Ybia Indonesia - Bagi masyarakat Bogor Barat, khususnya yang kerap berkunjung ke kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE), nama Jalan Mayor H. Dasuki Bakri tentu sudah tidak asing. Jalan ini menjadi akses utama menuju berbagai destinasi alam populer seperti Curug Cigamea, Curug Seribu, Curug Ngumpet, Curug Pangeran, Curug Nangka, Curug Luhur, Kawah Ratu, hingga Bumi Perkemahan Gunung Bunder.
Namun, siapakah sosok Mayor H. Dasuki Bakri hingga namanya diabadikan sebagai nama jalan dan tugu penghormatan di Bogor Barat?
Ulama Muda dari Sukabumi:
Haji Dasuki Bakri lahir di Ranji, Sukabumi, pada tahun 1909. Sejak muda, ia menempuh pendidikan agama secara mendalam. Ia belajar kepada KH Komaruddin di Pesantren Ranji, kemudian melanjutkan ke Pesantren Cantayan, Sukabumi, berguru kepada KH Damanhuri dan KH Ahmad Sanusi. Di luar pendidikan pesantren, Dasuki juga mengenyam pendidikan umum di Vervolgschool pada 1927–1929.
KH Ahmad Sanusi—guru sekaligus mentor perjuangannya—kelak ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2022. Ketika KH Ahmad Sanusi mendirikan organisasi Al-Ittihadiyatul Islamiyyah (AII) pada 1931, Dasuki Bakri turut aktif dalam gerakan dakwah dan pergerakan nasional tersebut.
Mengabdi di Gunung Handeuleum:
Pada masa pendudukan Jepang, Dasuki Bakri ditugaskan oleh Pengurus Besar AII untuk mengajar di Gunung Handeuleum, Cibungbulang, Bogor. Kepribadiannya yang santun, tegas, dan penuh dedikasi membuatnya dicintai masyarakat dan murid-muridnya. Ia pun diminta menetap di daerah tersebut.
Sebagaimana tradisi masyarakat saat itu, Dasuki kemudian menikah dengan Sadiyah binti H. Tb. Arfin pada 1940. Sadiyah merupakan bibi dari KH Sholeh Iskandar, tokoh besar Bogor yang telah lama diusulkan sebagai pahlawan nasional.
Dari Ustaz Menjadi Komandan:
Di masa Jepang, Dasuki Bakri mengikuti pendidikan militer PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor. Ia diangkat sebagai Chudanco (Komandan Kompi) dan ditempatkan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, berdekatan dengan pasukan yang dipimpin oleh KH Abdullah bin Nuh.
Ketika Revolusi Kemerdekaan meletus (1945–1950), Dasuki Bakri tampil di garis depan. Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) wilayah Bogor dan Kewedanaan Leuwiliang, kemudian membentuk TKR Batalyon III Resimen Bogor yang bermarkas di Ciampea, dengan pangkat Kapten.
Fenomena ulama yang memimpin: pasukan bukan hal asing di tubuh Divisi Siliwangi, yang dikenal sebagai “divisi para ustaz”. Selain Dasuki Bakri dan KH Sholeh Iskandar, terdapat pula tokoh besar seperti KH Sjam’un, yang kelak berpangkat Brigadir Jenderal dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2018.
Hijrah, Perjuangan, dan Pengorbanan:
Batalyon III kemudian direorganisasi menjadi Batalyon X Brigade II Suryakancana Divisi Siliwangi, dan terpaksa mundur ke Cianten Herang, Sukabumi, akibat Agresi Militer Belanda I (Juli 1947).
Meski wilayahnya belum jatuh ke tangan musuh, Batalyon X harus menjalankan perintah hijrah ke Yogyakarta sesuai Perjanjian Renville. Di tengah masa sulit itu, keluarga Dasuki Bakri mengalami penderitaan berat: rumah dibakar Belanda, istri dan anak-anaknya ditawan selama tiga bulan di Jakarta, serta terus mengalami intimidasi.
Akhirnya, keluarga Dasuki dapat menyusul ke Yogyakarta dan kembali bertemu pada 3 Ramadhan 1948, setelah lebih dari setahun terpisah. Di Yogyakarta, Batalyon X ikut terlibat dalam penumpasan Pemberontakan PKI Madiun. Dalam operasi tersebut, Kapten Oking—rekan seperjuangan—kehilangan sebelah tangannya akibat luka perang.
Ketika Belanda kembali melancarkan Agresi Militer II (Desember 1948), Dasuki Bakri bersama pasukannya kembali ke Jawa Barat dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan itu, salah seorang putranya gugur akibat serangan bom musuh—sebuah pengorbanan besar bagi seorang ayah sekaligus pejuang bangsa.
Mengabdi Setelah Merdeka :
Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia pada akhir 1949, H. Dasuki Bakri memilih mengundurkan diri dari dinas militer dengan pangkat terakhir Mayor TNI AD. Ia kembali fokus pada dunia pendidikan, dakwah, dan pembangunan masyarakat.
Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan sejumlah sekolah di Bogor Barat di bawah naungan Persatuan Ummat Islam (PUI), kelanjutan dari AII. Ia juga sempat dipercaya sebagai anggota DPRD Bogor hasil Pemilu 1955.
Tokoh masyarakat mengenangnya sebagai pemimpin yang rendah hati dan pekerja keras.
“Mama’ Haji Dasuki bukan hanya pemikir, tetapi pelaksana. Ia turun langsung mengangkat batu, memotong pohon, hingga bajunya berlumpur saat memimpin rakyat melebarkan jalan Cemplang–Ciasmara. Rakyat jadi malu jika tidak ikut kerja bakti,” kenang H. Lukman Anwar.
Warisan dan Penghormatan :
Mayor H. Dasuki Bakri wafat pada 21 Maret 1957 di Gunung Handeuleum. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama jalan di Cibatok, Bogor, serta sebuah tugu penghormatan bagi dirinya, Batalyon X Suryakancana, KNI Leuwiliang, dan Laskar Rakyat yang berdiri di depan Kantor Kecamatan Leuwiliang.
Ia dikenang bukan hanya sebagai komandan batalyon, tetapi sebagai ustaz pejuang—sosok yang memadukan ilmu, iman, dan pengabdian tanpa pamrih bagi bangsa.
Sumber Referensi:
• Edi Sudarjat, Bogor Masa Revolusi (1945–1950): Sholeh Iskandar dan Batalyon O Siliwangi, Depok: Komunitas Bambu, 2015

Tidak ada komentar
Posting Komentar