah. Alquran juga menyebutnya dengan lailatun-mubaraqah,  malam penuh berkah, penuh hikmah.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

(innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn)

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan".

Surat Ad Dukhan, ayat 3

Secara literal Lailatul Qadr (LQ) berasal dari dua kata, yaitu lailah dan qadr.  

Lailah dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang (nahar).

Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, kesepian, keheningan, kesyahduan, kerinduan, dan kedamaian.

Ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi, dan kedalaman cinta (mahabbah).

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan keliru, yang kemudian amat disesalinya. 

Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. 

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas.

Berangkat dari kesadaran itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. 

Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. 

Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. 

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang.

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. 

Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. 

Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan..

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. 

Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). 

Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Termasuk didalamnya memiliki rasa empati terhadap sesama.

Jika kesadaran Spiritual ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

 (Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr).

Lailatul qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. 

Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar.

Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. 

Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak ternilai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini.

Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. 

Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. 

Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama. Ataupun dengan agama tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga.

Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang.

Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Membicarakan lailatul qadar dalam diskursus metafisika justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosial kemasyarakatan kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. 

Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.

Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. 

Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah bersholawat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. 

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab, malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. 

Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

 Bercermin dari pengalaman nabi Saw tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti Lailatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil kemasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan budaya kehidupan kita yang lebih baik. 

Lebih dari itu Lailatul qadar adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. 

Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat, sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaiki dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani.

Manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki perilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan ini, menuju individu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Semoga kita semua menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan.

Semoga bermanfaat


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 22), "Puasa Sarana Latihan Meraih Wushul"



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Seseorang dianggap wushul jika telah menempuh perjalanan panjang untuk proses penjernihan hati (tazkiah). 

Rajin melakukan PUASA yang dibarengi dengan senantiasa berzikir kepada Allah, adalah cara yang tepat untuk proses Penjernihan hati (Tazkiah)"


Ybia Indonesia - Usaha untuk mencapai kejernihan hati melalui PUASA dan Dzikurllah tersebut, membuatnya bersih dari kabut-kabut yang menghalangi untuk sampai pada Allah. Kabut-kabut syahwat yang bersarang di hatinya telah sirna oleh rasa yang begitu dahsyat sebagai proses penjernihan hati tadi.

Wushul adalah sampai. Wushul ilaallah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan orang yang sudah wushul tersebut telah benar-benar yakin akan adanya Allah. 

Hal ini berbeda dengan penglihatan mata secara dhahir, Wushul ini merupakan pengalaman kerohanian bukan secara nyata seperti halnya Nabi Musa yang secara jasmani takkan mampu  melihat Alllah, tetapi pingsannya Nabi Musa adalah tanda bahwa ruhaninya melihat Allah. 

Terkait Wushul Setiap insan mempunyai potensi untuk wushul kepada Allah sesuai yang Dikehendakinya, hal itu bisa dilalui melalui rajin berpuasa dan berzikir, dan tentunya tak kalah pentingnya melalui bimbingan seorang guru, berthariqot dan lain-lain.

Allah merupakan Pencipta (khalik) dan manusia adalah makhluk. Manusia bisa tersambung dengan Allah ketika ia telah mengenal-Nya, bahkan lebih dari mengenal dirinya sendiri. Inilah yang dinamakan proses wushul (bersambung dengan Allah). 

Wushul seorang hamba kondisi di mana hamba tersebut mengenal Allah SWT, bukan bersambungnya dua dzat yaitu khalik dan makhluk.

 “Wushul (bersambung dengan Allah) itu bukan bersambungnya dua dzat, tetapi kita mengenal-Nya,” 

Dalam kondisi tersebut, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada, selain Allah SWT. Sebab, menurutnya, mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, dia akan tersambung dengan yang lainnya. 

“Begitu kita raih wushul segalanya tiada, hanya Dia yang Ada. Mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, Allah akan sambung dengan sesuatu,” 

Mendekat kepada Allah (taqarrub) bukan imajinasi dekat jarak dan waktu. Jika pemahamannya seperti itu, maka manusia akan gagal paham dengan taqarrub. “Kedekatan (alqurb) adalah kesadaran penuh bahwa kapan, dimana pun dan dalam situasi apa pun, Allah lebih dekat dibanding dirimu sendiri.

IBNU Athaillah mengatakan, "Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain hanya derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya.

Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai kemaqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut)."

Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan 'Tidak mampu' yaitu, manakala muncul setelah ia fana secara hakiki, bukan 'tak mampu' secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang 'arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidak berdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.

Maka bisa ditampakkan, bahwa:

Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.

Orang bodoh selalu berkhayal, orang arif selalu meraih kefahaman.

Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.

Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan rohani maknawinya.

Seseorang dalam perjalanan rohaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman rohaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.

Banyak para penempuh bangga dengan pengalaman rohaninya, lalu ia mandeg dalam kepuasan dirinya, dan ketakjubannya.

Banyak para penempuh yang mengungkapkan kedalaman batinnya, lalu ia kehilangan keikhlasannya.

Banyak para penempuh yang gembira dengan capaian hakikatnya, padahal ia baru tahap proses awal perjalanannya.

Karena itu, benarlah ungkapan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs, "Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacat mereka.

Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:

- Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh

- Mencari ilmu sesuai kebutuhan.

- Melanggengkan diri dalam keadaan suci.

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah

Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib.

- Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya.

- Melakukan sholat malam dan Sholat witir.

- Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis

- Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid (pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama).

- Puasa di hari-hari mulia

Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan.

Memperbanyak Istighfar

- Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

- Melanggengkan diri untuk membaca dzkir-dzikir yang disunnahkan di pagi hari dan sore hari.

Puasa dalam dua perspektif (Sya ri’ah dan Tarekat) masih menekankan ritual puasa sebagai kewajiban yang mesti ditaati dan ini sangat benar, sesuai dengan ketetapan Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se bagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(QS al- Baqarah [2]:183):


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn)

√ Perspektif Syari’ah sangat menekankan aspek formal puasa itu dengan kedisiplinan terhadap asas rukun dan syarat puasa. Sedikit apapun pelanggaran rukun dan syarat puasa akan berakibat fatal atau terancam batalnya puasa itu.

Di dalam kitab Fath al-Mu’in dicontohkan, jika seseorang akan memasukkan benang ke dalam jarum biasanya dibasahi dengan air liur dengan menjilat ujung benang itu, agar tegak dan gampang memasukkan ke dalam lubang jarum. 

Jika benang itu benang putih tidak mengancam batalnya puasa. Akan tetapi jika benang itu berwarna dan lunturannya bergabung dengan air liur masuk ke dalam tenggorokan maka itu mengancam batalnya puasa.

√ Dalam perspektif tarekat sudah beranjak dari level formal dan memasuki wilayah hikmah lebih mendalam di balik puasa. 

