Ybia Indonesia - Di panggung intelektual Muslim Indonesia, nama Profesor Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA, menempati posisi yang amat terhormat. Sebagai seorang cendekiawan yang mendedikasikan hidupnya untuk mendalami mukjizat kata-kata Tuhan, ia berhasil membawa tafsir Al-Qur'an keluar dari dinding pesantren dan ruang kuliah menuju ruang tamu masyarakat luas melalui bahasa yang sejuk dan moderat.
Akar Tradisi dan Ketekunan Akademik
Lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944, Quraish Shihab tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai ilmu. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab, adalah seorang ulama tafsir terkemuka sekaligus mantan Rektor IAIN Alauddin. Sejak usia dini, Quraish telah akrab dengan kisah-kisah Al-Qur'an yang dituturkan sang ayah setiap bakda Magrib—sebuah momen yang menjadi benih awal kecintaannya pada kitab suci.
Perjalanan intelektualnya membentang dari pesantren di Malang hingga ke jantung peradaban Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di sana, ia meraih gelar Lc, MA, hingga puncaknya meraih gelar Doktor dalam bidang Tafsir Al-Qur'an dengan predikat Summa Cum Laude (Mumtaz). Keahliannya ini membuat pengamat Barat, Howard M. Federspiel, menjulukinya sebagai sosok unik karena memiliki latar belakang pendidikan Timur Tengah yang sangat kuat di tengah tren pendidikan Barat saat itu.
Pengabdian: Dari Rektor hingga Menteri Agama
Karier Quraish Shihab adalah perpaduan antara birokrasi, akademisi, dan diplomasi. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai:
- Rektor IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode, di mana ia melakukan banyak terobosan akademik.
- Menteri Agama RI pada Kabinet Pembangunan VII (1998).
- Duta Besar Luar Biasa untuk Republik Arab Mesir dan Djibouti.
Di luar jabatan formal, ia aktif di berbagai organisasi seperti Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, peran yang paling melekat di hati masyarakat adalah sebagai pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), lembaga yang menjadi wadah bagi lahirnya mufasir-mufasir muda Indonesia.
Metodologi Tafsir yang Kontekstual
Keunggulan utama Quraish Shihab terletak pada kemampuannya menyajikan pesan Al-Qur'an secara kontekstual. Ia mempopulerkan metode Tafsir Maudu’i (Tematik)—yakni menghimpun ayat-ayat dengan tema serupa untuk menarik kesimpulan yang utuh guna menjawab tantangan zaman modern. Baginya, Al-Qur'an adalah hidangan Tuhan yang tidak pernah habis pesonanya. Ia selalu menekankan bahwa pemahaman terhadap wahyu Ilahi harus dinamis dan tidak boleh kaku pada teks semata. "Penafsiran Al-Qur'an tidak akan pernah berakhir sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan," demikian prinsip yang selalu ia pegang.
Sosok Moderat dan Berpengaruh Dunia
Dengan pembawaan yang tawadu dan tutur kata yang santun, ayah dari jurnalis Najwa Shihab ini diterima oleh semua lapisan masyarakat. Gaya dakwahnya yang rasional menjadikannya rujukan utama, terutama dalam program-program televisi religi yang rutin mengisi ruang publik saat Ramadhan.
Dedikasi ini tidak hanya diakui secara nasional. Nama Quraish Shihab secara konsisten masuk dalam daftar "500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia" (The Muslim 500). Penghargaan ini merupakan bukti nyata bahwa kontribusinya dalam mengembangkan ilmu Al-Qur'an dan menyebarkan pesan kedamaian telah melampaui batas negara.
Hingga saat ini, melalui karya-karyanya yang fenomenal seperti Tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab terus menginspirasi umat untuk tidak hanya membaca Al-Qur'an, tetapi juga menyelami maknanya demi kehidupan yang lebih mulia dan beradab.
Sumber: Wikipedia (Profil Quraish Shihab)
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar