Ybia Indonesia - Malam itu, Gus Dur dan KH. Said Aqil Siradj baru saja selesai berziarah. Usai berdoa di Raudhah, keduanya belum beranjak untuk beristirahat.
Tiba-tiba Gus Dur mengajak KH. Said Aqil berjalan keluar.
“Yuk, kita jalan malam,” kata Gus Dur singkat.
Mereka menyusuri beberapa masjid di Kota Madinah. Bukan sekadar jalan-jalan. Gus Dur punya tujuan: mencari seorang wali Allah.
Di salah satu masjid, KH. Said Aqil melihat seorang lelaki bersorban putih tengah mengajar para santri. Wajahnya teduh, tutur katanya halus. KH. Said Aqil pun berbisik,
“Gus, yang ini wali ya?”
Gus Dur menggeleng pelan.
“Bukan.”
Mereka melanjutkan langkah. Di tempat lain, tampak seorang lelaki dengan jidat hitam pekat—bekas sujud yang nyata. KH. Said Aqil kembali penasaran.
“Kalau yang itu, Gus?”
Lagi-lagi Gus Dur menjawab singkat,
“Bukan.”
Pencarian berlanjut. Hingga akhirnya, Gus Dur tiba-tiba berhenti. Di sudut masjid, tampak seorang lelaki bersorban sederhana, duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Tak mengajar, tak dikerumuni orang, hanya diam dan khusyuk.
Gus Dur menunjuk pelan.
“Ini wali.”
KH. Said Aqil tertegun. Sosok itu tampak biasa saja. Bahkan nyaris tak menarik perhatian. Setelah didekati, KH. Said Aqil memperkenalkan diri dan juga Gus Dur.
Tujuan mereka sederhana, tapi dalam: meminta didoakan langsung oleh seorang wali Allah di tanah suci Madinah.
Wali itu pun mengangkat tangan. Ia mendoakan Gus Dur agar hidupnya selalu diridhai Allah, diampuni dosa-dosanya, dan diberi keberhasilan dalam menjalani kehidupan.
Selesai berdoa, wali tersebut berdiri. Ia lalu pergi perlahan, menyeret sajadahnya, sambil menggerutu lirih—seolah tak suka bila kedudukannya sebagai wali diketahui orang lain.
Malam Madinah kembali sunyi. Gus Dur dan KH. Said Aqil melangkah pulang, membawa pelajaran yang dalam:
wali Allah sering kali tidak dikenali dari tampilan, tapi dari ketulusan yang tersembunyi.
Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar
Posting Komentar