Ybia Indonesia - Matahari baru saja naik di ufuk timur Singosari, Malang, pada suatu pagi di tahun 1923. Di sebuah sudut desa, seorang pemuda berusia 24 tahun tengah sibuk meletakkan batu pertama bagi sebuah bangunan yang ia namakan Misbahul Wathan, Pelita Tanah Air. Pemuda itu adalah Masjkur. Di matanya, agama dan cinta tanah air bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan api yang menyala dalam satu tungku.
Lahir pada 1899, Masjkur adalah produk tulen dari sistem pendidikan pesantren yang keras dan disiplin. Ia bukan tipe santri yang puas dengan satu guru. Pengembaraan intelektualnya melintasi batas-bangsa Jawa dan Madura: dari Pesantren Bungkuk di Malang, ia merambah ke Sidoarjo untuk membedah Nahwu Sharaf dan Fiqih, hingga mendarat di bawah asuhan tangan dingin Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Tebuireng untuk mendalami Hadist. Tak berhenti di sana, ia pun mengecap "karomah" ilmu dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
Namun, barangkali di Pesantren Jamsaren, Surakarta, jiwanya benar-benar ditempa menjadi baja. Di bawah asuhan KH Idris seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro yang dikenal pantang tunduk pada Belanda, Masjkur mulai memahami bahwa beragama berarti juga harus merdeka. Sifat non-kooperatif sang guru meresap ke nadinya, menjadi modal ketika ia nantinya harus mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlathul Wathan atas saran KH Wahab Chasbullah, karena gangguan kolonial yang kian menjadi-jadi.
DARI MIMBAR KE MEDAN LAGA
Dunia mengenal KH Masjkur sebagai sosok yang luwes namun teguh. Namanya mencuat di panggung politik saat ia terpilih menjadi Ketua Cabang NU Malang pada 1932, dan kemudian masuk dalam jajaran Pengurus Besar NU di Surabaya pada 1938. Namun, ujian sesungguhnya datang ketika Jepang masuk dan kemudian disusul oleh ancaman kembalinya Belanda.
Masjkur tidak hanya lihai dalam retorika di mimbar. Ia menanggalkan jubah kiainya sejenak untuk mengenakan seragam militer. Ia mengikuti latihan kemiliteran di Bogor pada zaman Jepang, sebuah langkah strategis yang kelak membuatnya dipercaya menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub-Bagian Sabilillah di Malang antara tahun 1945 hingga 1947.
Di bawah komandonya, Barisan Sabilillah menjadi momok bagi penjajah. Masjkur bukan komandan yang duduk manis di balik meja. Ia adalah pemimpin yang bergerak di antara desingan peluru. Bahkan saat ia dipercaya menjadi Menteri Agama dalam berbagai kabinet mulai dari kabinet Amir Syarifuddin hingga kabinet Hatta, Masjkur tetaplah seorang gerilyawan.
Ada sebuah fragmen menarik dalam hidupnya: sebagai Menteri Agama, ia pernah bergerilya di hutan-hutan bersama Panglima Besar Soedirman. Bayangkan seorang menteri yang mengantongi instruksi darurat kementerian di satu saku, dan senjata di saku lainnya. Di tengah hiruk-pikuk perang, ia tetap mengatur jalannya urusan agama, mulai dari menyusun instruksi KUA hingga memastikan pendidikan madrasah tetap berjalan. Gaji bulanannya saat itu hanya 300 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang katanya hanya cukup untuk makan sekeluarga selama satu pekan. Sebuah potret asketisme pejabat di masa revolusi.
DIPLOMASI DAN WIBAWA
Kiprah Masjkur melampaui medan tempur fisik. Ia adalah arsitek politik Islam yang piawai. Pada 1954, ia memprakarsai Konferensi Ulama di Cipanas yang memberikan gelar Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah kepada Presiden Soekarno. Sebuah langkah berani sekaligus taktis untuk memastikan legitimasi pemerintah RI di mata umat Islam, sekaligus membendung pengaruh DI/TII yang saat itu tengah merongrong kedaulatan negara.
Di internal Nahdlatul Ulama, ia adalah pilar stabilitas. Ia memimpin NU sebagai Ketua Umum Tanfidziyah pasca Muktamar ke-19 di Palembang tahun 1952, saat NU memutuskan untuk mandiri dan keluar dari Masyumi. Ia mendampingi KH Wahid Hasyim dan bekerja di bawah bimbingan Rais 'Aam KH Wahab Chasbullah.
Masjkur adalah sosok yang menua bersama organisasi yang ia cintai. Hingga napas terakhirnya di tahun 1992, ia masih tercatat sebagai Mustasyar PBNU. Ia wafat meninggalkan warisan berupa keberanian yang tenang. Jasadnya kini beristirahat di Singosari, di kompleks Masjid Bungkuk, kembali ke tanah tempat ia pertama kali menyalakan "Pelita Tanah Air".
KH Masjkur bukan sekadar menteri atau kiai. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tasbih dan bayonet, sajadah dan medan laga, membuktikan bahwa menjadi religius dan menjadi nasionalis adalah dua sisi dari keping koin yang sama: pengabdian.

Tidak ada komentar
Posting Komentar