Spirit Ramadhan 1444 H/2023 (Bag. 22), "Puasa Sarana Latihan Meraih Wushul"

Tidak ada komentar


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


"Seseorang dianggap wushul jika telah menempuh perjalanan panjang untuk proses penjernihan hati (tazkiah). 

Rajin melakukan PUASA yang dibarengi dengan senantiasa berzikir kepada Allah, adalah cara yang tepat untuk proses Penjernihan hati (Tazkiah)"


Ybia Indonesia - Usaha untuk mencapai kejernihan hati melalui PUASA dan Dzikurllah tersebut, membuatnya bersih dari kabut-kabut yang menghalangi untuk sampai pada Allah. Kabut-kabut syahwat yang bersarang di hatinya telah sirna oleh rasa yang begitu dahsyat sebagai proses penjernihan hati tadi.

Wushul adalah sampai. Wushul ilaallah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan orang yang sudah wushul tersebut telah benar-benar yakin akan adanya Allah. 

Hal ini berbeda dengan penglihatan mata secara dhahir, Wushul ini merupakan pengalaman kerohanian bukan secara nyata seperti halnya Nabi Musa yang secara jasmani takkan mampu  melihat Alllah, tetapi pingsannya Nabi Musa adalah tanda bahwa ruhaninya melihat Allah. 

Terkait Wushul Setiap insan mempunyai potensi untuk wushul kepada Allah sesuai yang Dikehendakinya, hal itu bisa dilalui melalui rajin berpuasa dan berzikir, dan tentunya tak kalah pentingnya melalui bimbingan seorang guru, berthariqot dan lain-lain.

Allah merupakan Pencipta (khalik) dan manusia adalah makhluk. Manusia bisa tersambung dengan Allah ketika ia telah mengenal-Nya, bahkan lebih dari mengenal dirinya sendiri. Inilah yang dinamakan proses wushul (bersambung dengan Allah). 

Wushul seorang hamba kondisi di mana hamba tersebut mengenal Allah SWT, bukan bersambungnya dua dzat yaitu khalik dan makhluk.

 “Wushul (bersambung dengan Allah) itu bukan bersambungnya dua dzat, tetapi kita mengenal-Nya,” 

Dalam kondisi tersebut, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada, selain Allah SWT. Sebab, menurutnya, mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, dia akan tersambung dengan yang lainnya. 

“Begitu kita raih wushul segalanya tiada, hanya Dia yang Ada. Mustahil sesuatu yang tersambung dengan Allah, Allah akan sambung dengan sesuatu,” 

Mendekat kepada Allah (taqarrub) bukan imajinasi dekat jarak dan waktu. Jika pemahamannya seperti itu, maka manusia akan gagal paham dengan taqarrub. “Kedekatan (alqurb) adalah kesadaran penuh bahwa kapan, dimana pun dan dalam situasi apa pun, Allah lebih dekat dibanding dirimu sendiri.

IBNU Athaillah mengatakan, "Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain hanya derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya.

Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai kemaqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut)."

Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan 'Tidak mampu' yaitu, manakala muncul setelah ia fana secara hakiki, bukan 'tak mampu' secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang 'arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidak berdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.

Maka bisa ditampakkan, bahwa:

Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.

Orang bodoh selalu berkhayal, orang arif selalu meraih kefahaman.

Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.

Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan rohani maknawinya.

Seseorang dalam perjalanan rohaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman rohaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.

Banyak para penempuh bangga dengan pengalaman rohaninya, lalu ia mandeg dalam kepuasan dirinya, dan ketakjubannya.

Banyak para penempuh yang mengungkapkan kedalaman batinnya, lalu ia kehilangan keikhlasannya.

Banyak para penempuh yang gembira dengan capaian hakikatnya, padahal ia baru tahap proses awal perjalanannya.

Karena itu, benarlah ungkapan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs, "Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacat mereka.

Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:

- Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh

- Mencari ilmu sesuai kebutuhan.

- Melanggengkan diri dalam keadaan suci.

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah

Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib.

- Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat

- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya.

- Melakukan sholat malam dan Sholat witir.

- Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis

- Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid (pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama).

- Puasa di hari-hari mulia

Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan.

Memperbanyak Istighfar

- Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

- Melanggengkan diri untuk membaca dzkir-dzikir yang disunnahkan di pagi hari dan sore hari.

Puasa dalam dua perspektif (Sya ri’ah dan Tarekat) masih menekankan ritual puasa sebagai kewajiban yang mesti ditaati dan ini sangat benar, sesuai dengan ketetapan Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa se bagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(QS al- Baqarah [2]:183):


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn)

√ Perspektif Syari’ah sangat menekankan aspek formal puasa itu dengan kedisiplinan terhadap asas rukun dan syarat puasa. Sedikit apapun pelanggaran rukun dan syarat puasa akan berakibat fatal atau terancam batalnya puasa itu.

Di dalam kitab Fath al-Mu’in dicontohkan, jika seseorang akan memasukkan benang ke dalam jarum biasanya dibasahi dengan air liur dengan menjilat ujung benang itu, agar tegak dan gampang memasukkan ke dalam lubang jarum. 

Jika benang itu benang putih tidak mengancam batalnya puasa. Akan tetapi jika benang itu berwarna dan lunturannya bergabung dengan air liur masuk ke dalam tenggorokan maka itu mengancam batalnya puasa.

√ Dalam perspektif tarekat sudah beranjak dari level formal dan memasuki wilayah hikmah lebih mendalam di balik puasa. 

Sesuai dengan namanya, Ramadhan, menurut bahasa berarti membakar dan menghanguskan. Salah satu puasa yang paling penting ialah puasa pada bulan Ramdhan yang sedang kita jalani saat ini.

Selain menunaikan kewajiban puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam itu, diharapkan dengan puasa ini mampu menghanguskan dosa-dosa masa lampau, mulai dosa kecil sampai dosa besar. 

Puasa Ramadhan diharapkan pula mampu membakar semangat jihad, ijtihad, mujahadah, dan semangat riyadhah, yang pada saatnya membantu kita untuk mencapai tingkat kedekatan diri dengan Allah SWT.

√ Dalam perspektif hakikat, kedua lapisan tersebut sudah dilalui. Puasa bagi komunitas ahli hakikat sudah tidak menekankan keistimewaan luar biasa, termasuk keutamaan bulan Ramadhan. Betapa tidak, karena kehidupan sehari-harinya sudah sedemikian akrab dengan puasa, dengan kata lain puasa sudah menjadi habit-nya.

Bagi mereka puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami isteri, sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu, tetapi puasa sudah lebih merupakan wacana spiritual (batiniah). Puasa bagi mereka seperti puasa sepanjang masa (daim).

Ada istilah yang sering didengar dari mereka, yaitu meskipun kita sudah berbuka tetapi tetap harus berpuasa. 

Mereka tidak ingin membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka. Artinya, secara formal sudah berbuka tetapi ia masih tetap memuasakan pikirannya untuk memikirkan sesuatu selain Allah SWT, memuasakan ingatannya untuk mengingat sesuatu selain Allah SWT, memuasakan keinginannya selain keinginan untuk taqarrub ilallah, memuasakan harapan harapannya untuk berharap selain ridha Allah SWT.

Sedetik pun ia tidak mau membatalkan puasanya meskipun sudah berbuka secara fi sik. Ia merasa puasanya batal manakala berkeinginan selain keinginan tunggalnya mencapai mardhatillah.

Puasa Ramadhan bagi golongan terakhir ini tidak begitu luar biasa, karena ia merasakan sepanjang bulan adalah bagaikan Ramadhan baginya. Ia selalu menunaikan berbagai macam ibadah seperti seruan untuk melakukan berbagai macam amaliah Ramadhan. Dengan kata lain, amaliah sehari harinya sepanjang bulan bagian amaliah Ramadhan bagi orang awan.

Pada tingkatan puasa seperti ini, akan membuka jalan meraih Wushul.

Mereka tidak tertarik lagi dengan janji pahala yang berlipat ganda di dalam bulan Ramadhan, karena menjalankan puasa bukan mencari pahala, seperti orang-orang awam dan khawash. 

Ia sudah masuk kategori pengamal puasa khawashul khawash, yang tidak lagi berharap pahala atau berkah, karena satu-satunya harapan mereka hanya Allah semata.

Orang-orang yang telah Wushul menjalankan ibadah puasa bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk neraka. Ia juga menjalankan puasa bukan untuk memperoleh berkah kehidupan dunia dan akhirat. 

Bagi mereka perbedaan dunia dan akhirat sudah sedemikian tipis sehingga tidak lagi terkesima dengan janji-janji orang terhadap Ramadhan. Bagi mereka ambil itu surga, ambil semuanya, mereka sudah cukup hanya memiliki dan hidup di dalam genggaman Tuhan.

Puasanya orang yang Wushul adalah para ahli hakikat, mereka sama sekali tidak pernah dirasakan sebagai suatu masalah seperti beban, lapar, dahaga, dan pembatasan fisik lainnya. 

Bagi mereka puasa, sebagaimana kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya seperti shalat dan, lebih dirasakannya sebagai sesuatu yang maha indah. 

Mereka merasa nyaman dengan berbagai kewajiban agama sehingga tidak terasa lagi puasa itu sebagai sebuah kewajiban tetapi sebagai kesenangan batin. 

