Keratuan Palembang Darussalam, Pusat Dakwah Islam tahun 1407 M

Tidak ada komentar

 


Ybia Indonesia - Pada sekitar tahun 1400 Masehi, Bandar Pelabuhan Palembang dikuasai oleh gerombolan perompak Chen Tsu Ji. 

Gerombolan ini, bukan perompak biasa. Mereka sejatinya adalah pasukan militer Dinasti Yuan yang dipimpin seorang perwira angkatan laut bernama Chen Tsu Ji. 

Chen Tsu Ji melarikan diri ke po-lin-fong (Palembang) untuk menghindari konflik di daratan Cina dengan membawa ribuan orang pengikutnya. 

Tidak lama setelah Chen Tsu Ji pergi, negeri Cina terjadi penggantian kekuasaan dari Para Penguasa Dinasti Yuan kepada Pemimpin baru dari Dinasti Ming. 

PEMBEBASAN PELABUHAN PALEMBANG 

Setelah gerombolan Chen Tsu Ji berhasil mengusir penguasa lokal, Bandar Palembang sepenuhnya jatuh dalam genggaman mereka. 

Trah Keluarga Demang Lebar Daun yang selama ini menguasai Palembang tercerai berai. Sebagian ada yang hijrah ke pedalaman, dan sebagian lagi pindah ke pulau jawa, semenanjung malaka serta negeri-negeri di sekitar Palembang. 

Perlawanan terhadap Kelompok Perompak ini, terus berlangsung di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Salah satu tokoh ulama yang menjadi pimpinan perlawanan bernama Syekh Angkasa Ibrahim Papa. 

Syekh Angkasa Ibrahim Papa juga mendapat dukungan dari ulama terkemuka pada masa itu yang bernama Syekh Jalaluddin dari Kute Muahe Hening (saat ini bernama Muara Enim). 

Puncak perlawanan kelompok santri ini terjadi pada tahun 1407 Masehi, bersamaan dengan penyerangan lewat jalur laut yang dipimpin oleh Perwira Militer Dinasti Ming, bernama Laksamana Cheng Ho. 

Serangan bertubi-tubi baik dari daratan di bawah pimpinan Syekh Angkasa Ibrahim Papa dan lewat lautan dengan komando Laksamana Cheng Ho, membuat pasukan gerombolan Chen Tsu Ji hancur lebur. 

Dan pada akhirnya di tahun 1407 Masehi, Bandar Palembang berhasil bebas dari cengkraman Kelompok Perompak Cina. 

KERATUAN PALEMBANG DARUSSALAM 

Setelah peristiwa Pembebasan Bandar Palembang, penguasa wilayah ini kembali diserahkan kepada Trah Keluarga Demang Lebar Daun. 

Sang pemimpin bergelar Panembahan Palembang, yang di dalam naskah lokal juga dikenal dengan nama Ratu Sinuhun Ning Sakti. 

Saat Palembang dikuasai gerombolan Chen Tsu Ji, Ratu Sinuhun Ning Sakti hijrah ke Trowulan Majapahit. Hal ini yang menyebabkan dalam naskah lokal menginformasikan bahwa Ratu Sinuhun Ning Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. 

Panembahan Palembang dibantu oleh seorang Bendahara atau Perdana Menteri yang bergelar Pangeran Adipati Arya Damar. Jadi Pangeran Adipati Arya Damar ini merupakan gelar pemimpin Palembang, serta ada beberapa tokoh yang pernah menjabatnya. 

Pejabat pertama Pangeran Adipati Arya Damar di era Keratuan Palembang Darussalam adalah seorang kepercayaan Laksamana Cheng Ho yang bernama Laksamana Hang Suro. Selain menjabat Bendahara, Laksamana Hang Suro juga menjabat Syahbandar. 

Laksamana Hang Suro selain seorang perwira angkatan laut, juga seorang ulama dan ikut berjasa dalam membangun komunitas muslim cina di Nusantara. 

Selain pusat dakwah komunitas muslim cina, Keratuan Palembang Darussalam juga menjadi pusat penyebaran Islam di bawah koordinasi Syekh Jalaluddin Muahe Hening dan Syekh Angkasa Ibrahim Papa. 

Para ulama Islam yang datang dari Hijaz, Mesir, Irak, Yaman, India, Persia dan lain lain, biasa nya singgah dulu ke Palembang, sebelum berdakwah ke pelosok Nusantara. 

Di Palembang, para ulama ini saling bertukar informasi dan berkoordinasi satu dengan lainnya, sehingga menghasilkan gerakan dakwah yang selaras dan rapi. 


WaLlahu a’lamu bishshawab 

Catatan

1. Beberapa Jabatan Penting di Keratuan Palembang Darussalam, 1407 - 1518 

a. Ratu Sinuhun, Penguasa Tertinggi di Keratuan Palembang Darussalam. 

Yang dianggap sebagai Ratu Sinuhun atau Panembahan Palembang terakhir adalah Raden Fatah, Sultan Demak.

b. Pangeran Adipati Arya Damar, jabatan setingkat Bendahara atau Perdana Menteri 

c. Syahbandar Palembang, jabatan di bidang perniagaan dan layanan di Pelabuhan Palembang 

d. Penghulu Ulama Iliran, Pemimpin Ulama dan Penyebar Dakwah Islam di wilayah Ilir

e. Penghulu Ulama Uluan, Pemimpin Ulama dan Penyebar Dakwah Islam di wilayah ulu 

2. Terkait sosok Ratu Sinuhun, permaisuri Penguasa Kerajaan Palembang, Pangeran Seda ing Kenayan (1631-1643), merupakan bentuk gelar kehormatan. 

Hal ini dikarenakan upayanya menyusun aturan hukum simbur cahaya ke dalam satu kitab secara sistematis. 

Adapun aturan Simbur Cahaya (hukum adat berdasarkan syariat Islam) sendiri, sudah berlaku sejak masa awal Keratuan Palembang Darussalam.

Tidak ada komentar

Posting Komentar