Ybia Indonesia - Di sebuah sudut Bekasi, KH Raden Ma’mun Nawawi membangun benteng bagi para pejuang Hizbullah. Ia seorang ahli falak yang lebih memilih tinta dan teropong bintang, namun sejarah memaksanya ikut memanggul senjata.
Maret 1945, udara di Cibarusah terasa lebih gerah dari biasanya. Di pelataran Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat, ratusan pemuda dengan sarung yang disampirkan di bahu tampak serius menyimak instruksi. Namun, mereka tidak sedang menghafal bait-bait Alfiyah. Di tangan mereka, senapan kayu dan bambu runcing digenggam erat. Di sana, KH Raden Ma’mun Nawawi berdiri—bukan sekadar sebagai kiai yang mengajar kitab kuning, melainkan sebagai ruh bagi pembentukan mental Laskar Hizbullah.
Cibarusah, yang kala itu masih menjadi bagian dari Bogor, mendadak berubah menjadi pusat gravitasi perlawanan. Atas restu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pesantren asuhan Ma’mun Nawawi dipilih menjadi kawah candradimuka bagi 500 santri pilihan dari seluruh Jawa dan Madura. Mereka digembleng taktik militer oleh perwira Jepang, namun asupan batinnya datang dari Ma’mun. Sang kiai adalah penasihat rohani yang memastikan bahwa setiap peluru yang keluar dari laras senapan diniatkan sebagai ibadah.
Ma’mun Nawawi, atau yang lebih karib disapa Mama Cibogo, bukanlah sosok kiai yang tumbuh dari garis keturunan sembarangan. Nasabnya merentang hingga Sunan Gunung Jati dan Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten. Namun, silsilah mentereng itu tak membuatnya tinggi hati. Sejak belia, ia lebih suka membantu ayahnya, Kiai Raden Anwar, menjajakan buku-buku pelajaran di pasar sebelum akhirnya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain.
Perjalanan intelektualnya adalah sebuah peta panjang pencarian ilmu. Dari asuhan Mama Sempur di Purwakarta, ia menyeberangi lautan menuju Masjidil Haram, Makkah. Selama dua tahun (1937-1939), ia menyelami pemikiran 13 muallif (pengarang kitab). Pulang ke tanah air, dahaganya belum tuntas. Ia menuju Tebuireng, bersimpuh di depan Mbah Hasyim Asy’ari. Kecerdasannya begitu menonjol hingga Mbah Hasyim dikabarkan menyembelih seekor sapi sebagai bentuk syukur saat Ma’mun merampungkan studinya—sebuah penghormatan yang jarang diberikan sang kiai besar kepada muridnya.
Namun, di antara tumpukan disiplin ilmu agama, hati Ma’mun tertambat pada bintang-bintang. Ia adalah seorang falaqi (ahli astronomi Islam) yang tekun. Di bawah bimbingan Guru Mansur dari Jembatan Lima, Jakarta, Ma’mun menguasai kitab Sullam an-Nayirain hanya dalam waktu 40 hari. Kepakarannya dalam ilmu falak membuatnya mampu menyuguhkan data astronomi yang presisi. Di Cibogo, ia menerbitkan kalender sendiri yang menjadi rujukan petani untuk bercocok tanam dan umat untuk menentukan awal Ramadan serta lebaran.
"Pesantren Falak," begitu orang-orang menyebut lembaga pendidikan yang ia bangun pada 1938 itu. Namun, sejarah menuntut lebih dari sekadar perhitungan posisi bulan. Ketika revolusi pecah, Mama Cibogo tak bisa hanya diam di balik meja tulis. Ia menjadi motor penggerak bagi pemuda pejuang kemerdekaan periode 1945-1949. Di tangannya, syiar Islam dan bela negara bukan dua hal yang terpisah, melainkan keping koin yang sama.
Meski sibuk dengan urusan laskar dan pergerakan, Ma’mun adalah penulis yang sangat produktif. Ia meninggalkan warisan intelektual berupa 63 kitab yang mencakup berbagai bidang, mulai dari falak, zakat, hingga syair tentang kiamat. Uniknya, banyak karyanya yang ditulis dalam aksara Arab-Pegon namun berbahasa Sunda, sebuah upaya untuk mendekatkan ilmu kepada masyarakat akar rumput di Jawa Barat.
Mama Cibogo wafat pada 7 Februari 1975 di usia 63 tahun. Jenazahnya diimami oleh sahabat karibnya, KH Noer Ali, Sang Singa Bekasi. Ribuan orang menyemut, mengantar sang penjaga langit itu ke peristirahatan terakhirnya.
Kini, di bawah asuhan putranya, KH Jamaluddin Nawawi, Al-Baqiyatus Sholihat tetap tegak berdiri. Di sana, gema selawat masih bersahutan dengan diskusi-diskusi tentang posisi bintang, mengingatkan setiap orang bahwa di Cibarusah pernah hidup seorang kiai yang mampu membaca langit sembari tetap memijak bumi perjuangan.

Tidak ada komentar
Posting Komentar