Ybia Indonesia - Dibalik keriuhan Pasar Induk Cianjur, di antara tumpukan karung-karung berat dan peluh yang membasahi kaos lusuhnya, tersimpan sebuah rahasia besar yang terbungkus rapat oleh kesahajaan. Pria tua yang memanggul beban di pundaknya itu bukanlah kuli panggul biasa. Ia adalah Yusup Supardi, mantan prajurit elit Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi, sosok "hantu" bagi Belanda yang pernah mempertaruhkan nyawa demi tegaknya Sang Saka Merah Putih.
"Kesatuan Liar" di Tanah Pasundan
Tahun 1948 adalah masa ujian bagi kesetiaan. Di saat sebagian besar rekan sejawatnya berhijrah ke Yogyakarta mengikuti Perjanjian Renville, Yusup memilih jalan yang lebih berbahaya. Atas perintah rahasia Panglima Besar Jenderal Soedirman, ia tetap bertahan di belantara Sukabumi dan Cianjur. Ia bergerak dalam bayang-bayang sebagai "kesatuan liar". Tanpa seragam resmi, tanpa pasokan logistik yang pasti, namun dengan tekad yang lebih keras dari baja. Di bawah Brigade Tjitarum, Yusup menjadi duri dalam daging bagi ambisi kolonial Belanda di Tanah Pasundan.
Tumit yang Tertusuk dan Wajah yang Dihantam Lars
Sejarah mencatat keberaniannya yang nyaris merenggut nyawa. Di Gandasoli, ia memilih terjun ke jurang daripada menyerah pada satu kompi Belanda. Tumitnya tertusuk bambu tajam, memaksanya menelan pedih dalam sunyi. Namun, ujian sejati datang saat ia menjalankan tugas telik sandi. Tertangkap di Cimangkok, Yusup merasakan pahitnya pengkhianatan saudara sebangsa. Seorang prajurit KNIL, yang memakan nasi dari tanah yang sama namun memilih mengabdi pada penjajah, menghantam wajahnya dengan sepatu lars hingga gigi-giginya rontok, sambil memaki dirinya sebagai "Anjing Sukarno".
Yusup tidak goyah. Dalam rasa sakit yang luar biasa, ia tetap bungkam. Baginya, rahasia negara jauh lebih berharga daripada deretan giginya. Kesetiaannya pada Bung Karno dan Republik adalah harga mati!
Ikhlas dalam Sepi, Agung dalam Pengabdian
Pasca-kemerdekaan, saat sebagian orang berebut kursi kekuasaan dan jabatan, Yusup Supardi memilih mundur dalam diam. Tahun 1950 ia menanggalkan seragam kebanggaannya. Tak ada pensiun mewah, tak ada bintang tanda jasa yang dipamerkan. Pada tahun 1980-an, pundak yang dulu memikul senapan mesin kini memikul beban sayur dan beras di pasar. Namun, jangan sekali-kali mengasihaninya. "Saya sudah ikhlas menerima semuanya sebagai takdir hidup saya," ujarnya dengan mata yang masih memancarkan sorot mata seorang ksatria Siliwangi.
Yusup Supardi adalah pengingat bagi kita semua, bahwa pahlawan sejati bukanlah mereka yang selalu berteriak di podium, melainkan mereka yang berani berkorban saat negara membutuhkan, dan mampu tetap tegak dalam kemelaratan tanpa sedikitpun merasa dikhianati oleh nasib.
Profil Sang Patriot:
Nama: Yusup Supardi (Kelahiran 1924)
Kesatuan: Batalyon Kala Hitam, Divisi Siliwangi (Brigade Tjitarum)
Palagan: Perlawanan Gerilya di Sukabumi & Cianjur (Pasca-Renville)
Legacy: Simbol keikhlasan murni pejuang kemerdekaan
Hormat tegak untuk pundak kuat sang Kala Hitam!

Tidak ada komentar
Posting Komentar