Ybia Indonesia - Sejarah revolusi kita tidak hanya ditulis dengan tinta, tapi dengan darah dan pengabdian tanpa batas. Salah satu putra terbaik bangsa yang jejaknya abadi di palagan Jawa Barat adalah Letnan Kolonel Soeroto Koento. Lahir di fajar perjuangan (1921/1922), ia adalah perwira yang memilih senjata di atas segalanya demi tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945.
MENOLAK TUNDUK, MEMILIH MERDEKA
Semangat membangkang terhadap penindas sudah mendarah daging dalam diri Koento. Saat masih menjadi mahasiswa kedokteran di masa pendudukan Jepang, ia lebih memilih meninggalkan bangku kuliah daripada harus tunduk pada aturan penggundulan rambut yang merendahkan martabat. Baginya, kehormatan adalah harga mati. Ia pun memilih bergabung dengan barisan pemuda Sekolah Tinggi Islam untuk memupuk api perlawanan.
PEMBAWA KABAR KEMENANGAN DAN PENGAWAL REPUBLIK
Sejarah mencatat keberaniannya membobol segel radio demi mencuri kabar menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945. Kabar inilah yang ia ledakkan di markas PETA Budi Kemuliaan, yang kemudian mendorong para perwira muda untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan!
Pasca-proklamasi, Koento berdiri tegak di garis depan. Sebagai bagian dari BKR Resimen V Jakarta Raya, ia menjadi benteng hidup yang mengawal Soekarno dalam Rapat Raksasa Lapangan Ikada yang legendaris.
PANGLIMA DI PALAGAN CIKAMPEK
Karir militernya melesat seiring dengan memanasnya palagan revolusi. Diangkat sebagai Komandan Resimen V Cikampek Brigade III Divisi Siliwangi, Koento memikul tanggung jawab besar menjaga kedaulatan wilayah dari rongrongan NICA dan sekutu. Namun, tugas mulia ini membawanya pada sebuah misi yang berujung misteri.
TRAGEDI DI WARUNGBAMBU: Hilangnya Sang Komandan
Malam 27 November 1946 menjadi saksi bisu hilangnya sang patriot. Sepulang dari rapat Komando Pertahanan Jakarta di Kedunggede, Letkol Soeroto Koento beserta pengawalnya, Adel Sofjan, raib tanpa jejak di Desa Warungbambu.
Spekulasi menyeruak di tengah kabut revolusi. Desas-desus menyebut adanya perselisihan wilayah dengan laskar lokal (LRDR) atau ketidaksenangan pihak-pihak tertentu terhadap langkah diplomasi Indonesia dengan Belanda. Meski LRDR membantah keras, hingga detik ini, nasib sang komandan tetap menjadi misteri yang terkunci dalam lipatan sejarah perjuangan bangsa.
Letnan Kolonel Soeroto Koento boleh saja hilang secara fisik, namun api perjuangannya tidak akan pernah padam. Namanya kini terpatri abadi di jalanan Karawang, dan sebuah tugu berdiri tegak di Warungbambu sebagai pengingat bagi generasi muda: bahwa kemerdekaan ini dibayar dengan nyawa dan pengorbanan para ksatria yang berani hilang demi nusa dan bangsa!
Merdeka atau Mati!

Tidak ada komentar
Posting Komentar