Sesuai dengan namanya, Ramadhan, menurut bahasa berarti membakar dan menghanguskan. Salah satu puasa yang paling penting ialah puasa pada bulan Ramdhan yang sedang kita jalani saat ini.

Selain menunaikan kewajiban puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam itu, diharapkan dengan puasa ini mampu menghanguskan dosa-dosa masa lampau, mulai dosa kecil sampai dosa besar. 

Puasa Ramadhan diharapkan pula mampu membakar semangat jihad, ijtihad, mujahadah, dan semangat riyadhah, yang pada saatnya membantu kita untuk mencapai tingkat kedekatan diri dengan Allah SWT.

√ Dalam perspektif hakikat, kedua lapisan tersebut sudah dilalui. Puasa bagi komunitas ahli hakikat sudah tidak menekankan keistimewaan luar biasa, termasuk keutamaan bulan Ramadhan. Betapa tidak, karena kehidupan sehari-harinya sudah sedemikian akrab dengan puasa, dengan kata lain puasa sudah menjadi habit-nya.

Bagi mereka puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami isteri, sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu, tetapi puasa sudah lebih merupakan wacana spiritual (batiniah). Puasa bagi mereka seperti puasa sepanjang masa (daim).

Ada istilah yang sering didengar dari mereka, yaitu meskipun kita sudah berbuka tetapi tetap harus berpuasa. 

Mereka tidak ingin membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka. Artinya, secara formal sudah berbuka tetapi ia masih tetap memuasakan pikirannya untuk memikirkan sesuatu selain Allah SWT, memuasakan ingatannya untuk mengingat sesuatu selain Allah SWT, memuasakan keinginannya selain keinginan untuk taqarrub ilallah, memuasakan harapan harapannya untuk berharap selain ridha Allah SWT.

Sedetik pun ia tidak mau membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka secara fi sik. Ia merasa puasanya batal manakala berkeinginan selain keinginan tunggalnya mencapai mardhatillah.

Puasa Ramadhan bagi golongan terakhir ini tidak begitu luar biasa, karena ia merasakan sepanjang bulan adalah bagaikan Ramadhan baginya. Ia selalu menunaikan berbagai macam ibadah seperti seruan untuk melakukan berbagai macam amaliah Ramadhan. Dengan kata lain, amaliah sehari harinya sepanjang bulan bagian amaliah Ramadhan bagi orang awan.

Pada tingkatan puasa seperti ini, akan membuka jalan meraih Wushul.

Mereka tidak tertarik lagi dengan janji pahala yang berlipat ganda di dalam bulan Ramadhan, karena menjalankan puasa bukan mencari pahala, seperti orang-orang awam dan khawash. 

Ia sudah masuk kategori pengamal puasa khawashul khawash, yang tidak lagi berharap pahala atau berkah, karena satu-satunya harapan mereka hanya Allah semata.

Orang-orang yang telah Wushul menjalankan ibadah puasa bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Ia juga menjalankan puasa bukan untuk memperoleh berkah kehidupan dunia dan akhirat. 

Bagi mereka perbedaan dunia dan akhirat sudah sedemikian tipis sehingga tidak lagi terkesima dengan janji-janji orang terhadap Ramadhan. Bagi mereka ambil itu surga, ambil semuanya, mereka sudah cukup hanya memiliki dan hidup di dalam genggaman Tuhan.

Puasanya orang yang Wushul adalah para ahli hakikat, mereka sama sekali tidak pernah dirasakan sebagai suatu masalah seperti beban, lapar, dahaga, dan pembatasan fisik lainnya. 

Bagi mereka puasa, sebagaimana kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya seperti shalat dan, lebih dirasakannya sebagai sesuatu yang maha indah. 

Mereka merasa nyaman dengan berbagai kewajiban agama sehingga tidak terasa lagi puasa itu sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai kesenangan batin. 

Seperti halnya yg telah #kaP ulas diatas, puasanya orang yang ahli Hakekat akan membuatnya mencapai Wushul. 

Syarat untuk mencapai Wushul adalah pengendalian hawa Nafsu.

Seperti yang sama-sama kita ketahui diantara manfaat dari puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu.

Naiklah Ke Maqam Yang Tinggi, Robek Hawa Nafsu, melalui Puasa.


Ada tujuh tingkatan nafsu manusia, yaitu:

- Nafsu Amarah

- Nafsu Lawamah

- Nafsu Mulhimah

- Nafsu Muthmainnah

- Nafsu Radhiyah

- Nafsu Mardhiyah

- Nafsu Kaamilah

Para ulama mengatakan bahwa 7 nafsu ini adalah manifestasi dari sebuah jalan yang berada diantara manusia dengan Allah SWT. 

Terdapat 70 ribu hijab (penutup) yang menjadi penghalang untuk mencapai wushul ila-Allah (sampai kepada Allah), oleh karena itu ada 10 ribu hijab yang menutupi masing-masing nafsu.

Seorang pendaki Spiritual / Pejalan Spiritual akan terus mengalami peningkatan maqom ketika ia berpuasa dan berdzikir mengingat Allah. 

Puasa dan Dzikir berfungsi untuk merobek hijab-hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. 

Setiap nafsu memiliki sifat dan tanda-tandanya masing-masing. Melalui sifat itu seorang murid dapat mengetahui peningkatan yang terjadi pada dirinya selama berjalan menuju Allah.

Seorang pendaki Spiritual dapat dikatakan telah wushul ila-Allah ketika ia telah mencapai tahapan nafsu yang terakhir. Dampak dari wushul ila-Allah ini adalah ia akan istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, dan ia akan terus melakukan ketaatan dan menyembah Allah setiap saat tanpa henti.


TINGKATAN NAFSU:


1. NAFSU AMARAH

Nafsu inilah yg mendorong org melakukan perbuatan yang dilarang.

2. NAFSU LAWWAMAH

sudah mengerti antara kejelekan dan kebaikan namun belum bisa melakukan kebaikan malah selalu terjerumus dalam kejelekan.

3. NAFSU MULHIMMAH:

Masih berat berbuat ketaatan walaupun kadang mampu melakukannya.

4. NAFSU MUTHMA'INNAH:

Nafsu yang menjadikan seseorang tunduk pada hukum Allah.

5. NAFSU RADHIAH:

tidak hanya sekedar tunduk namun sudah benar-benar Ridho kepada segala taqdir Allah.

6. NAFSU MARDHIYAH:

Tidak hanya sekedar Ridho pada kehendak Alloh namun lebih dari itu jiwa dan raganya hanya untuk menyembah Allah.

7. NAFSU KAMILAH:

Nafsu pada tingkatan Insan Kamil manusia paripurna.

Nafsu Kamilah adalah jiwa yang telah benar-benar sempurna dan juga telah mendapatkan pancaran kebenaran dari Tuhan, serta telah mencapai tingkat makrifat.

Nafsu kamilah : nafsu yang sempurna yang diduduki para nabi, rosul dan para walinya ) sebagai pengejawantahan dari insan kamil. 

Mereka adalah teladan sejati dalam mengemban ibadah lahir dan batin: syariah dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh gusti Allah yang maha perkasa dan penyayang untuk membentuk masyarakat yang di ridhoi-NYA. 

Nafsu yang telah mencapai kesempurnaan bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad (petunjuk) dan senantiasa berusaha untuk menyempurnakan diri kepada Allah swt. 

Orang yang memiliki Nafsu Kamilah disebut “mursyid mukammil” (orang yang menyempurnakan) atau disebut “insan kamil”. pada tingkat ini jiwa telah demikian dekat dengan Allah.

Para Sufi menganggapnya telah mencapai tajjali (terbuka, tak bertabir), baqa’ billah (bersama dengan Allah), fana fillah (hancur dalam Allah) dan dia memperoleh ilmu ladunni minallah (ilmu anugerah Allah).

Secara syariat dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang untuk membentuk akhlak masyarakat yang diridhoi oleh-Nya.

Nafsu ini selalu memotivasi diri untuk beribadah dan mendapat anugerah ilmu keyakinan.Yang memiliki nafsu ini hanya akan merasakan [[kebahagiaan] hakiki bila bersama dengan Tuhannya. 

Semoga kualitas puasa kita semakin meningkat. Selamat menikmati bulan puasa.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.21), "Lailatul Qadar dalam Perspektif Sufistik (Spiritualitas)



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - Salah satu momen yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah adanya Lailatul Qadar. Disebutkan dalam surat al-Qadr, bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

innā anzalnāhu fī lailatil-qadr


وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr


لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr


تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr


Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

@Surah al-Qadr, Ayat 1-5

Lailatul qadr adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu, berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. 

Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih Sayang. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. 

Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, "Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu".

Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

Kalau kita shalat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. 

Padahal dalam ibadah khusus, yaitu shalat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. 

Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. "Dengan begitu, salatnya punya bekas".

Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

"Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan". 

Orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. 

Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan. 

Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

Bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan dan Kesadaran Spiritual.

Barang siapa melakukan kebaikan pada malam ini (Lailatul Qadar), diyakini nilainya lebih besar daripada melakukannya selama seribu bulan. 

Sayangnya, Allah dan Rasul tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya momen akbar ini. 

Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. Dalam satu hadits Rasul pernah menganjurkan untuk mengintip Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tetapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. 

Di sisi lain, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar . Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar.

Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar pada dasarnya adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. Masing-masing orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Pengalaman spiritual yang dirasakan satu sama lain juga berbeda-beda. 

Jika kemudian Rasul menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, itu berdasarkan pengalaman pribadi Rasul atau informasi dari beberapa sahabat. 

Demikian halnya, dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang. Pada malam itu cahaya illahi turun menghampiri dan menyatu dengan jiwa-jiwa hamba. 

Momen inilah, yang oleh Ibnu ‘Arabi, seorang sufi dan filsuf besar, disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. 

Menurutnya, seribu bulan bukanlah hitungan angka, melainkan simbol untuk menjelaskan karunia Allah yang tak terhingga. 

Kata seribu di sana lebih bersifat kualitatif yang menggambarkan tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya. 

Artinya, momen ketika jiwa hamba menyatu dengan cahaya Tuhannya adalah momen yang tak terperi sekaligus karunia yang tak terhingga. 

Menyatu dengan cahaya Allah yang tak terbatas, tentu memberikan pengalaman yang tak terbatas pula. 

Kebersatuan cahaya ilahi dan jiwa pada saat Lailatul Qadar itulah yang selanjutnya diharapkan dapat mengejawantah dalam kepribadian dan perilaku keseharian.

Manusia yang dalam jiwanya bersemayam cahaya ilahi, pasti tidak akan menampakkan perilaku kecuali sesuai dengan nilai-nilai ilahi. 

Ringkasnya, Lailatul Qadar adalah sebuah proses spiritual, dan oleh karenanya tidak akan cukup digambarkan dengan kata-kata. Dan setiap proses spiritual yang dialami manusia akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan kepribadiannya. 

Maka, jika ibadah di malam-malam Ramadhan tidak mampu merubah perilaku kita, berarti Lailatul Qadar  tidak pernah benar-benar mendatangi kita. 

Tidaklah tersembunyi bagi orang-orang yang telah mendapat anugerah Allah swt apabila mereka mensucikan hati mereka dari pengaruh kemakhlukan dari nafsu buas Ghodobiyah (nafsu bersifat binatang buas) dan meningkat dari satu maqam kerendahan basyariah kemakhlukan dengan bertaraqqi ke maqam yang lebih tinggi lagi mulia dan lalu mencapai kasyf atas rahasia-rahasia penurunan Kitab-kitab Suci dan pengutusan para rasul; yaitu orang-orang yang mendapat taufik untuk melihat dan mengetahui rahasia hakikat Keesaan Dzat Ilahiyah pada lembaran-lembaran keberbilangan (martabat wujud-wujud ini) yang fana dalam batas dan hitungan.

Bahwa berbagai ketetapan yang terjaga di dalam Loh Qadha dan berbagai bentuk yang ditetapkan di dalam hadhrah Ilmu dan Pena al-A'la, sesungguhnya ia ada di dalam Alam Ama` yang ghaib yang disebut Lailah al-Qadr (Malam Kemuliaan). 

Karena malam itu tersembunyi di dalamnya ada siang yang mataharinya tak pernah tenggelam.

Puasa mempunyai banyak rahasia yg bisa membawa si salik (pejalan spiritual) untuk menaiki maqam rohani yang lebih tinggi. 

Puasa adalah medan peperangan bagi menghadapi musuh tersembunyi didalam diri kita. Musuh luar sudah dibelenggu bagi menghadapi musuh nafsu yang jauh lebih kuat dan bahaya.

Rasulullah Saw. bersabda:

Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di badanmu.”  (HR. at-Tirmidzi).

Nafsu itu lebih jahat daripada 70 syaitan.” (Al-Hadits).

Imam Al-Ghazali berkata: "Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kejahatan itu lebih memusuhimu daripada iblis. 

Nabi bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka dan diikat syaitan-syaitan.”

Maka di bulan Ramadhan, roh dihadapkan musuhnya yang menghijab diri insan dari Tuhannya, yakni nafsunya. 

Nafsu suka menghadap wajah kepada selain Allah swt,  sedang roh mencoba membawa hati menghadap kepada satu kiblat yakni ka'bah hakiki. 

Apabila hati bathin dapat bersaksi yakni sujud kepada satu arah, dan satu kiblat, yakni Dzat Hakiki, maka kegelapan malam basyariah kemakhlukan jasad bisa difanakan dengan terangnya cahaya illahiyah, Nur warid,  yang bersaksi pada Dzat Yang Hakiki yang menjadi sumber sifat, Asma dan Afaal.

Maka saat itu gelap malam tersembunyi cahaya mentari siang yang bisa mensirnakan gelap malam. 

Satu saat saja terangnya mentari rohani bisa mengatasi kebingungan malam didisebab zhulumat jasmani. Itulah cahaya Lailatul Qadar.

Puasa adalah madrasah Ramadhan yg mentarbiyah hati agar menundukkan nafsu keakuan. Berhala terbesar yg menghijab keberadaan Allah dari hati insan. 

Antara jalan utama untuk mennyingkap hijab tersebut adalah: al maut al irady, "matikan kehendakmu dan tunduk sepenuhnya dengan kehendak Allah", Yakni dengan membuang rasa wujud diri... berhala ananiyah yakni keakuan. 

Malam lailatul qadar adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan dan kemuliaan. Seorang hamba yang sudah punya kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki. 

Syeikh Jamaluddin al-Khalwati (W. 1162 H) dalam kitabnya ta’wilat mengatakan, “Lailatul Qadar adalah malam pencapaian, dimana ia lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. 

Maka barang siapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.” Itulah syuhud... itulah makrifat, itulah CINTA HAKIKI.

Bagi para Sufi, mengejar peristiwa lailatul qadar bukan menjadi tujuan utama kerana bagaimanapun lailatul qadar hanya bahagian dari makhluk, sama dengan syurga yang juga makhluk. 

Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta lailatul qadar dan syurga. 

Apakah masih perlu lailatul qadar dan syurga bila telah berada di dalam ‘pelukan’ Sang Pencipta segalanya? Bagi Sufi yg sudah dimaqamnya, setiap saat itu Lailatul Qadar, bukan sekadar mengejar Lailatul Qadar setahun sekali.

Malam lailatul qadar adalah semua malam yang dilalui oleh seorang hamba dengan kekhusyu’an ibadah mendekatkan diri pada sang sang Khaliq.

Setiap saat adalah Lailatul Qadar bagi yang tahu dan yang mau.

Kenapa dicari yang setahun sekali? 

Hendaklah engkau wahai orang yang bertekad dan ingin menghidupkan serta menjangkau malam itu; singsingkanlah lengan bajumu untuk menghidupkan semua malam yang datang padamu dalam hidupmu. 

Karena ia (malam) tersembunyi di dalamnya (siang). 

Singkatnya, janganlah engkau alpa dari Allah dalam semua hal dan keadaanmu, agar semua malam menjadi kemuliaan yang lebih baik dibandingkan dunia dan segala isinya bagimu. 

Buka pakaian alam Nasut. Terbangkan rohanimu ke alam Lahut.

Lailatul qadar janganlah dimaknai dengan ukuran-ukuran Fisik dan Biologis, melainkan maknai lah dengan ukuran-ukuran spiritual.

Semua ciri kehadiran lailatul qadar: langit cerah tak berawan, terang benderang, udara terasa sejuk tapi tak membuat gigil hangat tapi membuat gerah, tak ada angin, pepohonan bersujud, suasana terasa sangat tenang, perasaan sangat nyaman” hanyalah peng-ibarat-an untuk menggambarkan kondisi spiritual orang yang tercerahkan.

Ada pun soal mengapa lailatul qadar dikaitkan dengan malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.  Karena, jika seseorang menjalani ibadah puasa dengan benar dan ikhlas, maka waktu 20 hari sudah cukup untuk menumbuhkan kesadaran pada seseorang akan hakikat eksistensi dirinya.

Ketika kesadaran akan hakikat eksistensi diri itu datang, maka orang tersebut akan menjadi pribadi yang tak lagi risau dengan imbalan (pahala) akan perbuatan baiknya. Ia berbuat baik semata-mata demi kebaikan itu sendiri. Ia beribadah  (ritual) bukan karena takut neraka melainkan karena ia tahu bahwa neraka itu ada di dalam dirinya sendiri.

Orang yang tercerahkan adalah orang yang tidak lagi dikendalikan oleh kegelapan bathin. Di dalam hatinya tidak ada lagi rasa iri, dendam, kebencian, dan kemarahan. Yang ada hanyalah pikiran positif terhadap segala sesuatu.

Itu sebabnya orang tercerahkan dikatakan sebagai yang terbebaskan. Terbebas dari segala pamrih dan nafsu rendah biologis lainnya.

Wallahualam...

Semoga bermanfaat.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.20), "Puasa adalah Kunci Memahami Energi Illahi dalam Diri"



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  


PUASA adalah momentum kita semua untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa tiada yang berkuasa dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah SWT

Hatinya bersaksi, bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala yang ada termasuk dirinya sendiri. 

Ybia Indonesia - Kekekalan ini terasa KETIKA KITA BERPUASA TIDAK MAKAN DAN MINUM, MENAHAN NAFSU MAKA YANG TERJADI ADALAH KUN FAYAKUN, ENERGI ILAHI YANG LUAR BIASA DAHSYAT AKAN MENGALIR DALAM DIRI KITA. Dengan syarat, puasa kita adalah puasa yang betul.

Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakan lah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. 

Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi Illahi muncul tiada terduga.

Itulah energi kekuatan yang keluar saat kita pasrah total. 

Tanpa pasrah total, kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi.


إِذْ يَقُولُ ٱلْمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

(Iż yaqụlul-munāfiqụna wallażīna fī qulụbihim maraḍun garra hā`ulā`i dīnuhum, wa may yatawakkal 'alallāhi fa innallāha 'azīzun ḥakīm)

"(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS Al-Anfal Ayat 49).

Energi ilahi merupakan energi yang berasal dari Tuhan yang Maha Suci dan terpelihara kesuciannya.

Energi Ilahi adalah energi dengan frekuensi yang super duper halus dan tajam dari dimensi ketuhanan atau anda juga boleh memanggilnya sebagai Energi Cinta Kasih Tuhan.

Energi Ilahi diakses melalui gerbang energi manusia yang dikenali sebagai Cakra Mahkota atau Crown Chakra. 

(Posisi pas di kepala / ubun-ubun).

Energi Ilahi sangat sesuai dan efektif digunakan dalam proses terapi/perawatan apapun jenis penyakit medik dan non-medik kerana sifatnya yang sangat halus dan tajam mampu menembus ke semua sel-sel tubuh serta semua lapisan tubuh aura semua kehidupan.

Selain itu, Energi Ilahi juga sangat penting dalam proses peningkatan kesadaran spiritual yaitu usaha mengenal hakikat diri, alam dan tuhan. 

Sesungguhnya, semua ritual agama dan pendakian spiritual tujuan sebenarnya adalah mencari jalan untuk mengakses Energi Ilahi.

Energi Illahi dapat dipergunakan untuk penyembuhan atau meningkatkan Imun Tubuh.

Sakit terjadi karena gangguan sirkulasi atau keseimbangan energy dalam tubuh. (Faktor keturunan, Faktor lingkungan, Faktor emosi)

Energi yang terhambat dapat berwujud trauma, rasa takut, amarah, rasa sedih dsb. Apabila hal tersebut tidak terselesaikan akan terjadi penumpukan energy dan terkunci dalam tubuh. 

Inilah yang akhirnya menyebabkan ketegangan, stress dan penyakit.

Seseorang menjadi sakit dapat disebabkan karena 3 macam :


- Terjadi penumpukan energy

- Terjadi penipisan energy

- Terjadi penyumbatan energy.


Solusinya adalah menetralisir gangguan tersebut

Alam semesta memiliki bio energy / energy hidup (chi) yang berlimpah ruah. 

Energi pagi, siang, sore malam memiliki karakteristik berbeda beda. Maka manfaatkan bioenergi ini.

Energi ilahi dari alam memiliki karakteristik sebagai berikut

- Endurance,  Daya tahan Stabil.

- Harmlessness Power, Tidak menyakiti.

- Sustaining Power, Mempunyai kekuatan tetap.

- Expansiveness, Sifat untuk berkembang.


Segala sesuatu di alam semesta ini terdiri dari energy yang mempunyai getaran frekwensi yang berbeda-beda. Dengan mengubah getaran frekwensi, kita akan dapat mengubah sifat partikel yang didefinisikan oleh getaran tadi.

Ketika electron bergetar maka seluruh alam semesta bergetar. 

Energi Illahi sangat cerdas, tanpa harus diarahkan. Semakin kita tidak ikut campur, semakin kuat energinya.

"Energi" tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. 

Hukum ini berlaku dalam seluruh aspek termasuk aspek kehidupan manusia. 

Aktivitas yang kita lakukan setiap hari merupakan perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. 

Contohnya, saat kita makan, kita mengubah energi kimia dari makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk bergerak dan berpikir. Energi tersebut tidak akan berubah saat kita diam.

Semua energi, hanya bisa diubah menjadi energi dalam bentuk lain misalnya energi gerak menjadi energi listrik seperti yang terjadi pada dinamo listrik. 

Dinamo berputar maka akan menghasilkan listrik. 

Atau sebaliknya yaitu energi listrik menjadi energi gerak seperti pada motor listrik.

Bahkan yang paling dahsyat yaitu perubahan energi menjadi masa seperti yang terjadi pada produksi pasangan yaitu ketika suatu energi yang besarnya minimal 1022 k eV mendekati medan inti akan bisa menjadi elektron dan positron (partikel bermasa).

Begitu juga sebaliknya perubahan masa menjadi energi bisa terjadi pada peristiwa anihilasi yaitu ketika elektron ketemu dengan positron, kedua materi tersebut saling meniadakan dan berubah ujud menjadi energi yang sebanding dengan masa dari kedua partikel tersebut.

Tuhan memang Maha Segalanya. Maha Pencipta, Maha Meniadakan, dan juga Maha Mengubah. 

Tuhan menciptakan alam semesta ini sekaligus hukum-hukum alam yang berlaku di dalamnya. 

Hukum-hukum alam yang diciptakan Tuhan ini kemudian dirumuskan oleh Archimedes, Newton, Schrodinger, Einstein dan lain-lain memang sudah satu paket dengan diciptakannya alam semesta sehingga dengan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi manusia dapat belajar.

Sayangnya, belum semua hukum alam itu berhasil dirumuskan oleh manusia. Misalnya teori penciptaan alam hingga saat ini belum bisa diterangkan dengan hukum kekekalan energi ataupun hukum kekekalan massa.

Teori itu belum bisa menjelaskan sebab terjadinya alam semesta ini. Seluruh alasan akan buntu ketika ditanya apa yang menjadi permulaan dari semua ini.

Tetapi bagi orang yang percaya bahwa ada kekuatan yang mampu menciptakan tanpa sebab akibat, maka itulah energi Ilahi yang mengatakan KUN FAYAKUN “Jadi maka Jadilah,” sumber awal mula energi di dunia ini.

Siapa yang mampu menciptakan dan juga mampu memusnahkan energi? hanyalah Allah SWT, Tuhan yang Maha Pencipta. Kita manusia adalah ciptaan-Nya yang tentu saja tidak mungkin meraih kekuasaan yang dimiliki oleh-Nya tanpa kehendak-NYA.

Andaikan misalnya manusia mampu menciptakan energi kemudian energi bisa diubah menjadi massa dan seterusnya, sehingga manusia dapat menciptakan tanah, menciptakan bumi menciptakan bintang dan sebagainya. Menurut logika manusia hal itu tidak mungkin.

Tetapi tentu kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan bahwa ini semua sudah diatur Tuhan tanpa berfikir bagaimana cara Tuhan mengatur alam ini. 

Semestinya kita berfikir bahwa Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia untuk memikirkan ciptaan-Nya. Kita juga bebas berfikir bagaimana cara Tuhan mengatur alam ini yang berjalan sesuai dengan aturan-aturan-Nya.

Mengenai teori yang sekarang belum dapat dijelaskan atau bahkan tidak dapat dijelaskan janganlah terburu-buru putus asa dengan mengatakan bahwa ini pasti harus ada yang ditambahkan dari ketiadaan, atau ini pasti harus dihilangkan agar sesuai dengan rumus matematis nya. 

Masih ada alternatif lain yang mungkin juga belum terpikirkan. 

Diantara hitam dan putih masih ada berjuta warna pilihan dan di antara kebuntuan hidup ini, untung ada bulan kemuliaan Ramadhan.

Puasa Ramadhan yang rata-rata terdiri dari 30 hari bisa dibagi menjadi tiga momentum. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga. 

✓ Pada 10 hari pertama kita mengoreksi diri dalam hal KESALAHAN OBYEKTIF mengenai makan dan minum. 

Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman dan yang benar adalah kita kuat dan segar karena LA HAULA WA LA QUWWATA ILA BIL-LAH. 

Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan NYA semata.

Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakan lah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. 

Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi kekuatan muncul tiada terduga… Itulah energi Ilahi yang keluar saat kita pasrah total. 

Tanpa pasrah total, ikhlas atau nrimo kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi. Maka pada saat puasa pula, biasanya merupakan saat terbaik untuk melakukan pemancaran energi Ilahi seperti mendoakan kesembuhan orang lain, kelancaran rezeki dan sebagainya.

Dan sesungguhnya energi Ilahi itu sudah tersimpan di dalam Kitab-NYA berupa ayat-ayat kauniah yang tergelar di alam semesta ini. Tinggal sekarang apakah kita mampu membuka kuncinya atau tidak? INNA QUWWATIH, NAKABAN NATAH KITABAN NATAH.. WA INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AN YAQULA LAHU KUN FAYAKUN.

✓ Pada 10 hari kedua yaitu hari kesebelas hingga hari kedua puluh bulan Ramadhan, kita koreksi kesalah pahaman mengenai pembuangan tenaga. 

Bahwa kita tidak lah membuang tenaga melainkan justeru kembali ke NAFSIN WAHIDATIN. 

Alastu birabbikum, kalu bala syahidna (QS 7:172) yaitu Janji Kawula Gusti.


وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

(Wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum wa asy-hadahum 'alā anfusihim, a lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ yaumal-qiyāmati innā kunnā 'an hāżā gāfilīn)

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". Surah Al-A'raf ayat 172.

✓ Dan yang the best of all terjadi pada 10 hari ketiga yaitu hari kedua puluh satu hingga selesai bulan Ramadhan yaitu saat terjadinya LAILATUL QADAR. Yaitu teraksesnya ENERGI ILAHI oleh kesadaran ruhani kita seperti 1000 energi cahaya bulan yang menjadi satu dalam satu momentum beserta kepastian Furqoni 82 tahun yaitu energi LA ILAHA ILAL-LAH.

Allah SWT yang menganugerahkan energi pada manusia agar dengan energi yang dimilikinya itu dia memiliki sedikit kuasa untuk berusaha dan berbuat. 

Namun perlu diingat bahwa kuasa dan upaya tersebut tentunya hanya “pinjaman” yang akan “kembali” kepada Yang Punya Kuasa.

Menyelami makna LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. 

Ungkapan tauhid ini mengandungi rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-NYA.

Kita makan dan minum untuk mencari sumber tenaga. Sumber tenaga dari makan dan minuman yang kita konsumsi sesungguhnya berasal dari tanaman, tumbuhan dan hewan. 

Mereka mendapat energi dari rantai makanan lain begitu seterusnya hingga akhirnya bermuara pada satu sumber energi yang tidak berasal dari sumber energi lain, yaitu Energi Ilahi.

Mereka yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahwa manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah SWT. Maka, dia merasa harus menghambakan dirinya dan memilih untuk mentaati-Nya.

Tidak mudah untuk menemukan rumusan rahasia ini. Kita bisa berteori namun umumnya belum sampai pada pemahaman yang sesungguhnya. Mata, telinga dan hati kita masih terhijab dan hakikat hukum kekekalan energi Allah SWT belum mampu kita temukan. 

Kita masih menganggap bahwa yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya.

Kita yang lalai itu terhijab dengan perbuatan Allah (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al) sehingga gagal menghayati makna sebenar wujud seluruh makhluk. 

Kita terhijab dalam kepompong hukum sebab akibat sehingga tidak dapat menghayati konsep qudrat (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kita sebagai berikut: 

KUNCI SEBENARNYA MENGAKSES ENERGI ILAHI YAITU MENGAKUI KEKUASAAN ALLAH SWT DENGAN CARA MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HADAPAN-NYA, SEBAGAIMANA MUSA AS YANG TERSUNGKUR DI BUKIT SINAI. ATAU BERSUJUDNYA SEORANG MUSLIM DENGAN SUNGGUH SUNGGUH SUJUD SAAT SHOLAT. 

KEYAKINAN INI JIKA DITERJEMAHKAN DALAM DIRI SESEORANG MAKA DIA AKAN MENGHADAPI KEHIDUPAN INI DENGAN PENUH KEPASRAHAN, NRIMO, IKHLAS, KETERGANTUNGAN HATI HANYA KEPADA-NYA TANPA RASA KEBIMBANGAN SEDIKITPUN.

Apa yang dia laksanakan adalah apa yang dituntut oleh Allah. Mereka tidak perlu risau soal hasil karena sudah ada jaminan kepastian atas dirinya. Namun, tatkala mengetahui bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun tidak bermalas-malasan dan sebaliknya akan “berusaha” sekeras mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Allah menugaskan agar kita berusaha dalam rangka menunaikan tugas penghambaan diri. Usaha yang kita lakukan sebenarnya telah diperintahkan oleh Allah dan ini kita lakukan dalam rangka penyempurnaan ibadah. 

Kita dilarang keras jadi pemalas! Karena kewajiban kita adalah melaksanakan ibadah khusus (syahadat, sholat, zakat, puasa dan sebagainya) dan ibadah umum (mencari rezeki, beramal kebajikan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, melestarikan alam sekitar dan sebagainya).

ENERGI ILAHI YANG KEKAL ABADI:

Ada satu fenomena yang bila kita memikirkannya kita akan menyebut ALLAHU AKBAR.. aneh tapi nyata, yaitu tentang cahaya. 

Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan: “Allah adalah cahaya langit dan bumi:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

(Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun 'alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in 'alīm).

 "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu ada di dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di timur atau di barat. Yang minyaknya hampir menyala dengan sendirinya walaupun tiada api menyentuhnya. 

Cahaya di atas Cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-NYA, siapa saja yang ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segalanya.”

Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.

Ada anggapan sementara kaum ilmuwan di dalam Teori Einstein bahwa cahaya akan kehilangan energinya ketika meninggalkan medan gravitasi yaitu dengan bergeser warnanya ke arah warna merah dengan panjang gelombang yang lebih panjang. 

Yang dimaksud kehilangan energinya adalah bukan dalam artian benar-benar hilang, tetapi energinya berkurang dengan mentransferkan energinya menjadi bentuk yang lain.

Cahaya ketika meninggalkan gravitasi (meninggalkan bumi) akan dibelokan dan terurai karena adanya perbedaan tekanan udara, seperti halnya cahaya ketika dilewatkan pada sebuah prisma. Disini tidak ada energi yang hilang.

Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift.

Tetapi jangan buru-buru mengatakan bahwa cahaya tersebut kehilangan energi. Untuk hal yang seperti ini (dalam orde cahaya) kita harus menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.

Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. 

Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam dibumi, hasil yang tampak adalah akan memperlihatkan bahwa hasil pengukuran mereka berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.

Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.

Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. 

Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa molor tergantung dari posisi pengamatnya. Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.

Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 10^8 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisi kan. 

Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.

Barangkali itu sebabnya, Allah SWT membuat perumpamaan dirinya dengan Cahaya Maha Cahaya, Sebab cahaya-NYA tidak pernah kehabisan energi dimana pun dan sampai kapanpun. 

Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. 

Mari kita berproses bersama menuju kesempurnaan… Selamat berpuasa Ramadhan.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag.17), "Nuzulul Qur'an"

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Al-Quran, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, adalah mukjizat yang tiada tanding. Ditinjau dari keindahan kalimatnya, ia memiliki ketinggian nilai sastra yang tiada tara kandungan, isinya pun sangat beragam mencakup seluruh aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan, baik fisik maupun metafisika. 

Ybia Indonesia - Tak seorang pun yang dapat membuat kitab yang menyamai atau menandingi Al-Quran, sebagaimana firman Allah dalam surah Bani Israil (Surat Al-Isra) Ayat 88:


قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا


Qul la`inijtama'atil-insu wal-jinnu 'alā ay ya`tụ bimiṡli hāżal-qur`āni lā ya`tụna bimiṡlihī walau kāna ba'ḍuhum liba'ḍin ẓahīrā

 Artinya: "Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat (kitab) serupa Al-Quran, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, biarpun sebagian dari mereka membantu sebagian (yang lain)."

Al Quran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam.

Al Quran adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, 14 abad yang silam. 

Turunnya wahyu pertama merupakan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal dalam penyebaran ajaran Islam oleh Muhammad SAW kepada seluruh alam. Peristiwa ini merupakan tonggak kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam penyebaran ajaran Islam. Ketika pada masa itu, kondisi masyarakat suku Qurais benar-benar dalam keadaan kejahiliyahan.

Salah satu kebiasaan baginda Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah melakukan tahannust (menyepi) atau Berkhalwat, semacam kegiatan personal melakukan renungan total tentang kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya, merefleksikan zamannya yang menghinakan akal sehat yang kemudian disebut jahiliah.

Nyaris kejahiliahan itu menimpa semua sektor kehidupan. Ekonomi dikelola hanya tertumpu pada semangat mengejar keuntungan belaka dengan cara licik; sosial dijangkarkan pada sentimen perkauman yang sempit dan sering kali berkobar menjadi gelaran konflik berdarah (safak ad-dima') walaupun pemantiknya hanya persoalan sepele. 

Politik benar-benar dengan sempurna menerapkan prinsip menghalalkan segala cara, sedangkan kebudayaan diacukan pada haluan hanya melulu menjadikan materi sebagai daulat utama.

Tentu saja kedudukan perempuan sama sekali berada di titik nadir bahkan kelahirannya dianggap aib bagi keluarga sehingga harus lekas dikubur hidup-hidup. 

Dalam sistem keyakinan lebih parah lagi.Kemusyirakan, penyembahan berhala, dll terjadi dimana-mana.

Tempat favorit sang nabi dalam melakukan tahannuts (menyepi) itu adalah sebuah gua yang berada di tebing Gunung Nur (Jabal Nur). Kurang lebih 5 km arah utara dari Masjidil Haram.

Di gua itu Nabi bertafakur, mengosongkan hati, menyatukan sukma dengan Yang Mahakuasa, sekaligus menyampaikan seluruh keresahan jiwanya, mengadukan persoalan sosial yang menimpa masyarakatnya.

Gua yang menjadi situs rohaniah yang menggambarkan bagaimana Muhammad SAW seorang diri mewafakan tubuhnya demi melakukan transformasi Spiritual dan sosial. 

Naik ke gunung batu bukan hal mudah, sekali terpeleset yang menjadi pertaruhannya ialah nyawanya sendiri. 

Dalam musim terik menyengat (Ramadan artinya adalah cuaca yang membakar), kaki itu menaiki batu demi batu menuju puncak Hira, menyendiri, dan larut dalam hening yang menggetarkan, dalam munajat sepi yang tak ditemani satu orang pun. Hanya dirinya dan Tuhan. Tanpa arahan wahyu kecuali mengikuti rute suara hatinya yang bening.

Tepat pada 17 Ramadan itulah, hijab terbuka. Tuhan mengutus Jibril menyampaikan firman-Nya. 

Dahsyatnya ternyata ayat yang pertama kali turun ialah gelora agar sang Nabi itu pandai membaca. Iqra, bacalah. Bismi rabbik, atas nama Tuhanmu. 


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

(iqra` bismi rabbikallażī khalaq)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan".


خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

(khalaqal-insāna min 'alaq)

"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".


اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

(iqra` wa rabbukal-akram)

"Bacalah, dan Tuhanmu Lah Yang Maha Mulia'.


الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

(allażī 'allama bil-qalam)

"Yang mengajar (manusia) dengan pena".


عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

('allamal-insāna mā lam ya'lam)

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya". (surat Al Alaq 1-5)

Seruan-Nya yang pertama bukan perintah haji berkali-kali atau umrah berulang kali, bukan pula puasa dan shalat dalam hitungan tak terbilang dan apalagi kewajiban menegakkan syariat, tapi keniscayaan agar terampil membaca.

Dalam peradaban mana pun juga 'membaca' adalah sebuah metafora dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan. Iqra merupakan simbol keharusan menyiapkan sumber daya insani. 

Tanpa etos iqra, perubahan sosial yang dibayangkan tidak akan pernah terwujud. 

Iqra yang menjadi sumbu kebudayaan itu memiliki rohnya yang berwibawa. 

Seolah Tuhan hendak mengatakan bahwa kejahiliahan itu bermula karena absennya kerja iqra dan atau membaca itu dilakukan tapi sama sekali tidak melibatkan nilai-nilai ketuhanan, tidak bismi rabbik.

Pengalaman spiritual itu tentu saja sangat mengguncang dirinya. 

Di sebuah gua, di tepi gunung berbatu, tiba-tiba hadir makhluk asing dengan perintahnya yang juga asing. 

Menjadi beralasan sekembali ke rumahnya, istrinya disuruhnya untuk lekas menyelimutinya. Justru ketika selimut sudah menutupi sekujur tubuhnya, Tuhan kembali datang dengan firman susulannya, "Wahai yang berselimut bangun, dan peringatkan. 

Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, lepaskan dirimu dari perbuatan keji."

Konteks turunnya Alquran seperti itu menarik kita renungkan. Keharusan 'membaca' dan 'membuang selimut' inilah yang tidak hadir dalam kesadaran umat Islam hari ini, dari batang tubuh bangsa kita sekarang. 

Padahal, yang menjadi energi umat Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad pertengahan sehingga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Ibnu Sina, al-Kindi, Al-farabi, al-Khawarizmi, Ibnu Rusydi, yang kemudian mengilhami kebangkitan dunia Barat yang sedang berada dalam limbo kemunduran ialah semangat membaca itu.

Seandainya membaca melambangkan etos ilmiah, 'menyingkirkan selimut' ialah etik imperatifnya. 

Wahai yang berselimut kebodohan, singkirkan lah dan bangunlah lembaga pendidikan bermutu. 

Wahai yang berselimut kefakiran, singkirkan sikap malas dan serius lah menggumuli persoalan ekonomi. 

Wahai yang berselimut kerakusan, singkirkan dan tumbuhkan kedermawanan. Wahai yang berselimut politik kecurangan, singkirkan dan tancapkan nilai-nilai politik luhur yang menjunjung tinggi keutamaan dan kemanusiaan.

Kalau kita simak, nyaris sepanjang Nabi Muhammad SAW meniti tugas kenabian, perhatian dan kebijakan yang diambil selalu diorientasikan untuk sektor pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan. 

Kita baca dalam sekian hadisnya, bagaimana laki-laki dan perempuan dibebani kewajiban mencari ilmu. 

Belajar sepanjang hayat dipromiskannya setiap saat, carilah ilmu dari mulai buaian bunda sampai lubang kubur. Malah tatkala dalam sebuah pertempuran mendapatkan tawanan, tawanan itu bisa bebas hanya dengan dua opsi: √pertama, menebusnya dengan sejumlah uang dan uang itu wajib masuk kas negara yang dikhususkan bagi dunia pendidikan. 

Dan kedua, apabila tawanan itu kategorinya miskin, dia wajib menularkan keterampilan baca tulisnya kepada anak-anak muslim yang masih buta aksara.

Tentu saja kalau kita membaca Alquran akan dengan mudah menemukan ayat-ayat lainnya yang senapas dengan iqra.

Al-Quran ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. 

Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. 

Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam. 

Seandainya kita sampai pada kesadaran 'aku berpikir maka aku ada' sebagai penanda modernisme-rasionalisme, dalam jalur yang sama Nabi SAW menyerukan agama itu adalah akal, tidak beragama mereka yang tidak pernah menggunakan akalnya. Ad-dinu huwa al-aqlu li dina li man la aqla lahu.

Inilah yang kemudian disimpulkan Soekarno dalam Surat-Surat dari Ende bahwa Islam itu adalah agama berkemajuan, Islam is progress. 

Bung Karno menyebutkan ciri kemajuan itu ialah penghargaan terhadap rasio, terhadap nilai-nilai modernitas. 

Islam yang benar yang disebutnya sebagai 'api Islam' ialah Islam yang belum terbenam dalam lumpur sikap taklid dan tahayul, Islam yang sigap berdialog dengan roh zaman, menjadi pandu bagi langkah-langkah perubahan sosial termasuk bisa membebaskan umatnya dari sekapan kolonialisasi dan kolonialisme.

 Merenungkan Nuzul Quran ialah mengingat kembali sesuatu yang hilang dalam diri umat Islam: pentingnya ilmu pengetahuan. 

Atau dalam istilah #kaP, kita harus menghentikan Islam mitologis dan ideologis dan kita harus mulai bergeser masuk ranah Islam epistemologis.

Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi “theory of knowledge.

Beberapa pendapat bahwa epistemologi adalah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi itu.

Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kebenaran pengetahuan. 

Jadi objek material dari epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.

Sedangkan psikologi sufistik yaitu suatu cabang kajian saintifik yang mengkaji, mempelajari dan meneliti perilaku pengalaman spiritual para sufi ketika berinteraksi dengan Rabb-nya, yaitu Allah SWT serta bagaimana pengaruhnya terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan disekitarnya.

Epistemologi telah menjadi perhatian utama para cendekiawan Islam yang berusaha bergulat dengan Integrasi Pengetahuan. 

Para Cendekiawan menekankan bahwa Alquran dan pengajaran Nabi Muhammad SAW adalah epistemologi Ilmu Islam itu sendiri karena keduanya mengandung prinsip-prinsip dasar untuk Filsafat Islam sebagai serta ilmu-ilmu lainnya.

Islam merevolusi pemikiran manusia dan karena itu ada banyak dalam Al-Quran dan dalam ajaran Nabi Suci (SAW) yang merupakan bahan sumber untuk Filsafat Islam dan epistemologi. 

Dengan lahirnya Islam ada juga kelahiran berbagai cabang Pengetahuan dan Filsafat Islam adalah salah satu cabang paling penting.

Alasan yang mendasari mengapa Al-Quran telah menjadi sumber epistemologi dalam Islam sejak diturunkan ke Utusan Allah yang terakhir adalah bahwa ada banyak ayat dalam Al-Quran yang sangat mendorong umat Islam dan semua manusia untuk mengejar tanpa henti, belajar tak kenal lelah, keberanian intelektual dan fenomena alam lainnya.

Kategori-kategori yang digunakan dalam Al-Qur'an tentang dasar epistemologi Islam, telah menggunakan berbagai kategori seperti Tadabbur untuk menekankan pada pemahaman Al-Quran secara mendalam, Tafaquh untuk memahami semangat keagamaan di balik perintah din di Dengan cara yang mencakup, Tafakur untuk mempelajari sifat alam semesta dan berbagai fenomena secara ilmiah, Taaqul untuk merenungkan pengertian akal sehat yang memiliki implikasi moral dan spiritual yang lebih dalam bagi nasib manusia, dan akhirnya 'Ilm dan Hikmah untuk mengarahkan pikiran manusia ke tingkat tertinggi puncak pengetahuan dan keunggulan kognitif dan persuasif, mencakup semua kontur dan cakrawala sains dan teknologi. 

Epistemologi Islam, dengan demikian, adalah subjek yang luas dan tersebar di teori-teori pengetahuan yang diprakarsai di bawah bimbingan Al-Quran dan perlindungan Nabi (SAW).

Visi Al-Qur'an tentang alam semesta dalam pembentukan paradigma epistemologis Islam, Al-Quran dan Sunnah telah memberikan dorongan dan menjadikan subjek ini sangat maju dan berkembang.

Bahwa hubungan antara Islam dan bahasa Arab sangat dekat sejak wahyu Al-Quran dalam bahasa Arab, dan dengan demikian ajaran dan prinsip-prinsipnya juga disampaikan dan diajarkan kepada para sahabat nabi dalam bahasa Arab. 

Mengingat pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa utama di mana epistemologi Islam diperkuat dan dipertahankan hingga saat ini, Islam dan bahasa Arab yang dianggap kaya telah saling menguatkan.

Tiga langkah yang harus diselesaikan dalam mengislamkan pengetahuan, sebagai berikut: 

(1) semua ilmu sosial dan manusia dari Barat harus diperiksa secara kritis dan kelemahan dan kekurangannya harus ditunjukkan. di luar. Elemen-elemen yang bertentangan dengan ideologi kita juga harus ditunjukkan.

(2) sisanya harus dikodekan ulang dan dinyatakan kembali agar sepenuhnya sesuai dengan tradisi intelektual kita.

(3) itu harus diintegrasikan dengan literatur klasik kita pada subjek sehingga, di satu sisi, eksperimen intelektual dan penemuan dunia modern sepenuhnya dan sesuai digunakan, dan di sisi lain, ilmu tradisional kita juga direvitalisasi dan dihidupkan kembali.


Semoga bermanfaat...

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator / Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).