Ybia Indonesia - Di tengah terik matahari di sebuah lapangan di Jawa Barat pada akhir 1950-an, seorang kolonel berjalan perlahan memeriksa barisan pasukannya. Langkahnya terhenti di depan seorang kapten yang rambutnya mulai memutih, tampak jauh lebih senior dari sang komandan. Bukannya memberikan instruksi militer yang kaku, kolonel itu justru membungkuk sedikit dan berbisik dalam bahasa Sunda halus.
"Damang, Kang?" (Sehat, Kang?) tanya sang kolonel.
Si kapten, yang tetap dalam posisi siap sempurna, menjawab dengan lugas namun santai, seolah lupa ia sedang bicara dengan orang nomor satu di Kodam Siliwangi. "Cageur euy!" (Sehat, dong!).
Kolonel itu adalah Raden Ahmad Kosasih. Di lingkungan korps baret hijau Siliwangi, ia dikenal bukan karena kegarangannya, melainkan karena kerendahhatiannya yang tak dibuat-buat. Pria kelahiran Sukabumi ini memimpin Siliwangi di masa-masa paling "berbadai" saat pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan Kartosoewirjo sedang hebat-hebatnya mencengkeram wilayah Priangan Timur.
Bagi Kosasih, pangkat adalah urusan administrasi, tapi persaudaraan adalah soal hati. Ia tak segan menyapa anak buahnya yang lebih tua dengan sebutan "Akang" (kakak), sebuah gestur yang meruntuhkan sekat hierarki militer yang biasanya beku.
Namun, jangan keliru menyangka sikap santunnya sebagai kelemahan. Di balik tutur katanya yang lembut, Kosasih adalah administrator yang tegas. Saat Jawa Barat didera krisis ekonomi pada 1957, ia tak ragu memerintahkan pasukannya menyisir ratusan toko emas di Bandung. Ia mencium aroma penyelundupan barang dari Hong Kong yang masuk lewat Indramayu. Hasilnya? Seratusan toko disegel dan stabilitas ekonomi harga beras serta barang pokok di tanah Pasundan berhasil ia jaga.
Ia juga dikenal sebagai panglima yang paling "sensitif" jika menyangkut kehormatan anak buahnya. Suatu kali, sebuah harian lokal, Sipatahoenan, menulis berita yang ia anggap ceroboh tentang prajuritnya. Kosasih meradang. "Masa iya anak buah saya sampai makan kelelawar? Ransum nasi kita masih melimpah!" ujarnya dalam bahasa Sunda yang kental dengan nada gusar. Baginya, martabat prajurit adalah taruhan nyawanya sebagai pemimpin.
Hingga masa pensiunnya, Kosasih tetap menjadi antitesis dari bayang-bayang jenderal yang gila hormat. Ia adalah potret perwira yang paham bahwa di bawah seragam yang gagah, detak jantung tentara tetaplah seorang manusia yang merindukan sapaan hangat seorang saudara.
Biodata Singkat:
Nama: Raden Ahmad Kosasih
Karier: Panglima Kodam VI/Siliwangi (1958–1960).
Ciri Khas: Selalu menggunakan pendekatan persuasif dan bahasa Sunda dalam berkomunikasi dengan prajurit.
Prestasi Utama: Menjaga stabilitas ekonomi Jawa Barat di tengah pemberontakan DI/TII dan memelopori razia ekonomi untuk menekan inflasi daerah.

Tidak ada komentar
Posting Komentar