Mohammad Hatta: Kehidupan Sederhana dan Integritas Seorang Negarawan

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden pada 1 Desember 1956, Mohammad Hatta memilih jalan hidup yang sunyi dan sederhana. Ia tidak mencari jabatan baru, tidak membangun bisnis, dan tidak memanfaatkan pengaruh politiknya. Sumber penghidupannya hanyalah uang pensiun yang jumlahnya sangat terbatas.

Ketika Indonesia memasuki masa krisis ekonomi parah pada awal 1960-an, Hatta merasakan dampaknya secara langsung. Inflasi yang mencapai sekitar 600 persen membuat nilai uang jatuh drastis. Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara penghasilan tetap tak pernah bertambah. Dalam kondisi itu, Hatta bahkan mengalami kesulitan membayar tagihan listrik rumahnya.

Sebuah ironi yang menyentuh: seorang pendiri bangsa, proklamator kemerdekaan, hidup seperti rakyat biasa—bahkan lebih sulit dari sebagian pejabat yang masih berkuasa. Kabar ini akhirnya sampai ke telinganya Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Menyadari besarnya jasa Mohammad Hatta bagi bangsa dan negara, Ali Sadikin mengambil kebijakan untuk membebaskan Hatta dari kewajiban membayar listrik dan air. Bukan sebagai bentuk belas kasihan, tetapi sebagai penghormatan negara terhadap integritas seorang negarawan.

Mohammad Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat bersih. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah terseret kasus korupsi, tidak meninggalkan kekayaan berlimpah, dan tidak mewariskan harta materi kepada keluarganya. Ketika wafat, warisan terbesarnya justru berupa sekitar 30.000 buku—koleksi pengetahuan yang mencerminkan siapa dirinya sebenarnya. Hatta mungkin kesulitan membayar listrik, tetapi ia telah menerangi bangsa ini dengan kejujuran, dan meninggalkan teladan yang nilainya jauh lebih mahal dari kekuasaan. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar