Jejak Histori sang Tokoh Inspiratif: KH. R. Kafrawi, Penghulu Tuban Masa Penjajahan Belanda

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - KH. R. Kafrawi merupakan seorang ulama dari lingkungan Nahdlatul Ulama yg menjadi Ketua Pengadilan Agama atau Penghulu Tuban pada masa penjajahan Belanda. Beliau adalah ayah KH FATHURRAHMAN ( Menteri Agama Kedua RI ) . Penghulu pada masa itu merupakan jabatan administrasi di bidang keagamaan yg diangkat sebagai pegawai Belanda. Dengan demikian Kiai Kafrawi adalah seorang ulama sekaligus priyayi.

Sebelum Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama ( Penghulu ) , beliau adalah seorang yg alim yg diberi kepercayaan dalam segala bidang ilmu agama. KH . Kafrawi sendiri berasal dari Klopo Telu Merakurak dan masih keturunan dari KIAI ARIFIN BIN ABDUL KODIR ( MBAH DIRO) 

Kiai Kafrawi menikah dgn Siti Aisyah, dan dikaruniai empat orang anak. Mereka adalah : Munjiyat /Kaspiyatoen , Roesdiyah , Moesyarofah , dan KH . Fathurrahman. Menurut penuturan H . Masduqi, cucu keponakan dari KH Fathurrahman Kafrawi , sebenarnya Kiai Fathurrahman masih mempunyai kakak laki - laki tetapi meninggal ketika masih kecil. Konon, saudaranya itu pernah mengolok2 ayahnya yg menjadi penghulu di Tuban dgn mengatakan jabatan penghulu dgn kata2 “pang - pang diulu ”. Anehnya, tak lama kemudian kakaknya itu meninggal dunia .

Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama pada masa kepemimpinan Raden Adipati Ario Koesoemodigdo (Bupati Tuban ke - 35 ) yg memerintah mulai tahun 1892 - 1911 . Raden Adipati Ario Koesoemodigdo telah berjasa membangun kembali Mesjid Agung Tuban pada tahun 1894 . Mesjid Agung Tuban telah dibangun kembali oleh sang Bupati dgn gaya Eropa campur tradisional. Arsitek mesjid tersebut berkebangsaan Belanda bernama H . M. Toxopeus . Sang Bupati wafat pada tahun 1911 , setelah memerintah Kabupaten Tuban selama 16 tahun dan dimakamkan di Astana Makam Pati Kebonsari , Tuban.

KH Kafrawi wafat tahun 1910 dan dimakamkan di pemakaman Desa Bejagung Lor Kecamatan Semanding , Tuban. Makam KH Kafrawi terletak di sebelah utara makam Syekh Abdullah Asy ’ari (Sunan Bejagung ) . Lokasi makamnya sekarang sudah dipindahkan dan dijadikan satu dgn makam keluarga di pemakaman Desa Bejagung Lor. Sedangkan istrinya , Hj. Siti Aisyah , meninggal pada 1949 dan dimakamkan di kompleks Makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo , Tuban.

Guru Kiai Umar bin Harun Sarang

Menurut cerita yg lebih mashyur lagi, sumber ilmu yg menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Sarang (Rembang) konon berasal dari Kiai Klopo Telu . Karena banyak sekali para santri yg menimba ilmu di Kiai Klopo Telu pada saat itu berasal dari daerah Sarang, Jawa Tengah . Tampaknya hal itu bisa dibenarkan , terbukti KH . UMAR BIN HARUN pernah berguru pada KH Kafrawi . KH . IMAM KHOLIL , pendiri Pondok Pesantren MIS Sarang, dulu juga pernah berguru pada Kiai Badlowi di Santren, Merakurak . Sehingga ada anekdot kalau ada santri dari Merakurak yg ingin mondok di Sarang , maka oleh kiainya dikatakan bahwa ia bukan mau mondok melainkan mau mengambil ilmu leluhurnya yg telah ‘diambil ’ oleh para Kiai Sarang.

Salah satu murid kinasih Kiai Kafrawi adalah Kiai Umar bin Harun dari Sarang ( Rembang) . Kiai Umar bin Harun (1855 - 1910) merupakan ulama yg terkenal sebagai salah seorang ulama Nahwu pada saat itu. Kiai Umar bin Harun lahir di Sarang pada tahun 1855 M / 1270 H . Tumbuh dan belajar dalam bimbingan KIAI GHOZALI (Sarang) , lalu juga belajar kepada kiai2 lain seperti Kiai SYARBINI (Sedan , Rembang) , Kiai KAFRAWI (Merakurak, Tuban) dan Kiai SHOLEH (Langitan, Tuban) . Beliau juga belajar agama di Mekkah, seperti Syekh Nawawi bin Umar al- Banteni (w. 1813 H / 1897 M) , dan Syeikh Abu Bakar asy-Syatho al- Makki , salah satu ulama Mekkah yg amat terkenal pada zamannya.

Setelah pulang ke tanah air pada tahun 1319 H dan mengabdikan hidupnya kepada pengajaran keagamaan , maka beliau berjuang dgn sangat gigih dan bekerja keras untuk mengangkat citra pondok pesantren menuju puncak kejayaannya sehingga bisa terkenal ke segala penjuru . Pesantren Sarang pun semakin bersinar , maju dan berkembang pesat dan menjadi tujuan para santri dari berbagai penjuru . Kiai Umar bin Harun merupakan pengasuh Ponpes Sarang pada periode kedua setelah penyerahan mandat dari guru beliau , Syekh Ghozali , yg tak lain adalah mertua Kiai Umar sendiri . Kiai Umar bin Harun wafat pada tahun 1328 H /1910 M, pada usia 55 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman ulama Sarang. Beliau pernah menikah dua kali , namun dari keduanya tidak dikaruniai keturunan. (cholis )


sumber : tabloid nusa Tuban

Tidak ada komentar

Posting Komentar