Seperti halnya yg telah #kaP ulas diatas, puasanya orang yang ahli Hakekat akan membuatnya mencapai Wushul. 

Syarat untuk mencapai Wushul adalah pengendalian hawa Nafsu.

Seperti yang sama-sama kita ketahui diantara manfaat dari puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu.

Naiklah Ke Maqam Yang Tinggi, Robek Hawa Nafsu, melalui Puasa.


Ada tujuh tingkatan nafsu manusia, yaitu:

- Nafsu Amarah

- Nafsu Lawamah

- Nafsu Mulhimah

- Nafsu Muthmainnah

- Nafsu Radhiyah

- Nafsu Mardhiyah

- Nafsu Kaamilah

Para ulama mengatakan bahwa 7 nafsu ini adalah manifestasi dari sebuah jalan yang berada diantara manusia dengan Allah SWT. 

Terdapat 70 ribu hijab (penutup) yang menjadi penghalang untuk mencapai wushul ila-Allah (sampai kepada Allah), oleh karena itu ada 10 ribu hijab yang menutupi masing-masing nafsu.

Seorang pendaki Spiritual / Pejalan Spiritual akan terus mengalami peningkatan maqom ketika ia berpuasa dan berdzikir mengingat Allah. 

Puasa dan Dzikir berfungsi untuk merobek hijab-hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. 

Setiap nafsu memiliki sifat dan tanda-tandanya masing-masing. Melalui sifat itu seorang murid dapat mengetahui peningkatan yang terjadi pada dirinya selama berjalan menuju Allah.

Seorang pendaki Spiritual dapat dikatakan telah wushul ila-Allah ketika ia telah mencapai tahapan nafsu yang terakhir. Dampak dari wushul ila-Allah ini adalah ia akan istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, dan ia akan terus melakukan ketaatan dan menyembah Allah setiap saat tanpa henti.


TINGKATAN NAFSU:


1. NAFSU AMARAH

Nafsu inilah yg mendorong org melakukan perbuatan yang dilarang.

2. NAFSU LAWWAMAH

sudah mengerti antara kejelekan dan kebaikan namun belum bisa melakukan kebaikan malah selalu terjerumus dalam kejelekan.

3. NAFSU MULHIMMAH:

Masih berat berbuat ketaatan walaupun kadang mampu melakukannya.

4. NAFSU MUTHMA'INNAH:

Nafsu yang menjadikan seseorang tunduk pada hukum Allah.

5. NAFSU RADHIAH:

tidak hanya sekedar tunduk namun sudah benar-benar Ridho kepada segala taqdir Allah.

6. NAFSU MARDHIYAH:

Tidak hanya sekedar Ridho pada kehendak Alloh namun lebih dari itu jiwa dan raganya hanya untuk menyembah Allah.

7. NAFSU KAMILAH:

Nafsu pada tingkatan Insan Kamil manusia paripurna.

Nafsu Kamilah adalah jiwa yang telah benar-benar sempurna dan juga telah mendapatkan pancaran kebenaran dari Tuhan, serta telah mencapai tingkat makrifat.

Nafsu kamilah : nafsu yang sempurna yang diduduki para nabi, rosul dan para walinya ) sebagai pengejawantahan dari insan kamil. 

Mereka adalah teladan sejati dalam mengemban ibadah lahir dan batin: syariah dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh gusti Allah yang maha perkasa dan penyayang untuk membentuk masyarakat yang di ridhoi-NYA. 

Nafsu yang telah mencapai kesempurnaan bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad (petunjuk) dan senantiasa berusaha untuk menyempurnakan diri kepada Allah swt. 

Orang yang memiliki Nafsu Kamilah disebut “mursyid mukammil” (orang yang menyempurnakan) atau disebut “insan kamil”. pada tingkat ini jiwa telah demikian dekat dengan Allah.

Para Sufi menganggapnya telah mencapai tajjali (terbuka, tak bertabir), baqa’ billah (bersama dengan Allah), fana fillah (hancur dalam Allah) dan dia memperoleh ilmu ladunni minallah (ilmu anugerah Allah).

Secara syariat dan hakikat, mereka adalah pemimpin yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang untuk membentuk akhlak masyarakat yang diridhoi oleh-Nya.

Nafsu ini selalu memotivasi diri untuk beribadah dan mendapat anugerah ilmu keyakinan.Yang memiliki nafsu ini hanya akan merasakan [[kebahagiaan] hakiki bila bersama dengan Tuhannya. 

Semoga kualitas puasa kita semakin meningkat. Selamat menikmati bulan puasa.


Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit Pranakarya 

Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

Tidak ada komentar

Posting Komentar