Ybia Indonesia - Jauh sebelum nama Indonesia dikenal, sebelum candi-candi megah berdiri, dan sebelum kronik kerajaan ditulis rapi, Nusantara sudah meninggalkan tanda kekuasaan. Prasasti Ciaruteun berasal dari abad ke-5 Masehi, masa Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara.
Yang membuatnya unik bukan hanya usianya, melainkan dua telapak kaki manusia yang dipahat di batu. Jejak kaki itu diyakini milik Raja Purnawarman. Dalam tradisi kuno, jejak kaki raja disamakan dengan jejak dewa tanda bahwa kekuasaannya sah, dilindungi, dan tidak boleh dilawan.
Tulisan pada prasasti menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, menandakan hubungan intelektual dan budaya Nusantara dengan India jauh sebelum era kolonial. Ini membuktikan bahwa wilayah Jawa Barat bukan daerah pinggiran, melainkan bagian dari jaringan peradaban Asia kuno.
Batu ini tidak berdiri di istana. Tidak disimpan di kuil megah. Ia diletakkan di alam terbuka, di tepi sungai, agar semua orang melihat dan mengingat: di sini pernah berdiri sebuah kekuasaan.
Prasasti Ciaruteun bukan sekadar artefak. Ia adalah pengingat bahwa sejarah Nusantara tidak dimulai dari kedatangan bangsa asing, melainkan dari jejak-jejak yang telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Tidak ada komentar
Posting Komentar