Ybia Indonesia - Abuya KH Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi pernah menegaskan dengan sangat lugas: “Kalau jadi ustad harus bisa usaha sendiri, jangan mengandalkan pemberian dari jama’ah.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat, tapi tamparan keras bagi fenomena yang hari ini makin marak: ustad yang sibuk berceramah, tapi hidupnya sepenuhnya bergantung pada amplop, transfer, dan pemberian jama’ah.
Islam tidak melahirkan pendakwah yang menjadi beban umat. Islam melahirkan guru yang mandiri, yang berdiri di depan umat dengan izzah, bukan dengan tangan menengadah. Bagaimana mungkin umat diajak bangkit, kalau yang membimbing justru hidup dari keringat umat? Bagaimana mungkin bicara keikhlasan, jika dakwah berubah menjadi ladang kenyamanan pribadi?
Ulama-ulama besar dulu:
Berdagang
Bertani
Mengajar sambil bekerja
Hidup sederhana tapi berdaulat.
Mereka tidak menjual mimbar, tidak memelihara kemiskinan umat demi kelangsungan ceramah. Dakwah itu mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan umat— bukan memelihara ketergantungan, apalagi memanfaatkan empati jama’ah.
Jika seorang ustad tidak mampu mandiri, maka yang perlu dibenahi bukan jama’ahnya, tapi cara berpikir dan niat dakwahnya. Karena kemuliaan ilmu runtuh, saat ilmu dijadikan alat kenyamanan pribadi.
Al-Hikmah Wal-Mahmuudiyyah
Dakwah beradab, rasional, dan membangunkan umat dari ketertinggalan.
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar