Spirit Ramadhan 1444 H 2023 (Bag. 25), "Pencerahan Spiritual Malam 1000 Bulan"

Tidak ada komentar




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ybia Indonesia - Puncak spiritual bulan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Kita selama menjalani ibadah puasa paling tidak sudah berbuat sesuatu hingga bisa hadir sebagai seorang tamu di malam Lailatul Qadar. 

Berpuasa, mengekang hawa nafsu, berzikir kepada Allah, memperbanyak doa, dan memperbanyak membaca al-Quran, semua ini merupakan persiapan sehingga pada malam Lailatul Qadar kita bisa menghadirinya sebagai seorang tamu dalam jamuan rahmat Allah. 

Selama perjamuan itu, kita harus bertaubat, bertekad untuk kembali, dan beristighfar, kita harus memohon rahmat dari Allah, meminta kebahagiaan untuk diri kita, untuk saudara-saudara seiman, untuk kaum Muslim, (dan hal yang lebih penting) kita harus memohon perbaikan diri.

Menghidupkan malam Lailatul Qadar akan bermakna ketika manusia benar-benar tersadar di malam itu, yakni memiliki kehidupan spiritual dengan cara mengingat Allah Swt. Manusia dianggap hidup ketika hati mereka senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi. 

Malam Lailatul Qadar merupakan sebuah kesempatan untuk mengingat Allah sepanjang malam, menyatakan taubat, dan memohon ampunan.

Lailatul-qadar adalah satu momen yang sangat dinantikan kedatangannya oleh umat Islam pada setiap bulan Ramadan. 

Secara harfiah, Lailatul-qadar berarti malam penentuan atau malam kepastian. 

Jika kata qadr  dipahami sebagai sama asalnya  dengan kata takdir. Akan tetapi, ada juga yang mengartikan lailatul-qadar dengan malam kemaha-kuasaan, yakni kemaha-kuasaan Allah.

Jika kata qadr dipahami sebagai sama asalnya dengan al-Qadir, yang artinya Yang Mahakuasa, yakni salah satu sifat Allah. Alquran juga menyebutnya dengan lailatun-mubaraqah,  malam penuh berkah, penuh hikmah.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

(innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn)

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan".

Surat Ad Dukhan, ayat 3

Secara literal Lailatul Qadr (LQ) berasal dari dua kata, yaitu lailah dan qadr.  

Lailah dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang (nahar).

Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, kesepian, keheningan, kesyahduan, kerinduan, dan kedamaian.

Ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Ilahi, dan kedalaman cinta (mahabbah).

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan keliru, yang kemudian amat disesalinya. 

Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. 

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas.

Berangkat dari kesadaran itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. 

Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. 

Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. 

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang.

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. 

Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. 

Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan..

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. 

Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). 

Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Termasuk didalamnya memiliki rasa empati terhadap sesama.

Jika kesadaran Spiritual ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

 (Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr).

Lailatul qadar adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. 

Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar.

Ketika nilai-nilai keilahian telah mengejawantah dalam perangai seseorang, pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.

Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. 

Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak ternilai.

Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini.

Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. 

Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.

Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, ia tak akan melakukan apa pun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. 

Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya.

Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama. Ataupun dengan agama tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.

Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apa pun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga.

Lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhan-nya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.

Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang.

Tak akan ada lagi kekerasan, tak akan ada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.

Membicarakan lailatul qadar dalam diskursus metafisika justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosial kemasyarakatan kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. 

Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.

Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. 

Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah bersholawat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. 

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab, malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. 

Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

 Bercermin dari pengalaman nabi Saw tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti Lailatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil kemasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan dan budaya kehidupan kita yang lebih baik. 

Lebih dari itu Lailatul qadar adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. 

Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat, sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaiki dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani.

Manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki perilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan ini, menuju individu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Semoga kita semua menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan.

Semoga bermanfaat


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Tidak ada komentar

Posting Komentar