Spirit Ramadhan 1444 H /2023 (Bag.21), "Lailatul Qadar dalam Perspektif Sufistik (Spiritualitas)

Tidak ada komentar


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Ybia Indonesia - Salah satu momen yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa adalah adanya Lailatul Qadar. Disebutkan dalam surat al-Qadr, bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan.


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

innā anzalnāhu fī lailatil-qadr


وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

wa mā adrāka mā lailatul-qadr


لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

lailatul-qadri khairum min alfi syahr


تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr


Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

@Surah al-Qadr, Ayat 1-5

Lailatul qadr adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu, berupa vibrasi (getaran) spiritual.

Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. 

Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih Sayang. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. 

Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, "Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu".

Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

Kalau kita shalat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. 

Padahal dalam ibadah khusus, yaitu shalat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. 

Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. "Dengan begitu, salatnya punya bekas".

Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

"Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan". 

Orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. 

Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan. 

Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

Bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan dan Kesadaran Spiritual.

Barang siapa melakukan kebaikan pada malam ini (Lailatul Qadar), diyakini nilainya lebih besar daripada melakukannya selama seribu bulan. 

Sayangnya, Allah dan Rasul tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan datangnya momen akbar ini. 

Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. Dalam satu hadits Rasul pernah menganjurkan untuk mengintip Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tetapi dalam kesempatan lain, rasul juga pernah mengatakan pada tujuh malam terakhir. 

Di sisi lain, para sahabat juga memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan Lailatul Qadar . Begitupun para ulama juga bersilang pendapat tentang waktu datangnya Lailatul Qadar.

Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar pada dasarnya adalah pengalaman spiritual yang sifatnya sangat pribadi. Masing-masing orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Pengalaman spiritual yang dirasakan satu sama lain juga berbeda-beda. 

Jika kemudian Rasul menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, itu berdasarkan pengalaman pribadi Rasul atau informasi dari beberapa sahabat. 

Demikian halnya, dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar dipandang oleh para sufi sebagai karunia spiritual tertinggi yang dicapai seseorang. Pada malam itu cahaya illahi turun menghampiri dan menyatu dengan jiwa-jiwa hamba. 

Momen inilah, yang oleh Ibnu ‘Arabi, seorang sufi dan filsuf besar, disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. 

Menurutnya, seribu bulan bukanlah hitungan angka, melainkan simbol untuk menjelaskan karunia Allah yang tak terhingga. 

Kata seribu di sana lebih bersifat kualitatif yang menggambarkan tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya. 

Artinya, momen ketika jiwa hamba menyatu dengan cahaya Tuhannya adalah momen yang tak terperi sekaligus karunia yang tak terhingga. 

Menyatu dengan cahaya Allah yang tak terbatas, tentu memberikan pengalaman yang tak terbatas pula. 

Kebersatuan cahaya ilahi dan jiwa pada saat Lailatul Qadar itulah yang selanjutnya diharapkan dapat mengejawantah dalam kepribadian dan perilaku keseharian.

Manusia yang dalam jiwanya bersemayam cahaya ilahi, pasti tidak akan menampakkan perilaku kecuali sesuai dengan nilai-nilai ilahi. 

Ringkasnya, Lailatul Qadar adalah sebuah proses spiritual, dan oleh karenanya tidak akan cukup digambarkan dengan kata-kata. Dan setiap proses spiritual yang dialami manusia akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan kepribadiannya. 

Maka, jika ibadah di malam-malam Ramadhan tidak mampu merubah perilaku kita, berarti Lailatul Qadar  tidak pernah benar-benar mendatangi kita. 

Tidaklah tersembunyi bagi orang-orang yang telah mendapat anugerah Allah swt apabila mereka mensucikan hati mereka dari pengaruh kemakhlukan dari nafsu buas Ghodobiyah (nafsu bersifat binatang buas) dan meningkat dari satu maqam kerendahan basyariah kemakhlukan dengan bertaraqqi ke maqam yang lebih tinggi lagi mulia dan lalu mencapai kasyf atas rahasia-rahasia penurunan Kitab-kitab Suci dan pengutusan para rasul; yaitu orang-orang yang mendapat taufik untuk melihat dan mengetahui rahasia hakikat Keesaan Dzat Ilahiyah pada lembaran-lembaran keberbilangan (martabat wujud-wujud ini) yang fana dalam batas dan hitungan.

Bahwa berbagai ketetapan yang terjaga di dalam Loh Qadha dan berbagai bentuk yang ditetapkan di dalam hadhrah Ilmu dan Pena al-A'la, sesungguhnya ia ada di dalam Alam Ama` yang ghaib yang disebut Lailah al-Qadr (Malam Kemuliaan). 

Karena malam itu tersembunyi di dalamnya ada siang yang mataharinya tak pernah tenggelam.

Puasa mempunyai banyak rahasia yg bisa membawa si salik (pejalan spiritual) untuk menaiki maqam rohani yang lebih tinggi. 

Puasa adalah medan peperangan bagi menghadapi musuh tersembunyi didalam diri kita. Musuh luar sudah dibelenggu bagi menghadapi musuh nafsu yang jauh lebih kuat dan bahaya.

Rasulullah Saw. bersabda:

Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di badanmu.”  (HR. at-Tirmidzi).

Nafsu itu lebih jahat daripada 70 syaitan.” (Al-Hadits).

Imam Al-Ghazali berkata: "Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kejahatan itu lebih memusuhimu daripada iblis. 

Nabi bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka dan diikat syaitan-syaitan.”

Maka di bulan Ramadhan, roh dihadapkan musuhnya yang menghijab diri insan dari Tuhannya, yakni nafsunya. 

Nafsu suka menghadap wajah kepada selain Allah swt,  sedang roh mencoba membawa hati menghadap kepada satu kiblat yakni ka'bah hakiki. 

Apabila hati bathin dapat bersaksi yakni sujud kepada satu arah, dan satu kiblat, yakni Dzat Hakiki, maka kegelapan malam basyariah kemakhlukan jasad bisa difanakan dengan terangnya cahaya illahiyah, Nur warid,  yang bersaksi pada Dzat Yang Hakiki yang menjadi sumber sifat, Asma dan Afaal.

Maka saat itu gelap malam tersembunyi cahaya mentari siang yang bisa mensirnakan gelap malam. 

Satu saat saja terangnya mentari rohani bisa mengatasi kebingungan malam didisebab zhulumat jasmani. Itulah cahaya Lailatul Qadar.

Puasa adalah madrasah Ramadhan yg mentarbiyah hati agar menundukkan nafsu keakuan. Berhala terbesar yg menghijab keberadaan Allah dari hati insan. 

Antara jalan utama untuk mennyingkap hijab tersebut adalah: al maut al irady, "matikan kehendakmu dan tunduk sepenuhnya dengan kehendak Allah", Yakni dengan membuang rasa wujud diri... berhala ananiyah yakni keakuan. 

Malam lailatul qadar adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan dan kemuliaan. Seorang hamba yang sudah punya kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki. 

Syeikh Jamaluddin al-Khalwati (W. 1162 H) dalam kitabnya ta’wilat mengatakan, “Lailatul Qadar adalah malam pencapaian, dimana ia lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. 

Maka barang siapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.” Itulah syuhud... itulah makrifat, itulah CINTA HAKIKI.

Bagi para Sufi, mengejar peristiwa lailatul qadar bukan menjadi tujuan utama kerana bagaimanapun lailatul qadar hanya bahagian dari makhluk, sama dengan syurga yang juga makhluk. 

Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta lailatul qadar dan syurga. 

Apakah masih perlu lailatul qadar dan syurga bila telah berada di dalam ‘pelukan’ Sang Pencipta segalanya? Bagi Sufi yg sudah dimaqamnya, setiap saat itu Lailatul Qadar, bukan sekadar mengejar Lailatul Qadar setahun sekali.

Malam lailatul qadar adalah semua malam yang dilalui oleh seorang hamba dengan kekhusyu’an ibadah mendekatkan diri pada sang sang Khaliq.

Setiap saat adalah Lailatul Qadar bagi yang tahu dan yang mau.

Kenapa dicari yang setahun sekali? 

Hendaklah engkau wahai orang yang bertekad dan ingin menghidupkan serta menjangkau malam itu; singsingkanlah lengan bajumu untuk menghidupkan semua malam yang datang padamu dalam hidupmu. 

Karena ia (malam) tersembunyi di dalamnya (siang). 

Singkatnya, janganlah engkau alpa dari Allah dalam semua hal dan keadaanmu, agar semua malam menjadi kemuliaan yang lebih baik dibandingkan dunia dan segala isinya bagimu. 

Buka pakaian alam Nasut. Terbangkan rohanimu ke alam Lahut.

Lailatul qadar janganlah dimaknai dengan ukuran-ukuran Fisik dan Biologis, melainkan maknai lah dengan ukuran-ukuran spiritual.

Semua ciri kehadiran lailatul qadar: langit cerah tak berawan, terang benderang, udara terasa sejuk tapi tak membuat gigil hangat tapi membuat gerah, tak ada angin, pepohonan bersujud, suasana terasa sangat tenang, perasaan sangat nyaman” hanyalah peng-ibarat-an untuk menggambarkan kondisi spiritual orang yang tercerahkan.

Ada pun soal mengapa lailatul qadar dikaitkan dengan malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.  Karena, jika seseorang menjalani ibadah puasa dengan benar dan ikhlas, maka waktu 20 hari sudah cukup untuk menumbuhkan kesadaran pada seseorang akan hakikat eksistensi dirinya.

Ketika kesadaran akan hakikat eksistensi diri itu datang, maka orang tersebut akan menjadi pribadi yang tak lagi risau dengan imbalan (pahala) akan perbuatan baiknya. Ia berbuat baik semata-mata demi kebaikan itu sendiri. Ia beribadah  (ritual) bukan karena takut neraka melainkan karena ia tahu bahwa neraka itu ada di dalam dirinya sendiri.

Orang yang tercerahkan adalah orang yang tidak lagi dikendalikan oleh kegelapan bathin. Di dalam hatinya tidak ada lagi rasa iri, dendam, kebencian, dan kemarahan. Yang ada hanyalah pikiran positif terhadap segala sesuatu.

Itu sebabnya orang tercerahkan dikatakan sebagai yang terbebaskan. Terbebas dari segala pamrih dan nafsu rendah biologis lainnya.

Wallahualam...

Semoga bermanfaat.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.


ki alit Pranakarya 

Inisiator/Penggagas & Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Tidak ada komentar

Posting Komentar