Jejak Syahid di Laut Pengabuan: "Perjuangan Panglima Adul dan Laskar Selempang Merah"

Tidak ada komentar

 



Ybia Indonesia - Peristiwa Agresi Militer Belanda II menjadi lembaran kelam sekaligus heroik bagi masyarakat Kuala Tungkal, Jambi. Di tengah gempuran kapal perang Belanda yang membombardir pusat kota pada 21 Januari 1949, muncul perlawanan sengit dari Barisan Selempang Merah (BSM), sebuah milisi rakyat yang memadukan semangat patriotisme dengan kekuatan spiritual Islam.

Barisan Selempang Merah awalnya merupakan kelompok pengajian kebatinan yang berfokus pada amalan syariat Islam. Mereka dikenal karena menggunakan atribut khusus berupa kain selendang merah yang dirajah dengan ayat-ayat Al-Qur'an (seperti Ayat Kursi) dan doa-doa perlindungan, yang dipercaya memberikan keberanian serta kekebalan bagi pemakainya.

Setelah serangan Belanda yang menghancurkan tempat ibadah seperti Masjid Raya Jami, para tokoh rakyat termasuk Panglima Abdusshamad (Panglima Adul) segera berkoordinasi dengan ulama setempat, KH M. Daud Arief, untuk merancang serangan balasan.

Puncak aksi Panglima Adul terjadi dalam operasi penyerangan dari laut. Strategi yang dijalankan melibatkan mobilitas tinggi menggunakan perahu tradisional untuk menghadapi kapal-kapal perang modern Belanda.


Penyergapan 11 Perahu: 

Panglima Adul memimpin armada kecil yang terdiri dari 11 perahu rakyat untuk melakukan infiltrasi dan serangan mendadak.


Kontak Tembak di Tengah Laut:

Di perairan Laut Pengabuan, salah satu perahu yang dipimpin langsung oleh Panglima Adul bertemu dengan kapal patroli Belanda. Tanpa ragu, Panglima Adul memerintahkan anak buahnya melepaskan tembakan pertama, memicu kontak senjata yang sengit.


Aksi Nekat Panglima Adul: 

Dalam upaya melumpuhkan kapal musuh, Panglima Adul melakukan aksi berani dengan melompat ke laut untuk mencoba menaiki kapal Belanda secara langsung.


Gugurnya Sang Panglima: 

Saat berenang mendekati target, Panglima Adul diberondong tembakan oleh tentara Belanda. Beliau gugur sebagai syahid dan tenggelam di perairan Laut Pengabuan.

Gugurnya Panglima Adul dan Panglima H.A. Hamid tidak menyurutkan semangat perlawanan. Kepemimpinan Lasykar Selempang Merah kemudian beralih ke tangan Panglima H. Saman. Beliau mengubah taktik dari serangan laut yang memakan banyak korban menjadi serangan darat yang terorganisir bersama TNI, Kepolisian, dan unsur masyarakat lainnya.

Pada 23 Februari 1949, gabungan kekuatan ini melancarkan serangan besar-besaran (melibatkan sekitar 441 personel pilihan) terhadap kedudukan Belanda di Kuala Tungkal, yang tercatat sebagai salah satu pertempuran darat terbesar di wilayah tersebut.


Sumber Referensi:

Halaman Wikipedia - Barisan Selempang Merah

Perjuangan Rakyat Kuala Tungkal - Jambi Update

Kisah Pasukan Selempang Merah - Sindonews/RCTI+

Arsip Penelitian Sejarah - Universitas Jambi (Repository Unja)

Tidak ada komentar

Posting Komentar