Jenazah yang Membuat Rasulullah Terdiam: Kisah Hutang yang Menahan Doa Langit

Tidak ada komentar

 


Ybia Indonesia - Madinah pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Angin berhembus pelan di antara rumah-rumah kaum Anshar. Langit cerah, seolah tak ada duka yang akan datang. Namun langkah-langkah kaki para sahabat menuju masjid terasa lebih berat dari biasanya. Di hadapan mereka terbujur seorang jenazah. Tubuhnya terbungkus kain kafan sederhana. Wajahnya tak terlihat, namun semua tahu: Ia adalah seorang muslim.


Rasulullah Menolak Menshalatkan

Jenazah itu dibawa ke hadapan Rasulullah, sebagaimana kebiasaan setiap kali ada muslim yang meninggal. Rasulullah berdiri. Wajah beliau teduh, namun sorot matanya tampak serius. Beliau tidak langsung mengangkat tangan untuk shalat. Beliau bertanya, dengan suara yang tenang namun menghentak hati: "Apakah ia meninggalkan hutang?" Para sahabat saling berpandangan. Hening sejenak. Salah seorang menjawab lirih, "Ya, wahai Rasulullah... ia meninggalkan hutang." "Berapa?" "Dua dinar." Dua dinar... Jumlah yang kecil bagi sebagian orang. Namun seketika, wajah Rasulullah berubah. Beliau menundukkan kepala. Lalu bersabda dengan kalimat yang membuat para sahabat terdiam: "Shallu 'alâ shâhibikum." "Shalatkanlah oleh kalian jenazah sahabat kalian ini."


Abu Qatadah Menanggung Hutang

Masjid sunyi. Hati para sahabat bergetar. Ini adalah Rasulullah, orang yang paling penyayang, yang selalu mendoakan umatnya, yang bahkan menangis memikirkan keselamatan mereka. Tapi hari itu, beliau mundur selangkah. Doa beliau tertahan. Bukan karena dosa zina. Bukan karena pembunuhan. Bukan karena kekufuran. Karena hutang. Jenazah itu tetap terbaring. Seolah menunggu satu hal yang belum selesai di dunia. Saat itulah Abu Qatadah رضي الله عنه melangkah maju. Hatinya tak tega melihat jenazah itu tertahan. Ia berkata dengan tegas, "Wahai Rasulullah, hutangnya menjadi tanggunganku." Rasulullah menatapnya, "Apakah engkau benar-benar akan menanggungnya?" "Ya, wahai Rasulullah." Barulah Rasulullah maju kembali. Beliau berdiri di hadapan jenazah. Mengangkat kedua tangan. Menshalatkannya.


Hikmah dari Kisah

Rasulullah tidak mengajarkan bahwa hutang itu haram. Namun beliau mengajarkan bahwa hutang itu berat. Berat sampai menahan doa Rasulullah, menahan ketenangan jenazah, menunda kelegaan di alam kubur. Dan kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan: Hutang bukan sekadar urusan dunia. Ia bisa menjadi beban sampai akhirat. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar