Oleh: Ki alit Pranakarya
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ybia Indonesia - Kewajiban berpuasa tertulis dalam tiga ayat di dalam surah al-Baqarah dari ayat 183 sampak ayat 185.
Kewajiban yang telah disyariatkan kepada orang-orang sebelum kamu:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
ya ayyuhallazina amanuu kutiba ‘alaikumush-shiyamu kama kutiba ‘alallazina ming qablikum la’allakum tattaquun
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (183)
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
ayyamam ma’duudat, fa mang kana mingkum maridhan au ‘ala safarin fa ‘iddatum min ayyamin ukhar, wa ‘alallazina yuthiiquunahu fidyatun tha’amu miskin, fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashuumuu khairul lakum ing kuntum ta’lamuun
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (184)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru ramadhanallazi unzila fihil-qur`anu hudal lin-nasi wa bayyinatim minal-huda wal-furqan, fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum-h, wa mang kana maridhan au ‘ala safarin fa ‘iddatum min ayyamin ukhar, yuridullahu bikumul-yusra wa la yuridu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykuruun
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (185)
Puasa secara definisi adalah menahan diri dari pada makan dan minum, serta apa-apa perkara yang boleh membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari berserta niat.
Puasa lebih sinonim dengan berlapar dahaga pada pandangan kebanyakan orang awam.
Padahal lebih jauh dari itu puasa merupakan jalan untuk membersihkan hati kita dan untuk membiasakan diri mengendalikan hawa nafsu kita.
Ritual puasa dalam berbagai ajaran agama telah menarik minat #kaP untuk mengkajinya secara saint
“Berpuasalah kamu agar kamu menjadi sehat” [HR Ibnu Sunni & Abu Nuaim daripada Abu Hurairah ra]
Fase-fase puasa:
1. Fase pertama (2-3 hari): Perut akan terasa lapar, badan cepat letih, cepat marah kerana kadar glukosa dalam darah rendah.
2. Fase kedua (3-14 hari): Kurang selera makan, sering mengantuk/gampang tertidur, nafas berbau, lidah menjadi putih atau berdaki serta badan menjadi lesu.
3. Fase ketiga (14-akhir puasa): Lidah menjadi bersih, bau nafas hilang , selera makan baik, tenaga mula pulih dan kadar glukosa menjadi normal kembali.
Di fase ini juga mental, emosi dan badan semakin optimal dan terkendali.
Menjadikan diri kita seperti hidup baru.
Berpuasa sebagai salah satu mekanisme terapi yang terhebat:
Plato, tokoh filsafat hebat juga berpuasa untuk kekuatan fisik dan kecerdasan mental.
Menariknya lagi, Pythagoras, ahli matematik terkenal mensyaratkan puasa selama 40 hari kepada anak muridnya yang ingin menguasai rumus dan tahap yang lebih tinggi dalam disiplin ilmu beliau.
Fakta yang dapat kita lihat, bahwa tokoh-tokoh pemikir hebat dunia juga telah lama mempraktikkan puasa.
Karena mereka melihat puasa sebagai terapi terbaik untuk fisik, mental dan fisiologi seseorang individu.
Puasa juga sudah diakui sebagai penyembuh terhebat dalam menangani penyakit.
Bahkan di Amerika Serikat terdapat sebuah institut rujukan, “Fasting Center International, Inc”.
Institut ini/ pusat kajian ini sudah beroperasi sejak 35 tahun yang lalu, dengan mahasiswa dari 220 negara.
Direktor dan penggagasnya Dr. Dennis Paulson telah mencanangkan puasa sebagai kaedah dalam program berikut:
– Program penurunan berat badan
– Pengeluaran toksin tubuh
– Memperbaiki energy-level, kesehatan mental, kesehatan fisik dan yang paling penting meningkatkan kualitas hidup.
Berdasarkan penelitian dan Kajian, dengan berpuasa sangat bermanfaat untuk kesehatan:
1. Puasa Menurunkan kadar gula darah.
2. Puasa dapat menurunkan tekanan darah.
3. Puasa dapat menurunkan berat badan.
4. Puasa dapat mengurangi risiko penyakit atherosclerosis (sejenis penyakit pada arteri di mana plaque berlemak pada dinding-dinding dalam saluran darah dan akhirnya menyebabkan aliran darah tersendat. Keadaan ini terutamanya berlaku di kalangan pesakit diabetes.
5. Puada mengurangi resiko terhadap serangan penyakit jantung.
6. Puasa adalah satu proses detoksifikasi. Detoksifikasi adalah satu proses mencuci dan membersihkan badan daripada racun ataupun toksik.
7. Puasa mempercepatkan kesembuhan karena umumnya bakteri memerlukan zat besi dalam berkembang biak, justru dengan menghindari makanan, bakteri akan kekurangan zat besi dan dengan ini akan melemahkannya.
8. Berpuasa dapat menghasilkan sel-sel baru yang baik untuk imunitas badan.
Pada chemotherapy untuk pesakit cancer biasanya membawa dampak (side effect) yang akan melemahkan sistem pertahanan badan dan apabila lemahnya sistem ini, maka berbagai penyakit lain pula mudah untuk menyerang.
Maka puasa merupakan solusi penyeimbangan dalam masalah ini.
9. Puasa dan Awet Muda
Sejenis hormon anti-penuaan juga didapati dirembeskan dengan banyaknya ketika berpuasa.
Dengan berpuasa juga penghasilan protein lebih efektif untuk ketahanan yang lebih baik serta merendahkan kadar metabolisme badan.
10. Dengan berpuasa adalah sebagai meditasi terhebat untuk keseimbangan badan manusia.
Puasa secara saintis telah membuktikan signifikasinya terutama dalam aspek kesehatan.
Untungnya, kita sebagai umat Islam telah terlebih dahulu diwajibkan berpuasa sebelum daripada perbagai kajian saint ini ditemui.
Maka tidak sadar umat Islam telah lama diwajibkan untuk maju selangkah dalam aspek kesehatan jasmani, terlebih-lebih Mental Spiritual (Rohani).
Puasa dan Revolusi Mental Spiritual:
Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib.
Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua panca indera dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat.
Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis.
Puasa dari segi rohani akan batal bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit.
Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi puasa rohani tidak pernah mengenal waktu.
Terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat di dunia dan akhirat.
Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan diatas pembersihan.
Syekh Sitibrit mengajarkan bahwa puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan terhadap Allah.
Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba.
Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain.
Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa saat berbuka dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang ‘arif.
Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi spiritual.
Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya.
Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan mata hati sebagai salah satu efek dari puasanya.
Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya.
Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas.
Puasa ini adalah puasa menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, dan mencari ghairullah (yang selain Allah).
Puasa ini dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin.
Namun walaupun seseorang telah sampai kepada tahapan puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai cara serta sarana menggapai kesehatan fisik.
Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis palson kabeh”, hanya sebentuk kebohongan beragama semata.
Puasa merupakan tindakan rohani untuk mereduksi watak-watak kedzaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri.
Inilah yang diajarkan Syekh Sitibrit Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya.
Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya.
Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak.
Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia.
Rahasia itu berupa nur Allah.
Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib.
Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu.
Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah.
Dengan puasa hakiki, ruh itu diaktifkan.
Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki.
Jika puasa hakiki batal maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat.
Puasa hakiki hanyalah menempatkan Allah di dalam hati, menjalani proses kemanunggalan meng-Gusti-kan perwatakan kawula.
Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah untuk umat manusia.
Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai ma’rifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda.
Secara lahiriah keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda.
Dengan berpuasa secara hakiki, tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi rohani kita.
Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan mampu menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurullah.
Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan menuju kearah al-Haqq, Illahi Rabbi.
Bagi Syekh Sitibrit, puasa hakiki akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan.
Puasa hakiki adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan ke-dzalim-an sebagai hal yang harus ditundukkan.
Oleh Syekh Sitibrit puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri.
Bukan sekedar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu “ngelakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan.
Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya.
Dan tentu saja, Syekh Sitibrit tidak memaknai “kudu luwe” sebagai alasan lembeknya manusia secara fisik.
Hal tersebut harus dikontekstualisasikan dengan kecukupan gizi yang harus terpenuhi bagi aktivitas fisik.
Yang terpenting adalah kemauan dan kesadaran untuk berbagi, untuk tidak hanya memuaskan apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya.
Semoga bermanfaat & Salam Silaturahmi.
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.
Ki alit Pranakarya
Penggagas/Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara).

Tidak ada komentar
Posting Komentar