Ybia Indonesia - Di antara kisah yang sering diceritakan tentang kewalian Abu Ibrahim Woyla adalah pertemuannya dengan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur (Abdurrahman Wahid).
Suatu hari, Abu Ibrahim Woyla yang dikenal hidup sangat sederhana datang berkunjung menemui Gus Dur. Penampilannya seperti biasa: sederhana, memakai pakaian biasa tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa beliau adalah seorang ulama besar. Bagi orang yang tidak mengenalnya, beliau tampak seperti orang tua kampung biasa yang datang bertamu.
Ketika beliau masuk ke ruangan tempat Gus Dur berada, keduanya kemudian duduk saling berhadapan. Orang-orang yang ada di ruangan tersebut mengira akan terjadi percakapan panjang antara dua tokoh besar ini.
Namun yang terjadi justru sangat berbeda.
Keduanya hanya saling memandang dengan tenang.
Tidak ada pembicaraan panjang.
Tidak ada diskusi yang terdengar.
Suasana menjadi sangat hening. Waktu berjalan sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Selama itu mereka hanya duduk diam seolah-olah sedang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat didengar oleh orang lain.
Beberapa saat kemudian, Abu Ibrahim Woyla bangkit, berpamitan dengan tenang, lalu meninggalkan ruangan.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu merasa heran. Mereka kemudian bertanya kepada Gus Dur:
“Siapakah orang tua yang barusan datang itu?”
Gus Dur menjawab dengan kalimat yang sangat singkat namun penuh makna:
“Dia itu wali Allah.”
Jawaban tersebut membuat orang-orang yang hadir terdiam. Mereka baru menyadari bahwa tamu sederhana yang baru saja datang itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang ulama yang memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi.
Kisah ini kemudian sering diceritakan oleh para ulama dan santri sebagai salah satu bentuk pengakuan seorang ulama besar terhadap kewalian Abu Ibrahim Woyla.
Sosok beliau memang dikenal hidup sangat sederhana, tidak mencari kemasyhuran, dan lebih memilih berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil berdakwah dan menasihati masyarakat.
Semoga Allah merahmati para ulama dan wali-wali-Nya yang telah menjaga agama ini di bumi Aceh.
Referensi:
𝘛𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘰𝘨𝘳𝘢𝘧𝘪 𝘈𝘣𝘶 𝘐𝘣𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮 𝘞𝘰𝘺𝘭𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘋𝘶𝘵𝘢𝘪𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘤𝘦𝘩.
.jpg)
Tidak ada komentar
Posting Komentar