KH. Abdul Khamid Kajoran

Tidak ada komentar


Ybia Indonesia - Makam mbah Hamid Kajoran terletak di Tuguran, Banjaragung, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Beliau Putra dari Kyai Usman. Beliau juga Pendiri Pondok Pesantren Bodho Nahdhotut Thulab yang hidup di era Hindia Belanda. Beliau wafat Tahun 1989

Diantara Putra beliau adalah;

1. KH. Muhammad Amin Chamid/Pak Amin

2. KH. Abdullah Su'adi Widjaya Chamid/Pak Suad

Gus Jankidausat

3. KH. Baqoh 'Arifin Chamid/Pak Baqoh

4. KH. Raden Rahmat Bangun Chamid/Pak Mat Bangun

5. KH. Gumiwang Chamid/Pak Gum

6. Ny. Hj. Qo'idah Hamid

Beliau merupakan murid dari Kyai Khalil Bangkalan. Mbah Hamid adalah ulama kharismatik yang Pancasilais. 

Bahkan menurut keterangan beberapa kyai sepuh, Bung Karno sempat beberapa kali diskusi soal Pancasila dan Islam dengan mbah Hamid dan mbah Wahab (Wahab Chasbullah).

Penjelasan tentang biografi dan riwayat hidup beliau tidak banyak dipublikasikan, sehingga untuk mengenal beliau lebih dekat menjadi sulit. 

Ada proses dialog yang intens di kalangan ulama dan tokoh NU sebelum menerima Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbangsa dan bernegara. 

Dialog tidak hanya dilakukan di forum-forum formal ilmiah akademik yang mengeksplorasi argumen dan gagasan rasional, tetapi juga di forum non formal seperti silaturrahim dan anjangsana serta forum mujahadah dan riyadloh yang mengeksplorasi aspek batiniah spiritual.

Salah satu forum tabayyun dan dialog informal mengenai kajian terhadap azas tunggal Pancasila di peroleh dari Gus Amin Hamid Kajoran, putra Kyai Hamid Kajoran (alm) yang menjadi saksi sejarah atas peristiwa yang monumental ini.

Diceritakan oleh Gus Amin, pada suatu hari ada beberapa kyai yang sowan menghadap Kyai Hamid Kajoran diantaranya Kyai Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta; Kyai Mujib Ridwan, Surabaya dan Kyai Imron Hamzah, Surabaya. 

Ada juga waktu itu Kyai Fauzi Bandung yang disopiri oleh Kyai Saeful Mujab, Yogyakarta. 

Kyai Ali Maksum adalah salah satu anggota tim bentukan PBNU yang ditugasi untuk melakukan kajian mengenai azas tunggal Pancasila. 

Tim ini diketuai KH. Ahmad Shiddiq dengan anggota Kyai Mahrus Aly Lirboyo, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kyai Masykur Malang dan Kyai Ali Maksum Krapyak.

Para kyai ini menyampaikan kepada Kyai Hamid Kajoran bahwa ada upaya pemaksaan dari pemerintahan Soeharto untuk menerapkan Pancasila sebagai azas tunggal. 

Mendengar pernyataan ini Kyai Khamid langsung menjawab, “Lho, koq pemaksaan? 

Pancasila itu kan milik kita, hasil ijtihad-nya para ulama dan kyai kita, terutama Hadratusysyekh KH Hasyim Asy’ari. Lha, kalo sekarang mau dijadikan azas tunggal ya Alhamdulillah. Itu artinya dikembalikan ke kita, koq malah kita merasa dipaksa.”

Mendengar jawaban kyai Hamid ini semua tertegun. Kemudian Kyai Ali bertanya, “Ini tafsirnya bagaimana?”

Atas pertanyaan ini kemudian Kyai Hamid menjelaskan soal sejarah dan tafsir Pancasila menurut ulama NU. 

Dijelaskan banwa Pancasila merupakan penjelmaan (sublimasi) ajaran Islam yang mentautkan syariah, aqidah dan tasawwuf.

“Oleh karenanya kita bisa menjalankan dua sila saja dari Pancasila secara konsisten dan benar Insya Allah kita bisa menjadi wali,” demikian Kyai Hamid menjelaskan Dua sila tersebut adalah sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. 

Mengamalkan sila Ketuhanan artinya kita memahami dan mengerti Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya, perintah dan laranganNya. Sedangkan mengamalkan sila kemanusiaan artinya kita harus “mengerti manusia”, “memanusiakan manusia” dan “merasa sebagai manusia”.

Kemudian Mbah Hamid menjelas tafsirnya secara detail dengan perspektif syariah dan tasawwuf . Ketika penafsiran sampai pada pengertian “merasa manusia”, Kyai Ali Maksum menangis.

Dari penggalan kisah ini dapat terlihat bahwa Pancasila merupakan produk pemikiran (ijtihad) dari para ulama Nusantara sebagai menivestasi atas ajaran dan nilai-nilai Islam. 

Kedua, sikap NU menerima Pancasila sebagai azas bukan merupakan sikap keterpaksaan karena adanya tekanan politik, atau sekedar langkah taktis politik menghadapi tekanan, tetapi merupakan langkah ideologis.

Ketiga, sebagai bagian dari kelompok yang ikut merumuskan Pancasila, NU mengerti sejarah yang menjadi “asbabul wurud” dari Pancasila dengan segenap spirit dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. 

Oleh karenanya NU memiliki tafsir terhadap sila-sila Pancasila yang sesuai dengan syariat dan tasawwuf Islam.

Keempat, penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal oleh NU dilakukan setelah melalui berbagai kajian dan upaya riyadloh lahir batin sebagaimana yang dilakukan para masayikh NU saat menerima Pancasila sebagai Dasar Negara. Jadi sama sekali bukan keterpaksaan.

Kelima, NU adalah ormas Islam pertama yang menerima azas tunggal Pancasila. Ini artinya NU menjadi pelopor penerimaan azas tunggal. 

Secara nalar sikap kepeloporan seperti tidak akan muncul karena terpaksa tapi karena kajian yang matang dan hujjah yang kuat. 

Dan para kyai yang ikhlas dan alim tak akan mungkin mau dipaksa menerima atau menolak sesuatu apalagi yang terkait dengan masalah agama.

Untuk memperkuat argumen ini bisa dilihat dalam risalah Kyai Ahmad Shiddiq setebal 34 halaman yang dipresentasikan di hadapan Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983. 

Di sini disebutkan banwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, secara substansial Pancasila sangat islami. 

Bahkan butir-butir dari Pancasila adalah wujud dari nilai-nilai Islam. Sila pertamanya mencerminkan tauhid, sedangkan sila-sila lainnya representasi dari syariat. 

Dalam naskah ini tak ada satupum argumen politis yang mencerminkan keterpaksaan NU menerima azas tunggal Pancasila.

Karomah Mbah Khamid Kajoran

Menunda Kematian. 

Dekat-dekat menjelang Muktamar NU ke-28 tahun 1989 di Krapyak Yogyakarta, Mbah Hamid Kajoran jatuh sakit. Mbah Lim (Kyai Muslim Rifai Imampuro, Klaten) mengajak Gus Dur menengok ke kediaman beliau.

“Aku tak mati yo, Lim…” (Aku mau mati nih, Lim), kata Mbah Hamid.

“Ndak bisa, ndak bisa, ndak bisa….”, (tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa), kata Mbah Lim dengan gayanya yang khas,

"Mau Muktamar kok mati… enak aja…” (Menjelang Muktamar kok meninggal), kata Mbah Lim lagi

“Lha gimana…?” tanya Mbah Hamid

“Mati ya mati tapi nunggu Muktamar dulu!” jawab Mbah Lim. 

Tepat empat puluh hari sesudah hari itu, beberapa minggu sesudah Muktamar, Mbah Hamid Kajoran wafat.

Masih banyak lagi kisah karomah beliau. Namun bukan itu yang ingin kami dapatkan dari sowan ziarah ke makam beliau. 

Namun kami belajar dari bagaimana kecintaan beliau terhadap negeri kita lndonesia tercinta ini dengan porsi masing-masing. 

Semoga dengan mengenal sosok beliau, kita mampu terinspirasi dan berusaha mencontoh akhlak beliau serta teladan beliau dalam mengisi kemerdekaan ini sesuai dengan profesi kita masing-masing. 


Wallahu a'lam. 

Semoga bermanfaat. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar