Ybia Indonesia - Mu’tah terasa berat. Tiga ribu pasukan Muslim berdiri menghadapi lebih dari seratus ribu tentara Romawi dan sekutunya. Perbandingan yang jauh dari seimbang. Tiga panglima telah gugur satu per satu: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Pasukan mulai diliputi kegelisahan.
Di tengah situasi genting itu, satu nama diangkat untuk memimpin: Khalid bin Walid. Malam turun dengan sunyi yang menegangkan. Khalid tidak memilih menyerang membabi buta. Ia tahu, bertahan tanpa strategi berarti kehancuran. Ia merancang sebuah tipuan.
Tipuan yang Mengubah Segalanya
Saat fajar menyingsing, pasukan Muslim disusun ulang. Barisan depan dipindah ke belakang. Sayap kanan ditukar dengan sayap kiri. Unit yang kemarin berada di tengah kini ditempatkan di depan. Ketika debu kembali mengepul, pasukan Romawi melihat wajah-wajah baru di barisan Muslim. Mereka terkejut. “Bala bantuan telah datang,” pikir mereka.
Belum berhenti di situ. Khalid memerintahkan sebagian pasukan bergerak berputar di belakang, menciptakan debu tebal seolah ribuan tentara baru tiba dari kejauhan. Suara takbir menggema, mengguncang mental musuh. Romawi mulai ragu. Mereka tidak tahu berapa sebenarnya jumlah pasukan di hadapan mereka.
Kemenangan Sejati
Khalid lalu melancarkan serangan terukur, cukup untuk menjaga tekanan, namun tidak memancing pertempuran besar-besaran. Setelah situasi terkendali dan musuh kehilangan momentum, ia memimpin mundur secara teratur. Bukan lari. Bukan kalah. Tetapi mundur dengan kehormatan, membawa pulang tiga ribu pasukan dari kepungan raksasa Romawi.
Itulah kecerdikan Khalid bin Walid. Ia memahami bahwa kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan musuh. Kadang, kemenangan sejati adalah menyelamatkan pasukan dan menjaga kekuatan untuk hari esok. Sejak hari itu, Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan gelar mulia: Saifullah Pedang Allah yang dihunuskan kepada musuh-musuh-Nya.
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar